Langsung ke konten
Hadis dengan penjelasan

Tauhid Ulūhiyyah

43 hadis

Sungguh Allah ﷻ melarang kalian bersumpah dengan nenek moyang kalian

عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يَنْهَاكُمْ أَنْ تَحْلِفُوا بِآبَائِكُمْ»، قَالَ عُمَرُ: فَوَاللهِ مَا حَلَفْتُ بِهَا مُنْذُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْهَا ذَاكِرًا وَلَا آثِرًا.
Umar bin al-Khaṭṭāb -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ bersabda, "Sungguh Allah ﷻ melarang kalian bersumpah dengan nenek moyang kalian." Umar berkata, "Demi Allah! Tidak pernah lagi aku bersumpah dengan nenek moyang sejak aku mendengar Rasulullah ﷺ melarangnya, baik sengaja ataupun dalam bentuk nukilan."
Muttafaq 'alaihDerajatSahih
Penjelasan

Nabi ﷺ mengabarkan bahwa Allah Ta'ala melarang bersumpah dengan nenek moyang. Siapa yang hendak bersumpah, jangan bersumpah kecuali dengan nama Allah dan tidak bersumpah dengan selain-Nya. Kemudian Umar bin Al-Khaṭṭāb -raḍiyallāhu 'anhu- menyebutkan bahwa ia tidak pernah lagi bersumpah dengan itu sejak mendengar Rasulullah ﷺ melarangnya, baik sengaja maupun dalam bentuk nukilan sumpah orang lain dengan selain nama Allah.

Faedah
  1. 1- Pengharaman bersumpah dengan selain nama Allah. Terkait larangan ini, bersumpah dengan nenek moyang disebutkan khusus karena itu merupakan kebiasaan kaum jahiliah.
  2. 2- Sumpah ialah bersumpah dengan Allah atau nama-nama Allah maupun sifat-sifat-Nya dalam suatu urusan dengan tujuan menegaskannya.
  3. 3- Keutamaan Umar -raḍiyallāhu 'anhu- dalam hal kesegeraannya menaati perintah Rasulullah ﷺ, baiknya pemahamannya, dan ketinggian sifat waraknya.
Rujukan

صحيح البخاري (8/ 132) (6647). صحيح مسلم (3/ 1266) (1646). تيسير العلام شرح عمدة الأحكام، للبسام (ص684). الإلمام بشرح عمدة الأحكام، لإسماعيل الأنصاري (2/ 134).

Hadis ini di HadeethEnc.com

Laknat Allah kepada orang-orang Yahudi dan Nasrani, mereka menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai masjid

عن عائشة أم المؤمنين وعبد الله بن عباس رضي الله عنهما قالا: لَمَّا نَزَلَ بِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ طَفِقَ يَطْرَحُ خَمِيصَةً لَهُ عَلَى وَجْهِهِ، فَإِذَا اغْتَمَّ بِهَا كَشَفَهَا عَنْ وَجْهِهِ، فَقَالَ وَهُوَ كَذَلِكَ: «لَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى اليَهُودِ وَالنَّصَارَى، اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ» يُحَذِّرُ مَا صَنَعُوا.
Aisyah dan Abdullah bin 'Abbās -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan, Ketika ajal datang kepada Rasulullah ﷺ, beliau meletakkan kain di wajahnya. Apabila susah bernafas, beliau membukanya. Dalam keadaan demikian, beliau bersabda, "Laknat Allah kepada orang-orang Yahudi dan Nasrani, mereka menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai masjid." Beliau hendak memperingatkan apa yang telah mereka lakukan.
Muttafaq 'alaihDerajatSahih
Penjelasan

Aisyah dan Ibnu 'Abbās -raḍiyallāhu 'anhum- mengabarkan, bahwa ketika kematian menghampiri Nabi ﷺ, beliau segera meletakkan sehelai kain di mukanya. Apabila beliau sulit bernapas lantaran sakratulmaut, beliau menyingkirkan kain itu dari mukanya. Pada keadaan sulit itu, beliau bersabda: Allah telah melaknat orang-orang Yahudi dan Nasrani serta mengusir mereka dari rahmat-Nya karena mereka membangun masjid di atas kubur nabi-nabi mereka. Kalau bukan karena bahaya perkara ini, tentu beliau tidak akan mengingatkannya di keadaan seperti ini. Oleh karena itu, Nabi ﷺ melarang umatnya agar tidak meniru perbuatan itu karena merupakan perilaku kaum Yahudi dan Nasrani, juga karena ia merupakan sarana yang dapat mengantarkan pada kesyirikan kepada Allah ﷻ.

Faedah
  1. 1- Larangan menjadikan kuburan para nabi dan orang-orang saleh sebagai masjid tempat melaksanakan salat kepada Allah karena ia merupakan sarana menuju kesyirikan.
  2. 2- Tingginya perhatian Rasulullah ﷺ terhadap masalah tauhid serta kekhawatiran beliau terhadap tindakan mengagungkan kubur karena hal itu dapat mengantarkan kepada kesyirikan.
  3. 3- Boleh melaknat orang-orang Yahudi dan Nasrani serta orang-orang yang melakukan perbuatan seperti perbuatan mereka berupa membuat bangunan di atas kuburan dan menjadikannya sebagai masjid.
  4. 4- Membuat bangunan di atas kuburan termasuk kebiasaan kaum Yahudi dan Nasrani, dan di dalam hadis ini terdapat larangan meniru mereka.
  5. 5- Termasuk bentuk menjadikan kuburan sebagai masjid ialah salat di sisi kuburan dan menghadap kuburan walaupun tidak dibangun masjid padanya.
Rujukan

صحيح البخاري (1/ 95) (435)، (2/ 102) (1390). صحيح مسلم (1/ 377) (531)، (1/ 376) (529). الملخص في شرح كتاب التوحيد، للشيخ صالح الفوزان (ص170). الجديد في شرح كتاب التوحيد، لمحمد بن عبد العزيز السليمان القرعاوي (ص185).

Hadis ini di HadeethEnc.com

Aku adalah Zat yang paling tidak butuh kepada sekutu. Siapa yang mengerjakan amalan yang di dalamnya dia menyekutukan-Ku dengan yang lain, maka Aku tinggalkan ia bersama perbuatan syiriknya itu

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «قَالَ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ، مَنْ عَمِلَ عَمَلًا أَشْرَكَ فِيهِ مَعِي غَيْرِي تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ».
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda, Allah berfirman, "Aku adalah Zat yang paling tidak butuh kepada sekutu. Siapa yang mengerjakan amalan yang di dalamnya dia menyekutukan-Ku dengan yang lain, maka Aku tinggalkan ia bersama perbuatan syiriknya itu."
HR. MuslimDerajatSahih
Penjelasan

Nabi ﷺ mengabarkan bahwa Allah -Tabāraka wa Ta'ālā- berfirman, bahwa Dia Zat yang paling tidak butuh kepada sekutu. Dia tidak butuh kepada segala sesuatu. Ketika seseorang mengerjakan suatu amal ketaatan dan ia menjadikannya untuk Allah dan selain Allah, niscaya Allah akan meninggalkannya dan tidak menerimanya serta amalannya tertolak. Seseorang wajib memurnikan amal kepada Allah Ta'ala, karena Allah tidak menerima kecuali amal yang murni demi wajah-Nya yang Maha Mulia.

Faedah
  1. 1- Larangan melakukan kesyirikan dalam bentuk apapun, dan kesyirikan merupakan penghalang diterimanya amal.
  2. 2- Menghadirkan kemahakayaan Allah serta keagungan-Nya termasuk tindakan yang akan membantu keikhlasan dalam beramal.
Rujukan

صحيح مسلم (4/ 2289) (2985). شرح النووي على مسلم (18/ 115). الملخص في شرح كتاب التوحيد، لصالح الفوزان (ص287). الجديد في شرح كتاب التوحيد، لمحمد القرعاوي (ص325).

Hadis ini di HadeethEnc.com

Sungguh, aku menyatakan setia kepada Allah dengan menolak untuk mempunyai seorang khalīl (kekasih mulia) dari kalian, karena sesungguhnya Allah telah menjadikanku sebagai kekasih-Nya, sebagaimana Dia telah menjadikan Ibrahim sebagai kekasih-Nya

عن جندب رضي الله عنه قال: سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَبْلَ أَنْ يَمُوتَ بِخَمْسٍ وَهُوَ يَقُولُ «إِنِّي أَبْرَأُ إِلَى اللهِ أَنْ يَكُونَ لِي مِنْكُمْ خَلِيلٌ فَإِنَّ اللهَ تَعَالَى قَدِ اتَّخَذَنِي خَلِيلًا كَمَا اتَّخَذَ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا، وَلَوْ كُنْتُ مُتَّخِذًا مِنْ أُمَّتِي خَلِيلًا لَاتَّخَذْتُ أَبَا بَكْرٍ خَلِيلًا! أَلَا وَإِنَّ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ كَانُوا يَتَّخِذُونَ قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ وَصَالِحِيهِمْ مَسَاجِدَ، أَلَا فَلَا تَتَّخِذُوا الْقُبُورَ مَسَاجِدَ! إِنِّي أَنْهَاكُمْ عَنْ ذَلِكَ».
Jundub -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, ia berkata, Aku mendengar Nabi ﷺ bersabda di lima hari sebelum beliau meninggal dunia, "Sungguh, aku menyatakan setia kepada Allah dengan menolak untuk mempunyai seorang khalīl (kekasih mulia) dari kalian, karena sesungguhnya Allah telah menjadikanku sebagai kekasih-Nya, sebagaimana Dia telah menjadikan Ibrahim sebagai kekasih-Nya. Seandainya aku menjadikan seorang kekasih dari umatku, maka aku akan jadikan Abu Bakar sebagai kekasihku. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya umat-umat sebelum kalian telah menjadikan kuburan para Nabi mereka sebagai tempat ibadah. Ingatlah, jangan kalian menjadikan kuburan sebagai tempat beribadah, karena aku melarang kalian dari perbuatan itu."
HR. MuslimDerajatSahih
Penjelasan

Nabi ﷺ bercerita tentang kedudukan beliau di sisi Allah Ta'ala, bahwa kedudukan beliau mencapai tingkat cinta yang paling tinggi, sebagaimana kedudukan itu telah dicapai oleh Ibrahim -'alaihissalām-. Karenanya, beliau menafikan memiliki khalīl selain Allah karena hati beliau telah terisi penuh dengan cinta kepada Allah Ta'ala serta mengagungkan dan mengenal-Nya, sehingga tidak ada lagi tempat untuk yang lain selain Allah. Sekiranya beliau memiliki khalīl dari kalangan makhluk, tentulah ia adalah Abu Bakar Aṣ-Ṣiddīq -raḍiyallāhu 'anhu-. Kemudian beliau memberikan peringatan terhadap tindakan melampaui batas yang dibolehkan dalam cinta, sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani pada kubur para nabi dan orang-orang saleh sampai mereka menjadikannya sebagai tuhan-tuhan sekutu yang disembah selain Allah, serta mereka membangun tempat peribadatan di atas kubur mereka, dan beliau ﷺ melarang umatnya melakukan hal yang sama seperti perbuatan mereka.

Faedah
  1. 1- Keutamaan Abu Bakar Aṣ-Ṣiddīq -raḍiyallāhu 'anhu-; bahwa dia adalah sahabat yang paling afdal dan merupakan orang paling patut sebagai khalifah (pengganti) Rasulullah ﷺ setelah kematian beliau.
  2. 2- Membangun tempat ibadah di atas kubur termasuk kemungkaran umat-umat terdahulu.
  3. 3- Larangan menjadikan kubur sebagai tempat ibadah dengan salat di dekatnya atau menghadap ke arahnya serta membangun masjid atau kubah di atasnya sebagai sikap kehati-hatian agar tidak jatuh dalam kesyirikan dengan sebab itu.
  4. 4- Peringatan terhadap sikap guluw (berlebihan) terhadap orang-orang saleh karena dapat mengantarkan kepada kesyirikan.
  5. 5- Betapa bahayanya perbuatan yang diingatkan oleh Nabi ﷺ, karena beliau menegaskannya lima hari sebelum kematian beliau.
Rujukan

صحيح مسلم (1/ 377) (532). شرح النووي على مسلم (5/ 13). الجديد في شرح كتاب التوحيد، لمحمد القرعاوي (ص188). الملخص في شرح كتاب التوحيد، لصالح الفوزان (ص172).

Hadis ini di HadeethEnc.com

Janganlah kalian mengatakan, ‘Atas kehendak Allah dan kehendak polan’, tapi katakanlah, ‘Atas kehendak Allah kemudian kehendak polan.'

عَنْ حُذَيْفَةَ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «لَا تَقُولُوا: مَا شَاءَ اللهُ وَشَاءَ فُلَانٌ، وَلَكِنْ قُولُوا: مَا شَاءَ اللهُ ثُمَّ شَاءَ فُلَانٌ».
Ḥużaifah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Janganlah kalian mengatakan, ‘Atas kehendak Allah dan kehendak polan’, tapi katakanlah, ‘Atas kehendak Allah kemudian kehendak polan.'"
HR. Abu Daud, Nasai dalam Al-Kubrā, dan AhmadDerajatSahih berdasarkan semua jalurnya
Penjelasan

Nabi ﷺ melarang seorang muslim dalam percakapannya mengucapkan: Atas kehendak Allah dan kehendak polan, ataupun: atas kehendak Allah dan polan. Alasannya adalah karena kehendak dan kemauan Allah bersifat umum, tidak ada seorang pun yang menyertai-Nya di dalamnya. Sedangkan menggunakan kata "waw" (bermakna: dan) sebagai kata sambung mengindikasikan adanya kesertaan seseorang bersama Allah dan penyetaraan antara keduanya. Akan tetapi, hendaklah mengatakan: Atas kehendak Allah kemudian kehendak polan; yaitu menjadikan kehendak hamba mengikuti kehendak Allah dengan menggunakan "ṡumma" (bermakna: kemudian) sebagai ganti "waw" (bermakna: dan), karena ṡumma menunjukkan kehadiran setelahnya dan selang waktu.

Faedah
  1. 1- Pengharaman ucapan: "Atas kehendak Allah dan kehendakmu" dan lafaz-lafaz semisal yang mengandung penyambungan kepada Allah menggunakan huruf "waw", karena termasuk syirik dalam lafaz dan ucapan.
  2. 2- Dibolehkan mengucapkan: "Atas kehendak Allah kemudian kehendakmu" dan lafaz-lafaz semisal yang mengandung penyambungan kepada Allah menggunakan huruf "ṡumma", karena hal terlarang itu tidak ada di dalamnya.
  3. 3- Penetapan adanya kehendak bagi Allah serta penetapan adanya kehendak bagi hamba. Kehendak hamba mengikuti kehendak Allah Ta'ala.
  4. 4- Larangan menjadikan makhluk sebagai sekutu Allah dalam kehendak, walaupun dalam bentuk lafaz.
  5. 5- Apabila penuturnya meyakini bahwa kehendak hamba sama seperti kehendak Allah ﷻ dalam hal cakupan dan keumumannya, atau meyakini bahwa hamba tersebut memiliki kehendak yang berdiri sendiri, maka hukumnya syirik besar. Adapun kalau dia meyakini bahwa ia di bawah itu, maka hukumnya syirik kecil.
Rujukan

السنن الكبرى للنسائي (9/ 361) (10755). سنن أبي داود (7/ 334) (4980). مسند أحمد (38/ 299) (23265)، (38/ 364) (23339). الجديد في شرح كتاب التوحيد، لمحمد القرعاوي (ص368). الملخص في شرح كتاب التوحيد، لصالح الفوزان (ص329).

Hadis ini di HadeethEnc.com

Aku bersumpah dengan nama Allah padahal dusta lebih aku sukai daripada bersumpah dengan selain-Nya meskipun jujur

عن عبد الله بن مسعود رضي الله عنه قال: "لأن أحلف بالله كاذبًا أحب إليَّ من أن أحلف بغيره صادقًا".
Dari Abdullah bin Mas'ud -raḍiyallāhu 'anhu- ia berkata, "Aku bersumpah dengan nama Allah padahal dusta lebih aku sukai daripada bersumpah dengan selain-Nya meskipun jujur."
Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah - Diriwayatkan oleh AbdurrazzāqDerajatHadis sahih
Penjelasan

Ibnu Mas'ud -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, "Sumpahku dengan nama Allah terhadap sesuatu padahal aku berdusta -andai ini terjadi- lebih aku sukai daripada sumpahku dengan selain Allah terhadap sesuatu meski aku jujur dalam hal itu. Dipilihnya bersumpah dengan nama Allah dalam keadaan dusta daripada bersumpah dengan selain-Nya dalam keadaan jujur karena bersumpah dengan nama Allah dalam kondisi seperti ini mengandung kebaikan tauhid dan juga keburukan dusta. Sedangkan bersumpah dengan selain Allah dalam keadaan benar mengandung kebaikan jujur dan keburukan syirik. Kebaikan tauhid lebih besar dari kebaikan jujur, dan keburukan dusta lebih ringan dari keburukan syirik.

Rujukan

كتاب التوحيد للإمام محمد بن عبد الوهاب ص252 ت: د. دغش العجمي . مكتبة أهل الأثر , الطبعة الخامسة , 1435ه الجديد في شرح كتاب التوحيد لمحمد بن عبد العزيز السليمان القرعاوي, ت: محمد بن أحمد سيد , مكتبة السوادي، الطبعة: الخامسة، 1424ه الملخص في شرح كتاب التوحيد للشيخ صالح الفوزان , دار العاصمة , الطبعة الأولى 1422ه المصنف لابن أبي شيبة, ت: كمال يوسف الحوت, مكتبة الرشد, الطبعة: الأولى، 1409 إرواء الغليل للألباني , المكتب الإسلامي , ط2, 1405ه

Hadis ini di HadeethEnc.com

Janganlah kalian berlebih-lebihan dalam memujiku sebagaimana orang-orang Nasrani berlebih-lebihan dalam memuji Isa bin Maryam. Sesungguhnya aku seorang hamba, maka katakanlah: Abdullah (hamba Allah) dan rasul-Nya

عَن عُمَرَ بنِ الخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قال: سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «لَا تُطْرُونِي كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ؛ فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُهُ، فَقُولُوا: عَبْدُ اللهِ وَرَسُولُهُ».
Umar bin Al-Khaṭṭāb -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, ia berkata, Aku mendengar Nabi ﷺ bersabda, "Janganlah kalian berlebih-lebihan dalam memujiku sebagaimana orang-orang Nasrani berlebih-lebihan dalam memuji Isa bin Maryam. Sesungguhnya aku seorang hamba, maka katakanlah: Abdullah (hamba Allah) dan rasul-Nya."
HR. BukhariDerajatSahih
Penjelasan

Nabi ﷺ melarang sikap berlebihan dan melampaui batas syariat dalam memuji dan menyifati beliau dengan sifat dan perbuatan-perbuatan yang khusus bagi Allah Ta'ala, seperti: beliau mengetahui perkara gaib, atau berdoa kepada beliau bersama doa kepada Allah, sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang Nasrani kepada Isa bin Maryam -'alaihissalām-. Kemudian beliau menjelaskan bahwa beliau adalah salah satu hamba Allah, dan beliau memerintahkan agar kita menyebutnya 'hamba Allah dan rasul-Nya'.

Faedah
  1. 1. Larangan melampaui batas syariat dalam menghormati dan memuji karena hal itu dapat mengantarkan kepada kesyirikan.
  2. 2. Apa yang diperingatkan oleh Nabi ﷺ telah terjadi di tengah umat ini; yaitu sebagian orang bersikap berlebihan kepada Rasulullah ﷺ, sebagian lainnya berlebihan kepada ahlubait, dan sebagian lagi berlebihan kepada para wali sehingga mereka jatuh dalam kesyirikan.
  3. 3. Rasulullah ﷺ menyifati dirinya bahwa beliau adalah hamba Allah, untuk menjelaskan bahwa beliau seorang hamba yang diciptakan dan dididik oleh Allah, dan tidak boleh menyematkan kepada beliau sesuatu yang merupakan kekhususan Allah.
  4. 4- Rasulullah ﷺ menyifati dirinya bahwa beliau adalah rasul Allah, untuk menjelaskan bahwa beliau seorang utusan Allah sehingga beliau wajib dibenarkan dan diikuti.
Rujukan

صحيح البخاري (4/ 167) (3445). عمدة القاري شرح صحيح البخاري، محمود بن أحمد بدر الدين العيني (16/ 37). فتح الباري، لابن حجر (6/ 490). منار القاري شرح مختصر صحيح البخاري، حمزة محمد قاسم (4/ 208).

Hadis ini di HadeethEnc.com

Orang yang paling beruntung dengan syafaatku kelak di hari kiamat ialah orang yang mengucapkan lā ilāha illallāh secara tulus dari dalam hatinya -atau jiwanya-

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أَنَّهُ قَالَ: قِيلَ: يَا رَسُولَ اللهِ، مَنْ أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِكَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ؟ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَقَدْ ظَنَنْتُ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ أَنْ لَا يَسْأَلَنِي عَنْ هَذَا الْحَدِيثِ أَحَدٌ أَوَّلُ مِنْكَ؛ لِمَا رَأَيْتُ مِنْ حِرْصِكَ عَلَى الْحَدِيثِ، أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ، مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ خَالِصًا مِنْ قَلْبِهِ أَوْ نَفْسِهِ»».
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, ia berkata, Seseorang bertanya, "Wahai Rasulullah! Siapakah orang yang paling beruntung mendapatkan syafaatmu kelak di hari kiamat?" Rasulullah ﷺ bersabda, "Sungguh aku telah menduga, wahai Abu Hurairah, bahwa menurutku tidak akan ada yang mendahuluimu untuk bertanya kepadaku tentang hadis ini dikarenakan semangatmu kepada hadis. Orang yang paling beruntung dengan syafaatku kelak di hari kiamat ialah orang yang mengucapkan lā ilāha illallāh secara tulus dari dalam hatinya -atau jiwanya-."
HR. BukhariDerajatSahih
Penjelasan

Nabi ﷺ mengabarkan bahwa orang yang paling beruntung mendapatkan syafaat beliau kelak di hari kiamat ialah orang yang mengucapkan "lā ilāha illallāh" tulus dari dalam hatinya. Yakni: tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, serta ia bebas dari kesyirikan maupun ria."

Faedah
  1. 1- Menetapkan adanya syafaat Nabi ﷺ di akhirat, dan bahwa syafaat itu tidak berlaku kecuali bagi orang-orang yang bertauhid.
  2. 2- Syafaat Nabi ﷺ ialah tawasul beliau kepada Allah Ta'ala untuk orang yang sebenarnya berhak masuk neraka dari kalangan orang-orang yang bertauhid supaya ia tidak masuk ke dalamnya, dan untuk orang yang telah masuk ke dalamnya supaya ia keluar darinya.
  3. 3- Keutamaan kalimat tauhid yang tulus kepada Allah Ta'ala serta pengaruhnya yang besar.
  4. 4- Merealisasikan kalimat tauhid ialah dengan memahami maknanya dan mengamalkan konsekuensinya.
  5. 5- Keutamaan Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- dan semangatnya mencari ilmu.
Rujukan

صحيح البخاري (1/ 31) (99). منار القاري شرح مختصر صحيح البخاري، لحمزة محمد قاسم (1/ 197). القول المفيد على كتاب التوحيد، لابن عثيمين (1/ 343).

Hadis ini di HadeethEnc.com
8 dari 43
43 hadis
  1. Sungguh Allah ﷻ melarang kalian bersumpah dengan nenek moyang kalian
  2. Laknat Allah kepada orang-orang Yahudi dan Nasrani, mereka menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai masjid
  3. Aku adalah Zat yang paling tidak butuh kepada sekutu. Siapa yang mengerjakan amalan yang di dalamnya dia menyekutukan-Ku dengan yang lain, maka Aku tinggalkan ia bersama perbuatan syiriknya itu
  4. Sungguh, aku menyatakan setia kepada Allah dengan menolak untuk mempunyai seorang khalīl (kekasih mulia) dari kalian, karena sesungguhnya Allah telah menjadikanku sebagai kekasih-Nya, sebagaimana Dia telah menjadikan Ibrahim sebagai kekasih-Nya
  5. Janganlah kalian mengatakan, ‘Atas kehendak Allah dan kehendak polan’, tapi katakanlah, ‘Atas kehendak Allah kemudian kehendak polan.'
  6. Aku bersumpah dengan nama Allah padahal dusta lebih aku sukai daripada bersumpah dengan selain-Nya meskipun jujur
  7. Janganlah kalian berlebih-lebihan dalam memujiku sebagaimana orang-orang Nasrani berlebih-lebihan dalam memuji Isa bin Maryam. Sesungguhnya aku seorang hamba, maka katakanlah: Abdullah (hamba Allah) dan rasul-Nya
  8. Orang yang paling beruntung dengan syafaatku kelak di hari kiamat ialah orang yang mengucapkan lā ilāha illallāh secara tulus dari dalam hatinya -atau jiwanya-
  9. Siapa yang meninggal dalam keadaan berdoa kepada selain Allah, niscaya akan masuk neraka
  10. Binasalah orang-orang yang berlebih-lebihan
  11. Tidak ada ‘adwā (penyakit menular), tidak ada ṭiyarah (merasa sial), dan aku menyukai fa`l (optimis)." Para sahabat bertanya, "Apakah fa’l itu?" Beliau bersabda, "Perkataan yang baik
  12. Untuk hal apa kami berbaiat kepadamu?' Beliau bersabda, 'Kalian akan menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, menunaikan salat lima waktu, melakukan ketaatan -beliau membisikkan satu kalimat-, dan tidak meminta sesuatu pun kepada manusia!
  13. Siapa didera kefakiran, lalu mengadukannya kepada manusia, maka kefakirannya tidak akan terpenuhi. Dan siapa mengadukan kefakirannya kepada Allah, maka pasti Allah akan segera memberinya rezeki, cepat atau lambat.
  14. Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengunjungiku. Beliau minum dari bibir geriba (kantong minum dari kulit) yang tergantung sambil berdiri. Aku pun memotong bibir geriba bekas minum beliau.
  15. Laknat Allah kepada orang-orang Yahudi dan Nasrani; mereka menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai masjid
  16. Demi Tuhan yang jiwaku ada di tangan-Nya, kalian pasti akan mengikuti tradisi orang-orang sebelum kalian
  17. Seorang laki-laki datang menemui Nabi ﷺ lalu berbicara kepada beliau tentang sejumlah perkara. Lalu ia berkata, "Atas kehendak Allah dan kehendak Anda." Maka Nabi ﷺ bersabda, 'Apakah engkau ingin menjadikanku sebagai tandingan Allah? Tetapi ucapkanlah, 'Atas kehendak Allah saja'
  18. Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- apabila menunjuk seorang komandan untuk memimpin pasukan atau sariyyah (pasukan kiriman) beliau berpesan padanya agar bertakwa pada Allah dan berpesan kebaikan pada orang-orang yang bersamanya dari kalangan Muslimin.
  19. Maukah engkau aku utus sebagaimana Rasulullah ﷺ mengutusku? Yaitu jangan biarkan patung kecuali engkau hancurkannya dan (jangan biarkan) kuburan yang tinggi kecuali engkau ratakan
  20. Dosa yang paling besar adalah berbuat syirik kepada Allah, merasa aman dari murka Allah, dan berputus asa dari rahmat Allah serta putus harapan dari karunia Allah.
  21. Lepaskan gelang itu, karena ia hanya akan menambah kelemahan pada dirimu. Sesungguhnya jika engkau meninggal dunia dan gelang itu masih ada di tubuhmu, maka engkau tidak akan beruntung selama-lamanya.
  22. Tidak boleh membiarkan suatu kalung dari tali busur -atau kalung apa saja- di leher unta, kalau ada maka harus diputus
  23. Siapa pun yang menggantung jimat, maka ia telah berbuat syirik
  24. Siapa yang bergantung pada sesuatu maka ia akan dipasrahkan kepadanya.‎
  25. Wahai Ruwaifi'! Bisa jadi kamu akan berumur panjang, karena itu, beritahukanlah kepada orang-orang bahwa siapa yang mengikat jenggotnya, atau memasang jimat, atau beristinja dengan kotoran binatang atau tulang, maka sesungguhnya Muhammad berlepas diri darinya.
  26. Siapa yang mengucapkan 'Lā ilāha illallāh' dan mengingkari segala sesuatu yang disembah selain Allah, maka harta dan darahnya terjaga, sedangkan perhitungan amalnya terserah kepada Allah
  27. Allah Ta'ala berfirman kepada penghuni neraka yang paling ringan siksaannya pada hari Kiamat, 'Seandainya engkau memiliki sesuatu di bumi, apakah engkau akan melakukan penebusan dengannya?' Ia menjawab, 'Ya.'
  28. Itu adalah kalimat dari Allah yang disambar jin lalu ia membisikkannya ke telinga pasukannya, lalu mereka mencampurnya dengan lebih dari seratus kedustaan
  29. Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- tidak pernah meramalkan kesialan.
  30. Sesungguhnya orang-orang yang membuat gambar ini akan disiksa pada hari kiamat. Dikatakan pada mereka, 'Hidupkanlah apa yang telah kalian ciptakan!'
  31. Malaikat tidak akan masuk ke rumah yang di dalamnya terdapat anjing maupun gambar
  32. Jangan bersumpah dengan berhala ataupun leluhur kalian
  33. Bawalah kedua sandalku ini! Siapa saja yang engkau jumpai di balik kebun ini, yang bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dengan yakin sepenuh hati, maka berilah ia kabar gembira berupa surga
  34. Wahai Abu Aisyah! Ada tiga hal, siapa yang berkata dengan salah satu di antaranya maka sungguh ia telah membuat kebohongan yang besar terhadap Allah.
  35. Bumi itu semuanya adalah masjid, selain kuburan dan kamar mandi.
  36. Janganlah kalian duduk di atas kubur dan jangan salat menghadapnya
  37. Sesungguhnya salat ini tidak sepantasnya terdapat ucapan manusia di dalamnya. Sesungguhnya ucapan yang pantas hanyalah tasbih, takbir, dan bacaan Al-Qur'ān.
  38. Mereka itu kaum yang apabila seorang hamba yang saleh atau orang yang saleh di kalangan mereka meninggal, mereka membangun masjid di atas kuburnya
  39. Sesungguhnya hak Allah dari para hamba-Nya ialah agar mereka beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Sedangkan hak para hamba dari Allah ialah bahwa Allah tidak akan menyiksa siapa yang tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun
  40. Siapa yang mati dalam keadaan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apa pun, akan masuk surga. Siapa yang mati dalam keadaan menyekutukan Allah dengan sesuatu apa pun, ia akan masuk neraka
  41. Siapa yang bertemu Allah sementara dia tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, maka tidak ada dosa yang akan mencelakakannya. Sebaliknya, siapa yang mati sementara dia menyekutukan Allah, maka tidak ada kebaikan yang bermanfaat baginya
  42. Kunci gaib itu ada lima
  43. Sungguh Allah meridai bagi kalian tiga perkara dan membenci bagi kalian tiga perkara

Setiap hadis, derajat, penjelasan, dan faedah di sini ditampilkan persis sebagaimana diterbitkan HadeethEnc.com, menurut ketentuan penerbitan ulangnya. Derajat itu tidak menyebut siapa yang menilainya. Terjemahan dan penjelasan adalah karya para penyusunnya, dan sebagian menyebutkan hukum; para peninjau Sabīl belum memeriksanya. Hadis berbahasa Arablah teksnya. Sumber: HadeethEnc.com