Umar bin al-Khaṭṭāb -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ bersabda, "Sungguh Allah ﷻ melarang kalian bersumpah dengan nenek moyang kalian." Umar berkata, "Demi Allah! Tidak pernah lagi aku bersumpah dengan nenek moyang sejak aku mendengar Rasulullah ﷺ melarangnya, baik sengaja ataupun dalam bentuk nukilan."
Muttafaq 'alaihDerajatSahih
Penjelasan
Nabi ﷺ mengabarkan bahwa Allah Ta'ala melarang bersumpah dengan nenek moyang. Siapa yang hendak bersumpah, jangan bersumpah kecuali dengan nama Allah dan tidak bersumpah dengan selain-Nya. Kemudian Umar bin Al-Khaṭṭāb -raḍiyallāhu 'anhu- menyebutkan bahwa ia tidak pernah lagi bersumpah dengan itu sejak mendengar Rasulullah ﷺ melarangnya, baik sengaja maupun dalam bentuk nukilan sumpah orang lain dengan selain nama Allah.
Faedah
1- Pengharaman bersumpah dengan selain nama Allah. Terkait larangan ini, bersumpah dengan nenek moyang disebutkan khusus karena itu merupakan kebiasaan kaum jahiliah.
2- Sumpah ialah bersumpah dengan Allah atau nama-nama Allah maupun sifat-sifat-Nya dalam suatu urusan dengan tujuan menegaskannya.
3- Keutamaan Umar -raḍiyallāhu 'anhu- dalam hal kesegeraannya menaati perintah Rasulullah ﷺ, baiknya pemahamannya, dan ketinggian sifat waraknya.
Rujukan
صحيح البخاري (8/ 132) (6647).
صحيح مسلم (3/ 1266) (1646).
تيسير العلام شرح عمدة الأحكام، للبسام (ص684).
الإلمام بشرح عمدة الأحكام، لإسماعيل الأنصاري (2/ 134).
عن عائشة أم المؤمنين وعبد الله بن عباس رضي الله عنهما قالا: لَمَّا نَزَلَ بِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ طَفِقَ يَطْرَحُ خَمِيصَةً لَهُ عَلَى وَجْهِهِ، فَإِذَا اغْتَمَّ بِهَا كَشَفَهَا عَنْ وَجْهِهِ، فَقَالَ وَهُوَ كَذَلِكَ: «لَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى اليَهُودِ وَالنَّصَارَى، اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ» يُحَذِّرُ مَا صَنَعُوا.
Aisyah dan Abdullah bin 'Abbās -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan, Ketika ajal datang kepada Rasulullah ﷺ, beliau meletakkan kain di wajahnya. Apabila susah bernafas, beliau membukanya. Dalam keadaan demikian, beliau bersabda, "Laknat Allah kepada orang-orang Yahudi dan Nasrani, mereka menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai masjid." Beliau hendak memperingatkan apa yang telah mereka lakukan.
Muttafaq 'alaihDerajatSahih
Penjelasan
Aisyah dan Ibnu 'Abbās -raḍiyallāhu 'anhum- mengabarkan, bahwa ketika kematian menghampiri Nabi ﷺ, beliau segera meletakkan sehelai kain di mukanya. Apabila beliau sulit bernapas lantaran sakratulmaut, beliau menyingkirkan kain itu dari mukanya. Pada keadaan sulit itu, beliau bersabda: Allah telah melaknat orang-orang Yahudi dan Nasrani serta mengusir mereka dari rahmat-Nya karena mereka membangun masjid di atas kubur nabi-nabi mereka. Kalau bukan karena bahaya perkara ini, tentu beliau tidak akan mengingatkannya di keadaan seperti ini. Oleh karena itu, Nabi ﷺ melarang umatnya agar tidak meniru perbuatan itu karena merupakan perilaku kaum Yahudi dan Nasrani, juga karena ia merupakan sarana yang dapat mengantarkan pada kesyirikan kepada Allah ﷻ.
Faedah
1- Larangan menjadikan kuburan para nabi dan orang-orang saleh sebagai masjid tempat melaksanakan salat kepada Allah karena ia merupakan sarana menuju kesyirikan.
2- Tingginya perhatian Rasulullah ﷺ terhadap masalah tauhid serta kekhawatiran beliau terhadap tindakan mengagungkan kubur karena hal itu dapat mengantarkan kepada kesyirikan.
3- Boleh melaknat orang-orang Yahudi dan Nasrani serta orang-orang yang melakukan perbuatan seperti perbuatan mereka berupa membuat bangunan di atas kuburan dan menjadikannya sebagai masjid.
4- Membuat bangunan di atas kuburan termasuk kebiasaan kaum Yahudi dan Nasrani, dan di dalam hadis ini terdapat larangan meniru mereka.
5- Termasuk bentuk menjadikan kuburan sebagai masjid ialah salat di sisi kuburan dan menghadap kuburan walaupun tidak dibangun masjid padanya.
Rujukan
صحيح البخاري (1/ 95) (435)، (2/ 102) (1390).
صحيح مسلم (1/ 377) (531)، (1/ 376) (529).
الملخص في شرح كتاب التوحيد، للشيخ صالح الفوزان (ص170).
الجديد في شرح كتاب التوحيد، لمحمد بن عبد العزيز السليمان القرعاوي (ص185).
عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «قَالَ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ، مَنْ عَمِلَ عَمَلًا أَشْرَكَ فِيهِ مَعِي غَيْرِي تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ».
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda, Allah berfirman, "Aku adalah Zat yang paling tidak butuh kepada sekutu. Siapa yang mengerjakan amalan yang di dalamnya dia menyekutukan-Ku dengan yang lain, maka Aku tinggalkan ia bersama perbuatan syiriknya itu."
HR. MuslimDerajatSahih
Penjelasan
Nabi ﷺ mengabarkan bahwa Allah -Tabāraka wa Ta'ālā- berfirman, bahwa Dia Zat yang paling tidak butuh kepada sekutu. Dia tidak butuh kepada segala sesuatu. Ketika seseorang mengerjakan suatu amal ketaatan dan ia menjadikannya untuk Allah dan selain Allah, niscaya Allah akan meninggalkannya dan tidak menerimanya serta amalannya tertolak. Seseorang wajib memurnikan amal kepada Allah Ta'ala, karena Allah tidak menerima kecuali amal yang murni demi wajah-Nya yang Maha Mulia.
Faedah
1- Larangan melakukan kesyirikan dalam bentuk apapun, dan kesyirikan merupakan penghalang diterimanya amal.
2- Menghadirkan kemahakayaan Allah serta keagungan-Nya termasuk tindakan yang akan membantu keikhlasan dalam beramal.
Rujukan
صحيح مسلم (4/ 2289) (2985).
شرح النووي على مسلم (18/ 115).
الملخص في شرح كتاب التوحيد، لصالح الفوزان (ص287).
الجديد في شرح كتاب التوحيد، لمحمد القرعاوي (ص325).
Jundub -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, ia berkata, Aku mendengar Nabi ﷺ bersabda di lima hari sebelum beliau meninggal dunia, "Sungguh, aku menyatakan setia kepada Allah dengan menolak untuk mempunyai seorang khalīl (kekasih mulia) dari kalian, karena sesungguhnya Allah telah menjadikanku sebagai kekasih-Nya, sebagaimana Dia telah menjadikan Ibrahim sebagai kekasih-Nya. Seandainya aku menjadikan seorang kekasih dari umatku, maka aku akan jadikan Abu Bakar sebagai kekasihku. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya umat-umat sebelum kalian telah menjadikan kuburan para Nabi mereka sebagai tempat ibadah. Ingatlah, jangan kalian menjadikan kuburan sebagai tempat beribadah, karena aku melarang kalian dari perbuatan itu."
HR. MuslimDerajatSahih
Penjelasan
Nabi ﷺ bercerita tentang kedudukan beliau di sisi Allah Ta'ala, bahwa kedudukan beliau mencapai tingkat cinta yang paling tinggi, sebagaimana kedudukan itu telah dicapai oleh Ibrahim -'alaihissalām-. Karenanya, beliau menafikan memiliki khalīl selain Allah karena hati beliau telah terisi penuh dengan cinta kepada Allah Ta'ala serta mengagungkan dan mengenal-Nya, sehingga tidak ada lagi tempat untuk yang lain selain Allah. Sekiranya beliau memiliki khalīl dari kalangan makhluk, tentulah ia adalah Abu Bakar Aṣ-Ṣiddīq -raḍiyallāhu 'anhu-. Kemudian beliau memberikan peringatan terhadap tindakan melampaui batas yang dibolehkan dalam cinta, sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani pada kubur para nabi dan orang-orang saleh sampai mereka menjadikannya sebagai tuhan-tuhan sekutu yang disembah selain Allah, serta mereka membangun tempat peribadatan di atas kubur mereka, dan beliau ﷺ melarang umatnya melakukan hal yang sama seperti perbuatan mereka.
Faedah
1- Keutamaan Abu Bakar Aṣ-Ṣiddīq -raḍiyallāhu 'anhu-; bahwa dia adalah sahabat yang paling afdal dan merupakan orang paling patut sebagai khalifah (pengganti) Rasulullah ﷺ setelah kematian beliau.
2- Membangun tempat ibadah di atas kubur termasuk kemungkaran umat-umat terdahulu.
3- Larangan menjadikan kubur sebagai tempat ibadah dengan salat di dekatnya atau menghadap ke arahnya serta membangun masjid atau kubah di atasnya sebagai sikap kehati-hatian agar tidak jatuh dalam kesyirikan dengan sebab itu.
4- Peringatan terhadap sikap guluw (berlebihan) terhadap orang-orang saleh karena dapat mengantarkan kepada kesyirikan.
5- Betapa bahayanya perbuatan yang diingatkan oleh Nabi ﷺ, karena beliau menegaskannya lima hari sebelum kematian beliau.
Rujukan
صحيح مسلم (1/ 377) (532).
شرح النووي على مسلم (5/ 13).
الجديد في شرح كتاب التوحيد، لمحمد القرعاوي (ص188).
الملخص في شرح كتاب التوحيد، لصالح الفوزان (ص172).
Ḥużaifah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Janganlah kalian mengatakan, ‘Atas kehendak Allah dan kehendak polan’, tapi katakanlah, ‘Atas kehendak Allah kemudian kehendak polan.'"
HR. Abu Daud, Nasai dalam Al-Kubrā, dan AhmadDerajatSahih berdasarkan semua jalurnya
Penjelasan
Nabi ﷺ melarang seorang muslim dalam percakapannya mengucapkan: Atas kehendak Allah dan kehendak polan, ataupun: atas kehendak Allah dan polan. Alasannya adalah karena kehendak dan kemauan Allah bersifat umum, tidak ada seorang pun yang menyertai-Nya di dalamnya. Sedangkan menggunakan kata "waw" (bermakna: dan) sebagai kata sambung mengindikasikan adanya kesertaan seseorang bersama Allah dan penyetaraan antara keduanya. Akan tetapi, hendaklah mengatakan: Atas kehendak Allah kemudian kehendak polan; yaitu menjadikan kehendak hamba mengikuti kehendak Allah dengan menggunakan "ṡumma" (bermakna: kemudian) sebagai ganti "waw" (bermakna: dan), karena ṡumma menunjukkan kehadiran setelahnya dan selang waktu.
Faedah
1- Pengharaman ucapan: "Atas kehendak Allah dan kehendakmu" dan lafaz-lafaz semisal yang mengandung penyambungan kepada Allah menggunakan huruf "waw", karena termasuk syirik dalam lafaz dan ucapan.
2- Dibolehkan mengucapkan: "Atas kehendak Allah kemudian kehendakmu" dan lafaz-lafaz semisal yang mengandung penyambungan kepada Allah menggunakan huruf "ṡumma", karena hal terlarang itu tidak ada di dalamnya.
3- Penetapan adanya kehendak bagi Allah serta penetapan adanya kehendak bagi hamba. Kehendak hamba mengikuti kehendak Allah Ta'ala.
4- Larangan menjadikan makhluk sebagai sekutu Allah dalam kehendak, walaupun dalam bentuk lafaz.
5- Apabila penuturnya meyakini bahwa kehendak hamba sama seperti kehendak Allah ﷻ dalam hal cakupan dan keumumannya, atau meyakini bahwa hamba tersebut memiliki kehendak yang berdiri sendiri, maka hukumnya syirik besar. Adapun kalau dia meyakini bahwa ia di bawah itu, maka hukumnya syirik kecil.
Rujukan
السنن الكبرى للنسائي (9/ 361) (10755).
سنن أبي داود (7/ 334) (4980).
مسند أحمد (38/ 299) (23265)، (38/ 364) (23339).
الجديد في شرح كتاب التوحيد، لمحمد القرعاوي (ص368).
الملخص في شرح كتاب التوحيد، لصالح الفوزان (ص329).
عن عبد الله بن مسعود رضي الله عنه قال: "لأن أحلف بالله كاذبًا أحب إليَّ من أن أحلف بغيره صادقًا".
Dari Abdullah bin Mas'ud -raḍiyallāhu 'anhu- ia berkata, "Aku bersumpah dengan nama Allah padahal dusta lebih aku sukai daripada bersumpah dengan selain-Nya meskipun jujur."
Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah - Diriwayatkan oleh AbdurrazzāqDerajatHadis sahih
Penjelasan
Ibnu Mas'ud -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, "Sumpahku dengan nama Allah terhadap sesuatu padahal aku berdusta -andai ini terjadi- lebih aku sukai daripada sumpahku dengan selain Allah terhadap sesuatu meski aku jujur dalam hal itu. Dipilihnya bersumpah dengan nama Allah dalam keadaan dusta daripada bersumpah dengan selain-Nya dalam keadaan jujur karena bersumpah dengan nama Allah dalam kondisi seperti ini mengandung kebaikan tauhid dan juga keburukan dusta. Sedangkan bersumpah dengan selain Allah dalam keadaan benar mengandung kebaikan jujur dan keburukan syirik. Kebaikan tauhid lebih besar dari kebaikan jujur, dan keburukan dusta lebih ringan dari keburukan syirik.
Rujukan
كتاب التوحيد للإمام محمد بن عبد الوهاب ص252 ت: د. دغش العجمي . مكتبة أهل الأثر , الطبعة الخامسة , 1435ه
الجديد في شرح كتاب التوحيد لمحمد بن عبد العزيز السليمان القرعاوي, ت: محمد بن أحمد سيد , مكتبة السوادي، الطبعة: الخامسة، 1424ه
الملخص في شرح كتاب التوحيد للشيخ صالح الفوزان , دار العاصمة , الطبعة الأولى 1422ه
المصنف لابن أبي شيبة, ت: كمال يوسف الحوت, مكتبة الرشد, الطبعة: الأولى، 1409
إرواء الغليل للألباني , المكتب الإسلامي , ط2, 1405ه
Umar bin Al-Khaṭṭāb -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, ia berkata, Aku mendengar Nabi ﷺ bersabda, "Janganlah kalian berlebih-lebihan dalam memujiku sebagaimana orang-orang Nasrani berlebih-lebihan dalam memuji Isa bin Maryam. Sesungguhnya aku seorang hamba, maka katakanlah: Abdullah (hamba Allah) dan rasul-Nya."
HR. BukhariDerajatSahih
Penjelasan
Nabi ﷺ melarang sikap berlebihan dan melampaui batas syariat dalam memuji dan menyifati beliau dengan sifat dan perbuatan-perbuatan yang khusus bagi Allah Ta'ala, seperti: beliau mengetahui perkara gaib, atau berdoa kepada beliau bersama doa kepada Allah, sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang Nasrani kepada Isa bin Maryam -'alaihissalām-. Kemudian beliau menjelaskan bahwa beliau adalah salah satu hamba Allah, dan beliau memerintahkan agar kita menyebutnya 'hamba Allah dan rasul-Nya'.
Faedah
1. Larangan melampaui batas syariat dalam menghormati dan memuji karena hal itu dapat mengantarkan kepada kesyirikan.
2. Apa yang diperingatkan oleh Nabi ﷺ telah terjadi di tengah umat ini; yaitu sebagian orang bersikap berlebihan kepada Rasulullah ﷺ, sebagian lainnya berlebihan kepada ahlubait, dan sebagian lagi berlebihan kepada para wali sehingga mereka jatuh dalam kesyirikan.
3. Rasulullah ﷺ menyifati dirinya bahwa beliau adalah hamba Allah, untuk menjelaskan bahwa beliau seorang hamba yang diciptakan dan dididik oleh Allah, dan tidak boleh menyematkan kepada beliau sesuatu yang merupakan kekhususan Allah.
4- Rasulullah ﷺ menyifati dirinya bahwa beliau adalah rasul Allah, untuk menjelaskan bahwa beliau seorang utusan Allah sehingga beliau wajib dibenarkan dan diikuti.
Rujukan
صحيح البخاري (4/ 167) (3445).
عمدة القاري شرح صحيح البخاري، محمود بن أحمد بدر الدين العيني (16/ 37).
فتح الباري، لابن حجر (6/ 490).
منار القاري شرح مختصر صحيح البخاري، حمزة محمد قاسم (4/ 208).
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, ia berkata, Seseorang bertanya, "Wahai Rasulullah! Siapakah orang yang paling beruntung mendapatkan syafaatmu kelak di hari kiamat?" Rasulullah ﷺ bersabda, "Sungguh aku telah menduga, wahai Abu Hurairah, bahwa menurutku tidak akan ada yang mendahuluimu untuk bertanya kepadaku tentang hadis ini dikarenakan semangatmu kepada hadis. Orang yang paling beruntung dengan syafaatku kelak di hari kiamat ialah orang yang mengucapkan lā ilāha illallāh secara tulus dari dalam hatinya -atau jiwanya-."
HR. BukhariDerajatSahih
Penjelasan
Nabi ﷺ mengabarkan bahwa orang yang paling beruntung mendapatkan syafaat beliau kelak di hari kiamat ialah orang yang mengucapkan "lā ilāha illallāh" tulus dari dalam hatinya. Yakni: tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, serta ia bebas dari kesyirikan maupun ria."
Faedah
1- Menetapkan adanya syafaat Nabi ﷺ di akhirat, dan bahwa syafaat itu tidak berlaku kecuali bagi orang-orang yang bertauhid.
2- Syafaat Nabi ﷺ ialah tawasul beliau kepada Allah Ta'ala untuk orang yang sebenarnya berhak masuk neraka dari kalangan orang-orang yang bertauhid supaya ia tidak masuk ke dalamnya, dan untuk orang yang telah masuk ke dalamnya supaya ia keluar darinya.
3- Keutamaan kalimat tauhid yang tulus kepada Allah Ta'ala serta pengaruhnya yang besar.
4- Merealisasikan kalimat tauhid ialah dengan memahami maknanya dan mengamalkan konsekuensinya.
5- Keutamaan Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- dan semangatnya mencari ilmu.
Rujukan
صحيح البخاري (1/ 31) (99).
منار القاري شرح مختصر صحيح البخاري، لحمزة محمد قاسم (1/ 197).
القول المفيد على كتاب التوحيد، لابن عثيمين (1/ 343).
Setiap hadis, derajat, penjelasan, dan faedah di sini ditampilkan persis sebagaimana diterbitkan HadeethEnc.com, menurut ketentuan penerbitan ulangnya. Derajat itu tidak menyebut siapa yang menilainya. Terjemahan dan penjelasan adalah karya para penyusunnya, dan sebagian menyebutkan hukum; para peninjau Sabīl belum memeriksanya. Hadis berbahasa Arablah teksnya. Sumber: HadeethEnc.com