Langsung ke konten
Hadis dengan penjelasan

Iman kepada Allah -'Azza wa Jalla-

138 hadis

Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya ia memuliakan tamunya dengan jamuannya. Para sahabat bertanya, "Apakah jamuannya itu wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "Jamuan di siang hari dan malamnya. Menjamu tamu itu tiga hari, dan selebihnya adalah sedekah kepadanya."

عن أبي شُريح خُويلد بن عمرو الخزاعي عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال: «مَنْ كَان يُؤمِن بِاللهِ وَاليَومِ الآخِرِ فَلْيُكْرِم ضَيفَه جَائِزَتَه»، قَالوا: وما جَائِزَتُهُ؟ يَا رسول الله، قال: «يَومُهُ ولَيلَتُهُ، والضِّيَافَةُ ثَلاَثَةُ أَيَّامٍ، فَمَا كَانَ وَرَاءَ ذَلك فَهُوَ صَدَقَةٌ عَلَيه». وفي رواية: «لا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يُقِيمَ عِنْدَ أَخِيهِ حَتَّى يؤْثِمَهُ» قالوا: يَا رَسول الله، وَكَيفَ يُؤْثِمَهُ؟ قال: «يُقِيمُ عِندَهُ ولاَ شَيءَ لَهُ يُقرِيهِ بهِ».
Dari Abu Syuraih Khuwailid bin 'Amru Al-Khuzā'i, dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- beliau bersabda, "Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya ia memuliakan tamunya dengan jamuannya. Para sahabat bertanya, "Apakah jamuannya itu wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "Jamuan di siang hari dan malamnya. Menjamu tamu itu tiga hari, dan selebihnya adalah sedekah kepadanya." Dalam riwayat lain, "Tidak halal bagi seorang Muslim tinggal di rumah saudaranya hingga membuat ia berbuat dosa." Mereka bertanya, "Wahai Rasulullah, bagaimana membuat ia berbuat dosa?" Beliau menjawab, "Ia (tamu) tinggal di rumahnya sementara saudaranya (tuan rumah) itu tidak memiliki sesuatu untuk menjamunya."
Muttafaq 'alaih dengan dua riwayatnyaDerajatHadis sahih
Penjelasan

Hadis Abu Syuraih Al-Khuzā'i -raḍiyallāhu 'anhu- ini menunjukkan anjuran memuliakan dan menjamu tamu. Diriwayatkan darinya bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya." Ini dalam konteks menganjurkan dan memotivasi untuk memuliakan tamu. Artinya, memuliakan tamu merupakan tanda keimanan kepada Allah dan hari akhir, sekaligus termasuk kesempurnaan iman kepada Allah dan hari akhir. Di antara bentuk memuliakan tamu adalah berwajah ceria, berbicara dengan ramah dan memberi makan selama tiga hari. Di hari pertama sesuai kemampuan dan kelonggarannya. Sedangkan di hari lainnya sesuai dengan apa yang dimiliki, tanpa dipaksakan, agar tidak memberatkan dan tidak membebani dirinya. Dan setelah tiga hari terhitung sebagai sedekah, jika mau, ia bisa memberikan dan jika tidak, maka tidak mengapa. Sabda beliau, "Hendaklah ia memuliakan tamunya dengan jamuannya, yakni satu hari dan satu malam. Menjamu tamu itu tiga hari." Para ulama berkata tentang maksud jaizah (jamuan), "Yakni memperhatikan tamu pada hari dan malam (pertama), dengan memberikan kepadanya layanan baik dan kemudahan yang dapat dilakukan. Sedangkan di hari kedua dan ketiga, memberinya makan yang bisa diberikannya dan tidak melebihi kebiasaan. Sedangkan jamuan setelah tiga hari ini merupakan sedekah dan perbuatan baik yang tuan rumah boleh lakukan atau tinggalkan. Dalam riwayat Muslim, "Dan ia (tamu) tidak boleh tinggal di rumahnya hingga menyebabkannya (tuan rumah) berbuat dosa." Maksudnya, tamu tidak boleh tinggal di tempat tuan rumah setelah tiga hari hingga menjerumuskannya pada perbuatan dosa. Bisa jadi tuan rumah menggibah tamu karena tak kunjung pergi, sengaja menghadirkan sesuatu yang menyakiti tamu (agar lekas pergi), atau menyangka sesuatu yang tidak boleh pada diri tamu (berburuk sangka pada tamu). Semua ini dimungkinkan terjadi bila tamu tinggal lebih dari tiga hari tanpa ada penawaran dari tuan rumah. Dan patut diketahui, bahwa cara memuliakan tamu itu berbeda-beda sesuai kondisi tamu. Di antara manusia ada orang yang ditokohkan dan disegani masyarakat, maka ia dimuliakan dengan cara yang layak dengan kondisinya. Ada orang yang pertengahan, maka ia dimuliakan dengan cara yang layak. Ada pula orang yang tingkatanya di bawah itu.

Rujukan

بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين، لسليم الهلالي، ط1، دار ابن الجوزي، الدمام، 1415هـ. تطريز رياض الصالحين، للشيخ فيصل المبارك، ط1، تحقيق: عبد العزيز بن عبد الله آل حمد، دار العاصمة، الرياض، 1423 هـ. دليل الفالحين لطرق رياض الصالحين، لمحمد علي بن محمد بن علان، ط4، اعتنى بها: خليل مأمون شيحا، دار المعرفة، بيروت، 1425هـ. رياض الصالحين، للنووي، ط1، تحقيق: ماهر ياسين الفحل، دار ابن كثير، دمشق، بيروت، 1428هـ. رياض الصالحين، ط4، تحقيق: عصام هادي، وزارة الأوقاف والشؤون الإسلامية القطرية، دار الريان، بيروت، 1428هـ. فتح رب البرية بتلخيص الحموية، لمحمد بن صالح بن محمد العثيمين، دار الوطن للنشر، الرياض. كنوز رياض الصالحين، مجموعة من الباحثين برئاسة حمد بن ناصر العمار، ط1، كنوز إشبيليا، الرياض، 1430هـ. شرح رياض الصالحين، للشيخ ابن عثيمين، دار الوطن للنشر، الرياض، 1426هـ. صحيح البخاري، تحقيق: محمد زهير بن ناصر الناصر، ط1، دار طوق النجاة، (مصورة عن السلطانية بإضافة ترقيم: محمد فؤاد عبد الباقي)، 1422هـ. صحيح مسلم، تحقيق: محمد فؤاد عبد الباقي، دار إحياء التراث العربي، بيروت. نزهة المتقين شرح رياض الصالحين، لمجموعة من الباحثين، ط14، مؤسسة الرسالة، 1407هـ.

Hadis ini di HadeethEnc.com

Tujuh langit dan tujuh bumi di telapak tangan Allah Yang Maha Pengasih tidak lebih hanya laksana biji sawi di tangan salah seorang di antara kalian.

عن عبد الله بن عباس رضي الله عنهما قال: "ما السماوات السبع والأرضون السبع في كَفِّ الرحمن إلا كَخَرْدَلَةٍ في يد أحدكم".
Dari Abdullah bin Abbas -raḍiyallāhu 'anhumā-, dia berkata, "Tujuh langit dan tujuh bumi di telapak tangan Allah Yang Maha Pengasih tidak lebih hanya laksana biji sawi di tangan salah seorang di antara kalian."
Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir - Diriwayatkan oleh Żahabi dalam kitab al-'Uluw - Diriwayatkan oleh Abdullah bin Imam AhmadDerajatSyaikh al-Albani mengutip penilaian sahihnya dari Ibnu Taimiyah dan tidak mengomentarinya
Penjelasan

Ibnu Abbas -raḍiyallāhu 'anhumā- dalam aṡar ini mengabarkan pada kita bahwa perbandingan tujuh langit dan tujuh bumi disertai kebesarannya ke telapak tangan Allah Yang Maha Pengasih, laksana perbandingan biji sawi yang kecil dengan telapak tangan salah seorang dari kita. Ini merupakan pendekatan satu penisbahan dengan penisbahan lainnya, bukan penyerupaan telapak tangan dengan telapak tangan, karena sifat-sifat Allah tidak menyerupai apa pun, sebagaimana pula zat-Nya tidak menyerupai apa pun.

Rujukan

1- فتح المجيد شرح كتاب التوحيد، مطبعة السنة المحمدية، القاهرة، مصر، الطبعة: السابعة، 1377هـ - 1957م. 2- القول المفيد على كتاب التوحيد، دار ابن الجوزي، المملكة العربية السعودية، الطبعة: الثانية, محرم، 1424ه. 3- الملخص في شرح كتاب التوحيد، دار العاصمة الرياض، الطبعة: الأولى 1422هـ - 2001م. 4- الجديد في شرح كتاب التوحيد، مكتبة السوادي، جدة، المملكة العربية السعودية، الطبعة: الخامسة، 1424هـ - 2003م. 5- التمهيد لشرح كتاب التوحيد، دار التوحيد، تاريخ النشر: 1424هـ. 6- جامع البيان في تأويل القرآن، المؤلف: محمد بن جرير أبو جعفر الطبري، المحقق: أحمد محمد شاكر، الناشر: مؤسسة الرسالة، الطبعة: الأولى، 1420هـ - 2000م.

Hadis ini di HadeethEnc.com

Allah akan memasukkannya ke dalam surga seperti apa pun amalnya

عَنْ عُبَادَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «مَنْ شَهِدَ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، وَأَنَّ عِيسَى عَبْدُ اللهِ وَرَسُولُهُ وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ وَرُوحٌ مِنْهُ، وَالْجَنَّةُ حَقٌّ، وَالنَّارُ حَقٌّ، أَدْخَلَهُ اللهُ الْجَنَّةَ عَلَى مَا كَانَ مِنَ الْعَمَلِ».
'Ubādah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan dari Nabi ﷺ, bahwa beliau bersabda, "Siapa yang bersaksi bahwa tidak ada sembahan yang benar kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, bahwa Muhammad adalah hamba Allah dan rasul-Nya, bahwa Isa adalah hamba Allah, utusan-Nya, kalimat-Nya yang disampaikan pada Maryam, dan ruh dari-Nya, juga bersaksi bahwa surga benar adanya serta neraka benar adanya, maka Allah akan memasukkannya ke dalam surga seperti apa pun amalnya."
Muttafaq 'alaihDerajatSahih
Penjelasan

Rasulullah ﷺ mengabari kita bahwa orang yang mengucapkan kalimat tauhid disertai pemahaman terhadap maknanya dan mengamalkan konsekuensinya, bersaksi atas kehambaan Muhammad ﷺ dan kerasulannya, mengakui kehambaan Isa dan kerasulannya, juga bersaksi bahwa Allah menciptakannya dengan kalimat "jadilah" maka dia pun ada, bahwa dia adalah roh di antara roh-roh yang diciptakan Allah, serta membebaskan ibunya dari semua tuduhan yang disematkan orang-orang Yahudi padanya, sekaligus beriman bahwa surga itu benar adanya serta neraka juga benar adanya dengan meyakini keduanya sudah ada dan keduanya adalah nikmat Allah dan siksa-Nya, lalu dia meninggal di atas keyakinan itu, maka tempat kembalinya adalah surga, walaupun dia kurang dalam ketaatan dan memiliki dosa.

Faedah
  1. 1- Allah Ta'ala menciptakan Isa bin Maryam dengan kalimat "jadilah" tanpa ayah.
  2. 2- Menggabungkan antara status Nabi Isa dan Muhammad -semoga Allah melimpahkan selawat dan salam pada keduanya- bahwa keduanya sama-sama hamba Allah dan utusan-Nya; keduanya adalah utusan yang tidak boleh didustakan serta hamba yang tidak boleh disembah.
  3. 3- Keutamaan tauhid dan penghapusannya terhadap dosa, dan tempat kembali orang yang bertauhid ialah surga walaupun ia terjerumus dalam sebagian dosa.
Rujukan

صحيح البخاري (4/ 165) (3435). صحيح مسلم (1/ 57) (28). الملخص في شرح كتاب التوحيد، لصالح الفوزان (ص25). الجديد في شرح كتاب التوحيد، لمحمد القرعاوي (ص36).

Hadis ini di HadeethEnc.com

Sesungguhnya Allah mengampuni kesalahan dari umatku akibat keliru, lupa, serta karena dipaksa

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «إنَّ اللَّهَ تَجَاوَزَ لِي عَنْ أُمَّتِي الخَطَأَ وَالنِّسْيَانَ وَمَا اسْتُكْرِهُوا عَلَيْهِ».
Ibnu 'Abbās -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Sesungguhnya Allah mengampuni kesalahan dari umatku akibat keliru, lupa, serta karena dipaksa."
HR. Ibnu Majah, Baihaqi dan lainnyaDerajatAn-Nawawi berkata, "Hadis ḥasan."
Penjelasan

Nabi ﷺ mengabarkan bahwa Allah mengampuni umatnya dalam tiga kondisi: Pertama: Keliru, yaitu sesuatu yang berasal dari seseorang tanpa disengaja. Contohnya: Seorang muslim hendak melakukan satu perbuatan, namun secara tidak disengaja perbuatannya itu mengenai sesuatu lainnya. Kedua: Lupa, yaitu seorang muslim mengingat-ingat sesuatu, tetapi ia justru lupa saat hendak mengerjakannya, maka ia tidak berdosa juga dalam kondisi ini. Ketiga: Terpaksa. Terkadang seorang hamba dipaksa untuk melakukan sesuatu yang tidak ia inginkan, namun ia tidak mampu mengelak atau melawannya, maka kala itulah ia tidak dikenai dosa atau status bersalah. Namun yang harus diperhatikan adalah bahwa tema hadis ini hanya berlaku antara hamba dengan Tuhannya yang berkaitan dengan perbuatan terlarang. Adapun bila berkenaan dengan meninggalkan perintah karena lupa, maka kewajibannya tidak gugur. Bahkan, jika perbuatannya tersebut mengakibatkan kerugian, maka hak sesama makhluk pun tidak gugur begitu saja. Contohnya: Jika seseorang membunuh karena keliru, ia harus membayar diat, atau merusak mobil orang lain karena keliru, ia harus tetap mengganti kerugian.

Faedah
  1. 1- Luasnya rahmat Allah ﷻ dan kasih sayang-Nya kepada hamba-hamba-Nya, di antaranya: Dia menghapus dosa mereka yang telah berbuat maksiat jika dilakukan pada tiga kondisi tersebut.
  2. 2- Luasnya karunia Allah yang diberikan kepada Nabi Muhammad ﷺ beserta umatnya.
  3. 3- Terhapusnya dosa bukan berarti menjadikan hukumnya dan tanggungjawabnya gugur. Sebagai contoh: Seseorang yang lupa berwudu, lalu ia mengerjakan salat karena mengira telah berwudu, hal itu tidak membuatnya berdosa, tetapi ia tetap wajib berwudu dan mengulang salatnya.
  4. 4- Terkait dosa yang terhapus bagi yang kondisinya dipaksa, harus memenuhi beberapa syarat, misalnya pelaku pemaksaan tersebut memang benar-benar mampu untuk menerapkan ancamannya.
Rujukan

الأربعون النووية (ص127) (ح39). سنن ابن ماجه (3/ 200) (2045). السنن الكبرى للبيهقي (7/ 584) (15094). التحفة الربانية في شرح الأربعين حديثًا النووية، لإسماعيل الأنصاري (ص89). شرح الأربعين النووية، لابن عثيمين (ص382).

Hadis ini di HadeethEnc.com

Islam dibangun di atas lima perkara

عَنْ عَبْدِ اللهِ بنِ عُمَر رضي الله عنهما قال: قال رسولُ الله صلى الله عليه وسلم: «بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، وَإِقَامِ الصَّلَاةِ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ، وَحَجِّ الْبَيْتِ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ».
Abdullah bin Umar -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ bersabda, "Islam dibangun di atas lima perkara: Syahadat Lā ilāha illallāh-Muḥammad rasūlullāh, menegakkan salat, menunaikan zakat, berhaji ke Baitullah, dan berpuasa di bulan Ramadan."
Muttafaq 'alaihDerajatSahih
Penjelasan

Nabi ﷺ memisalkan Islam dengan sebuah bangunan yang kokoh dengan lima pilar yang menopang bangunan itu, sedangkan perkara-perkara Islam lainnya sebagai penyempurna bangunan. - Pilar pertama: Dua kalimat syahadat, yaitu syahadat Lā ilāha illallāh Muḥammad rasūlullāh. Keduanya adalah satu pilar yang tak terpisahkan. Seorang hamba mengucapkannya dengan penuh yakin pada keesaan Allah dan keberhakan-Nya terhadap ibadah sekaligus mengamalkan konsekuensinya, serta dengan penuh keimanan pada kerasulan Muhammad ﷺ sekaligus mengikuti beliau. Pilar kedua: Menegakkan salat; yaitu lima salat fardu dalam sehari semalam: Subuh, Zuhur, Asar, Magrib, dan Isya, lengkap dengan syarat-syaratnya, rukun-rukunnya, dan wajib-wajibnya. - Pilar ketiga: Menunaikan zakat yang wajib; yaitu ibadah harta yang diwajibkan pada semua harta yang mencapai kadar yang ditentukan oleh agama, yang diberikan kepada para mustahiknya. - Pilar keempat: Berhaji; yaitu pergi ke Makkah untuk melaksanakan manasik haji dalam rangka beribadah kepada Allah ﷻ. - Pilar keenam: Puasa Ramadan; yaitu menahan diri dari makan, minum, dan pembatal-pembatal puasa lainnya dengan niat beribadah kepada Allah sejak terbit fajar hingga terbenam matahari.

Faedah
  1. 1- Keterpaduan dua syahadat; yaitu salah satunya tidak sah kecuali bersama yang lain, sehingga keduanya dijadikan sebagai satu pilar.
  2. 2- Dua syahadat itu merupakan fondasi agama, tidak diterima suatu ucapan ataupun perbuatan kecuali dengan keduanya.
Rujukan

صحيح البخاري (1/ 11) (8)، صحيح مسلم (1/ 45) (16)، و(1/ 88) (82)، فتح الباري لابن رجب (1/ 22)، جامع العلوم والحكم (1/147)، شرح الأربعين لابن العطّار (ص 62)، شرح الأربعين النووية لعبد الكريم الخضير (ص 87)، فتح القوي المتين في شرح الأربعين للعباد (ص 29)، شرح الأربعين النووية لصالح آل الشيخ (ص 91 - 95)، التحفة الربانية لإسماعيل الأنصاري (ص 12).

Hadis ini di HadeethEnc.com

Siapa yang mati dalam keadaan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apa pun, akan masuk surga. Siapa yang mati dalam keadaan menyekutukan Allah dengan sesuatu apa pun, ia akan masuk neraka

عَنْ جَابِرٍ رضي الله عنه قَالَ: أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلٌ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، مَا الْمُوجِبَتَانِ؟ فَقَالَ: «مَنْ مَاتَ لَا يُشْرِكُ بِاللهِ شَيْئًا دَخَلَ الْجَنَّةَ، وَمَنْ مَاتَ يُشْرِكُ بِاللهِ شَيْئًا دَخَلَ النَّارَ»
Jābir -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, ia berkata, "Seorang laki-laki datang menemui Nabi ﷺ lalu bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah dua perkara kepastian itu?" Beliau bersabda, "Siapa yang mati dalam keadaan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apa pun, akan masuk surga. Siapa yang mati dalam keadaan menyekutukan Allah dengan sesuatu apa pun, ia akan masuk neraka."
HR. MuslimDerajatSahih
Penjelasan

Seorang laki-laki bertanya kepada Nabi ﷺ tentang dua perkara yang memastikan masuk surga dan yang memastikan masuk neraka? Nabi ﷺ menjawab: Perkara yang memastikan masuk surga ialah seseorang yang meninggal dalam keadaan beribadah kepada Allah semata dan tidak melakukan kesyirikan kepada-Nya sedikit pun. Sedangkan perkara yang memastikan masuk neraka ialah seseorang meninggal dalam keadaan membawa dosa menyekutukan Allah dengan sesuatu lain, yaitu ia mengadakan tandingan dan padanan bagi Allah dalam perkara uluhiyah (hak disembah), rububiyah (ketuhanan), atau nama dan sifat-sifat-Nya.

Faedah
  1. 1- Keutamaan tauhid, bahwa orang yang meninggal dalam keadaan beriman, tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apa pun, akan masuk surga.
  2. 2- Bahaya kesyirikan, bahwa orang yang meninggal dalam keadaan membawa dosa menyekutukan Allah dengan sesuatu apa pun, akan masuk neraka.
  3. 3- Orang-orang bertauhid yang berbuat maksiat berada di bawah kehendak Allah; jika Allah berkehendak, Dia akan menyiksa mereka, atau jika Dia berkehendak, Dia akan mengampuni mereka, kemudian akhir perjalanan mereka ialah ke surga.
Rujukan

صحيح مسلم (1/ 94) (93)، إكمال المعلم بفوائد مسلم (1/ 363)، شرح النووي على مسلم (2/96) المفهم للقرطبي (1/290)، تطريز رياض الصالحين (ص 281)، الكوكب الوهاج شرح صحيح مسلم بن الحجاج (3/63).

Hadis ini di HadeethEnc.com

Sungguh kami mendapatkan dalam diri kami sesuatu yang berat kami ucapkan." Beliau bertanya, "Apakah kalian benar-benar telah mendapatkannya?" Mereka menjawab, "Ya." Beliau bersabda, "Yang demikian itu adalah wujud konkret dari iman

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قال: جَاءَ نَاسٌ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَسَأَلُوهُ: إِنَّا نَجِدُ فِي أَنْفُسِنَا مَا يَتَعَاظَمُ أَحَدُنَا أَنْ يَتَكَلَّمَ بِهِ، قَالَ: «وَقَدْ وَجَدْتُمُوهُ؟» قَالُوا: نَعَمْ، قَالَ: «ذَاكَ صَرِيحُ الْإِيمَانِ».
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, ia berkata, Sejumlah orang dari kalangan sahabat Nabi ﷺ datang, lalu bertanya kepada beliau, "Sungguh kami mendapatkan dalam diri kami sesuatu yang berat kami ucapkan." Beliau bertanya, "Apakah kalian benar-benar telah mendapatkannya?" Mereka menjawab, "Ya." Beliau bersabda, "Yang demikian itu adalah wujud konkret dari iman."
HR. MuslimDerajatSahih
Penjelasan

Sejumlah orang dari kalangan sahabat Nabi ﷺ datang, lalu menanyakan perkara besar yang mereka temukan dalam diri mereka, yang berat untuk diungkapkan karena dianggap tidak baik serta tidak pantas untuk disampaikan. Maka Nabi ﷺ bersabda: Apa yang kalian temukan dalam diri kalian itu adalah wujud konkret keimanan dan keyakinan, yang mendorong kalian melakukan penolakan terhadap apa yang dilontarkan oleh setan pada hati serta pengingkaran untuk mengucapkannya dan kalian menganggapnya sebagai sesuatu yang besar, dan setan tidak dapat menguasai hati kalian; namun akan berbeda kondisinya saat seseorang hatinya telah dikuasai oleh setan, sehingga tidak ada penolakan terhadapnya.

Faedah
  1. 1- Menerangkan lemahnya setan saat berhadapan dengan orang beriman; ia tidak mampu menguasainya kecuali sebatas menghadirkan waswas.
  2. 2- Tidak boleh mempercayai dan menerima bisikan jiwa berupa waswas, karena itu berasal dari setan.
  3. 3- Bisikan setan tidak akan mencelakakan orang beriman, tetapi dia tetap harus memohon perlindungan kepada Allah dari bisikan itu dan tidak larut di dalamnya.
  4. 4- Seorang muslim tidak boleh diam saja terhadap perkara yang membingungkannya dalam agama, tetapi dia harus menanyakannya.
Rujukan

صحيح مسلم (1/ 119) (132)، معالم السنن (4/174)، المفهم للقرطبي (1/344)، شرح النووي على مسلم (2/154)، البحر المحيط الثجاج (3/622).

Hadis ini di HadeethEnc.com

Seluruh pujian milik Allah yang telah menjadikan tipu daya setan sebatas bisikan

عن ابن عباس رضي الله عنهما قال: جاءَ رجُلُ إلى النبي صلى الله عليه وسلم فقال: يا رسولَ اللهِ، إن أحدنا يجدُ في نفسِهِ -يُعرِّضُ بالشَّيءِ- لأَن يكونَ حُمَمَةً أحَبُّ إليه من أن يتكلَّم بِهِ، فقال: «اللهُ أكبرُ، اللهُ أكبرُ، الحمدُ لله الذي ردَّ كيدَه إلى الوسوسَةِ».
Ibnu 'Abbās -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan, ia berkata, "Seorang laki-laki datang menemui Nabi ﷺ seraya berkata, "Wahai Rasulullah, di antara kami ada yang menemukan dalam dirinya -dia mengisyaratkan sesuatu-, dia lebih memilih menjadi abu daripada mengucapkannya." Maka beliau bersabda, "Allāhu akbar. Allāhu akbar. Seluruh pujian milik Allah yang telah menjadikan tipu daya setan sebatas bisikan."
HR. Abu Daud dan Nasai dalam Al-KubrāDerajatSahih
Penjelasan

Seorang laki-laki datang menemui Nabi ﷺ seraya berkata: Wahai Rasulullah, ada seseorang di antara kami yang menemukan dalam dirinya sesuatu yang melintas dalam jiwa, tetapi berat untuk diucapkan, sampai-sampai dia lebih memilih menjadi abu daripada dia mengucapkannya. Maka Rasulullah ﷺ bertakbir dua kali dan memuji Allah karena Dia menjadikan tipu daya setan itu hanya sebatas bisikan.

Faedah
  1. 1- Ini merupakan penjelasan bahwa setan mengintai orang beriman melalui bisikan untuk memalingkan mereka dari keimanan kepada kekafiran.
  2. 2- Penjelasan terkait kelemahan setan saat berhadapan dengan orang beriman; dia tidak memiliki kemampuan kecuali sebatas menghadirkan waswas.
  3. 3- Seorang yang beriman harus berpaling dari bisikan setan dan menolaknya.
  4. 4- Disyariatkan bertakbir pada sesuatu yang dianggap bagus, menakjubkan, atau perkara-perkara yang semisal.
  5. 5- Seorang muslim dianjurkan agar bertanya kepada orang yang berilmu tentang segala yang membingungkannya.
Rujukan

سنن أبي داود (7/ 435) (5112) السنن الكبرى للنسائي (9/ 249) (10435)، شرح سنن أبي داود للعباد (580/ 28)، صحيح مسلم (1/ 119) (132)، شرح سنن أبي داود لابن رسلان (19/370)، ومرقاة الصعود (3/1301).

Hadis ini di HadeethEnc.com
8 dari 14
14 hadis
  1. Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya ia memuliakan tamunya dengan jamuannya. Para sahabat bertanya, "Apakah jamuannya itu wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "Jamuan di siang hari dan malamnya. Menjamu tamu itu tiga hari, dan selebihnya adalah sedekah kepadanya."
  2. Tujuh langit dan tujuh bumi di telapak tangan Allah Yang Maha Pengasih tidak lebih hanya laksana biji sawi di tangan salah seorang di antara kalian.
  3. Allah akan memasukkannya ke dalam surga seperti apa pun amalnya
  4. Sesungguhnya Allah mengampuni kesalahan dari umatku akibat keliru, lupa, serta karena dipaksa
  5. Islam dibangun di atas lima perkara
  6. Siapa yang mati dalam keadaan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apa pun, akan masuk surga. Siapa yang mati dalam keadaan menyekutukan Allah dengan sesuatu apa pun, ia akan masuk neraka
  7. Sungguh kami mendapatkan dalam diri kami sesuatu yang berat kami ucapkan." Beliau bertanya, "Apakah kalian benar-benar telah mendapatkannya?" Mereka menjawab, "Ya." Beliau bersabda, "Yang demikian itu adalah wujud konkret dari iman
  8. Seluruh pujian milik Allah yang telah menjadikan tipu daya setan sebatas bisikan
  9. Setan datang kepada salah seorang dari kalian dan bertanya, 'Siapa yang menciptakan ini? Siapa yang menciptakan ini?' Sampai dia bertanya, 'Siapa yang menciptakan Tuhanmu?' Jika dia telah sampai ke sana, hendaklah dia berlindung kepada Allah dan tidak meneruskannya
  10. Katakan kepadaku sebuah ucapan tentang Islam yang tidak akan aku tanyakan kepada siapa pun selainmu." Beliau bersabda, "Katakanlah: Aku beriman kepada Allah. Kemudian iskamahlah
  11. Allah akan menggenggam bumi dan melipat langit dengan tangan kanan-Nya, kemudian berfirman, 'Akulah Raja. Di manakah raja-raja bumi?!'
  12. Aku adalah Ḍimām bin Ṡa'labah dari Bani Sa'ad bin Bakar
  13. Islam dibangun di atas lima perkara
  14. Katakan kepadaku sebuah ucapan tentang Islam yang tidak akan aku tanyakan kepada siapa pun selainmu." Beliau bersabda, "Katakanlah: Aku beriman kepada Allah. Kemudian iskamahlah

Setiap hadis, derajat, penjelasan, dan faedah di sini ditampilkan persis sebagaimana diterbitkan HadeethEnc.com, menurut ketentuan penerbitan ulangnya. Derajat itu tidak menyebut siapa yang menilainya. Terjemahan dan penjelasan adalah karya para penyusunnya, dan sebagian menyebutkan hukum; para peninjau Sabīl belum memeriksanya. Hadis berbahasa Arablah teksnya. Sumber: HadeethEnc.com