Langsung ke konten
Hadis dengan penjelasan

Tauhid Rubūbiyyah

8 hadis

Tidaklah Kursi dibandingkan 'Arasy melainkan seperti cicin dari besi yang dilemparkan di tengah-tengah hamparan padang pasir.

عن أبي ذر الغفاري رضي الله عنه مرفوعاً: "ما الكرسي في العرش إلا كحلقة من حديد ألقيت بين ظهري فلاة من الأرض".
Dari Abu Żarr Al-Gifāri -raḍiyallāhu 'anhu- secara marfū', (Nabi bersabda), "Tidaklah Kursi dibandingkan 'Arasy melainkan seperti cicin dari besi yang dilemparkan di tengah-tengah hamparan padang pasir."
Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam kitab al-'Arsy - Diriwayatkan oleh Żahabi dalam kitab al-'UluwDerajatHadis sahih
Penjelasan

Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengabarkan dalam hadis Abu Żarr bahwa Kursi (milik Allah) meskipun luas dan besar, bila dibandingkan dengan 'Arasy laksana cincin dari besi yang diletakkan di tengah hamparan padang pasir yang luas di muka bumi. Ini menjadi dalil akan keagungan Sang Pencipta dan kekuasaan-Nya yang sempurna.

Rujukan

1- فتح المجيد شرح كتاب التوحيد، مطبعة السنة المحمدية، القاهرة، مصر، الطبعة: السابعة، 1377هـ - 1957م. 2- القول المفيد على كتاب التوحيد، دار ابن الجوزي، المملكة العربية السعودية، الطبعة: الثانية, محرم، 1424ه. 3- الملخص في شرح كتاب التوحيد، دار العاصمة الرياض، الطبعة: الأولى 1422هـ- 2001م. 4- الجديد في شرح كتاب التوحيد، مكتبة السوادي، جدة، المملكة العربية السعودية، الطبعة: الخامسة، 1424هـ - 2003م. 5- التمهيد لشرح كتاب التوحيد، دار التوحيد، تاريخ النشر: 1424هـ. 6- شرح العقيدة الطحاوية، المؤلف: محمد ناصر الدين الألباني، الناشر: المكتب الإسلامي – بيروت الطبعة: الثانية، - 1414ه. 7- العرش وما روي فيه، المؤلف: محمد بن عثمان ابن أبي شيبة العبسي، تحقيق: محمد بن حمد الحمود، الناشر: مكتبة المعلا – الكويت، الطبعة الأولى، 1406ه.

Hadis ini di HadeethEnc.com

Aku bertanya kepada Nabi ﷺ, "Dosa apakah yang paling besar di sisi Allah?" Beliau menjawab, "Engkau mengadakan tandingan bagi Allah padahal Dia yang menciptakanmu

عَنْ عَبْدِ اللهِ بنِ مَسْعُودٍ رضي الله عنه قال: سَأَلْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَيُّ الذَّنْبِ أَعْظَمُ عِنْدَ اللهِ؟ قَالَ: «أَنْ تَجْعَلَ لِلهِ نِدًّا وَهُوَ خَلَقَكَ» قُلْتُ: إِنَّ ذَلِكَ لَعَظِيمٌ، قُلْتُ: ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: «وَأَنْ تَقْتُلَ وَلَدَكَ؛ تَخَافُ أَنْ يَطْعَمَ مَعَكَ» قُلْتُ: ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: «أَنْ تُزَانِيَ حَلِيلَةَ جَارِكَ».
Abdullah bin Mas'ūd -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Aku bertanya kepada Nabi ﷺ, "Dosa apakah yang paling besar di sisi Allah?" Beliau menjawab, "Engkau mengadakan tandingan bagi Allah padahal Dia yang menciptakanmu." Aku berkata, "Sungguh itu dosa yang benar-benar besar. Kemudian dosa apa?" Beliau bersabda, "Engkau membunuh anakmu karena takut ia akan ikut makan bersamamu." Aku bertanya, "Kemudian dosa apa?" Beliau bersabda, "Engkau berzina dengan istri tetanggamu."
Muttafaq 'alaihDerajatSahih
Penjelasan

Nabi ﷺ ditanya tentang dosa yang paling besar, maka beliau menjelaskan bahwa: Dosa yang paling besar ialah syirik besar, yaitu engkau mengadakan tandingan bagi Allah dalam uluhiah, rububiah atau nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Dosa ini tidak diampuni Allah Ta'ala kecuali dengan tobat. Apabila pelakunya meninggal di atasnya, maka ia akan kekal dalam neraka. Kemudian seseorang membunuh anaknya karena takut ia akan ikut makan bersamanya. Membunuh jiwa hukumnya haram, tetapi dosa akan semakin besar jika orang yang dibunuh memiliki ikatan kerabat dengan yang membunuh. Dosanya akan semakin besar lagi ketika motif pembunuh ialah rasa khawatir bila orang yang dibunuhnya akan menyertainya di dalam rezeki Allah. Kemudian seseorang berzina dengan istri tetangganya, yaitu dengan mencoba mempengaruhi istri tetangganya supaya dia dapat berzina dengannya dan wanita itu tunduk kepadanya. Zina hukumnya haram, tetapi dosanya akan semakin besar ketika wanita yang dizinainya adalah istri tetangga yang telah diwasiatkan oleh agama agar berbuat baik kepadanya.

Faedah
  1. 1- Adanya perbedaan tingkat dosa dari segi kebesarannya, sebagaimana amal saleh bertingkat-tingkat dari segi keutamaannya.
  2. 2- Dosa yang paling besar ialah kesyirikan kepada Allah Ta'ala, kemudian membunuh anak karena takut ia akan ikut makan bersamanya, kemudian berzina dengan istri tetangga.
  3. 3- Rezeki ada di tangan Allah; Allah Ta'ala telah menjamin rezeki semua makhluk.
  4. 4- Besarnya hak tetangga; sehingga dosa menyakitinya lebih besar daripada menyakiti yang lain.
  5. 5- Sang Pencipta adalah yang berhak untuk diibadahi, tidak ada sekutu bagi-Nya.
Rujukan

صحيح البخاري (6/ 18) (4477). صحيح مسلم (1/ 90) (86). شرح النووي على مسلم (2/ 79). فتح ذي الجلال والاكرام بشرح بلوغ المرام، لابن عثيمين (6/ 288). توضيح الأحكام من بلوغ المرام، للبسام (7/ 335).

Hadis ini di HadeethEnc.com

orang yang paling berat siksanya di sisi Allah kelak pada hari kiamat ialah yang membuat sesuatu yang menyerupai ciptaan Allah

عَنْ عَائِشَةَ أُمِّ المُؤمنينَ رضي الله عنها قَالَتْ: دَخَلَ عَلَيَّ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَقَدْ سَتَرْتُ سَهْوَةً لِي بِقِرَامٍ فِيهِ تَمَاثِيلُ، فَلَمَّا رَآهُ هَتَكَهُ وَتَلَوَّنَ وَجْهُهُ وَقَالَ: «يَا عَائِشَةُ، أَشَدُّ النَّاسِ عَذَابًا عِنْدَ اللهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الَّذِينَ يُضَاهُونَ بِخَلْقِ اللهِ» قَالَتْ عَائِشَةُ: «فَقَطَعْنَاهُ فَجَعَلْنَا مِنْهُ وِسَادَةً أَوْ وِسَادَتَيْنِ».
Aisyah, ibunda kaum mukminin -raḍiyallāhu 'anhā- meriwayatkan, ia berkata, Rasulullah ﷺ masuk menemuiku, sementara aku telah menutup lemari kecilku dengan tirai yang bergambar. Ketika beliau melihatnya, beliau melepasnya dan wajah beliau berubah. Beliau bersabda, "Wahai Aisyah, orang yang paling berat siksanya di sisi Allah kelak pada hari kiamat ialah yang membuat sesuatu yang menyerupai ciptaan Allah." Aisyah berkata, "Lalu kami memotongnya dan membuatnya menjadi satu atau dua bantal."
Muttafaq 'alaihDerajatSahih
Penjelasan

Nabi ﷺ masuk ke rumah menemui Āisyah -raḍiyallāhu 'anhā- dan beliau mendapatinya menutup lemari kecil tempat menaruh barang dengan kain yang memiliki gambar makhluk bernyawa, sehingga raut wajah beliau berubah karena marah dan melepasnya. Beliau bersabda: "Orang yang paling keras siksanya di hari kiamat ialah yang menyerupai penciptaan Allah melalui gambar-gambar mereka." Aisyah berkata: Lalu kami menjadikannya satu atau dua bantal.

Faedah
  1. 1- Mengingkari kemungkaran secara langsung ketika terlihat dan tidak menundanya, selama pengingkaran tersebut tidak menimbulkan kerusakan yang lebih besar.
  2. 2- Siksa di hari kiamat kelak bertingkat-tingkat sesuai kadar dosa.
  3. 3- Menggambar makhluk bernyawa termasuk dosa besar.
  4. 4- Di antara hikmah pengharaman menggambar ialah karena tindakan itu merupakan bentuk menandingi ciptaan Allah Ta'ala, entah orang yang menggambar berniat menandingi ataupun tidak.
  5. 5- Kegigihan syariat untuk menjaga harta dengan memanfaatkannya setelah menjauhkan perkara haram yang terkandung di dalamnya.
  6. 6- Larangan membuat gambar bernyawa dalam bentuk apa pun, walaupun yang dihinakan (diinjak dan diduduki).
Rujukan

صحيح البخاري (7/ 168) (5954). صحيح مسلم (3/ 1668) (2107). القول المفيد على كتاب التوحيد، لابن عثيمين (2/ 442). الملخص في شرح كتاب التوحيد، لصالح الفوزان (ص399). الجديد في شرح كتاب التوحيد، للقرعاوي (ص441). كتاب التوحيد لمحمد بن عبد الوهاب (ص138).

Hadis ini di HadeethEnc.com

Allah menugaskan untuk rahim satu malaikat, ia berkata, "Wahai Rabbku! Ini adalah setetes mani. Wahai Rabbku! Ini adalah segumpal darah. Wahai Rabbku! Ini adalah segumpal daging. Ketika llah ingin menakdirkan penciptaannya, malaikat berkata, "Wahai Rabbku! Laki-laki atau perempuan? Sengsara atau bahagia? Bagaimana rejekinya? Kapan ajalnya? Kemudian semua itu akan ditulis saat di perut ibunya."

عن أنس بن مالك رضي الله عنه مرفوعاً: «وكَّلَ اللهُ بالرَّحِم مَلَكًا، فيقول: أيْ ربِّ نُطْفة، أيْ ربِّ عَلَقة، أيْ ربِّ مُضْغة، فإذا أراد اللهُ أن يقضيَ خَلْقَها، قال: أيْ ربِّ، أذكرٌ أم أنثى، أشقيٌّ أم سعيدٌ، فما الرزق؟ فما الأَجَل؟ فيكتب كذلك في بطن أُمِّه».
Dari Anas bin Malik -raḍiyallāhu 'anhu- secara marfū', Allah menugaskan untuk rahim satu malaikat, ia berkata, "Wahai Rabbku! Ini adalah setetes mani. Wahai Rabbku! Ini adalah segumpal darah. Wahai Rabbku! Ini adalah segumpal daging. Ketika llah ingin menakdirkan penciptaannya, malaikat berkata, "Wahai Rabbku! Laki-laki atau perempuan? Sengsara atau bahagia? Bagaimana rezekinya? Kapan ajalnya? Kemudian semua itu akan ditulis saat di perut ibunya."
Muttafaq 'alaihDerajatHadis sahih
Penjelasan

Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Sesungguhnya Allah -Ta'ālā- menugaskan untuk rahim satu malaikat, maksudnya: Allah -Ta'ālā- menjadikan satu malaikat dari sekian banyak malaikat untuk bertugas mengatur urusan rahim, yaitu tempat tumbuhnya bayi dalam perut ibunya. Lantas ia berkata: "Wahai Rabbku! Setetes mani", maksudnya: wahai Rabbku ini adalah setetes mani. Setetes mani ini adalah air mani seorang laki-laki. Begitu juga kalimat setelahnya, yaitu, "Wahai Rabbku! segumpal darah", maksudnya: wahai Rabbku ini adalah segumpal darah, dan segumpal darah adalah darah yang kental. Kemudian malaikat berkata: "Wahai Rabbku! Segumpal daging", maksudnya: wahai Rabbku ini adalah segumpal daging, maksudnya adalah sepotong daging. Dalam riwayat lain dijelaskan bahwasa masa setiap bagian ini adalah empat puluh hari. Kemudian Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Ketika Allah ingin menakdirkan penciptaannya", maksudnya: segumpal darah karena ia adalah tingkatan terakhir. Adapun maksud dari "qaḍa' (takdir)" disini adalah pelaksanaan penciptaannya dengan tiupan ruh kepadanya, sebagaimana dijelaskan dalam riwayat lain. Itu terjadi setelah berlalu seratus dua puluh hari. Malaikat berkata, "Wahai Rabbku laki-laki atau perempuan?" Maksudnya: wahai Rabbku apakah dia laki-laki sehingga aku akan menulisnya atau perempuan? "Dia sengsara atau bahagia?" Maksudnya: apakah dia akan sengsara dan termasuk penghuni neraka sehingga aku tulis demikian atau bahagia dan termasuk penghuni surga untuk aku tulis seperti itu? "Bagaimana rezekinya?" Maksudnya: sedikit atau banyak? Berapa jumlahnya? "Kapan ajalnya?" Maksudnya: berapa umurnya? Panjang atau pendek? "Maka semua itu akan ditulis ketika berada di perut ibunya." Maksudnya: semua yang disebutkan itu akan ditulis sebagaimana yang Allah perintahkan, ketika sang anak masih dalam perut ibunya.

Rujukan

صحيح البخاري، نشر: دار طوق النجاة (مصورة عن السلطانية بإضافة ترقيم محمد فؤاد عبد الباقي)، الطبعة: الأولى، 1422ه. صحيح مسلم، تحقيق: محمد فؤاد عبد الباقي، نشر: دار إحياء التراث العربي – بيروت. شرح صحيح البخاري لابن بطال، تحقيق: أبي تميم ياسر بن إبراهيم، نشر: مكتبة الرشد، الرياض-السعودية، الطبعة: الثانية 1423ه، 2003م. التنوير شرح الجامع الصغير، لمحمد بن إسماعيل بن صلاح بن محمد الحسني، الكحلاني الأمير الصنعاني، المحقق: د. محمَّد إسحاق محمَّد إبراهيم، الناشر: مكتبة دار السلام، الرياض، الطبعة: الأولى، 1432 هـ - 2011 م. تاج العروس من جواهر القاموس، للزبيدي، نشر: دار الهداية. فتح القوي المتين في شرح الأربعين وتتمة الخمسين للنووي وابن رجب رحمهما الله، لعبد المحسن بن حمد العباد البدر، دار ابن القيم، الدمام المملكة العربية السعودية -الطبعة: الأولى، 1424هـ/2003م.

Hadis ini di HadeethEnc.com

Tidak seorang pun yang bersaksi lā ilāha illallāh dan muḥammad rasūlullāh dengan jujur dari hatinya kecuali Allah haramkan atasnya api neraka

عن أنس بن مالك رضي الله عنه: أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمُعَاذٌ رَدِيفُهُ عَلَى الرَّحْلِ قَالَ: «يَا مُعَاذُ بْنَ جَبَلٍ»، قَالَ: لَبَّيْكَ يَا رَسُولَ اللهِ وَسَعْدَيْكَ، قَالَ: «يَا مُعَاذُ»، قَالَ: لَبَّيْكَ يَا رَسُولَ اللهِ وَسَعْدَيْكَ، ثَلَاثًا، قَالَ: «مَا مِنْ أَحَدٍ يَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ صِدْقًا مِنْ قَلْبِهِ إِلَّا حَرَّمَهُ اللهُ عَلَى النَّارِ»، قَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَفَلَا أُخْبِرُ بِهِ النَّاسَ فَيَسْتَبْشِرُوا؟ قَالَ: «إِذًا يَتَّكِلُوا». وَأَخْبَرَ بِهَا مُعَاذٌ عِنْدَ مَوْتِهِ تَأَثُّمًا.
Anas bin Mālik -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Nabi ﷺ pernah membonceng Mu'āż di atas kendaraan seraya bersabda, "Wahai Mu'āż bin Jabal!" Dia menjawab, "Labbaika wa sa'daik (Aku sambut panggilanmu dengan senang hati), wahai Rasulullah!" Hal itu berulang tiga kali. Beliau bersabda, "Tidak seorang pun yang bersaksi lā ilāha illallāh dan muḥammad rasūlullāh dengan jujur dari hatinya kecuali Allah haramkan atasnya api neraka." Mu'āż berkata, "Wahai Rasulullah, tidakkah hal ini aku kabarkan kepada orang-orang agar mereka bahagia?!" Beliau bersabda, "Jika demikian, mereka akan pasrah." Akan tetapi, Mu'āż menyampaikannya menjelang meninggal dunia karena takut dosa.
Muttafaq 'alaihDerajatSahih
Penjelasan

Mu'āż bin Jabal -raḍiyallāhu 'anhu- dibonceng di belakang Nabi ﷺ di atas hewan kendaraan beliau, lalu beliau memanggilnya: Wahai Mu'āż! Beliau mengulang panggilannya sebanyak tiga kali untuk menegaskan pentingnya apa yang akan beliau sampaikan. Setiap kalinya, Mu'āż -raḍiyallāhu 'anhu- menjawab beliau dengan mengatakan: Labbaika wa sa'daik, wahai Rasulullah. Maksudnya, Aku menyambut panggilanmu, wahai Rasulullah; aku sambut terus-menerus dan aku menginginkan kesenangan dengan menyambut panggilanmu. Lalu beliau ﷺ mengabarinya bahwa tidak ada seorang pun yang bersaksi lā ilāha illallāh, yakni tidak ada sembahan yang benar kecuali Allah, dan bersaksi bahwa muḥammad rasūlullāh, secara jujur dari hatinya dan tidak berdusta, lalu ia meninggal dunia dalam keadaan seperti itu, niscaya Allah haramkan atasnya api neraka. Kemudian Mu'āż -raḍiyallāhu 'anhu- memohon izin pada Nabi ﷺ untuk mengabari orang-orang agar mereka senang dan berharap yang baik. Akan tetapi, Nabi ﷺ khawatir mereka akan berpasrah dan minim beramal. Sebab itu, Mu'āż tidak pernah menyampaikan hadis itu kepada seorang pun kecuali menjelang kematiannya karena khawatir terjerumus dalam dosa menyembunyikan ilmu.

Faedah
  1. 1- Ketawadukan Nabi ﷺ dengan membonceng Mu'āż di atas hewan kendaraan beliau.
  2. 2- Metode pengajaran Nabi ﷺ, yaitu beliau mengulang-ulang memanggil Mu'āż untuk menarik perhatiannya terhadap apa yang akan beliau sampaikan.
  3. 3- Di antara syarat persaksian lā ilāha illallāh muḥammad rasūlullāh ialah orang yang mengucapkannya harus jujur dan yakin, tidak berdusta ataupun ragu.
  4. 4- Orang-orang yang bertauhid tidak kekal di dalam neraka Jahanam. Seandainya mereka masuk ke dalam neraka karena dosa mereka, mereka tetap akan dikeluarkan setelah dibersihkan dari dosa.
  5. 5- Keutamaan dua kalimat syahadat bagi orang yang mengucapkannya dengan jujur.
  6. 6- Boleh tidak menyampaikan sebuah hadis di sebagian keadaan jika akan melahirkan suatu mafsadat.
Rujukan

صحيح البخاري (1/ 37) (128). صحيح مسلم (1/ 61) (32). نزهة المتقين شرح رياض الصالحين (1/ 377). بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين، لسليم الهلالي (1/ 487). كنوز رياض الصالحين، لمجموعة من الباحثين (6/ 496).

Hadis ini di HadeethEnc.com

Tahukah kalian apa yang difirmankan oleh Tuhan kalian?" Mereka menjawab, "Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui." Beliau bersabda, "Dia berfirman, 'Sebagian hamba-Ku memasuki waktu pagi dalam keadaan beriman kepada-Ku dan ada yang kafir

عَنْ زَيْدِ بْنِ خَالِدٍ الجُهَنِيِّ رضي الله عنه أَنَّهُ قَالَ: صَلَّى لَنَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَاةَ الصُّبْحِ بِالْحُدَيْبِيَةِ عَلَى إِثْرِ سَمَاءٍ كَانَتْ مِنَ اللَّيْلَةِ، فَلَمَّا انْصَرَفَ أَقْبَلَ عَلَى النَّاسِ، فَقَالَ: «هَلْ تَدْرُونَ مَاذَا قَالَ رَبُّكُمْ؟» قَالُوا: اللهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ، قَالَ: «أَصْبَحَ مِنْ عِبَادِي مُؤْمِنٌ بِي وَكَافِرٌ، فَأَمَّا مَنْ قَالَ: مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللهِ وَرَحْمَتِهِ، فَذَلِكَ مُؤْمِنٌ بِي وَكَافِرٌ بِالْكَوْكَبِ، وَأَمَّا مَنْ قَالَ: بِنَوْءِ كَذَا وَكَذَا، فَذَلِكَ كَافِرٌ بِي وَمُؤْمِنٌ بِالْكَوْكَبِ».
Zaid bin Khālid Al-Juhaniy -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, ia berkata, Rasulullah ﷺ mengimami kami dalam salat Subuh di Hudaibiah setelah turun hujan di malam harinya. Setelah salam beliau menghadap kepada jemaah seraya bertanya, "Tahukah kalian apa yang difirmankan oleh Tuhan kalian?" Mereka menjawab, "Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui." Beliau bersabda, "Dia berfirman, 'Sebagian hamba-Ku memasuki waktu pagi dalam keadaan beriman kepada-Ku dan ada yang kafir. Adapun yang mengatakan, 'Kami diberikan hujan dengan karunia dan rahmat Allah', maka orang tersebut beriman kepada-Ku dan kafir kepada bintang. Adapun yang mengatakan, 'Kami diberikan hujan oleh bintang ini dan itu' maka orang tersebut kafir kepada-Ku dan beriman kepada bintang'."
Muttafaq 'alaihDerajatSahih
Penjelasan

Nabi ﷺ mengerjakan salat Subuh di Hudaibiah -yaitu sebuah perkampungan dekat dari Makkah- setelah hujan turun di malam harinya. Setelah salam serta selesai dari salatnya, beliau menghadap kepada para sahabat seraya bertanya: Apakah kalian mengetahui apa yang difirmankan oleh Tuhan kalian ﷻ? Mereka menjawab: Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui. Beliau bersabda: Allah Ta'ala menjelaskan bahwa manusia, ketika hujan turun akan terbagi menjadi dua kelompok: kelompok yang beriman kepada Allah Ta'ala dan kelompok lainnya kafir kepada Allah Ta'ala. Siapa yang mengatakan: Kita diberikan hujan dengan karunia dan rahmat Allah, yaitu dia menyandarkan sebab turunnya hujan kepada Allah Ta'ala, maka orang tersebut beriman kepada Allah Yang Maha Pencipta Maha Mengatur alam semesta; dan kafir kepada bintang. Adapun yang mengatakan: Kita diberikan hujan dengan sebab bintang ini dan itu, maka orang tersebut kafir kepada Allah; dan beriman kepada bintang, yaitu kufur kecil karena dia menyandarkan sebab turunnya hujan kepada bintang, padahal Allah tidak pernah menjadikannya sebagai sebab berdasarkan syariat maupun ketetapan kadar. Adapun orang yang menyandarkan sebab turunnya hujan dan peristiwa-peristiwa bumi lainnya kepada pergerakan bintang ketika terbit dan tenggelam dengan meyakininya sebagai pelaku sebenarnya, maka dia telah jatuh dalam kekafiran besar.

Faedah
  1. 1- Anjuran mengucapkan setelah turun hujan: "muṭirnā bi faḍlillāh wa raḥmatih (Kita diberikan hujan dengan karunia dan rahmat Allah)."
  2. 2- Siapa yang menyandarkan karunia penurunan hujan dan lainnya kepada bintang sebagai sesuatu yang menciptakan serta yang mengadakan, maka dia telah jatuh dalam kekafiran besar. Akan tetapi jika dia menyandarkannya sebagai sebab, maka dia telah jatuh dalam kekafiran kecil karena bukan merupakan sebab secara syariat maupun indra.
  3. 3- Karunia akan menjadi sebab kekufuran jika diingkari, dan menjadi sebab keimanan jika disyukuri.
  4. 4- Larangan mengucapkan "muṭirnā bi nau`i każā (kita diberikan hujan karena bintang ini)" walaupun maksudnya adalah waktu. Ini dilakukan untuk menutup celah kesyirikan.
  5. 5- Kewajiban menggantungkan hati kepada Allah Ta'ala dalam meraih kenikmatan dan menolak keburukan.
Rujukan

صحيح البخاري (1/ 169) (846)، صحيح مسلم (1/ 83) (71)، البحر المحيط الثجاج في شرح صحيح الإمام مسلم بن الحجاج (2/ 484)، المفهم لما أشكل من تلخيص كتاب مسلم (1/ 260).

Hadis ini di HadeethEnc.com

Bukankah Żat yang telah menjadikannya berjalan dengan kedua kaki di dunia ini, Dia juga kuasa menjadikannya berjalan dengan wajahnya kelak di hari kiamat?

عَنْ ‌قَتَادَةَ رحمه الله قال: حَدَّثَنَا ‌أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلًا قَالَ: يَا نَبِيَّ اللهِ كَيْفَ يُحْشَرُ الْكَافِرُ عَلَى وَجْهِهِ؟ قَالَ: «أَلَيْسَ الَّذِي أَمْشَاهُ عَلَى الرِّجْلَيْنِ فِي الدُّنْيَا قَادِرًا عَلَى أَنْ يُمْشِيَهُ عَلَى وَجْهِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ؟» قَالَ قَتَادَةُ: بَلَى وَعِزَّةِ رَبِّنَا.
Qatādah -raḥimahullāh- meriwayatkan, ia berkata, Anas bin Mālik -raḍiyallāhu 'anhu- bercerita bahwa seorang laki-laki berkata, "Wahai Nabiyullāh! Bagaimana bisa orang kafir akan dibangkitkan di atas wajahnya?" Beliau bersabda, "Bukankah Żat yang telah menjadikannya berjalan dengan kedua kaki di dunia ini, Dia juga kuasa menjadikannya berjalan dengan wajahnya kelak di hari kiamat?" Qatādah berkata, "Tentu, demi keagungan Tuhan kita."
Muttafaq 'alaihDerajatSahih
Penjelasan

Nabi ﷺ ditanya: Bagaimana caranya orang kafir akan dibangkitkan berjalan dengan wajahnya kelak di hari kiamat?! Nabi ﷺ bersabda: Bukankan Allah yang menjadikannya berjalan dengan kedua kaki di dunia ini, Mahakuasa untuk menjadikannya berjalan dengan wajahnya kelak di hari kiamat?! Sungguh, Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.

Faedah
  1. Kehinaan orang kafir kelak pada hari kiamat; bahwa dia akan berjalan dengan wajahnya.
Rujukan

صحيح البخاري (8/ 109) (6523)، صحيح مسلم (4/ 2161) (2806)، الإفصاح عن معاني الصحاح (5/200)، فتح الباري (11/382)، عمدة القاري شرح صحيح البخاري (23/ 105)، البحر المحيط الثجاج في شرح صحيح الإمام مسلم بن الحجاج (43/ 454).

Hadis ini di HadeethEnc.com

Wahai Ananda, aku akan ajarkan kepadamu beberapa pelajaran. Jagalah (perintah-perintah) Allah, niscaya Allah akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya engkau akan mendapatkan-Nya di hadapan-Mu. Jika engkau menginginkan sesuatu, mintalah kepada Allah. Jika engkau butuh pertolongan, mohonlah pertolongan kepada Allah

عَنْ أَبِي العَبَّاسِ، عَبْدِ الله بْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: كُنْت خَلْفَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا، فَقَالَ: «يَا غُلَامِ! إنِّي أُعَلِّمُك كَلِمَاتٍ: احْفَظِ اللَّهَ يَحْفَظْكَ، احْفَظِ الله تَجِدْهُ تُجَاهَكَ، إذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاَللهِ، وَاعْلَمْ أَنَّ الأُمَّةَ لَوْ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَ، وَإِنِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْكَ؛ رُفِعَتِ الأَقْلَامُ، وَجَفَّتِ الصُّحُفُ». وَفِي رِوَايَةِ غَيْرِ التِّرْمِذِيِّ: «احْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ أَمَامَكَ، تَعَرَّفْ إلَى اللهِ فِي الرَّخَاءِ يَعْرِفْكَ فِي الشِّدَّةِ، وَاعْلَمْ أَنَّ مَا أَخْطَأَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيبَكَ، وَمَا أَصَابَك لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَكَ، وَاعْلَمْ أَنَّ النَّصْرَ مَعَ الصَّبْرِ، وَأَنْ الفَرَجَ مَعَ الكَرْبِ، وَأَنَّ مَعَ العُسْرِ يُسْرًا».
Abul-'Abbās Abdullah bin 'Abbās -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan: Pada suatu hari, aku berada di belakang Nabi ﷺ. Beliau bersabda, "Wahai Ananda, aku akan ajarkan kepadamu beberapa pelajaran. Jagalah (perintah-perintah) Allah, niscaya Allah akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya engkau akan mendapatkan-Nya di hadapan-Mu. Jika engkau menginginkan sesuatu, mintalah kepada Allah. Jika engkau butuh pertolongan, mohonlah pertolongan kepada Allah. Camkanlah, andai seluruh manusia berkumpul untuk memberikan satu manfaat kepadamu, maka mereka tidak akan mampu mewujudkannya kecuali pada manfaat yang telah Allah takdirkan buatmu. Andai mereka berkumpul untuk mencelakaimu, maka mereka tidak akan mampu mewujudkannya kecuali sebatas apa yang telah Allah takdirkan atasmu. Pena takdir telah diangkat dan kertasnya telah kering (dari tinta).” Dalam riwayat lain selain Tirmizi disebutkan, "Peliharalah (agama) Allah, niscaya engkau akan mendapatkan-Nya di hadapanmu. Beribadahlah kepada Allah ketika lapang, niscaya Allah akan mengenalmu ketika sulit. Ketahuilah, apa yang Allah tidak takdirkan kepadamu, maka tidak akan menimpamu. Sebaliknya, apa yang telah ditetapkan menimpamu, maka tidak akan meleset darimu. Ketahuilah, kemenangan bersama kesabaran, pertolongan bersama kesusahan, dan kemudahan bersama kesulitan."
HR. Tirmizi dan lainnyaDerajatSahih
Penjelasan

Ibnu 'Abbās -raḍiyallāhu 'anhu- mengabarkan, bahwa ketika ia masih kecil dan sedang berkendara bersama Nabi ﷺ, beliau bersabda kepadanya: Sungguh aku akan mengajarimu beberapa perkara yang akan menjadi sebab Allah memberimu manfaat, yaitu: 1- Jagalah Allah dengan menjaga perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, agar Allah senantiasa mendapatimu dalam ketaatan dan ibadah dan tidak mendapatimu dalam kemaksiatan dan dosa. Jika hal itu engkau lakukan, ganjaranmu ialah Allah menjagamu dari keburukan dunia dan akhirat serta menolongmu dalam semua urusanmu ke mana pun engkau pergi. 2- Jika engkau hendak meminta sesuatu, maka mintalah kepada Allah, karena hanya Allah semata yang mengabulkan permintaan orang-orang yang meminta. 3- Jika engkau menginginkan pertolongan, janganlah meminta pertolongan kecuali kepada Allah. 4- Hendaklah engkau meyakini bahwa engkau tidak akan memperoleh manfaat apa pun sekalipun semua penduduk bumi bersatu untuk memberimu manfaat, kecuali manfaat yang telah Allah tuliskan bagimu. Demikian juga, engkau tidak akan ditimpa keburukan sekalipun seluruh penduduk bumi bersatu untuk mencelakaimu, kecuali yang telah Allah takdirkan bagimu. 5- Semua urusan telah ditulis dan ditetapkan oleh Allah ﷻ sesuai dengan yang ditunjukkan oleh hikmah dan ilmu-Nya, dan tidak ada penggantian bagi ketetapan Allah. 6- Siapa pun yang menjaga Allah dengan cara menjalankan perintah-perintah-Nya serta menjauhi larangan-larangan-Nya, maka Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- pasti berada di hadapan hamba itu, memperhatikan kondisinya, menolongnya, dan membantunya. Jika seseorang taat kepada Allah dalam keadaan lapang, niscaya Allah akan memberikan solusi dan jalan keluar baginya di waktu sempit. Hendaknya setiap hamba rida terhadap apa pun yang Allah takdirkan untuknya, entah itu takdir baik atau buruk. Seorang hamba saat mengalami kesulitan dan ujian berat seharusnya bersabar, karena sabar merupakan kunci jalan keluarnya. Jika kesulitan sudah dirasa semakin berat, maka jalan keluar dari Allah akan datang. Juga jika kesusahan sudah mulai terasa, maka Allah akan mengiringinya dengan kemudahan.

Faedah
  1. 1- Urgensi mengajarkan anak-anak kecil urusan agama seperti tauhid, adab dan lainnya.
  2. 2- Balasan sejenis dengan perbuatan.
  3. 3- Perintah agar bertumpu dan bertawakal kepada Allah, tidak kepada yang lain, karena Allah adalah sebaik-baik tempat berserah diri.
  4. 4- Beriman kepada qada dan qadar serta rida kepadanya, dan bahwa Allah telah menakdirkan segala sesuatu.
  5. 5- Siapa yang menyia-nyiakan perintah Allah, maka Allah akan menelantarkannya dan tidak menjaganya.
  6. 6- Adanya kabar gembira yang besar, yaitu ketika seseorang ditimpa kesulitan, maka silakan dia menanti kemudahan.
  7. 7- Ada hiburan bagi seorang hamba ketika mengalami musibah serta tidak mendapatkan apa yang disukainya, dalam sabda beliau, "Ketahuilah! Apa yang telah ditakdirkan akan menimpamu, maka tidak akan terlewatkan darimu. Sebaliknya, apa yang ditakdirkan terlewatkan darimu, maka tidak akan menimpamu." Kalimat pertama untuk hiburan ketika tertimpa musibah, sedangkan kalimat kedua untuk hiburan ketika tidak mendapatkan apa yang disukainya (berupa kebaikan).
Rujukan

سنن الترمذي (4/ 284) (2516). التحفة الربانية في شرح الأربعين حديثًا النووية (ص42). شرح الأربعين النووية، لابن عثيمين (ص200). فتح القوي المتين في شرح الأربعين وتتمة الخمسين، للعباد (ص69).

Hadis ini di HadeethEnc.com

Setiap hadis, derajat, penjelasan, dan faedah di sini ditampilkan persis sebagaimana diterbitkan HadeethEnc.com, menurut ketentuan penerbitan ulangnya. Derajat itu tidak menyebut siapa yang menilainya. Terjemahan dan penjelasan adalah karya para penyusunnya, dan sebagian menyebutkan hukum; para peninjau Sabīl belum memeriksanya. Hadis berbahasa Arablah teksnya. Sumber: HadeethEnc.com