عن ابن عباس وعمران بن الحصين رضي الله عنهم عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: «اطَّلَعت في الجنة فرأيتُ أكثرَ أهلِها الفقراءَ، واطَّلعتُ في النار فرأيتُ أكثرَ أهلها النِّساءَ».
Dari Ibnu Abbas dan 'Imrān bin Al-Ḥuṣain -raḍiyallāhu 'anhum-, dari Nabi-ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, beliau bersabda, "Aku melihat ke dalam Surga lalu aku melihat kebanyakan penghuninya adalah orang-orang fakir, dan aku melihat ke dalam Neraka lalu aku melihat kebanyakan penduduknya adalah para wanita."
Muttafaq 'alaihDerajatHadis sahih
Penjelasan
Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengabarkan di dalam hadis tersebut bahwa beliau melihat ke dalam Surga, beliau melihat kebanyakan penduduknya adalah orang-orang fakir. Itu karena mereka tidak memiliki apa-apa yang menjadikan mereka sombong, mereka orang-orang yang tenang dan rendah hati. Oleh karena itu, siapa yang memperhatikan ayat-ayat Alquran maka ia akan mendapati bahwa orang-orang yang mendustai para Rasul adalah orang-orang terhormat dan orang-orang kaya. Sementara kaum duafa (orang-orang fakir) adalah orang-orang yang mengikuti para Rasul. Karena itu, kebanyakan mereka adalah penghuni Surga.
Hadis ini tidak menjadi sebuah keharusan bahwa setiap orang fakir lebih mulia daripada orang-orang kaya, akan tetapi mengandung arti bahwa orang-orang fakir lebih banyak menempati Surga daripada orang-orang kaya, maka beliau mengabarkan hal itu. Dan bukanlah kefakiran yang menjadi sebab mereka dimasukkan ke dalam Surga meskipun hal itu meringankan dalam hisab mereka, akan tetapi mereka dimasukkan ke dalam Surga lantaran kebaikan-kebaikannya dan kefakirannya, karena kefakiran tanpa kebaikan tidaklah memiliki makna dan keutamaan.
Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- juga mengabarkan bahwa ketika beliau melihat Neraka, beliau melihat kebanyakan penghuninya adalah wanita, hal itu disebabkan karena kebiasaan-kebiasaan buruk yang nampak dominan dalam tabiat mereka dan selalu menyertai mereka, seperti kurang mensyukuri pemberian suaminya dan banyak mencela. Maka sudah merupakan kewajiban bagi mereka untuk menjaga aturan-aturan agama agar mereka selamat dari ancaman Neraka.
Rujukan
- صحيح البخاري، للإمام أبي عبد الله محمد بن إسماعيل البخاري، عناية محمد زهير الناصر، دار طوق النجاة، الطبعة الأولى، 1422هـ.
- صحيح مسلم، للإمام مسلم بن الحجاج، حققه ورقمه محمد فؤاد عبد الباقي، دار عالم الكتب، الرياض، الطبعة الأولى، 1417هـ.
- كنوز رياض الصالحين، لحمد بن ناصر العمار، دار كنوز إشبيليا، الطبعة الأولى، 1430ه.
- شرح رياض الصالحين؛ للشيخ محمد بن صالح العثيمين، مدار الوطن، الرياض، 1426هـ.
- بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين، لسليم الهلالي، دار ابن الجوزي - الطبعة الأولى، 1418ه.
-دليل الفالحين لطرق رياض الصالحين, محمد علي بن محمد البكري, اعتنى بها: خليل مأمون شيحا, الناشر: دار المعرفة, بيروت - لبنان, الطبعة: الرابعة، 1425هـ - 2004م.
-نزهة المتقين شرح رياض الصالحين, مصطفى سعيد الخن، مصطفى البغا، محي الدين مستو، علي الشربجي، محمد أمين لطفي, مؤسسة الرسالة, سنة النشر: 1407ه – 1987م, الطبعة: 14.
عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه مرفوعاً: «احْتَجَّتِ الجنَّة والنَّار، فقالتِ النَّار: فيَّ الجبَّارون والمُتَكَبِّرُون. وقالتِ الجنَّة: فيَّ ضُعَفَاء الناسِ ومساكِينُهُم، فقضى الله بَيْنَهُمَا: إِنك الجنَّة رحْمَتي أَرحم بك من أشاء، وإِنك النَّار عذابي أُعذب بك من أشاء، ولِكِلَيْكُمَا عليَّ مِلْؤُهَا».
Dari Abu Sa'id Al Khudri -raḍiyallāhu 'anhu- secara marfū', (Nabi bersabda), "Surga dan neraka saling beradu argumentasi, maka neraka berkata, 'Di dalamku ada orang-orang yang angkuh dan sombong.' Dan surga berkata, 'Di dalamku ada orang-orang lemah dan miskin.' Lalu Allah memutuskan/menengahi di antara keduany0a, 'Sesungguhnya engkau wahai Surga adalah rahmat-Ku, denganmu Aku merahmati siapa saja yang Aku kehendaki. Dan sesungguhnya engkau wahai Neraka adalah azab-Ku, denganmu Aku mengazab siapa saja yang Aku kehendaki. Dan masing-masing (dari) kalian berdua, menjadi wewenang-Ku untuk memenuhinya (dengan penghuninya)'.”
Diriwayatkan oleh MuslimDerajatHadis sahih
Penjelasan
Makna hadis ini adalah: bahwa surga dan neraka saling beradu argumentasi di antara mereka berdua. Masing-masing menyampaikan argumentasinya; dan hal ini termasuk salah satu perkara gaib yang wajib kita imani meskipun dianggap mustahil oleh akal.
Maka surga mendebat neraka, dan neraka (juga) mendebat surga. Neraka beralasan bahwa di dalamnya ada orang-orang yang angkuh dan sombong. Orang-orang angkuh (al-Jabbārūn) adalah orang-orang yang kasar dan keras, sementara orang-orang sombong (al-Mutakabbirûn) adalah orang-orang meninggikan dan mengangkat diri, merendahkan orang lain dan menolak kebenaran; sebagaimana sabda Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- tentang kesombongan: bahwa ia adalah “menolak kebenaran dan merendahkan orang lain”.
Maka orang-orang angkuh dan sombong, mereka itu adalah penghuni neraka, wal ‘iyażu billāh. Bisa saja si penghuni neraka itu bersikap lembut kepada orang lain dan berperilaku baik, namun ia angkuh dan sombong terhadap kebenaran, sehingga sikap lemah lembut dan kasih sayangnya kepada manusia tidak berguna untuknya, ia tetap disifati dengan sifat keangkuhan dan kesombongan, meskipun ia lemah lembut kepada orang lain; karena ia bersikap angkuh dan sombong terhadap kebenaran.
Adapun surga, ia mengatakan bahwa di dalamnya terdapat orang-orang lemah dan fakir. Mereka pada umumnya adalah orang-orang yang terbuka dan tunduk kepada kebenaran. Sementara orang-orang angkuh dan sombong, umumnya tidak tunduk pada kebenaran.
Maka Allah menengahi di antara keduanya, lalu mengatakan kepada surga, “Sesungguhnya engkau, Surga, adalah rahmat-Ku, denganmu Aku merahmati siapa saja yang aku kehendaki.” Dan Ia mengatakan kepada neraka, “Dan sesungguhnya engkau, Neraka, adalah azab-Ku, denganmu Aku mengazab siapa saja yang Aku kehendaki.” Lalu Allah -'Azza wa Jalla- berfirman, “Dan masing-masing (dari) kalian berdua, menjadi wewenang-Ku untuk memenuhinya (dengan penghuninya -penj).’”
Allah -'Azza wa Jalla- menjamin dan mewajibkan atas DiriNya untuk memenuhi surga dan juga neraka, meskipun karunia dan rahmat Allah -Ta‘āla- itu lebih luas daripada kemurkaan-Nya. Maka pada hari kiamat, Ia akan melemparkan siapa saja yang Ia lemparkan ke dalam neraka, lalu neraka berkata, “Apakah masih ada tambahan?”; maksudnya: berikan, berikan dan tambahkan lagi untukku. Lalu Allah meletakkan Kaki-Nya di dalam (neraka) –dalam riwayat lain, “…Telapak kaki-Nya”. Maka (neraka) itupun menyusut dan menyatu padu antara satu dengan yang lain akibat pengaruh Allah -'Azza wa Jalla- meletakkan Kaki-Nya, lalu (neraka) berkata: “Qaṭṭun, qaṭṭun”, maksudnya: cukup, cukup. Dan begitulah ia dipenuhi.
Adapun surga, maka sesungguhnya surga itu luas, lebarnya seperti seluruh langit dan bumi. Para penghuninya masuk ke dalamnya dan karunia yang berlebihan akan terus langgeng untuk para penghuninya. Lalu Allah -Ta‘āla- memunculkan generasi manusia lain, lalu memasukkan mereka ke dalam surga dengan karunia dan rahmatNya; karena Allah telah menjamin untuk memenuhinya.
Rujukan
- صحيح البخاري –الجامع الصحيح-؛ للإمام أبي عبد الله محمد بن إسماعيل البخاري، عناية محمد زهير الناصر، دار طوق النجاة، الطبعة الأولى، 1422هـ.
- صحيح مسلم؛ للإمام مسلم بن الحجاج، حققه ورقمه محمد فؤاد عبد الباقي، دار عالم الكتب-الرياض، الطبعة الأولى، 1417هـ.
- كنوز رياض الصالحين،لحمد بن ناصر العمار، دار كنوز إشبيليا- الطبعة الأولى1430ه.
- شرح رياض الصالحين؛ للشيخ محمد بن صالح العثيمين، مدار الوطن، الرياض، 1426هـ.
- دليل الفالحين لطرق رياض الصالحين؛ لمحمد بن علان الشافعي،تحقيق خليل مأمون شيحا-دار المعرفة-بيروت-الطبعة الرابعة1425ه.
- بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين؛ تأليف سليم الهلالي، دار ابن الجوزي- الطبعة الأولى1418ه
- نزهة المتقين شرح رياض الصالحين؛ تأليف د. مصطفى الخِن وغيره، مؤسسة الرسالة-بيروت، الطبعة الرابعة عشرة، 1407هـ.
Usāmah bin Zaid -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Ada yang bertanya padanya, "Tidakkah engkau menemui 'Uṡmān lalu berbicara kepadanya?" Usāmah menjawab, "Apakah menurut kalian aku tidak berbicara kepadanya kecuali aku memperdengarkannya pada kalian? Demi Allah! Aku telah berbicara kepadanya empat mata tanpa memulai perkara yang aku tidak ingin menjadi orang pertama yang memulainya. Aku tidak akan berbicara kepada seseorang yang menjadi pemimpinku bahwa dia orang paling baik setelah aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, 'Seseorang akan didatangkan pada hari Kiamat nanti, lalu ia dilemparkan ke dalam neraka sehingga usus-usus dalam perutnya terburai. Lalu ia membawanya berputar seperti keledai berputar pada batu penggilingan. Para penghuni neraka lalu mengerumuninya seraya bertanya, 'Wahai si polan! Kenapa kamu? Bukankah engkau dulu mengajak kepada perbuatan baik dan mencegah perbuatan mungkar?' Dia menjawab, 'Benar. Dulu aku mengajak kepada kebaikan tapi tidak melaksanakannya, dan aku mencegah kemungkaran tapi justru melakukannya.''"
Muttafaq 'alaihDerajatSahih
Penjelasan
Dikatakan pada Usāmah bin Zaid -raḍiyallāhu 'anhumā-: Tidakkah engkau menemui 'Uṡmān bin 'Affān -raḍiyallāhu 'anhu- lalu berbicara kepadanya tentang fitnah yang terjadi di tengah umat dan berusaha memadamkannya secara keseluruhan? Usāmah lalu menyampaikan ke mereka bahwa dia telah berbicara empat mata kepadanya demi mewujudkan kemaslahatan, bukan justru mengobarkan fitnah. Tujuannya yaitu dia tidak ingin melakukan pengingkaran terhadap penguasa secara terbuka di hadapan masyarakat luas sehingga akan menyebabkan orang-orang tidak menghargai pemimpin karena itu adalah pintu fitnah dan keburukan. Jangan sampai aku orang pertama yang membukanya.
Usāmah -raḍiyallāhu 'anhu- kemudian menerangkan bahwa dia menasihati para pemimpin secara empat mata dan tidak menjilat siapa pun sekalipun ia seorang penguasa. Tidak juga menjilat dengan cara memuji mereka di muka mereka secara tidak benar. Hal itu ia lakukan setelah mendengar Nabi ﷺ menyampaikan bahwa nanti di hari Kiamat seseorang akan didatangkan lalu dilemparkan ke dalam neraka hingga usus-ususnya terburai keluar dari perutnya dengan sangat cepat lantaran kedahsyatan panas dan siksa neraka. Ia kemudian berputar membawa usus-ususnya dalam keadaan seperti itu di dalam neraka seperti berputarnya keledai di batu penggilingan. Seketika, penduduk neraka berkumpul di sekelilingnya seperti bentuk lingkaran yang mengitarinya. Mereka bertanya: Wahai polan, bukankah dulu engkau mengajarkan perbuatan baik dan mencegah perbuatan mungkar?!
Maka dia menjawab: Dulu aku mengajarkan kebaikan tetapi aku tidak mengerjakannya, dan mencegah kemungkaran tetapi aku melakukannya.
Faedah
1- Prinsip dasar dalam menasihati penguasa ialah dilakukan secara tertutup dan tidak dibicarakan di tengah masyarakat umum.
2- Ancaman keras terhadap orang yang perkataannya menyelisihi perbuatannya.
3- Bersikap sopan dan lembut kepada penguasa serta mengajak mereka kepada perbuatan baik dan mencegah mereka dari perbuatan mungkar.
4- Celaan terhadap sikap lunak kepada penguasa dalam penegakan kebenaran dan sikap menampakkan yang berbeda dengan yang diyakini dalam hati seperti orang yang sedang mencari muka secara tidak benar.
Rujukan
صحيح البخاري (4/ 121) (3267).
صحيح مسلم (4/ 2290) (2989).
كنوز رياض الصالحين، لمجموعة من الباحثين (4/ 143).
شرح رياض الصالحين، لابن عثيمين (2/ 358).
تطريز رياض الصالحين، لفيصل آل مبارك (ص156).
نزهة المتقين شرح رياض الصالحين، لمجموعة من الباحثين (1/ 220).
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Kami pernah sedang bersama Rasulullah ﷺ, tiba-tiba beliau mendengar sebuah gemuruh. Nabi ﷺ lalu bertanya, "Apakah kalian tahu suara apa ini?" Kami menjawab, "Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui." Beliau bersabda, "Ini adalah batu yang dilemparkan ke dalam neraka sejak tujuh puluh tahun, ia jatuh ke dalam neraka sekarang hingga berakhir di dasarnya.”
HR. MuslimDerajatSahih
Penjelasan
Nabi ﷺ mendengar sebuah suara yang mengagetkan seperti jatuhnya sebuah benda. Beliau lantas bertanya kepada para sahabat -raḍiyallāhu 'anhum- yang ada di sekitar beliau tentang suara itu. Mereka menjawab: Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.
Beliau bersabda kepada mereka: Suara yang kalian dengar ini adalah suara batu yang dilemparkan dari bibir Jahanam sejak tujuh puluh tahun yang lalu. Ia terus terjun dan jatuh ke dalamnya hingga sampai ke dasarnya sekarang saat kalian mendengar suara ini.
Faedah
1- Anjuran mempersiapkan diri untuk hari Akhir dengan amal saleh dan waspada terhadap Jahanam.
2- Anjuran agar menyandarkan ilmu kepada Allah Ta'ala pada perkara yang tidak diketahui manusia.
3- Seorang pengajar hendaknya memacu perhatian dan konsentrasi para pembelajar sebelum menjelaskan suatu pelajaran agar lebih mudah memahamkan mereka.
Rujukan
صحيح مسلم (4/ 2184) (2844).
بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين، لسليم الهلالي (1/ 476).
نزهة المتقين شرح رياض الصالحين، لمجموعة من الباحثين (1/ 369).
كنوز رياض الصالحين، لمجموعة من الباحثين (6/ 414).
عن حُصين بن عبد الرحمن قال: كنتُ عند سعيد بن جُبير فقال: أيكم رأى الكوكب الذي انقَضَّ البارحة؟ فقلتُ: أنا، ثم قلتُ: أما إني لم أكن في صلاة، ولكني لُدغْتُ، قال: فما صنعتَ؟ قلت: ارتقيتُ، قال: فما حَمَلك على ذلك؟ قلت: حديث حدَّثَناه الشعبي، قال: وما حدَّثَكم؟ قلتُ حدثنا عن بريدة بن الحُصيب أنه قال: "لا رُقْية إلا مِن عَيْن أو حُمَة"، قال: قد أحسَن مَن انتهى إلى ما سمع، ولكن حدثنا ابن عباس عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال:
"عُرضت عليّ الأُمم، فرأيتُ النبي ومعه الرَّهط والنبي ومعه الرجل والرجلان، والنبي وليس معه أحد، إذ رُفع لي سواد عظيم فظننتُ أنهم أمَّتي، فقيل لي: هذا موسى وقومه، فنظرتُ فإذا سواد عظيم، فقيل لي: هذه أمَّتك، ومعهم سبعون ألفا يدخلون الجنة بغير حساب ولا عذاب، ثم نهض فدخل منْزله، فخاض الناس في أولئك؛ فقال بعضهم: فلعلهم الذين صحِبوا رسول الله صلى الله عليه وسلم وقال بعضهم: فلعلهم الذين وُلِدُوا في الإسلام فلم يشركوا بالله شيئا، وذكروا أشياء، فخرج عليهم رسول الله صلى الله عليه وسلم فأخبروه، فقال: هم الذين لا يَسْتَرقون، ولا يَكْتَوُون، ولا يَتَطَيَّرون، وعلى ربهم يتوكلون، فقام عُكاشة بن مِحصَن فقال: ادع الله أن يجعلني منهم، قال: أنت منهم، ثم قام جل آخر فقال: ادع الله أن يجعلني منهم، فقال: سَبَقَك بها عكاشة".
Dari Ḥuṣain bin Abdirrahman, ia berkata, "Aku berada bersama Sa'īd bin Jubair lalu ia bertanya, 'Siapakah di antara kalian yang melihat planet jatuh tadi malam?' Aku jawab, 'Aku.' Lalu aku katakan, 'Adapun aku sedang tidak melaksanakan salat karena aku disengat.' Ia bertanya, 'Lantas apa yang kau lakukan?' Aku Jawab, 'Aku meruqyahnya.' Ia bertanya lagi, 'Apa yang mendorongmu melakukan itu?' Aku Jawab, 'Hadis yang diceritakan asy-Sya'bi kepada kami.' Ia bertanya, 'Apa yang dia ceritakan kepada kalian?' Aku jawab, 'Kami mendapatkan kabar dari Buraidah bin Al-Ḥuṣaib bahwasannya dia berkata, 'Tidak ada ruqyah kecuali dari penyakit 'Ain (karena pandangan mata hasad) atau demam.' Ia berkata, 'Sungguh telah berbuat baik orang yang berhenti sampai di dalil yang ia dengarkan. Akan tetapi Ibnu 'Abbās bercerita kepada kami dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bahwa beliau bersabda, 'Telah diperlihatkan kepadaku umat-umat. Aku melihat seorang Nabi yang memiliki beberapa orang pengikut. Ada juga seorang Nabi yang memiliki satu dan dua orang pengikut saja. Bahkan ada seorang Nabi yang tidak memiliki pengikut sama sekali. Tiba-tiba satu kelompok besar orang diperlihatkan kepadaku hingga aku menduga bahwa mereka itu umatku. Lantas dikatakan kepadaku, 'Ini Mūsa bersama kaumnya.' Aku memandang, ternyata ada sekelompok besar manusia. Lantas dikatakan kepadaku, 'Ini umatmu dan bersama mereka ada tujuh puluh ribu orang masuk Surga tanpa hisab dan azab.' Selanjutnya beliau bangkit dan masuk ke rumahnya sehingga orang-orang pun berbicara panjang lebar mengenainya. Sebagian mereka berkata, 'Mungkin saja mereka itu orang-orang yang selalu menyertai Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-.' Sebagian lagi berkata, 'Barangkali mereka itu orang-orang yang dilahirkan dalam Islam lalu mereka tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu pun.' Mereka menyebutkan berbagai hal. Tiba-tiba Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menemui mereka lalu mengabarkannya. Beliau bersabda, "Mereka adalah orang-orang yang tidak meminta diruqyah, tidak berobat dengan cara kay (sundutan besi panas), tidak pesimis dan mereka bertawakal kepada Allah.' Tiba-tiba 'Ukāsyah bin Miḥṣan berkata, 'Mohonlah kepada Allah agar menjadikanku bagian dari mereka.' Beliau bersabda, Engkau termasuk dari golongan mereka.' Lantas seorang lelaki lain berkata, 'Mohonlah kepada Allah agar menjadikanku bagian dari mereka.' Beliau bersabda, 'Ukāsyah telah mendahuluimu'."
Muttafaq 'alaihDerajatHadis sahih
Penjelasan
Ḥuṣain bin Abdirrahman -raḥimahullāh- mengabarkan kepada kami tentang dialog yang berlangsung antara dirinya dengan Sa'īd bin Jubair -raḥimahullāh- mengenai ruqyah. Hal ini terjadi karena Ḥuṣain disengat kalajengking dan meruqyahnya dengan ruqyah syar'iyyah. Saat Sa'īd bertanya kepadanya mengenai dalilnya, ia memberitahunya dengan hadis asy-Sya'bi yang membolehkan ruqyah dari penyakit 'Ain (karena pandangan mata hasad) dan racun. Sa'īd pun memujinya mengenai hal itu. Akan tetapi dia meriwayatkan hadis lain untuknya yang menganggap bagus meninggalkan ruqyah. Yaitu hadis Ibnu 'Abbās yang mengandung empat sifat. Siapa yang memiliki sifat itu maka dia berhak masuk Surga tanpa hisab dan azab. Sifat itu adalah tidak meminta ruqyah, tidak berobat dengan cara kay (sundutan besi panas), tidak pesimis, dan benar dalam bersandar kepada Allah -Ta'ālā-. Saat 'Ukāsyah meminta kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- agar mendoakan dirinya menjadi bagian dari mereka, beliau pun memberitahunya bahwa ia bersama mereka. Ketika seorang lelaki lain berdiri untuk tujuan yang sama, Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pun bersikap ramah kepadanya dalam melarang demi menutup bab ini dan memutuskan kelanjutan permintaan.
Rujukan
-صحيح البخاري، المحقق: محمد زهير بن ناصر الناصر، الناشر: دار طوق النجاة (مصورة عن السلطانية بإضافة ترقيم محمد فؤاد عبد الباقي)، الطبعة: الأولى، 1422ه.
-صحيح مسلم، المحقق: محمد فؤاد عبد الباقي - الناشر: دار إحياء التراث العربي - بيروت.
-الملخص في شرح كتاب التوحيد، دار العاصمة، الرياض، الطبعة: الأولى، 1422ه - 2001م.
-الجديد في شرح كتاب التوحيد، مكتبة السوادي، جدة، المملكة العربية السعودية، الطبعة: الخامسة، 1424هـ - 2003م.
'Ubādah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan dari Nabi ﷺ, bahwa beliau bersabda, "Siapa yang bersaksi bahwa tidak ada sembahan yang benar kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, bahwa Muhammad adalah hamba Allah dan rasul-Nya, bahwa Isa adalah hamba Allah, utusan-Nya, kalimat-Nya yang disampaikan pada Maryam, dan ruh dari-Nya, juga bersaksi bahwa surga benar adanya serta neraka benar adanya, maka Allah akan memasukkannya ke dalam surga seperti apa pun amalnya."
Muttafaq 'alaihDerajatSahih
Penjelasan
Rasulullah ﷺ mengabari kita bahwa orang yang mengucapkan kalimat tauhid disertai pemahaman terhadap maknanya dan mengamalkan konsekuensinya, bersaksi atas kehambaan Muhammad ﷺ dan kerasulannya, mengakui kehambaan Isa dan kerasulannya, juga bersaksi bahwa Allah menciptakannya dengan kalimat "jadilah" maka dia pun ada, bahwa dia adalah roh di antara roh-roh yang diciptakan Allah, serta membebaskan ibunya dari semua tuduhan yang disematkan orang-orang Yahudi padanya, sekaligus beriman bahwa surga itu benar adanya serta neraka juga benar adanya dengan meyakini keduanya sudah ada dan keduanya adalah nikmat Allah dan siksa-Nya, lalu dia meninggal di atas keyakinan itu, maka tempat kembalinya adalah surga, walaupun dia kurang dalam ketaatan dan memiliki dosa.
Faedah
1- Allah Ta'ala menciptakan Isa bin Maryam dengan kalimat "jadilah" tanpa ayah.
2- Menggabungkan antara status Nabi Isa dan Muhammad -semoga Allah melimpahkan selawat dan salam pada keduanya- bahwa keduanya sama-sama hamba Allah dan utusan-Nya; keduanya adalah utusan yang tidak boleh didustakan serta hamba yang tidak boleh disembah.
3- Keutamaan tauhid dan penghapusannya terhadap dosa, dan tempat kembali orang yang bertauhid ialah surga walaupun ia terjerumus dalam sebagian dosa.
Rujukan
صحيح البخاري (4/ 165) (3435).
صحيح مسلم (1/ 57) (28).
الملخص في شرح كتاب التوحيد، لصالح الفوزان (ص25).
الجديد في شرح كتاب التوحيد، لمحمد القرعاوي (ص36).
عن جابر بن عبد الله رضي الله عنهما قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: «مَنْ لَقِيَ اللهَ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا دَخَلَ الْجَنَّةَ، وَمَنْ لَقِيَهُ يُشْرِكُ بِهِ دَخَلَ النَّارَ».
Jābir bin Abdillah -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan, aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, "Siapa pun yang menemui Allah (wafat) dalam keadaan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, ia pasti masuk surga. Siapa saja yang menemui-Nya (wafat) dalam keadaan berbuat kesyirikan, ia pasti masuk neraka."
HR. MuslimDerajatSahih
Penjelasan
Nabi ﷺ mengabarkan bahwa orang yang meninggal tanpa menyekutukan Allah dengan sesuatu apa pun, maka tempat akhirnya ialah ke surga, walaupun ia disiksa dengan sebagian dosanya. Sebaliknya, orang yang meninggal dengan membawa kesyirikan kepada Allah maka ia akan kekal di neraka.
Faedah
1- Keutamaan tauhid; bahwa tauhid merupakan sebab untuk selamat dari keabadian di dalam neraka.
2- Kedekatan surga dan neraka dengan seorang hamba; bahwa pemisah antara hamba dan keduanya hanyalah kematian.
3- Larangan melakukan kesyirikan, sedikit maupun banyak, karena keselamatan dari neraka ialah dengan meninggalkannya.
4- Tolok ukur dalam amalan ialah bagian akhirnya.
Rujukan
صحيح مسلم (1/ 94) (93).
الملخص في شرح كتاب التوحيد، لصالح الفوزان (ص49).
الجديد في شرح كتاب التوحيد، لمحمد القرعاوي (ص60).
عن سهل بن سعد رضي الله عنه عن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: «مَنْ يَضْمَنْ لِي مَا بَيْنَ لَحْيَيْهِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ أَضْمَنْ لَهُ الْجَنَّةَ».
Sahl bin Sa'ad -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ bersabda, "Siapa yang dapat memberi jaminan kepadaku untuk menjaga apa yang ada di antara dua tulang rahangnya (lisannya) dan di antara kedua kakinya (kemaluannya), maka aku menjamin surga untuknya."
HR. BukhariDerajatSahih
Penjelasan
Nabi ﷺ mengabarkan dua perkara, jika keduanya dipegang oleh seorang muslim maka ia akan masuk surga.
- Pertama: menjaga lisan dari berbicara yang akan mendatangkan murka Allah Ta'ala.
- Kedua: menjaga kemaluan dari terjerumus ke dalam perbuatan keji.
Hal itu karena kedua organ ini seringkali menjadi sebab terjerumusnya seseorang dalam kemaksiatan.
Faedah
1- Menjaga lisan dan kemaluan adalah jalan untuk masuk surga.
2- Penyebutan secara khusus organ lisan dan kemaluan adalah karena keduanya merupakan sumber petaka paling besar terhadap manusia di dunia dan akhirat.
Rujukan
صحيح البخاري (8/ 100) (6474).
بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين، تأليف سليم الهلالي (3/ 9).
نزهة المتقين شرح رياض الصالحين، تأليف د. مصطفى الخِن وغيره (2/ 1035).
كنوز رياض الصالحين، لمجموعة من الباحثين (18/ 85).
شرح رياض الصالحين، لابن عثيمين (6/ 117).
إرشاد الساري لشرح صحيح البخاري، للقسطلاني (9/ 272).
Setiap hadis, derajat, penjelasan, dan faedah di sini ditampilkan persis sebagaimana diterbitkan HadeethEnc.com, menurut ketentuan penerbitan ulangnya. Derajat itu tidak menyebut siapa yang menilainya. Terjemahan dan penjelasan adalah karya para penyusunnya, dan sebagian menyebutkan hukum; para peninjau Sabīl belum memeriksanya. Hadis berbahasa Arablah teksnya. Sumber: HadeethEnc.com