Langsung ke konten
Hadis dengan penjelasan

Akhlak Tercela

46 hadis

Apabila Allah telah mengumpulkan orang-orang terdahulu hingga yang terakhir kelak pada hari Kiamat, maka akan diangkat bendera bagi setiap pengkhianat, lalu dikatakan, 'Ini adalah pengkhianatan polan bin polan.'

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضيَ اللهُ عنهما قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِذَا جَمَعَ اللهُ الْأَوَّلِينَ وَالْآخِرِينَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يُرْفَعُ لِكُلِّ غَادِرٍ لِوَاءٌ، فَقِيلَ: هَذِهِ غَدْرَةُ فُلَانِ بْنِ فُلَانٍ».
Ibnu Umar -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ bersabda, "Apabila Allah telah mengumpulkan orang-orang terdahulu hingga yang terakhir kelak pada hari Kiamat, maka akan diangkat bendera bagi setiap pengkhianat, lalu dikatakan, 'Ini adalah pengkhianatan polan bin polan.'"
Muttafaq 'alaihDerajatSahih
Penjelasan

Nabi ﷺ mengabarkan, ketika Allah Ta'ala telah mengumpulkan orang-orang terdahulu hingga yang terakhir kelak pada hari Kiamat untuk penghitungan amal, bagi setiap pengkhianat yang tidak memenuhi janji yang dia buat dengan Allah ataupun dengan sesama manusia akan ditancapkan tanda untuk mempermalukannya atas pengkhianatannya dan akan diumumkan pada hari itu: Ini adalah pengkhianatan polan bin polan; untuk menampakkan buruk kelakuannya di tengah penduduk mahsyar.

Faedah
  1. 1- Haramnya khianat dan ia termasuk dosa besar karena di dalamnya terdapat ancaman yang keras ini.
  2. 2- Khianat yang memiliki ancaman ini mencakup semua orang yang mengamanahimu terkait darah, kehormatan, rahasia atau harta lalu engkau mengkhianatinya dan menyalahi prasangkanya tentang keamanahanmu.
  3. 3- Al-Qurṭubiy berkata, "Ini adalah penyampaian beliau kepada bangsa Arab sesuai dengan yang biasa mereka lakukan, yaitu mereka mengangkat bendera putih bagi pemenuhan janji ataupun amanah, dan mengangkat bendera hitam bagi perbuatan ingkar janji untuk mencela orang-orang yang khianat. Hadis ini menunjukkan terjadinya hal semisal itu bagi orang yang berkhianat agar ia dikenal dengan karakternya kelak hari Kiamat sehingga penduduk mahsyar mencelanya."
  4. 4- Ibnu Ḥajar berkata, "Di dalamnya ada pelajaran bahwa manusia pada hari Kiamat akan dipanggil dengan nama ayahnya, sebagaimana dalam hadis: Ini adalah pengkhianatan polan bin polan."
Rujukan

صحيح البخاري (4/ 104) (3188) صحيح مسلم (3/ 1359) (1735). تيسير العلام شرح عمدة الأحكام، للبسام (ص745). الإلمام بشرح عمدة الأحكام، لإسماعيل الأنصاري (2/ 188).

Hadis ini di HadeethEnc.com

Maukah aku beri tahukan kepada kalian tentang dosa-dosa besar yang paling besar?

عن أبي بكرة رضي الله عنه قال: قال النبي صلى الله عليه وسلم: «‌أَلَا ‌أُنَبِّئُكُمْ بِأَكْبَرِ الْكَبَائِرِ؟» ثَلَاثًا، قَالُوا: بَلَى يَا رَسُولَ اللهِ، قَالَ: «الْإِشْرَاكُ بِاللهِ، وَعُقُوقُ الْوَالِدَيْنِ» وَجَلَسَ وَكَانَ مُتَّكِئًا، فَقَالَ: «أَلَا وَقَوْلُ الزُّورِ»، قَالَ: فَمَا زَالَ يُكَرِّرُهَا حَتَّى قُلْنَا: لَيْتَهُ سَكَتَ.
Abu Bakrah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Nabi ﷺ bersabda, "Maukah aku beri tahukan kepada kalian tentang dosa-dosa besar yang paling besar?" Beliau mengulanginya tiga kali. Para sahabat menjawab, "Tentu, wahai Rasulullah." Beliau bersabda, "Yaitu menyekutukan Allah dan durhaka kepada kedua orang tua." Lalu beliau duduk, sebelumnya beliau bersandar, seraya bersabda, "Ingatlah, juga perkataan dusta dan kesaksian palsu." Beliau terus-menerus mengulanginya sampai kami berkata, "Andai saja beliau diam (berhenti)."
Muttafaq 'alaihDerajatSahih
Penjelasan

Nabi ﷺ mengabari sahabat-sahabatnya tentang dosa besar yang paling besar, beliau menyebutkan tiga dosa ini: 1- Menyekutukan Allah, yaitu memalingkan ibadah kepada selain Allah dan menyetarakan selain Allah dengan Allah dalam persoalan uluhiah, rububiah serta nama dan sifat-sifat-Nya. 2- Durhaka kepada kedua orang tua, yaitu semua hal yang menyakiti kedua orang tua, berupa perkataan ataupun perbuatan serta tidak berbuat kebaikan pada keduanya. 3- Perkataan dusta dan termasuk kesaksian palsu, yaitu semua ucapan palsu dan dusta yang bertujuan mendiskreditkan orang yang menjadi objeknya untuk mengambil hartanya, merusak kehormatannya atau semisalnya. Nabi ﷺ mengulang-ulang peringatan tentang perkataan dusta untuk mengingatkan kejelekan dan dampak buruknya terhadap masyarakat, sampai para sahabat berkata: Seandainya beliau diam, disebabkan rasa kasihan mereka kepada beliau dan karena mereka tidak suka ada sesuatu yang mengganggu beliau.

Faedah
  1. 1- Dosa yang paling besar ialah menyekutukan Allah karena Nabi menjadikannya sebagai dosa besar paling pertama dan paling besar. Hal ini diperkuat oleh firman Allah Ta'ala: "Sungguh, Allah tidak mengampuni kesyirikan kepada-Nya dan mengampuni selain itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya."
  2. 2- Besarnya hak kedua orang tua karena Nabi menggandengkannya dengan hak Allah Ta'ala.
  3. 3- Dosa terbagi menjadi besar dan kecil. Dosa besar adalah setiap dosa yang mengandung hukuman dunia seperti had dan laknat atau ancaman akhirat seperti ancaman masuk neraka. Dosa besar juga bertingkat-tingkat, sebagiannya lebih berat dari yang lain dalam pengharamannya. Sedangkan dosa kecil adalah semua dosa selain dosa besar.
Rujukan

صحيح البخاري (3/ 172) (2654)، (8/ 4) (5976)، (8/ 62) (6273-6274). صحيح مسلم (1/ 91) (87). عمدة الأحكام من كلام خير الأنام صلى الله عليه وسلم (ص257) (380). شرح النووي على مسلم (2/ 81). الإلمام بشرح عمدة الأحكام لإسماعيل الأنصاري (2/ 149). تيسير العلام شرح عمدة الأحكام للبسام (ص703). أعلام السنة المنشورة لاعتقاد الطائفة الناجية المنصورة، لحافظ بن أحمد الحكمي (ص111).

Hadis ini di HadeethEnc.com

Kedua penghuninya benar-benar sedang disiksa, dan tidaklah keduanya disiksa dengan sebab perkara besar. Adapun salah satunya, ia terbiasa tidak membersihkan diri dari kencing. Sedangkan orang kedua ialah biasa berjalan menyebarkan adu domba

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رضي الله عنهما قَالَ: مَرَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِقَبْرَيْنِ، فَقَالَ: «إِنَّهُمَا لَيُعَذَّبَانِ، وَمَا يُعَذَّبَانِ فِي كَبِيرٍ، أَمَّا أَحَدُهُمَا فَكَانَ لاَ يَسْتَتِرُ مِنَ البَوْلِ، وَأَمَّا الآخَرُ فَكَانَ يَمْشِي بِالنَّمِيمَةِ» ثُمَّ أَخَذَ جَرِيدَةً رَطْبَةً، فَشَقَّهَا نِصْفَيْنِ، فَغَرَزَ فِي كُلِّ قَبْرٍ وَاحِدَةً، قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، لِمَ فَعَلْتَ هَذَا؟ قَالَ: «لَعَلَّهُ يُخَفِّفُ عَنْهُمَا مَا لَمْ يَيْبَسَا».
Ibnu 'Abbās -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan, Nabi ﷺ melewati dua kuburan lalu bersabda, "Kedua penghuninya benar-benar sedang disiksa, dan tidaklah keduanya disiksa dengan sebab perkara besar. Adapun salah satunya, ia terbiasa tidak membersihkan diri dari kencing. Sedangkan orang kedua ialah biasa berjalan menyebarkan adu domba." Kemudian beliau mengambil sebuah pelepah yang masih basah lalu membelahnya menjadi dua, kemudian menancapkannya pada masing-masing kubur. Para sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah, kenapa engkau melakukan hal ini?" Beliau bersabda, "Semoga ia bisa meringankan azab keduanya selama belum kering."
Muttafaq 'alaihDerajatSahih
Penjelasan

Nabi ﷺ melewati dua kuburan seraya bersabda: bahwa penghuni dua kubur ini benar-benar sedang disiksa, dan tidaklah keduanya disiksa dengan sebab perkara besar menurut pandangan kalian, walaupun ia sebenarnya besar di sisi Allah. Adapun salah satunya ialah tidak peduli dalam menjaga badan dan pakaiannya dari percikan kencing pada saat buang hajat. Sedangkan orang kedua biasa menyebarkan adu domba di antara manusia, yaitu menukil perkataan orang lain dengan tujuan merusak dan menciptakan perselisihan dan perseteruan di antara manusia.

Faedah
  1. 1- Adu domba dan tidak menjaga diri dari percikan air kencing termasuk dosa besar dan sebab siksa kubur.
  2. 2- Allah ﷻ membuka sebagian perkara gaib -seperti siksa kubur- untuk menampakkan tanda kenabian beliau ﷺ.
  3. 3- Perbuatan ini, yaitu membelah dua pelepah kurma dan menancapkannya di atas kubur hanya berlaku khusus untuk Nabi ﷺ karena Allah memperlihatkan kepada beliau keadaan dua penghuni kubur itu, sehingga yang lain tidak bisa dianalogikan padanya sebab tidak ada seorang pun yang mengetahui keadaan penghuni kubur.
Rujukan

صحيح البخاري (1/ 53) (218). صحيح مسلم (1/ 240) (292). تيسير العلام شرح عمدة الأحكام، لعبد الله البسام (ص43). خلاصة الكلام شرح عمدة الأحكام، لفيصل آل مبارك (ص22). الإلمام بشرح عمدة الأحكام، لإسماعيل الأنصاري (1/ 29).

Hadis ini di HadeethEnc.com

Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku adalah orang datang pada hari kiamat dengan (pahala) salat, puasa dan zakat. Namun ia datang telah mencela si ini, menuduh si ini, memakan harta si ini, menumpahkan darah si ini dan memukul si ini. Maka orang ini diberi dari kebaikannya, dan orang ini juga diberi dari kebaikannya

عن أبي هريرة رضي الله عنه مرفوعاً: «أتدرون من المفلس؟» قالوا: المُفْلِس فينا من لا دِرهَمَ له ولا مَتَاع، فقال: «إن المفلس من أمتي من يأتي يوم القيامة بصلاة وصيام وزكاة، ويأتي وقد شَتَمَ هذا، وقذف هذا، وأكل مال هذا، وسَفَكَ دم هذا، وضرب هذا، فيعطى هذا من حسناته، وهذا من حسناته، فإن فنيت حسناته قبل أن يُقْضَى ما عليه، أخذ من خطاياهم فَطُرِحتْ عليه، ثم طُرِحَ في النار».
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- secara marfū', (Nabi bersabda), “Apakah kalian tahu siapa orang yang bangkrut itu?” Para sahabat menjawab, “Orang yang bangkrut di tengah kami adalah orang yang tidak punya dirham dan harta benda.” Lalu beliau bersabda, “Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku adalah orang datang pada hari kiamat dengan (pahala) salat, puasa dan zakat. Namun ia datang telah mencela si ini, menuduh si ini, memakan harta si ini, menumpahkan darah si ini dan memukul si ini. Maka orang yang ini diberi dari kebaikannya, dan orang ini juga diberi dari kebaikannya. Hingga jika semua kebaikannya habis padahal semua dosanya belum habis, diambillah kesalahan-kesalahan (orang yang dizaliminya), lalu ditimpakan kepadanya, kemudian ia pun dilemparkan ke dalam neraka.”
Diriwayatkan oleh MuslimDerajatHadis sahih
Penjelasan

Nabi -ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam- bertanya kepada para sahabat -riḍwānullāhi 'alaihim-, “Tahukah kalian siapakah orang yang bangkrut itu?” Maka mereka pun menjawab dengan apa yang selama ini dipahami oleh masyarakat, mereka menjawab, “Dia adalah orang fakir yang tidak mempunyai uang dan harta.” Maka Nabi -ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam- menyampaikan kepada mereka, bahwa orang bangkrut dari umat ini adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan kebaikan-kebaikan yang besar dan amal-amal saleh yang banyak; berupa salat, puasa dan zakat, namun ia dahulunya telah mencela si fulan, memukul si fulan, mengambil harta si fulan, menuduh si fulan, menumpahkan darah si fulan. Dan orang-orang tersebut ingin mengambil hak mereka; hak yang tidak bisa mereka dapatkan di dunia akan mereka ambil di akhirat, sehingga mereka menuntut balas dari orang tersebut. Maka si fulan mengambil kebaikannya, dan si fulan lainnya juga mengambil kebaikannya, dan si fulan yang itu mengambil kebaikannya, secara adil dan haq. Hingga jika kebaikannya telah habis, diambillah keburukan orang-orang itu lalu ditimpakan padanya, kemudian ia dilemparkan ke dalam neraka.

Rujukan

- رياض الصالحين من كلام سيد المرسلين؛ للإمام أبي زكريا النووي، تحقيق د. ماهر الفحل، دار ابن كثير-دمشق، الطبعة الأولى، 1428ه . - بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين؛ تأليف سليم الهلالي، دار ابن الجوزي- الطبعة الأولى1418ه - نزهة المتقين شرح رياض الصالحين؛ تأليف د. مصطفى الخِن وغيره، مؤسسة الرسالة-بيروت، الطبعة الرابعة عشر، 1407هـ. - صحيح مسلم؛ للإمام مسلم بن الحجاج، حققه ورقمه محمد فؤاد عبد الباقي، دار عالم الكتب-الرياض، الطبعة الأولى، 1417هـ. - شرح رياض الصالحين؛ للشيخ محمد بن صالح العثيمين، مدار الوطن، الرياض، 1426هـ.

Hadis ini di HadeethEnc.com

Jauhilah tujuh dosa yang membinasakan!

عن أبي هريرة رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: «اجْتَنِبُوا السَّبْعَ الْمُوبِقَاتِ»، قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ وَمَا هُنَّ؟ قَالَ: «الشِّرْكُ بِاللهِ، وَالسِّحْرُ، وَقَتْلُ النَّفْسِ الَّتِي حَرَّمَ اللهُ إِلَّا بِالْحَقِّ، وَأَكْلُ الرِّبَا، وَأَكْلُ مَالِ الْيَتِيمِ، وَالتَّوَلِّي يَوْمَ الزَّحْفِ، وَقَذْفُ الْمُحْصَنَاتِ الْمُؤْمِنَاتِ الْغَافِلَاتِ».
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwasanya beliau bersabda, "Jauhilah tujuh dosa yang membinasakan!" Para shahabat bertanya, “Wahai Rasulullah! Apa saja dosa-dosa yang membinasakan itu?” Beliau menjawab, “Menyekutukan Allah, sihir, membunuh jiwa yang telah Allah haramkan kecuali dengan alasan yang hak, memakan riba, memakan harta anak yatim, melarikan diri dari medan pertempuran, dan menuduh wanita yang beriman lagi suci nan menjaga kehormatannya dengan tuduhan berbuat zina."
Muttafaq 'alaihDerajatSahih
Penjelasan

Rasulullah ﷺ memerintahkan umatnya agar menjauhi tujuh macam kejahatan dan maksiat-maksiat yang membinasakan. Ketika beliau ditanya apakah itu? Beliau menjelaskan: - Pertama: syirik kepada Allah, yaitu membuat tandingan bagi Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- dalam bentuk apapun itu serta memalingkan salah satu ibadah kepada selain Allah Ta'ala. Beliau menyebut dosa syirik di urutan pertama karena ia merupakan dosa yang paling besar. - Kedua: sihir, yaitu buhul, jampi, obat-obatan, dan asap-asap yang memiliki dampak pada badan orang yang disihir berupa pembunuhan atau penyakit, atau memisahkan antara suami dengan istrinya. Sihir merupakan perbuatan setan, dan kerap kali tujuannya itu tidak akan tercapai kecuali dengan melakukan kesyirikan dan ritual kepada roh-roh jahat dengan sesuatu yang disukainya. - Ketiga: membunuh jiwa yang dilarang oleh Allah untuk dibunuh kecuali dengan alasan syar'i yang dilaksanakan oleh pemerintah. - Keempat: memakan riba atau berbagai bentuk pemanfaatan lainnya. - Kelima: menzalimi harta anak kecil yang ayahnya meninggal sebelum dia balig. - Keenam: melarikan diri dari peperangan melawan orang kafir. - Ketujuh: melontarkan tuduhan zina terhadap wanita merdeka yang menjaga diri, demikian juga tuduhan terhadap laki-laki.

Faedah
  1. 1- Jumlah dosa besar tidak terbatas pada tujuh macam ini. Penyebutan khusus terhadap tujuh macam ini karena saking besarnya dan bahayanya.
  2. 2- Boleh membunuh jiwa jika dengan alasan yang hak, seperti kisas, murtad, dan berzina setelah menikah. Penerapannya dilakukan oleh pemerintah yang sah.
Rujukan

صحيح البخاري (4/ 10) (2766). صحيح مسلم (1/ 92) (89). شرح صحيح البخارى لابن بطال (8/ 489). الملخص في شرح كتاب التوحيد، للشيخ صالح الفوزان (ص201).

Hadis ini di HadeethEnc.com

Sungguh aku tahu satu kalimat, kalau ia mengucapkannya niscaya kemarahan yang dirasakannya akan hilang. Kalau saja ia mengucapkan: A'ūżu billāhi minasy-syaiṭān (Aku berlindung kepada Allah dari setan), niscaya kemarahan yang dirasakannya akan hilang

عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ صُرَدٍ رضي الله عنه قَالَ: كُنْتُ جَالِسًا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرَجُلاَنِ يَسْتَبَّانِ، فَأَحَدُهُمَا احْمَرَّ وَجْهُهُ، وَانْتَفَخَتْ أَوْدَاجُهُ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنِّي لَأَعْلَمُ كَلِمَةً لَوْ قَالَهَا ذَهَبَ عَنْهُ مَا يَجِدُ، لَوْ قَالَ: أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ، ذَهَبَ عَنْهُ مَا يَجِدُ» فَقَالُوا لَهُ: إِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «تَعَوَّذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ»، فَقَالَ: وَهَلْ بِي جُنُونٌ؟
Sulaiman bin Ṣurad -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Aku pernah duduk bersama Nabi ﷺ sementara ada dua orang laki-laki sedang saling caci, wajah salah satunya memerah dan urat-urat lehernya menegang. Lantas Nabi ﷺ bersabda, "Sungguh aku tahu satu kalimat, kalau ia mengucapkannya niscaya kemarahan yang dirasakannya akan hilang. Kalau saja ia mengucapkan: A'ūżu billāhi minasy-syaiṭān (Aku berlindung kepada Allah dari setan), niscaya kemarahan yang dirasakannya akan hilang." Lantas para sahabat berkata kepada orang yang marah tersebut, "Nabi ﷺ bersabda: Berlindunglah kepada Allah dari setan." Dia menjawab, "Apakah aku sedang mengalami gila?"
Muttafaq 'alaihDerajatSahih
Penjelasan

Dua orang saling caci maki di hadapan Nabi ﷺ hingga muka salah satunya memerah dan urat lehernya tegang. Beliau ﷺ bersabda: Sungguh aku mengetahui satu kalimat, andai orang yang sedang marah itu mengucapkannya pasti marahnya akan hilang. Andaikan ia membaca: A'ūżu billāhi minasy-syaiṭānir-rajīm. Lantas para sahabat berkata padanya: Nabi ﷺ bersabda, berlindunglah kepada Allah dari setan. Laki-laki itu menjawab: Apakah aku mengalami gila?! Dia mengira perintah berlindung dari setan hanya kepada orang yang gila saja.

Faedah
  1. 1- Perhatian Nabi ﷺ untuk membimbing dan mengarahkan ketika ada penyebabnya.
  2. 2- Sifat amarah berasal dari setan.
  3. 3- Perintah untuk berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk ketika marah. Allah Ta'ala berfirman, "Jika setan datang menggodamu, maka berlindunglah kepada Allah ...."
  4. 4- Mewaspadai sikap caci maki dan saling laknat, sekaligus perintah menjauhinya karena keduanya dapat menimbulkan pertikaian di antara manusia.
  5. 5- Menyampaikan nasihat kepada orang yang belum mendengarnya agar ia turut mendapatkan manfaatnya.
  6. 6- Nabi ﷺ mengingatkan agar tidak marah karena ia dapat mengakibatkan keburukan dan kebrutalan. Beliau sendiri tidak marah kecuali bila larangan-larangan Allah Ta'ala dilanggar, dan itu adalah marah yang terpuji.
  7. 7- An-Nawawiy menjelaskan perkataan laki-laki itu (Apakah engkau melihatku gila), "Ada kemungkinan orang yang mengucapkannya itu termasuk kalangan munafik atau dari kelompok badui yang kasar."
Rujukan

صحيح البخاري (4/ 124) (3282). صحيح مسلم (4/ 2015) (2610). بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين، لسليم الهلالي (1/ 110). تطريز رياض الصالحين، لفيصل آل مبارك (ص50). شرح رياض الصالحين، لابن عثيمين (1/ 270). نزهة المتقين شرح رياض الصالحين، لمجموعة من الباحثين (1/ 78).

Hadis ini di HadeethEnc.com

Di antara dusta yang paling besar adalah seseorang mengaku anak kepada selain bapaknya, atau mengaku bermimpi padahal dia tidak bermimpi, atau berkata atas nama Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- apa yang tidak beliau ucapkan.

عن وَاثِلَةَ بن الأَسْقَعِ ـ رضي الله عنه ـ مرفوعاً: «إن من أعظم الفِرَى أن يَدَّعِيَ الرجلُ إلى غير أبيه، أو يُرِي عَيْنَهُ ما لم تَرَ، أو يقول على رسول الله صلى الله عليه وسلم ما لم يَقْلْ».
Dari Wāṣilah bin Al-Asqa' -raḍiyallāhu 'anhu-, dia berkata, "Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, 'Di antara dusta yang paling besar adalah seseorang mengaku anak kepada selain bapaknya, atau mengaku bermimpi padahal dia tidak bermimpi, atau berkata atas nama Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- apa yang tidak beliau ucapkan'."
Diriwayatkan oleh BukhariDerajatHadis sahih
Penjelasan

Sesungguhnya dusta yang paling berat di hadapan Allah -Ta'ālā- adalah seseorang menyebutkan nasabnya bukan kepada bapaknya yang hakiki atau seseorang memberinya nasab kepada selain bapaknya dan dia setujui hal itu. Ini termasuk dusta paling berat. Termasuk juga dusta paling berat di sisi Allah -Ta'ālā- adalah seseorang mengaku bermimpi, padahal dia tidak bermimpi. Juga termasuk dusta yang sangat berat adalah menyematkan suatu perkataan, perbuatan atau persetujuan kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- padahal tidak bersumber dari beliau.

Rujukan

- صحيح البخاري، للإمام محمد بن إسماعيل البخاري، تحقيق محمد الناصر، دار طوق النجاة. - بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين؛ تأليف سليم الهلالي، دار ابن الجوزي- الطبعة الأولى1418ه. - نزهة المتقين شرح رياض الصالحين؛ تأليف د. مصطفى الخِن وغيره، مؤسسة الرسالة-بيروت، الطبعة الرابعة عشرة، 1407هـ. - كنوز رياض الصالحين»، لحمد بن ناصر العمار، دار كنوز إشبيليا- الطبعة الأولى1430ه. - دليل الفالحين لطرق رياض الصالحين، لمحمد علي بن محمد بن علان بن إبراهيم البكري الصديقي الشافعي اعتنى بها: خليل مأمون شيحا، دار المعرفة . - شرح رياض الصالحين؛ للشيخ محمد بن صالح العثيمين، مدار الوطن، الرياض، 1426هـ.

Hadis ini di HadeethEnc.com

Engkau telah mengucapkan satu perkataan, andai perkataan itu dicampur (muzija) dengan air laut, niscaya ia akan mencemarinya

عَنْ عَائِشَةَ أُمِّ المؤْمنينَ رَضيَ اللهُ عنها قَالَت: قُلْتُ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: حَسْبُكَ مِنْ صَفِيَّةَ كَذَا وَكَذَا، -قَالَ أَحدُ الرُّوَاةِ: تَعْنِي قَصِيرَةً- فَقَالَ: «لَقَدْ قُلْتِ كَلِمَةً لَوْ مُزِجَتْ بِمَاءِ الْبَحْرِ لَمَزَجَتْهُ» قَالَتْ: وَحَكَيْتُ لَهُ إِنْسَانًا، فَقَالَ: «مَا أُحِبُّ أَنِّي حَكَيْتُ إِنْسَانًا وَأَنَّ لِي كَذَا وَكَذَا».
Ummul Mukminin Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- meriwayatkan, Aku pernah berkata kepada Nabi ﷺ, "Cukuplah bagimu pada Ṣafiyyah itu begini dan begini." Salah satu perawi mengatakan: Maksudnya ia pendek. Nabi ﷺ bersabda, "Engkau telah mengucapkan satu perkataan, andai perkataan itu dicampur (muzija) dengan air laut, niscaya ia akan mencemarinya." Aisyah juga meriwayatkan, Aku pernah menirukan pada beliau perihal seseorang, maka beliau bersabda, "Aku tidak mau menirukan seseorang walaupun aku mendapatkan begini dan begini."
HR. Abu Daud, Tirmizi, dan AhmadDerajatSahih
Penjelasan

Ummul Mukminin Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- pernah mengatakan kepada Nabi ﷺ: Cukuplah bagimu pada Ṣafiyyah. Maksudnya ia memiliki kekurangan fisik, yaitu pendek. Maka beliau bersabda: Engkau telah mengucapkan satu perkataan, andaikan perkataan itu dicampur dengan air laut, maka ia akan mendominasi, mengubah, dan merusaknya. Aisyah juga menuturkan: Aku pernah memperagakan perbuatan seseorang untuk mencelanya. Maka Nabi ﷺ bersabda: Aku tidak mau membicarakan kekurangannya ataupun menirukannya dengan memperagakan perbuatannya atau memperagakan ucapannya dalam rangka mencelanya walaupun aku diberikan harta benda dunia yang banyak untuk itu.

Faedah
  1. 1- Peringatan dan ancaman dari perbuatan gibah.
  2. 2- Memperagakan cara dan menirukan orang lain dalam rangka mencela dan merendahkannya termasuk gibah yang diharamkan.
  3. 3- Menyebutkan aib fisik bagian dari gibah.
  4. 4- Al-Qāḍī berkata, "Al-Mazj ialah mencampur dan mengubah dengan menambahkan sesuatu yang lain ke dalamnya. Artinya, andaikan gibah ini dicampurkan ke laut, maka ia akan mengubah keadaannya sekalipun air laut banyak dan melimpah. Lalu bagaimana dengan amalan yang sedikit dicampur dengan gibah?!
  5. 5- Menjelaskan sebagian bentuk kecemburuan yang terjadi di antara istri.
  6. 6- Nabi ﷺ tidak membiarkan kemungkaran.
  7. 7- Mengecilkan kedudukan dunia dan isinya jika dibandingkan dengan rida Allah Ta'ala dan ketidakmurkaan-Nya.
  8. 8- Islam adalah agama akhlak baik; ia mengajak untuk menjaga kehormatan, jangan sampai dirusak dengan perkataan maupun perbuatan karena dapat mewariskan permusuhan dan saling benci di antara umat Islam.
Rujukan

سنن أبي داود (7/ 237) (4875). سنن الترمذي (4/ 275) (2502). مسند أحمد (41/ 433) (24964). بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين، لسليم الهلالي (3/ 25). مرقاة المفاتيح شرح مشكاة المصابيح، للقاري (7/ 3046). التيسير بشرح الجامع الصغير، للمناوي (2/ 339). فيض القدير شرح الجامع الصغير، للمناوي (5/ 411).

Hadis ini di HadeethEnc.com
8 dari 46
46 hadis
  1. Apabila Allah telah mengumpulkan orang-orang terdahulu hingga yang terakhir kelak pada hari Kiamat, maka akan diangkat bendera bagi setiap pengkhianat, lalu dikatakan, 'Ini adalah pengkhianatan polan bin polan.'
  2. Maukah aku beri tahukan kepada kalian tentang dosa-dosa besar yang paling besar?
  3. Kedua penghuninya benar-benar sedang disiksa, dan tidaklah keduanya disiksa dengan sebab perkara besar. Adapun salah satunya, ia terbiasa tidak membersihkan diri dari kencing. Sedangkan orang kedua ialah biasa berjalan menyebarkan adu domba
  4. Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku adalah orang datang pada hari kiamat dengan (pahala) salat, puasa dan zakat. Namun ia datang telah mencela si ini, menuduh si ini, memakan harta si ini, menumpahkan darah si ini dan memukul si ini. Maka orang ini diberi dari kebaikannya, dan orang ini juga diberi dari kebaikannya
  5. Jauhilah tujuh dosa yang membinasakan!
  6. Sungguh aku tahu satu kalimat, kalau ia mengucapkannya niscaya kemarahan yang dirasakannya akan hilang. Kalau saja ia mengucapkan: A'ūżu billāhi minasy-syaiṭān (Aku berlindung kepada Allah dari setan), niscaya kemarahan yang dirasakannya akan hilang
  7. Di antara dusta yang paling besar adalah seseorang mengaku anak kepada selain bapaknya, atau mengaku bermimpi padahal dia tidak bermimpi, atau berkata atas nama Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- apa yang tidak beliau ucapkan.
  8. Engkau telah mengucapkan satu perkataan, andai perkataan itu dicampur (muzija) dengan air laut, niscaya ia akan mencemarinya
  9. Seandainya manusia memiliki dua lembah harta, niscaya ia akan mengejar yang ketiga
  10. Kezaliman itu adalah kegelapan pada hari Kiamat.‎
  11. Tinggalkanlah buruk sangka, karena buruk sangka adalah sedusta-dusta percakapan
  12. Mencaci seorang muslim adalah kefasikan dan memeranginya adalah kekufuran
  13. Tidak akan masuk surga orang yang suka mengadu domba
  14. "Termasuk dosa besar seseorang mencela kedua orang tuanya." Dikatakan, "Apakah mungkin seseorang mencela kedua orang tuanya?" Nabi bersabda, "Ya. Seseorang mencela bapak orang lain sehingga orang itu pun mencela bapaknya, dan mencela ibunya sehingga orang itu pun mencela ibunya sendiri."
  15. Siapa yang menguping pembicaraan satu kaum, sedangkan mereka tidak menyukainya maka akan dituangkan timah cair di kedua telinganya pada hari kiamat
  16. Orang yang paling dimurkai Allah adalah orang yang keras lagi suka berdebat
  17. Sungguh, orang-orang yang suka melaknat tidak akan menjadi saksi dan tidak dapat memberi syafaat kelak di hari Kiamat
  18. Siapa yang merasa angkuh dalam dirinya, bersikap congkak saat berjalan, ia akan menemui Allah dalam keadaan Ia murka kepadanya
  19. Celakalah orang yang berbicara lalu berdusta untuk membuat orang lain tertawa. Celakalah dia, celakalah dia
  20. Jika kalian melihat orang-orang yang suka memuji, maka lemparkanlah tanah ke wajah-wajah mereka
  21. Jauhilah perbuatan zalim, karena sungguh kezaliman itu adalah kegelapan pada hari kiamat. Jauhilah juga sifat kikir, karena kikir telah membinasakan orang-orang sebelum kalian
  22. Sungguh Allah menangguhkan orang yang zalim, tetapi apabila Allah telah menghukumnya, Dia tidak akan melepaskannya
  23. Pengharaman takabur dan sombong, serta penjelasan akibatnya yang jelek
  24. Tiga golongan yang tidak disapa Allah di hari kiamat, tidak disucikan serta tidak dipandang.
  25. Tidak akan masuk surga orang yang dalam hatinya terdapat sifat sombong walaupun sebesar biji sawi
  26. Siapa yang mempelajari suatu ilmu yang seharusnya untuk mencari wajah Allah ﷻ, namun ia tidak mempelajarinya kecuali untuk mendapatkan kesenangan dunia, maka ia tidak akan mencium aroma surga pada hari Kiamat
  27. Apakah kalian tahu siapa orang yang bangkrut itu?
  28. Siapa yang menceritakan dariku sebuah hadis yang dinilai dusta, maka ‎dia adalah satu dari orang-orang yang berdusta.‎
  29. Orang yang pura-pura menghiasi dirinya dengan apa yang sebenarnya tidak ada pada dirinya seperti orang yang memakai dua helai baju palsu
  30. Dua orang yang saling mencaci, apapun yang mereka berdua katakan, maka dosanya bagi orang yang memulai di antara mereka berdua sampai orang yang dianiaya melebihi cacian orang yang memulai.
  31. Jika engkau mencari-cari aib kaum Muslimin, engkau pasti merusak mereka atau engkau hampir merusak mereka.
  32. Seseorang dibawa ke hadapan (Ibnu Mas'ūd), lalu dikatakan padanya, "Ini si fulan, jenggotnya meneteskan khamar." Ia mengatakan, "Sesungguhnya kami dilarang memata-matai, namun jika nampak suatu bukti bagi kami maka kami menghukum berdasarkan itu."
  33. Tidak halal bagi seorang muslim menjauhi saudaranya lebih dari tiga hari. Siapa yang melakukan menjauhi lebih dari tiga hari lalu ia meninggal dunia, maka ia akan masuk neraka.‎
  34. Siapa yang melakukan takhbīb terhadap istri orang (merusak hubungannya dengan suaminya), atau ‎hamba sahayanya, maka ia bukanlah termasuk golongan kami.‎
  35. Siapa yang menjauhi saudaranya selama satu tahun maka ia seperti menumpahkan ‎darahnya.‎
  36. Sesungguhnya setan sudah putus asa akan disembah oleh orang-orang yang salat di Jazirah Arab, akan tetapi ia masih berharap bisa mengadu domba di antara mereka
  37. 'Sesungguhnya Allah akan menyiksa orang-orang yang menyiksa orang lain di dunia.'
  38. Siapa memukul budaknya sebagai hukuman atas kesalahan yang tidak ia lakukan, atau menamparnya, maka kafarat (tebusannya) adalah dengan memerdekakannya.
  39. Kehormatan istri-istri para mujahidin bagi orang-orang yang tidak berjihad itu seperti kehormatan ibu-ibu mereka
  40. “Janganlah seorang laki-laki melihat aurat laki-laki lain, dan jangan pula seorang wanita (melihat) aurat wanita lain!
  41. Rasulullah ﷺ melarang qaza'
  42. Kami sedang bersama Umar, lantas dia berkata, "Kami dilarang memaksakan diri
  43. Siapa yang berdusta dengan mengatasnamakanku secara sengaja, hendaklah ia mengambil tempatnya di neraka
  44. Di antara tanda baiknya keislaman seseorang adalah ia meninggalkan apa yang tidak penting bagi dirinya
  45. Tinggalkan perbuatan itu, karena sangat keji
  46. Jangan kalian melaknatnya. Demi Allah, yang aku ketahu adalah ia mencintai Allah dan Rasul-Nya

Setiap hadis, derajat, penjelasan, dan faedah di sini ditampilkan persis sebagaimana diterbitkan HadeethEnc.com, menurut ketentuan penerbitan ulangnya. Derajat itu tidak menyebut siapa yang menilainya. Terjemahan dan penjelasan adalah karya para penyusunnya, dan sebagian menyebutkan hukum; para peninjau Sabīl belum memeriksanya. Hadis berbahasa Arablah teksnya. Sumber: HadeethEnc.com