Abu Sa'īd al-Khudriy -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan dari Nabi ﷺ, bahwa beliau bersabda, "Sesungguhnya dunia itu manis nan hijau dan sesungguhnya Allah menjadikan kalian sebagai khalifah padanya lalu mengawasi bagaimana kalian berbuat. Sebab itu, berhati-hatilah terhadap dunia dan berhati-hatilah terhadap wanita, karena sesungguhnya fitnah pertama pada Bani Israil adalah terkait wanita."
HR. MuslimDerajatSahih
Penjelasan
Nabi ﷺ menerangkan bahwa dunia itu rasanya manis dan rupanya hijau, sehingga manusia dapat tertipu dan terlena di dalamnya lalu menjadikannya sebagai tujuan yang paling besar. Beliau juga menjelaskan bahwa Allah Ta'ala menjadikan sebagian kita sebagai khalifah (pengganti) bagi yang lain dalam kehidupan dunia ini. Allah akan melihat bagaimana kita berbuat; apakah kita melaksanakan ketaatan kepada-Nya, ataukah kita bermaksiat? Kemudian beliau bersabda: Waspadalah! Jangan sampai kalian tertipu oleh dunia dan perhiasannya sehingga ia membuat kalian meninggalkan perintah Allah dan terjerumus pada larangan-Nya. Di antara fitnah dunia paling besar yang wajib diwaspadai ialah fitnah wanita karena merupakan fitnah pertama yang menjerumuskan Bani Israel.
Faedah
1- Anjuran untuk selalu bertakwa dan tidak tertipu dengan pemandangan dunia dan perhiasannya.
2- Waspada agar tidak terfitnah dengan wanita seperti memandang mereka atau meremehkan campur baur mereka dengan laki-laki asing dan lainnya.
3- Fitnah wanita termasuk fitnah dunia yang paling besar.
4- Mengambil pelajaran dan ibrah dari umat-umat terdahulu karena apa yang menimpa Bani Israel dapat menimpa umat yang lain.
5- Fitnah wanita, jika merupakan istri, bisa berupa membebani suami dengan nafkah yang dia tidak mampu memenuhinya, menyibukkannya dari mengejar perkara-perkara agama dan membawanya terlena mengejar dunia. Adapun jika merupakan wanita ajnabi (bukan mahram), fitnahnya ialah dengan menarik dan menyelewengkannya dari kebenaran ketika keluar dan ikhtilat, terutama jika mereka mengumbar diri dan bertabaruj. Hal ini dapat menjerumuskan ke dalam zina dengan tahapan-tahapannya. Oleh karena itu, seorang mukmin harus berlindung kepada Allah dan berdoa agar selamat dari fitnah mereka.
Rujukan
صحيح مسلم (4/ 2098) (2742).
بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين، لسليم الهلالي (1/ 146).
كنوز رياض الصالحين، لمجموعة من الباحثين (2/ 173).
نزهة المتقين شرح رياض الصالحين، لمجموعة من الباحثين (1/ 103).
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan: Rasulullah ﷺ bersabda, "Dunia itu penjara bagi mukmin dan surga bagi orang kafir."
HR. MuslimDerajatSahih
Penjelasan
Nabi ﷺ mengabarkan bahwa kehidupan dunia ini bagi orang beriman ibarat penjara karena ia harus terikat dengan beban-beban syariat berupa mengerjakan perintah dan meninggalkan larangan. Namun ketika meninggal dunia, barulah ia bebas dari itu semuanya dan berpindah kepada kenikmatan abadi yang telah Allah Ta'ala siapkan untuknya. Sebaliknya, bagi orang kafir, dunia itu ibarat surga karena ia bisa mengerjakan semua yang diinginkan oleh jiwanya serta memperturutkan semua ajakan hawa nafsunya. Namun apabila meninggal dunia, ia beralih kepada siksa yang telah Allah Ta'ala siapkan untuknya di hari Kiamat.
Faedah
1- An-Nawawi berkata, "Setiap mukmin di dunia terpenjara dan terkekang dari segala syahwat yang diharamkan maupun dimakruhkan. Ia pun dibebani untuk menunaikan berbagai ketaatan yang terasa berat. Namun, ketika ia meninggal dunia, ia terbebas dari semua itu dan beralih menuju kenikmatan abadi serta ketenangan sempurna yang telah Allah Ta'ala siapkan baginya. Adapun orang kafir, di dunia ia bisa meraih apa yang ia inginkan, meski sebenarnya hanya sedikit dan bercampur kesusahan. Tetapi ketika meninggal dunia, ia justru berpindah menuju azab yang kekal dan penderitaan yang tiada akhir."
2- As-Sindi berkata, "Sabda beliau 'penjara bagi mukmin', bahwa sekalipun ia dalam kenikmatan, tetap saja surga itu lebih baik baginya. Sedangkan sabda beliau 'surga bagi orang kafir', bahwa sekalipun ia dalam kesulitan, tetap saja neraka itu lebih buruk baginya.
3- Hinanya dunia bagi Allah Ta'ala.
4- Dunia adalah negeri ujian dan cobaan bagi orang beriman.
5- Orang kafir itu telah menyegerakan surganya di dunia sehingga ia dihukum dengan dihalangi dari surga dan kenikmatan akhirat.
Rujukan
صحيح مسلم (4/ 2272) (2956).
بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين، لسليم الهلالي (1/ 535).
نزهة المتقين شرح رياض الصالحين، لمجموعة من الباحثين (1/ 419).
شرح رياض الصالحين، لابن عثيمين (3/ 367).
موسوعة فقه القلوب، لمحمد التويجري (4/ 3471).
كتاب العلم، لابن عثيمين (ص37).
عن سهل بن سعد الساعدي ـرضي الله عنه- قَالَ رَسُول اللَّه -صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم-: «لو كانت الدنيا تَعدل عند الله جَناح بَعوضة، ما سَقَى كافراً منها شَرْبَة ماء».
Dari Sahal bin Sa'ad As-Sā'idy -raḍiyallāhu 'anhu-, dia berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Seandainya dunia di sisi Allah nilainya sebanding dengan sayap lalat, Dia tidak akan memberi minum orang kafir walau seteguk air."
Diriwayatkan oleh TirmiżiDerajatHadis sahih
Penjelasan
Hadis ini menjelaskan tentang hina dan tidak adanya nilai dunia di sisi Allah. Seandainya ia memiliki nilai walau sekecil apapun di sisi Allah -Ta'ālā- niscaya Dia tidak akan memberi minum orang kafir walau seteguk air, apalagi diberikan kenikmatan dan kelezatan di dalamnya. Karena itu, dunia di sisi Allah -Ta'ālā- sangat rendah. Berbeda dengan akhirat, sesungguhnya dia adalah tempat kenikmatan abadi bagi orang beriman yang murni hanya untuk mereka dan bukan untuk orang kafir. Karena itu, selayaknya bagi orang beriman mengetahui hakikat dunia dan tidak tunduk padanya, karena dunia hanya tempat lewat, bukan tempat menetap. Cukuplah mereka mengambilnya sebatas yang dapat mereka jadikan bekal untuk akhirat yang merupakan tempat menetap. Allah -Ta'ālā- berfirman, "Dan apa saja yang diberikan kepadamu, maka itu adalah kenikmatan hidup duniawi dan perhiasannya; sedang apa yang di sisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal. Maka apakah kamu tidak memahaminya? Maka apakah orang yang Kami janjikan kepadanya suatu janji yang baik (surga) lalu ia memperolehnya, sama dengan orang yang Kami berikan kepadanya kenikmatan hidup duniawi; Kemudian dia pada hari kiamat termasuk orang-orang yang di seret (ke dalam neraka)."
Rujukan
كنوز رياض الصالحين أ. د . حمد بن ناصر بن عبد الرحمن العمار - دار كنوز اشبيليا ـ الطبعة الأولى : 1430 هـ.
بهجة الناظرين - الشيخ: سليم بن عيد الهلالي - دار ابن الجوزي.
نزهة المتقين - د . مصطفى سيعد الخن، د. مصطفى البغا، محي الدين مستو، علي الشرجبي، محمد أمين لطفي، مؤسسة الرسالة ، بيروت - الطبعة الأولى : 1397 هـ 1977 م الطبعة الرابعة عشر 1407هـ 1987م.
شرح رياض الصالحين - المؤلف: محمد بن صالح بن محمد العثيمين - الناشر: دار الوطن للنشر، الرياض
الطبعة: 1426 هـ.
رياض الصالحين د. ماهر بن ياسين الفحل - الناشر: دار ابن كثير للطباعة والنشر والتوزيع، دمشق - بيروت
الطبعة: الأولى، 1428 هـ - 2007 م.
صحيح مسلم- مسلم بن الحجاج القشيري النيسابوري - المحقق: محمد فؤاد عبد الباقي
الناشر: دار إحياء التراث العربي - بيروت.
سنن الترمذي- المؤلف: محمد بن عيسى الترمذي، أبو عيسى - تحقيق وتعليق: أحمد محمد شاكر (جـ 1، 2) ومحمد فؤاد عبد الباقي (جـ 3) وإبراهيم عطوة عوض المدرس في الأزهر الشريف (جـ 4، 5) الناشر: شركة مكتبة ومطبعة مصطفى البابي الحلبي - مصر - الطبعة: الثانية، 1395 هـ - 1975 م.
صحيح وضعيف سنن الترمذي - المؤلف: محمد ناصر الدين الألباني- مصدر الكتاب: برنامج منظومة التحقيقات الحديثية - المجاني - من إنتاج مركز نور الإسلام لأبحاث القرآن والسنة بالإسكندرية
تيسير الكريم الرحمن في تفسير كلام المنان - المؤلف: عبد الرحمن بن ناصر بن عبد الله السعدي - المحقق: عبد الرحمن بن معلا اللويحق - الناشر: مؤسسة الرسالة -الطبعة: الأولى 1420هـ -2000 م.
Ḥakīm bin Ḥizām -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan: Aku pernah meminta kepada Rasulullah ﷺ, lalu beliau memberiku. Aku minta lagi, beliau pun memberiku. Selanjutnya beliau bersabda, "Wahai Ḥakīm, sesungguhnya harta itu sesuatu yang hijau dan manis. Siapa mengambilnya dengan jiwa dermawan, ia akan diberi keberkahan padanya. Sebaliknya, siapa yang mengambilnya dengan jiwa tamak, niscaya ia tidak akan diberi keberkahan padanya. Ia seperti orang yang makan tetapi tidak kenyang. Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah." Ḥakīm berkata, "Wahai Rasulullah, demi Tuhan yang mengutusmu dengan kebenaran, aku tidak akan minta apa pun kepada seseorang lagi setelahmu sampai aku berpisah dengan dunia." Lalu Abu Bakar -raḍiyallāhu 'anhu- mengundang Ḥakīm untuk memberinya pemberian, tapi Ḥakīm menolak untuk menerima pemberian apa pun darinya. Kemudian Umar -raḍiyallāhu 'anhu- juga mengundangnya untuk memberinya pemberian, tapi ia juga enggan menerimanya. Lantas Umar berkata, "Wahai kaum Muslimin, aku telah menawarinya hak yang telah Allah bagikan kepadanya dari harta fai, namun ia menolak untuk mengambil haknya." Ḥakīm memang tidak pernah meminta kepada siapa pun setelah Nabi ﷺ hingga ia meninggal dunia.
Muttafaq 'alaihDerajatSahih
Penjelasan
Ḥakīm bin Ḥizām -raḍiyallāhu 'anhu- meminta sebagian harta dunia kepada Nabi ﷺ lalu beliau memberinya. Kemudian sekali lagi ia minta kepada beliau, lalu beliau pun memberinya. Kemudian Nabi ﷺ bersabda kepadanya, "Wahai Ḥakīm, harta itu sesuatu yang disukai dan diinginkan. Siapa yang mendapat harta tanpa memintanya lalu mengambilnya tanpa ketamakan dan memelas, ia akan diberkahi padanya. Sebaliknya, siapa yang mengambilnya dengan ketamakan, maka ia tidak akan diberkahi padanya. Perumpamaannya seperti orang yang makan namun tidak kenyang. Tangan di atas yang memberi lebih baik di sisi Allah daripada tangan yang di bawah yang meminta."
Ḥakīm berkata, "Aku pun berkata, Wahai Rasulullah, demi Tuhan yang telah mengutusmu membawa kebenaran, aku tidak akan mengurangi harta siapa pun dengan meminta kepadanya setelahmu, sampai aku berpisah dengan dunia." Sebab itu, saat Khalifah Abu Bakar -raḍiyallāhu 'anhu- mengundang Ḥakīm untuk diberikan pemberian, ia enggan untuk menerima apa pun. Kemudian ketika Amirul Mukminin Umar -raḍiyallāhu 'anhu- mengundangnya untuk diberikan pemberian, ia pun tetap menolak untuk menerimanya. Umar lantas berkata, "Wahai kaum muslimin, sungguh, aku telah menawarkan haknya kepadanya sebagaimana yang telah Allah peruntukkan kepadanya dari harta fai yang diperoleh oleh kaum muslimin dari orang kafir tanpa melalui perang maupun jihad, tetapi ia menolak untuk mengambilnya." Benar saja, Ḥakīm tidak pernah mengurangi harta siapa pun dengan meminta kepadanya setelah Nabi ﷺ sampai ia meninggal dunia. Semoga Allah meridainya.
Faedah
1- Mengambil dan mengumpulkan harta dengan cara-cara yang disyariatkan tidak bertentangan dengan sikap zuhud terhadap dunia karena hakikat zuhud itu adalah jiwa dermawan dan tidak menggantungkan hati pada harta.
2- Menjelaskan tingginya kedermawanan Nabi ﷺ, yaitu beliau memberi pemberian layaknya orang yang tidak takut miskin selamanya.
3- Berusaha memberikan nasihat serta gigih berbagi manfaat kepada sesama saudara saat memberikan pertolongan karena jiwa selalu terbuka menerima nasihat melalui kata-kata baik.
4- Menjaga kehormatan diri agar tidak meminta-minta kepada orang dan menjauhkan diri darinya, apalagi tanpa ada keperluan.
5- Celaan terhadap sikap tamak untuk memiliki harta dan suka minta-minta.
6- Ketika orang yang meminta berulang-ulang meminta, tidak mengapa ia ditolak dan tidak diberikan, kemudian dinasihati, serta diajak untuk menjaga kehormatan diri dan tidak tamak untuk mendapat harta.
7- Tidak ada yang berhak mengambil apa pun dari baitulmal kecuali setelah ia diberikan oleh pemerintah. Adapun sebelum ganimah dibagi, hal itu tidak menjadi haknya.
8- Boleh meminta ketika butuh.
9- Ibnu Ḥajar berkata, "Di dalam hadis ini terkandung pelajaran agar seorang pemimpin tidak menerangkan kepada orang yang meminta tentang keburukan perbuatan meminta itu kecuali setelah keperluannya ditunaikan supaya pesannya dapat menyentuh hatinya dan ia tidak mengira hal tersebut adalah karena keperluannya tidak diberikan."
10- Keutamaan Ḥakīm -raḍiyallāhu 'anhu- serta sikapnya yang menepati janjinya kepada Allah dan Rasulullah ﷺ.
11- Isḥāk bin Rāhawaih -raḥimahullāh- berkata, "Ketika Ḥakīm -raḍiyallāhu 'anhu- meninggal dunia, ia termasuk salah satu kaum Quraisy yang paling banyak harta."
Rujukan
صحيح البخاري (4/ 5) (2750).
صحيح مسلم (2/ 717) (1035).
كنوز رياض الصالحين، لمجموعة من الباحثين (8/ 13).
بهجة الناظرين، لسليم الهلالي (1/ 584).
نزهة المتقين، لمجموعة من الباحثين (1/ 459).
شرح رياض الصالحين، لابن عثيمين (3/ 386).
منار القاري، لحمزة قاسم (3/ 45).
المنهاج شرح صحيح مسلم، للنووي (7/ 126).
إكمال المعلم بفوائد مسلم، للقاضي عياض (3/ 566).
عن كعب بن عياض رضي الله عنه قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: «إن لكل أُمَّة فتنة، وفِتنة أُمَّتي: المال».
Dari Ka'ab bin 'Iyāḍ -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, Aku pernah mendengar Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Sesungguhnya setiap umat itu ada fitnahnya, dan fitnah umatku adalah harta."
Diriwayatkan oleh Tirmiżi - Diriwayatkan oleh Nasā`i - Diriwayatkan oleh AhmadDerajatHadis sahih
Penjelasan
Ka'ab bin 'Iyāḍ -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, Aku pernah mendengar Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Sesungguhnya setiap umat itu ada fitnahnya," yaitu hal-hal yang menjerumuskan mereka ke dalam kesesatan dan kemaksiatan. "dan fitnah umatku adalah harta." Karena mereka mengumpulkannya untuk mewujudkan orientasi duniawi dan menghalangi kesempurnaan akhirat. Bermain-main dengan harta dapat melalaikan hati dari melaksanakan ketaatan dan melenakan diri dari akhirat.
Rujukan
كنوز رياض الصالحين، أ.د. حمد بن ناصر بن عبد الرحمن العمار، دار كنوز اشبيليا، الطبعة الأولى : 1430 هـ.
بهجة الناظرين، سليم بن عيد الهلالي، دار ابن الجوزي.
نزهة المتقين، د. مصطفى سعيد الخن، د. مصطفى البغا، محي الدين مستو، علي الشرجبي، محمد أمين لطفي، مؤسسة الرسالة، بيروت، الطبعة الأولى: 1397 هـ 1977 م، الطبعة الرابعة عشر 1407 هـ 1987م.
التعليقات الحسان على صحيح ابن حبان وتمييز سقيمه من صحيحه، وشاذه من محفوظه، مؤلف الأصل: محمد بن حبان أبو حاتم الدارمي البُستي، ترتيب: الأمير أبو الحسن علي بن بلبان بن عبد الله، علاء الدين الفارسي الحنفي، مؤلف التعليقات الحسان: أبو عبد الرحمن محمد ناصر الدين الألباني، الناشر: دار با وزير للنشر والتوزيع، جدة - المملكة العربية السعودية، الطبعة: الأولى، 1424 هـ - 2003 م.
رياض الصالحين، د. ماهر بن ياسين الفحل، الناشر: دار ابن كثير للطباعة والنشر والتوزيع، دمشق - بيروت، الطبعة: الأولى، 1428 هـ - 2007 م.
صحيح مسلم، المؤلف: مسلم بن الحجاج أبو الحسن القشيري النيسابوري، المحقق: محمد فؤاد عبد الباقي، الناشر: دار إحياء التراث العربي - بيروت.
سنن الترمذي، المؤلف: محمد بن عيسى بن سَوْرة بن موسى بن الضحاك الترمذي، تحقيق وتعليق: أحمد محمد شاكر (جـ 1، 2) ومحمد فؤاد عبد الباقي (جـ 3) وإبراهيم عطوة عوض المدرس في الأزهر الشريف (جـ 4، 5)، الناشر: شركة مكتبة ومطبعة مصطفى البابي الحلبي - مصر، الطبعة: الثانية، 1395 هـ - 1975 م.
صحيح وضعيف سنن الترمذي، المؤلف: محمد ناصر الدين الألباني، مصدر الكتاب: برنامج منظومة التحقيقات الحديثية - المجاني - من إنتاج مركز نور الإسلام لأبحاث القرآن والسنة بالإسكندرية.
مسند الإمام أحمد بن حنبل، المؤلف: أبو عبد الله أحمد بن محمد بن حنبل بن هلال بن أسد الشيباني، المحقق: شعيب الأرناؤوط - عادل مرشد، وآخرون، إشراف: د عبد الله بن عبد المحسن التركي، الناشر: مؤسسة الرسالة، الطبعة: الأولى، 1421 هـ - 2001 م.
مشكاة المصابيح، المؤلف: محمد بن عبد الله الخطيب العمري أبو عبد الله التبريزي، المحقق: محمد ناصر الدين الألباني، الناشر: المكتب الإسلامي - بيروت
الطبعة: الثالثة، 1985.
صحيح الجامع الصغير وزياداته، المؤلف: أبو عبد الرحمن محمد ناصر الدين الألباني، الناشر: المكتب الإسلامي.
عن عمرو بن عوف الأنصاري رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم بعث أبا عبيدة بن الجراح رضي الله عنه إلى البحرين يأتي بِجِزْيَتِهَا، فَقدِم بمالٍ من البحرين، فسمعت الأنصار بقدوم أبي عبيدة، فَوَافَوْا صلاة الفجر مع رسول الله صلى الله عليه وسلم فلما صلى رسول الله صلى الله عليه وسلم انصرف، فَتَعَرَّضُوا له، فتَبسَّم رسول الله صلى الله عليه وسلم حين رآهم، ثم قال: «أَظُنُّكُمْ سَمِعتم أن أبا عبيدة قَدِم بشيءٍ من البحرين؟» فقالوا: أجل، يا رسول الله، فقال: «أبشروا وأمِّلوا ما يَسُرُّكُم، فوالله ما الفَقرَ أخشى عليكم، ولكني أخَشى أن تُبْسَط الدنيا عليكم كما بُسِطَت على من كان قبلكم، فتَنَافسوها كما تَنَافسوها، فَتُهْلِكَكُم كما أهْلَكَتْهُمْ».
Dari Amru bin Auf Al-Anṣāri -raḍiyallāhu 'anhu- bahwa sesungguhnya Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengutus Abu Ubaidah bin Al-Jarrāh -raḍiyallāhu 'anhu- ke Bahrain untuk mengambil jizyah (upeti). Ia pulang dengan membawa harta dari Bahrain. Lantas orang-orang Ansar mendengar kedatangan Abu Ubaidah, mereka pun melaksanakan salat Fajar bersama Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Usai salat, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- beranjak pergi. Ternyata orang-orang Ansar menghadang beliau. Beliau tersenyum saat melihat mereka, lalu bersabda, "Aku kira kalian sudah mendengar kedatangan Abu Ubaidah dari Bahrain dengan membawa sesuatu?" Mereka menjawab, "Tentu saja, wahai Rasulullah." Beliau bersabda, "Bergembiralah dan berharaplah dengan sesuatu yang menyenangkan kalian. Demi Allah, bukan kefakiran yang aku khawatirkan menimpa kalian, tetapi yang aku khawatirkan ialah terbentangnya dunia pada kalian sebagaimana dibentangkan kepada orang-orang sebelum kalian, sehingga kalian berlomba-lomba sebagaimana mereka berkompetisi, lalu dunia membinasakan kalian sebagaimana membinasakan mereka."
Muttafaq 'alaihDerajatHadis sahih
Penjelasan
Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengutus Abu Ubaidah-raḍiyallāhu 'anhu- ke Bahrain untuk mengambil jizyah dari penduduknya. Tatkala Abu Ubaidah-raḍiyallāhu 'anhu- datang ke Madinah dan orang-orang Ansar mendengar hal itu, mereka pun datang kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- lalu berkumpul disisi beliau pada waktu salat Fajar. Ketika beliau beranjak pulang dari salat, mereka menghadangnya. Beliau tersenyum karena mereka datang menginginkan harta. Beliau bersabda kepada mereka, "Barangkali kalian telah mendengar Abu Ubaidah datang dari Bahrain?" Mereka menjawab, "Tentu saja wahai Rasulullah. Kami mendengar hal itu dan kami datang untuk mendapatkan jatah darinya. Lantas beliau menyampaikan kabar gembira dengan apa yang mereka harapkan. Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengabarkan kepada mereka bahwa beliau tidak mengkhawatirkan kefakiran yang menimpa mereka, karena biasanya kefakiran itu lebih mendekatkan hamba pada kebenaran daripada kekayaan. Tetapi beliau khawatir dunia akan terbentang untuk mereka lalu mereka memperebutkannya, sehingga seseorang tidak lagi merasa cukup dengan apa yang telah diperolehnya, namun ingin mendapatkan yang lebih banyak dan banyak lagi dengan berbagai cara untuk mendapatkan harta, tanpa mempedulikan halal atau haram. Tidak ada keraguan bahwa ini adalah bagian dari kompetisi tercela dalam mengejar dunia dan menjauhi akhirat sehingga ia pun akan binasa sebagaimana orang-orang terdahulu telah binasa.
Rujukan
- صحيح البخاري، للإمام محمد بن إسماعيل البخاري، تحقيق محمد الناصر، دار طوق النجاة.
- صحيح مسلم، للإمام مسلم بن الحجاج، تحقيق محمد فؤاد عبد الباقي، دار إحياء التراث العربي.
- بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين؛ تأليف سليم الهلالي، دار ابن الجوزي- الطبعة الأولى1418ه
- نزهة المتقين شرح رياض الصالحين؛ تأليف د. مصطفى الخِن وغيره، مؤسسة الرسالة-بيروت، الطبعة الرابعة عشرة، 1407هـ.
- كنوز رياض الصالحين»، لحمد بن ناصر العمار، دار كنوز إشبيليا- الطبعة الأولى1430ه.
- دليل الفالحين لطرق رياض الصالحين، لمحمد علي بن محمد بن علان بن إبراهيم البكري الصديقي الشافعي اعتنى بها: خليل مأمون شيحا، دار المعرفة -الطبعة الرابعة 1425ه.
- شرح رياض الصالحين؛ للشيخ محمد بن صالح العثيمين، مدار الوطن، الرياض، 1426هـ.
- المنهاج شرح صحيح مسلم بن الحجاج /أبو زكريا يحيى بن شرف النووي: دار إحياء التراث العربي – بيروت الطبعة: الثانية، 1392.
Anas bin Malik -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ berdoa, Allāhumma lā ‘aisya illā ‘aisyul-ākhirah, fa-gfir lil-anṣāri wa al-muhājirah
Artinya: "Ya Allah, tidak ada kehidupan yang hakiki kecuali kehidupan akhirat. Sebab itu, ampunilah kaum Ansar dan Muhajirin."
Muttafaq 'alaihDerajatSahih
Penjelasan
Nabi ﷺ mengabarkan bahwa tidak ada kehidupan hakiki kecuali kehidupan akhirat di bawah naungan rida, rahmat, dan surga Allah, karena kehidupan dunia akan sirna, sedangkan kehidupan akhirat itulah yang kekal abadi. Kemudian beliau ﷺ berdoa memohonkan ampunan, pemuliaan serta kebaikan untuk kaum Ansar yang telah menampung dan membela Nabi ﷺ dan kaum Muhajirin, bahkan membagikan kepada mereka harta mereka. Beliau juga mendoakan kaum Muhajirin yang telah meninggalkan negeri dan harta kekayaan mereka demi mendapatkan karunia dan rida Allah.
Faedah
1- Sikap zuhud Nabi ﷺ terhadap dunia dan kecenderungannya pada akhirat.
2- Nabi ﷺ mangajak umatnya untuk bersikap zuhud terhadap harta kenikmatan dunia yang fana.
3- Menjelaskan keutamaan Muhajirin dan Ansar, yaitu mereka mendapatkan doa Nabi ﷺ yang memohonkan ampunan untuk mereka.
4- Seorang hamba tidak boleh bahagia secara berlebihan lantaran dunia yang diperolehnya, karena dunia itu akan sirna secara cepat dengan segala kesusahan yang ada di dalamnya. Negeri abadi nan kekal itu adalah akhirat.
Rujukan
صحيح البخاري (8/ 88) (6413).
صحيح مسلم (3/ 1431) (1805).
مرقاة المفاتيح، لعلي القاري (7/ 3016).
فتح الباري شرح صحيح البخاري، لابن حجر (11/ 231).
شرح رياض الصالحين، لابن عثيمين (3/ 362).
كنوز رياض الصالحين، لمجموعة من الباحثين (7/ 223).
بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين، لسليم الهلالي (1/ 529).
نزهة المتقين شرح رياض الصالحين، لمجموعة من الباحثين (1/ 412).
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Aku telah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, "Ketahuilah bahwa dunia itu terlaknat, terlaknat pula apa yang ada di dalamnya, kecuali zikir kepada Allah Ta'ala dan apa yang mengikutinya, serta orang yang alim dan yang menuntut ilmu."
HR. Tirmizi dan Ibnu MajahDerajatHasan
Penjelasan
Nabi ﷺ mengabarkan bahwa dunia dan semua isinya dibenci, dicela, ditinggalkan, dan dijauhkan oleh Allah. Demikian pula semua yang ada di dalamnya ditinggalkan dan tidak terpuji, karena dunia dan semua isinya menyibukkan dan menjauhkan dari Allah Ta'ala. Dikecualikan zikir kepada Allah dan semua yang mendekatinya atau semisalnya yang dicintai oleh Allah, atau orang memiliki ilmu syariat yang diajarkannya kepada manusia atau orang yang mempelajarinya.
Faedah
1- Tidak boleh melaknat dunia secara umum karena adanya hadis-hadis yang melarang hal itu, tetapi boleh melaknat perkara yang dapat menjauhkan dari Allah Ta'ala dan yang menyibukkan dari ketaatan kepada-Nya.
2- Semua yang ada di dunia adalah permainan dan hal yang sia-saia, kecuali zikir kepada Allah dan semua yang menjadi sebab dan sarana untuk itu.
3- Menjelaskan keutamaan ilmu, orang berilmu, dan orang-orang yang menuntutnya.
4- Ibnu Taimiyah berkata, "Kenikmatan dunia yang dicela adalah perkara haram yang tidak dibenarkan, atau perkara halal yang dilakukan dengan bermegah-megah dan bermewah-mewah serta yang dimiliki dengan tujuan berbangga dan menyombongkan diri. Itulah yang dibenci oleh orang yang berakal."
Rujukan
سنن الترمذي (4/ 151) (2322).
سنن ابن ماجه (5/ 231) (4112).
بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين، لسليم الهلالي (1/ 542).
نزهة المتقين شرح رياض الصالحين، لمجموعة من الباحثين (1/ 424).
كنوز رياض الصالحين، لمجموعة من الباحثين (7/ 325).
شرح رياض الصالحين، لابن عثيمين (3/ 374).
Setiap hadis, derajat, penjelasan, dan faedah di sini ditampilkan persis sebagaimana diterbitkan HadeethEnc.com, menurut ketentuan penerbitan ulangnya. Derajat itu tidak menyebut siapa yang menilainya. Terjemahan dan penjelasan adalah karya para penyusunnya, dan sebagian menyebutkan hukum; para peninjau Sabīl belum memeriksanya. Hadis berbahasa Arablah teksnya. Sumber: HadeethEnc.com