Langsung ke konten
Hadis dengan penjelasan

Adab Salam dan Meminta Izin

24 hadis

Seandainya seorang laki-laki -atau seseorang- mengintipmu tanpa seizinmu, lalu engkau melemparnya dengan kerikil hingga engkau membuat matanya tercungkil, maka engkau tak berdosa.

عن أبي هُريرة -رضي اللهُ عنه- مرفوعًا: «لو أن رجلا -أو قال: امْرَأً- اطَّلَعَ عليك بغير إِذْنِكَ؛ فَحَذَفْتَهُ بحَصَاةٍ، فَفَقَأْتَ عينه: ما كان عليك جُنَاحٌ».
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- secara marfū', "Seandainya seorang laki-laki -atau seseorang- mengintipmu tanpa seizinmu, lalu engkau melemparnya dengan kerikil hingga engkau membuat matanya tercungkil, maka engkau tak berdosa."
Muttafaq 'alaihDerajatHadis sahih
Penjelasan

Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengabarkan bahwa jika seseorang mengintip orang lain tanpa seizinnya dari balik pintunya, dari atas dindingnya atau dari tempat lain, lalu dia melemparkan kerikil dan mengenai matanya hingga tercungkil atau menusuk matanya dengan besi, maka ia tak ada dosa dan kisas bagi orang yang melakukan kerusakan tersebut. Sebab, orang yang memandang (mengintip) itu sendiri yang berlaku aniaya dan jahat dengan perbuatannya itu.

Rujukan

1- صحيح البخاري، محمد بن إسماعيل البخاري الجعفي، تحقيق: محمد زهير الناصر، دار طوق النجاة (مصورة عن السلطانية بإضافة ترقيم: محمد فؤاد عبد الباقي)، الطبعة: الأولى 1422هـ. 2- صحيح مسلم، مسلم بن الحجاج القشيري النيسابوري، تحقيق محمد فؤاد عبد الباقي، دار إحياء التراث العربي، بيروت، الطبعة: 1423هـ. 3- تيسير العلام شرح عمدة الأحكام، عبد الله بن عبد الرحمن البسام، تحقيق: محمد صبحي حلاق، مكتبة الصحابة، الإمارات، مكتبة التابعين، القاهرة، الطبعة: العاشرة 1426هـ. 4- تأسيس الأحكام، أحمد بن يحيى النجمي، دار علماء السلف، الطبعة: الثانية 1414هـ.

Hadis ini di HadeethEnc.com

Aku akan menjadi penjaga pintu Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- hari ini. Lantas datang Abu Bakar -raḍiyallāhu 'anhu- lalu ia mendorong pintu. Aku bertanya, "Siapa ini?" Ia menjawab, "Abu Bakar." Aku katakan, "Sebentar." Selanjutnya aku pergi lalu aku katakan, "Wahai Rasulullah, ini Abu Bakar datang meminta izin (masuk)." Beliau bersabda, "Izinkan dia dan berilah kabar gembira Surga untuknya."

عن أبي موسى الأشعري رضي الله عنه أَنَّهُ تَوَضَّأ في بيتِهِ، ثُمَّ خَرَج، فقَال: لَأَلْزَمَنَّ رسُول الله صلى الله عليه وسلم ولَأَكُونَنَّ مَعَهُ يَومِي هَذَا، فَجَاءَ الْمَسْجِدَ، فَسَألَ عَنِ النبيِّ -صلَّى الله عليه وسلَّم- فَقَالُوا وَجَّهَ هَاهُنَا، قال: فَخَرَجْتُ عَلَى أَثَرِهِ أَسأَلُ عنْهُ، حتَّى دخَلَ بِئْرَ أَرِيسٍ، فَجَلَستُ عِندَ البَابِ حتَّى قَضَى رسُولُ الله -صلَّى الله عليه وسلَّم- حَاجَتَهُ وَتَوَضَّأ، فَقُمتُ إِلَيهِ، فَإِذَا هُوَ قَدْ جَلَسَ عَلَى بِئْرِ أَرِيسٍ وَتَوَسَّطَ قُفَّهَا، وكَشَفَ عَنْ سَاقَيهِ وَدلَّاهُمَا فِي البِئرِ، فَسَلَّمتُ علَيه ثُمَّ انْصَرَفْتُ، فَجَلَسْتُ عِند البَابِ، فقُلتُ: لأَكُونَنَّ بَوَّابَ رسُول الله -صلَّى الله عليه وسلَّم- اليَومَ، فجَاءَ أَبُو بَكر -رضِيَ الله عنْهُ- فَدَفَعَ البَابَ، فقُلتُ: مَنْ هَذَا؟ فَقَالَ: أَبُو بَكْرٍ، فقُلتُ: عَلَى رِسْلِكَ، ثُمَّ ذَهَبتُ، فَقُلْتُ: يَا رسُولَ الله، هَذَا أبُو بكرٍ يَسْتَأذِنُ، فقَالَ: «ائْذَنْ لَهُ وَبَشِّرْهُ بِالجَنَّةِ» فَأَقْبَلْتُ حتَّى قُلتُ لَأَبِي بَكْرٍ: ادْخُلْ وَرَسُولُ الله -صلَّى الله عليه وسلَّم- يُبَشِّرُكَ بِالْجَنَّةِ، فَدَخَلَ أَبُو بَكرٍ حَتَّى جَلَسَ عَن يَمِينِ النبيِّ -صلَّى الله عليه وسلَّم- مَعَهُ فِي القُفِّ، ودَلَّى رِجْلَيهِ فِي البِئْرِ كَمَا صَنَعَ رَسُولُ الله -صلَّى الله عليه وسلَّم- وَكَشَفَ عَنْ سَاقَيهِ، ثُمَّ رَجَعْتُ وَجَلَسْتُ، وَقَدْ تَرَكْتُ أَخِي يَتَوَضَّأ وَيَلْحَقُنِي، فَقُلْتُ: إِنْ يُرِدِ اللهُ بِفُلاَنٍ - يُريِدُ أَخَاهُ - خَيرًا يَأتِ بِهِ، فَإِذَا إِنسَانٌ يُحَرِّكُ البَّابَ، فقُلتُ: مَنْ هَذَا؟ فقَالَ: عُمَرُ بن الخَطَّابِ، فقُلتُ: عَلَى رِسْلِكَ، ثُمَّ جِئْتُ إِلَى رسُول الله -صلَّى الله عليه وسلَّم- فَسَلَّمْتُ عَلَيهِ وقُلْتُ: هَذَا عُمَرُ يَسْتَأْذِنُ؟ فَقَال: «ائْذَنْ لَهُ وَبَشِّرْهُ بِالجَنَّةِ» فَجِئْتُ عُمَرَ، فَقُلتُ: أَذِنَ وَيُبَشِّرُكَ رَسُولُ الله -صلَّى الله عليه وسلَّم- بِالجَنَّةِ، فَدَخَلَ فَجَلَسَ مَعَ رسُولِ الله -صلَّى الله عليه وسلَّم- فِي القُفِّ عَنْ يَسَارِهِ وَدَلَّى رِجْلَيهِ فِي البِئْرِ، ثُمَّ رَجَعْتُ فَجَلَسْتُ، فَقُلتُ: إِن يُرِدِ اللهُ بِفُلاَنٍ خَيرًا -يعنِي أَخَاهُ- يَأتِ بِهِ، فَجَاءَ إِنسَانٌ فَحَرَّكَ البَابَ، فقُلتُ: مَنْ هَذَا؟ فقَالَ: عُثمَانُ بنُ عَفَّان، فقُلتُ: عَلَى رِسْلِكَ، وَجِئتُ النبِيَّ -صلَّى الله عليه وسلَّم- فَأَخبَرتُهُ، فقَالَ: «ائْذَنْ لَهُ وَبَشِّرهُ بِالجَنَّةِ مَعَ بَلوَى تُصِيبُهُ» فَجِئتُ، فقُلتُ: ادْخُل وَيُبَشِّرُكَ رسُول الله -صلَّى الله عليه وسلَّم- بِالجَنَّةِ مَعَ بَلوَى تُصِيبُكَ، فَدَخَلَ فَوَجَدَ القُفَّ قَدْ مُلِئَ، فَجَلَسَ وِجَاهَهُم مِنَ الشِقِّ الآخَرِ. قال سعيد بنُ الْمُسَيِّبِ: فَأَوَّلْتُهَا قُبُورَهُم. وزاد في رواية: وَأَمَرَنِي رسُول الله -صلَّى الله عليه وسلَّم- بِحفظِ البابِ، وفيها: أنَّ عُثمَانَ حِينَ بَشَّرَهُ حَمِدَ الله -تَعَالَى-، ثُمَّ قَالَ: اللهُ الْمُسْتَعَانُ.
Dari Abu Musa Al-Asy'ari -raḍiyallāhu 'anhu- bahwa ia berwudu di rumahnya kemudian keluar. Lalu ia berkata, "Aku akan menemani Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dan aku akan bersamanya di hariku ini." Lantas ia mendatangi masjid lalu menanyakan Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Orang-orang menjawab, "Beliau keluar ke arah sana." Ia berkata, "Aku pun keluar mengejarnya, aku menanyakannya sampai beliau masuk ke sumur Arīs. Aku duduk di dekat pintu hingga Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menyelesaikan keperluannya dan berwudu. Aku pun berdiri menghampiri beliau. Ternyata beliau sedang duduk di atas sumur Arīs, di tengah-tengah tepinya. Beliau menyingkapkan kedua betisnya dan menjulurkan keduanya ke dalam sumur. Aku mengucapkan salam kepada beliau lalu kembali lagi duduk di dekat pintu. Aku berkata, "Aku akan menjadi penjaga pintu Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- hari ini. Lantas datang Abu Bakar -raḍiyallāhu 'anhu- lalu ia mendorong pintu. Aku bertanya, "Siapa ini?" Ia menjawab, "Abu Bakar." Aku katakan, "Sebentar." Selanjutnya aku pergi (menemui Nabi) lalu aku katakan, "Wahai Rasulullah, ini Abu Bakar datang meminta izin (masuk)." Beliau bersabda, "Izinkan dia dan berilah kabar gembira berupa Surga untuknya." Lalu aku datang menghampirinya hingga aku berkata kepada Abu Bakar, "Masuklah, dan Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memberimu kabar gembira berupa Surga." Abu Bakar masuk lalu duduk di samping kanan Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- di tepi sumur dan menjulurkan kedua kakinya ke dalam sumur seperti yang dilakukan oleh Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- serta menyingkapkan kedua betisnya. Kemudian aku kembali ke tempat dan duduk, dan aku membiarkan saudaraku berwudu serta menyusulku. Aku berkata, "Jika Allah menghendaki kebaikan untuk seseorang -yaitu saudaranya- Dia pasti mendatangkannya. Tiba-tiba ada seseorang menggerak-gerakkan pintu. Aku pun bertanya, "Siapa ini?" Ia menjawab, "Umar bin Al-Khaṭṭāb." Aku berkata, "Sebentar." Kemudian aku mendatangi Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- lalu mengucapkan salam kepadanya dan berkata, "Ini Umar meminta izin." Beliau bersabda, "Berilah ia izin dan berilah ia kabar gembira berupa Surga." Aku pun mendatangi Umar lalu berkata, "Beliau telah memberi izin dan memberimu kabar gembira berupa Surga." Lantas Umar masuk lalu duduk bersama Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- di tepi sumur, di sebelah kiri beliau, dan menjulurkan kedua kakinya ke dalam sumur. Selanjutnya aku kembali dan duduk. Aku berkata, "Jika Allah menghendaki kebaikan untuk seseorang -maksudnya saudaranya- pasti Dia mendatangkannya. Tiba-tiba datang seseorang lalu menggerak-gerakkan pintu. Aku pun bertanya, "Siapa ini?" Ia menjawab, "Uṡmān bin 'Affān." Aku berkata, "Sebentar." Aku mendatangi Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- lalu mengabarkan kedatangannya kepada beliau. Beliau bersabda, "Berilah ia izin dan berilah ia kabar gembira berupa Surga beserta bencana yang menimpanya." Aku pun mendatangi Uṡmān lalu berkata, "Masuklah dan beliau memberimu kabar gembira berupa Surga beserta bencana yang akan menimpamu." Uṡmān masuk dan mendapati tepi sumur sudah penuh, maka dia pun duduk di hadapan mereka di sisi lainnya." Sa'īd bin Al-Musayyab berkata, "Aku menakwilkannya sebagai posisi kubur mereka." Dalam sebuah riwayat, Abu Musa menambahkan, "Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memerintahkanku untuk menjaga pintu." Dalam riwayat itu disebutkan bahwa ketika Uṡmān diberi kabar gembira tersebut, dia memuji Allah -Ta'ālā- lalu berkata, "Allah tempat meminta pertolongan."
Diriwayatkan oleh Bukhari - Muttafaq 'alaihDerajatHadis sahih
Penjelasan

Dalam hadis Abu Musa Al-Asy'ari -raḍiyallāhu 'anhu- dikemukakan bahwa pada suatu hari dia berwudu di rumahnya dan keluar mencari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- seraya berkata, "Aku akan menemani Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pada hariku ini." Yakni, aku akan bersamanya pergi dan pulang. Abu Musa Al-Asy'ari -raḍiyallāhu 'anhu-keluar mencari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- lalu mendatangi masjid, karena Rasulullah -'alaihi aṣṣalātu wa as-salām- bisa berada di masjid, bisa juga di rumahnya sedang melakukan pekerjaan keluarganya, dan bisa juga sedang mengurus keperluan-keperluan para sahabatnya -'alaihi aṣṣalātu wa as-salām-. Ternyata dia tidak menemukan beliau di masjid. Lantas ia bertanya tentang beliau. Orang-orang menjawab, "Beliau pergi ke arah sana." Mereka memberi isyarat ke arah Arīs, yaitu sumur di sekitar Quba. Abu Musa pergi menyusul beliau hingga tiba di sumur lalu menemukan Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- di sana, ia pun diam di pintu kebun yang ada sumurnya itu. Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menunaikan keperluannya dan berwudu, lalu Nabi -'alaihi aṣṣalātu wa as-salām- duduk di tengah-tengah tepi sumur, yaitu sisi sumur, dan menjulurkan kedua kakinya sambil menyingkapkan kedua betisnya. Sedangkan Abu Musa berada di dekat pintu untuk menjaga pintu sumur itu laksana penjaga Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Tiba-tiba Abu Bakar -raḍiyallāhu 'anhu- meminta izin (masuk). Abu Musa tidak memberinya izin sampai memberitahukan terlebih dahulu kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Dia berkata kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, "Ini Abu Bakar meminta izin." Beliau bersabda, "Berilah ia izin dan sampaikan kabar gembira kepadanya berupa Surga." Ia pun memberinya izin sambil berkata kepadanya, "Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memberimu kabar gembira berupa Surga." Ini merupakan kabar gembira yang agung. Ia memberinya kabar gembira berupa Surga lalu memberinya izin untuk masuk agar bisa bersama Rasul -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Abu Bakar masuk dan menemukan Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- sedang berada di tengah-tengah tepi sumur. Ia pun duduk di sebelah kanannya karena Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- suka (mendahulukan) kanan dalam segala sesuatu. Abu Bakar duduk di sebelah kanan beliau dan melakukan seperti yang Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- lakukan; dia menjulurkan kedua kakinya di dalam sumur, serta menyingkap kedua betisnya karena tidak suka menyelisihi Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dalam duduk tersebut. Abu Musa -yang meninggalkan saudaranya berwudu dan hendak menyusulnya- berkata, "Jika Allah menghendaki kebaikan untuk (saudaranya), niscaya Dia mendatangkannya." Jika dia datang dan meminta izin maka dia memperoleh kabar gembira berupa Surga. Akan tetapi datang lelaki kedua yang meminta izin. Abu Musa pun datang kepada Rasul -'alaihi aṣṣalātu wa as-salām- sambil berkata, "Ini Umar." Beliau bersabda, "Berilah ia izin dan berilah ia kabar gembira berupa Surga." Dia pun memberinya izin dan berkata kepadanya, "Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memberimu kabar gembira berupa Surga." Umar masuk dan mendapati Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dan Abu Bakar di tepi sumur. Ia pun duduk di sisi kiri Rasul -`alaihi aṣsalatu wa as-salam- sedangkan sumur itu sempit, tidak luas. Ketiga orang itu berada di satu sisi. Selanjutnya Uṡmān meminta izin. Abu Musa pun meminta izin (kepada Nabi) sebagaimana yang dilakukannya. Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Berilah ia izin dan berilah ia kabar gembira berupa Surga beserta musibah yang akan menimpanya." Ia pun memberinya izin sambil berkata, "Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memberimu kabar gembira berupa Surga beserta musibah yang akan menimpamu." Dengan demikian, dia akan mendapatkan Surga dan musibah. Uṡmān -raḍiyallāhu 'anhu- berujar, "Segala puji hanya milik Allah. Allah tempat meminta pertolongan atas musibah ini, dan segala puji hanya milik Allah atas kabar gembira ini." Dia pun masuk lalu mendapati sisi sumur sudah penuh karena sisi tersebut tidak terlalu luas. Ia pun menuju ke arah lain di hadapan mereka dan duduk di sana, menjulurkan kedua kakinya, dan menyingkap kedua betisnya. Sa'īd bin Al-Musayyab -seorang pembesar tabiin- menakwilkannya bahwa itu adalah posisi kuburan mereka. Sebab, kuburan ketiga orang itu berada di satu tempat; Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, Abu Bakar dan Umar. Semuanya dalam satu ruangan. Mereka semua dikuburkan dalam satu tempat. Dulu mereka di dunia pergi bersama dan pulang bersama. Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- senantiasa bersabda, "Aku pergi bersama Abu Bakar dan Umar, dan aku datang bersama Abu Bakar dan Umar." Keduanya adalah dua sahabat dan penolong beliau. Pada hari kiamat kelak, mereka akan bangkit dari kuburnya bersama-sama. Dengan demikian, mereka itu bersama-sama di dunia dan akhirat. Lantas Uṡmān -raḍiyallāhu 'anhu- duduk di hadapan mereka. Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memberinya kabar gembira berupa Surga beserta musibah yang akan menimpanya. Musibah ini adalah tindakan orang-orang yang berselisih dengannya dan memberontak kepadanya, serta tindakan mereka membunuhnya di rumahnya -raḍiyallāhu 'anhu-. Para pemberontak tersebut masuk ke rumahnya di Madinah dan membunuhnya pada saat dirinya sedang membaca Alquran dan Kitabullah berada di hadapannya.

Rujukan

بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين لسليم الهلالي، ط1، دار ابن الجوزي، الدمام، 1415ه. تطريز رياض الصالحين للشيخ فيصل المبارك، ط1، تحقيق: عبد العزيز بن عبد الله آل حمد، دار العاصمة، الرياض، 1423هـ. رياض الصالحين للنووي، ط1، تحقيق: ماهر ياسين الفحل، دار ابن كثير، دمشق، بيروت، 1428هـ. شرح رياض الصالحين للشيخ ابن عثيمين، دار الوطن للنشر، الرياض، 1426هـ. صحيح البخاري، تحقيق: محمد زهير بن ناصر الناصر، ط1، دار طوق النجاة (مصورة عن السلطانية بإضافة ترقيم: محمد فؤاد عبد الباقي)، 1422ه. صحيح مسلم، تحقيق: محمد فؤاد عبد الباقي، دار إحياء التراث العربي، بيروت. كنوز رياض الصالحين، مجموعة من الباحثين برئاسة حمد بن ناصر العمار، ط1، كنوز إشبيليا، الرياض، 1430هـ. نزهة المتقين شرح رياض الصالحين لمجموعة من الباحثين، ط14، مؤسسة الرسالة، 1407هـ.

Hadis ini di HadeethEnc.com

Apabila salah seorang kalian sampai di satu majelis, hendaklah ia mengucapkan salam. Lalu apabila ia hendak bangun (meninggalkan majelis), hendaklah ia juga mengucapkan salam, karena tidaklah (salam) yang pertama lebih pantas (diucapkan) daripada yang terakhir

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضيَ اللهُ عنهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِذَا انْتَهَى أَحَدُكُمْ إِلَى الْمَجْلِسِ فَلْيُسَلِّمْ، فَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَقُومَ فَلْيُسَلِّمْ، فَلَيْسَتِ الْأُولَى بِأَحَقَّ مِنَ الْآخِرَةِ».
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ bersabda, "Apabila salah seorang kalian sampai di satu majelis, hendaklah ia mengucapkan salam. Lalu apabila ia hendak bangun (meninggalkan majelis), hendaklah ia juga mengucapkan salam, karena tidaklah (salam) yang pertama lebih pantas (diucapkan) daripada yang terakhir."
HR. Abu Daud, Tirmizi, Nasai dalam Al-Kubrā, dan AhmadDerajatHasan
Penjelasan

Nabi ﷺ memberi arahan kepada orang yang datang ke tempat kumpul manusia agar ia mengucapkan salam kepada mereka. Demikian juga ketika ia ingin bangun meninggalkannya, hendaklah ia memberi salam kepada orang-orang yang hadir, karena tidaklah salam yang pertama ketika datang lebih utama daripada salam yang terakhir ketika pergi.

Faedah
  1. 1- Anjuran menyebarkan salam.
  2. 2- Anjuran mengucapkan salam kepada orang yang ada di majelis saat bertemu dan saat pergi.
  3. 3- As-Sindiy berkata, "Sabda beliau (apabila ia hendak bangun), yakni dari majelis .. (tidaklah salam yang pertama lebih pantas diucapkan), yakni hukum keduanya sunah yang mesti diamalkan, sehingga tidak ada alasan untuk meninggalkan salam yang kedua disertai menetapkan salam yang pertama."
Rujukan

سنن أبي داود (7/ 500) (5208). سنن الترمذي (4/ 432) (2706). السنن الكبرى للنسائي (9/ 144) (10129). مسند أحمد (12/ 47) (7142). كنوز رياض الصالحين، لمجموعة من الباحثين (11/ 360). بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين، لسليم الهلالي (2/ 142). تطريز رياض الصالحين، لفيصل آل مبارك (ص523). نزهة المتقين شرح رياض الصالحين، لمجموعة من الباحثين (1/ 672).

Hadis ini di HadeethEnc.com

Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- apabila menuturkan satu kata, beliau mengulanginya tiga kali hingga dapat dipahami. Dan jika mendatangi suatu kaum lalu mengucapkan salam, beliau mengucapkan salam kepada mereka tiga kali.

عن أنس بن مالك رضي الله عنه أَنَّ النَبيَّ -صلَّى الله عليه وسلَّم- كَان إِذَا تَكَلَّمَ بِكَلِمَةٍ أَعَادَهَا ثَلاَثًا حَتَّى تُفْهَمَ عَنْهُ، وَإِذَا أَتَى عَلَى قَوْمٍ فَسَلَّمَ عَلَيهِم سَلَّمَ عَلَيهِم ثَلاَثًا.
Dari Anas bin Malik -raḍiyallāhu 'anhu- "Bahwasanya Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- apabila menuturkan satu kata, beliau mengulanginya tiga kali hingga dapat dipahami. Dan jika mendatangi suatu kaum lalu mengucapkan salam, beliau mengucapkan salam kepada mereka tiga kali."
Diriwayatkan oleh BukhariDerajatHadis sahih
Penjelasan

Dalam hadis Anas bin Malik -raḍiyallāhu 'anhu-, "Bahwasanya Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- apabila menuturkan satu kata, beliau mengulanginya tiga kali hingga dapat dipahami." Ucapannya, "Hingga dapat dipahami," menunjukkan bahwa jika kata itu dipahami tanpa pengulangan maka beliau pun tidak mengulanginya. Akan tetapi apabila seseorang belum faham karena tidak bisa mengetahui maknanya dengan baik, maka ulangilah untuknya sampai dia faham, atau mungkin pendengarannya berat tak bisa mendengar atau ada kebisingan, maka di sini kamu disunahkan mengulanginya sampai dia memahami (ucapanmu). Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- apabila mengucapkan salam kepada suatu kaum, "Beliau mengucapkan salam tiga kali," yakni, beliau tidak mengulangi (salam) lebih dari tiga kali. Beliau mengucapkan salam satu kali. Jika belum ada jawaban, beliau mengucapkan salam yang kedua kali. Jika belum ada yang menjawab, beliau mengucapkan salam yang ketiga kali. Apabila tidak ada yang menjawab, beliau meninggalkannya. Demikian juga dalam hal meminta izin, Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- meminta izin tiga kali. Yakni, apabila beliau mendatangi seseorang, beliau meminta izin untuk masuk ke rumahnya; beliau mengetuk pintu tiga kali. Jika tidak ada yang menjawab, beliau pun pulang. Inilah sunah Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- yaitu mengulang hal-hal tersebut tiga kali lalu berhenti (tidak melakukan lagi).

Rujukan

بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين، سليم بن عيد الهلالي، دار ابن الجوزي، الدمام، الطبعة: الأولى، 1415هـ. تطريز رياض الصالحين، فيصل بن عبد العزيز المبارك، تحقيق: عبد العزيز بن عبد الله آل حمد، دار العاصمة للنشر والتوزيع، الرياض، الطبعة: الأولى، 1423ه - 2002م. رياض الصالحين من كلام سيد المرسلين، أبو زكريا محيي الدين النووي، تحقيق ماهر الفحل، دار ابن كثير، دمشق، بيروت، الطبعة: الأولى، 1428هـ. رياض الصالحين من كلام سيد المرسلين، أبو زكريا محيي الدين النووي، تحقيق: عصام هادي، وزارة الأوقاف والشؤون الإسلامية القطرية، دار الريان، بيروت، الطبعة: الرابعة، 1428هـ. شرح رياض الصالحين، محمد بن صالح العثيمين، دار الوطن، الرياض، الطبعة: 1426هـ. صحيح البخاري، محمد بن إسماعيل البخاري الجعفي، تحقيق: محمد زهير الناصر، دار طوق النجاة، الطبعة: الأولى، 1422هـ. نزهة المتقين شرح رياض الصالحين، مجموعة من الباحثين، مؤسسة الرسالة، بيروت، الطبعة: الرابعة عشر، 1407هـ.

Hadis ini di HadeethEnc.com

Apabila salah seorang kalian bertemu dengan saudaranya, hendaknya dia mengucapkan salam kepadanya. Jika kemudian keduanya dipisahkan oleh pohon, tembok, atau batu kemudian bertemu lagi, hendaknya dia mengucapkan salam lagi kepadanya

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «إِذَا لَقِيَ أَحَدُكُمْ أَخَاهُ فَلْيُسَلِّمْ عَلَيْهِ، فَإِنْ حَالَتْ بَيْنَهُمَا شَجَرَةٌ أَوْ جِدَارٌ أَوْ حَجَرٌ ثُمَّ لَقِيَهُ فَلْيُسَلِّمْ عَلَيْهِ أَيْضًا».
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan dari Rasulullah ﷺ bahwa beliau bersabda, "Apabila salah seorang kalian bertemu dengan saudaranya, hendaknya dia mengucapkan salam kepadanya. Jika kemudian keduanya dipisahkan oleh pohon, tembok, atau batu kemudian bertemu lagi, hendaknya dia mengucapkan salam lagi kepadanya."
HR. Abu DaudDerajatSahih
Penjelasan

Nabi ﷺ menganjurkan seorang muslim agar memberi salam kepada saudara muslimnya setiap kali bertemu, hingga misalkan keduanya sedang berjalan bersama lalu antara keduanya dipisahkan oleh suatu pemisah, seperti pohon, dinding atau batu besar, kemudian setelah itu berjumpa maka hendaknya dia memberinya salam lagi.

Faedah
  1. 1- Anjuran menebarkan salam dan agar salam diulang setiap kali bertemu.
  2. 2- Kesungguhan dan tingginya semangat Nabi ﷺ untuk menebarkan salam karena dapat mengundang cinta dan keharmonisan di antara umat Islam.
  3. 3- Salam adalah ucapan "Assalāmu 'alaikum" atau "Assalāmu 'alaikum waraḥmatullāhi wabarakātuh" tanpa mesti berjabat tangan yang biasa dilakukan ketika berjumpa pertama kali.
  4. 4- Salam adalah doa, dan umat Islam butuh untuk saling mendoakan satu sama lain walaupun berulang kali.
Rujukan

سنن أبي داود (7/ 494) (5200). تطريز رياض الصالحين، لفيصل آل مبارك (ص520). بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين، لسليم الهلالي (2/ 138). نزهة المتقين شرح رياض الصالحين، لمجموعة من الباحثين (1/ 667). شرح رياض الصالحين، لابن عثيمين (4/ 410).

Hadis ini di HadeethEnc.com

Tatkala Allah menciptakan Adam -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, Dia berfirman, “Pergilah dan ucapkan salam kepada mereka -beberapa malaikat yang sedang duduk- lalu ‎dengarkanlah salam penghormatan mereka kepadamu; karena itu sebagai salam penghormatanmu dan ‎keturunanmu!”

عن أبي هريرة رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: «لما خلق الله آدم صلى الله عليه وسلم قال: اذهب فَسَلِّمْ على أولئك -نَفَرٍ من الملائكة جلوس- فاستمع ما يُحَيُّونَكَ؛ فإنها تَحِيَّتُكَ وتحية ذُرِّيتِكَ. فقال: السلام عليكم، فقالوا: السلام عليك ورحمة الله، فَزَادُوهُ: ورحمة الله».
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-, dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, beliau bersabda, "Tatkala Allah menciptakan Adam -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, Dia berfirman, 'Pergilah dan ucapkan salam kepada mereka -beberapa malaikat yang sedang duduk- lalu ‎dengarkanlah salam penghormatan mereka kepadamu; karena itu sebagai salam penghormatanmu dan ‎keturunanmu!' Maka Adam berkata, “As-Salāmu ‘alaikum.” Mereka menjawab, “As-‎Salāmu ‘alaika wa rahmatullāh,” mereka menambah “wa rahmatullāh."‎‎‎
Muttafaq 'alaihDerajatHadis sahih
Penjelasan

Makna hadis: Ketika Allah menciptakan Adam, ‎Allah memerintahkannya untuk menemui beberapa (nafar) malaikat. Nafar itu adalah istilah untuk bilangan antara tiga sampai sembilan. Lalu Adam memberi ‎penghormatan kepada mereka dengan salam dan ia (Adam) ‎mendengarkan jawaban mereka kepadanya. Maka jadilah salam ‎penghormatan yang berlangsung antara dirinya dan mereka sebagai salam ‎penghormatan yang disyariatkan untuknya dan untuk keturunannya ‎yang akan datang dari orang-orang yang berada di atas agama ‎para rasul dan mengikuti mereka. Adam berkata, “As-Salāmu ‘alaikum”, maka mereka menjawab, ‎‎“As-Salāmu ‘alaika wa rahmatullāh,” mereka menambahkan, “wa rahmatullāh” ‎Maka jadilah redaksi ini yang disyariatkan ketika mengucapkan salam dan ‎menjawabnya.‎ Dalam hadis-hadis lain terdapat tambahan "waraḥmatullāhi wa barakātuh", baik ketika memulai ataupun ketika menjawabnya.

Rujukan

بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين، للهلالي، نشر: دار ابن الجوزي. صحيح البخاري، نشر: دار طوق النجاة (مصورة عن السلطانية بإضافة ترقيم محمد فؤاد عبد الباقي)، الطبعة: الأولى، 1422ه. منار القاري شرح مختصر صحيح البخاري، لحمزة محمد قاسم، عني بتصحيحه ونشره: بشير محمد عيون، الناشر: مكتبة دار البيان، دمشق - الجمهورية العربية السورية، مكتبة المؤيد، الطائف - المملكة العربية السعودية، عام النشر: 1410 هـ - 1990 م.

Hadis ini di HadeethEnc.com

"Wahai Abu Baṭn (orang yang berperut buncit), kita pergi ke pasar hanyalah untuk mengucapkan salam; kita mengucapkan salam kepada siapa saja yang kita jumpai."

عن الطُّفَيْلَ بن أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ: أنه كان يأتي عبد الله بن عمر، فيَغْدُو معه إلى السوق، قال: فإذا غَدَوْنَا إلى السوق، لم يَمُرَّ عبد الله على سَقَّاطٍ ولا صاحب بَيْعَةٍ ، ولا مسكين، ولا أحد إلا سَلَّمَ عليه، قال الطُفيل: فجئت عبد الله بن عمر يوما، فَاسْتَتْبَعَنِي إلى السوق، فقلت له: ما تصنع بالسوق، وأنت لا تَقِف على البيع، ولا تسأل عن السِّلَعِ، ولا تَسُومُ بها، ولا تجلس في مجالس السوق؟ وأقول: اجلس بنا هاهنا نَتَحَدَثُ، فقال: يا أبا بَطْنٍ -وكان الطفيل ذا بَطْنٍ- إنما نَغْدُو من أجل السلام، فنُسَلِّمُ على من لَقيْنَاهُ.
Dari Aṭ-Ṭufail bin Ubay bin Ka'ab, bahwasanya ia mendatangi Abdullah bin Umar, lalu pergi bersamanya ke pasar. Ia bercerita, "Ketika kami pergi ke pasar, setiap kali Abdullah berpapasan dengan pedagang kecil, pedagang besar, orang miskin, atau siapa pun, ia selalu mengucapkan salam kepadanya." Aṭ-Ṭufail berkata, "Suatu hari aku datang kepada Abdullah bin Umar. Lantas ia memintaku mengikutinya ke pasar. Aku bertanya kepadanya, "Apa yang kau lakukan di pasar, engkau tidak berjual beli, tidak bertanya tentang harga barang, tidak menawarnya, dan tidak pula duduk di tempat-tempat perkumpulan di pasar?" Aku berkata kepadanya, "Duduklah di sini bersama kami untuk berbincang-bincang." Abdullah bin Umar menjawab, "Wahai Abu Baṭn (orang yang berperut buncit) - karena Aṭ-Ṭufail memiliki perut yang tambun - kami pergi ke pasar hanyalah untuk mengucapkan salam; kami mengucapkan salam kepada siapa saja yang kami jumpai."
Diriwayatkan oleh MalikDerajatHadis sahih
Penjelasan

Makna hadits: Aṭ-Ṭufail bin Ubay bin Ka'ab mendatangi Ibnu Umar -raḍiyallāhu 'anhumā- untuk suatu keperluan. Lantas ia menemani Ibnu Umar pergi ke pasar. Aṭ-Ṭufail bercerita, "Ketika kami pergi ke pasar, setiap kali Abdullah berpapasan dengan pedagang kecil," yaitu penjual barang-barang rongsokan. Dalam tradisi kita barang-barang ini dinamakan barang-barang bekas. "pedagang besar", yaitu barang-barang berharga yang bernilai tinggi. "orang miskin, atau siapa pun, ia selalu mengucapkan salam kepadanya." Yakni, Ibnu Umar mengucapkan salam kepada setiap orang yang berpapasan dengannya, baik anak kecil atau besar, orang kaya atau orang miskin. "Suatu hari aku datang kepada Ibnu Umar," yakni, untuk suatu tujuan, lantas ia memintaku agar mengikutinya ke pasar. "Aku bertanya kepadanya, "Apa yang kau lakukan di pasar, engkau tidak berjual beli," yakni, engkau tidak bertransaksi, bahkan tidak bertanya mengenai barang-barang dan tidak melakukan tawar-menawar dengan orang, dan tidak melakukan sesuatu yang menjadi tujuan orang berada di pasar. Jika engkau tidak melakukan salah satu motivasi pergi ke pasar, lantas apa manfaatnya engkau pergi ke pasar, kalau engkau tidak mempunyai keperluan? Ibnu Umar -raḍiyallāhu 'anhumā- menjawab, "Wahai Abu Baṭn (orang yang berperut buncit) - karena Aṭ-Ṭufail memiliki perut yang tambun -" yakni, perut Aṭ-Ṭufail tidak rata dengan dadanya, tetapi buncit. "kita pergi ke pasar hanyalah untuk mengucapkan salam; kita mengucapkan salam kepada siapa saja yang kita jumpai." Yakni, tujuan pergi ke pasar bukan bermaksud membeli atau duduk di dalamnya, tetapi dalam rangka mendapatkan berbagai kebaikan yang diperoleh dari mengucapkan salam. Ini merupakan bentuk keinginan Ibnu Umar untuk menerapkan sunnah menyebarkan salam di antara manusia, karena ia tahu bahwa ucapan salam adalah harta rampasan perang yang diperoleh tanpa bertarung. Kata-kata mudah yang tidak membebani seseorang dengan apa pun, namun mengandung banyak kebaikan. Dalam hadis Al-Hasan bin Ali -raḍiyallāhu 'anhumā- disebutkan mengenai gambaran Ibnu Umar -raḍiyallāhu 'anhumā-, "Ia lebih dahulu mengucapkan salam kepada orang yang dijumpainya."

Rujukan

كنوز رياض الصالحين، تأليف: حمد بن ناصر بن العمار، الناشر: دار كنوز أشبيليا، الطبعة الأولى: 1430 هـ بهجة الناظرين، تأليف: سليم بن عيد الهلالي، نسخة الكترونية ، لا يوجد بها بيانات نشر. نزهة المتقين، تأليف: جمعٌ من المشايخ، الناشر: مؤسسة الرسالة، الطبعة الأولى: 1397 هـ، الطبعة الرابعة عشر 1407 هـ دليل الفالحين، تأليف: محمد بن علان، الناشر: دار الكتاب العربي، نسخة الكترونية، لا يوجد بها بيانات نشر. رياض الصالحين، تأليف: محيي الدين يحيى بن شرف النووي، تحقيق: د. ماهر بن ياسين الفحل، الطبعة: الأولى، 1428 هـ الموطأ، تأليف: مالك بن أنس الأصبحي، تحقيق: محمد مصطفى الأعظمي ، الناشر: مؤسسة زايد بن سلطان آل نهيان للأعمال الخيرية والإنسانية، الطبعة: الأولى، 1425 هـ الأدب المفرد، تأليف: محمد بن إسماعيل البخاري، تحقيق : محمد ناصر الدين الألباني، الناشر: دار الصديق للنشر والتوزيع، الطبعة: الرابعة، 1418 هـ.

Hadis ini di HadeethEnc.com

Seorang laki-laki datang menemui Nabi ﷺ lalu mengucapkan salam, "As-salāmu 'alaikum." Beliau menjawab salamnya kemudian dia duduk. Lantas Nabi ﷺ bersabda, "Sepuluh

عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: السَّلَامُ عَلَيْكُمْ، فَرَدَّ عَلَيْهِ ثُمَّ جَلَسَ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «عَشْرٌ» ثُمَّ جَاءَ آخَرُ فَقَالَ: السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ، فَرَدَّ عَلَيْهِ فَجَلَسَ، فَقَالَ: «عِشْرُونَ» ثُمَّ جَاءَ آخَرُ فَقَالَ: السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ، فَرَدَّ عَلَيْهِ فَجَلَسَ، فَقَالَ: «ثَلَاثُونَ».
'Imrān bin Ḥuṣain -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Seorang laki-laki datang menemui Nabi ﷺ lalu mengucapkan salam, "As-salāmu 'alaikum." Beliau menjawab salamnya kemudian dia duduk. Lantas Nabi ﷺ bersabda, "Sepuluh." Kemudian datang laki-laki yang lain dan mengucapkan salam, "As-salāmu 'alaikum wa raḥmatullāh." Beliau menjawab salamnya kemudian dia duduk. Lantas Nabi ﷺ bersabda, "Dua puluh." Kemudian datang lagi laki-laki lainnya seraya mengucapkan salam, "As-salāmu 'alaikum wa raḥmatullāhi wa barakātuh." Beliau menjawab salamnya kemudian dia duduk, lantas beliau bersabda, "Tiga puluh."
HR. Abu Daud, Tirmizi, Ahmad, dan DarimiDerajatHasan
Penjelasan

Seorang laki-laki datang menemui Nabi ﷺ dan mengatakan: As-Salāmu 'alaikum. Beliau menjawab salamnya, sementara dia langsung duduk. Nabi ﷺ bersabda: Ia telah diberikan sepuluh pahala. Kemudian datang laki-laki lain dan mengatakan: As-Salāmu 'alaikum waraḥmatullāh. Beliau menjawab salamnya, sementara dia langsung duduk. Nabi ﷺ bersabda: Dia mendapatkan dua puluh pahala. Kemudian datang lagi laki-laki lainnya dan mengatakan: As-Salāmu 'alaikum wa raḥmatullāhi wa barakātuh. Beliau menjawab salamnya, sementara dia langsung duduk. Nabi ﷺ bersabda: Dia mendapatkan tiga puluh pahala; yaitu sepuluh pahala untuk setiap lafaz.

Faedah
  1. 1- Orang yang datang memulai salam kepada orang yang duduk.
  2. 2- Tambahan pahala sesuai tambahan lafaz salam.
  3. 3- Lafaz paling sempurna dalam memberi salam: As-Salāmu 'alaikum wa raḥmatullāhi wa barakātuh. Sedangkan lafaz yang paling utama dalam menjawab salam: Wa 'alaikumus-salāmu wa raḥmatullahi wa barakātuh.
  4. 4- Tingkatan lafaz salam dan menjawabnya bervariasi, dan pahalanya juga bervariasi.
  5. 5- Mengajarkan kebaikan kepada orang lain dan mengingatkan mereka untuk meraih yang paling utama.
  6. 6- Ibnu Ḥajar berkata, "Apabila orang yang memberi salam menambahkan 'waraḥmatullāh', dianjurkan pada orang yang menjawab agar menambahkan 'wabarakātuh'. Lantas, apabila ia menambahkan 'wabarakātuh', apakah disyariatkan untuk menambah lagi ketika menjawab? Demikian halnya apabila orang yang memberi salam menambahkan lebih dari 'wabarakātuh', apakah hal itu disyariatkan? Imam Malik meriwayatkan dalam al-Muwaṭṭa` bahwa Ibnu 'Abbās berkata, 'Lafal salam mentok pada doa keberkahan.'"
Rujukan

سنن أبي داود (7/ 491) (5195). سنن الترمذي (4/ 420) (2689). مسند أحمد (33/ 170) (19948). كنوز رياض الصالحين ، لمجموعة من الباحثين (11/ 246). بهجة الناظرين، لسليم الهلالي (3/ 132). نزهة المتقين، لمجموعة من الباحثين (1/ 663). شرح رياض الصالحين، لابن عثيمين (4/ 399).

Hadis ini di HadeethEnc.com
8 dari 24
24 hadis
  1. Seandainya seorang laki-laki -atau seseorang- mengintipmu tanpa seizinmu, lalu engkau melemparnya dengan kerikil hingga engkau membuat matanya tercungkil, maka engkau tak berdosa.
  2. Aku akan menjadi penjaga pintu Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- hari ini. Lantas datang Abu Bakar -raḍiyallāhu 'anhu- lalu ia mendorong pintu. Aku bertanya, "Siapa ini?" Ia menjawab, "Abu Bakar." Aku katakan, "Sebentar." Selanjutnya aku pergi lalu aku katakan, "Wahai Rasulullah, ini Abu Bakar datang meminta izin (masuk)." Beliau bersabda, "Izinkan dia dan berilah kabar gembira Surga untuknya."
  3. Apabila salah seorang kalian sampai di satu majelis, hendaklah ia mengucapkan salam. Lalu apabila ia hendak bangun (meninggalkan majelis), hendaklah ia juga mengucapkan salam, karena tidaklah (salam) yang pertama lebih pantas (diucapkan) daripada yang terakhir
  4. Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- apabila menuturkan satu kata, beliau mengulanginya tiga kali hingga dapat dipahami. Dan jika mendatangi suatu kaum lalu mengucapkan salam, beliau mengucapkan salam kepada mereka tiga kali.
  5. Apabila salah seorang kalian bertemu dengan saudaranya, hendaknya dia mengucapkan salam kepadanya. Jika kemudian keduanya dipisahkan oleh pohon, tembok, atau batu kemudian bertemu lagi, hendaknya dia mengucapkan salam lagi kepadanya
  6. Tatkala Allah menciptakan Adam -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, Dia berfirman, “Pergilah dan ucapkan salam kepada mereka -beberapa malaikat yang sedang duduk- lalu ‎dengarkanlah salam penghormatan mereka kepadamu; karena itu sebagai salam penghormatanmu dan ‎keturunanmu!”
  7. "Wahai Abu Baṭn (orang yang berperut buncit), kita pergi ke pasar hanyalah untuk mengucapkan salam; kita mengucapkan salam kepada siapa saja yang kita jumpai."
  8. Seorang laki-laki datang menemui Nabi ﷺ lalu mengucapkan salam, "As-salāmu 'alaikum." Beliau menjawab salamnya kemudian dia duduk. Lantas Nabi ﷺ bersabda, "Sepuluh
  9. Manusia yang paling utama di sisi Allah adalah orang yang memulai salam.
  10. Seseorang meminta izin kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, maka beliau bersabda, "Izinkanlah dia, sejelek-jelek orang dari kabilahnya".
  11. Hak seorang muslim terhadap muslim yang lain ada lima: menjawab salam, menjenguk orang sakit, mengantar jenazah, menghadiri undangan, dan mendoakan orang yang bersin
  12. Dahulu kami pernah mengkhususkan untuk Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bagian tertentu dari susu. Lalu beliau datang di waktu malam, kemudian memberikan salam tanpa membangunkan yang tidur, namun terdengar oleh yang masih terjaga.
  13. Jangan kau ucapkan " 'alaikas salām" (salam untukmu), karena ucapan ini adalah sapaan bagi orang-orang yang sudah meninggal dunia!
  14. Hendaklah yang berkendara mengucapkan salam kepada yang berjalan kaki, dan yang berjalan kaki mengucapkan salam kepada yang duduk, dan yang berjumlah sedikit mengucapkan salam kepada yang berjumlah banyak
  15. Janganlah kalian memulai salam kepada orang-orang Yahudi dan Nasrani. Jika kalian bertemu salah seorang mereka di jalan, maka desaklah mereka ke bagian jalan yang paling sempit (pinggir)
  16. Hendaklah yang muda mengucapkan salam kepada yang lebih tua, perjalan kaki kepada yang duduk, dan yang berjumlah sedikit kepada yang berjumlah banyak.
  17. Sudah cukup bagi sekelompok orang jika mereka lewat maka ‎salah seorang dari mereka yang mengucapkan salam, dan sudah cukup ‎salah seorang dari sekelompok orang yang duduk membalas salam ‎tersebut.‎
  18. Tidak halal bagi seorang muslim memboikot saudaranya lebih dari tiga hari; keduanya saling bertemu, tetapi yang satu berpaling dan yang lain pun berpaling. Yang paling baik di antara mereka berdua adalah yang memulai ucapan salam
  19. Apakah para sahabat Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersalaman?. Dia menjawab, "Ya"
  20. Dia melewati sejumlah anak-anak, lalu mengucapkan salam kepada mereka. Ia berkata, “Dahulu Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pernah melakukannya.”
  21. Seorang lelaki bertanya kepada Nabi ﷺ, 'Amalan apa yang terbaik dalam Islam?' Beliau menjawab, 'Memberi makanan dan mengucapkan salam kepada orang yang kaukenal dan belum kaukenal.'
  22. Wahai Abu Al-Hasan! Bagaimana keadaan Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-?" Ia menjawab, "Alhamdulillah, beliau sudah membaik"
  23. Seseorang berkata, "Wahai Rasulullah! Seseorang dari kami bertemu saudara atau kawannya, apakah ia boleh membungkukkan badan padanya?" Beliau menjawab, "Tidak." Ia bertanya lagi, "Apakah ia boleh memeluknya dan menciumnya?" Beliau bersabda, "Tidak." Ia bertanya lagi, "Apakah ia boleh memegang tangannya dan menjabatnya?" Beliau menjawab, "Ya."
  24. Tidaklah dua orang muslim bertemu lalu berjabatan tangan, kecuali akan diampuni dosa mereka berdua sebelum keduanya berpisah

Setiap hadis, derajat, penjelasan, dan faedah di sini ditampilkan persis sebagaimana diterbitkan HadeethEnc.com, menurut ketentuan penerbitan ulangnya. Derajat itu tidak menyebut siapa yang menilainya. Terjemahan dan penjelasan adalah karya para penyusunnya, dan sebagian menyebutkan hukum; para peninjau Sabīl belum memeriksanya. Hadis berbahasa Arablah teksnya. Sumber: HadeethEnc.com