عن أبي واقد الحارث بن عوف رضي الله عنه أنَّ رسول الله صلى الله عليه وسلم بينما هو جالس في المسجد، والناس معه، إذ أقبل ثلاثَةُ نَفَرٍ، فأقبل اثنان إلى رسول الله، صلى الله عليه وسلم وذهب واحد، فوقفا على رسول الله صلى الله عليه وسلم ، فأما أحدهما فرأى فُرْجَةً في الْحَلْقَةِ فجلس فيها، وأما الآخر فجلس خلفهم، وأما الثالث فأدْبَر ذاهبٍا، فلما فرغ رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: «ألا أُخْبِرُكُم عن النَّفَرِ الثلاثة: أما أحدهم فأَوَى إلى الله فآوَاهُ الله إليه، وأما الآخر فاسْتَحْيا فاسْتَحْيَا الله منه، وأما الآخر، فأعْرَضَ، فأعرضَ اللهُ عنه».
Dari Abu Wāqid al-Hāriṡ bin Auf -raḍiyallāhu 'anhu- bahwa ketika Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- sedang duduk di masjid dan orang-orang bersamanya, tiba-tiba datanglah tiga orang. Dua orang menghampiri Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- sedangkan yang satu pergi. Lantas kedua orang itu berdiri di hadapan Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Salah satunya melihat tempat yang kosong di halaqah (perkumpulan) itu, lalu ia duduk di tempat kosong tersebut. Sedangkan yang satu lagi, duduk di belakang mereka. Adapun orang yang ketika pergi. Saat Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- selesai (bicara), beliau bersabda, "Maukah kalian aku beritahukan tentang tiga orang? Yang pertama, ia berlindung kepada Allah, maka Allah pun melindunginya. Yang kedua, ia malu, maka Allah pun malu terhadapnya. Sedangkan yang ketiga, ia berpaling, maka Allah pun berpaling darinya."
Muttafaq 'alaihDerajatHadis sahih
Penjelasan
Dalam hadis ini (dijelaskan) bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- sedang duduk di masjid dan orang-orang bersamanya. Tiba-tiba datang tiga orang laki-laki. Dua orang menghampiri Rasulullah - ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dan yang satu pergi. Kedua orang itu berdiri di sisi halaqah (perkumpulan) Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, lalu salah satunya melihat tempat kosong di halaqah itu, maka ia pun duduk di tempat kosong tersebut. Halaqah adalah orang-orang yang duduk dalam bentuk lingkaran di hadapan Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Sedangkan yang satu lagi duduk di belakang mereka. Adapun orang yang ketiga pulang. Ketika Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- selesai dari pembicaraan yang disampaikannya, beliau bersabda kepada para sahabat, "Maukah kalian aku beritahukan mengenai tiga orang? Yang pertama, ia berlindung kepada Allah, maka Allah pun melindunginya. Yakni, dia duduk di tempat kosong untuk menyimak zikir kepada Allah lalu Allah pun memuliakannya dengan keutamaan majelis yang penuh berkah itu. Sedangkan yang kedua malu, maka Allah pun malu terhadapnya. Yakni, dia tidak mau berdesak-desakkan sehingga ia duduk di belakang halaqah tanpa terhalang dari keberkahan majelis. Sedangkan orang yang lainnya berpaling, maka Allah pun berpaling darinya. Yakni, dia pergi tanpa ada uzur sehingga terhalang dari keberkahan majelis.
Rujukan
صحيح البخاري، تحقيق: محمد زهير بن ناصر الناصر، دار طوق النجاة، ط: الأولى، 1422هـ.
صحيح مسلم، تحقيق: محمد فؤاد عبد الباقي، دار إحياء التراث العربي – بيروت.
رياض الصالحين، للنووي، تحقيق ماهر الفحل، دار ابن كثير، دمشق -بيروت، ط: الأولى 1428هـ.
نزهة المتقين، لمجموعة من المؤلفين، مؤسسة الرسالة، ط: الرابعة عشر،1407هـ.
شرح رياض الصالحين، لابن عثيمين، بإشراف مؤسسة الشيخ، دار الوطن للنشر، الرياض، ط: 1426هـ.
بهجة الناظرين، لسليم الهلالي، دار ابن الجوزي، السعودية، ط: الثالثة 1418هـ.
تطريز رياض الصالحين، تأليف فيصل آل مبارك، تحقيق د. عبد العزيز آل حمد، دار العاصمة -الرياض، الطبعة الأولى، 1423هـ.
صفات الله عز وجل الواردة في الكتاب والسنة: علوي بن عبد القادر السَّقَّاف، دار الهجرة الطبعة: الثالثة ، 1426هـ - 2006م.
عن سمرة بن جندب رضي الله عنه قال: لقد كنت على عَهْدِ رسولِ الله صلى الله عليه وسلم غُلاما، فكنت أحفظ عنه، فما يمنعني من القول إلا أن هاهنا رِجَالًا هم أَسَنُّ مِنِّي.
Dari Samurah bin Jundub -raḍiyallāhu 'anhu- ia berkata, "Pada masa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- aku masih muda belia. Aku hafal apa yang disampaikan oleh Rasulullah. Tidak ada yang menghalangiku untuk berbicara, kecuali karena di sana ada orang-orang yang lebih tua dariku."
Diriwayatkan oleh MuslimDerajatHadis sahih
Penjelasan
Samurah bin Jundub -raḍiyallāhu 'anhu- mengabarkan bahwa dirinya masih muda belia pada masa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Dia hafal beberapa sabda Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Hanya saja tidak ada yang menghalanginya untuk menceritakannya selain karena di sana ada orang-orang yang lebih tua darinya.
Rujukan
بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين، سليم بن عيد الهلالي، دار ابن الجوزي، الطبعة: الأولى 1418هـ.
دليل الفالحين لطرق رياض الصالحين، محمد علي بن البكري بن علان، اعتنى بها: خليل مأمون شيحا، دار المعرفة، بيروت، الطبعة: الرابعة 1425هـ.
رياض الصالحين، للنووي، تحقيق: ماهر ياسين الفحل، دار ابن كثير، دمشق، بيروت، الطبعة: الأولى 1428هـ.
كنوز رياض الصالحين، مجموعة من الباحثين برئاسة حمد بن ناصر العمار، كنوز إشبيليا، الرياض، الطبعة: الأولى 1430هـ.
صحيح مسلم، مسلم بن الحجاج القشيري النيسابوري، تحقيق محمد فؤاد عبد الباقي، دار إحياء التراث العربي، بيروت، الطبعة: 1423هـ.
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Ada seorang Arab badui datang kepada Nabi ﷺ seraya berkata, "Tunjukilah aku suatu amalan, jika aku mengerjakannya maka aku masuk surga." Beliau bersabda, "Beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, mendirikan salat wajib, membayar zakat fardu, dan berpuasa di bulan Ramadan." Laki-laki itu berkata, "Demi Tuhan yang jiwaku ada di tangan-Nya, aku tidak akan menambah lebih dari hal itu." Tatkala ia pergi, Nabi ﷺ bersabda, "Siapa yang ingin melihat laki-laki penghuni surga, maka lihatlah orang itu."
Muttafaq 'alaihDerajatSahih
Penjelasan
Seorang laki-laki Arab badui dari pedalaman datang menemui Nabi ﷺ agar beliau menunjukinya suatu amalan yang dapat memasukkannya ke dalam surga. Nabi ﷺ memberinya jawaban bahwa masuk surga dan selamat dari neraka bergantung pada pelaksanaannya terhadap rukun Islam: yaitu beribadah kepada Allah semata dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, mendirikan salat lima waktu yang diwajibkan Allah pada hamba-Nya dalam sehari semalam, membayar zakat harta yang diwajibkan Allah kepadamu dan menyerahkannya kepada yang berhak, dan berpuasa di bulan Ramadan sesuai dengan waktunya. Laki-laki itu berkata: Demi Tuhan yang jiwaku ada di tangan-Nya, aku tidak akan menambah dengan yang lain melebihi amalan wajib yang aku dengar darimu, dan tidak akan aku kurangi juga. Ketika laki-laki itu pergi, Nabi ﷺ bersabda: Siapa yang ingin melihat seorang penghuni surga, maka hendaknya ia melihat orang badui tersebut.
Faedah
1- Mengesakan Allah Ta'ala dalam ibadah adalah perkara pertama yang disampaikan dalam berdakwah.
2- Orang yang baru masuk Islam cukup diajarkan perkara-perkara yang wajib.
3- Berdakwah kepada Allah Ta'ala harus dilakukan secara bertahap.
4- Kegigihan orang tersebut untuk belajar urusan agamanya.
5- Apabila seorang muslim mencukupkan diri dengan perkara-perkara wajib, ia telah beruntung, tetapi itu bukan berarti menggampangkan perkara sunah, karena yang sunah menjadi penyempurna kekurangan pada yang wajib.
6- Beberapa ibadah yang disebutkan secara khusus menunjukkan statusnya yang sangat penting serta dianjurkan, dan tidak berarti yang lainnya tidak wajib.
Rujukan
صحيح البخاري (2/ 105) (1397).
صحيح مسلم (1/ 44) (14).
كنوز رياض الصالحين، لمجموعة من الباحثين (15/ 588).
بهجة الناظرين، لسليم الهلالي (2/ 349).
نزهة المتقين، لمجموعة من الباحثين (2/ 861).
منار القاري، لحمزة قاسم (3/ 5).
مرقاة المفاتيح شرح مشكاة المصابيح، لعلي القاري (1/ 82).
Abdurrahman bin Abu Lailā meriwayatkan, ia berkata, "Aku bertemu dengan Ka'ab bin 'Ujrah, dia berkata, "Maukah engkau kuberi sebuah hadiah?" "Nabi ﷺ keluar menemui kami. Kami bertanya, 'Wahai Rasulullah, kami sudah tahu bagaimana mengucapkan salam kepadamu, lalu bagaimana kami berselawat?' Beliau bersabda, 'Ucapkanlah: Allāhumma ṣalli 'alā muḥammad, wa 'alā āli muḥammad, kamā ṣallaita 'alā āli ibrāhīm, innaka ḥamīdun majīd. Allāhumma bārik 'alā muḥammad, wa 'alā āli muḥammad, kamā bārakta 'alā āli ibrāhīm, innaka ḥamīdun majīd. (Ya Allah! berikanlah selawat kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau memberikan selawat kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Mahamulia. Ya Allah! berikanlah keberkahan kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau memberikan keberkahan kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Mahamulia)'."
Muttafaq 'alaihDerajatSahih
Penjelasan
Para sahabat bertanya kepada Nabi ﷺ tentang tata cara berselawat kepada beliau, setelah mereka mengetahui cara mengucapkan salam kepada beliau di saat tahiyat salat, yaitu: as-salāmu 'alaika ayyuhan-nabiyyu waraḥmatullāhi wabarakātuh ...?" Maka Nabi ﷺ mengabari mereka cara berselawat kepada beliau, penjelasan maknanya sebagai berikut: Allāhumma ṣalli 'alā muḥammad wa 'alā āli muḥammad; yakni: pujilah Muhammad dengan penyebutan yang indah di hadapan para malaikat tertinggi, juga pengikut beliau dalam agama, serta orang-orang beriman dari kerabat beliau. Kamā ṣallaita 'alā āli ibrāhīm; yakni: sebagaimana Engkau telah memberikannya pada keluarga Ibrahim -'alaihissalām-, yaitu Ibrahim, Ismail, Ishaq, dan keluarga mereka serta pengikut-pengikut mereka yang beriman, maka berilah karunia-Mu kepada Muhammad ﷺ juga. Innaka ḥamīdun majīd; artinya: Engkau yang terpuji pada zat, sifat, dan perbuatan-perbuatan-Mu; yang luas dalam keagungan, kekuasaan, dan pemberian-Mu. Allāhumma bārik 'alā muḥammad wa 'alā āli muḥammad kamā bārakta 'alā āli ibrāhīm; yakni: berilah ia kebaikan dan kemuliaan yang terbesar, serta tambahkanlah dan tetapkanlah.
Faedah
1- Kalangan salaf biasa saling memberi hadiah berupa permasalahan-permasalahan ilmiah.
2- Kewajiban berselawat kepada Nabi ﷺ pada tasyahud akhir salat.
3- Nabi ﷺ mengajari sahabatnya lafaz salam dan selawat kepada beliau.
4- Lafaz ini adalah lafaz selawat kepada Nabi ﷺ yang paling sempurna.
Rujukan
صحيح البخاري (8/ 77) (6357).
صحيح مسلم (1/ 305) (406).
تيسير العلام شرح عمدة الأحكام، لعبد الله البسام (ص208).
تنبيه الأفهام شرح عمدة الأحكام، لابن عثيمين (2/ 270).
الإلمام بشرح عمدة الأحكام، لإسماعيل الأنصاري (1/ 170).
عن أبي رِفَاعَةَ تَمِيم بن أُسَيدٍ رضي الله عنه قَالَ: انتهيتُ إلى رسولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم وهو يَخطبُ، فَقُلتُ: يَا رسولَ اللهِ، رَجُلٌ غَريبٌ جاءَ يَسألُ عن دِينِهِ لا يَدرِي مَا دِينُهُ؟ فَأَقْبلَ عليَّ رسولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم وتَرَكَ خُطبتَهُ حتى انتَهى إليَّ، فأُتِيَ بكُرسِيٍّ، فَقَعَدَ عليه، وجَعَلَ يُعَلِّمُنِي ممّا عَلَّمَهُ اللهُ، ثم أتى خُطبتَهُ فَأَتَمَّ آخِرَهَا.
Dari Rifa'ah Tamīm bin Usaid -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, "Aku mendatangi Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, sedangkan beliau masih berkhotbah. Kemudian aku menyelanya, "Wahai Rasulullah, ada orang asing datang hendak bertanya tentang agamanya, karena ia belum mengerti tentang seluk-beluk agamanya?" Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menuju ke arahku dan menghentikan khotbahnya hingga tiba di hadapanku. Lalu beliau diberi kursi dan duduk di atasnya serta mengajariku apa yang diajarkan Allah kepadanya. Setelah itu beliau melanjutkan khotbahnya sampai selesai."
Diriwayatkan oleh MuslimDerajatHadis sahih
Penjelasan
Di antara bentuk sifat tawaduk (rendah hati) Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- adalah ketika seorang lelaki mendatangi beliau saat berkhotbah di hadapan sahabat. Orang itu berkata, "Orang asing datang untuk menanyakan seluk-beluk agamanya." Seketika itu pula Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mendekati orang tersebut dan menghentikan khotbahnya hingga tiba di hadapan orang asing itu. Lantas diberikan kursi kepada beliau lalu beliau mengajari orang itu karena ia datang dengan simpati dan cinta terhadap ilmu. Ia ingin mengetahui agamanya sehingga bisa mengamalkannya. Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mendatanginya dan menghentikan khotbahnya serta mengajarinya. Setelah itu beliau kembali menyempurnakan khotbahnya.
Rujukan
بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين؛ تأليف سليم الهلالي، دار ابن الجوزي.
رياض الصالحين من كلام سيد المرسلين؛ للإمام أبي زكريا النووي، تحقيق د. ماهر الفحل، دار ابن كثير-دمشق، الطبعة الأولى، 1428هـ.
شرح رياض الصالحين؛ للشيخ محمد بن صالح العثيمين، مدار الوطن-الرياض، 1426هـ.
شرح صحيح مسلم؛ للإمام محي الدين النووي، دار الريان للتراث-القاهرة، الطبعة الأولى، 1407هـ.
صحيح مسلم؛ للإمام مسلم بن الحجاج، حققه ورقمه محمد فؤاد عبدالباقي، دار عالم الكتب-الرياض، الطبعة الأولى، 1417هـ.
نزهة المتقين شرح رياض الصالحين؛ تأليف د. مصطفى الخِن وغيره، مؤسسة الرسالة-بيروت، الطبعة الرابعة عشر، 1407هـ.
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan: Rasulullah ﷺ bersabda, "Siapa yang mempelajari suatu ilmu yang seharusnya untuk mencari wajah Allah ﷻ, namun ia tidak mempelajarinya kecuali untuk mendapatkan kesenangan dunia, maka ia tidak akan mencium aroma surga pada hari Kiamat." Maksudnya: wanginya.
HR. Abu Daud, Ibnu Majah, dan AhmadDerajatSahih
Penjelasan
Nabi ﷺ menjelaskan bahwa orang yang belajar ilmu agama yang seharusnya diniatkan untuk mengejar rida Allah Ta'ala, tetapi ia tidak mempelajarinya kecuali demi mendapatkan bagian dan kenikmatan dunia berupa harta atau kedudukan, maka ia tidak akan mendapatkan aroma surga pada hari Kiamat.
Faedah
1- Kewajiban ikhlas dalam menuntut ilmu dan anjuran untuk itu.
2- Peringatan keras terhadap tindakan menjadikan ilmu agama sebagai bahan untuk bersikap riya atau kendaraan untuk meraih hal-hal duniawi, karena yang seperti itu termasuk dosa besar.
3- Siapa yang menimba ilmu karena Allah Ta'ala lalu dunia menghampirinya sebagai ikutan, maka ia boleh mengambilnya, dan hal tersebut tidak membahayakannya.
4- As-Sindi berkata, "Sabda beliau ﷺ, 'arfal-jannah' artinya aroma surga. Ini adalah bentuk penegasan dalam pengharaman surga baginya, karena orang yang tidak mendapatkan aroma sesuatu maka ia tidak akan menikmatinya."
5- Orang yang mempelajari suatu ilmu yang seharusnya diniatkan demi wajah Allah, untuk mendapatkan pekerjaan atau untuk mendapatkan tujuan-tujuan duniawi lainnya, ia harus bertobat kepada Allah dari hal tersebut dan pasti Allah akan menghapus dosa niat rusak yang telah terjadi karena Allah Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi memiliki karunia yang besar.
6- Peringatan ini berlaku bagi penuntut ilmu agama. Adapun orang yang belajar salah satu ilmu duniawi demi mendapatkan kenikmatan dunia, seperti teknik, kimia, dan lainnya demi dunia, maka ia diperkenankan dengan niatnya itu.
Rujukan
سنن أبي داود (5/ 504) (3664).
سنن ابن ماجه (1/ 169) (252).
مسند أحمد (14/ 169) (8457).
شرح رياض الصالحين، لابن عثيمين (2/ 477).
كنوز رياض الصالحين، لمجموعة من الباحثين (16/ 507).
نزهة المتقين شرح رياض الصالحين، لمجموعة من الباحثين (2/ 957).
بهجة الناظرين، لسليم الهلالي (2/ 447).
عون المعبود شرح سنن أبي داود، العظيم آبادي (10/ 70).
حاشية السندي على سنن ابن ماجه، لمحمد التتوي (1/ 110).
عن أبي هريرة رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: «مَنْ سُئِلَ عن عِلْمٍ فَكَتَمَهُ، أُلْجِمَ يوم القيامةِ بِلِجَامٍ مِنْ نارٍ».
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Siapa ditanya tentang suatu ilmu kemudian ia menyembunyikannya, maka pada hari kiamat ia akan dipasangkan kendali dari neraka."
Diriwayatkan oleh Ibnu Mājah - Diriwayatkan oleh Tirmiżi - Diriwayatkan oleh Abu Daud - Diriwayatkan oleh AhmadDerajatHadis sahih
Penjelasan
Hadis ini mengandung peringatan keras tentang menyembunyikan ilmu dan bahwasanya orang yang ditanya tentang suatu ilmu yang dibutuhkan oleh penanya dalam urusan agamanya sedangkan yang ditanya harus menjawabnya; lalu dia tidak menerangkan ilmu tersebut dengan tidak memberi jawaban atau dengan melarang pemberian buku, maka Allah -Ta'ālā- menghukumnya pada hari kiamat dengan cara memasukkan tali kendali dari neraka di mulutnya sebagai balasan baginya karena dia mengekang dirinya untuk diam, dan tentunya balasan ini sesuai jenis amal yang dilakukan. Ancaman keras dalam hadis ini ditimpakan kepada orang yang mengetahui bahwa penanya bertanya untuk meminta bimbingan. Adapun jika diketahui bahwa penanya bertanya untuk menguji dan bukan bertujuan untuk meminta bimbingan lalu mengetahuinya dan mengamalkannya; maka orang yang ditanya memiliki dua pilihan antara menjawab dan tidak, sedang dia tidak ditimpakan ancaman yang disebutkan dalam hadis ini.
Rujukan
- الجامع الصحيح –وهو سنن الترمذي-؛ للإمام محمد بن عيسى الترمذي، تحقيق أحمد شاكر وآخرين، مكتبة الحلبي-مصر، الطبعة الثانية، 1388هـ.
- رياض الصالحين من كلام سيد المرسلين؛ للإمام أبي زكريا النووي، تحقيق د. ماهر الفحل، دار ابن كثير-دمشق، الطبعة الأولى، 1428هـ.
- شرح رياض الصالحين؛ للشيخ محمد بن صالح العثيمين، مدار الوطن، الرياض، 1426هـ.
- مرقاة المفاتيح شرح مشكاة المصابيح؛ تأليف ملا علي القاري، تحقيق صدقي العطار، دار الفكر-بيروت، الطبعة الأولى، 1412هـ.
- مشكاة المصابيح؛ تأليف محمد بن عبدالله التبريزي، تحقيق محمد ناصر الدين الألباني، المكتب الإسلامي-بيروت، الطبعة الثانية، 1399هـ.
- نزهة المتقين شرح رياض الصالحين؛ تأليف د. مصطفى الخِن وغيره، مؤسسة الرسالة-بيروت، الطبعة الرابعة عشر، 1407هـ.
- سنن أبي داود, أبو داود سليمان بن الأشعث بن إسحاق بن بشير بن شداد بن عمرو الأزدي السِّجِسْتاني, المحقق: محمد محيي الدين عبد الحميد, المكتبة العصرية، صيدا – بيروت.
- مسند الإمام أحمد بن حنبل، تحقيق: شعيب الأرنؤوط - عادل مرشد، وآخرون، نشر: مؤسسة الرسالة، الطبعة: الأولى، 1421هـ - 2001م.
- مرقاة المفاتيح شرح مشكاة المصابيح، لعلي بن سلطان الملا الهروي القاري، الناشر: دار الفكر، بيروت – لبنان، الطبعة: الأولى، 1422هـ - 2002م.
- بهجة الناظرين, سليم بن عيد الهلالي، الناشر: دار ابن الجوزي ، سنة النشر: 1418 هـ- 1997م.
- سنن ابن ماجه, ابن ماجه أبو عبد الله محمد بن يزيد القزويني، تحقيق: محمد فؤاد عبد الباقي, الناشر: دار إحياء الكتب العربية - فيصل عيسى البابي الحلبي.
- مرعاة المفاتيح شرح مشكاة المصابيح، أبو الحسن عبيد الله بن محمد الرحماني المباركفوري, الناشر: إدارة البحوث العلمية والدعوة والإفتاء - الجامعة السلفية، بنارس الهند, الطبعة: الثالثة - 1404 هـ، 1984 م.
Abdullah bin Mas'ūd -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Aku mendengar Nabi ﷺ bersabda, "Semoga Allah membaguskan rupa orang yang mendengar sebagian hadis kami kemudian ia menyampaikannya seperti yang ia dengar. Barangkali orang yang disampaikan padanya (suatu hadis) justru lebih paham daripada orang yang mendengarnya langsung."
HR. Tirmizi, Ibnu Majah, dan AhmadDerajatSahih
Penjelasan
Nabi ﷺ mendoakan adanya keindahan dan cahaya di dunia serta menyampaikannya pada keindahan surga serta kenikmatan dan keindahannya di akhirat bagi orang yang mendengar hadis beliau lalu menghafalnya hingga menyampaikannya kepada yang lain. Ada kalanya orang yang disampaikan kepadanya hadis lebih paham dan lebih mampu menyimpulkan hukum dari orang yang menyampaikan hadis tersebut. Orang yang pertama itu baik dalam menghafal dan menyampaikan, sedangkan orang yang kedua baik dalam memahami dan menyimpulkan.
Faedah
1- Dorongan untuk menghafal hadis Nabi dan menyampaikannya kepada orang lain.
2- Menjelaskan keutamaan ahli hadis dan kemuliaan mempelajarinya.
3- Keutamaan ulama, yaitu orang-orang yang mahir memahami dan menyimpulkan.
4- Keutamaan para sahabat -raḍiyallāhu 'anhum- karena merekalah orang yang mendengar hadis Rasulullah ﷺ dan menyampaikannya kepada kita.
5- Al-Munāwiy berkata, "Dengan ini diterangkan bahwa seorang perawi hadis tidak disyaratkan harus paham. Syaratnya hanya hafal (penjagaan). Sedangkan seorang fakih harus paham dan menadaburi."
6- Ibnu 'Uyainah berkata, "Tidak ada orang yang belajar hadis kecuali di wajahnya terdapat keindahan, berdasarkan hadis ini."
7- Penjagaan hadis di kalangan ahli hadis terbagi menjadi dua: penjagaan dalam hati dan penjagaan dalam kitab atau tulisan. Keduanya masuk dalam hadis ini.
8- Tingkat pemahaman manusia berbeda-beda; bisa jadi orang yang diberi tahu lebih paham daripada orang yang mendengar langsung, dan bisa jadi orang yang meriwayatkan ilmu bukan orang yang ahli fikih.
Rujukan
سنن الترمذي (4/ 394) (2657).
سنن ابن ماجه (1/ 157) (232).
مسند أحمد (7/ 221) (4157).
بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين، لسليم الهلالي (2/ 476).
شرح رياض الصالحين، لابن عثيمين (5/ 446).
فيض القدير شرح الجامع الصغير، لعبدالرؤوف المناوي (3/ 206).
كنوز رياض الصالحين، لمجموعة من الباحثين (16/ 496).
نزهة المتقين شرح رياض الصالحين، لمجموعة من الباحثين (2/ 956).
Setiap hadis, derajat, penjelasan, dan faedah di sini ditampilkan persis sebagaimana diterbitkan HadeethEnc.com, menurut ketentuan penerbitan ulangnya. Derajat itu tidak menyebut siapa yang menilainya. Terjemahan dan penjelasan adalah karya para penyusunnya, dan sebagian menyebutkan hukum; para peninjau Sabīl belum memeriksanya. Hadis berbahasa Arablah teksnya. Sumber: HadeethEnc.com