عَنْ عَائِشَةَ أُمِّ المُؤمنينَ رضي الله عنها قَالَتْ: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعْجِبُهُ التَّيَمُّنُ، فِي تَنَعُّلِهِ، وَتَرَجُّلِهِ، وَطُهُورِهِ، وَفِي شَأْنِهِ كُلِّهِ.
Ummul Mukminin Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- berkata, "Rasulullah ﷺ senang memulai dengan kanan dalam mengenakan sandal, bersisir, bersuci, dan dalam segala urusannya."
Muttafaq 'alaihDerajatSahih
Penjelasan
Nabi ﷺ suka serta mengutamakan untuk memulai dengan bagian kanan dalam semua urusan yang perlu dimuliakan, di antaranya: memulai dengan kaki kanan dalam memakai sandal, memulai dengan sebelah kanan dalam menyisir rambut kepala dan jenggot serta dalam meminyakinya. Demikian juga dalam berwudu, beliau mendahulukan yang kanan sebelum kiri pada tangan dan kaki.
Faedah
- 1- An-Nawawiy berkata, "Kaidah ini berlaku umum dalam syariat. Yaitu semua yang masuk dalam kategori menghargai dan memuliakan seperti memakai baju, celana, dan sepatu, masuk masjid, bersiwak dan bercelak, memotong kuku, memotong kumis, menyisir rambut, mencabut bulu ketiak, mencukur rambut, bersalam dalam salat, membasuh anggota wudu dan mandi, keluar kamar kecil, makan dan minum, berjabat tangan, mengusap hajar aswad dan lain sebagainya yang semakna, dianjurkan di dalamnya memulai dengan yang kanan. Adapun sebaliknya, seperti masuk toilet, keluar masjid, mengeluarkan ingus, beristinja, melepas baju, celana, sepatu dan semisalnya maka dianjurkan agar mendahulukan yang kiri. Itu semuanya dilakukan lantaran kemuliaan bagian kanan."
- 2- "Beliau senang memulai dengan yang kanan" mencakup memulai perbuatan dengan tangan kanan, kaki kanan, sisi kanan serta mengambil sesuatu dengan tangan kanan.
- 3- An-Nawawiy berkata, "Ketahuilah bahwa sebagian anggota wudu ada yang tidak dianjurkan untuk memulai dengan yang kanan; yaitu kedua telinga, kedua telapak tangan, dan kedua pipi. Keduanya disucikan bersamaan sekaligus. Tetapi jika hal itu tidak memungkinkan, misalnya pada orang yang buntung dan semisalnya, hendaklah ia mendahulukan yang kanan."
Rujukan
صحيح البخاري (1/ 45) (168).
صحيح مسلم (1/ 226) (268).
Hadis ini di HadeethEnc.comعن عائشة رضي الله عنها قالت: "كَانَت يَدُ رسُولِ الله -صلَّى الله عليه وسلَّم- اليُمنَى لِطُهُورِهِ وطَعَامِهِ، وكَانَت اليُسْرَى لِخَلاَئِهِ، ومَا كَانَ مِنْ أَذَى".
عن حفصة رضي الله عنها "أَنَّ رَسُولَ الله -صلَّى الله عليه وسلَّم- كَانَ يَجْعَلُ يَمِينَهُ لِطَعَامِهِ وَشَرَابِهِ وَثِيَابِهِ، وَيَجْعَلُ يَسَارَهُ لِمَا سِوَى ذَلِك".
Dari Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- ia menuturkan, "Tangan kanan Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- digunakan untuk bersuci dan makan, sedangkan tangan kiri digunakan untuk buang air dan hal-hal yang kotor." Dari Ḥafṣah -raḍiyallāhu 'anhā- bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- biasa menggunakan tangan kanan beliau untuk makan, minum dan memakai baju, dan menggunakan tangan kiri untuk yang selain itu."
Diriwayatkan oleh Abu Daud - Diriwayatkan oleh AhmadDerajatHadis sahih
Penjelasan
Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- menjelaskan pekerjaan apa saja yang dilakukan Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dengan tangan kanan dan apa saja beliau yang beliau lakukan dengan tangan kiri. Ia menyebutkan bahwa urusan yang biasanya beliau lakukan dengan tangan kiri adalah perkara yang bersentuhan dengan kotoran, seperti istinja (menghilangkan najis dengan air), istijmār (menghilangkan najis dengan batu), istinsyāq (memasukkan air ke dalam hidung), istinṡār (mengeluarkan air setelah istinsyāq) dan semacamnya. Segala yang berhubungan dengan kotoran diutamakan menggunakan tangan kiri, sedang yang selain itu maka diutamakan menggunakan tangan kanan, karena memuliakan tangan kanan. Sebab kanan itu lebih utama daripada kiri. Hadis ini membahas disunahkannya mendahulukan yang kanan dalam perkara yang layak dimuliakan. Perkataan Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā-, "untuk bersuci ", maksudnya, apabila beliau bersuci mengawali dengan bagian kanan, yakni membasuh tangan kanan dulu sebelum tangan kiri, kaki kanan dulu sebelum kaki kiri. Sedangkan sepasang telinga dianggap satu organ yang termasuk bagian kepala sehingga diusap bersama-sama, kecuali jika hanya mampu mengusap dengan satu tangan, maka dalam kondisi ini memulai mengusap telinga kanan dahulu karena terpaksa. Perkataannya, "dan makan", maksudnya, makan beliau. "Sedangkan tangan kiri beliau digunakan untuk buang air", karena di sini dilakukan istinja, mengambil batu untuk istijmār dan menghilangkan kotoran. "dan hal-hal yang kotor", seperti menyingkirkan ludah dan ingus. Termasuk juga menyingkirkan kutu. Hadis Ḥafṣah di atas menguatkan hadis Aisyah yang menjelaskan disunahkannya memulai dengan kanan dalam perkara yang layak dimuliakan, dan mendahulukan kiri dalam perkara yang berkaitan dengan kotoran seperti istinja, istijmār dan semacamnya.
Rujukan
رياض الصالحين من كلام سيد المرسلين، أبو زكريا محيي الدين النووي، تحقيق ماهر الفحل، دار ابن كثير، دمشق، بيروت، الطبعة: الأولى، 1428هـ، 2007م.
سنن أبي داود، سليمان بن الأشعث أبوداود، المحقق: شعَيب الأرنؤوط، محَمَّد كامِل قره بلل، الناشر: دار الرسالة العالمية.
صحيح أبي داود، محمد ناصر الدين الألباني، الناشر: مؤسسة غراس للنشر والتوزيع، الكويت، الطبعة: الأولى، 1423هـ، 2002م.
دليل الفالحين لطرق رياض الصالحين، محمد علي بن البكري بن علان، اعتنى بها: خليل مأمون شيحا، دار المعرفة، بيروت، الطبعة: الرابعة، 1425هـ.
بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين، سليم بن عيد الهلالي، دار ابن الجوزي، الدمام، الطبعة: الأولى، 1415هـ.
نزهة المتقين شرح رياض الصالحين، مجموعة من الباحثين، مؤسسة الرسالة، بيروت، الطبعة: الرابعة عشر،1407هـ، 1987م.
شرح رياض الصالحين، محمد بن صالح العثيمين، دار الوطن، الرياض، الطبعة: 1426هـ.
مسند الإمام أحمد بن حنبل، أحمد بن حنبل أبو عبدالله الشيباني، تحقيق: شعيب الأرنؤوط و عادل مرشد، وآخرون، تحت إشراف: عبد الله بن عبد المحسن التركي، مؤسسة الرسالة، الطبعة: الأولى،1421هـ، 2001م.
Hadis ini di HadeethEnc.comعَنْ أَنَسٍ رضي الله عنه: أَنَّ نَفَرًا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَأَلُوا أَزْوَاجَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ عَمَلِهِ فِي السِّرِّ؟ فَقَالَ بَعْضُهُمْ: لَا أَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ، وَقَالَ بَعْضُهُمْ: لَا آكُلُ اللَّحْمَ، وَقَالَ بَعْضُهُمْ: لَا أَنَامُ عَلَى فِرَاشٍ، فَحَمِدَ اللهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ، فَقَالَ: «مَا بَالُ أَقْوَامٍ قَالُوا كَذَا وَكَذَا؟ لَكِنِّي أُصَلِّي وَأَنَامُ، وَأَصُومُ وَأُفْطِرُ، وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ، فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي».
Anas -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Sejumlah orang dari sahabat Nabi ﷺ bertanya pada istri-istri Nabi ﷺ mengenai amalan beliau ketika sendiri. Lantas sebagian mereka mengatakan, "Aku tidak akan menikahi wanita." Sebagian lagi berkata, "Aku tidak akan makan daging." Yang lainnya berkata, "Aku tidak akan tidur di atas kasur." Maka beliau ﷺ memuji Allah dan menyanjung-Nya seraya bersabda, "Mengapa sebagian orang mengatakan begini dan begini?! Padahal, aku ini salat dan tidur, puasa dan berbuka, serta menikahi wanita. Siapa yang tidak menyukai Sunnahku, maka dia bukan dari golonganku."
Muttafaq 'alaihDerajatSahih
Penjelasan
Sejumlah orang dari para sahabat -raḍiyallāhu 'anhum- datang ke rumah istri-istri Nabi ﷺ untuk bertanya tentang ibadah beliau saat sendiri di dalam rumah. Ketika mereka diberi tahu, sepertinya mereka menganggapnya sedikit, sehingga mereka mengatakan: Di mana posisi kita dari Nabi ﷺ? Beliau telah diberi ampunan terhadap dosa beliau yang telah lalu dan yang akan datang. Berbeda dengan orang yang tidak tahu telah mendapatkan ampunan, ia butuh ibadah yang lebih banyak agar mendapatkan ampunan. Lalu sebagian mereka mengatakan: Aku tidak akan menikah. Yang lain mengatakan: Aku tidak akan makan daging. Lainnya lagi mengatakan: Aku tidak akan tidur di kasur. Ucapan mereka itu sampai kepada Nabi ﷺ, sehingga beliau marah dan berpidato di hadapan orang-orang seraya memuji dan menyanjung Allah kemudian bersabda: Ada apa dengan sebagian orang yang mengatakan begini dan begini?! Demi Allah, aku adalah orang yang paling takut kepada Allah dan paling bertakwa di antara kalian. Akan tetapi, aku juga tidur agar ada tenaga untuk mengerjakan salat malam, aku juga berbuka agar ada tenaga untuk berpuasa, dan aku juga menikahi wanita. Siapa yang berpaling dari cara beragamaku, memandang kesempurnaan ada pada yang lain, dan mengikuti jalan selainku, maka ia bukan dari golonganku.
Faedah
- 1- Kecintaan para sahabat -raḍiyallāhu 'anhum- pada kebaikan dan semangat mereka untuk meneladan Nabi ﷺ.
- 2- Kemudahan dan kesederhanaan syariat Islam sebagaimana yang didapat dari praktik dan petunjuk Nabi ﷺ.
- 3- Kebaikan dan keberkahan ada pada meneladan Nabi ﷺ dan mengikuti seluruh petunjuk beliau yang mulia.
- 4- Larangan menyulitkan diri dalam ibadah dengan sesuatu yang tidak disanggupi, bahkan yang seperti ini adalah karakteristik para pelaku bidah.
- 5- Ibnu Ḥajar berkata, "Menyulitkan diri dalam ibadah dapat melahirkan rasa bosan yang akan menghentikan amalan secara keseluruhan. Sebaliknya, hanya mencukupkan diri pada yang fardu saja dan meninggalkan amalan sunah akan berakibat mengutamakan santai dan tidak semangat beribadah. Jadi, sebaik-baik urusan adalah yang pertengahan."
- 6- Mempelajari kehidupan orang-orang besar untuk meneladan amal mereka, jika hal itu tidak dapat diketahui melalui laki-laki maka boleh diungkap melalui para wanita.
- 7- Dalam hadis ini terdapat nasihat, pembahasan masalah ilmu, penjelasan hukum kepada para mukalaf, dan penghilangan syubhat dari kalangan mujtahid.
- 8- Perintah sederhana dalam ibadah disertai dengan memeliharanya dan menjaga amalan-amalan fardu dan sunah agar seorang muslim memperhatikan hak orang lain yang menjadi kewajibannya.
- 9- Dalam hadis ini terdapat petunjuk keutamaan dan motivasi untuk menikah.
Rujukan
صحيح البخاري (7/ 2) (5063).
صحيح مسلم (2/ 1020) (1401).
تيسير العلام شرح عمدة الأحكام، لعبد الله البسام (ص566).
خلاصة الكلام شرح عمدة الأحكام، لفيصل آل مبارك (ص282).
Hadis ini di HadeethEnc.comعَنْ عَائِشَةَ أُمِّ المُؤْمِنينَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: مَا أَكَلَ آلُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَكْلَتَيْنِ فِي يَوْمٍ إِلَّا إِحْدَاهُمَا تَمْرٌ.
Ummul Mukminin Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- berkata, "Keluarga Muhammad ﷺ tidak pernah makan dua kali dalam sehari melainkan salah satunya adalah kurma."
Muttafaq 'alaihDerajatSahih
Penjelasan
Ummul Mukminin Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- memberitahukan bahwa keluarga Nabi ﷺ tidak makan dalam sehari dua kali kecuali salah satunya adalah kurma.
Faedah
- 1- Ketawadukan Nabi ﷺ dan keluarga beliau, bahkan terkadang dalam sehari mereka hanya satu kali makan.
- 2- Kurma bagi mereka lebih mudah daripada makanan lainnya.
- 3- Keutamaan zuhud dan merasa cukup dengan kehidupan yang sedikit, karena ia termasuk perilaku para nabi serta gaya hidup penghulu para rasul.
- 4- Makan dua kali dalam sehari merupakan perkara yang mubah dan termasuk kebiasaan bangsa Arab yang dikenal, yaitu mereka biasanya makan dalam sehari dua kali, makan siang dan makan malam.
Rujukan
صحيح البخاري (8/ 97) (6455).
صحيح مسلم (4/ 2282) (2971).
فتح الباري لابن حجر (11/ 292).
Hadis ini di HadeethEnc.comعَنْ عَائِشَةَ أُمِّ المُؤْمِنينَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: مَا شَبِعَ آلُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُنْذُ قَدِمَ المَدِينَةَ مِنْ طَعَامِ البُرِّ ثَلاَثَ لَيَالٍ تِبَاعًا، حَتَّى قُبِضَ.
Ummul Mukminin Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- berkata, "Sejak tiba di Madinah, keluarga Muhammad ﷺ tidak pernah kenyang dengan makanan gandum selama tiga malam berturut-turut hingga beliau diwafatkan."
Muttafaq 'alaihDerajatSahih
Penjelasan
Ummul Mukminin Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- memberitahukan bahwa keluarga Nabi ﷺ tidak pernah kenyang sejak tiba di Madinah dengan makanan gandum tiga hari berturut-turut sampai beliau ﷺ wafat.
Faedah
- 1- Penjelasan tentang minimnya kehidupan Nabi ﷺ bersama keluarganya, karena kehidupan yang sejati adalah di akhirat.
- 2- Ibnu Hajar berkata, "Yang tampak adalah bahwa sebab mereka sering tidak kenyang biasanya karena sedikitnya makanan yang mereka miliki, meskipun terkadang mereka mendapatkannya, namun mereka lebih mengutamakan orang lain daripada diri mereka sendiri."
Rujukan
صحيح البخاري (7/ 75) (5416).
صحيح مسلم (4/ 2282) (2970).
المفهم لما أشكل من تلخيص كتاب مسلم (7/ 129).
البحر المحيط الثجاج في شرح صحيح الإمام مسلم بن الحجاج (45/ 129).
Hadis ini di HadeethEnc.comعَنْ عَائِشَةَ أُمِّ المُؤْمِنينَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: كَانَ فِرَاشُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ أَدَمٍ، وَحَشْوُهُ مِنْ لِيفٍ، وَلِمُسلمٍ: كَانَ وِسَادَةُ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الَّتِي يَتَّكِئُ عَلَيْهَا مِنْ أَدَمٍ حَشْوُهَا لِيفٌ.
Ummul Mukminin Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- berkata, "Kasur Rasulullah ﷺ terbuat dari kulit yang diisi sabut." Dalam riwayat Muslim disebutkan: "Bantal Rasulullah ﷺ yang biasa digunakan untuk bersandar, terbuat dari kulit diisi sabut."
Muttafaq 'alaihDerajatSahih
Penjelasan
Ummul Mukminin Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- mengabarkan bahwa kasur yang biasa digunakan tidur oleh Rasulullah ﷺ terbuat dari kulit yang telah disamak, diisi penuh dengan sabut pohon kurma. Begitu pula dengan bantal yang digunakan untuk bersandar.
Faedah
- 1- Penjelasan tentang kehidupan Nabi ﷺ yang zuhud dan menjauhi kesenangan duniawi, padahal Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- memberi beliau kesempatan menikmatinya jika beliau menginginkannya.
- 2- Boleh menggunakan kasur dan bantal untuk tidur dan bersandar.
- 3- Seorang muslim patut mengambil pelajaran dari keadaan dan kehidupan Nabi ﷺ karena beliau adalah suri teladan terbaik, dan siapa yang mengikuti jejak beliau akan mendapatkan petunjuk dan keberuntungan di dunia dan akhirat.
- 4- Antusias menyiapkan diri untuk akhirat, dan sebaiknya seorang mukmin mengambil secukupnya dari materi duniawi yang akan membantunya beribadah kepada Allah, serta tidak menyibukkan diri saling berlomba memperbanyak harta duniawi. Allah telah mencela suatu kaum karena itu dengan firman-Nya, "Bermegah-megahan telah melalaikan kalian, sampai kalian masuk ke dalam kubur." (QS. At-Takāṡur: 2-1)
Rujukan
صحيح البخاري (8/ 97) (6456).
صحيح مسلم (3/ 1650) (2082).
البحر المحيط الثجاج في شرح صحيح الإمام مسلم بن الحجاج (34/ 662).
إرشاد الساري لشرح صحيح البخاري (9/ 264).
المفهم لما أشكل من تلخيص كتاب مسلم (5/ 403).
النهاية في غريب الحديث والأثر (971).
Hadis ini di HadeethEnc.comعَنْ عَمْرِو بْنِ الحَارِثِ خَتَنِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَخِي أُمِّ المؤمِنين جُوَيْرِيَةَ بِنْتِ الحَارِثِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُم، قَالَ: مَا تَرَكَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عِنْدَ مَوْتِهِ دِرْهَمًا وَلاَ دِينَارًا وَلاَ عَبْدًا وَلاَ أَمَةً وَلاَ شَيْئًا، إِلَّا بَغْلَتَهُ البَيْضَاءَ، وَسِلاَحَهُ، وَأَرْضًا جَعَلَهَا صَدَقَةً.
'Amr bin Al-Ḥāriṡ, ipar Rasulullah ﷺ, saudara Ummul Mukminin Juwairiyah binti Al-Ḥāriṡ -raḍiyallāhu 'anhum- berkata, "Rasulullah ﷺ ketika wafat tidak meningalkan dirham, dinar, budak laki-laki atau perempuan, atau sesuatu apa pun lainnya, kecuali bagal berwarna putih milik beliau, senjatanya, serta tanah yang sudah disedekahkan."
HR. BukhariDerajatSahih
Penjelasan
Ketika Nabi ﷺ wafat, beliau tidak meninggalkan apa pun; dirham perak ataupun dinar emas, seorang budak laki-laki atau perempuan, tidak pula meninggalkan kambing dan unta maupun harta lain, kecuali bagal putih miliknya yang biasa beliau tunggangi, senjata yang biasa beliau bawa, serta tanah yang sudah diwakafkan semasa beliau masih sehat untuk kepentingan ibnusabil.
Faedah
- 1- Para Nabi tidak meninggalkan warisan.
- 2- Penjelasan perihal apa yang ditinggalkan oleh Nabi ﷺ setelah beliau wafat.
- 3- Nabi ﷺ wafat tidak meninggalkan (materi duniawi) apa pun yang terlihat penting disebabkan karena beliau sangat dermawan, sering berinfak, dan berbuat baik.
- 4- Al-Kirmani mengatakan, "Ḍamīr (kata ganti) dalam sabda beliau "wa ja'alahā" kembali ke ketiga benda-benda peninggalan beliau: bagal, senjata, dan tanah. Bukan kembali ke tanah saja."
- 5- Kata "al-khatan" maknanya: saudara istri, dan "al-akhtān" adalah kerabat dari pihak istri.
Rujukan
صحيح البخاري (4/ 2) (2739).
النهاية في غريب الحديث والأثر (254).
فتح الباري لابن حجر (5/ 360).
عمدة القاري شرح صحيح البخاري (14/ 31).
Hadis ini di HadeethEnc.comعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قِيلَ: يَا رَسُولَ اللهِ ادْعُ عَلَى المُشْرِكِينَ قَالَ: «إِنِّي لَمْ أُبْعَثْ لَعَّانًا، وَإِنَّمَا بُعِثْتُ رَحْمَةً».
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- menuturkan: Ada seseorang berkata, "Wahai Rasulullah, doakanlah keburukan untuk orang-orang musyrik." Beliau bersabda, "Sesungguhnya aku tidak diutus sebagai orang yang gemar melaknat, tetapi aku diutus sebagai kasih sayang."
HR. MuslimDerajatSahih
Penjelasan
Nabi ﷺ diminta agar mendoakan keburukan bagi orang-orang yang menyekutukan Allah, maka beliau menjawab, "Sesungguhnya aku diutus oleh Allah bukan sebagai orang yang suka melaknat yang mendoakan keburukan bagi manusia agar jauh dan terusir dari rahmat Allah, sehingga aku menutup mereka dari kebaikan. Aku tidak diutus untuk hal tersebut. Akan tetapi, aku diutus untuk menjadi sebab kebaikan serta kasih sayang bagi manusia umumnya, dan kaum mukminin khususnya."
Faedah
- 1- Kesempurnaan akhlak Nabi ﷺ.
- 2- Pentingnya membersihkan lisan dari celaan dan laknat, sebagai bentuk meneladani Nabi ﷺ.
- 3- Hadis ini mengandung larangan melaknat.
- 4- Anjuran untuk bersikap kasih sayang kepada sesama manusia.
Rujukan
صحيح مسلم (4/ 2006) (2599).
المفهم لما أشكل من تلخيص كتاب مسلم (6/ 582).
البحر المحيط الثجاج في شرح صحيح الإمام مسلم بن الحجاج (40/ 683).
Hadis ini di HadeethEnc.comSetiap hadis, derajat, penjelasan, dan faedah di sini ditampilkan persis sebagaimana diterbitkan HadeethEnc.com, menurut ketentuan penerbitan ulangnya. Derajat itu tidak menyebut siapa yang menilainya. Terjemahan dan penjelasan adalah karya para penyusunnya, dan sebagian menyebutkan hukum; para peninjau Sabīl belum memeriksanya. Hadis berbahasa Arablah teksnya. Sumber: HadeethEnc.com