Sejumlah orang dari para sahabat -raḍiyallāhu 'anhum- datang ke rumah istri-istri Nabi ﷺ untuk bertanya tentang ibadah beliau saat sendiri di dalam rumah. Ketika mereka diberi tahu, sepertinya mereka menganggapnya sedikit, sehingga mereka mengatakan: Di mana posisi kita dari Nabi ﷺ? Beliau telah diberi ampunan terhadap dosa beliau yang telah lalu dan yang akan datang. Berbeda dengan orang yang tidak tahu telah mendapatkan ampunan, ia butuh ibadah yang lebih banyak agar mendapatkan ampunan. Lalu sebagian mereka mengatakan: Aku tidak akan menikah. Yang lain mengatakan: Aku tidak akan makan daging. Lainnya lagi mengatakan: Aku tidak akan tidur di kasur. Ucapan mereka itu sampai kepada Nabi ﷺ, sehingga beliau marah dan berpidato di hadapan orang-orang seraya memuji dan menyanjung Allah kemudian bersabda: Ada apa dengan sebagian orang yang mengatakan begini dan begini?! Demi Allah, aku adalah orang yang paling takut kepada Allah dan paling bertakwa di antara kalian. Akan tetapi, aku juga tidur agar ada tenaga untuk mengerjakan salat malam, aku juga berbuka agar ada tenaga untuk berpuasa, dan aku juga menikahi wanita. Siapa yang berpaling dari cara beragamaku, memandang kesempurnaan ada pada yang lain, dan mengikuti jalan selainku, maka ia bukan dari golonganku.
- 1- Kecintaan para sahabat -raḍiyallāhu 'anhum- pada kebaikan dan semangat mereka untuk meneladan Nabi ﷺ.
- 2- Kemudahan dan kesederhanaan syariat Islam sebagaimana yang didapat dari praktik dan petunjuk Nabi ﷺ.
- 3- Kebaikan dan keberkahan ada pada meneladan Nabi ﷺ dan mengikuti seluruh petunjuk beliau yang mulia.
- 4- Larangan menyulitkan diri dalam ibadah dengan sesuatu yang tidak disanggupi, bahkan yang seperti ini adalah karakteristik para pelaku bidah.
- 5- Ibnu Ḥajar berkata, "Menyulitkan diri dalam ibadah dapat melahirkan rasa bosan yang akan menghentikan amalan secara keseluruhan. Sebaliknya, hanya mencukupkan diri pada yang fardu saja dan meninggalkan amalan sunah akan berakibat mengutamakan santai dan tidak semangat beribadah. Jadi, sebaik-baik urusan adalah yang pertengahan."
- 6- Mempelajari kehidupan orang-orang besar untuk meneladan amal mereka, jika hal itu tidak dapat diketahui melalui laki-laki maka boleh diungkap melalui para wanita.
- 7- Dalam hadis ini terdapat nasihat, pembahasan masalah ilmu, penjelasan hukum kepada para mukalaf, dan penghilangan syubhat dari kalangan mujtahid.
- 8- Perintah sederhana dalam ibadah disertai dengan memeliharanya dan menjaga amalan-amalan fardu dan sunah agar seorang muslim memperhatikan hak orang lain yang menjadi kewajibannya.
- 9- Dalam hadis ini terdapat petunjuk keutamaan dan motivasi untuk menikah.
صحيح البخاري (7/ 2) (5063). صحيح مسلم (2/ 1020) (1401). تيسير العلام شرح عمدة الأحكام، لعبد الله البسام (ص566). خلاصة الكلام شرح عمدة الأحكام، لفيصل آل مبارك (ص282).