عن أبي موسى الأشعري رضي الله عنه عن النبيِّ -صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم- أَنَّهُ قَالَ: «الخَاِزنُ المسلم الأمين الَّذِي يُنْفِذُ ما أُمِرَ بِهِ فَيُعْطِيهِ كَامِلاً مُوَفَّراً طَيِّبَةً بِهِ نَفسُهُ فَيَدْفَعُه إلى الَّذِي أُمِرَ لَهُ بِهِ، أَحَدُ المُتَصَدِّقِين».
وفي رواية: «الذي يُعطِي مَا أُمِرَ به».
Dari Abu Musa al-Asy'ari -raḍiyallāhu 'anhu- dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, beliau bersabda, "Seorang bendahara muslim yang terpercaya dan melaksanakan apa yang diperintahkan kepadanya, kemudian memberikan harta yang disimpannya dengan utuh dan penuh dengan senang hati, lalu menyalurkan harta tersebut kepada siapa yang diperintahkan untuk diberi, maka ia termasuk salah satu dari dua orang yang bersedekah." Dalam riwayat lain disebutkan, "Yang memberikan apa yang telah diperintahkan kepadanya."
Diriwayatkan oleh Bukhari - Muttafaq 'alaih, dan ini redaksi BukhariDerajatHadis sahih
Penjelasan
Lafal "Al-Khāzin (bendahara)" mubtada', dan lafal "aḥadu al-mutaṣaddiqain" adalah khabar. Yakni bahwa bendahara yang memiliki empat sifat; Islam, amanah, melaksanakan apa yang diperintahkan untuk diberikan, dan waktu memberikan dalam keadaan lapang dada, serta berwajah ceria dan senang. Dia seorang muslim, ini untuk mengeluarkan orang kafir dari pengertian. Seorang bendahara apabila dia orang kafir, meskipun terpercaya dan melaksanakan apa yang diperintahkan kepadanya, maka ia tidak akan mendapatkan pahala. Sebab, orang-orang kafir itu tidak mendapatkan pahala di akhirat atas kebaikan yang telah mereka kerjakan. Allah -Ta'ālā- berfirman, "Dan Kami akan perlihatkan segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami akan jadikan amal itu debu yang beterbangan." Allah -Ta'ālā- berfirman, "Barangsiapa murtad di antara kalian dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itu sia-sia amalnya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya." Sedangkan jika dia berbuat amal kebaikan lalu masuk Islam, maka dia masuk Islam dengan membawa amal kebaikan yang telah dilakukannya dan diberi pahalanya. Sifat kedua: terpercaya, yaitu orang yang menunaikan apa yang diamanahkan kepadanya. Dia memelihara harta, tidak merusaknya, tidak kikir dan tidak berlebih-lebihan di dalamnya. Sifat ketiga: menunaikan apa yang diperintahkan kepadanya. Yakni, dia melaksanakannya. Sebab, ada juga orang yang dapat dipercaya tetapi malas. Sedangkan orang ini dapat dipercaya dan melaksanakan apa yang diperintahkan kepadanya. Dengan demikian ia menghimpun antara kekuatan dan amanah. Sifat keempat: melaksanakannya dengan senang hati. Jika dia melaksanakan dan memberikan sesuai dengan apa yang diperintahkan kepadanya, dia melakukannya dengan senang hati. Yakni, tidak mengharapkan balasan dari orang yang diberi atau menampakkan diri bahwa ia memiliki jasa kepadanya, tetapi dia memberinya dengan senang hati. Dengan demikian, dia termasuk salah seorang dari dua orang yang bersedekah, padahal dia sendiri tidak memberikan apapun.
Rujukan
بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين لسليم الهلالي، ط1، دار ابن الجوزي، الدمام، 1415ه.
دليل الفالحين لطرق رياض الصالحين لمحمد علي بن محمد بن علان، ط4، اعتنى بها: خليل مأمون شيحا، دار المعرفة، بيروت، 1425 ه.
رياض الصالحين للنووي، ط1، تحقيق: ماهر ياسين الفحل، دار ابن كثير، دمشق، بيروت، 1428 هـ.
رياض الصالحين، ط4، تحقيق: عصام هادي، وزارة الأوقاف والشؤون الإسلامية القطرية، دار الريان، بيروت، 1428هـ.
كنوز رياض الصالحين، مجموعة من الباحثين برئاسة حمد بن ناصر العمار، ط1، كنوز إشبيليا، الرياض، 1430هـ.
شرح رياض الصالحين للشيخ ابن عثيمين، دار الوطن للنشر، الرياض، 1426هـ.
صحيح البخاري، تحقيق: محمد زهير بن ناصر الناصر، ط1، دار طوق النجاة (مصورة عن السلطانية بإضافة ترقيم: محمد فؤاد عبد الباقي)، 1422ه.
صحيح مسلم، تحقيق: محمد فؤاد عبد الباقي، دار إحياء التراث العربي، بيروت.
نزهة المتقين شرح رياض الصالحين لمجموعة من الباحثين، ط14، مؤسسة الرسالة، 1407هـ.
Ummul Mukminin Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā-, istri Nabi ﷺ, meriwayatkan, Seorang perempuan datang menemuiku bersama dua putrinya untuk meminta makanan. Tetapi ia tidak menemukan sesuatu padaku kecuali sebutir kurma. Maka aku memberikan kurma tersebut kepadanya, lalu ia membaginya di antara kedua putrinya. Kemudian ia bangun lalu pergi keluar bersama kedua putrinya. Lalu Nabi ﷺ masuk dan aku menceritakannya. Maka Nabi ﷺ bersabda, "Siapa yang mengurus urusan anak-anak perempuan, lalu ia berbuat baik kepada mereka, maka anak-anak tersebut akan menjadi pelindungnya dari neraka."
Muttafaq 'alaihDerajatSahih
Penjelasan
Ummul Mukminin Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- mengabarkan bahwa seorang perempuan datang menemuinya bersama kedua putrinya untuk meminta sesuatu yang bisa dimakan. Tetapi Aisyah tidak menemukan makanan selain satu butir kurma. Aisyah pun memberikannya kepadanya. Lalu perempuan itu membagi kurma tersebut di antara kedua putrinya, sedangkan ia tidak ikut makan sedikit pun. Perempuan itu pun bangun lalu pergi keluar. Kemudian Nabi ﷺ masuk, dan Aisyah menceritakan peristiwa itu kepadanya. Lalu beliau bersabda, "Siapa saja yang mengurus urusan anak perempuan, lalu ia berbuat baik kepada mereka, mendidik mereka, memberi mereka makan, minum, dan pakaian, serta bersabar untuk itu, anak-anak perempuan itu akan menjadi pelindung dan perisainya dari api neraka."
Faedah
1- Mengurus anak perempuan termasuk amal kebajikan paling utama yang dapat menjauhkan dari api neraka.
2- Anjuran bersedekah sesuai kemampuan, meskipun sedikit.
3- Besarnya kasih sayang kedua orang tua kepada anak-anaknya.
4- Menjelaskan keadaan rumah tangga Rasulullah ﷺ, dan rezeki beliau itu apa adanya.
5- Menjelaskan keutamaan sikap mengutamakan orang lain dan hal itu merupakan sifat utama orang beriman. Dalam hal ini, Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- mendahulukan perempuan tersebut dan kedua putrinya atas dirinya sendiri. Hal itu menunjukkan kedermawanan dan kemuliaannya, padahal ia sangat membutuhkan.
6- Karunia berupa anak perempuan disebut ujian karena menanggung mereka mendatangkan kesulitan dan lelah, atau karena sebagian orang tidak menyukainya, atau karena umumnya mereka tidak memiliki sumber penghasilan dan penghidupan.
7- Islam datang untuk mencabut kebiasaan-kebiasaan buruk jahiliah, di antaranya Islam mewasiatkan untuk memperhatikan anak perempuan.
8- Pahala ini akan diperoleh meskipun yang ada hanya satu anak perempuan, sebagaimana tertera dalam sebagian riwayat.
Rujukan
صحيح البخاري (8/ 7) (5995).
صحيح مسلم (4/ 2027) (2629).
بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين، لسليم الهلالي (1/ 353).
تطريز رياض الصالحين، لفيصل آل مبارك (ص199).
كنوز رياض الصالحين، لمجموعة من الباحثين (5/ 151).
شرح رياض الصالحين، لابن عثيمين (3/ 106).
نزهة المتقين شرح رياض الصالحين، لمجموعة من الباحثين (1/ 277).
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda, "Tidaklah manusia memasuki waktu pagi, melainkan ada dua malaikat yang turun (ke bumi). Salah satu dari kedua malaikat itu berdoa, ‘Ya Allah! Berikanlah ganti (yang baik) kepada orang yang bersedekah.' Sedang malaikat yang satunya lagi mengatakan, ‘Ya Allah! Timpakanlah kehancuran pada orang yang menahan hartanya (kikir).'"
Muttafaq 'alaihDerajatSahih
Penjelasan
Nabi ﷺ mengabarkan bahwa tidak ada satu hari pun yang terbit matahari padanya kecuali ada dua malaikat yang turun untuk berseru. Salah satunya berdoa:
Ya Allah! Berikanlah ganti kepada orang yang menafkahkan hartanya pada ketaatan, pada orang-orang tanggungannya, tamu dan pada amalan-amalan sunah dengan pengganti yang lebih baik dari apa yang ia keluarkan serta berikan keberkahan untuknya.
Sedang yang lain berdoa: Ya Allah! Berikanlah kehancuran pada orang yang tidak mengeluarkan hartanya untuk semua itu serta lenyapkanlah harta yang tidak diberikannya kepada orang yang berhak mendapatkannya.
Faedah
1- Boleh mendoakan orang yang dermawan agar ia diberikan ganti yang lebih baik daripada apa yang ia berikan, sebagaimana boleh mendoakan orang yang kikir agar Allah melenyapkan harta yang ia tahan dan tidak ia berikan pada apa yang diwajibkan oleh Allah.
2- Doa kebaikan dan keberkahan dari para malaikat untuk orang-orang mukmin nan saleh yang berinfak dan bahwa doa mereka mustajab.
3- Anjuran untuk berinfak pada perkara yang wajib dan yang sunah seperti menafkahi keluarga, berinfak pada kerabat, dan pada pintu-pintu kebaikan.
4- Menjelaskan keutamaan orang yang berinfak pada perkara-perkara kebaikan dan bahwa pada ujungnya Allah akan memberinya ganti. Allah Ta'ala berfirman, "Apa saja yang kamu infakkan, Allah akan menggantinya, dan Dialah pemberi rezeki yang terbaik." (QS. Saba`: 39)
5- Doa ini berlaku untuk orang yang menahan nafkah yang wajib. Adapun nafkah yang sunah, maka tidak masuk, karena pelakunya tidak berhak mendapatkan doa seperti itu.
6- Haram bersifat pelit dan kikir.
Rujukan
صحيح البخاري (2/ 115) (1442).
صحيح مسلم (2/ 700) (1010).
شرح رياض الصالحين، لابن عثيمين (3/ 157).
نزهة المتقين بشرح رياض الصالحين، لمجموعة من الباحثين (1/ 293).
بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين، لسليم الهلالي (1/ 376).
عن أبي أمامة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : «أفضل الصَّدَقَات ظِلُّ فُسْطَاطٍ في سَبِيل الله ومَنِيحَةُ خَادِم في سَبِيل الله، أو طَرُوقَةُ فَحْلٍ في سَبِيل الله».
Dari Abu Umāmah -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-bersabda, "Sedekah yang paling utama adalah memberikan naungan kemah di jalan Allah, memberikan pelayan di jalan Allah, atau memberikan unta betina yang sudah layak dibuahi pejantan di jalan Allah."
Diriwayatkan oleh Tirmiżi - Diriwayatkan oleh AhmadDerajatHadis hasan
Penjelasan
Sedekah yang paling utama dilakukan oleh seseorang adalah tiga hal berikut: naungan kemah atau pemberian pelayan atau unta betina yang sudah layak dibuahi oleh pejantannya, baik sedekah ini kepada para mujahidin di jalan Allah -Ta'ālā- atau orang lain yang membutuhkannya. Sesungguhnya semua itu termasuk di jalan Allah -Ta'ālā-. Adanya keutamaan hal tersebut karena kebutuhan manusia kepadanya pada masa itu, sehingga Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memotivasi para sahabat untuk melakukannya. Adapun sekarang, sudah tidak ada lagi kebutuhan manusia kepada hal tersebut atau ada tapi pada sebagian aspek, itupun sedikit. Hukum itu berlaku pada yang galib (mayoritas).
Rujukan
رياض الصالحين من كلام سيد المرسلين؛ للإمام أبي زكريا النووي، تحقيق د. ماهر الفحل، دار ابن كثير-دمشق، الطبعة الأولى، 1428ه .
بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين؛ تأليف سليم الهلالي، دار ابن الجوزي - الطبعة الأولى1418ه
نزهة المتقين شرح رياض الصالحين؛ تأليف د. مصطفى الخِن وغيره، مؤسسة الرسالة-بيروت، الطبعة الرابعة عشر، 1407هـ
مرقاة المفاتيح :علي بن سلطان محمد، أبو الحسن نور الدين الملا الهروي القاري، دار الفكر، بيروت - لبنان الطبعة: الأولى، 1422هـ - 2002م
مجموع فتاوى العلامة عبد العزيز بن باز، أشرف على جمعه وطبعه: محمد بن سعد الشويعر.
Abdullah bin Umar -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan: Rasulullah ﷺ bersabda saat beliau di atas mimbar ketika berbicara tentang sedekah dan menjaga diri agar tidak meminta-minta, "Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah. Tangan di atas adalah yang bersedekah, sedangkan tangan di bawah adalah yang meminta."
Muttafaq 'alaihDerajatSahih
Penjelasan
Nabi ﷺ berpidato di atas mimbar tentang sedekah serta menjaga kehormatan diri dari perbuatan meminta-minta, kemudian beliau bersabda, "Tangan di atas yang berinfak dan memberi lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada tangan di bawah yang meminta-minta."
Faedah
1- Keutamaan memberi dan berinfak di semua bidang kebaikan serta celaan terhadap perbuatan meminta-minta.
2- Anjuran untuk menjaga diri dari perbuatan meminta-minta dan tidak bergantung kepada orang lain sekaligus anjuran kepada akhlak luhur dan meninggalkan hal-hal yang rendah, karena Allah mencintai perkara-perkara yang mulia.
3- Tangan terbagi menjadi empat jenis dalam hal kebaikan sebagai berikut: yang paling tinggi adalah tangan yang memberi, kemudian yang tidak mau mengambil, kemudian yang mengambil tanpa meminta, kemudian yang paling rendah adalah tangan yang meminta.
Rujukan
صحيح البخاري (2/ 112) (1429).
صحيح مسلم (2/ 717) (1033).
بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين، لسليم الهلالي (1/ 590).
نزهة المتقين شرح رياض الصالحين، لمجموعة من الباحثين (1/ 465).
التوضيح لشرح الجامع الصحيح، لابن الملقن (10/ 315).
شرح رياض الصالحين، لابن عثيمين (3/ 388).
تحفة الأحوذي بشرح جامع الترمذي، المباركفوري (3/ 288).
تطريز رياض الصالحين، لفيصل آل مبارك (ص212).
عن ابن مسعود رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : «أيُّكم مالُ وارثِه أحَبُّ إليه من مالَه؟» قالوا: يا رسول الله، ما منَّا أحد إلا مَالُه أحَبُّ إليه. قال: «فإن مالَه ما قدَّم، ومالُ وارثِه ما أخَّر».
Dari Ibnu Mas'ūd -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bertanya "Siapakah di antara kalian yang lebih mencintai harta untuk ahli warisnya daripada hartanya sendiri?" Para sahabat berkata, "Wahai Rasulullah, tidak ada seorang pun dari kami melainkan dia lebih mencintai hartanya sendiri." Beliau bersabda, "Sesungguhnya hartanya ialah yang telah dia gunakan dan harta ahli warisnya ialah yang dia tinggalkan."
Diriwayatkan oleh BukhariDerajatHadis sahih
Penjelasan
Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bertanya kepada para sahabatnya, seraya bersabda, "Siapakah di antara kalian yang lebih mencintai harta untuk ahli warisnya daripada hartanya sendiri?" yakni, siapakah di antara kalian yang mencintai harta ahli waris yang akan memilikinya setelah wafatnya melebihi kecintaannya kepada harta yang dimilikinya ketika hidupnya? Sahabat menjawab, "tidak ada seorang pun dari kami melainkan dia lebih mencintai hartanya sendiri." Artinya semua dari kita lebih cinta kepada hartanya yang ada di tangan, di mana ia bebas menggunakannya daripada harta orang lain. Beliau bersabda, "Sesungguhnya hartanya ialah yang telah dia gunakan" yakni harta yang dia gunakan dalam hidupnya untuk dirinya sendiri dan amal salehnya berupa haji, wakaf, bangun sekolah, memakmurkan masjid, rumah sakit atau dia infakkan untuk diri dan keluarga, itulah harta aslinya yang akan dia dapati di akhirat. Adapun yang dia simpan semasa hidupnya dan dia tahan untuk disalurkan di jalan Allah -Ta'ālā- maka itu adalah harta ahli warisnya tak ada bagian untuknya. Dalam hadis yang semakna dengan bab ini, diriwayatkan oleh Muslim dari Abdullah bin Asy-Syakhīr -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, aku menemui Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- yang sedang membaca surat At-Takāṡur, beliau bersabda, "Anak Adam berkata, hartaku, hartaku. Beliau bersabda, Apakah engkau wahai wahai anak Adam memiliki harta selain apa yang kau makan hingga habis, atau engkau pakai lalu usang, atau engkau sedekahkan lalu tersampaikan" Ini bukan berarti seseorang harus menginfakkan semua harta di jalan Allah lalu diri dan keluarga meminta-minta kepada orang. Akan tetapi maksud hadis adalah sebagaimana orang berusaha menyimpan untuk ahli warisnya begitu pula hendaknya ia menyimpan untuk akhiratnya dari kelebihan nafkah atas diri dan keluarganya seperti anak istri dan kedua orang tua, karena ini merupakan nafkah yang wajib tidak boleh tidak, kalau tidak dia berdosa. Sebagai dalilnya adalah apa yang diriwayatkan oleh Abu Umamah -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Wahai anak Adam! Engkau infakkan dari kelebihan kebutuhanmu lebih baik daripada engkau tahan menjadi keburukan bagimu."
Rujukan
كنوز رياض الصالحين ، تأليف: حمد بن ناصر بن العمار ، الناشر: دار كنوز أشبيليا، الطبعة الأولى: 1430 هـ
بهجة الناظرين، تأليف: سليم بن عيد الهلالي، دار ابن الجوزي- الطبعة الأولى1418ه.
نزهة المتقين، تأليف: جمعٌ من المشايخ، الناشر: مؤسسة الرسالة، الطبعة الأولى: 1397 هـ، الطبعة الرابعة عشرة 1407 هـ
صحيح البخاري، تأليف: محمد بن إسماعيل البخاري، تحقيق: محمد زهير الناصر، الناشر: دار طوق النجاة الطبعة: الأولى، 1422هـ.
رياض الصالحين، تأليف: محيي الدين يحيى بن شرف النووي، تحقيق: د. ماهر بن ياسين الفحل، الطبعة: الأولى، 1428 هـ .
دليل الفالحين لطرق رياض الصالحين؛ لمحمد بن علان الشافعي، تحقيق خليل مأمون شيحا-دار المعرفة-بيروت-الطبعة الرابعة 1425ه.
عن ابن مسعود رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : «لا حَسَدَ إلا في اثنتين: رجل آتاه الله مالا، فسَلَّطَه على هَلَكَتِهِ في الحَقِّ، ورجل آتاه الله حِكْمَة، فهو يقضي بها ويُعَلِّمَها».
وعن ابن عمر رضي الله عنهما ، عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: «لا حسد إلا في اثنتين: رجل آتاه الله القرآن، فهو يقوم به آناء الليل وآناء النهار، ورجل آتاه الله مالا، فهو ينفقه آناء الليل وآناء النهار».
Dari Ibnu Mas’ud- raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, “Tidak boleh hasad (iri hati) kecuali pada dua orang: Orang yang Allah anugerahkan baginya harta, lalu ia infakkan di jalan kebenaran, dan orang yang Allah karuniakan hikmah (ilmu yang berdasarkan Al-Qur`ān dan Sunnah), lalu ia memutuskan perkara/mengadili dengannya dan mengajarkannya.” Dan dari Ibnu Umar -raḍiyallāhu 'anhumā-, dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- beliau bersabda, “Tidak boleh hasad (iri hati) kecuali kepada dua orang; Orang yang Allah anugerahi hafalan Al-Qur`ān, lalu ia salat dengan membacanya malam dan siang, dan orang yang Allah karuniakan baginya harta, lalu ia menginfakkannya siang dan malam.”
Muttafaq 'alaih dengan dua riwayatnyaDerajatHadis sahih
Penjelasan
Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- di sini mengisyaratkan bahwa hasad (iri hati) itu bermacam-macam, di antaranya hasad yang tercela dan diharamkan secara syar’i, yaitu seseorang menginginkan hilangnya kenikmatan dari saudaranya. Ada pula hasad yang mubah/dibolehkan yaitu seseorang melihat nikmat duniawi pada diri orang lain lalu ia menginginkan kenikmatan serupa untuk dirinya. Dan ada pula hasad yang terpuji dan dianjurkan oleh syariat yaitu seseorang melihat nikmat agama pada orang lain lalu ia menginginkannya juga untuk dirinya. Itulah yang dimaksudkan oleh Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dengan sabda beliau, “Tidak boleh hasad (iri hati) kecuali pada dua orang” yakni hasad itu berbeda jenis dan hukumnya sesuai dengan perbedaan jenisnya. Hasad ini tidak terpuji serta dianjurkan secara syar’i kecuali pada dua perkara: Perkara pertama: Apabila ada orang yang kaya lagi bertakwa, Allah menganugerahkan kepadanya harta yang halal, lantas ia menginfakkannya di jalan Allah -Ta'ālā-, lalu ia berangan-angan agar dirinya seperti orang itu dan ia iri kepadanya dengan nikmat ini. Perkara kedua: Apabila ada orang yang berilmu, Allah menganugerahinya ilmu yang bermanfaat, ia mengamalkannya, mengajarkannya kepada orang lain dan ia berhukum dengannya di antara manusia, lalu ia berangan-angan agar dirinya menjadi seperti orang itu.
Rujukan
كنوز رياض الصالحين، تأليف: حمد بن ناصر بن العمار ، الناشر: دار كنوز أشبيليا، الطبعة الأولى: 1430 هـ
بهجة الناظرين، تأليف: سليم بن عيد الهلالي، نسخة الكترونية، لا يوجد بها بيانات نشر.
نزهة المتقين، تأليف: جمعٌ من المشايخ، الناشر: مؤسسة الرسالة، الطبعة الأولى: 1397 هـ، الطبعة الرابعة عشر 1407 هـ
رياض الصالحين، تأليف : محيي الدين يحيى بن شرف النووي ، تحقيق: د. ماهر بن ياسين الفحل ، الطبعة: الأولى، 1428 هـ
صحيح مسلم، تأليف: مسلم بن الحجاج النيسابوري، تحقيق: محمد فؤاد عبد الباقي الناشر: دار إحياء التراث العربي – بيروت
صحيح البخاري، نشر: دار طوق النجاة (مصورة عن السلطانية بإضافة ترقيم محمد فؤاد عبد الباقي)، الطبعة: الأولى، 1422ه
شرح رياض الصالحين، تأليف: محمد بن صالح العثيمين، الناشر: دار الوطن للنشر، الطبعة: 1426 هـ
منار القاري، تأليف: حمزة محمد قاسم، الناشر: مكتبة دار البيان ، عام النشر: 1410 هـ.
عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: جاء رجل إلى النبي صلى الله عليه وسلم فقال: يا رسول الله، أي الصدقة أعظم أجرًا؟ قال: «أن تَصَدَّقَ وأنت صحيحٌ شَحِيحٌ، تخشى الفقر وتَأَمَلُ الغِنى، ولا تُمْهِلْ حتى إذا بلغتِ الحُلْقُومَ قلت: لفلان كذا ولفلان كذا، وقد كان لفلان».
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, "Ada seorang lelaki datang kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- lalu bertanya, "Wahai Rasulullah! Sedekah apakah yang paling besar pahalanya? Beliau menjawab, "Kamu bersedekah pada saat kamu sehat, saat kamu kikir, saat kamu takut menjadi fakir, dan saat kamu berangan-angan menjadi kaya. Janganlah engkau menunda-nunda sedekah, hingga apabila nyawamu telah sampai di tenggorokan, kamu baru berkata, 'Untuk si fulan sekian dan untuk fulan sekian', padahal harta itu telah (berpindah) menjadi hak si fulan (ahli waris)".
Muttafaq 'alaihDerajatHadis sahih
Penjelasan
Seorang lelaki datang kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- untuk bertanya mengenai sedekah paling utama. Beliau bersabda kepada orang itu, "Kamu bersedekah pada saat badanmu sehat, jiwamu kikir, saat takut menjadi fakir jika usiamu panjang dan saat berangan-angan kaya. Janganlah engkau mengakhirkan sedekah hingga ketika kematian datang kepadamu dan engkau tahu bahwa engkau akan meninggalkan dunia, engkau katakan bahwa untuk si fulan sekian dari harta yang didapat sebagai sedekah atau wasiat. Untuk si fulan harta sekian sebagai sedekah atau wasiat. Padahal harta itu sudah menjadi milik orang lain yang mewarisimu.
Rujukan
- دليل الفالحين لطرق رياض الصالحين، لابن علان، نشر دار الكتاب العربي.
- نزهة المتقين شرح رياض الصالحين، نشر: مؤسسة الرسالة، الطبعة: الرابعة عشر، 1407هـ - 1987م.
- شرح رياض الصالحين، لابن عثيمين، نشر: دار الوطن للنشر، الرياض، الطبعة: 1426هـ.
- بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين، للهلالي، نشر: دار ابن الجوزي.
- صحيح البخاري، نشر: دار طوق النجاة (مصورة عن السلطانية بإضافة ترقيم ترقيم محمد فؤاد عبد الباقي)، الطبعة: الأولى، 1422هـ.
- صحيح مسلم، تحقيق: محمد فؤاد عبد الباقي، نشر: دار إحياء التراث العربي – بيروت.
- رياض الصالحين للنووي، ط1، تحقيق: ماهر ياسين الفحل، دار ابن كثير، دمشق، بيروت، 1428 هـ.
Setiap hadis, derajat, penjelasan, dan faedah di sini ditampilkan persis sebagaimana diterbitkan HadeethEnc.com, menurut ketentuan penerbitan ulangnya. Derajat itu tidak menyebut siapa yang menilainya. Terjemahan dan penjelasan adalah karya para penyusunnya, dan sebagian menyebutkan hukum; para peninjau Sabīl belum memeriksanya. Hadis berbahasa Arablah teksnya. Sumber: HadeethEnc.com