Langsung ke konten
Hadis dengan penjelasan

Kesalahan-kesalahan Orang yang Salat

12 hadis

Tidak (sempurna) salat ketika makanan telah dihidangkan ataupun sambil menahan keinginan buang air kecil dan besar

عن عَائِشَةَ رضيَ الله عنها قالت: إِنِّي سمعْتُ رسولَ الله صلى الله عليه وسلم يقول: «لَا صَلَاةَ بِحَضْرَةِ الطَّعَامِ، وَلَا هُوَ يُدَافِعُهُ الْأَخْبَثَانِ».
Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- meriwayatkan, Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, "Tidak (sempurna) salat ketika makanan telah dihidangkan ataupun sambil menahan keinginan buang air kecil dan besar."
HR. MuslimDerajatSahih
Penjelasan

Nabi ﷺ melarang mengerjakan salat ketika telah dihidangkan makanan yang digemari dan memikat hati orang yang salat. Beliau juga melarang mengerjakan salat sambil menahan keinginan buang air kecil dan besar karena akan sibuk menahannya.

Faedah
  1. Seorang yang salat harus menyingkirkan semua yang akan menyibukkannya di dalam salatnya sebelum masuk ke dalamnya.
Rujukan

صحيح مسلم (1/ 393) (560). شرح النووي على مسلم (5/ 46). تيسير العلام شرح عمدة الأحكام، للبسام (ص96). تنبيه الأفهام شرح عمدة الأحكام، لابن عثيمين (1/ 123).

Hadis ini di HadeethEnc.com

Sesungguhnya salat ini tidak sepantasnya terdapat ucapan manusia di dalamnya. Sesungguhnya ucapan yang pantas hanyalah tasbih, takbir, dan bacaan Al-Qur'ān.

عن معاوية بن الحَكم السُّلَمي رضي الله عنه قال: بَيْنَا أنا أُصلِّي مع رسول الله صلى الله عليه وسلم ، إذ عَطَس رجُل من القوم، فقلت: يَرْحَمُكَ الله، فَرَمَانِي القوم بأبْصَارهم، فقلت: وَاثُكْلَ أُمِّيَاهْ، ما شَأنُكُم تنظرون إليَّ؟، فجعلوا يضربون بأيْدِيهم على أفْخَاذِهم، فلما رأيتهم يُصَمِّتُونَنِي لكنِّي سَكَتُّ، فلما صلَّى رسول الله صلى الله عليه وسلم ، فَبِأَبِي هو وأمِّي، ما رأيت معَلِّما قَبْلَه ولا بَعده أحْسَن تَعليما منه، فوالله، ما كَهَرَنِي وَلَا ضَرَبني وَلَا شَتَمَنِي، قال: «إن هذه الصلاة لا يَصلح فيها شيء من كلام الناس، إنما هو التَّسبيح والتَّكبير وقراءة القرآن»، أو كما قال رسول الله صلى الله عليه وسلم قلت: يا رسول الله، إنِّي حديث عَهد بِجَاهلية، وقد جاء الله بالإسلام، وإن مِنَّا رجَالا يَأتون الكُهَّان، قال: «فلا تَأْتِهِم» قال: ومِنَّا رجَال يَتَطَيَّرُونَ، قال: ذَاك شَيء يَجِدونه في صُدورهم، فلا يَصُدَّنَّهُمْ -قال ابن الصَّبَّاحِ: فلا يَصُدَّنَّكُم- قال قلت: ومِنَّا رجال يَخُطُّونَ، قال: «كان نَبِي من الأنبياء يَخُطُّ، فمن وافق خَطَه فَذَاك»، قال: وكانت لي جَارية تَرعى غَنَما لي قِبَل أُحُدٍ والْجَوَّانِيَّةِ، فَاطَّلَعْتُ ذات يوم فإذا الذِّيب قد ذهب بِشَاة من غَنَمِهَا، وأنا رجُلٌ من بَني آدم، آسَف كما يَأْسَفُونَ؛ لكني صَكَكْتُهَا صَكَّة، فَأَتَيْت رسول الله صلى الله عليه وسلم فَعظَّم ذلك عليَّ، قلت: يا رسول الله أفلا أُعْتِقُهَا؟ قال: «ائْتِنِي بها»، فَأَتَيْتُهُ بها، فقال لها: «أَيْن الله؟» قالت: في السَّماء، قال: «من أنا؟»، قالت: أنت رسول الله، قال: «أَعْتِقْهَا، فَإِنها مُؤْمِنَةٌ».
Dari Mu'āwiyah bin Ḥakam As-Sulami -raḍiyallāhu 'anhu- ia berkata, "Ketika aku salat bersama Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, tiba-tiba salah seorang dari jamaah bersin, maka aku mengatakan, "Yarḥamukallāh (semoga Allah merahmatimu)." Maka orang-orang memandangiku dengan mata mereka. Aku berkata, "Ibuku kehilangan anaknya, kenapa kalian memandangiku?" Mereka memukul-mukulkan tangan ke paha. Ketika aku mengerti mereka menyuruhku diam, maka aku hanya diam. Ketika Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- selesai salat, ayah dan ibuku menjadi tebusannya, aku tidak pernah melihat seorang guru sebelum dan sesudah beliau yang lebih bagus cara mengajarnya dibanding beliau. Demi Allah, beliau tidak menghardikku, tidak memukulku dan tidak mecaciku. Beliau bersabda, "Sesungguhnya salat ini tidak sepantasnya terdapat ucapan manusia di dalamnya. Sesungguhnya ucapan yang pantas hanyalah tasbih, takbir, dan bacaan Al-Qur'ān." Atau sebagaimana disabdakan Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Aku berkata, "Wahai Rasulullah, aku baru saja meninggalkan kejahiliahan dan Allah telah mendatangkan Islam. Sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang mendatangi para dukun." Beliau bersabda, "Jangan mendatangi mereka!" Ia berkata, "Sebagian kami ada orang-orang yang bertaṭayyur." Beliau bersabda, "Itu perasaan yang mereka dapati dalam dada mereka, maka jangan sampai menghalangi mereka -Ibnu Shabbah mengatakan, jangan menghalangi kalian- (melakukan sesuatu yang sudah diinginkan)." Aku berkata, "Sebagian kami ada orang yang menggaris." Beliau bersabda, "Seorang Nabi dari para Nabi juga menggaris. Siapa yang sesuai garisnya maka itulah (yang dibolehkan)." Ia berkata, "Aku memiliki seorang budak wanita yang bertugas menggembalakan dombaku di arah Uhud dan Jawwāniyah. Di suatu hari, aku melihat ternyata srigala telah memangsa seekor dombanya. Aku seorang laki-laki keturunan Adam, aku marah sebagaimana mereka marah, tapi aku menamparnya dengan keras." Aku mendatangi Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dan beliau menganggap itu satu kesalahan besar yang telah aku lakukan. Aku berkata, "Wahai Rasulullah, bolehkah aku memerdekakannya?" Beliau bersabda, "Bawa ia ke hadapanku." Aku pun membawanya menemui beliau. Beliau menanyainya, "Di manakah Allah?" Ia menjawab, "Di langit." "Siapakah aku?" Ia menjawab, "Engkau utusan Allah." Beliau bersabda, "Merdekakan ia, sungguh ia adalah wanita Mukminah!"
Diriwayatkan oleh MuslimDerajatHadis sahih
Penjelasan

Mu'āwiyah bin Ḥakam As-Sulami -raḍiyallāhu 'anhu- mengabarkan peristiwa yang terjadi ketika ia salat bersama Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- di salah satu salat jamaah. Ketika ia mendengar seseorang bersin lalu memuji Allah, maka ia -raḍiyallāhu 'anhu- bersegera mengucapkan "yarḥamukallāh", sesuai perintah asal. Yakni sabda Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, "Apabila salah seorang dari kalian bersin lalu mengucapkan "alḥamdulillāh" hendaklah saudara atau kawannya mengucapkan kepadanya "yarḥamukallāh". Mu'āwiyah -raḍiyallāhu 'anhu- tidak tahu bahwa anjuran mendoakan orang yang bersih hanya berlaku di luar salat. “Maka orang-orang memandangiku dengan mata mereka.” Maksudnya, mereka berisyarat kepadanya dengan mata tanpa berbicara. Mereka menatapnya dengan tatapan peringatan. Namun Mu'āwiyah -raḍiyallāhu 'anhu- tidak mengetahui sebab pengingkaran mereka ini. Sehingga ia justru mengucapkan, “Ibuku kehilangan anaknya”. Artinya, ibuku kehilangan diriku karena aku binasa. “Kenapa kalian”, yakni apa keadaan dan urusan kalian? “Kalian memandangiku”, yakni kenapa kalian menatapku dengan tatapan marah. “Mereka memukul-mukulkan tangan ke paha”, yakni mereka menambah pengingkaran kepadanya dengan memukulkan tangan ke paha. Maka ia paham bahwa mereka ingin ia diam dan tidak bicara. Maka ia diam. “Ketika aku mengerti mereka menyuruhku diam, maka aku diam”. Maksudnya, ketika aku mengerti mereka memerintahku diam, aku heran akan kebodohanku terhadap keburukan yang telah aku lakukan dan sikap berlebihan mereka dalam mengingkariku, dan aku ingin membantah mereka. Namun aku diam demi melaksakan perintah mereka. Sebab mereka lebih tahu dariku. Aku tidak berbuat menuruti kemarahanku dan aku tidak menanyakan sebab perintah diam. “Ketika Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- telah salat” yakni, beliau selesai dari salat. “Beliau (ditebus) dengan ayah dan ibuku”, artinya beliau ditebus dengan ayah dan ibuku. Ini bukan sumpah, tapi ungkapan penebusan dengan ayah dan ibu. “Aku tidak pernah melihat seorang guru sebelum dan sesudah beliau yang lebih bagus cara mengajarnya dibanding beliau.” Karena Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- tidak mencela dan tidak membentaknya. Tapi beliau menjelaskan hukum syar`i dengan cara yang gampang diterima dan dimengerti. “Demi Allah, beliau tidak menghardikku”, yakni beliau tidak membentakku dan tidak bicara kasar padaku. “Tidak memukulku”, yakni tidak menyakitiku dengan pukulan karena kesalahan yang telah aku lakukan. “Dan tidak mencaciku”, yakni tidak bicara kasar padaku, tetapi beliau menjelaskan padaku hukum syar`i dengan lemah lembut. Di mana beliau bersabda, “Sesungguhnya salat ini tidak sepantasnya terdapat ucapan manusia di dalamnya. Sesungguhnya ucapan yang pantas hanyalah tasbih, takbir, dan bacaan Alquran.” Maksudnya, dalam salat tidak diperbolehkan ucapan manusia yang merupakan pembicaraan di antara mereka. Pembicaraan seperti ini dibolehkan di awal Islam, kemudian dihapus. Yang boleh dikatakan dalam salat hanyalah tasbih, takbir, dan bacaan Al-Qur'ān. Aku berkata, "Wahai Rasulullah, aku masih baru saja meninggalkan kejahiliahan”. Yakni, masih dekat dengan masa jahiliah. Kata jahiliah diungkapkan untuk masa sebelum datangnya syariat. Mereka disebut jahiliah karena banyaknya kebodohan dan perbuatan keji mereka. “Dan Allah telah mendatangkan Islam” artinya, aku telah beralih dari kekufuran pada Islam, namun aku belum mengetahui hukum-hukum agama. “Sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang mendatangi dukun-dukun” maksudnya, di antara sahabatnya ada orang yang senang mendatangi dukun dan menanyakan permasalahan gaib yang akan terjadi di masa akan datang. “Beliau bersabda, “Jangan mendatangi mereka!” Larangan mendatangi dukun-dukun karena mereka ini bicara tentang masalah-masalah gaib yang terkadang sebagiannya kebetulan benar, sehingga dikawatirkan orang-orang terperdaya dengan sebab ini. Karena, para dukun itu sering kali mengacaukan perkara syariat kepada manusia. Banyak hadis sahih yang melarang mendatangi dukun, membenarkan perkataan mereka, dan mengharamkan upah yang mereka terima. “Ia berkata, "Sebagian kami ada orang-orang yang bertaṭayyur.” Taṭayyur adalah merasa sial karena sesuatu yang dillihat, didengar, waktu, maupun tempat. Bangsa Arab dahulu dikenal suka taṭayyur. Hingga seandainya seorang dari mereka ingin melakukan kebaikan kemudian ia melihat burung terbang ke kanan atau ke kiri, sesuai keyakinan yang dikenal di kalangan mereka, dia akan menangguhkan perkara yang ingin dikerjakannya ini. Di antara mereka ada orang yang apabila mendengar suara atau melihat seseorang ia merasa sial. Ada orang yang meyakini kesialan bulan Syawal untuk urusan pernikahan, ada yang meyakini kesialan hari Rabu atau bulan Safar. Semua ini telah dibatalkan syariat karena bahayanya terhadap manusia baik akal, pemikiran, maupun perilaku. Dan sikap seseorang yang tidak mempedulikan perkara-perkara ini disebut tawakal (berserah diri) kepada Allah. Beliau bersabda, "Itu perasaan yang mereka dapati dalam dada mereka, maka jangan sampai menghalangi mereka”. Yakni, taṭayyur adalah sesuatu yang dengan sendirinya muncul dalam jiwa mereka, sehingga mereka tidak layak dicela karena itu tidak mereka upayakan dan tidak dibebankan. Akan tetapi, janganlah mereka membatalkan pelaksanaan urusan mereka gara-gara taṭayyur ini. Inilah yang bisa mereka lakukan dan dapat mereka usahakan sehingga menjadi sesuatu yang dibebankan. Jadi, Nabi -'alaihi aṣ-salātu wa as-salām- melarang mereka menuruti perasaan sial (taṭayyur) dan mengurungkan aktifitas gara-gara itu. Banyak hadis sahih terkait larangan taṭayyur. Taṭayyur yang dilarang di sini dalam artian mengamalkannya, bukan apa yang dirasakan sesorang dalam dirinya tanpa melakukan tuntutannya sesuai keyakinan mereka. “Aku berkata, "Sebagian kami ada orang yang menggaris." Menggaris dalam pengertian bangsa Arab adalah seseorang mendatangi peramal, dan di hadapannya ada seorang anak kecil. Peramal itu memerintahkan anak tadi membuat garis yang banyak di atas pasir. Kemudian memerintahnya menghapus dua, dua. Kemudian peramal itu melihat garis yang tersisa. Jika yang tersisa adalah genap maka itu pertanda keberuntungan dan kejayaan, dan jika yang tersisa ganjil itu pertanda kegagalan dan keputus asaan. “Beliau bersabda, "Seorang Nabi dari para Nabi juga menggaris”, artinya ia membuat garis-garis seperti garis-garis di atas pasir, lalu ia mengetahui perkara dengan firasat melalui media garis-garis tersebut. Dikatakan, Nabi ini adalah Idris atau Daniel -'alaihima aṣ-salātu wa as-salām-. “Siapa yang sesuai garisnya”, yakni garis Nabi tersebut -'alaihi aṣ-salātu wa as-salām-, “maka itulah”. Artinya, siapa sesuai garis Nabi itu maka itu dibolehkan. Akan tetapi kita tidak bisa mengetahui dengan yakin akan kesesuaian ini sehingga tidak dibolehkan. Intinya, perbuatan tersebut haram, karena tidak dibolehkan kecuali yakin sesuai dengan garis Nabi itu, sementara kita tidak bisa meyakininya. Bisa jadi perbuatan ini telah mansukh (dihapus) dalam syariat kita. Mungkin juga pembolehan ramalan melalui garis tersebut menjadi tanda kenabian Nabi itu dan hal itu telah selesai, sehingga kita dilarang melakukannya. Jadi hadis ini menunjukkan haramnya beraktifitas berdasarkan ramalan dengan media garis, bukan menunjukkan kebolehannya. Selain juga menunjukkan batil dan rusaknya cara manusia dalam meramal. Karena, kesesuaian itu mengharuskan mengetahuinya, dan pengetahuan ini terjadi dengan salah satu dari dua jalan: Pertama: nas yang tegas dan sahih tentang penjelasan metode ilmu ramal garis ini. Kedua: periwayatan secara mutawatir dari zaman Nabi tersebut hingga zaman Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Dan kedua jalan tersebut tidak ada. Penting dimengerti dalam masalah ini, bahwa para Nabi tidak mengklaim mengetahui perkara gaib, dan mereka tidak memberitahukan pada manusia bahwa mereka mengetahui perkara gaib. Perkara gaib yang mereka sampaikan pada manusia semata-mata berasal dari wahyu Allah, sehingga mereka tidak mengalamatkanya pada diri mereka. Sebagaimana bunyi firman Allah, “(Dia adalah Rabb) Yang Mengetahui yang gaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang gaib itu. Kecuali kepada rasul yang diridai-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya.” (Al-Jin: 26-27). Sebab perkara gaib itu termasuk perkara yang hanya diketahui Allah. Maka tak seorang pun yang mengklaim mengetahuinya melainkan dia berarti telah mengklaim menyandang sifat-sifat rubūbiyyah. Inilah yang dilakukan para pelaku “profesi ini”. Lantaran ini, kebohongan mereka nampak jelas melalui pengakuan bahwa Nabi yang mulia ini mengajari mereka. Ia menuturkan, "Aku memiliki seorang budak wanita yang bertugas menggembalakan dombaku di arah Uhud dan Jawwāniyah.” Maksudnya, ia memiliki budak wanita yang menggembalakan dombanya di tempat yang dekat dengan gunung Uhud. “Di suatu hari, aku melihat ternyata srigala telah memangsa seekor dombanya.” Yakni, ia mengetahui serigala telah menerkam seekor dombanya. Domba ini milik Mu'āwiyah, tapi ia mengatakan “dombanya” karena budak wanita itu yang memeliharanya. “Dan Aku seorang laki-laki keturunan Adam, aku marah sebagaimana mereka marah.” Al-Asaf artinya marah. Maksudnya, aku marah kepadanya karena serigala berhasil memangsa seekor domba. Aku ingin memukulnya dengan pukulan keras sesuai tingkat kemarahan. “Tapi aku hanya menamparnya.” Yakni, aku tidak memukulnya dengan keras, tapi aku sekedar menamparnya. "Lalu aku mendatangi Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dan beliau menganggap itu satu kesalahan besar yang telah aku lakukan.” Yakni, setelah Mu'āwiyah bin Ḥakam menampar budak wanita tersebut, ia datang pada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dan menceritakan peristiwa itu pada beliau. Ternyata beliau menganggap besar perkara tamparan tersebut. Manakala Mu'āwiyah bin Ḥakam As-Sulami -raḍiyallāhu 'anhu- melihat Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- tidak suka perbuatannya itu dan meyayangkannya, ia berkata, “Aku berkata, "Wahai Rasulullah, bolehkah aku memerdekakannya?" Yakni, aku membebaskannya dari perbudakan sebagai balasan pukulanku padanya. “Beliau bersabda, “Bawa ia ke hadapanku.” Aku pun membawanya menemui beliau. Beliau menanyainya, “Di mana Allah?” yakni, di manakah sesembahan yang berhak disembah yang menyandang sifat-sifat sempurna. Dalam riwayat lain, “Di mana Rabbmu?” Melalui pertanyaan ini, Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- ingin memastikan bahwa wanita ini bertauhid, sehingga beliau berbicara kepadanya dengan kalimat yang dapat dimengerti maksudnya. Sebab tanda orang yang bertauhid adalah meyakini Allah berada di langit. “Ia menjawab, “Di langit.” Maksud di langit adalah di tempat tinggi dan bahwa Allah di atas segala sesuatu dan di atas 'Arsy-Nya yang merupakan atap semua makhluk. “Beliau bertanya, “Siapa aku?” Ia menjawab, “anda Rasul Allah.” Beliau bersabda, “Merdekakanlah ia, ia seorang wanita Mukminah.” Ketika wanita ini mempersaksikan ketinggian Allah -Ta'ālā- dan kerasulan beliau -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- beliau memerintahkan supaya ia dimerdekakan. Karena hal itu bukti keimanannya dan kebersihan keyakinannya.

Rujukan

صحيح مسلم، مسلم بن الحجاج القشيري النيسابوري، تحقيق محمد فؤاد عبد الباقي، دار إحياء التراث العربي، بيروت، الطبعة: 1423هـ. معالم السنن (شرح سنن أبي داود)، أبو سليمان حمد بن محمد المعروف بالخطابي، الناشر: المطبعة العلمية، حلب، الطبعة: الأولى 1351هـ، 1932م. إكمال المعلم بفوائد مسلم، عياض بن موسى اليحصبي السبتي، المحقق: يحيى إسماعيل، الناشر: دار الوفاء للطباعة والنشر والتوزيع، مصر، الطبعة: الأولى، 1419هـ، 1998م. المنهاج شرح صحيح مسلم بن الحجاج، أبو زكريا محيي الدين النووي، دار إحياء التراث العربي، بيروت، الطبعة: الثانية 1392هـ. شرح سنن أبي داود، محمود بن أحمد بدر الدين العيني، تحقيق: خالد بن إبراهيم المصري، الناشر: مكتبة الرشد، الرياض، الطبعة: الأولى، 1420 هـ،1999م. مرقاة المفاتيح، علي بن سلطان القاري ، دار الفكر، بيروت، لبنان، الطبعة: الأولى 1422هـ، 2002م. شرح سنن أبي داود، عبد المحسن بن حمد بن عبد المحسن العباد، نسخة الإلكترونية. كنوز رياض الصالحين، مجموعة من الباحثين برئاسة حمد بن ناصر العمار، كنوز إشبيليا، الرياض، الطبعة: الأولى1430هـ، 2009م. التنجيم والمنجمون وحكم ذلك في الإسلام، عبد المجيد بن سالم المشعبي، الناشر: أضواء السلف، الرياض، المملكة العربية السعودية، الطبعة: الطبعة: الثانية 1419هـ، 1998م. توضيح الأحكام شرح بلوغ المرام، عبد الله بن عبد الرحمن البسام، مكتبة الأسدي، مكة المكرمة، الطبعة الخامِسَة، 1423هـ، 2003 م. تسهيل الإلمام بفقه الأحاديث من بلوغ المرام، صالح بن فوزان بن عبد الله الفوزان، اعتنى بإخراجه عبدالسلام بن عبد الله السليمان، الرسالة، بيروت، الطبعة: الأولى 1427هـ، 2006م. فتح ذي الجلال والإكرام شرح بلوغ المرام، محمد بن صالح العثيمين، تحقيق: صبحي بن محمد رمضان، وأم إسراء بنت عرفة، المكتبة الإسلامية، الطبعة: الأولى 1427هـ. القول المفيد على كتاب التوحيد، محمد بن صالح العثيمين، دار ابن الجوزي، المملكة العربية السعودية, الطبعة: الثانية 1424هـ. رياض الصالحين، للنووي، تحقيق: ماهر ياسين الفحل، دار ابن كثير، دمشق، بيروت، الطبعة: الأولى 1428هـ. معجم اللغة العربية المعاصرة، أحمد مختار عبد الحميد عمر بمساعدة فريق عمل، الناشر: عالم الكتب، الطبعة: الأولى 1429هـ، 2008م.

Hadis ini di HadeethEnc.com

Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- melarang seseorang salat dengan berkacak pinggang

عن أبي هريرة رضي الله عنه ، قال: «نهى النبي صلى الله عليه وسلم أن يصلي الرَّجُلُ مُخْتَصِرًا».
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-, ia mengatakan, "Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- melarang seseorang salat dengan berkacak pinggang."
Muttafaq 'alaihDerajatHadis sahih
Penjelasan

Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- melarang seseorang salat sedang ia meletakkan tangan di pinggangnya.

Rujukan

توضيح الأحكام مِن بلوغ المرام، لعبد الله بن عبد الرحمن بن صالح البسام، ط5، مكتبة الأسدي، مكة المكرّمة، 1423 هـ. صحيح البخاري، تحقيق: محمد زهير بن ناصر الناصر، ط1، دار طوق النجاة (مصورة عن السلطانية بإضافة ترقيم: محمد فؤاد عبد الباقي)، 1422هـ. صحيح مسلم، تحقيق: محمد فؤاد عبد الباقي، دار إحياء التراث العربي، بيروت، 1423 هـ. منحة العلام في شرح بلوغ المرام، لعبد الله بن صالح الفوزان، ط1، دار ابن الجوزي، 1432 هـ.

Hadis ini di HadeethEnc.com

Aisyah membenci orang yang salat dengan meletakkan tangan di pinggangnya dan ia mengatakan, "Sesungguhnya Yahudi melakukan hal itu."

عن عائشة رضي الله عنها أنها كانت تكره أن يجعل يده في خَاصِرَتِهِ، وتقول: إن اليهود تفعله.
Dari Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- bahwa ia membenci orang yang salat dengan meletakkan tangan di pinggangnya dan ia mengatakan, "Sesungguhnya Yahudi melakukan hal itu."
Diriwayatkan oleh BukhariDerajatHadis sahih
Penjelasan

Hadis yang mulia ini menjelaskan bahwa Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- membenci orang yang meletakkan tangan di pinggangnya dan ia sedang salat. Beliau menjelaskan 'illat (alasan) dan sebabnya yaitu bahwa hal itu termasuk perbuatan Yahudi.

Rujukan

توضيح الأحكام شرح بلوغ المرام، عبد الله بن عبد الرحمن البسام، مكتبة الأسدي، مكة المكرمة، الطبعة الخامِسَة، 1423هـ، 2003م. منحة العلام في شرح بلوغ المرام، عبد الله صالح الفوزان، دار ابن الجوزي، الطبعة: الأولى 1428هـ، 1432هـ. صحيح البخاري، محمد بن إسماعيل البخاري الجعفي، تحقيق: محمد زهير الناصر، دار طوق النجاة (مصورة عن السلطانية بإضافة ترقيم: محمد فؤاد عبد الباقي)، الطبعة: الأولى 1422هـ.

Hadis ini di HadeethEnc.com

Jika salah seorang di antara kalian mendirikan salat, maka sesungguhnya rahmat Allah sedang menghadap kepadanya. Untuk itu, janganlah ia mengusap kerikil (di tempat sujud)

عن أبي ذر رضي الله عنه مرفوعًا: «إذا قام أَحَدُكُمْ إلى الصلاة؛ فإنَّ الرَّحمة تُوَاجِهُهُ، فلا يَمْسَح الحَصَى». وعن معيقيب رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: في الرجل يُسَوِّي التُّراب حيث يسجُد، قال: «إِنْ كُنْت فاعِلا فَوَاحِدة».
Dari Abu Żar -raḍiyallāhu 'anhu- secara marfū', "Jika salah seorang di antara kalian mendirikan salat, maka sesungguhnya rahmat Allah sedang menghadap kepadanya. Untuk itu, janganlah ia mengusap kerikil (di tempat sujud)." Dan dari Mu'aiqīb -raḍiyallāhu 'anhu-, bahwasanya Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda mengomentari seseorang yang meratakan tanah untuk sujudnya, "Jika kamu harus melakukan itu, maka cukup sekali saja."
Diriwayatkan oleh BukhariDerajatHadis sahih
Penjelasan

Dalam hadis Abu Żar: Sabda beliau, "Jika salah seorang di antara kalian mendirikan salat." Artinya, jika telah memulai salat, berarti sebelum takbiratul ihram boleh mengusap kerikil. Adapun larangan dalam sabda beliau, "Janganlah ia mengusap kerikil," yakni, maka janganlah kehilangan fokus karena hal yang remeh, karena itu berarti memutus kontak saat salat, sehingga rahmat Allah yang bersumber dari kekhusyuan dalam salat lepas darinya. Ini berlaku jika bukan untuk membenarkan tempat sujud; jika tidak, maka boleh sekali berdasarkan daruratnya. Kerikil di sini adalah batu kecil. Penyebutannya adalah karena itu yang dominan ada, sebab biasanya kerikil kecil itu yang terdapat di tikar masjid. Jadi tidak ada bedanya antara kerikil tersebut dengan debu dan pasir dalam masalah ini. Hadis Mu'aiqīb, bahwasanya Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda mengomentari seseorang yang meratakan tanah untuk sujudnya, "Jika kamu harus melakukan itu, maka cukup sekali saja." "bahwasanya Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda mengomentari seseorang," artinya tentang seseorang yang bertanya kepada Rasulullah, "perihal dirinya yang mengusap pasir," waktu salat "di tempat sujudnya." Maksudnya: di tempat di sujud atau karena dia akan sujud di tempat itu. Maka beliau menjawab, "Jika kamu harus melakukan itu," maksudnya jika kamu membutuhkan untuk melakukan hal tersebut, "maka cukup sekali saja." Artinya, maka lakukanlah sekali saja, tidak boleh lebih dari sekali. Dimakruhkan mengusap kerikil kecuali kalau kerikil itu menghalanginya sujud, seperti ketika tempat sujud itu bergelombang sehingga jidatnya tidak bisa diletakkan dalam posisi yang diwajibkan saat sujud, maka boleh meratakannya sekali usapan atau dua usapan, karena dalam hal ini ada dua riwayat; riwayat pertama, "Meratakannya sekali" dan dalam riwayat lainnya, "Meratakannya dua kali." Hanya saja dari dua riwayat itu yang paling kuat adalah mengusap sekali saja, tidak boleh lebih. Adapun alasan ('illah) larangan dalam sabda beliau, "Karena sesungguhnya rahmat Allah sedang menghadap kepadanya" artinya, turun kepadanya dan mendatanginya. Inilah 'illah larangan di atas. Artinya, Tidak baik bagi seorang yang waras menyikapi rahmat yang begitu agung dengan perbuatan bodohnya. Hal ini diungkapkan oleh Aṭ-Ṭībi. Imam Asy-Syaukāni berkata, "Alasan ini menunjukkan bahwa hikmah di balik larangan mengusap kerikil ini adalah agar hatinya tidak lalai dengan sesuatu yang memalingkannya dari rahmat yang sedang menghadap kepadanya, sehingga dia tidak mendapatkan rahmat tersebut.

Rujukan

سنن أبي داود، سليمان بن الأشعث أبوداود، دار الفكر، تحقيق : محمد محيي الدين عبد الحميد. سنن ابن ماجه، ابن ماجه محمد بن يزيد القزويني، تعليق: محمود خليل، مكتبة أبي المعاطي. المجتبى من السنن ( السنن الصغرى )، أحمد بن شعيب النسائي، تحقيق: عبد الفتاح أبو غدة، مكتب المطبوعات الإسلامية، حلب، الطبعة: الثانية 1406هـ، 1986م. سنن الدارمي، تحقيق: حسين سليم أسد الداراني، دار المغني للنشر والتوزيع، المملكة العربية السعودية، الطبعة: الأولى 1412هـ، 2000م. سنن الترمذي، محمد بن عيسى الترمذي، تحقيق: بشار عواد معروف، دار الغرب الإسلامي، بيروت. صحيح البخاري، محمد بن إسماعيل البخاري الجعفي، تحقيق: محمد زهير الناصر، دار طوق النجاة (مصورة عن السلطانية بإضافة ترقيم: محمد فؤاد عبد الباقي)، الطبعة: الأولى 1422هـ. صحيح مسلم، مسلم بن الحجاج القشيري النيسابوري، تحقيق محمد فؤاد عبد الباقي، دار إحياء التراث العربي، بيروت، الطبعة: 1423هـ. مسند الإمام أحمد بن حنبل، أحمد بن حنبل أبو عبدالله الشيباني، تحقيق أبو المعاطي النوري، عالم الكتب. توضيح الأحكام شرح بلوغ المرام، عبد الله بن عبد الرحمن البسام، مكتبة الأسدي، مكة المكرمة، الطبعة الخامِسَة، 1423هـ، 2003 م. منحة العلام في شرح بلوغ المرام، عبد الله صالح الفوزان، دار ابن الجوزي، الطبعة: الأولى 1428هـ، 1432هـ.

Hadis ini di HadeethEnc.com

Aku bertanya kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- tentang hukum menoleh dalam salat?" Maka beliau menjawab, "Itu adalah pencurian yang dilakukan setan dalam salat seorang hamba."

عن عائشة رضي الله عنها قالت: سَألتُ رسول الله صلى الله عليه وسلم عن الالتِفَات في الصلاة؟ فقال: «هو اخْتِلاس يَختَلِسُهُ الشَّيطان من صلاة العَبْد».
Dari Aisyah -raḍiyallāhu 'anhu- ia berkata, "Aku bertanya kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- tentang hukum menoleh dalam salat?" Maka beliau menjawab, "Itu adalah pencurian yang dilakukan setan dalam salat seorang hamba."
Diriwayatkan oleh BukhariDerajatHadis sahih
Penjelasan

Aisyah bertanya kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- tentang hukum menoleh dalam salat, apakah itu membahayakan salat dan mempengaruhi keabsahannya? Maka beliau mengingatkan kepadanya bahwa menoleh itu merupakan pencurian yang dilakukan oleh setan dalam salat dengan sangat cepat dan samar agar salat seseorang cacat dan pahalanya berkurang.

Rujukan

صحيح البخاري، تأليف: محمد بن إسماعيل البخاري، تحقيق: محمد زهير الناصر، الناشر: دار طوق النجاة الطبعة: الأولى، 1422هـ. سبل السلام شرح بلوغ المرام، تأليف: محمد بن إسماعيل بن صلاح الصنعاني، الناشر: دار الحديث الطبعة: بدون طبعة وبدون تاريخ. المغني، تأليف: أبي محمد موفق الدين عبد الله بن أحمد بن محمد، الشهير بابن قدامة المقدسي، الناشر: مكتبة القاهرة، الطبعة: بدون طبعة. كشاف القناع عن متن الإقناع، تأليف: منصور بن يونس بن صلاح الدين البهوتي الحنبلي، الناشر: دار الكتب العلمية. توضيح الأحكام مِن بلوغ المرام، تأليف: عبد الله بن عبد الرحمن بن صالح البسام، الناشر: مكتبة الأسدي، مكة المكرّمة الطبعة: الخامِسَة، 1423 هـ - 2003 م. تسهيل الإلمام بفقه الأحاديث من بلوغ المرام، تأليف: صالح بن فوزان بن عبد الله الفوزان، الطبعة: الأولى، 1427هـ -2006 م. فتح ذي الجلال والإكرام، شرح بلوغ المرام، تأليف: محمد بن صالح بن محمد العثيمين، الناشر: المكتبة الإسلامية، تحقيق: صبحي بن محمد رمضان، وأُم إسراء بنت عرفة. منحة العلام في شرح بلوغ المرام، تأليف: عبد الله بن صالح الفوزان، الناشر: دار ابن الجوزي، الطبعة: الأولى، 1427 هــ 1431هـ.

Hadis ini di HadeethEnc.com

Sesungguhnya salah seorang dari kalian apabila berdiri dalam salatnya, maka sesungguhnya ia sedang bermunajat dengan Rabbnya -atau Rabbnya berada di antara dia dan kiblat-. Maka janganlah salah seorang dari kalian meludah ke arah kiblat, tetapi hendaklah ia meludah ke sebelah kirinya atau di bawah kakinya

عن أنس بن مالك رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم رأى نُخْامَة في القِبْلَة، فَشَقَّ ذلك عليه حتى رُئِي في وجْهِه، فقام فَحَكَّه بِيَده، فقال: «إن أحدكم إذا قام في صلاته فإنه يُنَاجِي رَبَّه، أو إن رَبَّه بينه وبين القِبْلَة، فلا يَبْزُقَنَّ أحدُكم قِبَل قِبْلتِه، ولكن عن يَسَاره أو تحت قَدَمَيه» ثم أخذ طَرف رِدَائِه، فَبَصَقَ فيه ثم ردَّ بَعْضَهُ على بعض، فقال: «أو يفعل هكذا».
Dari Anas bin Mālik -raḍiyallāhu 'anhu-, Bahwasanya Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pernah melihat ada dahak di kiblat (dinding masjid). Hal ini sangat mengganggu beliau, hingga terlihat jelas di wajah beliau. Lalu beliau bangkit dan mengerik dahak tersebut dengan tangannya seraya bersabda, "Sesungguhnya salah seorang dari kalian apabila berdiri dalam salatnya, maka sesungguhnya ia sedang bermunajat dengan Rabbnya -atau Rabbnya berada di antara dia dan kiblat-. Maka janganlah salah seorang dari kalian meludah ke arah kiblat, tetapi hendaklah ia meludah ke sebelah kirinya atau di bawah kakinya." Kemudian beliau mengambil ujung sorbannya dan meludah padanya, lalu menggosok-gosokkan kaiannya seraya bersabda, "atau melakukan seperti ini."
Muttafaq 'alaihDerajatHadis sahih
Penjelasan

Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pernah melihat dahak kering di dinding masjid arah kiblat. Hal ini sangat mengganggu beliau hingga terlihat di wajah beliau. Maka beliau membersihkan sendiri dahak kering itu dengan tangan mulia beliau sebagai pelajaran bagi umatnya, bentuk tawaduk kepada Allah, dan rasa cinta kepada rumah Allah. Lalu beliau menjelaskan bahwa seseorang yang salat itu sedang bermunajat kepada Allah dengan zikir, doa, dan bacaan ayat-ayat Alquran. Maka dalam kondisi sakral seperti ini seyogyanya berlaku khusyuk dalam salatnya, menghadirkan keagungan Allah, menghadap dengan segenap hatinya, menjauhi sikap kurang beradab kepada Allah, serta tidak meludah ke arah kiblat. Kemudian beliau -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menunjukkan cara terbaik yang dilakukan saat dalam kondisi seperti ini; yaitu meludah ke sebelah kirinya, ke bawah kakinya, meludah di (ujung) pakaiannya atau lainnya, lalu menggosoknya dengan bagian kain yang lain untuk menghilangkannya. Orang yang salat hendaknya menghadirkan keagungan Allah dan menghadap-Nya dengan sepenuh hatinya. Meskipun Allah berada di langit di atas Arasy, namun sesungguhnya Dia di depannya, karena Dia meliputi segala sesuatu yang ada dan "Tiada sesuatu pun yang menyamai-Nya. Dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat." (Asy-Syūra: 11). Keyakinan ini tidak berarti bahwa Allah bercampur dengan fisik orang yang salat atau berada di tempat orang yang salat. Mahasuci Allah dari itu semua. Allah sangat dekat dengan orang yang salat dan sangat dekat dengan orang yang berdoa dengan kedekatan yang patut bagi keagungan-Nya, tidak sama dengan kedekatan makhluk dengan makhluk, tetapi dekatnya sang Khalik dengan makhluk-Nya. Contoh sederhanya terkait makhluk-Nya - dan bagi Allah contoh terbaik- adalah matahari. Matahari selalu di atasmu, namun ia bisa berada di depanmu saat terbit dan terbenam.

Rujukan

صحيح البخاري، تأليف: محمد بن إسماعيل البخاري، تحقيق: محمد زهير الناصر، الناشر: دار طوق النجاة الطبعة: الأولى، 1422هـ. صحيح مسلم، تأليف: مسلم بن الحجاج النيسابوري، تحقيق: محمد فؤاد عبد الباقي الناشر: دار إحياء التراث العربي – بيروت. معجم لغة الفقهاء، تأليف: محمد رواس قلعجي - حامد صادق قنيبي، الناشر: دار النفائس للطباعة والنشر والتوزيع، الطبعة: الثانية، 1408 هـ - 1988م. مرقاة المفاتيح شرح مشكاة المصابيح، تأليف: علي بن سلطان القاري، الناشر: دار الفكر، الطبعة: الأولى، 1422هـ. سبل السلام شرح بلوغ المرام، تأليف: محمد بن إسماعيل بن صلاح الصنعاني، الناشر: دار الحديث الطبعة: بدون طبعة وبدون تاريخ. مرعاة المفاتيح شرح مشكاة المصابيح، تأليف: عبيد الله بن محمد المباركفوري، الناشر: إدارة البحوث العلمية والدعوة والإفتاء، الطبعة: الثالثة - 1404 هـ. توضيح الأحكام مِن بلوغ المرام، تأليف: عبد الله بن عبد الرحمن بن صالح البسام، الناشر: مكتبة الأسدي، مكة المكرّمة الطبعة: الخامِسَة، 1423 هـ - 2003 م. تسهيل الإلمام بفقه الأحاديث من بلوغ المرام، تأليف: صالح بن فوزان بن عبد الله الفوزان، الطبعة: الأولى، 1427 هـ _ 2006 م. فتح ذي الجلال والإكرام، شرح بلوغ المرام، تأليف: محمد بن صالح بن محمد العثيمين، الناشر: المكتبة الإسلامية، تحقيق: صبحي بن محمد رمضان، وأُم إسراء بنت عرفة. شرح رياض الصالحين، تأليف: محمد بن صالح العثيمين، الناشر: دار الوطن للنشر، الطبعة: 1426هـ. منحة العلام في شرح بلوغ المرام، تأليف: عبد الله بن صالح الفوزان، الناشر: دار ابن الجوزي، الطبعة الأولى ، 1427 هـ ـ 1431هـ. بهجة الناظرين، تأليف: سليم بن عيد الهلالي، الناشر: دار ابن الجوزي، سنة النشر: 1418 هـ- 1997م.

Hadis ini di HadeethEnc.com

Kenapa ada orang-orang yang mengangkat penglihatannya ke arah langit dalam salat mereka?" Lalu peringatan beliau bertambah keras sampai-sampai beliau bersabda, 'Hendaklah mereka berhenti melakukannya, karena kalau tidak, niscaya akan tersambar pengelihatannya (sehingga menjadi buta)!'

عَن أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَا بَالُ أَقْوَامٍ يَرْفَعُونَ أَبْصَارَهُمْ إِلَى السَّمَاءِ فِي صَلاَتِهِمْ»، فَاشْتَدَّ قَوْلُهُ فِي ذَلِكَ، حَتَّى قَالَ: «لَيَنْتَهُنَّ عَنْ ذَلِكَ أَوْ لَتُخْطَفَنَّ أَبْصَارُهُمْ».
Anas bin Mālik -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ bersabda, "Kenapa ada orang-orang yang mengangkat penglihatannya ke arah langit dalam salat mereka?" Lalu peringatan beliau bertambah keras sampai-sampai beliau bersabda, 'Hendaklah mereka berhenti melakukannya, karena kalau tidak, niscaya akan tersambar pengelihatannya (sehingga menjadi buta)!'"
HR. BukhariDerajatSahih
Penjelasan

Nabi ﷺ memperingatkan orang yang melihat ke atas ketika salat saat berdoa atau lainnya. Kemudian beliau mempertegas larangan dan ancamannya terhadap orang yang melakukan hal itu, yaitu dikhawatirkan penglihatan mereka akan dicabut dengan cepat, tanpa mereka rasakan ternyata mereka telah kehilangan nikmat penglihatan.

Faedah
  1. 1- Keindahan dakwah Nabi ﷺ dan penjelasan beliau terhadap kebenaran, yaitu beliau tidak mengungkap siapa yang melakukan kesalahan karena yang menjadi tujuan adalah menerangkan kebenaran dan itu telah terwujud. Juga, karena cara tersebut menutupi orang yang bersalah dan lebih mudah untuk diterima.
  2. 2- Larangan tegas dan ancaman keras terhadap orang yang melihat ke atas ketika salat.
  3. 3- Disebutkan dalam 'Aunul-Ma'būd: "Ilat larangan tersebut adalah ketika ia mengangkat pandangan ke atas maka ia telah keluar dari wibawa kiblat serta telah berpaling dari kiblat dan posisi salat."
  4. 4- Mengangkat pandangan ke atas berlawanan dengan khusyuk dalam salat.
  5. 5- Agungnya kedudukan salat, dan orang yang mengerjakan salat wajib dalam keadaan beradab yang sempurna terhadap Allah ﷻ.
Rujukan

صحيح البخاري (1/ 150) (750). كشاف القناع عن متن الإقناع، لمنصور بن يونس البهوتي (2/ 404). توضيح الأحكام شرح بلوغ المرام، لعبد الله البسام (2/ 101). فتح ذي الجلال والإكرام شرح بلوغ المرام، لابن عثيمين (1/ 587). منار القاري شرح مختصر صحيح البخاري، لحمزة قاسم (2/ 159).

Hadis ini di HadeethEnc.com
8 dari 12
12 hadis
  1. Tidak (sempurna) salat ketika makanan telah dihidangkan ataupun sambil menahan keinginan buang air kecil dan besar
  2. Sesungguhnya salat ini tidak sepantasnya terdapat ucapan manusia di dalamnya. Sesungguhnya ucapan yang pantas hanyalah tasbih, takbir, dan bacaan Al-Qur'ān.
  3. Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- melarang seseorang salat dengan berkacak pinggang
  4. Aisyah membenci orang yang salat dengan meletakkan tangan di pinggangnya dan ia mengatakan, "Sesungguhnya Yahudi melakukan hal itu."
  5. Jika salah seorang di antara kalian mendirikan salat, maka sesungguhnya rahmat Allah sedang menghadap kepadanya. Untuk itu, janganlah ia mengusap kerikil (di tempat sujud)
  6. Aku bertanya kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- tentang hukum menoleh dalam salat?" Maka beliau menjawab, "Itu adalah pencurian yang dilakukan setan dalam salat seorang hamba."
  7. Sesungguhnya salah seorang dari kalian apabila berdiri dalam salatnya, maka sesungguhnya ia sedang bermunajat dengan Rabbnya -atau Rabbnya berada di antara dia dan kiblat-. Maka janganlah salah seorang dari kalian meludah ke arah kiblat, tetapi hendaklah ia meludah ke sebelah kirinya atau di bawah kakinya
  8. Kenapa ada orang-orang yang mengangkat penglihatannya ke arah langit dalam salat mereka?" Lalu peringatan beliau bertambah keras sampai-sampai beliau bersabda, 'Hendaklah mereka berhenti melakukannya, karena kalau tidak, niscaya akan tersambar pengelihatannya (sehingga menjadi buta)!'
  9. Rasulullah ﷺ biasa membuka salat dengan takbir dan (mengawali) bacaan dengan "al-ḥamdu lillāhi rabbbi al-'ālamīn
  10. Tidak boleh salat Witir dua kali dalam satu malam.
  11. Siapa yang lupa sebuah salat, hendaklah ia mengerjakannya ketika mengingatnya; tidak ada kafaratnya kecuali itu
  12. Pencuri yang paling buruk adalah yang mencuri salatnya." Abu Hurairah bertanya, "Bagaimana ia mencuri salatnya?" Beliau bersabda, "Yaitu ia tidak menyempurnakan rukuk maupun sujudnya

Setiap hadis, derajat, penjelasan, dan faedah di sini ditampilkan persis sebagaimana diterbitkan HadeethEnc.com, menurut ketentuan penerbitan ulangnya. Derajat itu tidak menyebut siapa yang menilainya. Terjemahan dan penjelasan adalah karya para penyusunnya, dan sebagian menyebutkan hukum; para peninjau Sabīl belum memeriksanya. Hadis berbahasa Arablah teksnya. Sumber: HadeethEnc.com