Anas -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Seorang arab badui bertanya kepada Nabi ﷺ tentang hari Kiamat. Dia berkata, "Kapan hari Kiamat akan terjadi?" Beliau ﷺ bersabda, "Apa yang telah engkau siapkan untuk hari Kiamat?" Orang itu menjawab, "Tidak ada. Hanya saja aku mencintai Allah dan Rasul-Nya ﷺ." Beliau bersabda, "Engkau akan bersama orang yang engkau cintai." Anas berkata, "Belum pernah kami bahagia dengan sesuatu seperti bahagianya kami dengan sabda Nabi ﷺ, 'Engkau bersama orang yang engkau cintai.'" Anas melanjutkan, "Sungguh aku mencintai Nabi ﷺ, Abu Bakar dan Umar. Aku berharap akan bersama mereka dengan sebab kecintaanku pada mereka sekalipun aku belum beramal semisal amal mereka."
Muttafaq 'alaihDerajatSahih
Penjelasan
Nabi ﷺ ditanya oleh seorang laki-laki badui yang tinggal di padang pasir tentang waktu terjadinya hari Kiamat.
Maka Nabi ﷺ balik bertanya: amal saleh apa yang telah engkau siapkan untuk itu?
Si penanya menjawab: tidak ada amal besar yang aku persiapkan untuk itu, kecuali kecintaanku kepada Allah dan Rasulullah. Tidak ada yang ia sebutkan selain itu di antara amalan hati, badan ataupun harta karena seluruhnya adalah cabang dan turunan dari cinta. Juga, karena cinta yang tulus adalah pendorong untuk bersungguh-sungguh dalam amal saleh.
Nabi ﷺ lalu bersabda: sungguh, engkau akan bersama orang yang engkau cintai di dalam surga.
Sahabat-sahabat Nabi ﷺ sontak merasa sangat bahagia dengan kabar gembira itu.
Kemudian Anas -raḍiyallāhu 'anhu- menyampaikan bahwa ia mencintai Nabi ﷺ, Abu Bakar dan Umar, dan berharap akan bersama mereka sekalipun amalnya tidak semisal dengan amal mereka.
Faedah
1- Sifat bijaksana Rasulullah ﷺ dalam menjawab si penanya, yaitu beliau mengarahkannya pada sesuatu yang ia butuhkan dan dapat menyelamatkannya, yaitu mempersiapkan diri untuk akhirat dengan urusan yang bermanfaat dan amal saleh.
2- Allah merahasiakan ilmu tentang waktu Kiamat dari semua hamba agar setiap orang tetap siap sedia untuk menghadap Allah.
3- Keutamaan mencintai Allah, Rasulullah, dan orang-orang mukmin yang saleh, serta peringatan dari mencintai orang-orang musyrik.
4- Sabda beliau ﷺ: "Engkau akan bersama orang yang engkau cintai", bukan bermakna memiliki kesetaraan dalam tingkat dan kedudukan, tetapi maksudnya adalah mereka semua bersama di dalam surga, masing-masing dapat melihat yang lain walaupun tempatnya berjauhan.
5- Mengarahkan seorang muslim agar menyibukkan diri dengan perkara yang lebih bermaslahat dan bermanfaat serta tidak mempertanyakan sesuatu yang tidak berguna.
Rujukan
صحيح البخاري (5/ 12) (3688).
صحيح مسلم (4/ 2032) (2639).
بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين، لسليم الهلالي (1/ 435).
كنوز رياض الصالحين، لمجموعة من الباحثين (6/ 177).
المعجم الأوسط، للطبراني (1/ 131).
نزهة المتقين شرح رياض الصالحين، لمجموعة من الباحثين (1/ 342).
عن أبي هريرة رضي الله عنه مرفوعًا: «أن رجلا زَارَ أخًا له في قرية أخرى، فأَرْصَدَ الله تعالى على مَدْرَجَتِهِ مَلَكًا، فلما أتى عليه، قال: أين تريد؟ قال: أريد أخًا لي في هذه القرية، قال: هل لك عليه من نعمةٍ تَرُبُّهَا عليه؟ قال: لا، غيرَ أني أَحْبَبْتُهُ في الله تعالى ، قال: فإني رسولُ الله إليك بأنَّ الله قد أَحَبَّكَ كما أَحْبَبْتَهُ فيه».
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- secara marfū', "Bahwasanya seorang lelaki mengunjungi saudaranya di kampung lain. Lalu Allah -Ta'ālā- mengutus seorang malaikat untuk mengawasinya di jalan. Ketika malaikat itu bertemu dengannya, ia bertanya, "Engkau mau kemana?" Orang itu menjawab, "Aku ingin menemui saudaraku di kampung ini." Malaikat bertanya, "Apakah ada satu keuntungan yang ingin engkau dapatkan darinya?" Orang itu menjawab, "Tidak. Hanya saja aku mencintainya karena Allah -Ta'ālā-." Malaikat berkata, "Sesungguhnya aku adalah utusan Allah (untuk mengabarkan) kepadamu bahwa Allah telah mencintaimu sebagaimana engkau mencintainya karena-Nya."
Diriwayatkan oleh MuslimDerajatHadis sahih
Penjelasan
Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengabarkan tentang seorang lelaki dari umat terdahulu yang mengunjungi saudaranya di kampung lain. Lantas Allah menyiapkan baginya satu malaikat di jalannya untuk menjaga dan mengawasinya. Malaikat tersebut bertanya kepada orang itu ke mana dia akan pergi? Orang itu menjawab bahwa dia pergi untuk mengunjungi saudaranya karena Allah di kampung ini. Malaikat bertanya lagi kepadanya, apakah orang itu budakmu, anakmu atau selainnya yang harus engkau beri nafkah dan kasih sayang, atau engkau punya kepentingan darinya? Orang itu menjawab, "Tidak, tetapi aku mencintainya karena Allah dan dengan kunjunganku ini aku mencari keridaan Allah." Malaikat pun memberitahunya bahwa dia adalah utusan Allah untuk mengabarkan kepadanya bahwa Allah mencintainya sebagaimana dia mencintai saudaranya karena Allah.
Rujukan
بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين، سليم بن عيد الهلالي، الدمام، دار ابن الجوزي، الطبعة: الأولى، 1415هـ.
تطريز رياض الصالحين، فيصل بن عبد العزيز المبارك، المحقق: عبد العزيز بن عبد الله آل حمد، دار العاصمة للنشر والتوزيع، الرياض، الطبعة: الأولى، 1423هـ - 2002م.
رياض الصالحين من كلام سيد المرسلين، أبو زكريا محيي الدين النووي، تحقيق ماهر الفحل، دار ابن كثير، دمشق، بيروت، الطبعة: الأولى، 1428هـ.
رياض الصالحين من كلام سيد المرسلين، أبو زكريا محيي الدين النووي، تحقيق: عصام هادي، وزارة الأوقاف والشؤون الإسلامية القطرية، دار الريان، بيروت، الطبعة: الرابعة، 1428هـ.
شرح رياض الصالحين، محمد بن صالح العثيمين، دار الوطن، الرياض، 1426هـ.
صحيح مسلم، مسلم بن الحجاج القشيري النيسابوري، تحقيق محمد فؤاد عبد الباقي، دار إحياء التراث العربي، بيروت، 1423هـ.
Anas -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ biasa banyak berdoa, "Yā muqallibal-qulūb ṡabbit qalbī 'alā dīnika (Wahai Tuhan yang membolak-balik hati, teguhkan hatiku di atas agama-Mu)." Aku bertanya, "Wahai Rasulullah! Kami beriman kepadamu dan pada apa yang engkau bawa; apakah engkau mengkhawatirkan kami?" Beliau menjawab, "Ya. Sungguh, hati itu terletak di antara dua jari dari jemari Allah. Dia membolakbaliknya sebagaimana yang Dia kehendaki."
HR. Tirmizi dan AhmadDerajatSahih
Penjelasan
Sebagian besar doa Nabi ﷺ ialah meminta kepada Allah agar diteguhkan di atas agama dan ketaatan serta dijauhkan dari penyimpangan dan kesesatan. Sebab itu, Anas bin Malik -raḍiyallāhu 'anhu- merasa heran karena Nabi ﷺ banyak berdoa dengan doa ini. Kemudian Nabi ﷺ mengabarkan bahwa hati manusia ada di antara dua jari dari jemari Allah; Dia membolakbaliknya sebagaimana yang Dia kehendaki. Hati adalah tempat keimanan dan kekufuran. Hati disebut qalbu (dalam bahasa Arab) karena sangat sering terbolak-balikkan. Hati lebih mudah terbalik daripada panci pada puncak mendidihnya. Siapa yang Allah kehendaki, Allah teguhkan hatinya di atas petunjuk dan agama. Sebaliknya, siapa yang Allah kehendaki maka Allah akan palingkan hatinya dari petunjuk kepada penyimpangan dan kesesatan.
Faedah
1- Ketawadukan Nabi ﷺ dan permohonan beliau kepada Tuhannya serta bimbingan kepada umat ini agar meminta hal tersebut.
2- Urgensi istikamah dan teguh di atas agama karena yang menjadi patokan keselamatan ialah amalan terakhir.
3- Seorang hamba tidak bisa lepas dari peneguhan Allah kepadanya di atas Islam walau sekejap mata.
4- Anjuran agar memperbanyak doa ini dalam rangka meneladan Nabi ﷺ.
5- Teguh di atas Islam adalah nikmat paling besar yang seharusnya diupayakan oleh seorang hamba serta harus disyukuri kepada Tuhannya.
Rujukan
سنن الترمذي (4/ 19) (2140).
مسند أحمد (19/ 160) (12107).
كنوز رياض الصالحين، لمجموعة من الباحثين (17/ 476).
بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين، لسليم الهلالي (2/ 567).
نزهة المتقين، لمجموعة من الباحثين (2/ 1014).
تطريز رياض الصالحين، لفيصل آل مبارك (ص808).
شرح رياض الصالحين، لابن عثيمين (6/ 41).
Sahl bin Ḥunaif -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, bahwa Nabi ﷺ bersabda, "Siapa yang memohon mati syahid kepada Allah dengan tulus, Allah akan menyampaikannya ke tingkatan syuhada, walaupun ia meninggal di atas tempat tidurnya."
HR. MuslimDerajatSahih
Penjelasan
Nabi ﷺ mengabarkan bahwa orang yang berdoa meminta mati syahid dan terbunuh di jalan Allah dengan jujur dan tulus meniatkan hal itu kepada Allah ﷻ, Allah akan memberinya tingkatan syuhada dengan niat jujurnya itu, walaupun ia meninggal di atas tempat tidur tanpa berperang.
Faedah
1- Niat yang jujur serta melakukan apa yang sanggup adalah sebab menggapai pahala dan ganjaran yang diinginkan, walaupun ia belum melakukan perbuatan yang diinginkan tersebut.
2- Anjuran untuk berjihad dan meminta mati syahid di jalan Allah ﷻ.
3- Pemuliaan Allah Ta'ala kepada umat ini, yaitu Allah memberi mereka tingkatan paling tinggi dalam surga dengan amal yang sedikit.
Rujukan
صحيح مسلم (3/ 1517) (1909).
بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين، لسليم الهلالي (1/ 123).
نزهة المتقين شرح رياض الصالحين، لمجموعة من الباحثين (1/ 87).
عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه مرفوعاً: "ألا أخبركم بما هو أَخْوَفُ عليكم عندي من المسيح الدجال؟ قالوا: بلى يا رسول الله، قال: الشرك الخفي يقوم الرجل فيصلي فَيُزَيِّنُ صلاته لما يرَى من نَظَرِ رَجُلٍ".
Dari Abu Said Al-Khudri -raḍiyallāhu 'anhu- secara marfū', "Maukah kalian aku beritahukan tentang sesuatu yang lebih aku takutkan (akan menimpa) kalian daripada Al-Masīh Ad-Dajjāl?" Para sahabat menjawab, "Tentu saja, wahai Rasulullah." Beliau bersabda, "Syirik Khafi (yang samar/tersembunyi). Seseorang berdiri lalu salat kemudian memperbagus salatnya karena melihat pandangan orang yang memperhatikannya."
Diriwayatkan oleh Ibnu MājahDerajatHadis hasan
Penjelasan
Para sahabat sedang bertukar pikiran tentang fitnah Al-Masīḥ Ad-Dajjāl dan mencemaskannya. Lantas Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memberitahu mereka bahwa ada suatu larangan yang beliau takutkan akan menimpa mereka melebihi ketakutannya terhadap fitnah Dajjal, yaitu syirik dalam niat dan tujuan yang tersembunyi dari manusia. Setelah itu beliau menjelaskannya yaitu memperbagus amal yang sejatinya demi mencari keridhaan Allah lalu berbelok karena dampak pandangan manusia kepadanya.
Rujukan
فتح المجيد شرح كتاب التوحيد، مطبعة السنة المحمدية، القاهرة، مصر، الطبعة: السابعة، 1377هـ - 1957م.
القول المفيد على كتاب التوحيد، دار ابن الجوزي، المملكة العربية السعودية، الطبعة: الثانية، 1424هـ.
الملخص في شرح كتاب التوحيد، دار العاصمة الرياض، الطبعة: الأولى، 1422هـ - 2001م.
الجديد في شرح كتاب التوحيد، مكتبة السوادي، جدة، المملكة العربية السعودية، الطبعة: الخامسة، 1424هـ - 2003م.
التمهيد لشرح كتاب التوحيد، دار التوحيد، تاريخ النشر: 1424هـ.
سنن ابن ماجه، تحقيق: محمد فؤاد عبد الباقي، الناشر: دار إحياء الكتب العربية - فيصل عيسى البابي الحلبي.
صحيح الجامع، طبعة المكتب الإسلامي.
عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «قَالَ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ، مَنْ عَمِلَ عَمَلًا أَشْرَكَ فِيهِ مَعِي غَيْرِي تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ».
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda, Allah berfirman, "Aku adalah Zat yang paling tidak butuh kepada sekutu. Siapa yang mengerjakan amalan yang di dalamnya dia menyekutukan-Ku dengan yang lain, maka Aku tinggalkan ia bersama perbuatan syiriknya itu."
HR. MuslimDerajatSahih
Penjelasan
Nabi ﷺ mengabarkan bahwa Allah -Tabāraka wa Ta'ālā- berfirman, bahwa Dia Zat yang paling tidak butuh kepada sekutu. Dia tidak butuh kepada segala sesuatu. Ketika seseorang mengerjakan suatu amal ketaatan dan ia menjadikannya untuk Allah dan selain Allah, niscaya Allah akan meninggalkannya dan tidak menerimanya serta amalannya tertolak. Seseorang wajib memurnikan amal kepada Allah Ta'ala, karena Allah tidak menerima kecuali amal yang murni demi wajah-Nya yang Maha Mulia.
Faedah
1- Larangan melakukan kesyirikan dalam bentuk apapun, dan kesyirikan merupakan penghalang diterimanya amal.
2- Menghadirkan kemahakayaan Allah serta keagungan-Nya termasuk tindakan yang akan membantu keikhlasan dalam beramal.
Rujukan
صحيح مسلم (4/ 2289) (2985).
شرح النووي على مسلم (18/ 115).
الملخص في شرح كتاب التوحيد، لصالح الفوزان (ص287).
الجديد في شرح كتاب التوحيد، لمحمد القرعاوي (ص325).
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ bersabda, "Tidak ada penyakit yang menular sendiri, tidak ada keyakinan sial dengan sebab burung, tidak pula (kesialan pada) burung hantu maupun (bulan) Safar. Larilah dari penderita kusta sebagaimana engkau lari dari singa."
Muttafaq 'alaihDerajatSahih
Penjelasan
Nabi ﷺ menerangkan sebagian perkara-perkara jahiliah sebagai peringatan dan penjelasan bahwa seluruh urusan ada di tangan Allah; tidak akan terjadi sesuatu melainkan dengan perintah dan ketetapan-Nya, yaitu:
Pertama: Orang-orang jahiliah meyakini bahwa penyakit menular sendiri. Maka Nabi ﷺ melarang meyakini penyakit dapat berpindah dari orang sakit kepada yang lain dengan sendirinya, karena hanya Allah yang mengatur alam semesta; yaitu Allah yang menurunkan penyakit dan mengangkatnya dan hal itu tidak terjadi kecuali dengan kehendak dan ketetapan-Nya.
Kedua: Orang-orang jahiliah ketika keluar untuk suatu perjalanan atau perdagangan, mereka melepas burung. Jika burung itu terbang ke arah kanan maka mereka optimis melanjutkannya, tetapi jika ia terbang ke arah kiri maka mereka pesimis dan tidak melanjutkannya. Maka Nabi ﷺ melarang membangun pesimisme dengan sebab burung, sekaligus menjelaskan bahwa hal itu adalah keyakinan batil.
Ketiga: Orang-orang jahiliah mengatakan, jika burung hantu hinggap di sebuah rumah, maka akan terjadi musibah pada penghuni rumah itu. Maka Nabi ﷺ melarang membangun pesimisme dengan hal itu.
Keempat: Nabi ﷺ melarang meyakini kesialan dengan sebab bulan Safar, yaitu bulan kedua di antara bulan-bulan qamariah. Konon, ṣafar adalah cacing dalam perut yang menimpa hewan ternak dan manusia; mereka meyakininya lebih menular dari penyakit kudis. Maka Nabi ﷺ mengingkari keyakinan itu.
Kelima: Nabi ﷺ memerintahkan agar menjauhi orang yang menderita penyakit kusta sebagaimana menjauhi singa. Hal ini sebagai tindakan antisipasi diri, menjaga keselamatan jiwa, dan bentuk ikhtiar yang diperintahkan oleh Allah. Jużām (kusta) adalah penyakit yang mengakibatkan anggota tubuh rontok.
Faedah
1- Kewajiban tawakal dan bersandar kepada Allah sekaligus melakukan sebab-sebab yang disyariatkan.
2- Kewajiban mengimani ketetapan dan takdir Allah; bahwa sebab-sebab ada di tangan Allah, Dia yang menjalankannya atau mencabut pengaruhnya.
3- Mengingkari apa yang dilakukan oleh sebagian orang berupa membangun pesimisme dengan sebab warna, seperti hitam dan merah, ataupun dengan sebagian nomor, nama, orang dan penyandang cacat.
4- Larangan mendekati penderita penyakit kusta serta orang-orang yang menderita penyakit menular lainnya termasuk sebab sunatullah yang Dia tetapkan bahwa ia akan mewujudkan musababnya, sehingga sebab-sebab itu tidak berdiri sendiri, melainkan, jika berkehendak, Allah akan mencabut kekuatannya sehingga ia tidak berpengaruh sedikit pun. Sebaliknya, jika berkehendak, Allah akan menetapkannya sehingga ia akan berpengaruh.
Rujukan
صحيح البخاري (7/ 126) (5707).
صحيح مسلم (4/ 1742) (2220).
فتح المجيد شرح كتاب التوحيد، لعبد الرحمن التميمي (ص307).
القول المفيد على كتاب التوحيد، لابن عثيمين (1/ 565).
الملخص في شرح كتاب التوحيد، لصالح الفوزان (ص228).
الجديد في شرح كتاب التوحيد، لمحمد القرعاوي (ص253).
التمهيد لشرح كتاب التوحيد، لصالح آل الشيخ (ص77).
عن عَمْرُو بن تَغْلِبَ ـ رضي الله عنه ـ أن رسول الله صلى الله عليه وسلم أُتِيَ بمالٍ أو سَبْيٍ فَقَسَّمه، فأعطى رجالا، وترك رجالًا، فبَلغَه أن الَّذِين تَرَك عَتَبُوا، فحمد الله، ثم أثنى عليه، ثم قال: «أما بعد، فوالله إني لأُعطي الرجل وأدَعُ الرجلَ، والذي أدعُ أحبُّ إلي من الذي أُعطي، ولكني إنما أُعطي أقوامًا لما أرى في قلوبهم من الجَزَع والهَلَع، وَأَكِلُ أقواما إلى ما جَعَلَ الله في قُلُوبِهم من الغِنَى والخَيْر، منهم عَمْرُو بن تَغْلِبَ» قال عمرو بن تغلب: فوالله ما أُحبُّ أن لي بكلمة رسول الله صلى الله عليه وسلم حُمْرَ النَّعَم.
Dari 'Amru bin Taglib -raḍiyallāhu 'anhu- bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- diberi harta atau tawanan, lalu beliau membagi-bagikannya. Beliau memberi kepada beberapa orang dan tidak memberi kepada yang lainnya. Lantas beliau mendengar kabar bahwa orang-orang yang tidak diberi bagian mencela. Beliau berpidato; memuji Allah lalu menyanjung-Nya dan bersabda, "Ammā Ba'du, demi Allah, sesungguhnya aku memberi harta rampasan kepada seseorang dan tidak memberikannya kepada yang lainnya. Padahal, orang yang tidak aku beri lebih aku cintai daripada orang yang aku beri. Sesungguhnya aku memberi harta rampasan kepada orang-orang itu karena aku lihat dalam hati mereka ada keresahan dan kegelisahan, dan aku serahkan kepada Allah orang-orang yang ditetapkan dalam hati mereka kekayaan dan kebaikan, di antara mereka adalah 'Amru bin Taglib." Amru bin Taglib berkata, "Demi Allah, saya tidak suka kalau sabda Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- itu diganti dengan unta merah."
Diriwayatkan oleh BukhariDerajatHadis sahih
Penjelasan
Amru bin Taglib -raḍiyallāhu 'anhu- bercerita bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- diberi harta atau tawanan, yaitu tawanan yang didapat dari musuh waktu berperang, baik budak sahaya laki-laki ataupun perempuan, lalu beliau membagi-bagikannya. Beliau memberi kepada beberapa orang dan tidak memberi kepada yang lainnya. yakni, beliau memberi sebagian orang untuk melunakkan hati mereka dan tidak memberi kepada yang lainnya karena yakin bahwa Allah telah menganugerahkan kekuatan iman dan keyakinan kepada mereka. Lantas beliau mendengar kabar bahwa orang-orang yang tidak diberi bagian kecewa. Yakni, menyesalkan beliau tentang apa yang ada pada mereka karena mengira bahwa beliau memberi mereka berdasarkan keunggulan mereka dalam agama. Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pun mengumpulkan mereka seraya berpidato; beliau memuji Allah lalu menyanjung-Nya dengan apa yang layak bagi-Nya. Selanjutnya beliau bersabda, "Ammā Ba'du, demi Allah, sesungguhnya aku memberi harta rampasan kepada seseorang dan tidak memberikannya kepada yang lainnya. Padahal, orang yang tidak aku beri lebih aku cintai daripada orang yang aku beri. Yakni, bukan berarti bahwa ketika aku memberi kepada sebagian orang dan tidak memberi kepada yang lain menjadi bukti aku lebih mencintai mereka daripada yang lainnya. Justru, orang yang aku biarkan dan tidak aku beri, mereka itu lebih aku cintai daripada orang yang aku beri. Selanjutnya beliau menjelaskan sebab pemberiannya kepada sebagian orang tanpa sebagian yang lain. Beliau bersabda, "Sesungguhnya aku memberi harta rampasan kepada orang-orang itu karena aku lihat dalam hati mereka ada keresahan dan kegelisahan." Yakni, kepedihan dan kecemasan yang akan menimpa jiwa mereka jika tidak diberi harta rampasan. Dengan demikian, aku memberi mereka untuk melunakkan hatinya dan menyenangkan jiwa mereka. "Aku serahkan kepada Allah orang-orang yang ditetapkan dalam hati mereka kekayaan," Yakni, Aku membiarkan sebagian orang tidak diberi karena aku menyerahkan perkara mereka kepada Allah yang telah menganugerahkan rasa puas dan kaya jiwa dalam hati mereka." dan kebaikan, Yakni, kekuatan iman dan keyakinan. Di antara mereka adalah 'Amru bin Taglib." Yakni, di antara orang yang tidak aku beri harta rampasan karena bersandar kepada iman yang ada pada mereka adalah 'Amru bin Taglib." Di dalam hadis lain disebutkan, "Sesungguhnya aku memberi kepada seseorang, padahal yang lainnya lebih aku cintai darinya, karena khawatir wajahnya diseret ke dalam neraka." (HR. Muslim). Amru berkata saat mendengar sanjungan Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- kepadanya, "Demi Allah, saya tidak suka kalau sabda Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- itu ditukar dengan unta merah." Yakni, aku bersumpah dengan nama Allah, aku tidak rela ada pengganti atas sanjungan yang telah diberikan Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- kepadaku sebagai kemuliaan, meskipun aku diberi harta paling berharga di kalangan Arab, yaitu unta merah.
Rujukan
كنوز رياض الصالحين، تأليف: حمد بن ناصر العمار، الناشر: دار كنوز أشبيليا، الطبعة الأولى: 1430 هـ
بهجة الناظرين، تأليف: سليم بن عيد الهلالي، نسخة الكترونية، لا يوجد بها بيانات نشر
نزهة المتقين، تأليف: جمعٌ من المشايخ، الناشر: مؤسسة الرسالة، الطبعة الأولى: 1397 هـ الطبعة الرابعة عشرة 1407 هـ
صحيح البخاري، تأليف: محمد بن إسماعيل البخاري، تحقيق: محمد زهير الناصر، الناشر: دار طوق النجاة الطبعة: الأولى، 1422هـ
رياض الصالحين، تأليف: محيي الدين يحيى بن شرف النووي ، تحقيق: د. ماهر بن ياسين الفحل، الطبعة: الأولى، 1428 هـ
منار القاري، تأليف: حمزة محمد قاسم ، الناشر: مكتبة دار البيان، عام النشر: 1410 هـ
المنهاج شرح صحيح مسلم بن الحجاج، تأليف: محيي الدين يحيى النووي، الناشر: دار إحياء التراث العربي، الطبعة: الثانية 1392 هـ.
Setiap hadis, derajat, penjelasan, dan faedah di sini ditampilkan persis sebagaimana diterbitkan HadeethEnc.com, menurut ketentuan penerbitan ulangnya. Derajat itu tidak menyebut siapa yang menilainya. Terjemahan dan penjelasan adalah karya para penyusunnya, dan sebagian menyebutkan hukum; para peninjau Sabīl belum memeriksanya. Hadis berbahasa Arablah teksnya. Sumber: HadeethEnc.com