Nabi ﷺ memberitahukan mengenai kebajikan dan dosa. Beliau bersabda, "Sesungguhnya perkara kebajikan yang paling besar adalah berakhlak baik kepada Allah dengan bertakwa dan berakhlak baik kepada manusia dengan bersabar terhadap gangguan mereka, mengurangi marah, bermuka ceria, berbicara baik, menyambung silaturahmi, bersikap lembut, berbuat baik, dan bergaul serta berkawan dengan baik." Beliau juga menjelaskan bahwa kebajikan itu adalah sesuatu yang menenangkan hati dan jiwa. Adapun dosa, maka ia adalah perkara-perkara syubhat/samar yang bergolak dalam jiwa, dada tidak merasa tenang terhadapnya, ada keraguan dalam hati terhadapnya, merasa khawatir itu dosa, dan engkau tidak mau menampakkannya kepada tokoh, panutan, dan orang-orang saleh karena hal itu buruk. Hal itu karena tabiat manusia senang dilihat kebaikannya. Sebab itu, jika ia tidak suka dilihat sebagian perbuatannya, itu adalah perbuatan dosa yang tidak mengandung kebaikan. Sekalipun manusia memberikan fatwa kepadamu, jangan diambil fatwa mereka, selama indikasi syubhat masih melekat dalam jiwa Anda, karena fatwa tidak bisa menghilangkan syubhat selama syubhat tersebut valid, terlebih jika yang berfatwa tidak berilmu. Sedangkan apabila fatwa itu berlandaskan dalil syariat, wajib bagi yang meminta fatwa menjadikannya acuan meski hatinya terasa berat menerimanya.
- 1- Anjuran memiliki akhlak mulia karena akhlak baik termasuk perkara kebajikan yang paling agung.
- 2- Kebenaran dan kebatilan tidak akan samar bagi orang mukmin karena ia dapat mengetahui kebenaran dengan cahaya yang ada dalam hatinya sekaligus bisa menghindar dari kebatilan dan mengingkarinya.
- 3- Di antara tanda perbuatan dosa adalah kegundahan hati, hati bergolak, dan tidak mau dilihat orang.
- 4- As-Sindiy berkata, "Ini berlaku pada perkara-perkara yang samar, yaitu perkara-perkara yang seseorang tidak memiliki ilmu untuk menentukan salah satunya. Adapun perkara yang diperintahkan dalam syariat dan tidak ada dalil yang menyelisihinya secara jelas dalam hal itu, maka itu adalah kebajikan. Kemudian perkara yang dilarang seperti itu adalah dosa. Tidak diperlukan pada keduanya untuk bertanya pada hati serta ketenteramannya."
- 5- Hadis ini ditujukan kepada orang yang memiliki fitrah lurus, bukan yang memiliki fitrah terbalik, yaitu yang tidak mengenal kebaikan dan tidak pula mengingkari kemungkaran kecuali yang dirasuki oleh hawa nafsunya.
- 6- Aṭ-Ṭībiy berkata, "Disebutkan, kebajikan dalam hadis ini ditafsirkan dengan banyak makna. Di sebagian tempat ditafsirkan dengan sesuatu yang membuat hati merasa tenang. Di tempat lain ditafsirkan dengan keimanan, dan di tempat lainnya lagi dengan sesuatu yang dapat mendekatkan kepada Allah. Sedangkan di sini ditafsirkan dengan akhlak baik. Lalu akhlak baik ditafsirkan dengan bersabar terhadap gangguan, sedikit marah, bermuka ceria dan berkata baik. Semuanya berdekatan secara makna."
صحيح مسلم (4/ 1980) (2553). التحفة الربانية في شرح الأربعين حديثًا النووية التحفة الربانية (ص62). شرح الأربعين النووية، لابن عثيمين (ص267). فتح القوي المتين في شرح الأربعين وتتمة الخمسين، للنووي وابن رجب رحمهما الله (ص92).