عن أبِي هُرَيرةَ رضي الله عنه أنَّ رسول الله صلى الله عليه وسلمَ قال: «إذا قُلْتَ لِصَاحِبِكَ: أَنْصِتْ، يومَ الجمعةِ، والْإِمامُ يَخْطُبُ، فَقَدْ لَغَوْتَ».
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Jika engkau berkata kepada temanmu di hari Jumat, 'Diamlah', sementara imam sedang berkhotbah, sungguh engkau telah berbuat lagwu (dosa)."
Muttafaq 'alaihDerajatSahih
Penjelasan
Nabi ﷺ menerangkan, di antara adab yang wajib dilakukan oleh orang yang menghadiri khotbah Jumat ialah menyimak ucapan khatib dengan saksama agar dapat menadaburi wejangannya. Beliau juga memaparkan bahwa orang yang berbicara -walaupun sangat sedikit- di saat khatib sedang berkhotbah dengan berkata kepada yang lain: "Diamlah" atau "Dengarkanlah", maka dia telah kehilangan keutamaan salat Jumat.
Faedah
- 1- Pengharaman berbicara ketika sedang mendengar khotbah, walaupun dalam rangka melarang kemungkaran, menjawab salam, atau mendoakan orang yang bersin.
- 2- Pengecualian dari hukum ini adalah orang yang berbicara kepada khatib atau khatib berbicara kepadanya.
- 3- Boleh berbicara di antara dua khotbah ketika dibutuhkan.
- 4- Ketika Nabi ﷺ disebutkan sementara khatib sedang berkhotbah, maka Anda berselawat kepadanya secara sir, demikian juga saat mengaminkan doa khatib.
Rujukan
صحيح البخاري (2/ 13) (934).
صحيح مسلم (2/ 583) (851).
تيسير العلام شرح عمدة الأحكام، للبسام (ص244).
تنبيه الأفهام، للعثيمين (2/ 307).
الإلمام بشرح عمدة الأحكام، لإسماعيل الأنصاري (1/ 195).
فتح الباري، لابن حجر (2/ 409).
تاج العروس من جواهر القاموس، لمحمّد الحسيني الزَّبيدي (39/ 463).
Hadis ini di HadeethEnc.comعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «مَنِ اغْتَسَلَ يَوْمَ الجُمُعَةِ غُسْلَ الجَنَابَةِ ثُمَّ رَاحَ، فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَدَنَةً، وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الثَّانِيَةِ، فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَقَرَةً، وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الثَّالِثَةِ، فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ كَبْشًا أَقْرَنَ، وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الرَّابِعَةِ، فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ دَجَاجَةً، وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الخَامِسَةِ، فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَيْضَةً، فَإِذَا خَرَجَ الإِمَامُ حَضَرَتِ المَلاَئِكَةُ يَسْتَمِعُونَ الذِّكْرَ».
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Siapa yang mandi di hari Jumat seperti mandi janabat, kemudian berangkat di awal waktu maka seolah-olah ia berkurban seekor unta. Siapa yang berangkat di waktu kedua seolah-olah ia berkurban seekor sapi. Siapa yang berangkat di waktu ketiga seolah-olah ia berkurban seekor kambing bertanduk. Siapa yang berangkat di waktu keempat seolah-olah ia berkurban seekor ayam. Siapa yang berangkat di waktu kelima seolah-olah ia berkurban sebutir telur. Lalu apabila imam telah keluar (naik mimbar), para malaikat turut hadir untuk mendengarkan khotbah."
Muttafaq 'alaihDerajatSahih
Penjelasan
Nabi ﷺ mengabarkan keutamaan berangkat pagi-pagi ke tempat salat Jumat. Hitungan berangkat untuk salat Jumat dimulai sejak terbit matahari hingga imam datang, yaitu lima jam. Lalu dibagi berdasarkan jarak antara terbit matahari hingga imam masuk lalu naik mimbar untuk berkhotbah menjadi lima bagian:
Pertama: Siapa yang mandi secara sempurna seperti mandi janabat kemudian berangkat ke masjid tempat dilaksanakan salat Jumat di waktu pertama, maka seakan-akan ia bersedekah seekor unta.
- Kedua: siapa yang mandi di waktu kedua maka seakan-akan ia bersedekah dengan seekor sapi.
Ketiga: siapa yang berangkat di waktu ketiga maka seakan-akan ia bersedekah dengan seekor kibas jantan yang bertanduk.
- Keempat: siapa yang berangkat di waktu keempat, maka seakan-akan ia bersedekah dengan seekor ayam.
- Kelima: siapa yang berangkat di waktu kelima maka seakan-akan ia bersedekah dengan sebutir telur.
Apabila imam telah keluar untuk berkhotbah, malaikat-malaikat yang duduk di pintu masjid untuk mencatat orang-orang yang masuk masjid secara berurutan berhenti mencatat lalu ikut duduk untuk mendengarkan zikir dan khotbah.
Faedah
- 1- Anjuran untuk mandi di hari Jumat dan itu dilakukan sebelum berangkat ke tempat salat.
- 2- Keutamaan berangkat pagi-pagi ke tempat salat Jumat sejak awal waktu siang hari.
- 3- Anjuran bersegera mengerjakan amal saleh.
- 4- Para malaikat ikut serta menghadiri salat Jumat dan mendengarkan khotbah.
- 5- Para malaikat berada di pintu-pintu masjid untuk mencatat orang-orang yang datang berdasarkan urutan kedatangan ke tempat salat Jumat.
- 6- Ibnu Rajab berkata, "Sabda beliau ﷺ: 'Siapa yang mandi di hari Jumat kemudian berangkat ...', menunjukkan bahwa mandi yang dianjurkan pada hari Jumat itu awalnya ketika terbit fajar dan terakhir ketika berangkat ke tempat Jumat."
Rujukan
صحيح البخاري (2/ 3) (881).
صحيح مسلم (2/ 582) (850).
تيسير العلام شرح عمدة الأحكام، عبد الله البسام (ص244).
تنبيه الأفهام شرح عمدة الأحكام، لابن عثيمين (2/ 308).
الإلمام بشرح عمدة الأحكام، إسماعيل الأنصاري (1/ 196).
معالم السنن (شرح سنن أبي داود)، أبو سليمان الخطابي (1/ 109).
تهذيب اللغة، محمد الأزهري (14/ 102).
Hadis ini di HadeethEnc.comعن عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ رضي الله عنهما قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ: «مَنْ جَاءَ مِنْكُمُ الْجُمُعَةَ فَلْيَغْتَسِلْ».
Abdullah bin Umar -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan, Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, "Siapa di antara kalian yang mau melaksanakan salat Jumat, hendaknya ia mandi."
Muttafaq 'alaihDerajatSahih
Penjelasan
Nabi ﷺ menekankan pada orang yang hendak pergi melaksanakan salat Jumat bahwa ia dianjurkan untuk mandi seperti mandi janabat.
Faedah
- 1- Menekankan mandi Jumat karena hal tersebut disunahkan bagi seorang mukmin di hari Jumat dan lebih utama dilakukan ketika akan pergi salat.
- 2- Memperhatikan kebersihan dan aroma baik termasuk akhlak dan adab seorang muslim, dan hal itu semakin ditekankan saat bertemu orang banyak dan di majelis mereka, lebih-lebih pada salat Jumat dan salat berjemaah.
- 3- Objek hadis ini ialah orang yang wajib salat Jumat karena ia yang akan menghadirinya.
- 4- Orang yang menghadiri salat Jumat dianjurkan berada dalam keadaan bersih. Dia hendaknya mandi agar bau badannya hilang dan memakai minyak wangi, tetapi jika ia berwudu saja maka tetap sah.
Rujukan
صحيح البخاري (2/ 81) (1294).
صحيح مسلم (1/ 99) (103).
تيسير العلام شرح عمدة الأحكام، لعبد الله البسام (ص239).
تنبيه الأفهام شرح عمدة الأحكام، لابن عثيمين (2/ 302).
الإلمام بشرح عمدة الأحكام، لإسماعيل الأنصاري (1/ 192).
Hadis ini di HadeethEnc.comعن سَلَمَةَ بْنِ الأَكْوَعِ رضي الله عنه وكان من أصحاب الشجرة قال: «كنا نُصَلِّي مع رسول الله صلى الله عليه وسلم الْجُمُعَةَ، ثم نَنْصَرِفُ، وليس للحيطان ظِلٌّ نستظِلّ به».
وفي لفظ: «كنا نُجَمِّعُ مع رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا زالت الشمس، ثم نرجع فَنَتَتَبَّعُ الْفَيْءَ».
Dari Salamah bin Al-Akwa' -raḍiyallāhu 'anhu-, ia termasuk pelaku baiat di bawah pohon (Baiat ar-Riḍwān), ia berkata, "Kami dahulu salat Jumat bersama Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, kemudian kami bubar pada saat tembok-tembok tidak punya bayangan yang dapat kami jadikan tempat berteduh." Dalam redaksi lain, "Kami dahulu menunaikan salat Jumat bersama Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- apabila matahari telah tergelincir, kemudian kami pulang mencari-cari bayangan (untuk berteduh)."
Muttafaq 'alaihDerajatHadis sahih
Penjelasan
Salamah bin Al-Akwa' -raḍiyallāhu 'anhu- mengungkapkan bahwa para sahabat dahulu menghadiri salat Jumat bersama Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Mereka salat di awal waktu, di mana mereka sudah selesai dari dua khotbah dan salat, kemudian pulang ke rumah masing-masing, sementara tembok-tembok belum memiliki bayangan yang cukup dijadikan berteduh. Riwayat kedua, "Mereka salat Jumat bersama Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- apabila matahari telah tergelincir, kemudian mereka pulang." Ulama sepakat bahwa akhir waktu salat Jumat sama dengan akhir waktu salat Zuhur. Namun yang paling afdal dan paling baik melaksanakan salat di setelah waktu zawal (matahari condong ke barat), karena ini yang biasa dipraktikkan Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, juga karena ini waktu yang disepakati di antara para ulama. Kecuali bila memang ada kendala seperti situasi terlalu panas dan mereka tidak memiliki atap untuk berteduh, atau mereka ingin berangkat jihad sebelum zawal, maka tidak mengapa melaksanakan salat Jumat sedikit lebih awal dari waktu zawal.
Rujukan
تيسير العلام شرح عمدة الأحكام، عبد الله بن عبد الرحمن البسام، تحقيق: محمد صبحي حلاق، مكتبة الصحابة، الإمارات، مكتبة التابعين، القاهرة، الطبعة: العاشرة 1426هـ، 2006م.
تنبيه الأفهام شرح عمدة الأحكام، محمد بن صالح العثيمين، مكتبة الصحابة، الإمارات، الطبعة: الأولى 1426هـ، 2005م.
عمدة الأحكام من كلام خير الأنام -صلى الله عليه وسلم- لعبد الغني المقدسي، دراسة وتحقيق: محمود الأرناؤوط، مراجعة وتقديم: عبد القادر الأرناؤوط، دار الثقافة العربية، دمشق، بيروت، مؤسسة قرطبة، الطبعة: الثانية 1408هـ، 1988م.
صحيح البخاري، محمد بن إسماعيل البخاري الجعفي، تحقيق: محمد زهير الناصر، دار طوق النجاة (مصورة عن السلطانية بإضافة ترقيم: محمد فؤاد عبد الباقي)، الطبعة: الأولى 1422هـ.
صحيح مسلم، مسلم بن الحجاج القشيري النيسابوري، تحقيق محمد فؤاد عبد الباقي، دار إحياء التراث العربي، بيروت، الطبعة: 1423هـ.
فتح الباري شرح صحيح البخاري، زين الدين عبد الرحمن بن رجب البغدادي، تحقيق: محمود بن شعبان بن عبد المقصود ومجدي بن عبد الخالق الشافعي وغيرهم، الناشر: مكتبة الغرباء الأثرية، المدينة النبوية، الحقوق: مكتب تحقيق دار الحرمين، القاهرة الطبعة: الأولى 1417هـ، 1996م.
Hadis ini di HadeethEnc.comعن عبد الله بن عُمر بن الخطاب رضي الله عنهما قال: «كان النبي صلى الله عليه وسلم يخطب خطبتين يقعد بينهما» وفي رواية لجابر - رضي الله عنه-: «كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يَخْطُبُ خُطْبَتَيْنِ وهو قائم، يفصل بينهما بجلوس».
Dari Abdullah bin Umar bin Al-Khaṭṭāb -raḍiyallāhu 'anhumā- ia berkata, "Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- berkhotbah dua kali, beliau duduk di antara keduanya." Dalam riwayat lain dari Jabir -raḍiyallāhu 'anhu-, "Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- berkhotbah dua kali dengan berdiri, beliau memisahkan antara keduanya dengan duduk."
Diriwayatkan oleh Baihaqi - Muttafaq 'alaihDerajatSahih dengan dua riwayatnya
Penjelasan
Hari Jumat adalah pertemuan besar yang meliputi seluruh penduduk negri. Karenanya, Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, dengan sifat bijaknya, beliau menyampaikan dua khotbah kepada orang-orang di hari Jumat, yang di dalamnya beliau mengarahkan mereka pada kebaikan dan melarang mereka dari keburukan. Beliau menyampaikan dua khotbah ini dengan berdiri di atas mimbar, agar lebih tepat dalam mengajari dan menasehati mereka. Posisi berdiri juga mampu menunjukkan kekuatan dan kebesaran Islam. Apabila telah selesai dari khotbah pertama, beliau duduk sebentar untuk istirahat, sekaligus memisahkan khotbah pertama dan kedua. Kemudian berdiri lalu menyampaikan khotbah kedua. Tujuannya, supaya khatib tidak kelelahan dan pendengar tidak bosan.
Rujukan
تيسير العلام شرح عمدة الأحكام، عبد الله بن عبد الرحمن البسام، تحقيق: محمد صبحي حلاق، مكتبة الصحابة، الإمارات، مكتبة التابعين، القاهرة، الطبعة: العاشرة 1426هـ، 2006م.
تنبيه الأفهام شرح عمدة الأحكام، محمد بن صالح العثيمين، مكتبة الصحابة، الإمارات، الطبعة: الأولى 1426هـ، 2005م.
الإفهام في شرح عمدة الأحكام لابن باز، تحقيق: سعيد القحطاني، مؤسسة عبد العزيز بن باز الخيرية، الرياض، الطبعة: الأولى 1435هـ.
الإلمام بشرح عمدة الأحكام، إسماعيل بن محمد الأنصاري، دار الفكر، دمشق، الطبعة: الأولى 1381هـ.
خلاصة الكلام –فيصل المبارك الحريملي -الطبعة: الثانية، 1412 هـ - 1992 م.
تأسيس الأحكام، أحمد بن يحيى النجمي، دار المنهاج، القاهرة، الطبعة: الأولى 1427هـ.
صحيح البخاري، محمد بن إسماعيل البخاري الجعفي، تحقيق: محمد زهير الناصر، دار طوق النجاة (مصورة عن السلطانية بإضافة ترقيم: محمد فؤاد عبد الباقي)، الطبعة: الأولى 1422هـ.
صحيح مسلم، مسلم بن الحجاج القشيري النيسابوري، تحقيق محمد فؤاد عبد الباقي، دار إحياء التراث العربي، بيروت، الطبعة: 1423هـ.
المجتبى من السنن ( السنن الصغرى )، أحمد بن شعيب النسائي، تحقيق: عبد الفتاح أبو غدة، مكتب المطبوعات الإسلامية، حلب، الطبعة: الثانية 1406هـ، 1986م.
سنن الدارمي، تحقيق: حسين سليم أسد الداراني، دار المغني للنشر والتوزيع، المملكة العربية السعودية، الطبعة: الأولى 1412هـ، 2000م.
تهذيب اللغة، محمد بن أحمد الأزهري أبو منصور، تحقيق: محمد عوض مرعب، الناشر: دار إحياء التراث العربي، بيروت، الطبعة: الأولى، 2001م.
إرواء الغليل في تخريج أحاديث منار السبيل - محمد ناصر الدين الألباني إشراف: زهير الشاويش-المكتب الإسلامي – بيروت-الطبعة: الثانية 1405 هـ - 1985م.
Hadis ini di HadeethEnc.comعن أبي عبد الله جابر بن سمرة رضي الله عنهما قال: كنت أصلي مع النبي صلى الله عليه وسلم الصلوات، فكانت صلاته قَصْدًا وخطبته قَصْدًا.
Dari Abu Abdillah Jabir bin Samurah -raḍiyallāhu 'anhuma, ia berkata, "Saya pernah salat bersama Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Keadaan salat dan khotbah beliau sedang (tidak terlalu panjang dan tidak terlalu pendek).
Diriwayatkan oleh MuslimDerajatHadis sahih
Penjelasan
Lama salat dan khotbah Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- adalah antara panjang yang sangat kentara dan pendek yang sangat berlebihan, bersifat sedang dan pertengahan. Beliau merupakan teladan orang-orang Muslim secara umum dan para imam serta khatib secara khusus. Maka tidak boleh menjadikan hadis ini sebagai dasar untuk melaksanakan salat dan khotbah secara tergesa-gesa, karena petunjuk Nabi menunjukkan pertengahan, kadang-kadang boleh agak dipanjangkan, tetapi tidak terlalu panjang.
Rujukan
المسند الصحيح (صحيح مسلم), تأليف: مسلم بن حجاج النيسابوري, تحقيق: محمد فؤاد عبدالباقي, دار إحياء التراث العربي.
بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين, تأليف: سليم بن عيد الهلالي, دار ابن الجوزي.
Hadis ini di HadeethEnc.comعن معاذ بن أنس الجهني رضي الله عنه : أن النبي صلى الله عليه وسلم نَهى عن الحِبْوَةِ يوم الجمعة والإمام يخطب.
Dari Mu'āż bin Anas Al-Juhani -raḍiyallāhu 'anhu- bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- melarang duduk memeluk lutut pada hari Jum'at saat imam sedang berkhotbah."
Diriwayatkan oleh Tirmiżi - Diriwayatkan oleh Abu Daud - Diriwayatkan oleh AhmadDerajatHadis hasan
Penjelasan
Hadis ini mansukh (dihapus hukumnya) sebagaimana diisyaratkan oleh Abu Dawud setelah hadis tersebut, dan maksudnya bahwa Mu'āż bin Anas -raḍiyallāhu 'anhu- mengabarkan bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- melarang duduk memeluk lutut pada hari Jum'at saat imam sedang berkhotbah.
Al-Ḥibwah adalah tindakan seseorang mendekapkan kedua pahanya ke perutnya dan kedua betisnya ke kedua pahanya serta mengikat dirinya dengan tali kulit atau sorban atau lainnya.
Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- melarang hal itu ketika imam sedang berkhotbah pada hari Jum'at karena dua sebab:
Pertama, barangkali tindakan memeluk lutut ini menjadi sebab yang mendatangkan kantuk sehingga ia tertidur dari mendengarkan khutbah.
Kedua, sesungguhnya posisi ini rentan menyibak aurat. Sebab, biasanya orang-orang Arab hanya mengenakan satu lapis kain. Jika ia memeluk lututnya, maka tampaklah auratnya. Karena itulah larangan ini bersifat mutlak. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam Sahih Muslim, "Memeluk lututnya dalam satu kain dengan membuka kemaluannya."
An-Nawawi -raḥimahullāh- berkata, "Memeluk lutut adalah tradisi bangsa Arab di majelis-majelis mereka. Jika hal itu menyebabkan terbukanya aurat maka itu haram."
Sedangkan jika merasa aman dari hal tersebut, maka tidak ada masalah. Sebab, jika sebuah larangan itu karena perkara yang rasional lalu sebabnya hilang, maka larangan itu pun hilang. Sebagaimana diriwayatkan dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dalam dua kitab sahih dari hadis 'Abbād bin Tamīm dari pamannya bahwasanya ia pernah melihat Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- terlentang di masjid dengan posisi meletakan satu kakinya di atas kaki lainnya."
Rujukan
نزهة المتقين، تأليف: جمعٌ من المشايخ، الناشر: مؤسسة الرسالة، الطبعة الأولى: 1397 هـ الطبعة الرابعة عشر 1407 هـ
كنوز رياض الصالحين، تأليف: حمد بن ناصر بن العمار ، الناشر: دار كنوز أشبيليا، الطبعة الأولى: 1430 هـ
سنن أبي داود، تأليف: سليمان بن الأشعث السِّجِسْتاني، تحقيق: محمد محيي الدين عبد الحميد، الناشر: المكتبة العصرية، صيدا.
مسند الإمام أحمد، تأليف: أحمد بن محمد بن حنبل، تحقيق: شعيب الأرناؤوط وغيره، الناشر: الناشر: مؤسسة الرسالة ، الطبعة: الأولى، 1421 هـ
رياض الصالحين، تأليف : محيي الدين يحيى بن شرف النووي ، تحقيق: د. ماهر بن ياسين الفحل ، الطبعة: الأولى، 1428 هـ
شرح رياض الصالحين، تأليف: محمد بن صالح العثيمين، الناشر: دار الوطن للنشر، الطبعة: 1426 هـ
سنن الترمذي، تأليف: محمد بن عيسى الترمذي، تحقيق أحمد شاكر وغيره ، الناشر: شركة مكتبة ومطبعة مصطفى البابي الحلبي، الطبعة: الثانية، 1395 هـ
المنهاج شرح صحيح مسلم، تأليف: محيي الدين يحيى بن شرف النووي، الناشر: دار إحياء التراث العربي، الطبعة: الثانية 1392 هـ.
Hadis ini di HadeethEnc.comعن سمرة رضي الله عنه مرفوعاً: «من توضَّأَ يوم الجُمعة فَبِهَا ونِعْمَتْ، ومن اغْتَسَل فهو أفْضَل».
Dari Samurah -raḍiyallāhu 'anhu- secara marfū', “Siapa berwudu hari Jum'at maka itu baik, dan siapa yang mandi maka itu lebih utama.”
Diriwayatkan oleh Ibnu Mājah - Diriwayatkan oleh Tirmiżi - Diriwayatkan oleh Nasā`i - Diriwayatkan oleh Abu Daud - Diriwayatkan oleh Ahmad - Diriwayatkan oleh DārimiDerajatHadis hasan
Penjelasan
"Siapa berwudu pada hari Jum'at" maksudnya adalah wudu untuk salat Jum'at. "fa bihā" yakni bahwa ia telah menjalankan sunah dan rukhsah. "wa ni'mah" yakni sebaik-baik yang ia lakukan yaitu dengan mengamalkan sunah. Ini adalah pujian untuknya. "Dan siapa yang mandi maka itu lebih utama", yakni siapa yang mandi untuk salat Jum'at disertai dengan berwudu, maka itu adalah lebih utama daripada sekedar berwudu tanpa mandi. Inilah adalah pendapat jumhur ulama, di antaranya imam (mazhab) yang empat. Diantara dalil-dalil mereka juga adalah hadis Muslim berikut, “Siapa yang berwudu dan kemudian menyempurnakan wudunya lalu mendatangi salat Jum'at, kemudian mendengarkan dan berdiam diri menyimak (khutbah), maka akan diampuni dosa-dosanya di antara hari itu hingga Jum'at (berikutnya), dan ditambah tiga hari setelah itu.”
Rujukan
سنن أبي داود، سليمان بن الأشعث السِّجِسْتاني، تحقيق: محمد محيي الدين عبد الحميد: المكتبة العصرية، صيدا - بيروت.
سنن الترمذي، لمحمد بن عيسى الترمذي، تحقيق وتعليق:أحمد محمد شاكر ومحمد فؤاد عبد الباقي وإبراهيم عطوة عوض، شركة مكتبة ومطبعة مصطفى البابي الحلبي، مصر، الطبعة الثانية، 1395 هـ - 1975م.
سنن ابن ماجه: لابن ماجه أبو عبد الله محمد بن يزيد القزويني، تحقيق: محمد فؤاد عبد الباقي، دار إحياء الكتب العربية - فيصل عيسى البابي الحلبي.
مسند الإمام أحمد بن حنبل، المحقق: شعيب الأرنؤوط - عادل مرشد، وآخرون إشراف: د عبد الله بن عبد المحسن التركي، مؤسسة الرسالة، الطبعة: الأولى، 1421 هـ - 2001 م.
السنن الكبرى للنسائي، حققه وخرج أحاديثه: حسن عبد المنعم شلبي، أشرف عليه: شعيب الأرناءوط، مؤسسة الرسالة، بيروت، الطبعة: الأولى، 1421 هـ - 2001 م.
سنن الدارمي، لعبد الله بن عبد الرحمن الدارمي، التميمي تحقيق: حسين سليم أسد الداراني، دار المغني للنشر والتوزيع، المملكة العربية السعودية، الطبعة: الأولى، 1412 هـ - 2000 م.
توضيح الأحكام شرح بلوغ المرام، تأليف عبد الله البسام، مكتبة الأسدي، مكة المكرمة، الطبعة:الخامِسَة، 1423 هـ - 2003 م.
تسهيل الإلمام بفقه الأحاديث من بلوغ المرام، تأليف: الشيخ صالح الفوزان، عناية عبد السلام السليمان، مؤسسة الرسالة الطبعة الأولى.
Hadis ini di HadeethEnc.comSetiap hadis, derajat, penjelasan, dan faedah di sini ditampilkan persis sebagaimana diterbitkan HadeethEnc.com, menurut ketentuan penerbitan ulangnya. Derajat itu tidak menyebut siapa yang menilainya. Terjemahan dan penjelasan adalah karya para penyusunnya, dan sebagian menyebutkan hukum; para peninjau Sabīl belum memeriksanya. Hadis berbahasa Arablah teksnya. Sumber: HadeethEnc.com