Langsung ke konten
Hadis dengan penjelasan

Doa-doa Dalam Salat

23 hadis

Allāhumma innī a'ūżu bika min 'ażābil-qabri, wa min 'ażābin-nār, wa min fitnatil-maḥyā wal-mamāt, wa min fitnatil-masīḥ ad-dajjāl (Ya Allah! Sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari azab kubur, azab neraka, fitnah ketika hidup dan mati, dan dari fitnah Almasih Dajal)

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدْعُو وَيَقُولُ: «اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ القَبْرِ، وَمِنْ عَذَابِ النَّارِ، وَمِنْ فِتْنَةِ المَحْيَا وَالمَمَاتِ، وَمِنْ فِتْنَةِ المَسِيحِ الدَّجَّالِ». وفِي لَفْظٍ لِمُسْلِمٍ: «إِذَا فَرَغَ أَحَدُكُمْ مِنَ التَّشَهُّدِ الْآخِرِ، فَلْيَتَعَوَّذْ بِاللهِ مِنْ أَرْبَعٍ: مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ، وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، وَمِنْ شَرِّ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ».
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ biasa berdoa dengan membaca, "Allāhumma innī a'ūżu bika min 'ażābil-qabri, wa min 'ażābin-nār, wa min fitnatil-maḥyā wal-mamāt, wa min fitnatil-masīḥ ad-dajjāl (Ya Allah! Sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari azab kubur, azab neraka, fitnah ketika hidup dan mati, dan dari fitnah Almasih Dajal)." Dalam lafaz Muslim lainnya, "Apabila salah seorang kalian telah selesai dari doa tasyahud akhir, hendaklah ia berlindung kepada Allah dari empat perkara: azab neraka Jahanam, azan kubur, fitnah ketika hidup dan mati, dan dari keburukan Almasih Dajal."
Muttafaq 'alaihDerajatSahih
Penjelasan

Nabi ﷺ berlindung kepada Allah dari empat perkara setelah doa tasyahud akhir sebelum salam dalam salat dan beliau memerintahkan kita agar berlindung kepada Allah dari 4 hal, yaitu: - Pertama: siksa kubur. - Kedua: siksa neraka yang terjadi di hari Kiamat. - Ketiga: fitnah ketika hidup berupa syahwat dunia yang diharamkan serta syubhat-syubhatnya yang menyesatkan, dan dari fitnah ketika kematian, yaitu saat sekarat, supaya tidak tergelincir dari Islam atau Sunnah, ataupun fitnah kubur seperti pertanyaan dua malaikat. - Keempat: fitnah Almasih Dajal yang akan keluar di akhir zaman. Allah menguji hamba-hamba-Nya dengan Dajal tersebut. Nabi menyebutnya secara khusus karena besarnya fitnah dan penyesatannya.

Faedah
  1. 1- Doa perlindungan ini termasuk di antara doa yang penting dan universal karena mencakup permohonan perlindungan dari seluruh keburukan dunia dan akhirat.
  2. 2- Adanya azab kubur secara valid.
  3. 3- Bahaya fitnah serta pentingnya memohon perlindungan kepada Allah dan berdoa agar selamat darinya.
  4. 4- Menetapkan bahwa Dajal akan keluar dengan membawa fitnah yang besar.
  5. 5- Anjuran membaca doa ini setelah doa tasyahud akhir.
  6. 6- Anjuran berdoa setelah melakukan amal saleh.
Rujukan

صحيح البخاري (2/ 99) (1377). صحيح مسلم (1/ 412) (588). الإلمام بشرح عمدة الأحكام، لإسماعيل الأنصاري (1/ 172). تيسير العلام شرح عمدة الأحكام، للبسام (ص212). خلاصة الكلام شرح عمدة الأحكام، لفيصل آل مبارك (ص96).

Hadis ini di HadeethEnc.com

Allāhumma bā'id bainī wa baina khaṭāyāya kamā bā'adta bainal-masyriqi wal-magrib

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، إِذَا كَبَّرَ فِي الصَّلَاةِ، سَكَتَ هُنَيَّةً قَبْلَ أَنْ يَقْرَأَ، فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ بِأَبِي أَنْتَ وَأُمِّي أَرَأَيْتَ سُكُوتَكَ بَيْنَ التَّكْبِيرِ وَالْقِرَاءَةِ، مَا تَقُولُ؟ قَالَ «أَقُولُ: اللهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِي وَبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ، اللهُمَّ نَقِّنِي مِنْ خَطَايَايَ كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الْأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ، اللهُمَّ اغْسِلْنِي مِنْ خَطَايَايَ بِالثَّلْجِ وَالْمَاءِ وَالْبَرَدِ».
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ berdiam diri sejenak setelah bertakbir ketika salat sebelum membaca Al-Fātiḥah. Lantas aku bertanya, "Wahai Rasulullah, bapak dan ibuku sebagai tebusanmu! Kabari aku tentang diammu antara ucapan takbir dan bacaan Al-Fātiḥah, apa yang engkau baca?" Beliau menjawab, "Aku membaca: Allāhumma bā'id bainī wa baina khaṭāyāya kamā bā'adta bainal-masyriqi wal-magrib. Allāhumma naqqinī min khaṭāyāya kamā yunaqqaṡ-ṡaubul-abyaḍu minad-danas. Allāhumma-gsilnī min khaṭāyāya biṡ-ṡalji wal-mā`i wal-barad (Ya Allah, jauhkanlah antara aku dengan kesalahan-kesalahanku, sebagaimana engkau menjauhkan antara timur dan barat. Ya Allah, bersihkanlah aku dari kesalahan-kesalahanku sebagaimana kain putih yang dibersihkan dari noda. Ya Allah, basuhlah aku dari kesalahan-kesalahanku dengan salju, air, dan es)."
Muttafaq 'alaihDerajatSahih
Penjelasan

Nabi ﷺ biasa berdiam sejenak setelah bertakbir memulai salat sebelum membaca Al-Fātiḥah. Di dalamnya, beliau membuka salatnya dengan sebagian doa. Di antara doa-doa tersebut ialah bacaan beliau: "Allāhumma bā'id bainī wa baina khaṭāyāya kamā bā'adta bainal-masyriqi wal-magribi. Allāhumma naqqinī min khaṭāyāya kamā yunaqqaṡ-ṡaubul-abyaḍu minad-danas. Allāhumma-gsilnī min khaṭāyāya bil-mā`i waṡ-ṡalji wal-barad." (Ya Allah, jauhkanlah antara aku dan kesalahan-kesalahanku, sebagaimana Engkau menjauhkan antara timur dan barat. Ya Allah, bersihkanlah aku dari kesalahan-kesalahanku sebagaimana kain putih yang dibersihkan dari noda. Ya Allah, basuhlah aku dari kesalahan-kesalahanku dengan salju, air, dan es). Beliau berdoa kepada Allah ﷻ agar menjauhkan antara diri beliau dan berbagai dosa sehingga tidak terjatuh ke dalamnya dengan bentuk penjauhan yang mustahil untuk saling menyatu, sebagaimana tidak menyatunya antara timur dan barat. Kalaupun ia terjatuh di dalamnya, maka semoga Allah membersihkannya serta menghilangkannya sebagaimana noda dibersihkan dari pakaian putih dan semoga Allah membasuhnya dari kesalahan-kesalahannya serta meredakan panas dan gejolaknya dengan pembersih-pembersih yang dingin, yaitu air, salju, dan es.

Faedah
  1. 1- Membaca doa iftitah dengan pelan walaupun salat tersebut berupa salat jahriyah (seperti Magrib, Isya, dan Subuh).
  2. 2- Kegigihan para sahabat -raḍiyallāhu 'anhum- untuk mengetahui keadaan Rasulullah ﷺ dalam gerakan dan diamnya ketika salat.
  3. 3- Terdapat beberapa redaksi lain untuk doa iftitah, dan diutamakan agar seseorang mempelajari doa-doa iftitah yang diriwayatkan serta sahih dari Nabi ﷺ lalu membacanya silih berganti dalam salat.
Rujukan

صحيح البخاري (1/ 149) (744). صحيح مسلم (1/ 419) (598). الإلمام بشرح عمدة الأحكام، لإسماعيل الأنصاري (1/ 118). تيسير العلام شرح عمدة الأحكام، للبسام (ص143). تنبيه الأفهام شرح عمدة الأحكام، لابن عثيمين (2/ 186).

Hadis ini di HadeethEnc.com

Jangan sekali-kali engkau tinggalkan di akhir setiap salat untuk membaca: 'Allāhumma a'innī 'alā żikrika wa syukrika wa ḥusni 'ibādatika (Ya Allah, bantulah aku untuk berzikir kepada-Mu, bersyukur kepada-Mu, serta beribadah kepada-Mu dengan benar).'

عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ رضي الله عنه: أَنَّ رَسُولَ صَلَّى عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَخَذَ بِيَدِهِ، وَقَالَ: «يَا مُعَاذُ، وَاللَّهِ إِنِّي لَأُحِبُّكَ»، فَقَالَ: «أُوصِيكَ يَا مُعَاذُ لَا تَدَعَنَّ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ تَقُولُ: اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ».
Mu'āż bin Jabal -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ mengambil tangannya lalu bersabda, "Wahai Mu'āż, demi Allah, sungguh aku mencintaimu." Beliau melanjutkan, "Aku wasiatkan kepadamu, wahai Mu'āż! Jangan sekali-kali engkau tinggalkan di akhir setiap salat untuk membaca: 'Allāhumma a'innī 'alā żikrika wa syukrika wa ḥusni 'ibādatika (Ya Allah, bantulah aku untuk berzikir kepada-Mu, bersyukur kepada-Mu, serta beribadah kepada-Mu dengan benar).'"
HR. Abu Daud, Nasai, dan AhmadDerajatSahih
Penjelasan

Nabi ﷺ mengambil tangan Mu'āż -raḍiyallāhu 'anhu- dan berkata: Demi Allah! Sungguh, aku mencintaimu. Aku wasiatkan kepadamu, wahai Mu'āż, jangan sekali-kali meninggalkan di akhir setiap salat untuk membaca: Allāhumma a'innī 'alā żikrika (Ya Allah, bantulah aku untuk berzikir kepada-Mu), yakni pada setiap perkataan dan perbuatan yang dapat mendekatkan pada ketaatan. ... wa syukrika (bersyukur kepada-Mu), yakni ketika memperoleh nikmat serta hilangnya keburukan. ... wa ḥusni 'ibādatika (serta beribadah kepada-Mu dengan benar), yakni dengan ikhlas kepada Allah dan mengikuti Nabi ﷺ.

Faedah
  1. 1- Anjuran mengabari seseorang terkait cintanya kepada orang tersebut karena Allah.
  2. 2- Anjuran membaca doa ini di setiap akhir salat fardu dan sunah.
  3. 3- Di dalam doa yang menggunakan kalimat-kalimat ringkas ini terdapat berbagai permintaan dunia dan akhirat.
  4. 4- Di antara faedah cinta karena Allah ialah adanya sikap saling berpesan dan menasihati dalam kebenaran serta bekerja sama pada kebaikan dan ketakwaan.
  5. 5- Aṭ-Ṭībiy berkata, "Berzikir kepada Allah adalah pembuka ketenangan hati, bersyukur kepada-Nya adalah wasilah kenikmatan yang dikabulkan, dan beribadah dengan baik yang diinginkan ialah berlepas diri dari semua yang akan memalingkan diri dari Allah Ta'ala."
Rujukan

سنن أبي داود (2/ 630) (1522). سنن النسائي (3/ 53) (1303). مسند أحمد (36/ 429) (22119). بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين، لسليم الهلالي (1/ 450). تطريز رياض الصالحين، لفيصل آل مبارك (ص259). شرح رياض الصالحين، لابن عثيمين (3/ 264). كنوز رياض الصالحين، لمجموعة من الباحثين (6/ 284). نزهة المتقين شرح رياض الصالحين، لمجموعة من الباحثين (1/ 353).

Hadis ini di HadeethEnc.com

Allāhumma innī a'ūżu bi riḍāka min sakhaṭika, wa bi mu'āfātika min 'uqūbatika, wa a'ūżu bika minka, lā uḥṣī ṡanā`an 'alaika anta kamā aṡnaita 'alā nafsika (Ya Allah! Aku berlindung dengan keridaan-Mu dari kemurkaan-Mu, dengan pengampunan-Mu dari hukuman-Mu. Aku berlindung kepada-Mu dari siksaan-Mu. Aku tidak mampu menghitung pujian dan sanjungan kepada-Mu, Engkau adalah sebagaimana yang Engkau sanjungkan kepada diri-Mu sendiri)

عَنْ عَائِشَةَ رضي الله عنها قَالَتْ: فَقَدْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْلَةً مِنَ الْفِرَاشِ فَالْتَمَسْتُهُ فَوَقَعَتْ يَدِي عَلَى بَطْنِ قَدَمَيْهِ وَهُوَ فِي الْمَسْجِدِ وَهُمَا مَنْصُوبَتَانِ، وَهُوَ يَقُولُ: «اللهُمَّ أَعُوذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ، وَبِمُعَافَاتِكَ مِنْ عُقُوبَتِكَ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْكَ لَا أُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ».
Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- meriwayatkan, "Suatu malam, aku pernah kehilangan Nabi ﷺ dari tempat tidur. Aku pun mencari beliau, dan ternyata tanganku menyentuh telapak kaki beliau dalam keadaan tegak ketika beliau sedang bersujud di tempat salatnya. Beliau membaca: Allāhumma innī a'ūżu bi riḍāka min sakhaṭika, wa bi mu'āfātika min 'uqūbatika, wa a'ūżu bika minka, lā uḥṣī ṡanā`an 'alaika anta kamā aṡnaita 'alā nafsika (Ya Allah! Aku berlindung dengan keridaan-Mu dari kemurkaan-Mu, dengan pengampunan-Mu dari hukuman-Mu. Aku berlindung kepada-Mu dari siksaan-Mu. Aku tidak mampu menghitung pujian dan sanjungan kepada-Mu, Engkau adalah sebagaimana yang Engkau sanjungkan kepada diri-Mu sendiri)."
HR. MuslimDerajatSahih
Penjelasan

Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- menuturkan: Aku tidur di samping Nabi ﷺ, tetapi aku tidak menemukan beliau di sampingku di malam hari. Tanganku kemudian meraba tempat salat beliau di kamar, ternyata beliau sedang sujud dan kedua telapak kakinya tegak. Ternyata beliau membaca: A'ūżu (aku berlindung) dan bertawasul .. bi riḍāka min sakhaṭika (dengan keridaan-Mu dari kemurkaan-Mu) terhadapku atau terhadap umatku .. wa (dan) aku berlindung.. bi mu'āfātika (dengan pengampunan-Mu), yaitu ampunan-Mu yang banyak .. min 'uqūbatika (dari hukuman-Mu). Wa `a'ūżu bika minka (Aku berlindung kepada-Mu dari siksa-Mu), yaitu berlindung dengan sifat-sifat keindahan-Mu dari sifat-sifat keagungan-Mu, karena tidak ada yang dapat melindungi dari siksa-Mu kecuali Engkau. Tidak ada tempat aman dan tempat menyelamatkan diri dari Allah kecuali kepada-Nya. Lā uḥṣī ṡanā`an 'alaika (Aku tidak mampu menghitung pujian dan sanjungan kepada-Mu), yaitu aku tidak kuasa dan tidak dapat menghitung jumlahnya sebab ketidakmampuanku untuk menghitung karunia dan kebaikan-Mu sebagaimana patutnya hak-Mu, walaupun aku bersungguh-sungguh melakukannya. Anta kamā aṡnaita 'alā nafsika (Engkau adalah sebagaimana yang Engkau sanjungkan kepada diri-Mu sendiri), yaitu dengan pujian yang pantas bagi-Mu, tidak ada yang mampu menunaikan pujian kepada-Mu dengan sebenar-benarnya.

Faedah
  1. 1- Anjuran membaca doa-doa ini ketika sujud.
  2. 2- Mīrak berkata, "Pada salah satu riwayat An-Nasā`iy disebutkan: Beliau membaca doa ini setelah selesai salat dan pergi ke tempat tidur."
  3. 3- Anjuran memuji Allah dengan sifat-sifat-Nya serta berdoa kepada-Nya dengan nama-nama-Nya yang terdapat dalam Al-Qur`an dan Sunnah.
  4. 4- Di dalamnya terkandung pelajaran mengagungkan Allah Sang Pencipta ketika rukuk dan sujud.
  5. 5- Boleh meminta perlindungan dengan sifat-sifat Allah sebagaimana dibolehkan meminta perlindungan dengan zat Allah ﷻ.
  6. 6- Al-Khaṭṭābiy berkata, "Dalam doa ini terdapat faedah indah, yaitu beliau berlindung kepada Allah agar melindunginya dengan keridaan-Nya dari kemurkaan-Nya dan dengan pengampunan-Nya dari hukuman-Nya. Rida dan murka adalah dua hal yang bertolak belakang, demikian juga antara pengampunan dan hukuman. Ketika beliau menyebutkan zat yang tidak memiliki lawan, yaitu Allah ﷻ, maka beliau berlindung kepada-Nya dari-Nya, tidak kepada yang lain. Itu artinya memohon ampun dari kelalaian dalam melaksanakan yang wajib terkait hak ibadah kepada-Nya serta memuji-Nya. Ucapan beliau: lā uḥṣī ṡanā`an 'alaika, artinya: Aku tidak kuasa memberikan berbagai pujian dan tidak akan mampu menggapainya."
Rujukan

صحيح مسلم (1/ 352) (486). تطريز رياض الصالحين، لفيصل آل مبارك (ص781). شرح رياض الصالحين، لابن عثيمين (5/ 510). نزهة المتقين شرح رياض الصالحين، لمجموعة من الباحثين 2/ 979). طريق الهجرتين وباب السعادتين، لابن قيم الجوزية (ص136).

Hadis ini di HadeethEnc.com

Tidaklah Nabi ﷺ mengerjakan suatu salat setelah turun surah Iżā jā`a naṣrullāhi wal-fatḥ (An-Naṣr) kecuali di dalamnya beliau membaca, "Subḥānaka rabbanā wa biḥamdika allāhumma-gfir lī (Mahasuci Engkau, wahai Tuhan kami, aku memuji-Mu. Ya Allah! Ampunilah aku)

عَنْ عَائِشَةَ أُمِّ المُؤْمِنينَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: مَا صَلَّى النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلاَةً بَعْدَ أَنْ نَزَلَتْ عَلَيْهِ: {إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالفَتْحُ} [النصر: 1] إِلَّا يَقُولُ فِيهَا: «سُبْحَانَكَ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي». وعَنْها قَالَتْ: كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُكْثِرُ أَنْ يَقُولَ فِي رُكُوعِهِ وَسُجُودِهِ: «سُبْحَانَكَ اللهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ، اللهُمَّ اغْفِرْ لِي» يَتَأَوَّلُ الْقُرْآنَ.
Ummul Mukminin Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- meriwayatkan, Tidaklah Nabi ﷺ mengerjakan suatu salat setelah turun surah Iżā jā`a naṣrullāhi wal-fatḥ (An-Naṣr) kecuali di dalamnya beliau membaca, "Subḥānaka rabbanā wa biḥamdika allāhumma-gfir lī (Mahasuci Engkau, wahai Tuhan kami, aku memuji-Mu. Ya Allah! Ampunilah aku)." Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- juga meriwayatkan, Rasulullah ﷺ terbiasa banyak mengucapkan doa berikut dalam rukuk dan sujudnya, "Subḥānakallāhumma rabbanā wa biḥamdika, allāhumma-gfir lī (Mahasuci Engkau, wahai Tuhan kami, aku memuji-Mu. Ya Allah! Ampunilah kami)." Beliau mengaplikasikan Al-Qur`an.
Muttafaq 'alaihDerajatSahih
Penjelasan

Ummul Mukminin Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- mengabarkan bahwa Nabi ﷺ setelah diturunkan padanya surah Iżā jā`a naṣrullāhi wal-fatḥ, beliau mengaplikasikan Al-Qur`an dan segera menerapkan perintah Allah Ta'ala dalam firman-Nya: "Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampunan kepada-Nya." Beliau banyak membaca di dalam rukuk dan sujudnya ketika salat: Subḥānaka (Mahasuci Engkau), yaitu aku menyucikan-Mu dari semua aib yang tidak pantas bagi-Mu .. allāhumma rabbanā wa biḥamdika (Ya Allah, Tuhan kami, aku memuji-Mu); yakni dengan pujian demi pujian yang terpuji kepada-Mu, lantaran kesempurnaan zat, sifat, dan perbuatan-Mu .. Allāhumma-gfir lī (Ya Allah, ampunilah aku); hapuskanlah dan lewatkanlah dosa-dosaku.

Faedah
  1. 1- Anjuran memperbanyak doa ini di dalam rukuk dan sujud.
  2. 2- Memohon ampunan di akhir umur mengandung isyarat agar juga menutup ibadah -khususnya salat- dengan istigfar untuk menyempurnakan kekurangan yang terjadi di dalamnya.
  3. 3- Perkara paling baik untuk digunakan sebagai wasilah kepada Allah dalam rangka pengabulan doa ialah menyebutkan pujian-pujian kepada-Nya serta menyucikan-Nya dari berbagai kekurangan dan cacat.
  4. 4- Keutamaan istigfar dan meminta ampun di setiap keadaan.
  5. 5- Sempurnanya peribadatan Nabi ﷺ dan pengaplikasian beliau terhadap perintah Allah.
Rujukan

صحيح البخاري (6/ 178) (4968، 4967). صحيح مسلم (1/ 350-351) (484). تيسير العلام، للبسام (ص214). تنبيه الأفهام، للعثيمين (2/ 278). الإفهام في شرح عمدة الأحكام، لابن باز (ص263). الإلمام بشرح عمدة الأحكام، لإسماعيل الأنصاري (1/ 176). خلاصة الكلام، فيصل المبارك (ص97).

Hadis ini di HadeethEnc.com

Nabi ﷺ keluar menemui kami. Kami bertanya, 'Wahai Rasulullah, kami sudah tahu bagaimana mengucapkan salam kepadamu, lalu bagaimana kami berselawat?'

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي لَيْلَى قَالَ: لَقِيَنِي كَعْبُ بْنُ عُجْرَةَ، فَقَالَ: أَلاَ أُهْدِي لَكَ هَدِيَّةً؟ إِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ عَلَيْنَا، فَقُلْنَا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، قَدْ عَلِمْنَا كَيْفَ نُسَلِّمُ عَلَيْكَ، فَكَيْفَ نُصَلِّي عَلَيْكَ؟ قَالَ: «فَقُولُوا: اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ، اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ».
Abdurrahman bin Abu Lailā meriwayatkan, ia berkata, "Aku bertemu dengan Ka'ab bin 'Ujrah, dia berkata, "Maukah engkau kuberi sebuah hadiah?" "Nabi ﷺ keluar menemui kami. Kami bertanya, 'Wahai Rasulullah, kami sudah tahu bagaimana mengucapkan salam kepadamu, lalu bagaimana kami berselawat?' Beliau bersabda, 'Ucapkanlah: Allāhumma ṣalli 'alā muḥammad, wa 'alā āli muḥammad, kamā ṣallaita 'alā āli ibrāhīm, innaka ḥamīdun majīd. Allāhumma bārik 'alā muḥammad, wa 'alā āli muḥammad, kamā bārakta 'alā āli ibrāhīm, innaka ḥamīdun majīd. (Ya Allah! berikanlah selawat kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau memberikan selawat kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Mahamulia. Ya Allah! berikanlah keberkahan kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau memberikan keberkahan kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Mahamulia)'."
Muttafaq 'alaihDerajatSahih
Penjelasan

Para sahabat bertanya kepada Nabi ﷺ tentang tata cara berselawat kepada beliau, setelah mereka mengetahui cara mengucapkan salam kepada beliau di saat tahiyat salat, yaitu: as-salāmu 'alaika ayyuhan-nabiyyu waraḥmatullāhi wabarakātuh ...?" Maka Nabi ﷺ mengabari mereka cara berselawat kepada beliau, penjelasan maknanya sebagai berikut: Allāhumma ṣalli 'alā muḥammad wa 'alā āli muḥammad; yakni: pujilah Muhammad dengan penyebutan yang indah di hadapan para malaikat tertinggi, juga pengikut beliau dalam agama, serta orang-orang beriman dari kerabat beliau. Kamā ṣallaita 'alā āli ibrāhīm; yakni: sebagaimana Engkau telah memberikannya pada keluarga Ibrahim -'alaihissalām-, yaitu Ibrahim, Ismail, Ishaq, dan keluarga mereka serta pengikut-pengikut mereka yang beriman, maka berilah karunia-Mu kepada Muhammad ﷺ juga. Innaka ḥamīdun majīd; artinya: Engkau yang terpuji pada zat, sifat, dan perbuatan-perbuatan-Mu; yang luas dalam keagungan, kekuasaan, dan pemberian-Mu. Allāhumma bārik 'alā muḥammad wa 'alā āli muḥammad kamā bārakta 'alā āli ibrāhīm; yakni: berilah ia kebaikan dan kemuliaan yang terbesar, serta tambahkanlah dan tetapkanlah.

Faedah
  1. 1- Kalangan salaf biasa saling memberi hadiah berupa permasalahan-permasalahan ilmiah.
  2. 2- Kewajiban berselawat kepada Nabi ﷺ pada tasyahud akhir salat.
  3. 3- Nabi ﷺ mengajari sahabatnya lafaz salam dan selawat kepada beliau.
  4. 4- Lafaz ini adalah lafaz selawat kepada Nabi ﷺ yang paling sempurna.
Rujukan

صحيح البخاري (8/ 77) (6357). صحيح مسلم (1/ 305) (406). تيسير العلام شرح عمدة الأحكام، لعبد الله البسام (ص208). تنبيه الأفهام شرح عمدة الأحكام، لابن عثيمين (2/ 270). الإلمام بشرح عمدة الأحكام، لإسماعيل الأنصاري (1/ 170).

Hadis ini di HadeethEnc.com

Maha Suci lagi Maha Bersih, Rabb-nya para malaikat dan Ruh (Jibril)

عن عائشة رضي الله عنها أنّ رسولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم كانَ يقول في ركوعه وسجودِه: «سبُّوحٌ قُدُّوسٌ رَبُّ المَلاَئِكَةِ وَالرُّوحِ».
Dari Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- biasa mengucapkan dalam rukuk dan sujud beliau, "Subbūḥun quddūsun rabbul-malā`ikati war-rūḥ [Maha Suci lagi Maha Bersih, Rabb-nya para malaikat dan Ruh (Jibril])".
Diriwayatkan oleh MuslimDerajatHadis sahih
Penjelasan

Dari Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā-, ia menuturkan, "Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- biasa mengucapkan dalam rukuk dan sujud beliau, "Subbūḥun quddūsun rabbul-malā`ikati war-rūḥ", maksudnya; Engkau Maha Suci lagi Maha Bersih. Ini merupakan ungkapan berlebihan dalam mensterilkan bahwa Allah -Jallā wa 'Alā- Maha Suci lagi Maha Bersih. "Rabb-nya para malaikat" yang merupakan bala tentara Allah -'Azzā wa Jallā-, dan salah satu jenis makhluk yang tidak dapat kita saksikan. "Dan Ruh", yakni Jibril yang merupakan malaikat yang paling mulia. Oleh karena itu, sudah sepantasnya seseorang dalam rukuk dan sujudnya memperbanyak ucapan, "Subbūḥun quddūsun rabbul-malā`ikati war-rūḥ". Al-Quddūs termasuk nama-nama Allah yang amat indah (al-`Asmā` al-Ḥusnā), ia berasal dari kata "qaddasa" yang berarti mensucikan dan menjauhkannya dari keburukan disertai pemuliaan dan pengagungan. Dan As-Subbūḥ juga termasuk al-`Asmā` al-Ḥusnā, yang berarti Żat yang disucikan.

Rujukan

شرح رياض الصالحين، لابن عثيمين، نشر: دار الوطن للنشر، الرياض، الطبعة: 1426هـ. رياض الصالحين، للنووي، تحقيق: ماهر الفحل، دار ابن كثير - بيروت، الطبعة الأولى 1428هـ - 2007م. صحيح مسلم, ترقيم محمد فؤاد عبد الباقي, دار إحياء التراث العربي, بيروت. نزهة المتقين شرح رياض الصالحين، لمجموعة من الباحثين, مؤسسة الرسالة, الطبعة الرابعة عشر, 1407هـ. كنوز رياض الصالحين، نشر: دار كنوز إشبيليا، الطبعة الأولى، 1430هـ - 2009م. بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين، لسليم الهلالي، ط1، دار ابن الجوزي، الدمام، 1415هـ. شرح أسماء الله الحسنى في ضوء الكتاب والسُّنَّة، للقحطاني، الناشر: مطبعة سفير، الرياض، توزيع: مؤسسة الجريسي للتوزيع والإعلان، الرياض. صفات الله عز وجل الواردة في الكتاب والسنة، علوي بن عبد القادر السَّقَّاف، دار الهجرة، الطبعة الثالثة، 1426 هـ - 2006 م.

Hadis ini di HadeethEnc.com

Rasulullah ﷺ bertahlil dengan kalimat-kalimat ini di akhir setiap salat

عَنْ ‌أَبِي الزُّبَيْرِ قَالَ: كَانَ ‌ابْنُ الزُّبَيْرِ يَقُولُ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ حِينَ يُسَلِّمُ: «لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، ‌وَلَا ‌نَعْبُدُ ‌إِلَّا إِيَّاهُ، لَهُ النِّعْمَةُ وَلَهُ الْفَضْلُ وَلَهُ الثَّنَاءُ الْحَسَنُ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ» وَقَالَ: «كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُهَلِّلُ بِهِنَّ دُبُرَ كُلِّ صَلَاةٍ».
Abu Az-Zubair meriwayatkan, Ibnu Az-Zubair biasa mengucapkan di penghujung setiap salat ketika usai salam, "Lā ilāha illallāhu waḥdahu lā syarīka lahu, lahul-mulku wa lahul-ḥamdu wa huwa 'alā kulli syai`in qadīr, lā ḥaula wa lā quwwata illā billāh, lā ilāha illallāh, wa lā na'budu illā iyyāhu, lahun-ni'matu wa lahul-faḍlu, wa lahuṡ-ṡanā`ul-hasan, lā ilāha illallāhu mukhliṣīna lahud-dīn wa lau karihal-kāfirūn (Tiada sembahan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, milik-Nya seluruh kerajaan, kepunyaan-Nya semua pujian, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah. Tidak ada sembahan yang berhak disembah kecuali Allah, dan kami tidak menyembah kecuali Dia. Bagi-Nya segala nikmat, milik-Nya seluruh karunia, dan kepunyaan-Nya pujian yang bagus. Tidak ada sembahan yang berhak disembah kecuali Allah dengan memurnikan agama untuk-Nya, meskipun orang-orang kafir tidak menyukai)." Ia mengatakan, "Rasulullah ﷺ bertahlil dengan kalimat-kalimat ini di akhir setiap salat."
HR. MuslimDerajatSahih
Penjelasan

Rasulullah ﷺ biasa berzikir setelah salam di setiap salat fardu dengan zikir yang agung ini. Maknanya adalah: "Lā ilāha illallāh"; artinya: tidak ada sembahan yang benar kecuali Allah. Wahdahu lā sharīka lahu (Dia semata, tidak ada sekutu bagi-Nya), yakni tidak ada sekutu bagi-Nya terkait uluhiah, rububiah serta nama dan sifat-sifat-Nya. Lahu al-mulku (Milik-Nya seluruh kerajaan), yakni milik-Nya kerajaan yang mutlak, universal, dan tanpa batas, Dia yang memiliki langit dan bumi berikut semua yang ada di antara keduanya. Wa lahu al-ḥamdu (Bagi-Nya seluruh pujian), yakni Dia yang memiliki sifat-sifat kesempurnaan yang mutlak, yang terpuji dengan kesempurnaan, dengan penuh cinta dan pengagungan dalam segala keadaan, ketika lapang dan sulit. Wa huwa ‘alā kulli shay’in qadīr (Dia Mahakuasa atas segala sesuatu), yaitu kemahakuasaan-Nya sempurna dari segala sisi, tidak ada sesuatu pun yang membuat-Nya lemah dan tidak ada satu urusan pun yang mustahil bagi-Nya. Lā ḥawla wa lā quwwata illā billāh (Tiada upaya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah), yakni tidak ada kuasa untuk berpindah dari satu keadaan kepada keadaan lainnya, dari bermaksiat kepada Allah menuju ketaatan kepada-Nya, dan tidak ada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah. Dialah Yang Maha Penolong dan hanya kepada-Nya tempat berserah diri. Lā ilāha illallāh, wa-lā na‘budu illā iyāhu (Tidak ada sembahan yang berhak disembah kecuali Allah, dan kami tidak menyembah kecuali Dia). Ini merupakan penegasan terhadap makna uluhiah dan penafian kesyirikan, bahwa tidak ada yang berhak mendapatkan ibadah selain Allah. Lahu an-ni‘matu wa lahu al-faḍlu (Milik-Nya seluruh nikmat, bagi-Nya seluruh karunia), yaitu Dialah yang menciptakan dan memiliki semua nikmat, lalu Dia pula yang memberikannya kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya. Wa lahu at-ṡanā`u al-ḥasan (Kepunyaan-Nya seluruh pujian yang bagus), yaitu terkait zat-Nya, sifat-Nya, perbuatan-Nya dan nikmat-nikmat-Nya dalam segala keadaan. Lā ilāha illallāh mukhliṣīn lahu ad-dīn (Tiada sembahan yang berhak disembah kecuali Allah dengan memurnikan agama untuk-Nya), yakni menauhidkan Allah tanpa ada sifat ria dan sumah dalam ketaatan kepada-Nya. Wa-law kariha al-kāfirūn (Meskipun orang-orang kafir tidak menyukai), yakni kami tetap kokoh menauhidkan Allah dan beribadah kepada-Nya walaupun orang-orang kafir tidak menyukai hal ini.

Faedah
  1. 1- Anjuran merutinkan zikir ini setiap selesai salat wajib.
  2. 2- Seorang muslim bangga dengan agamanya dan menampakkan syiar-syiarnya, walaupun orang-orang kafir tidak menyukai hal itu.
  3. 3- Apabila disebutkan di dalam hadis kalimat "di akhir salat", jika yang disebutkan di dalam hadis itu berupa zikir maka biasanya maksudnya ialah setelah salam, tetapi jika berupa doa maka maksudnya ialah sebelum salam di dalam salat.
Rujukan

صحيح مسلم (1/ 415) (594). سبل السلام شرح بلوغ المرام، للصنعاني (1/ 293). كنوز رياض الصالحين، لمجموعة من الباحثين (17/ 61). نزهة المتقين شرح رياض الصالحين، لمصطفى الخِن وغيره (2/ 973). بهجة الناظرين، لسليم الهلالي (2/ 499). مرقاة المفاتيح شرح مشكاة المصابيح، لعلي القاري (2/ 762). شرح رياض الصالحين، لابن عثيمين (5/ 492).

Hadis ini di HadeethEnc.com
8 dari 23
23 hadis
  1. Allāhumma innī a'ūżu bika min 'ażābil-qabri, wa min 'ażābin-nār, wa min fitnatil-maḥyā wal-mamāt, wa min fitnatil-masīḥ ad-dajjāl (Ya Allah! Sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari azab kubur, azab neraka, fitnah ketika hidup dan mati, dan dari fitnah Almasih Dajal)
  2. Allāhumma bā'id bainī wa baina khaṭāyāya kamā bā'adta bainal-masyriqi wal-magrib
  3. Jangan sekali-kali engkau tinggalkan di akhir setiap salat untuk membaca: 'Allāhumma a'innī 'alā żikrika wa syukrika wa ḥusni 'ibādatika (Ya Allah, bantulah aku untuk berzikir kepada-Mu, bersyukur kepada-Mu, serta beribadah kepada-Mu dengan benar).'
  4. Allāhumma innī a'ūżu bi riḍāka min sakhaṭika, wa bi mu'āfātika min 'uqūbatika, wa a'ūżu bika minka, lā uḥṣī ṡanā`an 'alaika anta kamā aṡnaita 'alā nafsika (Ya Allah! Aku berlindung dengan keridaan-Mu dari kemurkaan-Mu, dengan pengampunan-Mu dari hukuman-Mu. Aku berlindung kepada-Mu dari siksaan-Mu. Aku tidak mampu menghitung pujian dan sanjungan kepada-Mu, Engkau adalah sebagaimana yang Engkau sanjungkan kepada diri-Mu sendiri)
  5. Tidaklah Nabi ﷺ mengerjakan suatu salat setelah turun surah Iżā jā`a naṣrullāhi wal-fatḥ (An-Naṣr) kecuali di dalamnya beliau membaca, "Subḥānaka rabbanā wa biḥamdika allāhumma-gfir lī (Mahasuci Engkau, wahai Tuhan kami, aku memuji-Mu. Ya Allah! Ampunilah aku)
  6. Nabi ﷺ keluar menemui kami. Kami bertanya, 'Wahai Rasulullah, kami sudah tahu bagaimana mengucapkan salam kepadamu, lalu bagaimana kami berselawat?'
  7. Maha Suci lagi Maha Bersih, Rabb-nya para malaikat dan Ruh (Jibril)
  8. Rasulullah ﷺ bertahlil dengan kalimat-kalimat ini di akhir setiap salat
  9. Ada beberapa zikir pengiring, tidak akan rugi orang yang mengucapkannya -atau melakukannya- di akhir setiap salat wajib, yaitu 33 kali tasbih, 33 kali tahmid, dan 34 kali takbir
  10. Ya Allah! Ampunilah (dosa) yang telah aku lakukan dan yang akan datang, apa yang aku sembunyikan dan yang terang-terangan, apa yang aku sia-siakan dan apa yang lebih Engkau ketahui dariku. Engkaulah Yang Mendahulukan dan Engkaulah Yang Mengakhirkan. Tidak ada Tuhan yang benar selain Engkau.
  11. Suatu malam aku melaksanakan salat tahajud bersama Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Beliau berdiri lalu membaca surah Al-Baqarah. Setiap kali melewati ayat tentang rahmat, beliau berhenti lalu berdoa memohonnya. Setiap kali melewati ayat tentang azab, beliau berhenti lalu memohon perlindungan darinya.
  12. Ya Allah! Tuhan Jibril, Mikail dan Israfil. Pencipta langit dan bumi, Zat Yang mengetahui perkara gaib dan tampak. Engkaulah yang menetapkan keputusan apa yang diperselisihkan di antara hamba-hamba-Mu. Tunjukkanlah aku kepada kebenaran yang diperselisihkan (manusia) dengan izin-Mu. Sesungguhnya Engkau menunjukkan siapa saja yang Engkau kehendaki ke jalan yang lurus.
  13. Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- apabila berdiri salat di malam hari beliau bertakbir, lalu mengucapkan, "Subḥānakallāhumma wa biḥamdika, wa tabāraka ismuka, wa ta'ālā jadduka, wa lā ilāha gairuka (Maha Suci Engkau ya Allah dan dengan memuji-Mu, Maha berkah nama-Mu, Maha tinggi kemuliaan-Mu, dan tidak ada Ilah selain Engkau)."
  14. Adapun orang ini, maka ia telah memenuhi tangannya dengan kebaikan
  15. Salat Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, rukuk beliau, apabila beliau mengangkat kepala dari rukuk, sujud beliau dan (duduk) di antara dua sujud, (durasinya) hampir sama.
  16. Pada saat Nabi ﷺ (duduk) di antara dua sujud, beliau mengucapkan, "Allāhummagfirlī, warḥamnī, wa 'āfinī, wahdinī, warzuqnī (Ya Allah, ampunilah aku, berilah aku rahmat, selamatkanlah aku, tunjukilah aku dan anugerahkanlah rezeki kepadaku)
  17. Dahulu Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengajarkan kami bacaan tasyahud sebagaimana mengajarkan kami surah Al-Qur'ān.
  18. Allāhumma antas-salām wa minkas-salām, tabārakta yā żal-jalāli wal-ikrām
  19. Siapa yang bertasbih sebanyak 33 kali, bertahmid sebanyak 33 kali, dan bertakbir sebanyak 33 kali setelah selesai salat, semuanya berjumlah 99 kali, lalu menggenapkannya 100 dengan membaca: 'Lā ilāha illallāh waḥdahu lā syarīka lahu, lahul-mulku wa lahul-ḥamdu wa huwa 'alā kulli syai`in qadīr (artinya: Tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, semua kerajaan dan segala pujian hanya milik-Nya, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu)', maka akan diampuni dosa-dosanya walaupun sebanyak buih di lautan
  20. Siapa yang membaca ayat Kursi di penghujung setiap salat wajib, maka tak ada penghalang antara dirinya dan masuk surga selain kematian
  21. Keduanya benar, sesungguhnya mereka disiksa dengan siksaan yang bisa didengar semua binatang.
  22. Rasulullah ﷺ biasa ketika bangun dari rukuk membaca: sami'allāhu liman ḥamidah
  23. Nabi ﷺ biasa membaca di akhir setiap salat fardu

Setiap hadis, derajat, penjelasan, dan faedah di sini ditampilkan persis sebagaimana diterbitkan HadeethEnc.com, menurut ketentuan penerbitan ulangnya. Derajat itu tidak menyebut siapa yang menilainya. Terjemahan dan penjelasan adalah karya para penyusunnya, dan sebagian menyebutkan hukum; para peninjau Sabīl belum memeriksanya. Hadis berbahasa Arablah teksnya. Sumber: HadeethEnc.com