Langsung ke konten
Hadis dengan penjelasan

Tata Cara Salat

53 hadis

Rasulullah ﷺ mengangkat kedua tangannya sejajar dengan kedua pundak ketika mengawali salat

عَن ابْنِ عُمَرَ رضي الله عنهما: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَرْفَعُ يَدَيْهِ حَذْوَ مَنْكِبَيْهِ إِذَا افْتَتَحَ الصَّلَاةَ، وَإِذَا كَبَّرَ لِلرُّكُوعِ، وَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ الرُّكُوعِ، رَفَعَهُمَا كَذَلِكَ أَيْضًا، وَقَالَ: «سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ، رَبَّنَا وَلَكَ الحَمْدُ»، وَكَانَ لاَ يَفْعَلُ ذَلِكَ فِي السُّجُودِ.
Ibnu Umar -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ mengangkat kedua tangannya sejajar dengan kedua pundak ketika mengawali salat dan ketika bertakbir untuk rukuk. Ketika mengangkat kepala dari rukuk, beliau juga mengangkat kedua tangannya seperti itu dan mengucapkan, "Sami'allāhu liman ḥamidah, rabbanā wa lakal-ḥamdu (Allah mendengar orang yang memuji-Nya, wahai Tuhan kami, bagimu segala pujian)." Namun, beliau tidak melakukan hal itu ketika sujud.
Muttafaq 'alaihDerajatSahih
Penjelasan

Pada tiga tempat dalam salat, Nabi ﷺ biasa mengangkat kedua tangannya sejajar dengan pundak, yaitu pertemuan bahu dan lengan. Pertama: ketika memulai salat saat takbiratul ihram. Kedua: ketika takbir untuk rukuk. Ketiga: ketika mengangkat kepala dari rukuk dan mengucapkan: "sami'allāhu liman ḥamidah rabbanā walakal-ḥamdu". Beliau tidak mengangkat tangan ketika turun sujud maupun bangkit dari sujud.

Faedah
  1. Di antara hikmah mengangkat kedua tangan dalam salat ialah sebagai hiasan bagi salat dan pengagungan kepada Allah Ta'ala.
  2. Diriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau mengangkat kedua tangannya pada tempat yang keempat, sebagaimana pada riwayat Abu Ḥumaid As-Sā'idiy dalam Sunan Abu Daud dan lainnya, yaitu ketika bangkit dari tasyahud awal dalam salat yang berjumlah tiga rakaat dan empat rakaat.
  3. Juga diriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau mengangkat kedua tangannya sejajar telinga tanpa sentuhan, sebagaimana pada riwayat Mālik bin Al-Ḥuwairiṡ dalam Aṣ-Ṣaḥīḥain: "Sesungguhnya Rasulullah ﷺ mengangkat kedua tangannya sampai sejajar telinga apabila bertakbir."
  4. Penggabungan antara bacaan tasmik dan tahmid khusus bagi imam dan orang yang salat sendiri. Adapun makmum, maka cukup membaca: rabbanā walakal-ḥamdu.
  5. Bacaan "rabbanā walakal-ḥamdu" setelah rukuk diriwayatkan secara sahih dari Nabi ﷺ dengan empat redaksi; ini adalah salah satunya. Diutamakan agar seseorang mempelajari redaksi-redaksi tersebut, lalu membacanya silih berganti dalam salatnya.
Rujukan

صحيح البخاري (1/ 148) (735). صحيح مسلم (1/ 292) (390). الإلمام بشرح عمدة الأحكام، لإسماعيل الأنصاري (1/ 122). تيسير العلام شرح عمدة الأحكام، للبسام (ص151). تنبيه الأفهام شرح عمدة الأحكام، لابن عثيمين (2/ 192).

Hadis ini di HadeethEnc.com

Rasulullah ﷺ mengajariku doa tasyahud, sedangkan telapak tanganku ada di antara dua telapak tangan beliau, sebagaimana beliau mengajariku surah dalam Al-Qur`an

عَنِ ابْنَ مَسْعُودٍ رضي الله عنه قَالَ: عَلَّمَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَكَفِّي بَيْنَ كَفَّيْهِ، التَّشَهُّدَ، كَمَا يُعَلِّمُنِي السُّورَةَ مِنَ القُرْآنِ: «التَّحِيَّاتُ لِلَّهِ، وَالصَّلَوَاتُ وَالطَّيِّبَاتُ، السَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ، السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ». وفي لفظ لهما: «إِنَّ اللهَ هُوَ السَّلَامُ، فَإِذَا قَعَدَ أَحَدُكُمْ فِي الصَّلَاةِ فَلْيَقُلْ: التَّحِيَّاتُ لِلَّهِ وَالصَّلَوَاتُ وَالطَّيِّبَاتُ السَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ، السَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِينَ، فَإِذَا قَالَهَا أَصَابَتْ كُلَّ عَبْدٍ لِلَّهِ صَالِحٍ فِي السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، ثُمَّ يَتَخَيَّرُ مِنَ الْمَسْأَلَةِ مَا شَاءَ».
Ibnu Mas'ūd -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, "Rasulullah ﷺ mengajariku doa tasyahud, sedangkan telapak tanganku ada di antara dua telapak tangan beliau, sebagaimana beliau mengajariku surah dalam Al-Qur`an: At-taḥiyyātu lillāh, waṣ-ṣalawātu waṭ-ṭayyibāt. As-salāmu 'alaika ayyuhan-nabiyyu wa raḥmatullāhi wa barakātuh. As-salāmu 'alainā wa 'alā 'ibādillāhiṣ-ṣāliḥīn. Asyhadu an lā ilāha illallāh wa asyhadu anna muḥammadan 'abduhu wa rasūluh (Segala ucapan selamat, salat dan kebaikan hanya milik Allah. Semoga keselamatan terlimpah kepadamu, wahai Nabi, dan rahmat Allah serta berkah-Nya. Semoga keselamatan terlimpah pada kami dan hamba-hamba Allah yang saleh. Aku bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak disembah selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya)." Dalam redaksi Bukhari dan Muslim lainnya: "Sesungguhnya Allah Yang Maha Pemberi keselamatan. Ketika salah seorang kalian duduk dalam salat, ucapkanlah, 'At-taḥiyyātu lillāh, waṣ-ṣalawātu waṭ-ṭayyibāt. As-salāmu 'alaika ayyuhan-Nabiyyu wa raḥmatullāhi wa barakātuh. As-salāmu 'alainā wa 'alā 'ibādillāhiṣ-ṣāliḥīn.' Ketika ia membacanya, doa itu mencakup semua hamba Allah yang saleh di langit maupun di bumi. Selanjutnya membaca: 'Asyhadu allā ilāha illallāh wa asyhadu anna muḥammadan 'abduhu wa rasūluh.' Kemudian ia memilih permintaan sesukanya."
Muttafaq 'alaihDerajatSahih
Penjelasan

Nabi ﷺ mengajari Ibnu Mas'ūd -raḍiyallāhu 'anhu- doa tasyahud yang dibaca dalam salat dengan cara meletakkan tangannya di antara kedua tangan beliau untuk memusatkan perhatian Ibnu Mas'ūd, sebagaimana beliau mengajarinya surah Al-Qur`an. Hal ini menunjukkan perhatian Nabi ﷺ pada doa tasyahud ini dari sisi lafaz dan makna. Beliau membacakan doanya: At-taḥiyyātu lillāhi (Segala ucapan selamat hanya milik Allah), yaitu semua ucapan ataupun perbuatan yang menunjukkan pengagungan, seluruhnya adalah hak Allah ﷻ. Aṣ-ṣalawātu (salat), yaitu salat yang dikenal, baik yang fardu maupun sunah, adalah milik Allah Ta'ala. Aṭ-ṭayyibātu (kebaikan), yaitu ucapan, perbuatan dan sifat-sifat yang baik nan menunjukkan kesempurnaan, seluruhnya adalah hak Allah Ta'ala. As-salāmu ‘alayka ayyuhā an-nabīyu wa-raḥmatullāhi wa-barakātuh (Semoga keselamatan terlimpah kepadamu, wahai Nabi, dan rahmat Allah serta keberkahan-Nya). Ini adalah doa keselamatan untuk beliau dari semua penyakit dan keburukan, serta penambahan dan keberlimpahan segala kebaikan untuknya. As-salāmu ‘alaynā wa ‘alā ‘ibādi-llāhiṣ-ṣāliḥīn (Semoga keselamatan terlimpah pada kami dan hamba-hamba Allah yang saleh). Ini adalah doa keselamatan bagi orang yang salat dan semua hamba yang saleh di langit dan bumi. Asyhadu an lā ilāha illā Allāh Aku bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak disembah selain Allah), yakni aku berikrar dengan ikrar yang bulat bahwa tidak ada sembahan yang benar kecuali Allah. Wa anna Muḥammadan ‘abduhu wa-rasūluhu, (dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba Allah dan rasul-Nya), yakni aku mengikrarkan kehambaan dan kerasulan yang terakhir untuk beliau. Kemudian Nabi ﷺ menganjurkan orang yang mengerjakan salat agar memilih doa yang disukainya.

Faedah
  1. 1- Tempat tasyahud ini ialah ketika duduk setelah sujud yang terakhir di setiap salat, juga setelah rakaat kedua pada salat yang berjumlah tiga dan empat rakaat.
  2. 2- Kewajiban membaca doa tasyahud ketika duduk tasyahud dan dibolehkan membaca tasyahud apa saja di antara lafaz-lafaz tasyahud yang diajarkan Nabi ﷺ.
  3. 3- Boleh berdoa di dalam salat dengan semua doa yang diinginkan selama tidak mengandung dosa.
  4. 4- Anjuran memulai dengan diri sendiri di dalam doa.
Rujukan

صحيح البخاري (8/ 59) (6265). صحيح مسلم (1/ 301) (402). الإلمام بشرح عمدة الأحكام، لإسماعيل الأنصاري (1/ 168). تيسير العلام شرح عمدة الأحكام، للبسام (ص206). خلاصة الكلام شرح عمدة الأحكام، لفيصل آل مبارك (ص94).

Hadis ini di HadeethEnc.com

Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- apabila melaksanakan salat, beliau bertakbir saat berdiri, lalu bertakbir ketika rukuk, kemudian mengucapkan, "Sami'allāhu liman ḥamidahu (Allah mendengar orang yang memuji-Nya)" saat mengangkat tulang punggungnya dari rukuk."

عن أبي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قال: كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا قام إلى الصلاة يُكَبِّرُ حين يقوم، ثم يُكَبِّرُ حين يركع، ثم يقول: سَمِعَ اللَّه لِمَنْ حَمِدَهُ، حين يَرْفَعُ صُلْبَهُ من الرَّكْعَةِ، ثم يقول وهو قائم: ربنا ولك الحمد، ثم يُكَبِّرُ حين يَهْوِي، ثم يُكَبِّرُ حين يَرْفَعُ رأسه، ثم يُكَبِّرُ حين يَسْجُدُ، ثم يُكَبِّرُ حين يَرْفَعُ رأسه، ثم يفعل ذلك في صلاته كلها حتى يقضيها، ويُكَبِّرُ حين يقوم من الثِّنْتَيْنِ بعد الجلوس، ثم يقول: أبو هريرة «إني لأشَبَهُكم صلاة برسول الله صلى الله عليه وسلم ».
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, "Apabila Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- melaksanakan salat, beliau bertakbir saat berdiri, lalu bertakbir ketika rukuk, kemudian mengucapkan, 'Sami'allāhu liman ḥamidah (Allah mendengar orang yang memuji-Nya)' saat mengangkat tulang punggungnya dari rukuk. Setelah itu beliau mengucapkan saat berdiri, 'Rabbāna wa laka al-ḥamdu (wahai Rabb kami, segala puji bagi-Mu).' Lantas beliau bertakbir ketika turun, lalu bertakbir saat mengangkat kepalanya. Setelah itu bertakbir ketika sujud lalu bertakbir ketika mengangkat kepalanya. Kemudian beliau melakukan hal itu dalam salatnya seluruhnya hingga menyelesaikannya, dan beliau bertakbir saat berdiri setelah dua rakaat dari duduk (tasyahud)." Selanjutnya Abu Hurairah berkata, "Sesungguhnya aku paling mirip salatnya dengan Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dibanding kalian."
Muttafaq 'alaihDerajatHadis sahih
Penjelasan

Salat itu seluruhnya merupakan pengagungan kepada Allah dengan ucapan dan perbuatan.Hadis mulia ini mengandung penjelasan syiar salat, yaitu penetapan keangkuhan dan kebesaran bagi Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- semata. Tidaklah Dia menjadikannya sebagai syiar dan tanda melainkan karena salat disyariatkan untuk mengagungkan Allah dan memuliakan-Nya. Saat beliau memulai salat, beliau bertakbir dengan takbiratul ihram sambil berdiri dengan postur tegak. Setelah selesai bacaan dan hendak menurunkan kepala untuk rukuk, beliau bertakbir. Apabila beliau mengangkat kepala dari rukuk, beliau mengucapkan, "Sami'allāhu liman ḥamidah (Allah mendengar orang yang memuji-Nya)", beliau menyempurnakan sambil berdiri. Lalu beliau memuji Allah dan menyanjung-Nya ketika berdiri. Selanjutnya beliau bertakbir ketika menurunkan kepala saat hendak sujud lalu bertakbir ketika mengangkat kepalanya dari sujud. Beliau melakukan hal itu dalam salatnya seluruhnya hingga selesai. Ketika beliau berdiri dari tasyahud pertama dalam salat yang ada dua tasyahud, beliau pun bertakbir saat berdiri. Allah mengkhususkan setiap peralihan gerakan salat dengan mengucapkan takbir kecuali ketika mengangkat kepala dari rukuk.

Rujukan

الإلمام بشرح عمدة الأحكام لإسماعيل الأنصاري، ط1، دار الفكر، دمشق، 1381ه تيسير العلام شرح عمدة الأحكام للبسام، حققه وعلق عليه وخرج أحاديثه وصنع فهارسه: محمد صبحي بن حسن حلاق، ط10، مكتبة الصحابة، الإمارات - مكتبة التابعين، القاهرة، 1426 هـ تنبيه الأفهام شرح عمدة لأحكام لابن عثيمين، ط1، مكتبة الصحابة، الإمارات، 1426ه عمدة الأحكام من كلام خير الأنام صلى الله عليه وسلم لعبد الغني المقدسي، دراسة وتحقيق: محمود الأرناؤوط، مراجعة وتقديم: عبد القادر الأرناؤوط، ط2، دار الثقافة العربية، دمشق ، بيروت، مؤسسة قرطبة، 1408 هـ صحيح البخاري، تحقيق: محمد زهير بن ناصر الناصر، ط1، دار طوق النجاة (مصورة عن السلطانية بإضافة ترقيم: محمد فؤاد عبد الباقي)، 1422ه. صحيح مسلم، تحقيق: محمد فؤاد عبد الباقي، دار إحياء التراث العربي، بيروت، 1423 هـ.

Hadis ini di HadeethEnc.com

Seimbangkanlah posisi kalian dalam sujud, dan janganlah salah seorang dari kalian menghamparkan kedua lengannya di atas tanah (ketika sujud) sebagaimana (yang dilakukan) anjing.

عن أَنَس بن مالك رضي الله عنه عَنْ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: «اعْتَدِلُوا في السجود، ولا يَبْسُطْ أحدكم ذِرَاعَيْهِ انْبِسَاطَ الكلب».
Dari Anas bin Malik -raḍiyallāhu 'anhu-, dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, beliau bersabda, "Seimbangkanlah posisi kalian dalam sujud, dan janganlah salah seorang dari kalian menghamparkan kedua lengannya di atas tanah (ketika sujud) sebagaimana (yang dilakukan) anjing."
Muttafaq 'alaihDerajatHadis sahih
Penjelasan

Nabi -șallāhu 'alaihi wa sallam- menyuruh untuk menyeimbangkan sujud sehingga orang yang salat dalam keadaan baik saat sujud. Yaitu dengan cara meletakkan dua telapak tangannya di atas tanah dan mengangkat kedua lengannya serta menjauhkannya dari lambungnya. Sebab, keadaan ini adalah tanda semangat dan minat yang dituntut dalam salat. Keadaan yang baik ini juga memungkinkan semua organ sujud bisa mengambil bagiannya dalam ibadah. Orang yang salat dilarang untuk menghamparkan kedua lengannya (di lantai) saat sujud, karena itu merupakan tanda kemalasan dan kebosanan, serta menyerupai anjing. Ini merupakan penyerupaan yang tidak pantas.

Rujukan

- صحيح البخاري -الجامع الصحيح-؛ للإمام أبي عبد الله محمد بن إسماعيل البخاري، عناية محمد زهير الناصر، دار طوق النجاة، الطبعة الأولى، 1422هـ. - صحيح مسلم؛ للإمام مسلم بن الحجاج، حققه ورقمه محمد فؤاد عبد الباقي، دار عالم الكتب، الرياض، الطبعة الأولى، 1417هـ. - الإلمام بشرح عمدة الأحكام للشيخ إسماعيل الأنصاري -مطبعة السعادة- الطبعة الثانية 1392ه. - تنبيه الأفهام شرح عمدة الأحكام -محمد بن صالح العثيمين -رحمه الله- مكتبة الصحابة -الشارقة- الإمارات العربية المتحدة، الطبعة الأولى، 1426هـ. - تيسير العلام شرح عمدة الأحكام -عبد الله البسام- تحقيق محمد صبحي حسن حلاق -مكتبة الصحابة- الشارقة، الطبعة العاشرة، 1426هـ.

Hadis ini di HadeethEnc.com

Aku mengawasi (gerakan) salat Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- lalu aku dapati berdirinya, rukuknya, i'tidalnya setelah rukuk, sujudnya, duduknya di antara dua sujud, sujudnya lalu duduknya antara mengucapkan salam dan kepergiannya hampir sama.

عن الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ رضي الله عنهما قال: «رَمَقْتُ الصلاة مع محمد صلى الله عليه وسلم فوجدت قيامه، فَرَكْعَتَهُ، فاعتداله بعد ركوعه، فسجدته، فَجِلْسَتَهُ بين السجدتين، فسجدته، فَجِلْسَتَهُ ما بين التسليم والانصراف: قريبا من السَّوَاء». وفي رواية: «ما خلا القيام والقعود، قريبا من السَّوَاءِ».
Dari Al-Barā` bin 'Āzib -raḍiyallāhu 'anhumā- ia berkata, "Aku mengamati salat Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- lalu aku dapati berdirinya, rukuknya, i'tidāl setelah rukuknya, sujudnya, duduknya antara dua sujud, sujudnya lalu duduknya antara mengucapkan salam dan kepergiannya hampir sama." Dalam sebuah riwayat: "Selain berdiri dan duduk, hampir sama (lamanya)."
Muttafaq 'alaihDerajatHadis sahih
Penjelasan

Al-Barā` bin 'Āzib -raḍiyallāhu 'anhumā- menggambarkan salat Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- ketika dia mengawasi beliau dengan cermat untuk mengetahui bagaimana beliau salat. Dia mengawasinya lalu menuturkan bahwa (gerakan) salatnya hampir sama (lamanya) dan sesuai. Saat berdiri untuk membaca (ayat) dan duduk untuk tasyahud sesuai (lamanya) dengan rukuk, i'tidāl, dan sujud. Contohnya beliau tidak berdiri lama dan meringankan rukuk, atau memanjangkan sujud lalu memendekkan keadaan berdiri atau duduk, tetapi setiap rukunnya beliau jadikan sesuai dengan rukun lainnya. Hanya saja bukan berarti lama berdiri dan duduk untuk tasyahud sama lamanya dengan rukuk dan sujud, tetapi artinya beliau tidak meringankan yang satu dan memberatkan yang lainnya.

Rujukan

تيسير العلام، للبسام، الناشر: مكتبة الصحابة، الإمارات، مكتبة التابعين، القاهرة، الطبعة العاشرة، 1426هـ - 2006 م. تنبيه الأفهام، للعثيمين، طبعة مكتبة الصحابة الإمارات، مكتبة التابعين، القاهرة، الطبعة الأولى، 1426. تهذيب اللغة, المؤلف: محمد بن أحمد بن الأزهري الهروي، المحقق: محمد عوض مرعب, الناشر: دار إحياء التراث العربي – بيروت, الطبعة: الأولى، 2001م. - تأسيس الأحكام، لأحمد بن يحيى النجمي, طبعة دار المنهاج. صحيح البخاري، لأبي عبد الله محمد بن إسماعيل البخاري، تحقيق محمد زهير بن ناصر الناصر، الناشر: دار طوق النجاة، الطبعة: الأولى 1422هـ. صحيح مسلم، المحقق: محمد فؤاد عبد الباقي - الناشر: دار إحياء التراث العربي – بيروت.

Hadis ini di HadeethEnc.com

Kembali lalu salatlah, karena sesungguhnya engkau belum salat!

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ المَسْجِدَ فَدَخَلَ رَجُلٌ، فَصَلَّى، فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَرَدَّ وَقَالَ: «ارْجِعْ فَصَلِّ، فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ»، فَرَجَعَ يُصَلِّي كَمَا صَلَّى، ثُمَّ جَاءَ، فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: «ارْجِعْ فَصَلِّ، فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ» ثَلاَثًا، فَقَالَ: وَالَّذِي بَعَثَكَ بِالحَقِّ مَا أُحْسِنُ غَيْرَهُ، فَعَلِّمْنِي، فَقَالَ: «إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلاَةِ فَكَبِّرْ، ثُمَّ اقْرَأْ مَا تَيَسَّرَ مَعَكَ مِنَ القُرْآنِ، ثُمَّ ارْكَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ رَاكِعًا، ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَعْدِلَ قَائِمًا، ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا، ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ جَالِسًا، وَافْعَلْ ذَلِكَ فِي صَلاَتِكَ كُلِّهَا».
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ masuk ke dalam masjid, lalu masuklah seorang laki-laki dan segera mengerjakan salat. Kemudian ia datang dan mengucapkan salam pada Nabi ﷺ. Beliau menjawab salamnya dan bersabda, "Kembali lalu salatlah, karena sesungguhnya engkau belum salat!" Orang itu kembali lalu salat seperti salat yang ia kerjakan sebelumnya. Kemudian ia datang lagi dan mengucapkan salam pada Nabi ﷺ. Beliau bersabda, "Kembali lalu salatlah, karena sesungguhnya engkau belum salat!" Hal ini terjadi hingga tiga kali. Lalu orang itu berkata, "Demi Tuhan yang mengutusmu dengan kebenaran! Aku tidak bisa mengerjakan selain itu, maka ajarilah aku!" Beliau bersabda, "Apabila engkau telah berdiri untuk mengerjakan salat, maka bertakbirlah, lalu bacalah apa yang mudah bagimu dari Al-Qur`an. Kemudian lakukanlah rukuk sampai engkau rukuk dengan tenang. Selanjutnya bangkitlah sampai engkau lurus berdiri, lalu sujudlah sampai engkau sujud dengan tenang. Kemudian bangkitlah sampai engkau duduk dengan tenang. Lakukanlah hal itu pada semua salatmu!"
Muttafaq 'alaihDerajatSahih
Penjelasan

Nabi ﷺ masuk masjid, lalu seorang laki-laki masuk setelah beliau dan mengerjakan salat dua rakaat dengan cepat dan tidak tumakninah ketika berdiri, rukuk, dan sujudnya, sementara Nabi ﷺ mengamati salatnya. Lantas ia datang menemui Nabi ﷺ saat beliau duduk di sudut masjid dan mengucapkan salam. Beliau menjawab salamnya dan mengatakan: Kembalilah, lalu ulangi lagi salatmu karena sebenarnya engkau belum salat. Maka ia pun kembali dan mengerjakan salat dengan cepat sebagaimana ia salat sebelumnya, kemudian datang lagi dan mengucapkan salam kepada Nabi ﷺ. Beliau berkata padanya: Kembalilah, lalu ulangi salatmu karena sebenarnya engkau belum salat. Ia melakukan seperti itu sampai tiga kali. Kemudian laki-laki itu berkata: Demi Allah yang telah mengutusmu membawa kebenaran! Aku tidak bisa melakukan yang lebih baik dari ini. Ajarilah aku. Maka Nabi ﷺ bersabda kepadanya: Apabila engkau berdiri untuk mengerjakan salat, maka lakukanlah takbiratulihram. Kemudian bacalah Ummul-Qur`ān (Al-Fātiḥah) dan lainnya yang Allah kehendaki engkau baca. Kemudian rukuklah sampai engkau rukuk dengan tumakninah, yaitu dengan meletakkan kedua tangan di lutut dan meluruskan punggung, dan tenanglah di dalam rukukmu. Kemudian bangkitlah dan tegakkan punggungmu hingga tulang-tulang kembali pada persendiannya dan engkau berdiri dengan lurus. Kemudian sujudlah sampai engkau sujud dengan tumakninah, yaitu dengan memastikan kening bersama hidung serta kedua tangan, kedua lutut, dan ujung jari-jari kedua kaki menempel pada lantai. Kemudian bangunlah sampai engkau duduk di antara dua sujud dengan tumakninah. Kemudian lakukan itu semua di setiap rakaat salatmu.

Faedah
  1. 1- Rukun-rukun salat ini tidak boleh gugur, baik karena lupa maupun karena tidak tahu, dengan dalil perintah Nabi ﷺ kepada orang yang salat itu untuk mengulangi salatnya dan tidak hanya sekadar mengajarinya.
  2. 2- Tumakninah termasuk rukun salat.
  3. 3- An-Nawawiy berkata, "Di dalamnya ada pelajaran bahwa orang yang meninggalkan sebagian wajib salat, maka salatnya tidak sah."
  4. 4- An-Nawawiy berkata, "Di dalamnya ada pelajaran bersikap lembut dan santun kepada orang yang belajar dan orang yang tidak tahu, menjelaskannya permasalahan dan meringkaskannya pada yang inti, mencukupkannya pada yang penting tanpa hal-hal pelengkap yang tidak akan mampu ia hafal dan laksanakan bila melihat kondisinya."
  5. 5- An-Nawawiy berkata, "Di dalamnya ada pelajaran bahwa ketika seorang mufti ditanya tentang sesuatu sementara ada hal lain yang diperlukan penanya tetapi tidak ia tanyakan, maka dianjurkan agar ia menyebutkannya karena ini bagian dari nasihat, bukan termasuk ucapan yang sia-sia."
  6. 6- Keutamaan mengakui kekurangan diri, yaitu pada perkataannya: Aku tidak bisa melakukan selain itu, maka ajarilah aku.
  7. 7- Ibnu Ḥajar berkata, "Di dalamnya ada pelajaran agar melakukan amar makruf nahi mungkar serta permintaan seorang pelajar kepada orang yang berilmu agar diajari."
  8. 8- Anjuran memberi salam saat bertemu dan kewajiban menjawabnya, dan dianjurkan agar diulangi ketika pertemuan berulang walaupun belum lama dan wajib menjawabnya di setiap kali.
Rujukan

صحيح البخاري (1/ 152) (757). صحيح مسلم (1/ 298) (397). تيسير العلام، للبسام (ص167). تنبيه الأفهام، للعثيمين (2/ 213). الإفهام في شرح عمدة الأحكام، عبد العزيز بن باز (ص203). الإلمام بشرح عمدة الأحكام، لإسماعيل الأنصاري (1/ 138).

Hadis ini di HadeethEnc.com

Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pernah salat dengan menggendong Umāmah binti Zainab binti Rasulillah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-.

عن أبي قَتَادَةَ الأَنْصَارِيِّ رضي الله عنه قال: «أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان يُصَلِّي وهو حامل أُمَامَةَ بنت زينب بنت رسول الله صلى الله عليه وسلم ». ولأبي العاص بن الربيع بن عبد شَمْسٍ رضي الله عنه : «فإذا سجد وضعها، وإذا قام حملها».
Dari Abu Qatādah Al-Anṣāri -raḍiyallāhu 'anhu- ia berkata, “Bahwasanya Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pernah salat dengan menggendong Umāmah binti Zainab binti Rasulillah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-”. Disebutkan dalam riwayat Abu Al 'Āṣ bin Rabī' bin Abdu Syams -raḍiyallāhu 'anhu-, “Jika sujud beliau meletakkannya, dan jika berdiri beliau menggendongnya."
Muttafaq 'alaihDerajatHadis sahih
Penjelasan

Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pernah salat dengan menggendong anak dari putri beliau yaitu Umāmah binti Zainab. Beliau menggendongnya di atas bahunya jika sedang berdiri, dan jika rukuk atau sujud, beliau meletakkannya di lantai dengan penuh kecintaan dan kasih sayang.

Rujukan

تيسير العلام للبسام الناشر: مكتبة الصحابة، الأمارات - مكتبة التابعين، القاهرة الطبعة- العاشرة، 1426 هـ - 2006 م . تنبيه الأفهام للعثيمين -طبعة مكتبة الصحابة الامارات - مكتبة التابعين- القاهرة- الطبعة الأولى 1426. صحيح البخاري -أبو عبد الله محمد بن إسماعيل بن إبراهيم بن المغيرة الجعفي البخاري، تحقيق محمد زهير بن ناصر الناصر - الناشر : دار طوق النجاة -الطبعة : الأولى 1422هـ. صحيح مسلم المحقق: محمد فؤاد عبد الباقي - الناشر: دار إحياء التراث العربي – بيروت. تأسيس الأحكام -أحمد بن يحيى النجمي- دار المنهاج- القاهرة- مصر -الطبعة الأولى.

Hadis ini di HadeethEnc.com

Aku telah salat bersama Abu Bakar, Umar dan Usman, dan aku tidak mendengar salah seorang dari mereka membaca "bismillāhir-raḥmānir-raḥīm

عن أَنَس بن مالك رضي الله عنه «أنّ النبي صلى الله عليه وسلم وأبا بكر وعمر رضي الله عنهما : كانوا يَسْتَفْتِحُونَ الصلاة بـ"الحمد لله رب العالمين"». وفي رواية: « صَلَّيْتُ مع أبي بكر وعمر وعثمان، فلم أسمع أحدا منهم يقرأ "بسم الله الرحمن الرحيم"». ولمسلم: « صَلَّيْتُ خلف النبي صلى الله عليه وسلم وأبي بكر وعمر وعثمان فكانوا يَسْتَفْتِحُونَ بـ"الحمد لله رب العالمين"، لا يَذْكُرُونَ "بسم الله الرحمن الرحيم" في أول قراءة ولا في آخرها».
Dari Anas bin Malik -raḍiyallāhu 'anhu-, "Bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, Abu bakar dan Umar -raḍiyallāhu 'anhumā- mengawali (bacaan) salat dengan "al-ḥamdu lillāhi rabbil-'ālamīn." Dalam riwayat lain, "Aku telah salat bersama Abu Bakar, Umar dan Usman, dan aku tidak mendengar salah seorang dari mereka membaca "bismillāhir-raḥmānir-raḥīm." Dalam riwayat Muslim, "Aku telah salat di belakang Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, Abu Bakar, Umar dan Usman sedang mereka mengawali bacaan dengan "al-ḥamdu lillāhi rabbil-'ālamīn", dan mereka tidak menyebutkan "bismillāhir-raḥmānir-raḥīm" di awal bacaan maupun di akhirnya."
Diriwayatkan oleh Muslim - Muttafaq 'alaihDerajatHadis sahih
Penjelasan

Anas bin Malik -raḍiyallāhu 'anhu-, menyebutkan kendati lama menjadi sahabat Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dan menyertai beliau dan juga menyertai para Khulafā` ar-Rāsyidīn, ia sama sekali tidak mendengar salah seorang pun dari mereka membaca "bismillāhir-raḥmānir-raḥīm" dalam salat, baik di awal bacaan maupun di akhirnya. Akan tetapi mereka mengawali bacaan dalam salat dengan "al-ḥamdu lillāhi rabbil-'ālamīn". Para ulama berbeda pendapat tentang hukum membaca basmalah dan mengeraskan bacaannya di dalam salat dalam beberapa pendapat. Namun yang benar di antara pendapat-pendapat ulama ini adalah bahwa orang yang salat harus membaca basmalah secara sir (bacaan pelan) sebelum membaca Al-Fātiḥah di setiap rakaat salatnya, baik salat tersebut sirriyah (bacaannya pelan) ataupun jahriyah (bacaannya keras).

Rujukan

تيسير العلام للبسام، الناشر: مكتبة الصحابة، الغمارات - مكتبة التابعين، القاهرة الطبعة- العاشرة، 1426 هـ - 2006 م . تنبيه الأفهام للعثيمين -طبعة مكتبة الصحابة الإمارات - مكتبة التابعين- القاهرة- الطبعة الأولى 1426. الإفهام في شرح عمدة الأحكام –عبد العزيز بن باز-اعتناء سعيد بن علي بن وهف القحطاني –الرياض –الطبعة الأولى -1435. الإلمام بشرح عمدة الأحكام لإسماعيل الأنصاري -طبعة دار الفكر- دمشق -الأولى 1381. خلاصة الكلام –فيصل المبارك الحريملي -الطبعة: الثانية، 1412 هـ - 1992 م. صحيح البخاري -أبو عبد الله محمد بن إسماعيل البخاري، تحقيق محمد زهير بن ناصر الناصر -الناشر : دار طوق النجاة -الطبعة : الأولى 1422هـ. صحيح مسلم - المحقق: محمد فؤاد عبد الباقي - الناشر: دار إحياء التراث العربي – بيروت.

Hadis ini di HadeethEnc.com
8 dari 53
53 hadis
  1. Rasulullah ﷺ mengangkat kedua tangannya sejajar dengan kedua pundak ketika mengawali salat
  2. Rasulullah ﷺ mengajariku doa tasyahud, sedangkan telapak tanganku ada di antara dua telapak tangan beliau, sebagaimana beliau mengajariku surah dalam Al-Qur`an
  3. Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- apabila melaksanakan salat, beliau bertakbir saat berdiri, lalu bertakbir ketika rukuk, kemudian mengucapkan, "Sami'allāhu liman ḥamidahu (Allah mendengar orang yang memuji-Nya)" saat mengangkat tulang punggungnya dari rukuk."
  4. Seimbangkanlah posisi kalian dalam sujud, dan janganlah salah seorang dari kalian menghamparkan kedua lengannya di atas tanah (ketika sujud) sebagaimana (yang dilakukan) anjing.
  5. Aku mengawasi (gerakan) salat Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- lalu aku dapati berdirinya, rukuknya, i'tidalnya setelah rukuk, sujudnya, duduknya di antara dua sujud, sujudnya lalu duduknya antara mengucapkan salam dan kepergiannya hampir sama.
  6. Kembali lalu salatlah, karena sesungguhnya engkau belum salat!
  7. Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pernah salat dengan menggendong Umāmah binti Zainab binti Rasulillah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-.
  8. Aku telah salat bersama Abu Bakar, Umar dan Usman, dan aku tidak mendengar salah seorang dari mereka membaca "bismillāhir-raḥmānir-raḥīm
  9. Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pernah mengutus seorang sahabat untuk memimpin pasukan sariyah (perang yang tidak diikuti Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-). Sahabat ini senantiasa mengimami salat pasukannya dan mengakhiri bacaannya dengan (surah) Qul Huwallāhu Aḥad.
  10. Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memulai salat dengan takbiratul ihram dan memulai bacaan dengan "Alḥamdulillāhi Rabbil 'ālamīn". Ketika rukuk beliau tidak terlalu mengangkat kepala dan juga tidak terlalu menundukkannya, tetapi pertengahan antara keduanya.
  11. Penduduk Kufah mengadukan Sa'ad, yaitu Sa'ad bin Abi Waqqāṣ -raḍiyallāhu 'anhu- kepada Umar bin Al-Khaṭṭāb -raḍiyallāhu 'anhu-. Lantas Umar memecatnya dan mengangkat 'Ammār menjadi gubernur mereka
  12. Saya pernah salat bersama 'Imrān bin Ḥuṣain bermakmum kepada Ali bin Abi Ṭālib. Saat sujud, ia bertakbir. Saat mengangkat kepalanya, ia bertakbir lagi. Dan ketika berdiri dari dua rakaat, dia bertakbir lagi.
  13. Aku mendengar Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- membaca surah Aṭ-Ṭūr pada waktu salat Magrib.
  14. Sesungguhnya aku salat dengan kalian, namun aku tidak meniatkan salat. Aku salat sebagaimana aku melihat Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- salat.
  15. Apabila imam mengucapkan “amin”, maka ucapkanlah “amin”, karena sesungguhnya siapa yang ucapan “amin”nya bersamaan dengan ucapan “amin” para malaikat, maka akan diampuni dosanya yang lalu
  16. Apabila beliau mengangkat kepalanya dari rukuk pada rakaat terakhir salat Fajar, beliau mengucapkan, "Ya Allah! Kutuklah fulan dan fulan," setelah beliau mengucapkan, "Sami'allāhu liman ḥamidah, rabbanā wa laka Al-ḥamdu (Allah mendengar orang yang memuji-Nya. Wahai Rabb kami, segala puji hanya milik-Mu)." Lantas Allah menurunkan firman-Nya, "Tidak ada sedikitpun campur tanganmu (Muhammad) dalam urusan mereka itu."
  17. Ya Allah! Ampunilah (dosa) yang telah aku lakukan dan yang akan datang, apa yang aku sembunyikan dan yang terang-terangan, apa yang aku sia-siakan dan apa yang lebih Engkau ketahui dariku. Engkaulah Yang Mendahulukan dan Engkaulah Yang Mengakhirkan. Tidak ada Tuhan yang benar selain Engkau.
  18. Ya Allah! Selamatkanlah 'Ayyāsy bin Abi Rabī'ah. Ya Allah! Selamatkanlah Salamah bin Hisyām. Ya Allah! Selamatkanlah Al-Walīd bin Al-Walīd. Ya Allah! Selamatkanlah orang-orang Mukmin yang dianiaya. Ya Allah! Timpakanlah siksa-Mu kepada Muḍar dengan keras. Ya Allah, Jadikanlah bagi mereka kemarau seperti kemarau (pada masa) Nabi Yusuf.
  19. Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pernah keluar menuju masjid Quba` untuk salat di sana.
  20. Aku melihat Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- sedang mengimami manusia sedangkan Umāmah binti Abil-‘Āṣ yang juga merupakan putri Zainab binti Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- di atas pundak beliau. Apabila beliau rukuk maka beliau meletakkannya, dan apabila beliau hendak berdiri dari sujud, maka beliau kembali (menggendongnya).
  21. Bunuhlah dua (binatang) yang berwarna hitam ketika salat; yaitu ular dan kalajengking
  22. Hadis orang yang salatnya buruk, riwayat Rifā'ah -raḍiyallāhu 'anhu
  23. Ucapan Abu Ḥumaid As-Sā'idī yang berada di antara sepuluh orang sahabat Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, diantara mereka ada Abu Qatādah, "Aku lebih mengetahui salat Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dibanding kalian."
  24. Rasulullah ﷺ biasa membuka salat dengan takbir dan (mengawali) bacaan dengan "al-ḥamdu lillāhi rabbbi al-'ālamīn
  25. Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- apabila bertakbir, beliau mengangkat kedua tangannya hingga sejajar dengan kedua telinganya. Apabila rukuk beliau mengangkat kedua tangan hingga sejajar dengan kedua telinganya.
  26. Aku salat bersama Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, dan beliau meletakkan tangan kanannya di atas tangan kirinya di dadanya.
  27. Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, Abu Bakar, dan Umar memulai bacaan salat dengan (Alḥamdulillāhi Rabbil ‘ālamīn)
  28. Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- membaca Al-Fātiḥah dan dua surah pada dua rakaat pertama salat Zuhur. Dan pada dua rakaat terakhir beliau membaca Al-Fātiḥah, dan beliau memperdengarkan bacaan ayatnya.
  29. Kami menaksir (lama) berdiri Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- ketika salat Zuhur dan Asar. Kami menaksir dua rakaat pertama salat Zuhur setara pembacaan surah As-Sajdah. Dan kami memperkirakan dua rakaat terakhir itu setara setengahnya.
  30. Aku tidak pernah salat di belakang seseorang yang salatnya lebih mirip dengan salat Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- daripada fulan. Maka kami salat di belakangnya. Dia memanjangkan dua rakaat pertama salat zuhur dan memendekkan dua rakaat terakhirnya.
  31. Aku pernah mendengar Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- membaca surah Aṭ-Ṭūr ketika salat Magrib. Ketika sampai pada ayat, "Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)? Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu? Sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan). Ataukah di sisi mereka ada perbendaharaan Rabbmu atau merekakah yang berkuasa?" Ia berkata, "Maka jantungku hampir-hampir copot."
  32. Salat Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, rukuk beliau, apabila beliau mengangkat kepala dari rukuk, sujud beliau dan (duduk) di antara dua sujud, (durasinya) hampir sama.
  33. Aku diperintahkan agar bersujud di atas tujuh tulang
  34. Apabila engkau sujud maka letakkanlah kedua telapak tanganmu (di tempat sujud) dan angkatlah kedua sikumu
  35. Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- apabila rukuk, beliau merenggangkan jari-jemarinya dan apabila sujud beliau merapatkan jari-jemarinya.
  36. Pada saat Nabi ﷺ (duduk) di antara dua sujud, beliau mengucapkan, "Allāhummagfirlī, warḥamnī, wa 'āfinī, wahdinī, warzuqnī (Ya Allah, ampunilah aku, berilah aku rahmat, selamatkanlah aku, tunjukilah aku dan anugerahkanlah rezeki kepadaku)
  37. Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- apabila beliau dalam rakaat ganjil dari salatnya beliau tidak bangkit untuk berdiri sampai beliau duduk dengan sempurna.
  38. Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- qunut selama sebulan setelah rukuk, beliau mendoakan kebinasaan untuk kabilah-kabilah Bani Sulaim.
  39. Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- tidak pernah melakukan qunut kecuali mendoakan selamat untuk suatu kaum atau mendoakan celaka atas suatu kaum.
  40. Wahai ayahku! Engkau telah salat di belakang Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, Abu Bakar, Umar, Uṡmān dan Ali di sini, di Kufah, selama 5 tahun. Apakah mereka melakukan qunut di salat Fajar (Subuh)? Ia menjawab, "Wahai putraku, (itu amalan) yang diada-adakan."
  41. Jika salah satu di antara kalian hendak sujud, maka jangan seperti unta yang hendak duduk; hendaklah ia meletakkan kedua tangannya sebelum meletakkan kedua lututnya.
  42. Ibnu Umar meletakkan kedua tangannya sebelum kedua lututnya (saat hendak sujud) seraya berkata, "Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- juga melakukan itu
  43. Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- biasanya saat duduk membaca doa, beliau meletakkan tangan kanannya di atas paha kanan dan tangan kiri di atas paha kiri. Beliau berisyarat dengan jari telunjuknya, meletakkan jempol di jari tengahnya, dan menelungkupkan telapak tangan kirinya di lutut kaki kirinya
  44. Aku pernah salat bersama Rasulullah ﷺ, lalu beliau bersalam ke kanan dengan mengucapkan, "Assalāmu 'alaikum wa rahmatullāhi wa barakātuh," dan juga ke kiri dengan mengucapkan, "Assalāmu 'alaikum wa rahmatullāh
  45. Rasulullah ﷺ dalam dua rakaat salat Fajar, beliau membaca surah Qul yā ayyuhal-kāfirūn dan surah Qul huwallāhu aḥad
  46. Wahai sekalian manusia! Aku melakukan ini supaya kalian dapat mengikuti dan mempelajari salatku.'
  47. 'Apabila kalian akan salat, luruskanlah saf kalian, kemudian salah seorang di antara kalian menjadi imam. Apabila ia bertakbir, maka bertakbirlah
  48. Demi Tuhan yang jiwaku ada di tangan-Nya! Sungguh, aku yang paling mirip dengan salat Rasulullah ﷺ. Seperti inilah salat beliau hingga meninggal dunia
  49. Pencuri yang paling buruk adalah yang mencuri salatnya." Abu Hurairah bertanya, "Bagaimana ia mencuri salatnya?" Beliau bersabda, "Yaitu ia tidak menyempurnakan rukuk maupun sujudnya
  50. Rasulullah ﷺ biasa ketika bangun dari rukuk membaca: sami'allāhu liman ḥamidah
  51. Nabi ﷺ biasa membaca di antara dua sujud: rabbi-gfir lī, rabbi-gfir lī (Tuhanku, ampunilah aku. Tuhanku, ampunilah aku)
  52. Itu adalah setan yang disebut Khinzab. Apabila engkau merasakannya, maka berlindunglah kepada Allah dan meludahlah ke sebelah kirimu tiga kali
  53. Aku melihat Rasulullah ﷺ mengucapkan salam ke sebelah kanan dan ke sebelah kirinya, sampai aku melihat putihnya pipi beliau

Setiap hadis, derajat, penjelasan, dan faedah di sini ditampilkan persis sebagaimana diterbitkan HadeethEnc.com, menurut ketentuan penerbitan ulangnya. Derajat itu tidak menyebut siapa yang menilainya. Terjemahan dan penjelasan adalah karya para penyusunnya, dan sebagian menyebutkan hukum; para peninjau Sabīl belum memeriksanya. Hadis berbahasa Arablah teksnya. Sumber: HadeethEnc.com