Langsung ke konten
Hadis dengan penjelasan

Mandi

28 hadis

Sesungguhnya Ummu Ḥabībah menderita istihadah selama tujuh tahun. Lantas ia bertanya kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengenai hal itu, maka beliau menyuruhnya untuk mandi.

عن عائشة رضي الله عنها قالت: "إن أم حبيبة اسْتُحِيضَتْ سبع سنين، فسألت رسول الله صلى الله عليه وسلم عن ذلك؟ فأمرها أن تغتسل، قالت: فكانت تغتسل لكل صلاة".
Dari Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā-, dia berkata, "Sesungguhnya Ummu Ḥabībah menderita istihadah selama tujuh tahun. Lantas ia bertanya kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengenai hal itu. Beliau menyuruhnya untuk mandi. (Aisyah) berkata, "Ia pun mandi setiap (mau) salat."
Muttafaq 'alaihDerajatHadis sahih
Penjelasan

Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menyuruh Ummu Ḥabībah untuk mandi saat dia bertanya kepada beliau tentang apa yang harus dilakukannya saat istihaḍah. Ia pun mandi setiap (mau) salat. Dia menderita istihadah tujuh tahun. Istihaḍah adalah kondisi insidentil pada wanita. Pada asalnya mereka mengalami menstruasi pada hari-hari tertentu dalam sebulan yang dibarengi dengan tanda-tanda tertentu yang diketahui oleh para wanita. Ummu Ḥabībah mandi setiap akan salat adalah karena taṭawwu' (sukarela) saja.

Rujukan

تأسيس الأحكام للنجمي، ط2، دار علماء السلف، 1414هـ. تيسير العلام شرح عمدة الأحكام للبسام، حققه وعلق عليه وخرج أحاديثه وصنع فهارسه: محمد صبحي بن حسن حلاق، ط10، مكتبة الصحابة، الإمارات - مكتبة التابعين، القاهرة، 1426هـ. تنبيه الأفهام شرح عمدة لأحكام لابن عثيمين، ط1، مكتبة الصحابة، الإمارات، 1426هـ. عمدة الأحكام من كلام خير الأنام صلى الله عليه وسلم لعبد الغني المقدسي، دراسة وتحقيق: محمود الأرناؤوط، مراجعة وتقديم: عبد القادر الأرناؤوط، ط2، دار الثقافة العربية، دمشق ، بيروت، مؤسسة قرطبة، 1408هـ. صحيح البخاري، تحقيق: محمد زهير بن ناصر الناصر، ط1، دار طوق النجاة (مصورة عن السلطانية بإضافة ترقيم: محمد فؤاد عبد الباقي)، 1422هـ. صحيح مسلم، تحقيق: محمد فؤاد عبد الباقي، دار إحياء التراث العربي، بيروت، 1423هـ.

Hadis ini di HadeethEnc.com

Janganlah sekali-kali salah seorang dari kalian kencing di air yang diam yaitu air yang tidak mengalir lalu mandi darinya!

عن أبي هريرة رضي الله عنه مرفوعاً: "لا يَبُولَنَّ أحَدُكم في الماء الدَّائِم الذي لا يجْرِي، ثمَّ يَغتَسِل مِنه". وفي رواية: "لا يغتسل أحدكُم في الماء الدَّائم وهو جُنُب".
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- secara marfū': "Janganlah sekali-kali salah seorang dari kalian kencing di air yang diam yaitu air yang tidak mengalir lalu mandi darinya!" Dalam riwayat lain disebutkan: "Janganlah sekali-kali salah seorang diantara kalian mandi di air yang diam, sedangkan dia dalam keadaan junub!"
Diriwayatkan oleh Muslim - Muttafaq 'alaihDerajatHadis sahih
Penjelasan

Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- melarang kencing di air yang diam yaitu air yang tidak mengalir, karena hal itu akan menyebabkan air tersebut tercemari oleh najis dan penyakit-penyakit yang dibawa air kencing, sehingga membahayakan setiap orang yang menggunakan air itu. Mungkin saja orang yang kencing itu akan menggunakannya dan mandi darinya (di lain waktu). Lantas, bagaimana dia kencing di air yang nantinya akan dijadikan alat untuk bersuci baginya? Sebagaimana beliau melarang mandi janabah (mandi besar) di air yang diam karena hal itu akan mencemari air dengan kotoran-kotoran dan dekil-dekil janabah.

Rujukan

تيسير العلام شرح عمدة الأحكام للبسام، حققه وعلق عليه وخرج أحاديثه وصنع فهارسه: محمد صبحي بن حسن حلاق، ط10، مكتبة الصحابة، الإمارات - مكتبة التابعين، القاهرة، 1426 هـ. تنبيه الأفهام شرح عمدة الأحكام لابن عثيمين، ط1، مكتبة الصحابة، الإمارات، 1426هـ. عمدة الأحكام من كلام خير الأنام صلى الله عليه وسلم لعبد الغني المقدسي، دراسة وتحقيق: محمود الأرناؤوط، مراجعة وتقديم: عبد القادر الأرناؤوط، ط2، دار الثقافة العربية، دمشق ، بيروت، مؤسسة قرطبة، 1408هـ. صحيح البخاري، تحقيق: محمد زهير بن ناصر الناصر، ط1، دار طوق النجاة (مصورة عن السلطانية بإضافة ترقيم: محمد فؤاد عبد الباقي)، 1422هـ. صحيح مسلم، تحقيق: محمد فؤاد عبد الباقي، دار إحياء التراث العربي، بيروت، 1423هـ.

Hadis ini di HadeethEnc.com

Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- melihat seorang lelaki mengasingkan diri, dia tidak salat bersama orang banyak. Beliau bertanya, “Wahai fulan, apa yang menghalangimu untuk salat bersama orang-orang?” Dia menjawab, "Wahai Rasulullah, aku sedang junub dan tidak ada air (untuk bersuci)." Beliau bersabda, “Pakailah debu (tayamum) karena sesungguhnya itu cukup bagimu.”

عن عمران بن حصين رضي الله عنهما أن رسول الله صلى الله عليه وسلم رأى رجلًا مُعتزلًا، لم يُصَلِّ في القوم، فقال: (يا فلان، ما منعك أن تصلي في القوم؟) فقال: يا رسول الله أصابتني جنابةٌ، ولا مَاءَ، فقال: (عليك بالصَّعِيدِ، فإنه يَكْفِيَكَ).
Dari 'Imrān bin Ḥuṣain -raḍiyallāhu 'anhumā-, bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- melihat seorang lelaki mengasingkan diri, dia tidak salat bersama orang banyak. Beliau bertanya, “Wahai fulan, apa yang menghalangimu untuk salat bersama orang-orang?” Dia menjawab, "Wahai Rasulullah, aku sedang junub dan tidak ada air (untuk bersuci)." Beliau bersabda, “Pakailah debu (tayamum) karena sesungguhnya itu cukup bagimu.”
Muttafaq 'alaihDerajatHadis sahih
Penjelasan

Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menunaikan salat Subuh bersama para sahabat. Seusai salat beliau melihat seorang lelaki tidak mengerjakan salat bersama mereka, dan karena sempurnanya kelembutan Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- serta cara dakwah beliau yang baik, beliau sama sekali tidak berlaku kasar kepadanya karena ketidak ikut sertaannya melakukan salat berjamaah hingga beliau mengetahui penyebabnya. Beliau -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bertanya, “Wahai fulan, apa yang menghalangimu salat bersama orang-orang?” Kemudian dia menjelaskan alasannya kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bahwa dirinya sedang junub dan ia tidak memiliki air, sehingga ia terpaksa menunda salat sampai menemukan air untuk bersuci. Beliau -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- lalu bersabda, “Sesungguhnya karena kemurahan-Nya, Allah -Ta'ālā- telah menjadikan bagimu sesuatu sebagai pengganti air untuk bersuci yaitu debu, maka gunakanlah debu itu, karena sesungguhnya itu cukup bagimu sebagai pengganti air."

Rujukan

الإلمام بشرح عمدة الأحكام لإسماعيل الأنصاري، ط1، دار الفكر، دمشق، 1381هـ. تيسير العلام شرح عمدة الأحكام للبسام، حققه وعلق عليه وخرج أحاديثه وصنع فهارسه: محمد صبحي بن حسن حلاق، ط10، مكتبة الصحابة، الأمارات - مكتبة التابعين، القاهرة، 1426هـ. تنبيه الأفهام شرح عمدة لأحكام لابن عثيمين، ط1، مكتبة الصحابة، الإمارات، 1426هـ. عمدة الأحكام من كلام خير الأنام صلى الله عليه وسلم لعبد الغني المقدسي، دراسة وتحقيق: محمود الأرناؤوط، مراجعة وتقديم: عبد القادر الأرناؤوط، ط2، دار الثقافة العربية، دمشق ، بيروت، مؤسسة قرطبة، 1408هـ. صحيح البخاري، تحقيق: محمد زهير بن ناصر الناصر، ط1، دار طوق النجاة (مصورة عن السلطانية بإضافة ترقيم: محمد فؤاد عبد الباقي)، 1422هـ. صحيح مسلم، تحقيق: محمد فؤاد عبد الباقي، دار إحياء التراث العربي، بيروت، 1423هـ.

Hadis ini di HadeethEnc.com

Subḥānallāh. Sesungguhnya orang mukmin itu tidak najis

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضيَ اللهُ عنه: أَنَّهُ لَقِيَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي طَرِيقٍ مِنْ طُرُقِ الْمَدِينَةِ وَهُوَ جُنُبٌ، فَانْسَلَّ فَذَهَبَ فَاغْتَسَلَ، فَتَفَقَّدَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَلَمَّا جَاءَهُ قَالَ: «أَيْنَ كُنْتَ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ؟» قَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، لَقِيتَنِي وَأَنَا جُنُبٌ فَكَرِهْتُ أَنْ أُجَالِسَكَ حَتَّى أَغْتَسِلَ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «سُبْحَانَ اللهِ، إِنَّ الْمُؤْمِنَ لَا يَنْجُسُ».
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pernah berpapasan dengannya di salah satu jalan kota Madinah, sementara saat itu dia sedang junub. Maka ia pun menyelinap pergi untuk mandi. Nabi ﷺ lalu mencarinya. Ketika ia kembali, beliau bertanya, "Ke mana saja engkau, wahai Abu Hurairah?" Ia menjawab, "Wahai Rasulullah, tadi engkau bertemu denganku sementara aku sedang junub, maka aku tidak ingin duduk bersamamu sebelum mandi." Lantas beliau bersabda, "Subḥānallāh. Sesungguhnya orang mukmin itu tidak najis."
Muttafaq 'alaihDerajatSahih
Penjelasan

Nabi ﷺ bertemu Abu Hurairah -raḍiyallāhu ‘anhu- di salah satu jalan di Madinah, sementara Abu Hurairah dalam keadaan junub. Karena begitu besar penghormatannya kepada Nabi ﷺ, ia tidak ingin untuk duduk atau berbicara dengan beliau dalam keadaan seperti itu, karena ia menyangka bahwa dirinya bernajis. Lantas ia pun diam-diam pergi, lalu mandi, kemudian kembali dan duduk bersama beliau. Lalu Nabi ﷺ bertanya kepadanya ke mana ia tadi pergi? Abu Hurairah pun memberitahu keadaannya, bahwa ia tidak ingin duduk bersamanya saat sedang bernajis karena sebab junub. Mendengar hal itu, Nabi ﷺ merasa heran, lalu berkata kepadanya, "Orang beriman itu suci, tidak najis di setiap keadaan, baik ketika hidup maupun setelah mati."

Faedah
  1. 1- Keadaan junub hanya menghalangi seseorang dari melaksanakan salat, menyentuh mushaf, dan berdiam diri di dalam masjid. Namun, tidak menghalangi untuk duduk bersama kaum muslimin dan bertemu dengan mereka. Seseorang yang sedang junub tidak menjadi bernajis karenanya.
  2. 2- Orang beriman tetap suci ketika hidup dan setelah mati.
  3. 3- Memuliakan orang-orang mulia, berilmu, dan saleh serta duduk bersama mereka dalam keadaan yang paling baik.
  4. 4- Seorang pengikut disyariatkan untuk meminta izin kepada pemimpin sebelum meninggalkan majelis. Nabi ﷺ telah menegur Abu Hurairah -raḍiyallāhu ‘anhu- lantaran pergi tanpa sepengetahuannya, karena meminta izin merupakan bagian dari adab yang baik.
  5. 5- Mengucapkan "subḥānallāh" ketika heran.
  6. 6- Bolehnya seseorang menceritakan sesuatu yang bisa membuat dirinya malu untuk suatu kepentingan.
  7. 7- Orang kafir najis, tetapi najisnya bersifat maknawi karena keburukan akidahnya.
  8. 8- Imam an-Nawawiy berkata, "Di dalam hadis ini juga terdapat pelajaran adab, yaitu apabila seorang alim (guru) melihat pada pengikutnya ada sesuatu yang dikhawatirkan menyelisihi kebenaran, maka hendaknya ia menanyakannya, kemudian menjelaskan hal yang benar serta menerangkan hukumnya. Wallāhu a'lam."
Rujukan

صحيح البخاري (1/ 65) (285). صحيح مسلم (1/ 282) (371). الإلمام بشرح عمدة الأحكام، لإسماعيل الأنصاري (1/ 46). تيسير العلام شرح عمدة الأحكام، للبسام (ص61). تنبيه الأفهام شرح عمدة الأحكام، لابن عثيمين (1/ 74).

Hadis ini di HadeethEnc.com

Tata Cara Mandi Junub

عَنْ مَيْمُونَةُ أُمِّ المؤمِنينَ رضي الله عنها قَالتْ: وَضَعْتُ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ غُسْلًا، فَسَتَرْتُهُ بِثَوْبٍ، وَصَبَّ عَلَى يَدَيْهِ، فَغَسَلَهُمَا، ثُمَّ صَبَّ بِيَمِينِهِ عَلَى شِمَالِهِ، فَغَسَلَ فَرْجَهُ، فَضَرَبَ بِيَدِهِ الأَرْضَ، فَمَسَحَهَا، ثُمَّ غَسَلَهَا، فَمَضْمَضَ وَاسْتَنْشَقَ، وَغَسَلَ وَجْهَهُ وَذِرَاعَيْهِ، ثُمَّ صَبَّ عَلَى رَأْسِهِ وَأَفَاضَ عَلَى جَسَدِهِ، ثُمَّ تَنَحَّى، فَغَسَلَ قَدَمَيْهِ، فَنَاوَلْتُهُ ثَوْبًا فَلَمْ يَأْخُذْهُ، فَانْطَلَقَ وَهُوَ يَنْفُضُ يَدَيْهِ.
Ummul Mukminin Maimunah -raḍiyallāhu 'anhā- berkata, "Aku meletakkan air mandi untuk Nabi ﷺ lalu menutupi beliau dengan kain. Beliau menuangkan air pada kedua tangannya lalu membasuhnya. Kemudian beliau menuangkan air pada tangan kirinya menggunakan tangan kanannya lalu membasuh kemaluannya. Lantas beliau menggosokkan tangannya pada tanah dan mengusapnya kemudian membasuhnya. Lantas beliau berkumur-kumur dan memasukkan air ke dalam hidung, membasuh muka dan kedua lengannya. Kemudian beliau menuangkan air di kepalanya dan meratakannya pada badannya. Kemudian beliau berpindah tempat lalu membasuh kedua kakinya. Lantas aku memberikan beliau kain, tetapi beliau tidak mengambilnya. Beliau hanya beranjak sambil mengeringkannya dengan kedua tangannya."
Muttafaq 'alaihDerajatSahih
Penjelasan

Ummul Mukminin Maimunah -raḍiyallāhu 'anhā- mengabarkan tata cara Nabi ﷺ mandi junub, yaitu ia meletakkan air untuk beliau agar digunakan mandi. Lalu ia menutupi diri beliau dengan sebuah tirai. Lantas Nabi ﷺ melakukan hal-hal berikut: Pertama: Menuangkan air pada kedua tangan lalu membasuhnya sebelum dimasukkan ke bejana. Kedua: Menuangkan air menggunakan tangan kanan pada tangan kiri lalu membasuh kemaluan untuk membersihkannya dari bekas junub yang menempel. Ketiga: Menggosokkan tangan pada tanah lantas mengusapnya kemudian membasuhnya untuk menghilangkan kotoran dari tangan. Keempat: Berkumur-kumur; yaitu memasukkan air ke mulut lalu menggerakkan dan memutarnya kemudian membuangnya, serta melakukan istinsyāq; yaitu memasukkan air ke hidung dengan tarikan napas kemudian mengeluarkannya untuk membersihkan hidung. Kelima: Membasuh muka dan kedua tangan sampai siku. Keenam: Menuangkan air ke kepala. Ketujuh: Menuang air ke seluruh tubuh. Kedelapan: Berpindah tempat lalu membasuh kedua kaki di tempat lain lantaran kaki beliau belum dibasuh sebelumnya. Kemudian Ummul Mukminin -raḍiyallāhu 'anhā- memberikan kain kepada beliau untuk mengeringkan badan, tetapi beliau tidak mengambilnya, melainkan beliau mengusap dan mengeringkan air dari badannya dengan menggunakan tangan.

Faedah
  1. 1- Perhatian para istri Nabi ﷺ tentang gambaran detail kehidupan beliau dalam rangka mengajarkan umat.
  2. 2- Tata cara mandi ini adalah salah satu cara yang diriwayatkan dari Nabi ﷺ terkait cara mandi junub yang sempurna. Adapun tata cara yang paling minimal adalah dengan meratakan air ke seluruh tubuh disertai kumur-kumur dan istinsyāq.
  3. 3- Mengeringkan badan menggunakan kain atau membiarkannya setelah mandi atau wudu hukumnya boleh.
Rujukan

صحيح البخاري (1/ 63) (276). صحيح مسلم (1/ 254) (317). تيسير العلام شرح عمدة الأحكام، للبسام (ص64). تنبيه الأفهام شرح عمدة الأحكام، لابن عثيمين (1/ 78).

Hadis ini di HadeethEnc.com

Apabila Rasulullah ﷺ mandi janabah, beliau mencuci kedua tangannya dan berwudu seperti wudu untuk salat lalu mandi

عَنْ عَائِشَةَ أُمِّ المؤمنين رضي الله عنها قَالَتْ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا اغْتَسَلَ مِنَ الجَنَابَةِ، غَسَلَ يَدَيْهِ، وَتَوَضَّأَ وُضُوءَهُ لِلصَّلاَةِ، ثُمَّ اغْتَسَلَ، ثُمَّ يُخَلِّلُ بِيَدِهِ شَعَرَهُ، حَتَّى إِذَا ظَنَّ أَنَّهُ قَدْ أَرْوَى بَشَرَتَهُ، أَفَاضَ عَلَيْهِ المَاءَ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ، ثُمَّ غَسَلَ سَائِرَ جَسَدِهِ، وَقَالَتْ: كُنْتُ أَغْتَسِلُ أَنَا وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ إِنَاءٍ وَاحِدٍ، نَغْرِفُ مِنْهُ جَمِيعًا.
Ummul Mukminin Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- berkata, "Apabila Rasulullah ﷺ mandi janabah, beliau mencuci kedua tangannya dan berwudu seperti wudu untuk salat lalu mandi. Kemudian beliau menyela-nyela rambutnya dengan tangan sampai beliau yakin telah membasahi kulit kepalanya. Beliau menyiramkan air di kepalanya sebanyak tiga kali kemudian membasuh semua tubuhnya." Aisyah juga berkata, "Aku pernah mandi bersama Rasulullah ﷺ dari satu wadah, kami menggayung air bersamaan."
HR. BukhariDerajatSahih
Penjelasan

Apabila Nabi ﷺ hendak mandi janabah, beliau mulai dengan membasuh kedua tangan. Lalu berwudu seperti wudu untuk salat dan menyiramkan air ke seluruh tubuhnya. Kemudian beliau menyela-nyela rambut kepalanya dengan kedua tangan, sampai beliau yakin air telah sampai ke pangkal rambut dan membasahi kulit kepala. Lalu beliau mengguyur kepalanya dengan air sebanyak tiga kali, kemudian membasuh bagian tubuh lainnya. Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- berkata, "Aku dan Rasulullah ﷺ pernah mandi bersama dari satu bejana, kami menggayung air bersamaan."

Faedah
  1. 1- Mandi terbagi menjadi dua: cara yang cukup dan sempurna. Mandi yang cukup adalah seseorang berniat untuk bersuci lalu meratakan air ke seluruh tubuh disertai kumur-kumur dan menghirup air ke dalam hidung. Sedangkan mandi yang sempurna ialah melakukan mandi seperti yang dipraktikkan oleh Nabi ﷺ di dalam hadis ini.
  2. 2- Istilah junub digunakan pada semua orang yang mengeluarkan mani atau berhubungan badan walaupun tidak sampai mengeluarkan mani.
  3. 3- Suami istri boleh saling melihat aurat dan mandi dari satu bejana.
Rujukan

صحيح البخاري (1/ 63) (272، 273). الإلمام بشرح عمدة الأحكام، لإسماعيل الأنصاري (1/ 48). تيسير العلام شرح عمدة الأحكام، للبسام (ص62). خلاصة الكلام شرح عمدة الأحكام، لفيصل آل مبارك (ص33).

Hadis ini di HadeethEnc.com

Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah tidak malu terhadap kebenaran. Apakah wanita wajib mandi janabah jika dia mimpi basah?" Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menjawab, "Iya, jika dia melihat air."

عن أم سلمة رضي الله عنها قالت: «جاءت أمُّ سُلَيمٍ امرأةُ أَبِي طَلحة إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم فقالت: يا رسول الله، إنَّ الله لا يَسْتَحيِي من الحَقِّ، فهل على المرأة من غُسْلٍ إِذَا هِيَ احْتَلَمَت؟ فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم : نعم، إِذَا رَأَت المَاء».
Dari Ummu Salamah -raḍiyallāhu 'anhā- ia berkata, "Ummu Sulaim, istri Abu Ṭalḥah datang kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- lalu bertanya, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah tidak malu terhadap kebenaran. Apakah wanita wajib mandi janabah jika dia mimpi basah?" Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menjawab, "Iya, jika dia melihat air."
Muttafaq 'alaihDerajatHadis sahih
Penjelasan

Ummu Sulaim Al-Anṣāriyyah -raḍiyallāhu 'anhā- pernah datang kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- untuk bertanya kepada beliau. Karena pertanyaannya berkaitan dengan kemaluan, dan itu biasanya merupakan hal yang malu untuk disebutkan, maka ia melontarkan pendahuluan untuk menyebtukan pertanyaannya sehingga kedengarannya menjadi ringan bagi para pendengar. Ia berkata, "Sesungguhnya Allah -'Azza wa Jalla- adalah Maha Benar. Dia tidak melarang untuk menyebutkan kebenaran yang malu untuk disebutkan karena rasa malu, selama penyebutan hal itu mengandung manfaat. Ketika Ummu Sulaim sudah menyebutkan pendahuluan yang membuat pertanyaannya menjadi lembut, ia pun mulai masuk ke dalam inti topik. Ia berkata, "Apakah seorang wanita wajib mandi apabila dalam tidurnya mimpi berhubungan badan?" Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menjawab, "Iya. Ia harus mandi jika dia melihat keluarnya air syahwat."

Rujukan

الإلمام بشرح عمدة الأحكام، لإسماعيل الأنصاري، ط1، دار الفكر، دمشق، 1381هـ. تيسير العلام شرح عمدة الأحكام، للبسام، حققه وعلق عليه وخرج أحاديثه وصنع فهارسه: محمد صبحي بن حسن حلاق، ط10، مكتبة الصحابة، الإمارات - مكتبة التابعين، القاهرة، 1426هـ. تنبيه الأفهام شرح عمدة الأحكام، لابن عثيمين، ط1، مكتبة الصحابة، الإمارات، 1426هـ. عمدة الأحكام من كلام خير الأنام صلى الله عليه وسلم، لعبد الغني المقدسي، دراسة وتحقيق: محمود الأرناؤوط، مراجعة وتقديم: عبد القادر الأرناؤوط، ط2، دار الثقافة العربية، دمشق، بيروت، مؤسسة قرطبة، 1408هـ. صحيح البخاري، تحقيق: محمد زهير بن ناصر الناصر، ط1، دار طوق النجاة (مصورة عن السلطانية بإضافة ترقيم: محمد فؤاد عبد الباقي)، 1422هـ. صحيح مسلم، تحقيق: محمد فؤاد عبد الباقي، دار إحياء التراث العربي، بيروت، 1423هـ.

Hadis ini di HadeethEnc.com

Aku pernah mencuci (bekas) janabah dari baju Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, lalu beliau keluar hendak salat sedang bekas (bintik-bintik) air masih membekas di baju beliau.

عن عائشة رضي الله عنها قالت: ((كُنْت أَغْسِلُ الْجَنَابَةَ مِنْ ثَوْبِ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَيَخْرُجُ إلَى الصَّلاةِ، وَإِنَّ بُقَعَ الْمَاءِ فِي ثَوْبِهِ)). وَفِي رواية: ((لَقَدْ كُنْتُ أَفْرُكُهُ مِنْ ثَوْبِ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَرْكاً، فَيُصَلِّي فِيهِ)).
Dari Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- ia berkata, "Aku pernah mencuci (bekas) janabah dari baju Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, lalu beliau keluar hendak salat sedang bekas (bintik-bintik) air masih membekas di baju beliau." Dalam riwayat lain, "Sungguh aku pernah menggaruknya dari baju Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, lalu beliau salat dengan baju itu."
Diriwayatkan oleh Muslim - Muttafaq 'alaihDerajatHadis sahih
Penjelasan

Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- mengungkapkan bahwa baju Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pernah terkena mani karena junub. Terkadang mani itu basah sehingga ia mencucinya dengan air, lalu beliau pergi salat sedangkan air belum kering dari baju beliau. Dan terkadang mani tersebut kering. Dalam keadaan ini Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- menggosoknya dengan sebenar-benarnya, lalu beliau salat dengan baju tersebut.

Rujukan

تيسير العلام شرح عمدة الأحكام، عبد الله بن عبد الرحمن البسام، تحقيق: محمد صبحي حلاق، مكتبة الصحابة، الإمارات، مكتبة التابعين، القاهرة، الطبعة: العاشرة 1426هـ - 2006م. تنبيه الأفهام شرح عمدة الأحكام، محمد بن صالح العثيمين، مكتبة الصحابة، الإمارات، الطبعة: الأولى 1426هـ - 2005م. عمدة الأحكام من كلام خير الأنام -صلى الله عليه وسلم-، لعبد الغني المقدسي، دراسة وتحقيق: محمود الأرناؤوط، مراجعة وتقديم: عبد القادر الأرناؤوط، دار الثقافة العربية، دمشق، بيروت، مؤسسة قرطبة، الطبعة: الثانية 1408ه - 1988م. صحيح البخاري، محمد بن إسماعيل البخاري الجعفي، تحقيق: محمد زهير الناصر، دار طوق النجاة (مصورة عن السلطانية بإضافة ترقيم: محمد فؤاد عبد الباقي)، الطبعة: الأولى 1422هـ. صحيح مسلم، مسلم بن الحجاج القشيري النيسابوري، تحقيق محمد فؤاد عبد الباقي، دار إحياء التراث العربي، بيروت، 1423هـ.

Hadis ini di HadeethEnc.com
8 dari 22
22 hadis
  1. Sesungguhnya Ummu Ḥabībah menderita istihadah selama tujuh tahun. Lantas ia bertanya kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengenai hal itu, maka beliau menyuruhnya untuk mandi.
  2. Janganlah sekali-kali salah seorang dari kalian kencing di air yang diam yaitu air yang tidak mengalir lalu mandi darinya!
  3. Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- melihat seorang lelaki mengasingkan diri, dia tidak salat bersama orang banyak. Beliau bertanya, “Wahai fulan, apa yang menghalangimu untuk salat bersama orang-orang?” Dia menjawab, "Wahai Rasulullah, aku sedang junub dan tidak ada air (untuk bersuci)." Beliau bersabda, “Pakailah debu (tayamum) karena sesungguhnya itu cukup bagimu.”
  4. Subḥānallāh. Sesungguhnya orang mukmin itu tidak najis
  5. Tata Cara Mandi Junub
  6. Apabila Rasulullah ﷺ mandi janabah, beliau mencuci kedua tangannya dan berwudu seperti wudu untuk salat lalu mandi
  7. Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah tidak malu terhadap kebenaran. Apakah wanita wajib mandi janabah jika dia mimpi basah?" Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menjawab, "Iya, jika dia melihat air."
  8. Aku pernah mencuci (bekas) janabah dari baju Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, lalu beliau keluar hendak salat sedang bekas (bintik-bintik) air masih membekas di baju beliau.
  9. Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menuangkan air ke kepalanya tiga kali.
  10. Siapa di antara kalian yang mau melaksanakan salat Jumat, hendaknya ia mandi
  11. Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- biasa mandi menggunakan air sisa Maimunah -raḍiyallāhu 'anhā-.
  12. Aku pernah mandi janabah bersama Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dari satu bejana ‎air, tangan kami saling bergantian mengambil air darinya.‎
  13. Cukuplah bagi kamu dengan menyiramkan air ke atas kepalamu sebanyak tiga kali, lalu kamu mengelirkan air ke ‎seluruh tubuhmu, maka kamu sudah bersuci.‎
  14. Aku pernah menuangkan air mandi kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam
  15. Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- apabila mandi janabat, beliau memulai dengan membasuh kedua tangannya lalu mengucurkan air dengan tangan kanannya ke tangan kirinya lalu membasuh kemaluannya. Selanjutnya beliau berwudu seperti wudu untuk salat.
  16. Jika salah seorang di antara kalian menggauli istrinya kemudian hendak mengulanginya lagi, maka ‎hendaklah berwudu di antara keduanya.‎
  17. Siapa berwudu hari Jum'at maka itu baik, dan siapa yang mandi maka itu lebih utama.‎
  18. Sesungguhnya sperma laki-laki itu kental berwarna putih. Sedangkan sperma wanita itu encer berwarna kuning. Siapa dari keduanya yang dominan atau lebih dahulu, maka dari situlah timbulnya kemiripan anak
  19. Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pernah tidur dalam kondisi junub menyentuh air (sebelumnya).
  20. Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menggilir istri-istrinya dengan sekali mandi junub
  21. Seorang muslim harus mandi satu hari di setiap tujuh hari, di dalamnya ia hendaknya membilas rambut dan badannya
  22. Rasulullah ﷺ membacakan kepada kami Al-Qur`an dalam segala kondisi, selama tidak junub

Setiap hadis, derajat, penjelasan, dan faedah di sini ditampilkan persis sebagaimana diterbitkan HadeethEnc.com, menurut ketentuan penerbitan ulangnya. Derajat itu tidak menyebut siapa yang menilainya. Terjemahan dan penjelasan adalah karya para penyusunnya, dan sebagian menyebutkan hukum; para peninjau Sabīl belum memeriksanya. Hadis berbahasa Arablah teksnya. Sumber: HadeethEnc.com