عن أنس بن مالك رضي الله عنه أنَّ رَجُلاً كَانَ عِند النَبِيَّ صلى الله عليه وسلم فَمَرَّ رَجُلٌ بِهِ، فقال: يا رسول الله، أنِّي لَأُحِبُّ هَذَا، فَقَال لَهُ النَبِيُّ صلى الله عليه وسلم : «أَأَعْلَمْتَهُ؟» قال: لا. قال: «أَعْلِمْهُ»، فَلَحِقَهُ، فقال: إِنِّي أُحِبُّك فِي الله، فقال: أّحَبَّك الَّذِي أَحْبَبْتَنِي لَهُ.
Dari Anas bin Malik -raḍiyallāhu 'anhu- bahwa ada seorang lelaki yang sedang berada di sisi Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Tiba-tiba ada orang yang melintasinya. Orang (yang berada di sisi beliau) berkata, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku mencintai orang ini." Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bertanya kepadanya, "Apakah engkau sudah memberitahukan padanya tentang itu?" Orang itu menjawab, "Belum." Beliau bersabda, "Beritahukan kepadanya!" Lantas orang itu menemuinya lalu berkata, "Sesungguhnya aku mencintaimu karena Allah." Orang itu menjawab, "Semoga Allah mencintaimu, Zat yang menjadikanmu mencintai aku karena-Nya."
Diriwayatkan oleh Nasā`i - Diriwayatkan oleh Abu Daud - Diriwayatkan oleh AhmadDerajatHadis sahih
Penjelasan
Hadis nabawi yang mulia ini dikemukakan sebagai penerapan dari perintah Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bahwa seseorang hendaknya memberitahu saudaranya jika dia mencintainya. .Tatkala seorang laki-laki yang duduk disamping beliau berkata, "Sesungguhnya aku mencintai pria ini." Maksudnya laki-laki lain yang lewat di hadapan mereka berdua. Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bertanya kepada Anas, "Apakah engkau sudah memberitahukan kepadanya tentang itu." Ini menunjukkan bahwa termasuk sunah, apabila seorang Muslim mencintai seseorang, hendaknya ia mengucapkan, "Sesungguhnya aku mencintaimu." Hal ini dilakukan karena kata-kata tersebut memasukkan kecintaan dalam hatinya. Sebab, manusia itu apabila mengetahui bahwa saudaranya mencintainya, dia pun mencintai saudaranya itu. Juga karena hati itu memiliki rasa saling mengenal dan berdekatan meskipun tidak diucapkan oleh lisan. Hal ini sebagaimana sabda Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, "Sesungguhnya roh-roh itu pasukan yang saling bersatu. Roh-roh yang saling kenal (simpati) akan bersatu dan roh-roh yang saling antipati, pasti akan berselisih." Tetapi jika manusia mengucapkan kecintaanya dengan lisannya, maka hal ini akan menambah kecintaan dalam hati dengan mengatakan, "Sesungguhnya aku mencintaimu karena Allah."
Rujukan
بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين، لسليم الهلالي، ط1، دار ابن الجوزي، الدمام، 1415هـ.
تطريز رياض الصالحين، للشيخ فيصل المبارك، ط1، تحقيق: عبد العزيز بن عبد الله آل حمد، دار العاصمة، الرياض، 1423هـ.
رياض الصالحين للنووي، ط1، تحقيق: ماهر ياسين الفحل، دار ابن كثير، دمشق، بيروت، 1428هـ.
رياض الصالحين، ط4، تحقيق: عصام هادي، وزارة الأوقاف والشؤون الإسلامية القطرية، دار الريان، بيروت، 1428هـ.
سنن أبي داود، تحقيق: محمد محيي الدين عبد الحميد، المكتبة العصرية، بيروت.
السنن الكبرى للنسائي، تحقيق: حسن عبد المنعم شلبي، ط1، مؤسسة الرسالة، بيروت، 1421هـ.
شرح رياض الصالحين، للشيخ ابن عثيمين، دار الوطن للنشر، الرياض، 1426هـ.
عون المعبود شرح سنن أبي داود، ومعه حاشية ابن القيم: تهذيب سنن أبي داود وإيضاح علله ومشكلاته للعظيم آبادي، ط3، دار الكتب العلمية، بيروت، 1415 هـ.
مسند الإمام أحمد بن حنبل، تحقيق: شعيب الأرنؤوط - عادل مرشد، وآخرون، إشراف: د عبد الله بن عبد المحسن التركي، ط1، مؤسسة الرسالة، 1421هـ.
نزهة المتقين شرح رياض الصالحين، لمجموعة من الباحثين، ط14، مؤسسة الرسالة، 1407هـ.
عن أبي موسى الأشعري رضي الله عنه قَالَ: قالَ رسول اللَّه -صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم-: «إِنَّ مِنْ إِجْلاَلِ الله -تَعَالَى-: إِكْرَامَ ذِي الشَّيْبَةِ المُسْلِمِ، وَحَامِلِ القُرْآنِ غَيرِ الغَالِي فِيه، وَالجَافِي عَنْه، وَإِكْرَام ذِي السُّلْطَان المُقْسِط».
Dari Abu Musa Al-Asy`ari -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Sesungguhnya di antara bentuk mengagungkan Allah -Ta'ālā- ialah menghormati orang Muslim yang tua, pembawa Alquran yang tidak berlebih-lebihan dan tidak menjauh darinya, dan menghormati penguasa yang adil."
Diriwayatkan oleh Abu DaudDerajatHadis hasan
Penjelasan
Hadis ini menunjukkan bahwa di antara cara memuliakan Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā-, mengagungkan dan menghormati-Nya ialah melakukan hal-hal yang disebutkan dalam hadis tersebut, yaitu: "Menghormati orang Muslim yang tua", yakni, mengagungkan orang yang sudah tua dalam Islam dengan cara menghormatinya di berbagai majlis, lembut, sayang kepadanya dan sebagainya. Ini merupakan bagian dari kesempurnaan mengagungkan Allah karena kehormatannya ada di sisi Allah. "Pembawa Alquran", yakni, memuliakan orang yang menghafalnya. Dinamakan pembawa karena Alquran dibawa di dalam dadanya, dan karena dia memikul kesulitan-kesulitan besar yang menambah beban beratnya. Termasuk dalam kategori ini ialah memuliakan orang yang sibuk membaca dan mengkaji tafsir Alquran. Pembawa Alquran yang disebutkan dalam hadis nabawi ini dibedakan dengan dua sifat: "Tidak guluw (ekstrem)". Guluw adalah berlebihan dan melampaui batas. Jadi yang dimaksud adalah tidak melampaui batas dalam mengamalkan Alquran, menyelidiki hal-hal yang tersembunyi di dalamnya, dan makna-makna yang samar baginya, batasan-batasan bacaannya, dan makhraj hurufnya. Ada yang berpendapat bahwa berlebihan di sini adalah berlebihan dalam tajwid atau cepat dalam membaca sehingga menghalanginya untuk merenungkan maknanya. "(Tidak) menjauh darinya", yakni, tidak menjauhkan diri dari Alquran dan berpaling dari membacanya, menerapkan hukum-hukum bacaannya, mencermati makna-maknanya, dan mengamalkan isinya. Ada yang berpendapat bahwa maksud menjauhinya adalah meninggalkan Alquran setelah mengetahuinya, apalagi jika melupakannya karena meremehkan dan berpaling darinya. Sedangkan hal terakhir yang disebutkan dalam sabda Nabi ini, yang diperintahkan untuk dimuliakan adalah "Penguasa yang adil", yakni, pemilik kekuasaan dan jabatan yang memiliki sifat adil. Memuliakannya karena kepentingan umum dan tindakan perbaikan untuk rakyatnya.
Rujukan
بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين لسليم الهلالي، ط1، دار ابن الجوزي، الدمام، 1415هـ.
تطريز رياض الصالحين للشيخ فيصل المبارك، ط1، تحقيق: عبد العزيز بن عبد الله آل حمد، دار العاصمة، الرياض، 1423 هـ.
دليل الفالحين لطرق رياض الصالحين لمحمد علي بن محمد بن علان، ط4، اعتنى بها: خليل مأمون شيحا، دار المعرفة، بيروت، 1425 هـ.
رياض الصالحين للنووي، ط1، تحقيق: ماهر ياسين الفحل، دار ابن كثير، دمشق، بيروت، 1428 هـ.
رياض الصالحين، ط4، تحقيق: عصام هادي، وزارة الأوقاف والشؤون الإسلامية القطرية، دار الريان، بيروت، 1428هـ.
سنن أبي داود، تحقيق: محمد محيي الدين عبد الحميد، المكتبة العصرية، بيروت.
عون المعبود شرح سنن أبي داود، ومعه حاشية ابن القيم: تهذيب سنن أبي داود وإيضاح علله ومشكلاته للعظيم آبادي ط3، دار الكتب العلمية، بيروت، 1415 هـ.
كنوز رياض الصالحين، مجموعة من الباحثين برئاسة حمد بن ناصر العمار، ط1، كنوز إشبيليا، الرياض، 1430هـ.
نزهة المتقين شرح رياض الصالحين لمجموعة من الباحثين، ط14، مؤسسة الرسالة، 1407هـ.
مشكاة المصابيح، للتبريزي. تحقيق الألباني. الناشر : المكتب الإسلامي - بيروت. الطبعة : الثالثة - 1405 – 1985
Abu Musa -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda, "Perumpamaan teman bergaul yang saleh dan teman bergaul yang buruk adalah bagaikan penjual minyak wangi dan pandai besi. Penjual minyak wangi itu antara dia akan memberimu atau engkau akan membeli darinya, atau paling tidak engkau bisa mendapatkan darinya aroma yang wangi. Sedangkan pandai besi, bisa jadi dia akan membakar pakaianmu atau engkau akan mendapatkan aroma tidak sedap darinya."
Muttafaq 'alaihDerajatSahih
Penjelasan
Nabi ﷺ membuat permisalan untuk dua macam manusia:
- Pertama: teman bergaul yang saleh yang membimbing kepada Allah serta amalan yang mendatangkan rida-Nya dan membantu pada ketaatan. Permisalannya seperti seorang penjual minyak wangi. Bisa jadi dia akan memberimu, atau engkau yang membeli darinya, atau engkau akan mendapatkan serta mencium aroma yang baik darinya.
- Kedua: teman bergaul yang buruk yang menghalangi dari jalan Allah dan membantu berbuat kemaksiatan. Engkau lihat padanya perbuatan buruk dan memotivasimu untuk berteman dan bergaul dengan orang semisalnya. Permisalannya seperti pandai besi yang menyalakan api. Bisa jadi dia akan membakar pakaianmu akibat bunga apinya yang beterbangan atau engkau mendapatkan darinya aroma yang tidak baik.
Faedah
1- Boleh membuat permisalan untuk memudahkan pendengar dalam memahami perkataan.
2- Anjuran dan dorongan agar bergaul dengan pelaku ketaatan dan kebaikan serta menjauhi pelaku kerusakan dan orang-orang yang berakhlak buruk.
Rujukan
صحيح البخاري (7/ 96) (5534).
صحيح مسلم (4/ 2026) (2628).
بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين، لسليم الهلالي (1/ 431).
نزهة المتقين شرح رياض الصالحين، مجموعة من الباحثين (1/ 339).
شرح النووي على مسلم (16/ 178).
عن أبي هريرة رضي الله عنه مرفوعًا: «أن رجلا زَارَ أخًا له في قرية أخرى، فأَرْصَدَ الله تعالى على مَدْرَجَتِهِ مَلَكًا، فلما أتى عليه، قال: أين تريد؟ قال: أريد أخًا لي في هذه القرية، قال: هل لك عليه من نعمةٍ تَرُبُّهَا عليه؟ قال: لا، غيرَ أني أَحْبَبْتُهُ في الله تعالى ، قال: فإني رسولُ الله إليك بأنَّ الله قد أَحَبَّكَ كما أَحْبَبْتَهُ فيه».
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- secara marfū', "Bahwasanya seorang lelaki mengunjungi saudaranya di kampung lain. Lalu Allah -Ta'ālā- mengutus seorang malaikat untuk mengawasinya di jalan. Ketika malaikat itu bertemu dengannya, ia bertanya, "Engkau mau kemana?" Orang itu menjawab, "Aku ingin menemui saudaraku di kampung ini." Malaikat bertanya, "Apakah ada satu keuntungan yang ingin engkau dapatkan darinya?" Orang itu menjawab, "Tidak. Hanya saja aku mencintainya karena Allah -Ta'ālā-." Malaikat berkata, "Sesungguhnya aku adalah utusan Allah (untuk mengabarkan) kepadamu bahwa Allah telah mencintaimu sebagaimana engkau mencintainya karena-Nya."
Diriwayatkan oleh MuslimDerajatHadis sahih
Penjelasan
Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengabarkan tentang seorang lelaki dari umat terdahulu yang mengunjungi saudaranya di kampung lain. Lantas Allah menyiapkan baginya satu malaikat di jalannya untuk menjaga dan mengawasinya. Malaikat tersebut bertanya kepada orang itu ke mana dia akan pergi? Orang itu menjawab bahwa dia pergi untuk mengunjungi saudaranya karena Allah di kampung ini. Malaikat bertanya lagi kepadanya, apakah orang itu budakmu, anakmu atau selainnya yang harus engkau beri nafkah dan kasih sayang, atau engkau punya kepentingan darinya? Orang itu menjawab, "Tidak, tetapi aku mencintainya karena Allah dan dengan kunjunganku ini aku mencari keridaan Allah." Malaikat pun memberitahunya bahwa dia adalah utusan Allah untuk mengabarkan kepadanya bahwa Allah mencintainya sebagaimana dia mencintai saudaranya karena Allah.
Rujukan
بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين، سليم بن عيد الهلالي، الدمام، دار ابن الجوزي، الطبعة: الأولى، 1415هـ.
تطريز رياض الصالحين، فيصل بن عبد العزيز المبارك، المحقق: عبد العزيز بن عبد الله آل حمد، دار العاصمة للنشر والتوزيع، الرياض، الطبعة: الأولى، 1423هـ - 2002م.
رياض الصالحين من كلام سيد المرسلين، أبو زكريا محيي الدين النووي، تحقيق ماهر الفحل، دار ابن كثير، دمشق، بيروت، الطبعة: الأولى، 1428هـ.
رياض الصالحين من كلام سيد المرسلين، أبو زكريا محيي الدين النووي، تحقيق: عصام هادي، وزارة الأوقاف والشؤون الإسلامية القطرية، دار الريان، بيروت، الطبعة: الرابعة، 1428هـ.
شرح رياض الصالحين، محمد بن صالح العثيمين، دار الوطن، الرياض، 1426هـ.
صحيح مسلم، مسلم بن الحجاج القشيري النيسابوري، تحقيق محمد فؤاد عبد الباقي، دار إحياء التراث العربي، بيروت، 1423هـ.
عن أبي إدريس الخولاني رحمه الله قال: دَخَلْتُ مَسْجِدَ دِمَشقَ، فَإِذَا فَتًى بَرَّاق الثَنَايَا وَإِذَا النَّاس مَعَه، فَإِذَا اخْتَلَفُوا فِي شَيءٍ، أَسْنَدُوهُ إِلَيهِ، وَصَدَرُوا عَنْ رَأْيِهِ، فَسَأَلْتُ عَنْهُ، فَقِيل: هَذَا مُعَاذ بْنُ جَبَلٍ رضي الله عنه فَلَمَّا كان مِنَ الغَدِ، هَجَّرتُ، فَوَجَدتُه قَدْ سَبِقَنِي بِالتَهْجِير، وَوَجَدتُهُ يُصَلِّي، فَانتَظَرتُهُ حَتَّى قَضَى صَلاَتَه، ثُمَّ جِئتُهُ مِن قِبَلِ وَجْهِهِ، فَسَلَّمْتُ عَلَيه، ثُمَّ قُلتُ: وَالله إِنِّي لَأُحِبُّكَ لِلَّه، فَقَال: آلله؟ فَقُلتُ: آلله، فقال: آللهِ؟ فقُلْتُ: آلله، فَأَخَذَنِي بَحَبْوَةِ رِدَائِي، فَجَبَذَنِي إِلَيه، فَقَال: أَبْشِر! فَإِنِّي سَمِعتُ رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: «قَالَ الله -تعَالَى-: وَجَبَت مَحَبَّتِي لِلمُتَحَابِّين فِيَّ، وَالمُتَجَالِسِينَ فِيَّ، وَالمُتَزَاوِرِينَ فِيَّ، وَالمُتَبَاذِلِينَ فِيَّ».
Dari Abu Idrīs Al-Khaulāni -raḥimahullāh- ia berkata, "Aku pernah masuk masjid Damaskus. Ternyata ada seorang pemuda yang giginya mengkilat dan orang-orang mengerumuninya. Apabila mereka berbeda pendapat, mereka menyerahkan dan meminta pertimbangannya. Lantas aku bertanya tentang pemuda itu lalu dijawab bahwa dia adalah Mu'āż bin Jabal -raḍiyallāhu 'anhu-. Pada esok harinya, pagi-pagi aku datang ke masjid tetapi pemuda itu datang lebih pagi daripadaku dan aku mendapatinya sedang salat. Aku menunggunya sampai selesai dan mendatanginya dari arah depan. Aku mengucapkan salam lalu berkata kepadanya, "Demi Allah, aku mencintaimu karena Allah." Dia berkata, "Apakah demi Allah?" Aku jawab, "Iya, demi Allah." Dia bertanya, "Apakah benar demi Allah?" Aku jawab, "Iya, demi Allah." Lantas ia menarik ujung selendangku untuk mendekatkanku kepadanya seraya berkata, "Bergembiralah! Sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Allah -Ta'ālā- berfirman, 'Kecintaan-Ku pasti diperoleh oleh orang yang saling mencintai karena-Ku,saling berkumpul karena-Ku, saling mengunjungi karena-Ku, dan saling memberi karena-Ku'."
Diriwayatkan oleh Ahmad - Diriwayatkan oleh MalikDerajatHadis sahih
Penjelasan
Hadis ini mengandung penjelasan tentang keutamaan saling mencintai karena Allah. Maksudnya semua itu dilakukan oleh kedua belah pihak. Hal ini sebagaimana ditunjukkan oleh bentuk kata "At-Tafā'ul", jika memang dimaksudkan karena mencari keridaan Allah, bukan untuk tujuan yang fana dan bukan untuk tujuan apapun. Maka ia pasti mendapatkan kecintaan Allah -Ta'ālā-. Ini merupakan balasan yang paling besar sehingga menunjukkan kemuliaannya. Dalam riwayat lain disebutkan, "Barangsiapa mencintai, membenci, memberi dan menahan, maka imannya telah sempurna." Pada perkataannya, "Aku berkata, "Demi Allah, aku mencintaimu karena Allah." Dia berkata, "Apakah benar karena Allah?" Aku jawab, "Iya, karena Allah", mengandung bukti bahwa sumpah terucap melalui lisan mereka untuk memastikan berita, dan ditegaskan dengan pengulangannya, serta permohonan penegasannya. Perkataannya, "Lantas ia menarik ujung selendangku," yang dimaksud dengan ujung selendang adalah bagian pinggirnya. Perkataannya, "Untuk mendekatkanku kepadanya," menunjukkan makna mendekatkan kepadanya dan menjadikannya akrab serta memperlihatkan penerimaan terhadap apa yang diberitakan kepadanya. Dia juga menyampaikan berita gembira dengan apa yang disabdakan oleh Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bagi orang yang melakukan perbuatan tersebut. Perkataannnya, "Bergembiralah!" maksudnya dengan apa yang sudah engkau lakukan karena sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Allah 'Azza wa Jalla berfirman," atas dasar makna penyandaran apa yang diberitakannya kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dari Rabbnya, supaya Abu Idrīs merasa yakin sehingga sempurnalah berita gembira tersebut. Sebab, ucapan tersebut berasal dari sabda Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dari Rabbnya, bukan hasil ijtihad Mu'āż -raḍiyallāhu 'anhu-. Firman Allah -'Azza wa Jalla-, "Kecintaan-Ku pasti diperoleh," maksudnya, kecintaan-Ku tetap untuk mereka. "Untuk orang yang saling mencintai karena-Ku, saling berkumpul karena-Ku," maksudnya duduknya mereka karena Zat Allah -'Azza wa Jalla- berupa saling tolong-menolong dalam mengingat Allah Ta'ālā, menegakkan hukum-hukum-Nya, memenuhi janji-Nya, melaksanakan perintah-Nya, memelihara syariat-Nya, mengikuti perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Firman Allah -Tabāraka wa Ta'ālā-, "Yang saling mengunjungi karena-Ku," maksudnya -hanya Allah yang lebih tahu- kunjungan yang dilakukan di antara mereka karena Allah dan karena Zat-Nya, mencari keridhaan-Nya berupa kecintaan karena-Nya atau saling tolong-menolong dalam menaati-Nya. Firman Allah -Tabāraka wa Ta'ālā-, "Dan yang saling memberi karena-Ku." maksudnya, mereka mengorbankan dirinya demi keridaan-Nya berupa kesepakatan untuk berjihad melawan musuhnya dan hal lainnya yang telah diperintahkan kepada mereka, serta dia memberikan hartanya jika hal itu diperlukan.
Rujukan
بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين لسليم الهلالي، ط1، دار ابن الجوزي، الدمام، 1415ه.
تطريز رياض الصالحين، للشيخ فيصل المبارك، ط1، تحقيق: عبد العزيز بن عبد الله آل حمد، دار العاصمة، الرياض، 1423هـ.
دليل الفالحين لطرق رياض الصالحين، لمحمد علي بن محمد بن علان، ط4، اعتنى بها: خليل مأمون شيحا، دار المعرفة، بيروت، 1425ه.
رياض الصالحين للنووي، ط1، تحقيق: ماهر ياسين الفحل، دار ابن كثير، دمشق، بيروت، 1428هـ.
رياض الصالحين، ط4، تحقيق: عصام هادي، وزارة الأوقاف والشؤون الإسلامية القطرية، دار الريان، بيروت، 1428هـ.
صحيح الترغيب والترهيب، لمحمد ناصر الدين الألباني، ط5، مكتبة المعارف، الرياض.
كنوز رياض الصالحين، مجموعة من الباحثين برئاسة حمد بن ناصر العمار، ط1، كنوز إشبيليا، الرياض، 1430هـ.
مسند الإمام أحمد بن حنبل، تحقيق: شعيب الأرنؤوط و عادل مرشد، وآخرون، تحت إشراف: د عبد الله بن عبد المحسن التركي، ط1، مؤسسة الرسالة، 1421هـ.
المنتقى شرح الموطأ، لأبي الوليد الباجي، ط1، مطبعة السعادة، مصر، 1332هـ.
الموطأ، للإمام مالك بن أنس، تحقيق: محمد مصطفى الأعظمي، ط1، مؤسسة زايد بن سلطان آل نهيان للأعمال الخيرية والإنسانية، الإمارات، 1425ه.
نزهة المتقين شرح رياض الصالحين لمجموعة من الباحثين، ط14، مؤسسة الرسالة، 1407هـ.
Muṣ'ab bin Sa'ad meriwayatkan, Sa'ad -raḍiyallāhu 'anhu- pernah menganggap dirinya memiliki keutamaan di atas sahabat lainnya, maka Nabi ﷺ bersabda, "Tidaklah kalian diberi pertolongan dan rezeki melainkan dengan sebab orang-orang yang lemah di antara kalian."
HR. BukhariDerajatSahih
Penjelasan
Sa'ad bin Abi Waqqāṣ -raḍiyallāhu 'anhu- menyangka dirinya lebih utama dari orang lain yang lemah disebabkan sifat keberaniannya dan semisalnya! Maka Nabi ﷺ bersabda: Tidaklah kalian dimenangkan serta diberikan rezeki kecuali dengan sebab orang-orang lemah kalian, yaitu dengan doa mereka, salat mereka, dan keikhlasan mereka. Mereka umumnya lebih ikhlas dalam berdoa dan lebih khusyuk dalam beribadah karena hati mereka tidak terikat pada kemewahan dunia.
Faedah
1- Dorongan bersikap tawaduk dan tidak mengangkat diri di atas orang lain.
2- Ibnu Ḥajar berkata, "Jika orang yang kuat lebih unggul dengan keutamaan sifat beraninya, maka orang yang lemah lebih unggul dengan keutamaan doa dan keikhlasannya."
3- Anjuran berbuat baik kepada orang miskin serta menunaikan hak mereka karena hal tersebut adalah sebab adanya rahmat dan pertolongan Allah.
Rujukan
صحيح البخاري (4/ 36) (2896).
بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين، لسليم الهلالي (1/ 354).
شرح رياض الصالحين، لابن عثيمين (3/ 111).
نزهة المتقين شرح رياض الصالحين، لمجموعة من الباحثين (1/ 279).
عن معاذ بن جبل رضي الله عنه عن رسول الله صلى الله عليه وسلم أنه قال: «قَالَ اللهُ -عَزَّ وجَلَّ-: المُتَحَابُّون فِي جَلاَلِي، لَهُم مَنَابِرُ مِن نُورٍ يَغْبِطُهُم النَبِيُّونَ والشُهَدَاء».
Dari Mu'āż bin Jabal -raḍiyallāhu 'anhu-, dari Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, bahwasanya beliau bersabda, "Allah berfirman, 'Orang-orang yang saling mencintai karena keagungan- Ku, mereka memiliki mimbar-mimbar dari cahaya yang membuat iri para Nabi dan orang-orang yang syahid."
Diriwayatkan oleh Tirmiżi - Diriwayatkan oleh AhmadDerajatHadis sahih
Penjelasan
Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengabarkan firman dari Allah tentang sekelompok kaum Mukminin pada hari kiamat kelak memiliki mimbar dan tempat duduk yang tinggi sebagai bentuk pengagungan Allah kepada mereka. Alasannya adalah karena mereka saling mencintai di jalan Allah demi memuliakan-Nya semata. Mereka saling mencintai karena disatukan oleh keimanan, sampai-sampai para Nabi -'alaihim as-salām- iri dengan kedudukan mereka. Namun, ini bukan berarti mereka lebih baik dan lebih mulia daripada para Nabi -'alaihim as-salām-, karena keutamaan khusus tidak akan bisa menandingi keutamaan yang umum.
Rujukan
بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين، لسليم الهلالي، ط1، دار ابن الجوزي، الدمام، 1415هـ.
تطريز رياض الصالحين، للشيخ فيصل المبارك، ط1، تحقيق: عبد العزيز بن عبد الله آل حمد، دار العاصمة، الرياض، 1423هـ.
جامع الترمذي، تحقيق وتعليق: أحمد محمد شاكر وآخرون، ط2، شركة مكتبة ومطبعة مصطفى البابي الحلبي، مصر، 1395هـ.
دليل الفالحين لطرق رياض الصالحين، لمحمد علي بن محمد بن علان، ط4، اعتنى بها: خليل مأمون شيحا، دار المعرفة، بيروت، 1425هـ.
رياض الصالحين للنووي، ط1، تحقيق: ماهر ياسين الفحل، دار ابن كثير، دمشق، بيروت، 1428 هـ.
رياض الصالحين، ط4، تحقيق: عصام هادي، وزارة الأوقاف والشؤون الإسلامية القطرية، دار الريان، بيروت، 1428هـ.
كنوز رياض الصالحين، مجموعة من الباحثين برئاسة حمد بن ناصر العمار، ط1، كنوز إشبيليا، الرياض، 1430هـ.
مسند الإمام أحمد بن حنبل، تحقيق: شعيب الأرنؤوط و عادل مرشد، وآخرون، تحت إشراف: د عبد الله بن عبد المحسن التركي، ط1، مؤسسة الرسالة، 1421هـ.
مشكاة المصابيح للتبريزي، تحقيق: محمد ناصر الدين الألباني، ط3، المكتب الإسلامي، بيروت، 1985م.
عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: لَقَد رَأَيت سبعين من أهل الصُّفَّةِ، مَا مِنهُم رَجُل عَلَيه رِدَاء، إِمَّا إِزَار، وإِمَّا كِسَاء، قد رَبَطوا في أعناقِهم، فمنها ما يبلغُ نصف الساقين، ومنها ما يبلغ الكعبين، فَيَجْمَعُهُ بيده كَرَاهِيَةَ أن تُرى عورَتُه.
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-, dia berkata, "Aku telah melihat tujuhpuluh orang dari kaum Ṣuffah, tidak seorang pun dari mereka mengenakan pakaian jubah, sebagian hanya memakai bawah (sarung) atau baju bagian yang mereka ikatkan di leher mereka. Ada pakaian yang sampai ke setengah betis dan ada juga yang sampai dua mata kaki. Lalu ia memegang kain itu dengan tangannya karena tidak suka auratnya terlihat."
Diriwayatkan oleh BukhariDerajatHadis sahih
Penjelasan
Ahluṣ Ṣuffah (kaum Ṣuffah) adalah para sahabat Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dari kalangan Muhajirin fakir yang meninggalkan tempat tinggal dan harta mereka di Mekkah dan berhijrah ke Madinah setelah sebelumnya menjadi negeri yang paling mereka cintai. Ahluṣ Ṣuffah berjumlah lebih dari tujuhpuluh lelaki. Ṣuffah adalah serambi yang dinaungi dan berada di ujung masjid Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Orang-orang Muhajirin yang fakir ini tidur dibawah naungan tersebut. Sedangkan pakaian yang dikenakan mereka pada musim panas dan dingin seperti disampaikan oleh Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- kepada kita dan dia sendiri salah seorang dari Ahluṣ Ṣuffah. Ia berkata, "Tak ada seorang pun di antara mereka yang mengenakan jubah, melainkan hanya kain penutup bagian bawah atau bagian atas." Jika seseorang mengenakan jubah maka ia harus mengenakan kain bawahan (sarung) di bawahnya. Ar-Rida` sekarang ini ialah Al-Badlah (seragam-jas) namanya. Juga dinamakan Ḥullah (baju). Abu Hurairah menuturkan bahwa tak seorang pun dari mereka mempunyai pakaian ini, yang ada hanya berupa kain yang menutupinya dari bagian paling atas sampai paling bawah, sekarang dikenal dengan nama Al-Malāyah (pakaian) pendek. Abu Hurairah berkata: (mereka mengikatkannya ke leher) artinya mengikatkan kain mereka ke lehernya seperti anak kecil melakukannya karena kain yang tidak cukup untuk dibentuk polanya dan digunakan, jadi ujung kainnya di lehernya -raḍiyallāhu 'anhum-. Kemudian Abu Hurairah berkata: (sebagiannya sampai ke pertengahan betis) artinya panjang kainnya dari pundak sampai ke mata kaki atau separuh betis. Kemudian dia berkata, (di antaranya ada yang sampai ke mata kaki lalu dihimpunnya dengan genggaman tangan khawatir tersingkap auratnya) artinya saat salat kainnya dihimpun hingga tak terlihat auratnya baik waktu rukuk atau sujud -raḍiyallāhu 'anhum-. Inilah keadaan kebanyakan sahabat -raḍiyallāhu 'anhu -, mereka hidup dengan kefakiran dan kekurangan, tidak terpesona dengan dunia dan perhiasannya. Bahkan setelah penaklukan negri-negri mereka tetap tak ambil pusing dengannya, eksis dengan qana'ah dan zuhud mereka sampai Allah -Ta'ālā- mewafatkan mereka.
Setiap hadis, derajat, penjelasan, dan faedah di sini ditampilkan persis sebagaimana diterbitkan HadeethEnc.com, menurut ketentuan penerbitan ulangnya. Derajat itu tidak menyebut siapa yang menilainya. Terjemahan dan penjelasan adalah karya para penyusunnya, dan sebagian menyebutkan hukum; para peninjau Sabīl belum memeriksanya. Hadis berbahasa Arablah teksnya. Sumber: HadeethEnc.com