Langsung ke konten
Hadis dengan penjelasan

Klaim dan Bukti

6 hadis

Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pernah mendengar suara gaduh orang yang sedang bersengketa di depan pintu kamarnya.

عن أُمُّ سَلَمَة رضي الله عنها أن رسول الله صلى الله عليه وسلم سَمِعَ جَلَبَةَ خَصْمٍ بِبَابِ حُجْرَتِهِ، فَخَرَجَ إلَيْهِمْ، فقال: «ألا إنما أنا بشر، وإنما يأتيني الخصم، فلعل بعضكم أن يكون أبلغ من بعض؛ فَأَحْسِبُ أَنَّهُ صَادِقٌ؛ فَأَقْضِي لَهُ، فمن قضيت له بحق مسلم فإنما هي قطعة من نار، فَلْيَحْمِلْهَا أَوْ يَذَرْهَا».
Dari Ummu Salamah -raḍiyallāhu 'anhā- bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pernah mendengar suara gaduh orang yang sedang bersengketa di depan pintu kamarnya. Lalu beliau keluar menemui mereka seraya bersabda, "Ketahuilah, sesungguhnya aku hanyalah manusia biasa. Hanya saja orang yang bersengketa datang kepadaku mengadukan perkaranya. Mungkin saja ada sebagian pihak yang lebih pandai dalam berbicara daripada pihak lainnya, sehingga aku mengira bahwa dialah yang benar lalu aku putuskan bahwa dialah yang menang. Maka, siapa yg aku menangkan perkaranya terhadap hak seorang Muslim, sesungguhnya itu merupakan sepotong api neraka, maka silakan dia membawanya atau meninggalkannya."
Muttafaq 'alaihDerajatHadis sahih
Penjelasan

Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mendengar suara-suara gaduh orang-orang yang sedang berselisih ketika terjadi perselisihan dan pertikaian di antara mereka di depan pintu (kamar) beliau. Lantas beliau keluar untuk menetapkan keputusan di antara mereka seraya bersabda, "Sesungguhnya aku hanyalah manusia biasa seperti kalian. Aku tidak mengetahui hal yang gaib dan tidak bisa memberitahukan hal-hal yang tersembunyi. Aku tidak mengetahui siapa yang benar dan bohong di antara kalian. Hanya saja orang datang kepadaku untuk mengadukan perkaranya agar aku menetapkan keputusan di antara mereka. Sedangkan keputusanku itu berdasarkan berbagai argumentasi yang aku dengar dari kedua belah pihak, bukti-bukti, dan sumpah mereka. Mungkin saja sebagian kalian ada yang lebih pandai dan bagus dalam berbicara daripada pihak lainnya, sehingga aku mengira dia orang yang jujur dan benar, padahal kebenaran -secara batin- ada di pihak lawannya. Karena itu, ketahuilah bahwa keputusanku dalam hal-hal yang tampak bukan hal-hal yang tersembunyi, sehingga tidak bisa menghalalkan yang haram. Untuk itu, jika aku memenangkan keputusan baginya atas hak seorang Muslim padahal dia tahu dirinya salah, maka sesungguhnya aku telah memberinya sepotong api neraka. Jika dia mau, silakan bawa dan jika tidak silakan tinggalkan karena hukumannya kembali kepada dirinya sendiri, dan Allah Maha Mengawasi orang-orang yang berbuat kezaliman.

Rujukan

الإلمام بشرح عمدة الأحكام، إسماعيل بن محمد الأنصاري، دار الفكر، دمشق، الطبعة: الأولى 1381هـ. تأسيس الأحكام، أحمد بن يحيى النجمي، دار علماء السلف، الطبعة: الثانية 1414هـ. تيسير العلام شرح عمدة الأحكام، عبد الله بن عبد الرحمن البسام، تحقيق: محمد صبحي حلاق، مكتبة الصحابة، الأمارات، مكتبة التابعين، القاهرة، الطبعة: العاشرة 1426هـ. عمدة الأحكام من كلام خير الأنام -صلى الله عليه وسلم- لعبد الغني المقدسي، دراسة وتحقيق: محمود الأرناؤوط، مراجعة وتقديم: عبد القادر الأرناؤوط، دار الثقافة العربية، دمشق، بيروت، مؤسسة قرطبة، الطبعة: الثانية 1408هـ. صحيح البخاري، محمد بن إسماعيل البخاري الجعفي، تحقيق: محمد زهير الناصر، دار طوق النجاة (مصورة عن السلطانية بإضافة ترقيم: محمد فؤاد عبد الباقي)، الطبعة: الأولى 1422هـ. صحيح مسلم، مسلم بن الحجاج القشيري النيسابوري، تحقيق محمد فؤاد عبد الباقي، دار إحياء التراث العربي، بيروت، الطبعة: 1423هـ.

Hadis ini di HadeethEnc.com

Siapa yang bersumpah dengan suatu sumpah secara dusta untuk merampas harta seorang muslim, niscaya ia bertemu Allah sedang Dia murka kepadanya

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ حَلَفَ عَلَى يَمِينٍ وَهُوَ فِيهَا فَاجِرٌ لِيَقْتَطِعَ بِهَا مَالَ امْرِئٍ مُسْلِمٍ، لَقِيَ اللَّهَ وَهُوَ عَلَيْهِ غَضْبَانُ». قَالَ: فَقَالَ الْأَشْعَثُ: فِيَّ وَاللَّهِ كَانَ ذَلِكَ؛ كَانَ بَيْنِي وَبَيْنَ رَجُلٍ مِنَ الْيَهُودِ أَرْضٌ، فَجَحَدَنِي، فَقَدَّمْتُهُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَلَكَ بَيِّنَةٌ؟» قُلْتُ: لَا. قَالَ: فَقَالَ لِلْيَهُودِيِّ: «احْلِفْ». قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِذَنْ يَحْلِفَ وَيَذْهَبَ بِمَالِي. فَأَنْزَلَ اللَّهُ تَعَالَى: {إِنَّ الَّذِينَ يَشْتَرُونَ بِعَهْدِ اللَّهِ وَأَيْمَانِهِمْ ثَمَنًا قَلِيلًا}. إِلَى آخِرِ الْآيَةِ.
Abdullah bin Mas'ūd -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ bersabda, "Siapa yang bersumpah dengan suatu sumpah secara dusta untuk merampas harta seorang muslim, niscaya ia bertemu Allah sedang Dia murka kepadanya." Al-Asy'aṡ berkata, "Demi Allah! Hal itu terjadi padaku. Saat itu, antara aku dengan seorang laki-laki Yahudi terjadi sengketa sebidang tanah, tetapi dia mengingkari hakku. Maka aku membawanya kepada Nabi ﷺ, lalu Rasulullah ﷺ berkata kepadaku, 'Apakah engkau memiliki bukti?' Aku menjawab, 'Tidak.' Sehingga beliau berkata kepada Yahudi itu, 'Bersumpahlah.' Aku mengatakan, 'Wahai Rasulullah! Kalau begitu, dia akan bersumpah dan mengambil hartaku.' Maka Allah Ta'ala menurunkan ayat: 'Sesungguhnya orang-orang yang menukar perjanjiannya terhadap Allah dan sumpah-sumpah mereka dengan harga yang sedikit ....'" (QS. Āli 'Imrān :77)
Muttafaq 'alaihDerajatSahih
Penjelasan

Nabi ﷺ memberi peringatan agar tidak bersumpah dengan nama Allah pada suatu sumpah sementara orang yang bersumpah tahu bahwa ia berdusta di dalamnya untuk mengambil harta milik orang lain karena ia akan menjumpai Allah dalam kondisi dimurkai-Nya. Lalu al-Asy'aṡ bin Qais -raḍiyallāhu 'anhu- menuturkan bahwa Nabi ﷺ mengucapkan hal itu ketika terjadi sengketa antara dia dan seorang laki-laki Yahudi terkait kepemilikan tanah, lalu keduanya pergi mencari keputusan kepada Nabi ﷺ. Beliau bertanya kepada al-Asy'aṡ: Kamu harus menghadirkan bukti untuk menetapkan apa yang kamu klaim. Jika kamu tidak bisa mendatangkan bukti, maka kamu hanya menunggu sumpah lawanmu yang kamu laporkan. Al-Asy'aṡ berkata: Wahai Rasulullah! Kalau begitu, laki-laki Yahudi ini akan bersumpah dengan bersikap tidak warak sehingga ia mengambil hartaku. Maka Allah Ta'ala menurunkan ayat dalam Al-Qur`an yang membenarkan hal itu: "(Sesungguhnya orang-orang yang memperjualbelikan), yakni menukar .. (janji Allah), yaitu wasiat Allah kepada orang beriman agar menunaikan amanah .. (dan sumpah-sumpah mereka), yaitu sumpah mereka dengan nama Allah secara dusta .. (dengan harga murah), berupa kenikmatan dunia .. (mereka itu tidak memperoleh bagian di akhirat), serta tidak pula mendapat jatah .. (Allah tidak akan menyapa mereka) dengan ucapan yang menyenangkan dan bermanfaat untuk mereka, tetapi Allah marah kepada mereka .. (tidak akan memandang mereka pada hari Kiamat) dengan pandangan rahmat dan kebaikan .. (dan tidak akan menyucikan mereka) dengan pujian yang baik serta tidak akan membersihkan mereka dari dosa dan kesalahan melalui ampunan .. (Bagi mereka azab yang pedih), yaitu azab yang menyakitkan disebabkan kesalahan yang mereka perbuat."

Faedah
  1. 1- Larangan mengambil harta orang lain dengan cara yang batil.
  2. 2- Mempertegas hak kaum muslimin pada sesuatu yang sedikit maupun banyak.
  3. 3- Bukti didatangkan oleh orang yang menuduh dan sumpah diucapkan oleh orang yang dituduh jika ia mengingkari.
  4. 4- Terbuktinya suatu hak dengan menghadirkan dua saksi. Jika orang yang menuduh tidak memiliki bukti maka hak itu menjadi milik orang yang tertuduh melalui sumpahnya.
  5. 5- Haramnya sumpah al-gamūs, yaitu sumpah dusta yang digunakan untuk merampas hak orang lain. Perbuatan ini termasuk dosa besar yang menjerumuskan pelakunya pada murka dan siksa Allah Ta'ala.
  6. 6- Nasihat seorang hakim kepada pihak-pihak yang bersengketa, terutama ketika hendak bersumpah.
Rujukan

صحيح البخاري (3/ 121) (2416). صحيح مسلم (1/ 123) (138). الإلمام بشرح عمدة الأحكام، لإسماعيل الأنصاري (2/ 136). تيسير العلام شرح عمدة الأحكام، للبسام (ص687). فتاوى اللجنة الدائمة - اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء (23/ 513).

Hadis ini di HadeethEnc.com

Ada dua orang wanita bersama dua orang anaknya, kemudian seekor serigala datang mengambil salah satu dari anak keduanya.

عن أبي هريرة رضي الله عنه : أنه سمع رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: كانت امرأتان معهما ابناهما، جاء الذئب فذهب بابن إحداهما، فقالت لصاحبتها: إنما ذهب بابنك، وقالت الأخرى: إنما ذهب بابنك، فتحاكما إلى داود صلى الله عليه وسلم فقضى به للكبرى، فخرجتا على سليمان بن داود صلى الله عليه وسلم فأخبرتاه، فقال: ائتوني بالسكين أَشُقُّهُ بينهما، فقالت الصغرى: لا تفعل! رحمك الله، هو ابنها، فقضى به للصغرى.
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-, bahwasanya dia mendengar Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, “Ada dua orang wanita bersama dua orang anaknya, kemudian seekor serigala datang mengambil salah satu dari anak keduanya. Kemudian salah satu dari mereka berkata kepada yang lainnya, “Serigala itu pergi dengan membawa anakmu.” Dan yang lainnya berkata, “Serigala itu pergi dengan membawa anakmu.” Lalu keduanya pergi menemui Nabi Daud -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- untuk mengadukan hal tersebut, kemudian beliau memutuskan bahwa anak tersebut milik wanita yang lebih tua. Lalu keduanya menemui Sulaiman bin Daud -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dan menyampaikan kejadian tersebut kepadanya. Kemudian beliau (Sulaiman) berkata, “Berikanlah kepadaku sebilah pisau agar aku dapat membelah anak ini dan membaginya di antara mereka berdua.” Lalu wanita muda berkata, “Jangan engkau lakukan! Semoga Allah merahmatimu, dia adalah anaknya (wanita tua)." Kemudian beliaupun memutuskan bahwa anak tersebut adalah anak wanita muda.
Muttafaq 'alaihDerajatHadis sahih
Penjelasan

Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menceritakan kepada kita kisah dua orang wanita yang pergi bersama dengan kedua anak mereka, lalu seekor serigala datang memakan salah satu anak dari keduanya dan anak satunya tetap selamat. Kemudian masing-masing berkata bahwa yang selamat tersebut adalah anakku. Mereka berdua pergi menghadap Nabi Daud -'alaihis salām- untuk mengadukan perselisihan tersebut, lalu beliau memutuskan bahwa anak tersebut adalah anak wanita yang lebih tua berdasarkan ijtihadnya; karena wanita yang tua mungkin sudah tidak dapat melahirkan lagi. Adapun wanita yang masih muda, masih mungkin bisa melahirkan anak kembali dikemudian hari. Lalu mereka berdua pergi menghadap Nabi Sulaiman bin Daud -'alaihimas salām-, kemudian keduanya menceritakan kejadiannya, lalu beliau meminta sebilah pisau dan berkata, “Aku akan membelah anak ini menjadi dua bagian untuk dibagikan kepada kalian berdua.” Wanita yang tua menerima hal tersebut, sedangkan wanita yang muda menolaknya dan berkata, “Ia adalah anak dari wanita tua itu.” Wanita muda tersebut diliputi oleh rasa belas kasihan dan kasih sayang karena anak yang akan dibagi dua tersebut adalah benar-benar anaknya sehingga dia berkata, “Dia adalah anaknya wahai Nabi Allah.” Akhirnya Nabi Sulaiman -'alaihis salām- memutuskan bahwa anak tersebut adalah anak dari wanita muda dengan bukti bahwa ia menyayangi anak tersebut dan berkata bahwa anak tersebut adalah anak wanita tua itu agar ia tetap hidup, dan itu lebih ringan baginya daripada dibelah menjadi dua bagian, maka beliaupun memutuskan bahwa anak tersebut adalah milik wanita yang muda.

Rujukan

نزهة المتقين شرح رياض الصالحين، نشر: مؤسسة الرسالة، الطبعة: الرابعة عشر، 1407هـ - 1987م. شرح رياض الصالحين، لابن عثيمين، نشر: دار الوطن للنشر، الرياض، 1426هـ. بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين، للهلالي، نشر: دار ابن الجوزي. صحيح البخاري، نشر: دار طوق النجاة (مصورة عن السلطانية بإضافة ترقيم محمد فؤاد عبد الباقي)، الطبعة: الأولى، 1422هـ. صحيح مسلم، تحقيق: محمد فؤاد عبد الباقي، نشر: دار إحياء التراث العربي – بيروت.

Hadis ini di HadeethEnc.com

Jika semua orang dipenuhi tuntutannya, niscaya akan ada orang-orang yang menuntut harta dan darah suatu kaum. Akan tetapi, bukti harus diajukan oleh yang menuntut dan sumpah diucapkan oleh yang mengingkari

عَن ابنِ عباسٍ رضي الله عنهما أنَّ رسولَ اللهِ صلي الله عليه وسلم قال: «لَو يُعطَى النّاسُ بدَعواهُم لادَّعَى رِجالٌ أموالَ قَومٍ ودِماءَهُم، ولَكِنَّ البَيِّنَةَ على المُدَّعِى، واليَمينَ على مَن أنكَرَ».
Ibnu 'Abbās -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan, bahwa Nabi ﷺ bersabda, "Jika semua orang dipenuhi tuntutannya, niscaya akan ada orang-orang yang menuntut harta dan darah suatu kaum. Akan tetapi, bukti harus diajukan oleh yang menuntut dan sumpah diucapkan oleh yang mengingkari."
HR. BaihaqiDerajatSahih
Penjelasan

Nabi ﷺ menerangkan bahwa kalau tuntutan semua orang dipenuhi hanya dengan adanya tuntutan mereka yang tanpa bukti dan indikator, maka orang-orang akan menuntut harta dan darah orang lain secara serampangan. Tetapi, orang yang menuntut wajib mengajukan bukti dan dalil tuntutannya. Jika ia tidak memiliki bukti, tuntutan tersebut dipaparkan kepada orang yang dituntut; apabila ia mengingkarinya maka ia harus bersumpah dan ia bebas.

Faedah
  1. Ibnu Daqīq Al-'Īd berkata, "Hadis ini adalah salah satu pondasi besar hukum syariat dan merupakan solusi ketika terjadi silang pendapat dan perseteruan."
  2. 1- Syariat datang untuk melindungi harta dan darah manusia agar tidak dipermainkan.
  3. 2- Seorang hakim tidak boleh memutuskan dengan dasar pengetahuan (pribadi)nya, tetapi ia harus kembalikan pada bukti-bukti.
  4. 3- Semua orang yang melakukan klaim tanpa bukti maka klaimnya itu ditolak, baik dalam perkara hak dan muamalah ataupun dalam perkara-perkara keimanan dan ilmu.
Rujukan

السنن الكبرى للبيهقي تحقيق التركي (21/ 242 - 243) (21243). التحفة الربانية في شرح الأربعين حديثًا النووية (ص76). شرح الأربعين النووية، لابن عثيمين (ص328). فتح القوي المتين في شرح الأربعين وتتمة الخمسين، لعبد المحسن البدر (ص114).

Hadis ini di HadeethEnc.com

Tidaklah seseorang bersumpah di dekat mimbarku ini dengan sumpah yang mengandung dosa, sekalipun pada siwāk yang masih hijau, melainkan dia akan mengambil tempatnya di neraka.

عن جابر بن عبد الله قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : «لا يحْلِفُ أحدٌ عند مِنْبَرِي هذا على يَمينٍ آثِمَة، ولو على سِواكٍ أَخْضَرَ، إلا تَبَوَّأَ مَقْعَدَه مِن النار -أو وَجَبَتْ له النار-».
Jābir bin Abdullah berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Janganlah seseorang bersumpah di dekat mimbarku ini dengan sumpah yang mengandung dosa, sekalipun pada siwāk yang masih hijau, melainkan dia akan mengambil tempatnya di neraka -atau ia pasti masuk neraka-."
Diriwayatkan oleh Ibnu Mājah - Diriwayatkan oleh Abu Daud - Diriwayatkan oleh Ahmad - Diriwayatkan oleh MalikDerajatHadis sahih
Penjelasan

Di dalam hadis ini, Jābir -raḍiyallāhu 'anhu- mengabarkan bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menjelaskan besarnya dosa orang yang bersumpah di sisi mimbar beliau -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- yang ada di masjid beliau dengan sumpah yang dusta, sekalipun isi sumpahnya tentang sesuatu yang sepele. Alasannya, karena tempat ini adalah lokasi yang agung bagi beliau -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dan tempat mengingat-ingat apa yang pernah beliau sampaikan di atas mimbar ini, namun orang ini melakukan kebalikan semua hal ini di tempat tersebut; maka dia pun pantas mendapatkan ancaman ini. Sumpah bohong akan mendatangkan murka bila itu terjadi, namun perbuatan ini bila dilakukan di lokasi yang mulia maka dosanya akan lebih besar.

Rujukan

- سنن أبي داود، ت: محمد محي الدين, المكتبة العصرية. - سنن ابن ماجه، المؤلف: ت: محمد فؤاد عبد الباقي, دار إحياء الكتب العربية. - مسند أحمد، تحقيق شعيب الأرنؤوط، الناشر: مؤسسة الرسالة الطبعة : الأولى ، 1421 هـ - 2001 م. -موطأ الإمام مالك, مالك بن أنس بن مالك بن عامر الأصبحي المدني, صححه ورقمه وخرج أحاديثه وعلق عليه: محمد فؤاد عبد الباقي, دار إحياء التراث العربي، بيروت – لبنان, عام النشر: 1406 هـ - 1985. - إرواء الغليل في تخريج أحاديث منار السبيل للألباني , المكتب الإسلامي الطبعة: الثانية 1405 هـ. - شرح الطيبي على مشكاة المصابيح المسمى بـ (الكاشف عن حقائق السنن) المؤلف: شرف الدين الحسين بن عبد الله الطيبي, ت: د. عبد الحميد هنداوي, مكتبة نزار مصطفى الباز, الطبعة: الأولى، 1417 هـ. - تسهيل الإلمام بفقه الأحاديث من بلوغ المرام، تأليف: صالح بن فوزان بن عبد الله الفوزان، الطبعة: الأولى، 1427 هـ 2006 م. - منحة العلام في شرح بلوغ المرام، لعبد الله الفوزان. دار ابن الجوزي. ط1 1428هـ. - فتح ذي الجلال والاكرام بشرح بلوغ المرام، للشيخ ابن عثيمين، المكتبة الإسلامية - الطبعة الأولى 1427. - توضِيحُ الأحكَامِ مِن بُلوُغ المَرَام، للبسام. مكتَبة الأسدي، مكّة المكرّمة، الطبعة: الخامِسَة، 1423 هـ. - عون المعبود شرح سنن أبي داود، للعظيم آبادي دار الكتب العلمية - بيروت, الطبعة: الثانية، 1415 هـ. - مرقاة المفاتيح شرح مشكاة المصابيح للقاري، دار الفكر، بيروت، الطبعة: الأولى، 1422هـ. - البدرُ التمام شرح بلوغ المرام للمَغرِبي, ت: علي بن عبد الله الزبن, دار هجر, الطبعة: الأولى 1428 هـ.

Hadis ini di HadeethEnc.com

Jika semua orang dipenuhi tuntutannya, niscaya akan ada orang-orang yang menuntut harta dan darah suatu kaum. Akan tetapi, bukti harus diajukan oleh yang menuntut dan sumpah diucapkan oleh yang mengingkari

عَن ابنِ عباسٍ رضي الله عنهما أنَّ رسولَ اللهِ صلي الله عليه وسلم قال: «لَو يُعطَى النّاسُ بدَعواهُم لادَّعَى رِجالٌ أموالَ قَومٍ ودِماءَهُم، لَكِنَّ البَيِّنَةَ على المُدَّعِى، واليَمينَ على مَن أنكَرَ».
Ibnu 'Abbās -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan, bahwa Nabi ﷺ bersabda, "Jika semua orang dipenuhi tuntutannya, niscaya akan ada orang-orang yang menuntut harta dan darah suatu kaum (secara serampangan). Akan tetapi, bukti harus diajukan oleh yang menuntut, sedangkan sumpah harus diucapkan oleh yang mengingkari."
HR. Baihaqi dan lainnya seperti ini, sedang sebagiannya dalam Aṣ-ṢaḥīḥainDerajatHasan
Penjelasan

Nabi ﷺ menerangkan bahwa kalau tuntutan semua orang dipenuhi hanya dengan adanya tuntutan mereka yang tanpa bukti dan indikator, maka orang-orang akan menuntut harta dan darah orang lain secara serampangan. Tetapi, orang yang menuntut wajib mengajukan bukti dan dalil tuntutannya. Jika ia tidak memiliki bukti, tuntutan tersebut dipaparkan kepada orang yang dituntut; apabila ia mengingkarinya maka ia harus bersumpah dan ia bebas.

Faedah
  1. Ibnu Daqīq Al-'Īd berkata, "Hadis ini adalah salah satu pondasi besar hukum syariat dan merupakan solusi ketika terjadi silang pendapat dan perseteruan."
  2. 1- Syariat datang untuk melindungi harta dan darah manusia agar tidak dipermainkan.
  3. 2- Seorang hakim tidak boleh memutuskan dengan dasar pengetahuan (pribadi)nya, tetapi ia harus kembalikan pada bukti-bukti.
  4. 3- Semua orang yang melakukan klaim tanpa bukti maka klaimnya itu ditolak, baik dalam perkara hak dan muamalah ataupun dalam perkara-perkara keimanan dan ilmu.
Rujukan

السنن الكبرى للبيهقي تحقيق التركي (21/ 242 - 243) (21243). التحفة الربانية في شرح الأربعين حديثًا النووية (ص76). شرح الأربعين النووية، لابن عثيمين (ص328). فتح القوي المتين في شرح الأربعين وتتمة الخمسين، لعبد المحسن البدر (ص114).

Hadis ini di HadeethEnc.com

Setiap hadis, derajat, penjelasan, dan faedah di sini ditampilkan persis sebagaimana diterbitkan HadeethEnc.com, menurut ketentuan penerbitan ulangnya. Derajat itu tidak menyebut siapa yang menilainya. Terjemahan dan penjelasan adalah karya para penyusunnya, dan sebagian menyebutkan hukum; para peninjau Sabīl belum memeriksanya. Hadis berbahasa Arablah teksnya. Sumber: HadeethEnc.com