عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم جاءه أعرابي فقال: يا رسول الله، إن امرأتي ولدت غلاما أسود، فقال: «هل لك من إبل» قال: نعم، قال: «ما ألوانها» قال: حمر، قال: «هل فيها من أَوْرَقَ» قال: نعم، قال: «فأنى كان ذلك» قال: أراه عرق نزعه، قال: «فلعل ابنك هذا نَزَعَهُ عِرْقٌ»
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- didatangi orang Arab baduwi, lalu orang itu berkata, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya istriku telah melahirkan seorang anak (berkulit) hitam." Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Apakah kamu mempunyai unta?" Orang itu menjawab, "Ya." Beliau bertanya, "Apa warnanya?" Orang itu menjawab, "Kemerah-merahan." Beliau bertanya, "Apakah di kulitnya ada warna abu-abu?" Orang itu menjawab, "Di unta itu ada warna abu-abu." Beliau bertanya, "Dari mana warna itu?" Orang itu menjawab, "Mungkin saja dari faktor keturunan." Beliau bersabda, "Anakmu juga mungkin ditarik faktor keturunan (genetik)."
Muttafaq 'alaihDerajatHadis sahih
Penjelasan
Seorang lelaki dari kabilah Fizārah dianugerahi anak yang warna (kulitnya) berbeda dengan warna bapak dan ibunya. Timbullah keraguan dalam diri sang bapak terhadap anak tersebut. Lantas ia pun mendatangi Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dengan menuduhan istrinya berzina secara tidak langsung, dan ia mengabarkan kepada beliau bahwa dirinya mendapatkan anak yang (berkulit) hitam. Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- faham maksud pemberitahuan orang itu, maka beliau pun bermaksud untuk menjadikan orang itu puas dan menghilangkan was-was (bisikan jahat). Lantas beliau membuat suatu perumpamaan dengan sesuatu yang sudah diketahui dan akrab. Beliau bertanya, "Apakah engkau mempunyai unta?" Orang itu menjawab, "Ya." Beliau bertanya, "Apa warnanya?" Orang itu menjawab, "Kemerah-merahan." Beliau bertanya, "Apakah di kulitnya ada warna abu-abu yang berbeda dengan warna unta itu?" Orang itu menjawab, "Ya, di unta itu ada warna abu-abu." Beliau bertanya, "Dari mana asal warna itu sehingga berbeda dengan warna unta itu?" Orang itu menjawab, "Mungkin saja dari pengaruh gen keturunan dan berasal dari induk-induknya serta nenek-moyangnya." Beliau bersabda, "Demikian juga anakmu. Mungkin saja di antara bapak dan kakek-kekekmu ada yang (berkulit) hitam sehingga mewarnai anakmu." Orang itu pun puas dengan analogi lurus ini dan lenyaplah segala lintasan pikiran dalam jiwanya.
Rujukan
صحيح البخاري ،عناية محمد زهير الناصر، دار طوق النجاة، الطبعة الأولى، 1422هـ.
صحيح مسلم؛ حققه ورقمه محمد فؤاد عبد الباقي، دار عالم الكتب-الرياض، الطبعة الأولى، 1417هـ.
- الإلمام بشرح عمدة الأحكام للشيخ إسماعيل الأنصاري-مطبعة السعادة-الطبعة الثانية 1392ه.
-تيسير العلام شرح عمدة الأحكام-عبد الله البسام-تحقيق محمد صبحي حسن حلاق- مكتبة الصحابة- الشارقة- الطبعة العاشرة- 1426ه.
Hadis ini di HadeethEnc.comعن عائشة رضي الله عنها : أن رسول الله صلى الله عليه وسلم دخل عليَّ مسرورًا تبرُقُ أسارِيرُ وجهه. فقال: ألم تَرَيْ أن مُجَزِّزًا نظر آنفًا إلى زيد بن حارثة وأسامة بن زيد، فقال: إن بعض هذه الأقدام لمن بعض».
وفي لفظ: «كان مجزِّزٌ قائفًا».
Dari Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā-, bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- masuk menemuiku dalam keadaan riang dan wajahnya berseri-seri seraya berkata: "Tahukah kamu bahwa Mujazziz tadi memperhatikan Zaid bin Ḥāriṡah dan Usāmah bin Zaid kemudian ia mengatakan, "Sesungguhnya kaki-kaki ini berasal dari keturunan yang satu." Dalam riwayat lain: "Mujazziz adalah seorang qāif (ahli jejak kaki dan pertalian nasab).
Muttafaq 'alaihDerajatHadis sahih
Penjelasan
Dahulu Zaid bin Ḥāriṡah berkulit putih sedangkan anaknya Usāmah berkulit sawo matang. Karena perbedaan warna kulit ini, orang-orang meragukan nasab Usāmah kepada Zaid dan berkomentar miring tentang mereka. Hal ini menyebabkan Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- merasa terganggu. Pada suatu saat Mujazziz al-Madlaji, ahli jejak kaki dan pertalian nasab, melewati keduanya ketika mereka berdua sedang berselimut dan menutup kepala mereka sedangkan kaki mereka berdua terlihat. Lantas diapun berkata, "Sesungguhnya kaki-kaki ini berasal dari keturunan yang satu" karena ia melihat kemiripan kaki-kaki tersebut. Perkataan qāif ini didengar oleh Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- maka beliau pun sangat gembira, sampai beliau masuk menemui Aisyah sedang wajahnya masih berseri-seri karena rasa senang dan gembira dengan kebenaran tali nasab Usāmah kepada bapaknya Zaid, juga untuk membantah gosip orang-orang yang membicarakan kehormatan orang lain tanpa ilmu.
Rujukan
- صحيح البخاري –الجامع الصحيح-؛ للإمام أبي عبد الله محمد بن إسماعيل البخاري، عناية محمد زهير الناصر، دار طوق النجاة، الطبعة الأولى، 1422هـ.
- صحيح مسلم؛ للإمام مسلم بن الحجاج، حققه ورقمه محمد فؤاد عبد الباقي، دار عالم الكتب-الرياض، الطبعة الأولى، 1417هـ.
- الإلمام بشرح عمدة الأحكام للشيخ إسماعيل الأنصاري-مطبعة السعادة-الطبعة الثانية 1392ه.
- تيسير العلام شرح عمدة الأحكام-عبد الله البسام-تحقيق محمد صبحي حسن حلاق- مكتبة الصحابة- الشارقة- الطبعة العاشرة- 1426ه.
Hadis ini di HadeethEnc.comعن عبد الله بن عمر رضي الله عنها : أن رجلا اتهم امرأته بالزنا، ونفى كون ولدها منه في زمن رسول الله صلى الله عليه وسلم فأمرهما رسول الله صلى الله عليه وسلم فتلاعنا، كما قال الله تعالى، ثم قضى بالولد للمرأة، وفرق بين المتلاعنين
Dari Abdullah bin Umar -raḍiyallāhu 'anhumā-, "Bahwa seorang suami menuduh istrinya berzina dan ia menyangkal anak istrinya itu dari bibitnya pada masa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Lantas beliau memerintahkan kepada keduanya untuk saling melemparkan laknat, sebagaimana firman Allah Ta'ālā. Selanjutnya beliau menetapkan anak itu milik istrinya dan memisahkan antara dua orang yang saling melaknat (pasangan itu)."
Muttafaq 'alaihDerajatHadis sahih
Penjelasan
Dalam hadis ini, Abdullah bin Umar -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan bahwa ada seorang lelaki yang menuduh istrinya berzina dan ia menyangkal anak itu dari bibitnya serta melepaskan diri darinya. Ternyata istrinya menganggap dusta dakwaan lelaki itu dan tidak mengakui dirinya berzina. Lantas keduanya saling melaknat, yaitu dengan cara suami bersaksi kepada Allah -Ta'ālā- sebanyak empat kali bahwa dirinya benar dalam tuduhan terhadap istrinya dan dalam kesaksian yang kelima ia melaknat dirinya. Setelah itu istrinya bersaksi dengan nama Allah sebanyak empat kali bahwa suaminya pendusta, dan dalam kesaksian yang kelima ia mendoakan kemurkaan terhadap dirinya. Setelah li'an (saling laknat) selesai di antara keduanya, Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pun memisahkan antara keduanya untuk selama-lamanya. Beliau menjadikan anak itu mengikuti istri, bernasab kepadanya, dan terputus dari suami, tanpa ada sambungan nasab kepadanya.
Rujukan
- صحيح البخاري -الجامع الصحيح-؛ للإمام أبي عبد الله محمد بن إسماعيل البخاري، عناية محمد زهير الناصر، دار طوق النجاة، الطبعة الأولى، 1422هـ.
- صحيح مسلم؛ للإمام مسلم بن الحجاج، حققه ورقمه محمد فؤاد عبد الباقي، دار عالم الكتب-الرياض، الطبعة الأولى، 1417هـ.
- الإلمام بشرح عمدة الأحكام للشيخ إسماعيل الأنصاري-مطبعة السعادة-الطبعة الثانية 1392ه.
- تيسير العلام شرح عمدة الأحكام-عبد الله البسام-تحقيق محمد صبحي حسن حلاق- مكتبة الصحابة- الشارقة- الطبعة العاشرة- 1426ه.
- خلاصة الكلام شرح عمدة الأحكام- فيصل بن عبد العزيز بن فيصل ابن حمد المبارك الحريملي النجدي - الطبعة: الثانية، 1412 هـ - 1992 م.
Hadis ini di HadeethEnc.comعن عبد الله بن عمر رضي الله عنهما مرفوعاً: «أن فلان بن فلان قال: يا رسول الله، أرأيت أن لو وجد أحدنا امرأته على فاحشة، كيف يصنع؟ إن تكلم تكلم بأمر عظيم، وإن سَكَتَ سَكَتَ على مثل ذلك.
قال: فسكت النبي صلى الله عليه وسلم فلم يُجبه.
فلما كان بعد ذلك أتاه فقال: إن الذي سألتك عنه قد ابتليت به. فأنزل الله عز وجل هؤلاء الآيات في سورة النور ?والذين يرمون أزواجهم...? فتلاهن عليه ووعظه وذكره. وأخبره أن عذاب الدنيا أهون من عذاب الآخرة. فقال: لا، والذي بعثك بالحق، ما كذبتُ عليها. ثم دعاها، فوعظها، وأخبرها: أن عذاب الدنيا أهون من عذاب الآخرة. فقالت: لا، والذي بعثك بالحق، إنه لكاذب. فبدأ بالرجل؛ فشهد أربع شهادات بالله: إنه لمن الصادقين، والخامسة: أن لعنة الله عليه إن كان من الكاذبين. ثم ثَنَّى بالمرأة. فشهدت أربع شهادات بالله: إنه لمن الكاذبين، والخامسة: أن غضب الله عليها إن كان من الصادقين. ثم فرق بينهما.
ثم قال: إن الله يعلم أن أحدكما كاذب فهل منكما تائب؟ -ثلاثا-»، وفي لفظ «لا سبيل لك عليها. قال: يا رسول الله، مالي؟ قال: لا مال لك: إن كنت صدقت عليها فهو بما استحللت من فرجها، وإن كنت كذبت فهو أبعد لك منها».
Dari Abdullah bin Umar -raḍiyallāhu 'anhu-ma secara marfū', "Sesungguhnya fulan bin fulan berkata, "Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu jika seseorang dari kami menemukan istrinya dalam kekejian, apa yang harus dia lakukan? Jika dia berbicara, tentu dia berbicara tentang perkara yang besar. Jika diam, maka ia diam terhadap perkara yang besar pula." Abdullah bin Umar berkata, "Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- diam tidak menjawabnya."
Beberapa saat setelah itu, dia mendatangi beliau dan berkata, "Sesungguhnya perkara yang telah kutanyakan kepada anda (tempo hari), benar-benar telah menimpaku." Lantas Allah -'Azza wa Jalla- menurunkan ayat-ayat yang tersebut dalam surah An-Nūr. "Dan orang-orang yang menuduh istri-istrinya..." Beliau membacakan ayat-ayat tersebut kepadanya, menasehatinya dan mengingatkannya serta memberitahunya bahwa azab dunia lebih ringan dari azab akhirat. Orang itu berkata, "Tidak, demi Zat yang mengutusmu dengan kebenaran, aku tidak berdusta tentang dia." Lantas beliau memanggil istri orang tersebut, menasehatinya dan mengabarkan kepadanya bahwa siksa dunia lebih ringan dari azab akhirat." Istrinya berkata, "Tidak, demi Zat yang mengutusmu dengan kebenaran, sungguh, dia itu pendusta."
Kemudian dimulai dari suami, bersyahadat empat kali atas nama Allah bahwa dirinya termasuk orang-orang yang jujur. Pada syahadat kelima, dia mengatakan, "Sesungguhnya laknat Allah untuknya jika ia termasuk orang-orang yang berdusta." Selanjutnya beliau menuju ke istri orang tersebut. Dia pun mengucapkan dua kalimat syahadat empat kali atas nama Allah, "Sesungguhnya suaminya termasuk para pendusta." Sungguh kemarahan Allah atasnya jika dia termasuk orang-orang yang jujur, lalu beliau memisah diantara keduanya.
Selanjutnya beliau bersabda, "Sesungguhnya Allah maha tahu bahwa salah seorang dari kalian berdua itu berdusta, adakah yang mau bertaubat? - tiga kali -. Dalam satu lafazh,"Tidak ada jalan bagimu kepadanya." Orang itu berkata, "Wahai Rasulullah, hartaku?" Beliau bersabda, "Tidak ada harta bagimu. Jika engkau telah berikan mahar kepadanya, maka itu untuk kehormatannya (kemaluan) yang telah dihalalkan bagimu. Jika engkau berdusta kepadanya, maka itulah yang menjadikanmu jauh darinya."
Muttafaq 'alaihDerajatHadis sahih
Penjelasan
Pelaku kisah ini seakan-akan mencurigai istrinya dan khawatir dia terperosok ke dalam kekejian (zina). Lantas dia kalut mengenai hal ini, jika dia menuduh istrinya tanpa bukti, maka baginya hukum had. Jika dia diam, maka dia dalam kehinaan dan aib. Dia pun curahkan isi hatinya kepada Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, tapi beliau tidak menjawabnya karena khawatir soal itu tidak tepat waktunya, tergesa-gesa dan dapat membuka pintu keburukan. Di samping itu Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- tidak mendapatkan keterangan wahyu tentang hal itu.
Setelah itu, penanya melihat perkara keji yang ditakutkannya. Lantas Allah menurunkan beberapa ayat tentang hukum dirinya dan hukum istrinya. Ayat ini terdapat dalam surat An-Nūr: 60, "Dan orang-orang yang menuduh para istrinya..."
Selanjutnya Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- membaca ayat-ayat itu pada suami tersebut, mengingatkannya dan menasehatinya bahwa jika dia berdusta dalam menuduh istrinya tentu siksa dunia - qażaf yang merupakan hukuman menuduh-, lebih ringan dari azab akhirat. Orang itu bersumpah bahwa dirinya tidak berbohong dalam menuduh istrinya berzina.
Setelah itu beliau menasehati sang istri dan mengabarkan kepadanya bahwa azab dunia - yaitu hukuman zina dengan rajam - lebih ringan dari azab akhirat. Istri itu pun bersumpah bahwa suaminya termasuk para pendusta.
Pada saat itulah Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memulai dengan apa yang Allah mulai yaitu suami. Dia pun mempersaksikan Allah, bahwa dirinya termasuk orang-orang yang jujur dalam tuduhan yang dilemparkan kepada istrinya. Dan kesaksian yang kelima, agar laknat Allah menimpanya jika dia berdusta.
Setelah itu beliau berpaling kepada sang istri, lalu ia bersaksi dengan empat kesaksian kepada Allah bahwa suaminya termasuk pendusta. Sedang yang kelima, bahwa murka Allah baginya, jika suminya termasuk orang-orang yang benar dalam dakwahannya.
Kemudian beliau memisahkan antara keduanya untuk selama-lamanya. Karena salah satunya pendusta, maka Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menawarkan taubat kepada keduanya. Lantas sang suami menuntut maskawinnya. Beliau bersabda, "Engkau tidak bisa memperoleh maskawinnya kembali. Walau engkau benar dalam klaimmu bahwa dirinya telah berzina. Maskawin (mahar) itu untuk kehormatan/kemaluan yang telah dihalalkan bagimu, karena jimak itu menjatuhkan (menetapkan) mas kawin. Jika engkau berdusta kepadanya, maka itulah yang menjadikanmu jauh darinya yaitu ketika engkau menuduhnya dengan dusta yang besar.
Rujukan
- صحيح البخاري –الجامع الصحيح-؛ للإمام أبي عبد الله محمد بن إسماعيل البخاري، عناية محمد زهير الناصر، دار طوق النجاة، الطبعة الأولى، 1422هـ.
- صحيح مسلم؛ للإمام مسلم بن الحجاج، حققه ورقمه محمد فؤاد عبد الباقي، دار عالم الكتب-الرياض، الطبعة الأولى، 1417هـ.
- الإلمام بشرح عمدة الأحكام للشيخ إسماعيل الأنصاري-مطبعة السعادة-الطبعة الثانية 1392ه.
- تيسير العلام شرح عمدة الأحكام-عبد الله البسام-تحقيق محمد صبحي حسن حلاق- مكتبة الصحابة- الشارقة- الطبعة العاشرة- 1426ه.
- خلاصة الكلام شرح عمدة الأحكام- فيصل بن عبد العزيز بن فيصل ابن حمد المبارك الحريملي النجدي (المتوفى: 1376هـ)- الطبعة: الثانية، 1412 هـ - 1992 م.
Hadis ini di HadeethEnc.comعن عائشة رضي الله عنها قالت: «اخْتَصَمَ سعد بن أبي وقاص، وعبد بن زَمْعَةَ في غلام: فقال سعد: يا رسول الله، هذا ابن أخي عتبة بن أبي وقاص، عهد إلي أنه ابنه، انظر إلى شبهه، وقال عبد بن زمعة: هذا أخي يا رسول الله، وُلِدَ على فِرَاشِ أبي من وَلِيدَتِهِ، فنظر رسول الله صلى الله عليه وسلم إلى شَبَهِهِ، فرأى شَبَهًا بَيِّنًا بعتبة، فقال: هو لك يا عبد بن زمعة، الولدُ لِلْفِرَاشِ ولِلْعَاهِرِ الحَجَرُ. واحْتَجِبِي منه يا سَوْدَةُ. فلم يَرَ سَوْدَةَ قَطُّ».
Dari Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā - ia mengatakan, "Sa'ad bin Abi Waqqāṣ bersengketa dengan 'Abdu bin Zam'ah tentang anak laki-laki. Sa'ad mengatakan, "Wahai Rasulullah, (dia adalah) anak saudaraku 'Utbah bin Abi Waqqāṣ, dia berpesan kepadaku bahwa dia adalah anaknya, lihatlah kemiripannya!" Sedang 'Abdu bin Zam'ah berkata, "Anak ini adalah saudaraku wahai Rasulullah, ia dilahirkan di atas ranjang ayahku dari budak wanitanya!" Lantas Rasulullah - ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mencermati kemiripannya dan melihat kemiripan yang jelas dengan 'Utbah, kemudian beliau bersabda, "Anak laki-laki ini untukmu wahai 'Abdu bin Zam`ah, anak itu hak pemilik ranjang (suami/tuan si wanita) dan bagi pezina adalah batu (kerugian). Maka berhijablah engkau dari dia wahai Saudah binti Zam'ah." Maka anak itu tidak pernah melihat Saudah sama sekali."
Muttafaq 'alaihDerajatHadis sahih
Penjelasan
Orang-orang Arab pada masa jahiliah suka menetapkan pajak kepada para budak perempuannya yang mendapatkan penghasilan dari menjual diri, lalu mereka menisbahkan anak hasil zina kepada orang yang menzinainya ketika dia mengklaimnya. 'Utbah bin Abi Waqqāṣ pernah berzina di masa jahiliyyah dengan seorang budak wanita milik Zam'ah bin Al-Aswad. Budak ini melahirkan seorang anak. Lantas 'Utbah berwasiat kepada saudaranya Sa'ad agar menghubungkan anak tersebut dengan nasabnya. Ketika tiba pembebasan kota Makkah dan Sa'ad melihat anak itu, ia pun mengenalinya karena kemiripannya dengan saudaranya, sehingga ia ingin menghubungkannya, yakni menghubungkan (nasabnya) dengan saudaranya. Lantas terjadilah perselisihan antara dia dengan 'Abdu bin Zam'ah. Sa'ad pun mengemukakan argumentasinya, yaitu bahwa saudaranya itu mengaku bahwa dia itu putranya dan antara keduanya ada kemiripan. 'Abdu bin Zam'ah berkata, "Dia saudaraku, anak dari budak perempuan ayahku." Yakni, ayahnya adalah tuan budak perempuan yang telah melahirkan anak itu. Dialah yang menggaulinya. Lantas Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengamati anak itu lalu melihat ada kemiripan yang jelas padanya dengan 'Utbah. Akan tetapi beliau pun menetapkan anak itu milik Zam'ah. Beliau bersabda, "Anak itu dinisbahkan kepada suami/pemilik wanita yang digauli, dan pezina itu mendapatkan kerugian dan kegagalan dan ia sendiri jauh dari anak itu". Sebab, pada dasarnya anak itu menjadi milik pemilik budak perempuan yang berhak untuk menggaulinya dengan cara yang benar. Tetapi ketika beliau melihat kemiripan anak itu dengan 'Utbah, beliau pun tidak membolehkan anak itu untuk melihat kepada saudarinya, Saudah binti Zam'ah karena nasab tersebut. Beliau pun menyuruh Saudah untuk berhijab darinya sebagai bentuk kehati-hatian dan menjaga diri. Dengan demikian, kemiripan dan berbagai konteks tidak dianggap karena adanya pemilik ranjang (orang yang berhak menggaulinya secara sah).
Rujukan
تيسير العلام شرح عمدة الأحكام، عبد الله بن عبد الرحمن البسام، تحقيق: محمد صبحي حلاق، مكتبة الصحابة، الإمارات، مكتبة التابعين، القاهرة، الطبعة: العاشرة 1426هـ.
الإلمام بشرح عمدة الأحكام، إسماعيل بن محمد الأنصاري، دار الفكر، دمشق، الطبعة: الأولى 1381هـ.
عمدة الأحكام من كلام خير الأنام -صلى الله عليه وسلم- لعبد الغني المقدسي، دراسة وتحقيق: محمود الأرناؤوط، مراجعة وتقديم: عبد القادر الأرناؤوط، دار الثقافة العربية، دمشق، بيروت، مؤسسة قرطبة، الطبعة: الثانية 1408هـ.
صحيح البخاري، محمد بن إسماعيل البخاري الجعفي، تحقيق: محمد زهير الناصر، دار طوق النجاة (مصورة عن السلطانية بإضافة ترقيم: محمد فؤاد عبد الباقي)، الطبعة: الأولى 1422هـ.
صحيح مسلم، مسلم بن الحجاج القشيري النيسابوري، تحقيق محمد فؤاد عبد الباقي، دار إحياء التراث العربي، بيروت، الطبعة: 1423هـ.
Hadis ini di HadeethEnc.comعن سعد بن أبي وقاص رضي الله عنه مرفوعاً: «من ادعى إلى غير أبيه -وهو يعلم أنه غير أبيه-، فالجنة عليه حرام».
Dari Sa'ad bin Abi Waqāṣ -raḍiyallāhu 'anhu- secara marfū, "Siapa yang mengaku berayah bukan kepada ayahnya yang sesungguhnya dan ia tahu bahwa orang tersebut bukan ayahnya, maka surga haram baginya."
Muttafaq 'alaihDerajatHadis sahih
Penjelasan
Hadis ini muncul untuk menjelaskan larangan dari perbuatan yang dilakukan orang-orang jahiliyah, yaitu menisbatkan keturunan kepada selain bapak. Seorang manusia seharusnya menyandangkan nasabnya kepada keluarganya, bapaknya, kakeknya dan kakek bapaknya dan seterusnya. Ia tidak boleh menisbahkan nasabnya kepada selain bapaknya sedang ia tahu bahwa orang itu bukan bapaknya. Contohnya, apabila bapaknya dari kabilah tertentu dan ia memandang bahwa kabilah ini mempunyai kekurangan dari kabilah lainnya, maka ia menasabkan dirinya kepada kabilah lain yang lebih tinggi kemuliaannya demi mengikis aib kabilahnya dari dirinya. Pelaku hal ini terancam dengan diharamkannya surga baginya.
Rujukan
صحيح البخاري -أبو عبد الله محمد بن إسماعيل بن إبراهيم بن المغيرة الجعفي البخاري - تحقيق محمد زهير بن ناصر الناصر -الناشر : دار طوق النجاة -الطبعة: الأولى 1422هـ.
صحيح مسلم المحقق: محمد فؤاد عبد الباقي - الناشر: دار إحياء التراث العربي – بيروت.
نزهة المتقين شرح رياض الصالحين، تأليف د/ مصطفى الخن، د/ مصطفى البغا، محيي الدين مستو، علي الشربجي، محمد أمين لطفي، مؤسسة الرسالة، ط: الرابعة عشر1407.
دليل الفالحين لطرق رياض الصالحين، تأليف محمد علي بن محمد علان.
كنوز رياض الصالحين، تأليف حمد بن ناصر العمار، دار كنوز إشبيليا، ط1-1430ه.
بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين، تأليف سليم بن عيد الهلالي، دار ابن الجوزي.
رياض الصالحين، تأليف محيي الدين النووي، تحقيق عصام موسى هادي، ط: وزارة الأوقاف والشؤون الإسلامية بدولة قطر.
Hadis ini di HadeethEnc.comعن أبي هريرة رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: «لا تَرْغَبُوا عن آبائكم، فمن رغب عن أبيه، فهو كفر».
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, beliau bersabda, "Janganlah kalian membenci ayah kalian. Siapa membenci ayahnya, maka itu adalah bentuk kekufuran."
Muttafaq 'alaihDerajatHadis sahih
Penjelasan
Siapa membenci nasab ayahnya dalam keadaan tahu dan bebas memiliki pilihan, maka itu perbuatan kufur aṣgar (kecil). Jadi maksudnya bukan kekufuran sebenarnya (kufur akbar yang fatal) yang menyebabkan pelakunya kekal di neraka. Kekufuran di sini adalah kekufuran di bawah kekufuran (aṣgar) namun di dalamnya terdapat penekanan dan penegasan tentang keharaman dan keburukan perbuatan ini.
Rujukan
صحيح البخاري -أبو عبد الله محمد بن إسماعيل بن إبراهيم بن المغيرة الجعفي البخاري - تحقيق محمد زهير بن ناصر الناصر -الناشر : دار طوق النجاة -الطبعة: الأولى 1422هـ.
صحيح مسلم المحقق: محمد فؤاد عبد الباقي - الناشر: دار إحياء التراث العربي – بيروت.
نزهة المتقين شرح رياض الصالحين، تأليف د/ مصطفى الخن، د/ مصطفى البغا، محيي الدين مستو، علي الشربجي، محمد أمين لطفي، مؤسسة الرسالة، ط: الرابعة عشر1407.
دليل الفالحين لطرق رياض الصالحين، تأليف محمد علي بن محمد علان.
كنوز رياض الصالحين، تأليف حمد بن ناصر العمار، دار كنوز إشبيليا، ط1-1430ه.
بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين، تأليف سليم بن عيد الهلالي، دار ابن الجوزي.
رياض الصالحين، تأليف محيي الدين النووي، تحقيق عصام موسى هادي، ط: وزارة الأوقاف والشؤون الإسلامية بدولة قطر.
Hadis ini di HadeethEnc.comإن هِلال بن أُمية قذف امرأته بشريك ابن سَحْماء، وكان أخا البراء بن مالك لأمه، وكان أول رجل لَاعَنَ في الإسلام، قال: فَلَاعَنَهَا، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم : «أبصروها، فإن جاءت به أبيض سَبِطًا، قَضِيءَ الْعَيْنَيْنِ؛ فهو لهلال بن أمية، وإن جاءت به أَكْحَلَ جَعْدًا حَمْشَ السَّاقَيْنِ؛ فهو لشريك بن سحماء»، قال: فأُنبِئْت أنها جاءت به أَكْحَلَ جَعْدًا حَمْشَ السَّاقَيْنِ.
"Sesungguhnya Hilāl bin Umayyah menuduh istrinya berzina dengan Syarīk bin Saḥmā`, saudara seibu al-Barā` bin Malik, dan dialah (Hilāl) orang yang pertama kali melakukan li'an dalam Islam. Ia berkata, "Lantas Hilāl bin Umayyah melakukan li'an terhadap istrinya." Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Perhatikanlah ia oleh kalian semua. Jika dia melahirkan anak berkulit putih, berambut lurus beserta fisik yang sempurna, dan alis kedua matanya tebal, maka dia anak Hilāl bin Umayyah, namun jika dia melahirkan anak yang bermata hitam, berambut keriting, dan kedua betisnya kurus, maka dia anak Syarīk bin Saḥmā`." Anas berkata, "Lantas diberitakan padaku bahwa wanita itu melahirkan anak bermata hitam, berambut keriting, dan kedua betisnya kurus."
Diriwayatkan oleh MuslimDerajatHadis sahih
Penjelasan
Hadis ini menunjukkan bahwa seorang sahabat, yaitu Hilāl bin Umayyah -raḍiyallāhu 'anhu- menuduh istrinya berzina, bahwa ia telah berzina dengan Syarīk bin Saḥmā` dan kehamilannya sudah tampak jelas. Lalu Hilāl bin Umayyah hendak menafikan anak itu dengan cara li'an yaitu kesaksian antara suami istri yang dipertegas dengan sumpah dan laknat di antara keduanya bagi yang berdusta. Selanjutnya Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menyebutkan tanda-tanda yang dapat diketahui apakah anak (dari kehamilannya) tersebut milik bapaknya atau milik orang yang menyebabkan wanita itu hamil karena zina. Beliau menjelaskan jika anak tersebut berambut lurus dengan fisik sempurna, maka ia anak bapaknya karena ada keserupaan antara keduanya. Jika anak itu kedua matanya hitam, yakni kedua kelopak matanya sangat hitam, rambutnya keriting; ada pemelintiran dan kusut, maka anak itu milik lelaki yang telah menzinainya, yaitu Syarīk bin Saḥmā`. Dengan demikian, hadis ini menunjukkan disyariatkannya melakukan li'an terhadap wanita hamil (karena zina).
Rujukan
صحيح مسلم؛ للإمام مسلم بن الحجاج، حققه ورقمه محمد فؤاد عبد الباقي، دار عالم الكتب، الرياض، الطبعة الأولى، 1417هـ.
منحة العلام في شرح بلوغ المرام: تأليف عبد الله الفوزان، طبعة دار ابن الجوزي، الطبعة الأولى 1428.
توضيح الأحكام شرح بلوغ المرام: تأليف عبد الله البسام، مكتبة الأسدي، مكة المكرمة، الطبعة: الخامِسَة، 1423 هـ - 2003 م.
تسهيل الإلمام بفقه الأحاديث من بلوغ المرام: تأليف الشيخ صالح الفوزان، عناية عبد السلام السليمان، مؤسسة الرسالة الطبعة الأولى.
فتح ذي الجلال والإكرام بشرح بلوغ المرام، للشيخ ابن عثيمين، المكتبة الإسلامية القاهرة، تحقيق صبحي رمضان وأم إسراء بيومي، الطبعة الأولى 1427.
سبل السلام، محمد بن إسماعيل الصنعاني، دار الحديث.
Hadis ini di HadeethEnc.comSetiap hadis, derajat, penjelasan, dan faedah di sini ditampilkan persis sebagaimana diterbitkan HadeethEnc.com, menurut ketentuan penerbitan ulangnya. Derajat itu tidak menyebut siapa yang menilainya. Terjemahan dan penjelasan adalah karya para penyusunnya, dan sebagian menyebutkan hukum; para peninjau Sabīl belum memeriksanya. Hadis berbahasa Arablah teksnya. Sumber: HadeethEnc.com