Langsung ke konten
Hadis dengan penjelasan

Ucapan-ucapan Terlarang dan Penyakit Lidah

9 hadis

Janganlah seseorang dari kalian mengharapkan kematian. Jika ia orang yang berbuat baik, maka semoga kebaikannya itu dapat bertambah. Namun, jika ia adalah orang yang berbuat buruk, maka mudah-mudahan ia bertobat kepada Allah

عن أبي هريرة رضي الله عنه : أن رسولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم قالَ: "لا يَتَمَنَّ أحَدُكَم الموتَ، إما مُحسِناً فلعلَّه يَزْدَادُ، وإما مُسِيئاً فلعلَّه يَسْتَعْتِبُ". وفي رواية قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : "لا يَتَمَنَّ أحَدُكُم الموتَ، ولا يَدْعُ به من قبلِ أنَ يَأتيَه؛ إنه إذا ماتَ انقطعَ عملُهُ، وإنه لا يَزيدُ المؤمنَ عُمُرُهُ إلا خيراً".
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-, "Sesungguhnya Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Janganlah seseorang dari kalian mengharapkan kematian. Jika ia orang yang berbuat baik, maka semoga kebaikannya itu dapat bertambah. Namun, jika ia adalah orang yang berbuat buruk, maka mudah-mudahan ia bertobat kepada Allah." Dalam riwayat Muslim dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- dari Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, beliau bersabda, "Janganlah seseorang dari kalian mengharapkan kematian dan jangan pula berdo'a agar segera mendapat kematian sebelum kematian itu datang padanya. Sesungguhnya apabila ia telah mati, maka terputuslah amalannya, dan bahwa tidaklah seorang mukmin itu bertambah umurnya, melainkan akan menjadi kebaikan baginya."
Muttafaq 'alaihDerajatHadis sahih
Penjelasan

Sabda Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, "Janganlah seseorang dari kalian mengharapkan kematian!" Larangan di sini menunjukkan pengharaman. Sebab, mengharapkan kematian mengandung ketidak ridaan dengan keputusan Allah. Seorang mukmin wajib bersabar ketika ditimpa kesulitan. Jika ia bersabar terhadap musibah, maka ia mendapat dua hal penting: pertama, berbagai kesalahannya dihapuskan. Sesungguhnya tidaklah manusia itu ditimpa duka, kepedihan, penderitaan, dan apa pun, melainkan Allah menghapus kesalahan-kesalahannya, hingga duri yang menusuknyapun dapat menghapuskan kesalahannya. Kedua, jika ia mendapatkan taufik untuk mengharapkan pahala dari Allah dan sabar demi mencari keridaan Allah, maka ia akan mendapat pahala. Sedangkan jika ia mengharapkan kematian, maka ini menunjukkan dirinya tidak sabar dan tidak rida terhadap keputusan Allah -'Azza wa Jalla-. Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menjelaskan bahwa jika ia termasuk orang baik, maka sisa kehidupannya akan menambah amal saleh. Seorang mukmin apabila diberi umur panjang meskipun menderita dan ditimpa bahaya, barangkali kebaikan-kebaikannya akan bertambah. Jika ia orang buruk yang terkadang melakukan keburukan, mungkin saja ia bertobat, meminta 'utbā (keridaan dan maaf), lalu ia meninggal dunia dalam keadaan bertobat dari kesalahan-kesalahannya. Karena itu, janganlah engkau mengharapkan kematian! Sebab, segala urusan sudah ditetapkan. Kemudian hendaknya dia bersabar dan mengharap keridaan Allah, karena adalah suatu kemustahilan sebuah kondisi berlangsung secara terus-menerus. Di dalam hadis ini terkandung isyarat bahwa makna dari larangan mengharapkan kematian dan berdoa agar segera mendapatkan kematian adalah memutuskan amal dengan kematian. Sebab, kehidupan itu yang mendatangkan amal. Sedangkan amal itu dapat menambah pahala meskipun hanya sekedara berada terus-menerus dalam tauhid, maka itu adalah amal paling utama. Memang tidak bisa dipungkiri bahwa bisa saja terjadi kemurtadan dari keimanan -dan kita berlindung kepada Allah darinya-, hanya saja itu jarang terjadi. Sebab ketika cahaya iman sudah merasuk ke dalam hati maka tidak ada seorang pun yang membencinya. Kalau pun terjadi kemurtadan -dan itu bisa saja terjadi tapi jarang-, maka orang yang sudah ditetapkan dalam ilmu Allah mengalami sū`ul khātimah (akhir yang buruk), niscaya hal itu akan menimpanya, baik umurnya panjang atau pun pendek. Hanya saja menyegerakan akhir kehidupan yang buruk dengan meminta kematian bukanlah sesuatu yang baik baginya. Dalam hadis ini terdapat isyarat agar berlomba dengan orang baik dalam melakukan kebaikan, dan peringatan terhadap orang buruk dari keburukannya. Seakan-akan Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Barangsiapa berbuat baik, hendaknya ia meninggalkan angan-angan kematian dan seyogyanya ia terus berbuat kebaikan dan menambahnya. Barangsiapa berbuat buruk, hendaknya meninggalkan angan-angan kematian dan mencabut diri dari keburukan agar tidak mati dalam keadaan buruk sehingga ada dalam bahaya.

Rujukan

بهجة شرح رياض الصالحين؛ تأليف سليم الهلالي، دار ابن الجوزي. تطريز رياض الصالحين؛ تأليف فيصل آل مبارك، تحقيق د. عبدالعزيز آل حمد، دار العاصمة-الرياض، الطبعة الأولى، 1423هـ. الجمع بين الصحيحين؛ للإمام محمد بن فتوح الحميدي، تحقيق د. علي البواب، دار ابن حزم. رياض الصالحين من كلام سيد المرسلين؛ للإمام أبي زكريا النووي، تحقيق د. ماهر الفحل، دار ابن كثير-دمشق، الطبعة الأولى، 1428هـ. شرح رياض الصالحين؛ للشيخ محمد بن صالح العثيمين، مدار الوطن-الرياض، 1426هـ. صحيح البخاري –الجامع الصحيح-؛ للإمام أبي عبدالله محمد بن إسماعيل البخاري، عناية محمد زهير الناصر، دار طوق النجاة، الطبعة الأولى، 1422هـ. صحيح مسلم؛ للإمام مسلم بن الحجاج، حققه ورقمه محمد فؤاد عبدالباقي، دار عالم الكتب-الرياض، الطبعة الأولى، 1417هـ. فتح الباري بشرح صحيح البخاري؛ للحافظ أحمد بن علي بن حجر العسقلاني، دار المعرفة-بيروت. كنوز رياض الصالحين؛ فريق علمي برئاسة أ.د. حمد العمار، دار كنوز إشبيليا-الرياض، الطبعة الأولى، 1430هـ. نزهة المتقين شرح رياض الصالحين؛ تأليف د. مصطفى الخِن وغيره، مؤسسة الرسالة-بيروت، الطبعة الرابعة عشر، 1407هـ.

Hadis ini di HadeethEnc.com

Celakalah engkau! Engkau telah memotong leher temanmu

عن أبي بكرة رضي الله عنه : أن رجلًا ذكر عند النبي صلى الله عليه وسلم فأثنى عليه رجلٌ خيرًا، فقال النبي صلى الله عليه وسلم : «ويحك! قطعت عنق صاحبك» يقوله مرارًا: «إن كان أحدكم مادحا لا محالة فليقل: أحسب كذا وكذا إن كان يرى أنه كذلك وحسيبه الله، ولا يُزكَّى على الله أحد».
Dari Abu Bakrah -raḍiyallāhu 'anhu- bahwasanya ada seseorang disebutkan di hadapan Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, lalu ada seseorang menyanjungnya dengan kebaikan. Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Celakalah engkau! Engkau telah memotong leher temanmu." Beliau mengatakannya berkali-kali, "Jika salah seseorang dari kalian harus memuji, maka ucapkanlah, 'Aku kira orang tersebut begini dan begini,' jika ia melihat orang tersebut demikian adanya dan hisabnya terserah kepada Allah, dan tidak boleh ada yang menyucikan seseorang di hadapan Allah."
Muttafaq 'alaihDerajatHadis sahih
Penjelasan

Dalam hadis ini terkandung berbagai arahan dari sunnah yang penuh berkah. Hendaknya seorang muslim tidak berlebihan dalam menyanjung, sebab kecongkakan dan kesombongan merupakan salah satu pintu masuk setan, dan berlebihan dalam memuji dapat menyelimuti orang yang dipuji dengan kesombongan dan kecongkakan sehingga ia binasa. Hendaknya seorang muslim bertindak obyektif (proporsional) dalam menyanjung dan memuji, dan menyerahkan urusan manusia kepada Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- yang mengetahui apa-apa yang tersembunyi dalam jiwa.

Rujukan

صحيح البخاري -أبو عبد الله محمد بن إسماعيل بن إبراهيم بن المغيرة الجعفي البخاري، تحقيق محمد زهير بن ناصر الناصر -الناشر : دار طوق النجاة -الطبعة : الأولى 1422هـ. صحيح مسلم المحقق: محمد فؤاد عبد الباقي - الناشر: دار إحياء التراث العربي – بيروت. نزهة المتقين شرح رياض الصالحين، تأليف د/ مصطفى الخن، د/ مصطفى البغا، محيي الدين مستو، علي الشربجي، محمد أمين لطفي، مؤسسة الرسالة، ط:الرابعة عشر1407 شرح رياض الصالحين، المؤلف : محمد بن صالح بن محمد العثيمين. دليل الفالحين لطرق رياض الصالحين، تأليف محمد علي بن محمد علان. كنوز رياض الصالحين، تأليف حمد بن ناصر العمار، دار كنوز إشبيليا، ط1-1430ه. بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين، تأليف سليم بن عيد الهلالي، دار ابن الجوزي. رياض الصالحين، تأليف محيي الدين النووي، تحقيق عصام موسى هادي، ط: وزارة الأوقاف والشؤون الإسلامية بدولة قطر. تطريز رياض الصالحين، تأليف فَيْصَلْ بنِ عَبْدِ العَزِيْزِ آل مُبَارَك.

Hadis ini di HadeethEnc.com

Sesungguhnya nama paling hina di sisi Allah adalah seseorang yang diberi nama dengan Raja Diraja. Tidak ada raja selain Allah

عن أبي هريرة رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: «إن أَخْنَعَ اسم عند الله رجل تسمى ملك الأملاك، لا مالك إلا الله». وفي رواية: «أَغْيَظُ رجل على الله يوم القيامة، وأخبثه وأَغْيَظُه عليه، رجل كان يسمى ملك الأملاك، لا مَلِكَ إلا الله». قال سفيان: «مثل شَاهَانْ شَاهْ»، وقال أحمد بن حنبل: سألت أبا عمرو عن أَخْنَع؟ فقال: «أَوْضَع».
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-, dari Nabi - ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, beliau bersabda, "Sesungguhnya nama paling hina di sisi Allah adalah seseorang yang diberi nama dengan Raja Diraja. Tidak ada raja selain Allah." Dalam riwayat lain disebutkan, "Orang yang paling dimurkai Allah pada hari kiamat, paling buruk, dan paling dimurkai-Nya adalah seseorang yang diberi nama Raja Diraja. Tidak ada raja selain Allah." Sufyān berkata, "Seperti Syāhān Syāh." Ahmad bin Hanbal berkata, "Aku pernah bertanya kepada Abu 'Amru mengenai arti akhna'?" Ia menjawab, "Paling hina."
Diriwayatkan oleh Muslim - Muttafaq 'alaihDerajatHadis sahih
Penjelasan

Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengabarkan bahwa manusia paling hina di sisi Allah -'Azza wa Jallā- adalah seseorang yang diberi nama dengan nama yang mengandung makna kebesaran dan kesombongan yang hanya layak bagi Allah -Ta'āla-, seperti Raja Diraja. Sebab, nama ini mengandung tandingan terhadap Allah, dan pelakunya mengklaim untuk dirinya atau diklaim bahwa dia tandingan bagi Allah. Karena itu, orang yang menyandang nama tersebut adalah orang yang paling dibenci di sisi Allah dan paling buruk di sisi-Nya. Bisa juga mengandung makna bahwa dia adalah manusia paling dibenci. Selanjutnya Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menjelaskan bahwa tidak ada raja yang sebenarnya bagi alam semesta termasuk raja dan budak di dalamnya kecuali Allah -'Azza wa Jallā-. Hadis ini mengandung nasihat dan peringatan bagi orang-orang yang menyandangkan nama atau gelar kepada para tokoh tanpa memahami maknanya dan maksudnya sehingga mereka tidak terperosok kepada apa yang dilarang oleh hadis ini. Hanya Allah tempat meminta pertolongan.

Rujukan

صحيح البخاري-المحقق : محمد زهير بن ناصر الناصر-الناشر : دار طوق النجاة-الطبعة : الأولى 1422هـ. -مسلم بن الحجاج-المحقق: محمد فؤاد عبد الباقي-الناشر: دار إحياء التراث العربي – بيروت. القول المفيد على كتاب التوحيد، للشيخ محمد بن صالح العثيمين دار ابن الجوزي، المملكة العربية السعودية، الطبعة: الثانية, محرم 1424ه. الملخص في شرح كتاب التوحيد، للشيخ صالح الفوزان، دار العاصمة الرياض، الطبعة: الأولى 1422هـ- 2001م. الجديد في شرح كتاب التوحيد، للشيخ محمد بن عبد العزيز القرعاوي، مكتبة السوادي، جدة، المملكة العربية السعودية، الطبعة: الخامسة، 1424هـ/2003م. المعجم الوسيط، مجمع اللغة العربية بالقاهرة،(إبراهيم مصطفى / أحمد الزيات / حامد عبد القادر / محمد النجار) - الناشر: دار الدعوة.

Hadis ini di HadeethEnc.com

Siapa yang bersumpah, lalu mengatakan dalam sumpahnya, 'Demi Lāt dan 'Uzzā', maka hendaklah dia mengucapkan, 'Lā ilāha illallāh!' Siapa yang berkata kepada temannya, 'Kemarilah, ayo kita berjudi!', maka hendaknya dia bersedekah!

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ حَلَفَ فَقَالَ فِي حَلِفِهِ: وَاللَّاتِ وَالعُزَّى، فَلْيَقُلْ: لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَمَنْ قَالَ لِصَاحِبِهِ: تَعَالَ أُقَامِرْكَ، فَلْيَتَصَدَّقْ».
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ bersabda, "Siapa yang bersumpah, lalu mengatakan dalam sumpahnya, 'Demi Lāt dan 'Uzzā', maka hendaklah dia mengucapkan, 'Lā ilāha illallāh!' Siapa yang berkata kepada temannya, 'Kemarilah, ayo kita berjudi!', maka hendaknya dia bersedekah!"
Muttafaq 'alaihDerajatSahih
Penjelasan

Nabi ﷺ mewanti-wanti jangan sampai bersumpah dengan selain Allah karena orang beriman itu tidak akan bersumpah kecuali dengan Allah. Beliau mengabarkan bahwa orang yang bersumpah dengan selain Allah, seperti orang yang bersumpah dengan Lāt dan 'Uzzā yang merupakan berhala yang disembah di masa jahiliah sebelum Islam, maka ia wajib memperbaikinya dengan membaca: Lā ilāha illallāh, sebagai bentuk pembebasan diri dari kesyirikan sekaligus sebagai kafarat terhadap sumpahnya itu. Kemudian beliau ﷺ mengabarkan bahwa orang yang mengatakan kepada temannya, "Mari, kita berjudi", maka dianjurkan agar ia bersedekah dengan sesuatu sebagai kafarat atas ajakannya itu. Judi adalah tindakan dua orang atau lebih untuk saling taruhan harta di antara mereka, lalu diambil oleh yang menang, dan masing-masing tidak lepas dari kemungkinan untung atau rugi.

Faedah
  1. 1- Bersumpah tidak boleh kecuali dengan Allah, nama-nama dan sifat-sifat-Nya.
  2. 2- Bersumpah dengan selain Allah Ta'ala hukumnya haram, baik bersumpah dengan berhala seperti Lāt dan 'Uzzā, bersumpah dengan amanah, bersumpah dengan Nabi atau lain sebagainya.
  3. 3- Al-Khaṭṭābiy berkata, "Sumpah hanya diucapkan dengan sembahan yang diagungkan. Ketika seseorang bersumpah dengan Lāt dan semisalnya, ia telah menyerupai orang kafir. Sebab itu, ia diperintahkan agar memperbaiki hal itu dengan mengucapkan kalimat tauhid."
  4. 4- Orang yang bersumpah dengan selain Allah tidak wajib membayar kafarat sumpah, tetapi ia wajib bertobat dan beristigfar, karena dosanya lebih besar; tidak mampu digugurkan kecuali dengan tobat.
  5. 5- Pengharaman judi dengan segala model dan bentuknya, yaitu perjudian yang telah diharamkan oleh Allah Ta'ala dan disandingkan dengan khamar dan berhala.
  6. 6- Kewajiban bertobat dari kemaksiatan ketika melakukannya.
  7. 7- Orang yang terjerumus ke dalam suatu keburukan hendaknya mengiringinya dengan kebaikan karena kebaikan akan menghilangkan keburukan.
Rujukan

صحيح البخاري (6/ 141) (4860). صحيح مسلم (3/ 1268) (1647). نزهة المتقين شرح رياض الصالحين، مجموعة من الباحثين (2/1228). بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين، لسليم الهلالي (3/ 273).

Hadis ini di HadeethEnc.com

Tidak pantas bagi orang yang jujur menjadi pelaknat

عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: «لا ينبغي لصِدِّيق أن يكون لعَّانًا».
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Zakariya -'alaihissalām- adalah tukang kayu."
Diriwayatkan oleh MuslimDerajatHadis sahih
Penjelasan

Sesungguhnya banyak melaknat akan menghilangkan kesempurnaan derajat kejujuran yang merupakan derajat paling tinggi yang bisa dicapai oleh seorang mukmin di sisi Allah Ta'ālā.

Rujukan

- رياض الصالحين من كلام سيد المرسلين؛ للإمام أبي زكريا النووي، تحقيق د. ماهر الفحل، دار ابن كثير-دمشق، الطبعة الأولى، 1428ه. - بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين؛ تأليف سليم الهلالي، دار ابن الجوزي- الطبعة الأولى 1418ه. - نزهة المتقين شرح رياض الصالحين؛ تأليف د. مصطفى الخِن وغيره، مؤسسة الرسالة-بيروت، الطبعة الرابعة عشر، 1407هـ. - صحيح مسلم، للإمام مسلم بن الحجاج، تحقيق محمد فؤاد عبد الباقي. - كنوز رياض الصالحين، لحمد بن ناصر العمار، دار كنوز إشبيليا- الطبعة الأولى 1430ه. - دليل الفالحين لطرق رياض الصالحين، لمحمد علي بن محمد بن علان بن إبراهيم البكري الصديقي الشافعي اعتنى بها: خليل مأمون شيحا، دار المعرفة. - مفتاح دار السعادة ومنشور ولاية العلم والإرادة، لمحمد لن أبي بكر الزرعي ابن قيم الجوزية، دار الكتب العلمية، بيروت. - شرح رياض الصالحين؛ للشيخ محمد بن صالح العثيمين، مدار الوطن، الرياض، 1426هـ.

Hadis ini di HadeethEnc.com

Ambil barang-barang yang ada di atasnya dan lepaskan ia, karena unta itu telah dilaknat.

عن عمران بن الحصين رضي الله عنهما ، قال: بينما رسولُ الله صلى الله عليه وسلم في بعض أَسْفَارِه، وامرأة من الأنصار على ناقة، فضَجِرَتْ فلَعَنَتْهَا، فسمع ذلك رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال: «خُذُوا ما عليها ودَعُوهَا؛ فإنها مَلْعُونَةٌ»، قال عمران: فكَأَنِّي أراها الآن تمشي في الناس ما يَعْرِضُ لها أحد".
Dari 'Imrān bin al-Huṣain -raḍiyallāhu 'anhumā- mengatakan, "Manakala Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dalam sebuah perjalanan, dan seorang wanita dari kaum Ansar mengendarai seekor unta, lalu ia marah (karena unta berjalan lambat) lantas melaknat unta tersebut. Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pun mendengarnya, maka beliau bersabda, "Ambil barang-barang yang ada di atasnya dan lepaskan ia, karena unta itu telah dilaknat." 'Imrān mengatakan, "Seolah-olah aku sekarang ini melihatnya berjalan di tengah manusia tanpa ada seorang pun yang mengganggunya."
Diriwayatkan oleh MuslimDerajatHadis sahih
Penjelasan

Dari 'Imrān bin al-Huṣain -raḍiyallāhu 'anhumā- bahwa seorang wanita dari kaum Anṣar mengendarai untanya, lalu ia merasa lelah dan bosan (karena untanya berjalan lambat) sehingga ia mengatakan (pada unta tersebut), "Semoga Allah melaknatmu." Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pun mendengar ucapan tersebut. Maka beliau memerintahkan supaya pelana dan barang-barang yang ada di atas unta itu diambil, kemudian unta itu dilepaskan karena ia telah dilaknat. 'Imrān -raḍiyallāhu 'anhu- mengatakan, "Sungguh aku telah melihatnya, yakni unta, berjalan di tengah manusia, tak seorang pun mengganggunya." Sebab Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- telah memerintahkan supaya unta itu dibiarkan.

Rujukan

1- رياض الصالحين للنووي، تحقيق: ماهر الفحل، دار ابن كثير، دمشق، ط1، 2007م. 2- نزهة المتقين شرح رياض الصاحين: شرح الدكتور مصطفى الخن وآخرين، مؤسسة الرسالة، ط1، 1987م. 3- كنوز رياض الصالحين، المجلس العلمي كنوز دار إشبيليا، الرياض، ط1، 2009م. 4- صحيح مسلم بتحقيق محمد فؤاد عبد الباقي، دار إحياء التراث العربي، بيروت. 5- شرح رياض الصالحين، لابن عثيمين، مؤسسة ابن عثيمين الخيرية، مدار الوطن للنشر، الرياض، ط1426هـ.

Hadis ini di HadeethEnc.com

Jika seseorang berkata, "Celakalah manusia," maka ia adalah orang yang paling celaka di antara mereka.

عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: «إذا قال الرَّجُل: هَلَكَ الناس، فهو أَهْلَكُهُم».
Dari Abu Hurairah –raḍiyallāhu 'anhu- bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, “Apabila seseorang berkata, 'Celakalah manusia,' maka ia adalah orang yang paling celaka di antara mereka.”
Diriwayatkan oleh MuslimDerajatHadis sahih
Penjelasan

Jika seseorang berkata, "Celakalah manusia," karena ingin merendahkan, mengolok dan menyombongkan diri atas mereka, karena melihat dirinya lebih utama dari mereka, maka sungguh ia telah menjadi orang yang paling celaka di antara mereka.” Ini makna riwayat hadis dengan redaksi marfū’ di lalaf "ahlakuhum". Adapun riwayat hadis dengan redaksi manṣūb: "ahlakahum" maknanya adalah bahwa hal itu menjadi sebab yang membuat mereka celaka karena ia menjadikan mereka putus asa dari rahmat Allah dan menghalangi mereka untuk kembali kepada-Nya dengan bertobat serta mendorong mereka untuk terus berada di atas keputusasaan hingga mereka binasa.

Rujukan

نزهة المتقين شرح رياض الصالحين، مجموعة من الباحثين، مؤسسة الرسالة، بيروت، الطبعة: الرابعة عشر 1407هـ، 1987م. كنوز رياض الصالحين، مجموعة من الباحثين برئاسة حمد بن ناصر العمار، كنوز إشبيليا، الرياض، الطبعة: الأولى1430هـ، 2009م. بهجة الناظرين، تأليف: سليم بن عيد الهلالي، الناشر: دار ابن الجوزي ، سنة النشر: 1418 هـ- 1997م. صحيح مسلم، مسلم بن الحجاج القشيري النيسابوري، تحقيق محمد فؤاد عبد الباقي، دار إحياء التراث العربي، بيروت، الطبعة: 1423هـ. رياض الصالحين من كلام سيد المرسلين، أبو زكريا محيي الدين النووي، تحقيق ماهر الفحل، دار ابن كثير، دمشق، بيروت، الطبعة: الأولى 1428هـ، 2007م. دليل الفالحين لطرق رياض الصالحين، محمد علي بن البكري بن علان، نشر دار الكتاب العربي، نسخة الكترونية ، لا يوجد بها بيانات نشر. شرح رياض الصالحين، محمد بن صالح العثيمين، دار الوطن، الرياض، الطبعة: 1426هـ. مجالس التذكير من حديث البشير النذير، عبد الحميد محمد بن باديس الصنهاجي، الناشر: مطبوعات وزارة الشؤون الدينية، الطبعة: الأولى 1403هـ، 1983م.

Hadis ini di HadeethEnc.com

Janganlah kalian mengatakan tuan kepada orang munafik, karena jika benar dia seorang tuan (tokoh) maka kalian telah membuat murka Tuhan kalian -'Azza wa Jalla-.

عن بُريدة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : «لا تقولوا للمُنَافق سَيِّدٌ، فإنه إن يَكُ سَيِّدًا فقد أسْخَطْتُمْ ربكم عز وجل ».
Buraidah -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Janganlah kalian mengatakan tuan kepada orang munafik, karena jika benar dia seorang tuan (tokoh) maka kalian telah membuat murka Tuhan kalian -'Azza wa Jalla-."
Diriwayatkan oleh Nasā`i - Diriwayatkan oleh Abu Daud - Diriwayatkan oleh AhmadDerajatHadis sahih
Penjelasan

Makna hadis ini ialah bila seorang munafik adalah tokoh dan pembesar di kaumnya dan kalian menyematkan kepadanya gelar "tuan" maka kalian telah membuat Allah murka; karena hal itu merupakan bentuk pengagungan kepadanya sementara dia tidak berhak diagungkan. Kemudian bila dia bukan seorang pemuka atau pembesar di kaumnya, maka hal itu adalah bentuk kedustaan dan kemunafikan. Sehingga di dua keadaan ini dilarang menyematkan gelar tuan kepada seorang munafik. Semisal dengannya ialah orang kafir, fasik, dan ahli bidah. Mereka tidak patut mendapat gelar tuan secara mutlak. Larangan ini berlaku umum bagi sahabat dan orang setelah mereka. Orang-orang munafik di masa sahabat terbagi dua, yaitu: Pertama, orang-orang munafik yang hanya diketahui oleh Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dan pemegang rahasia beliau, yaitu Ḥużaifah -raḍiyallāhu 'anhu-. Kedua, orang-orang munafik yang diketahui kemunafikannya oleh para sahabat seperti Abdullah bin Ubay; pada mereka inilah hadis ini berlaku.

Rujukan

نزهة المتقين، تأليف: جمعٌ من المشايخ، الناشر: مؤسسة الرسالة، الطبعة الأولى: 1397 هـ الطبعة الرابعة عشر 1407 هـ. كنوز رياض الصالحين، تأليف: حمد بن ناصر بن العمار، الناشر: دار كنوز أشبيليا، الطبعة الأولى: 1430 هـ. بهجة الناظرين، تأليف: سليم بن عيد الهلالي، الناشر: دار ابن الجوزي ، سنة النشر: 1418 هـ- 1997م. مرقاة المفاتيح شرح مشكاة المصابيح، تأليف: علي بن سلطان القاري، الناشر: دار الفكر، الطبعة: الأولى، 1422هـ. سنن أبي داود، تأليف: سليمان بن الأشعث السِّجِسْتاني، تحقيق: محمد محيي الدين عبد الحميد، الناشر: المكتبة العصرية، صيدا. رياض الصالحين، تأليف: محيي الدين يحيى بن شرف النووي، تحقيق: د. ماهر بن ياسين الفحل، الطبعة: الأولى، 1428 هـ. شرح سنن أبي داود، تأليف: عبد المحسن بن حمد بن عبد المحسن العباد، نسخة الإلكترونية. شرح رياض الصالحين، تأليف: محمد بن صالح العثيمين، الناشر: دار الوطن للنشر، الطبعة: 1426 هـ. مشكاة المصابيح، تأليف: محمد بن عبد الله التبريزي، تحقيق: محمد ناصر الدين الألباني، الناشر: المكتب الإسلامي، الطبعة: الثالثة، 1985م.

Hadis ini di HadeethEnc.com
8 dari 9
9 hadis
  1. Janganlah seseorang dari kalian mengharapkan kematian. Jika ia orang yang berbuat baik, maka semoga kebaikannya itu dapat bertambah. Namun, jika ia adalah orang yang berbuat buruk, maka mudah-mudahan ia bertobat kepada Allah
  2. Celakalah engkau! Engkau telah memotong leher temanmu
  3. Sesungguhnya nama paling hina di sisi Allah adalah seseorang yang diberi nama dengan Raja Diraja. Tidak ada raja selain Allah
  4. Siapa yang bersumpah, lalu mengatakan dalam sumpahnya, 'Demi Lāt dan 'Uzzā', maka hendaklah dia mengucapkan, 'Lā ilāha illallāh!' Siapa yang berkata kepada temannya, 'Kemarilah, ayo kita berjudi!', maka hendaknya dia bersedekah!
  5. Tidak pantas bagi orang yang jujur menjadi pelaknat
  6. Ambil barang-barang yang ada di atasnya dan lepaskan ia, karena unta itu telah dilaknat.
  7. Jika seseorang berkata, "Celakalah manusia," maka ia adalah orang yang paling celaka di antara mereka.
  8. Janganlah kalian mengatakan tuan kepada orang munafik, karena jika benar dia seorang tuan (tokoh) maka kalian telah membuat murka Tuhan kalian -'Azza wa Jalla-.
  9. Ada empat sifat, siapa yang memiliki keempatnya maka dia seorang munafik sejati, namun siapa yang memiliki salah satunya maka dalam dirinya terdapat satu sifat kemunafikan hingga dia meninggalkannya, yaitu: jika dia berbicara maka dia berdusta, jika dia membuat perjanjian maka dia melanggarnya, melanggarnya, jika dia berjanji maka dia menyelisihinya, dan ketika berdebat maka dia berlaku curang

Setiap hadis, derajat, penjelasan, dan faedah di sini ditampilkan persis sebagaimana diterbitkan HadeethEnc.com, menurut ketentuan penerbitan ulangnya. Derajat itu tidak menyebut siapa yang menilainya. Terjemahan dan penjelasan adalah karya para penyusunnya, dan sebagian menyebutkan hukum; para peninjau Sabīl belum memeriksanya. Hadis berbahasa Arablah teksnya. Sumber: HadeethEnc.com