Langsung ke konten
Hadis dengan penjelasan

Tata Cara Haji

8 hadis

Al-'Abbās bin Abdil Muṭṭalib meminta izin kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaīhi wa sallam- untuk bermalam di Makkah pada hari-hari di Mina karena tugasnya dalam memberi minum (jamaah haji). Beliau pun memberinya izin.

عن عبد الله بن عُمَر رضي الله عنه قال: «اسْتَأْذَنَ الْعَبَّاسُ بن عَبْدِ الْمُطَّلِب رسول الله صلى الله عليه وسلم : أن يبيت بمكة ليالي مِنى، من أجل سِقَايَتِه فأذن له».
Dari Abdullah bin Umar -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, "Al-'Abbās bin Abdil Muṭṭalib meminta izin kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaīhi wasallam- untuk bermalam di Makkah pada hari-hari di Mina karena tugasnya dalam memberi minum (jamaah haji). Beliau pun memberinya izin."
Muttafaq 'alaihDerajatHadis sahih
Penjelasan

Bermalam di Mina pada malam-malam tasyrik adalah salah satu kewajiban haji yang dilakukan oleh Nabi - ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Sesungguhnya menetap di Mina pada malam-malam tersebut termasuk ketaatan kepada Allah -Ta'ālā- dan merupakan bagian dari syiar (ritual) haji. Mengingat perbuatan memberi minum kepada para jamaah haji termasuk ibadah yang memiliki keutamaan, karena merupakan pelayanan terhadap para jamaah haji di rumah Allah dan para tamu-Nya, maka Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memberikan keringanan kepada pamannya Al-'Abbās untuk tidak bermalam di Mina karena melakukan tugas memberi minum. Ia pun memberikan minuman kepada para jamaah haji, dan itu merupakan kepentingan umum yang menunjukkan bahwa orang lain yang tidak melakukan hal seperti itu dan tidak ada uzur, maka ia tidak mendapatkan keringanan ini.

Rujukan

تيسير العلام، للبسام، الناشر: مكتبة الصحابة، الإمارات، مكتبة التابعين، القاهرة الطبعة، العاشرة، 1426هـ - 2006 م. تنبيه الأفهام، للعثيمين، طبعة مكتبة الصحابة الإمارات، مكتبة التابعين، القاهرة، الطبعة الأولى 1426هـ. صحيح البخاري، لأبي عبد الله محمد بن إسماعيل البخاري، تحقيق محمد زهير بن ناصر الناصر، الناشر: دار طوق النجاة، الطبعة: الأولى 1422هـ. صحيح مسلم، المحقق: محمد فؤاد عبد الباقي، الناشر: دار إحياء التراث العربي – بيروت. تأسيس الأحكام، أحمد بن يحيى النجمي، دار المنهاج، القاهرة، مصر، الطبعة الأولى.

Hadis ini di HadeethEnc.com

Manusia diperintah menjadikan akhir amalan hajinya adalah di Baitullah (tawaf wadak), hanya saja untuk wanita yang sedang haid diberi keringanan (untuk tidak melakukannya).

عن عبد الله بن عبَّاس رضي الله عنهما قال: «أُمِرَ الناس أن يكون آخر عَهْدِهِمْ بالبيت، إلا أنه خُفِّفَ عن المرأة الحائض».
Dari Abdullah bin Abbas -raḍiyallāhu 'anhumā- ia berkata, "Manusia diperintahkan menjadikan akhir amalan hajinya adalah di Baitullah (tawaf wadak), hanya saja untuk wanita yang sedang haid diberi keringanan (untuk tidak melakukannya)."
Muttafaq 'alaihDerajatHadis sahih
Penjelasan

Baitullah yang mulia ini berhak diagungkan dan dimuliakan. Baitullah merupakan simbol ibadah kepada Allah, merendahkan diri dan tunduk di hadapan-Nya. Ia memiliki kemuliaan di dalam dada, dan pengagungan, cinta serta kasih sayang di dalam hati (seorang Mukmin). Karenanya, Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memerintahkan orang yang berhaji, sebelum pulang, agar masa terakhirnya di Baitullah (melakukan tawaf). Ini adalah tawaf terakhir, yakni tawaf wadak (perpisahan), kecuali wanita yang sedang haid. Mengingat ia bisa mengotori masjid bila masuk, maka tawaf ini gugur baginya tanpa membayar fidiah (tebusan). Nas ini terkait dengan haji, tidak mencakup umrah.

Rujukan

تيسير العلام شرح عمدة الأحكام، عبد الله بن عبد الرحمن البسام، تحقيق: محمد صبحي حلاق، مكتبة الصحابة، الأمارات، مكتبة التابعين، القاهرة، الطبعة: العاشرة 1426هـ. تنبيه الأفهام شرح عمدة الأحكام، محمد بن صالح العثيمين، مكتبة الصحابة، الإمارات، الطبعة: الأولى 1426هـ. الإفهام في شرح عمدة الأحكام لابن باز، تحقيق: سعيد القحطاني، مؤسسة عبد العزيز بن باز الخيرية، الرياض، الطبعة: الأولى 1435هـ. خلاصة الكلام شرح عمدة الأحكام، فيصل بن عبد العزيز المبارك، الطبعة: الثانية 1412هـ، 1992م. صحيح البخاري، محمد بن إسماعيل البخاري الجعفي، تحقيق: محمد زهير الناصر، دار طوق النجاة (مصورة عن السلطانية بإضافة ترقيم: محمد فؤاد عبد الباقي)، الطبعة: الأولى 1422هـ. صحيح مسلم، مسلم بن الحجاج القشيري النيسابوري، تحقيق محمد فؤاد عبد الباقي، دار إحياء التراث العربي، بيروت، الطبعة: 1423هـ. تأسيس الأحكام، أحمد بن يحيى النجمي، دار المنهاج، القاهرة، الطبعة: الأولى.

Hadis ini di HadeethEnc.com

Aku pernah melihat Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- saat datang ke Makkah, ketika itu beliau menyentuh Hajar Aswad -di awal Tawaf-, beliau berlari tiga kali putaran.

عن عبد الله بن عمر رضي الله عنهما قال: « تَمَتَّعَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فِي حَجَّةِ الوَدَاع بالعُمرَة إلى الحج وأهدَى، فَسَاقَ مَعَهُ الهَدْيَ مِن ذِي الحُلَيفَة، وَبَدَأَ رَسول اللَّهِ صلى الله عليه وسلم وَأَهَلَّ بالعمرة، ثُمَّ أَهَلَّ بالحج، فَتَمَتَّعَ النَّاس مع رسول اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَأَهَلَّ بالعمرة إلَى الحج، فَكَان مِن النَّاس مَنْ أَهْدَى، فَسَاقَ الهَدْيَ مِن ذي الحُلَيفَة، وَمِنهُم مَنْ لَمْ يُهْدِ، فَلَمَّا قَدِمَ رسول اللَّه صلى الله عليه وسلم قَالَ للنَّاس: مَنْ كَانَ مِنكُم أَهْدَى، فَإِنَّهُ لا يَحِلُّ مِن شَيء حَرُمَ مِنْهُ حَتَّى يَقْضِيَ حَجَّهُ، وَمَن لَم يَكُن أَهْدَى فَلْيَطُفْ بالبَيت وَبالصَّفَا وَالمَروَة، وَلْيُقَصِّر وَلْيَحْلِل، ثُمَّ لِيُهِلَّ بالحج وليُهدِ، فَمَن لم يجد هَدْياً فَلْيَصُم ثَلاثَةَ أَيَّام فِي الحج وَسَبعة إذَا رَجَعَ إلى أَهلِهِ فَطَافَ رسول اللَّهِ صلى الله عليه وسلم حِينَ قَدِمَ مَكَّةَ، وَاستَلَمَ الرُّكْنَ أَوَّلَ شَيْءٍ، ثُمَّ خَبَّ ثَلاثَةَ أَطْوَافٍ مِنْ السَّبْعِ، وَمَشَى أَربَعَة، وَرَكَعَ حِينَ قَضَى طَوَافَهُ بالبيت عِند المَقَام رَكعَتَين، ثُمَّ انصَرَفَ فَأَتَى الصَّفَا، وطاف بِالصَّفَا وَالمَروَة سَبعَةَ أَطوَاف، ثُمَّ لَم يَحلِل مِنْ شَيْءٍ حَرُمَ منه حَتَّى قَضَى حَجَّهُ، وَنَحَرَ هَدْيَهُ يوم النَّحرِ، وَأَفَاضَ فَطَافَ بالبيت، ثُمَّ حَلَّ مِن كُلِّ شَيء حَرُمَ مِنهُ، وَفَعَلَ مِثل مَا فَعَلَ رَسول اللَّه صلى الله عليه وسلم : مَن أَهدَى وَسَاقَ الهَديَ مِن النَّاسِ». «رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم حِينَ يَقْدَمُ مكَّة إذا اسْتَلَمَ الرُّكْنَ الأَسْوَدَ -أَول ما يَطُوفُ- يَخُبُّ ثَلاثَةَ أَشْوَاطٍ».
Dari Abdullah bin Umar -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, "Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-melakukan haji tamattu' pada saat haji wadā' dengan menggabungkan umrah dengan haji dan menyembelih hewan kurban. Beliau menggiring hewan kurban dari Żul Ḥulaifah. Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memulai rangkaian manasik haji dan berihram untuk umrah lalu berihram untuk haji. Orang-orang pun melakukan ibadah haji tamattu' bersama Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dan berihram untuk umrah dan haji. Di antara mereka ada yang membawa hewan kurban lalu menggiring hewan tersebut dari Żul Ḥulaifah. Ada juga yang tidak membawa hewan kurban. Ketika Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- datang , beliau bersabda kepada orang-orang, "Siapa saja di antara kalian yang membawa hewan kurban, maka tidak dihalalkan baginya sesuatu yang telah diharamkan untuknya sampai ia menyelesaikan ibadah hajinya. Dan barangsiapa tidak membawa hewan kurban, hendaklah ia Tawaf di Baitullah, Sa'i di Ṣafa dan marwa, mencukur pendek rambutnya dan bertahallul. Setelah itu hendaklah ia berihram untuk haji dan menyembelih hadyu. Dan barangsiapa tidak mendapatkan hewan kurban, hendaklah ia berpuasa tiga hari pada waktu haji dan tujuh hari ketika sudah kembali ke keluarganya. Lantas Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- melakukan Tawaf saat tiba di Makkah dan beliau pertama-tama menyentuh pilar Kakbah (Hajar Asad) sebelum memulai Tawaf. Lalu beliau berlari pada tiga kali (putaran awal) Tawaf dan berjalan pada empat putaran. Ketika selesai melaksanakan Tawaf di Baitullah, beliau melaksanakan salat dua rakaat di maqam (Ibrahim) lalu pergi menuju Ṣafa dan melakukan sa'i antara Ṣafa dan marwa tujuh putaran. Setelah itu dia tidak menghalalkan apapun yang diharamkan baginya sampai selesai melaksanakan rangkaian ibadah haji dan menyembelih hewan kurban pada hari raya kurban, lalu melakukan Tawaf ifāḍah di Baitullah. Setelah itu beliau menghalalkan segala sesuatu yang diharamkan kepadanya. Sebagian sahabat beliau melakukan sebagaimana yang dikerjakan Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- seperti membawa hewan kurban dan menggiringnya. "Aku pernah melihat Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- ketika datang ke Makkah, saat beliau telah menyentuh Hajar Aswad -pada awal Tawaf- beliau pun berlari tiga kali putaran."
Muttafaq 'alaih dengan dua riwayatnyaDerajatHadis sahih
Penjelasan

Ketika Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- keluar menuju Żul Ḥulaifah -Miqat penduduk Madinah- untuk menunaikan ibadah haji, di mana haji tersebut adalah haji perpisahan (wadā') dengan Baitullah dan rangkaian manasik haji, serta perpisahan dengan para sahabatnya. Beliau juga menyampaikan risalahnya kepada mereka dan meminta kesaksian mereka terhadap hal itu. Beliau melakukan ihram untuk umrah dan haji, maka dengan itu, beliau melaksanakan haji Qiran. Haji Qiran adalah Tamattu' (bersenang-senang). Lantas orang-orang pun melaksanakan Tamattu' bersama Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Sebagian mereka ada yang berihram dengan dua ibadah sekaligus, dan sebagian lagi berihram untuk umrah dengan niat akan melaksanakan ihram untuk haji setelah selesai umrah. Sebagian lagi ada yang melaksanakan haji Ifrad (tunggal). Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- telah memberikan tiga pilihan ibadah haji untuk mereka. Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersama sebagian sahabat menggiring hewan kurban dari Żul Ḥulaifah, dan sebagian lagi tidak menggiiringnya. Ketika mereka sudah mendekati Makkah, beliau memotivasi orang-orang yang tidak menggiring hewan kurban, yaitu orang-orang yang melaksanakan haji Ifrad dan Qiran untuk membatalkan hajinya dan menjadikannya umrah. Ketika mereka selesai Tawaf dan sa'i, beliau menegaskan kepada mereka agar mencukur pendek rambut-rambut mereka, bertahallul dari umrah mereka, lalu melakukan ihram untuk haji, dan menyembelih hewan kurban karena mereka melakukan dua ibadah dalam satu perjalanan. Barangsiapa tidak mendapatkan hewan kurban, hendaknya ia berpuasa sepuluh hari; tiga hari pada saat ibadah haji dan waktu puasanya dimulai pada saat melakukan ihram untuk umrah, lalu tujuh hari lagi ketika sudah kembali ke keluarganya. Ketika Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- tiba di Makkah, beliau menyentuh Hajar Aswad lalu melakukan Tawaf tujuh kali putaran. Beliau berlari pada tiga putaran pertama, karena itu adalah Tawaf Qudum, dan berjalan empat kali putaran. Setelah itu beliau salat dua rakaat di dekat Maqam Ibrahim. Kemudian menuju ke Ṣafa lalu melakukan sa'i antara Ṣafa dan marwa sebanyak tujuh putaran. Beliau berlari cepat saat berada di antara dua tanda (warna hijau) dan berjalan di luar dua tanda tersebut. Beliau tidak menghalalkan dari ihramnya hingga selesai melaksanakan rangkaian ibadah hajinya, dan menyembelih hewan kurbannya pada hari raya kurban. Ketika beliau telah menyelesaikan ibadah hajinya, yaitu dengan melempar jumrah Aqabah, menyembelih hewan kurban dan mencukur bersih rambut kepala pada hari raya kurban, maka inilah yang disebut tahallul awal. Beliau melakukan Tawaf Ifaḍāh di Baitullah, setelah itu dihalalkan bagi beliau segala perbuatan bahkan menggauli istri. Sebagian sahabat melakukan manasik haji sebagaimana yang dilakukan oleh beliau.

Rujukan

الإلمام بشرح عمدة الأحكام، لإسماعيل الأنصاري، ط1، دار الفكر، دمشق، 1381هـ. تيسير العلام شرح عمدة الأحكام، للبسام، حققه وعلق عليه وخرج أحاديثه وصنع فهارسه: محمد صبحي بن حسن حلاق، ط10، مكتبة الصحابة، الإمارات - مكتبة التابعين، القاهرة، 1426هـ. تنبيه الأفهام شرح عمدة الأحكام، لابن عثيمين، ط1، مكتبة الصحابة، الإمارات، 1426هـ. عمدة الأحكام من كلام خير الأنام صلى الله عليه وسلم، لعبد الغني المقدسي، دراسة وتحقيق: محمود الأرناؤوط، مراجعة وتقديم: عبد القادر الأرناؤوط، ط2، دار الثقافة العربية، دمشق، بيروت، مؤسسة قرطبة، 1408 هـ. صحيح البخاري، تحقيق: محمد زهير بن ناصر الناصر، ط1، دار طوق النجاة (مصورة عن السلطانية بإضافة ترقيم: محمد فؤاد عبد الباقي)، 1422هـ. صحيح مسلم، تحقيق: محمد فؤاد عبد الباقي، دار إحياء التراث العربي، بيروت، 1423هـ.

Hadis ini di HadeethEnc.com

Wahai Rasulullah, mengapa orang-orang telah bertahalul dari umrahnya sementara anda belum bertahalul dari umrah anda? Beliau menjawab, "Sesungguhnya aku telah mengempalkan rambutku dan mengalungi hewan kurbanku, maka aku tidak akan bertahalul hingga aku menyembelih (hewan kurbanku)".

عن حَفْصَة زَوْج النَّبِي رضي الله عنها قالت: «يَا رَسُولَ اللَّه، مَا شَأن النَّاس حَلُّوا مِنَ العُمرَة، وَلَم تَحِلَّ أنت مِنْ عُمْرَتِكَ؟ فَقَال: إنِّي لَبَّدْتُ رَأْسِي، وَقَلَّدتُ هَدْيِي، فَلا أَحِلُّ حَتَّى أَنْحَرَ».
Dari Ḥafṣah, istri Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- ia berkata, "Wahai Rasulullah, mengapa orang-orang telah bertahalul dari umrahnya sementara anda belum bertahalul dari umrah anda? Beliau menjawab, "Sesungguhnya aku telah mengempalkan rambutku dan mengalungi hewan kurbanku, maka aku tidak akan bertahalul hingga aku menyembelih (hewan kurbanku)."
Muttafaq 'alaihDerajatHadis sahih
Penjelasan

Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- berihram umrah dan haji dalam haji Wadak. Beliau menggiring hewan kurban, mengempal rambut dengan sesuatu agar tidak terurai karena waktu ihram beliau akan lama. Sebagian sahabat berihram seperti ihram beliau, sedang sebagian lain berihram umrah untuk kemudian menunaikan haji dengan santai (haji tamattu`). Mayoritas mereka tidak membawa hewan kurban dan sebagian mereka membawanya. Ketika mereka tiba di Makkah, lalu tawaf dan sa'i, beliau memerintah orang-orang yang tidak membawa hewan kurban yang berihram haji ifrad dan qiran agar mereka mengubah haji mereka menjadi umrah dan tahalul. Sedangkan beliau -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dan sebagian sahabat yang membawa hewan kurban tetap berada dalam ihram mereka, tidak tahalul. Maka istri beliau, Ḥafṣah, menanyakan, mengapa orang-orang bertahalul sementara beliau tidak? Beliau menjawab, "Aku telah mengempalkan rambutku, mengalungi hewan kurbanku dan menggiringnya. Ini menghalangiku bertahalul sebelum hewan kurban sampai ke tempatnya, yakni hari selesainya haji di hari Nahr (10 Zulhijah)."

Rujukan

تيسير العلام شرح عمدة الأحكام، عبد الله بن عبد الرحمن البسام، تحقيق: محمد صبحي حلاق، مكتبة الصحابة، الإمارات، مكتبة التابعين، القاهرة، الطبعة: العاشرة 1426هـ، 2006م. تنبيه الأفهام شرح عمدة الأحكام، محمد بن صالح العثيمين، مكتبة الصحابة، الإمارات، الطبعة: الأولى 1426هـ، 2005م. عمدة الأحكام من كلام خير الأنام -صلى الله عليه وسلم- لعبد الغني المقدسي، دراسة وتحقيق: محمود الأرناؤوط، مراجعة وتقديم: عبد القادر الأرناؤوط، دار الثقافة العربية، دمشق، بيروت، مؤسسة قرطبة، الطبعة: الثانية 1408هـ، 1988م. صحيح البخاري، محمد بن إسماعيل البخاري الجعفي، تحقيق: محمد زهير الناصر، دار طوق النجاة (مصورة عن السلطانية بإضافة ترقيم: محمد فؤاد عبد الباقي)، الطبعة: الأولى 1422هـ. صحيح مسلم، مسلم بن الحجاج القشيري النيسابوري، تحقيق محمد فؤاد عبد الباقي، دار إحياء التراث العربي، بيروت، الطبعة: 1423هـ.

Hadis ini di HadeethEnc.com

Lalu ia menjadikan baitullah berada disebelah kirinya, dan Mina berada disebelah kanannya, ‎lalu berkata, “Ini adalah tempat diturunkannya surah Al-Baqarah kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-.”

عن عبد الرحمن بن يزيد النَّخَعِي: «أنه حج مع ابن مسعود فرآه يَرمي الجَمْرَةَ الكبرى بسبع حصَيات، فجعل البيت عن يساره، ومِنى عن يمينه، ثم قال: هذا مَقَامُ الذي أُنْزِلَتْ عليه سورة البقرة صلى الله عليه وسلم ».
Dari Abdurrahman bin Yazīd An-Nakha'i, bahwa dirinya pernah berhaji bersama Ibnu Mas'ūd. ‎Dia melihatnya melempar Jumrah kubra dengan tujuh butir kerikil. Lalu ia menjadikan Baitullah ‎berada disebelah kirinya, dan Mina berada disebelah kanannya, lalu berkata, “Ini adalah tempat ‎diturunkannya surah Al-Baqarah kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-”‎
Muttafaq 'alaihDerajatHadis sahih
Penjelasan

Melempar jumrah pada hari nahr (kurban) dan hari-hari tasyrik adalah ibadah yang agung. ‎Didalamnya terkandung makna ketundukan kepada Allah Ta`ala dan juga sebagai bentuk ‎pelaksanaan atas perintah-perintah-Nya serta mencontoh Nabi Ibrahim al-Khalil `Alaihish Shalaatu was Salaam. Yang pertama kali dimulai oleh seseorang yang sedang menunaikan ibadah ‎haji pada hari nahr adalah melempar jumrah kubra sebagai pembuka amalan pada hari yang ‎agung tersebut. Ia berdiri pada posisi sebagaimana Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- yaitu ‎menjadikan Ka`bah musyarrafah berada disebelah kirinya dan Mina berada disebelah kanannya. Dia ‎menghadap kepada jumrah dan melemparnya dengan tujuh butir kerikil seraya bertakbir ‎bersama setiap satu lemparan kerikil, sebagaimana yang dilakukan oleh Ibnu Mas'ūd -raḍiyallāhu 'anhu- dan dia bersumpah bahwa ini adalah tempat di mana surah Al-Baqarah ‎diturunkan kepada beliau -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-.

Rujukan

تيسير العلام، تأليف: عبد الله بن عبد الرحمن البسام، تحقيق محمد صبحي بن حسن حلاق، مكتبة الصحابة ومكتبة التابعين، الطبعة العاشرة، 1426 هـ. تأسيس الأحكام شرح عمدة الأحكام، تأليف: أحمد بن يحي النجمي: نسخة إلكترونية لا يوجد بها بيانات نشر. تنبيه الأفهام شرح عمدة الإحكام، تأليف: محمد بن صالح العثيمين، مكتبة الصحابة ومكتبة التابعين، الطبعة الأولى: 1426هـ. الإفهام في شرح عمدة الأحكام، للشيخ عبد العزيز بن عبد الله بن باز، تحقيق: سعيد بن علي بن وهف القحطاني، الطبعة الأولى، 1435 هـ خلاصة الكلام على عمدة الأحكام، تأليف: فيصل بن عبد العزيز آل مبارك، الطبعة الثانية، 1412 هـ صحيح البخاري، تأليف: محمد بن إسماعيل البخاري ، تحقيق: محمد زهير الناصر، الناشر: دار طوق النجاة الطبعة: الأولى، 1422هـ صحيح مسلم، تأليف: مسلم بن الحجاج النيسابوري، تحقيق: محمد فؤاد عبد الباقي، الناشر: دار إحياء التراث العربي – بيروت.

Hadis ini di HadeethEnc.com

Bagaimana Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- berjalan ketika berangkat dari Arafah ke Muzdalifah?" Ia menjawab, "Beliau berjalan sedang-sedang saja. Jika menemukan tempat lapang, beliau berjalan dengan cepat."

عن عُرْوَةَ بن الزُّبَيْرِ قال: «سُئل أُسَامَةُ بن زَيْدٍ -وأنا جالس- كيف كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يسيرُ حِينَ دَفَعَ؟ قال: كان يَسيرُ العَنَقَ، فإذا وجد فَجْوَةً نَصَّ».
Dari Urwah bin Az-Zubair, ia berkata, "Usamah bin Zaid ditanya - saat itu aku sedang duduk - "Bagaimana Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- berjalan ketika berangkat dari Arafah ke Muzdalifah?" Ia menjawab, "Beliau berjalan sedang-sedang saja. Jika menemukan tempat lapang, beliau berjalan dengan cepat."
Muttafaq 'alaihDerajatHadis sahih
Penjelasan

Usamah bin Zaid -raḍiyallāhu 'anhumā- membonceng di belakang Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dari Arafah ke Muzdalifah. Dia adalah orang yang paling tahu tentang langkah jalan Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Lantas ia ditanya mengenai sifat jalan beliau. Ia menjawab, "Beliau berjalan pertengahan, yaitu berjalan dengan santai dan ringannya saat orang-orang berjejalan agar tidak mengganggu. Jika beliau menemukan celah lapang tanpa ada seorang manusia pun, maka beliau menggerakkan kendaraannya lalu berjalan dengan sedikit cepat karena tidak adanya gangguan dalam berjalan cepat saat itu."

Rujukan

عمدة الأحكام، تأليف: عبد الغني بن عبد الواحد المقدسي، تحقيق: محمود الأرناؤوط، دار الثقافة العربية ومؤسسة قرطبة، الطبعة الثانية، 1408هـ. تيسير العلام، تأليف: عبد الله بن عبد الرحمن البسام، تحقيق محمد صبحي بن حسن حلاق، مكتبة الصحابة ومكتبة التابعين، الطبعة العاشرة، 1426هـ. تأسيس الأحكام شرح عمدة الأحكام، تأليف: أحمد بن يحي النجمي: نسخة إلكترونية لا يوجد بها بيانات نشر. تنبيه الأفهام شرح عمدة الإحكام، تأليف: محمد بن صالح العثيمين، مكتبة الصحابة ومكتبة التابعين، الطبعة الأولى: 1426هـ. صحيح البخاري، تأليف: محمد بن إسماعيل البخاري، تحقيق: محمد زهير الناصر، الناشر: دار طوق النجاة الطبعة: الأولى، 1422هـ. صحيح مسلم ، تأليف: مسلم بن الحجاج النيسابوري، تحقيق: محمد فؤاد عبد الباقي، الناشر: دار إحياء التراث العربي – بيروت.

Hadis ini di HadeethEnc.com

Ini adalah perkara yang telah Allah tetapkan bagi kaum wanita dari anak cucu Adam. Lakukan apa yang dilakukan orang yang haji, hanya saja jangan tawaf di Baitullah sampai engkau suci

عن عائشة رضي الله عنها قالت: خرجنا مع رسول الله صلى الله عليه وسلم لا نَذْكُرُ إلا الحج، حتى جِئْنَا سَرِف فَطَمِثْتُ، فدخل عليَّ رسول الله صلى الله عليه وسلم وأنا أبْكِي، فقال: «ما يُبْكِيك؟» فقلت: والله، لوَدِدْتُ أنَّي لم أكُن خرجت العَام، قال: «ما لك؟ لَعَلَّكِ نَفِسْتِ؟» قلت: نعم، قال: «هذا شيء كَتَبه الله على بنات آدم، افعلي ما يفعل الحاج غير أن لا تَطُوفي بالبيت حتى تَطْهُري» قالت: فلمَّا قدمت مكة، قال رسول الله صلى الله عليه وسلم لأصحابه «اجْعَلُوها عُمرة» فأحَلَّ الناس إلا من كان معه الهَدْي، قالت: فكان الهَدْي مع النبي صلى الله عليه وسلم وأبي بكر وعمر وذَوِي اليَسَارَة، ثم أهَلُّوا حين راحُوا، قالت: فلمَّا كان يوم النَّحر طَهَرْت، فأمَرَني رسول الله صلى الله عليه وسلم فَأَفَضْتُ، قالت: فَأُتِيَنَا بِلَحم بَقَر، فقلت: ما هذا؟ فقالوا: أَهْدَى رسول الله -صلى الله عليه وسلم- عن نِسَائه البقر، فلمَّا كانت ليلة الحَصْبَةِ، قلت: يا رسول الله، يرجع الناس بحجة وعُمرة وأرجع بِحَجَّة؟ قالت: فأمر عبد الرحمن بن أبي بكر، فَأَرْدَفَنِي على جَمَلِه، قالت: فإني لأذْكُر، وأنا جَارية حَدِيثَةُ السِّن، أَنْعَسُ فيُصِيب وجْهِي مُؤْخِرَة الرَّحْل، حتى جِئْنَا إلى التَّنْعِيم، فَأَهْلَلْتُ منها بِعُمْرة؛ جزاء بِعُمْرَة الناس التي اعْتَمَرُوا.
Dari Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- ia berkata, "Kami berangkat bersama Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, kami tidak menyebut (berniat) selain untuk menunaikan haji, sampai kami tiba di Sarif. Lalu aku haid. Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- masuk menemuiku sementara aku sedang menangis. Beliau bertanya, "Apa yang membuatmu menangis?" Aku menjawab, "Demi Allah, sungguh aku ingin seandainya aku tidak ikut berangkat di tahun ini." Beliau bertanya, "Apa yang terjadi denganmu? Apakah engkau datang bulan?" Aku menjawab, "Ya." Beliau bersabda, "Ini adalah perkara yang telah Allah tetapkan bagi kaum wanita dari anak cucu Adam. Lakukan apa yang dilakukan orang yang haji, hanya saja jangan tawaf di Baitullah sampai engkau suci." Aisyah menuturkan, "Manakala aku tiba di Makkah, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda pada sahabat-sahabat beliau, "Ubahlah (manasik kalian) menjadi umrah." Maka orang-orang bertahalul kecuali orang yang membawa hewan kurban. Saat itu Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- membawa hewan kurban, demikian juga Abu Bakar, Umar dan orang-orang yang berharta. Kemudian mereka berihram untuk manasik haji ketika berangkat (ke Mina). Ketika tiba hari Nahr (10 Zulhijah) aku suci. Maka Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memerintahkanku untuk tawaf ifadah. Lalu kami diberi daging sapi, aku bertanya, "Daging apa ini?" Mereka menjawab, "Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- berkurban sapi untuk istri-istri beliau. Di malam haṣbah aku berkata, "Wahai Rasulullah, orang-orang pulang membawa haji dan umrah sementara aku pulang hanya membawa haji." Ia menuturkan, lantas Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memerintah Abdurrahman bin Abu Bakar (menemaniku). Lalu ia memboncengkanku di atas untanya. Sungguh aku masih ingat, ketika itu aku seorang wanita muda, aku mengantuk sehingga ujung pelana unta mengenai wajahku. Sampai kami tiba di Tan'īm, aku berihram untuk umrah dari Tan'īm guna menyamai umrah orang-orang yang sudah mengerjakannya.
Diriwayatkan oleh MuslimDerajatHadis sahih
Penjelasan

Makna hadis Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā-, "Kami berangkat bersama Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, kami tidak menyebut (berniat) selain untuk haji." Yaitu ketika berangkat dari Madinah. Keberangkatan Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pada hari Sabtu, 5 hari terakhir bulan Zulkaidah, setelah salat Zuhur empat rakaat. Kemudian beliau berjalan sampai Żul Ḥulaifah, lalu salat Asar dua rakaat di tempat ini. "kami tidak menyebut (berniat) selain untuk haji". Dalam riwayat lain, "kami tidak melihat (berpendapat) selain haji". Akan tetapi diriwayatkan darinya dalam hadis lain yang sahih, "Sebagian kami berihram untuk umrah dan sebagian kami berihram untuk haji, dan aku termasuk orang yang berihram untuk umrah." Berdasarkan hadis ini, ucapan Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā-, "Kami tidak menyebut (berniat) selain untuk haji" dan "Kami tidak melihat (berpendapat) selain untuk haji" tidak terlepas dari tiga kondisi: 1. Maksudnya kewajiban haji dari sisi asalnya, bukan penjelasan jenis ibadah yang mereka ihram dengannya. 2. Maksudnya ketika mereka berangkat sebelum sampai miqat dan memulai ihram. 3. Maksudnya, kondisi-kondisi sahabat yang lain, bukan dirinya. "Sampai kami tiba di Sarif", artinya sampai mereka tiba di satu tempat bernama Sarif. Sebuah tempat dekat Makkah. "Lalu aku haid", artinya Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- datang bulan. "Maka Rasulullah masuk menemuiku sementara aku sedang menangis, maka beliau bertanya, "Apa yang membuatmu menangis?" Aku berkata, "Demi Allah, aku berharap seandainya aku tidak ikut berangkat tahun ini." Ketika Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- mengalami apa yang ia alami tersebut, ia menangis dan berangan-angan sekiranya ia tidak berangkat haji bersama mereka tahun ini; karena ia mengira ketika dirinya datang bulan berarti amal-amal haji terputus dan ia tidak bisa mendapatkan kebaikan tersebut. Beliau bertanya, "Ada apa denganmu? Apakah engkau nifas?" maksudnya, datang bulan. Aku berkata, "Ya". Beliau bersabda, "Ini adalah perkara yang telah Allah tetapkan bagi kaum wanita dari anak cucu Adam." Artinya, haid adalah satu perkara yang telah ditetapkan bagi kaum wanita dari anak cucu Adam. Tidak hanya mengenaimu, dan juga bukan di bawah kendalimu, sehingga tidak ada alasan untuk menangis." Lakukan apa yang dilakukan orang yang haji, hanya saja jangan tawaf di Baitullah sampai engkau suci." Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memberitahu Aisyah bahwa haid tidak menghalanginya melanjutkan ibadahnya, tidak merusak ihramnya dan bahwa ia boleh melakukan apa yang dilakukan orang yang berhaji, seperti wukuf di Arafah, Mina, Muzdalifah, melempar jumrah dan amal-amal haji lainnya, kecuali tawaf, di mana ia tidak boleh mengerjakannya sebelum suci dari haid dan mandi. Aisyah menuturkan, "Manakala aku tiba di Makkah, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda kepada sahabat-sahabat beliau, "Ubahlah (ibadah kalian) menjadi umrah." Maksudnya, manakala Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- tiba di Makkah, beliau memerintah orang-orang yang tidak membawa hewan kurban supaya mengubah ihram mereka menjadi umrah. Siapa yang berihram haji dan tidak membawa hewan kurban, hendaknya ia mengubah ihram hajinya menjadi umrah. Sehingga ia melakukan tawaf, sai dan memendekkan rambut, maka ia telah halal dari ihramnya. Dalam riwayat Muslim, “Lantas Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memerintahkan siapa di antara kami yang tidak membawa hewan kurban maka hendaknya dia bertahalul. Kami bertanya, “Tahalul apa?” Beliau menjawab, “Tahalul semuanya. "Ia berkata, “Maka orang-orang bertahalul kecuali orang yang membawa hewan kurban. Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- membawa hewan kurban, juga Abu Bakar, Umar dan orang-orang yang berharta.” Maksudnya, orang yang tidak membawa hewan kurban bertahalul (halal) dari ihramnya setelah mereka melakukan tawaf, sai dan memendekkan rambut. Sedangkan Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, Abu Bakar, Umar -raḍiyallāhu 'anhumā- dan orang yang membawa hewan kurban yang Allah beri kelonggaran rezeki tetap berada dalam ihram mereka. Karena mereka membawa hewan kurban, dan siapa yang membawa hewan kurban, maka ia tidak boleh mengubah ihramnya menjadi umrah. Berdasarkan sabda Nabi –ṣallallāhu 'alaihi wa sallam, “Seandainya aku tidak membawa hewan kurban pasti aku melakukan seperti yang aku perintahkan kepada kalian.” “Ia berkata, “Kemudian mereka berihram untuk haji ketika berangkat (ke Mina).” Maksudnya, orang-orang yang tawaf, sai dan memendekkan rambut tersebut berihram haji ketika mereka berangkat ke Mina, yakni pada hari Tarwiyah, tanggal 8 Zulhijah. Dia berkata, “Ketika tiba hari Nahr aku suci.” Maksudnya, Aisyah suci dari haidnya di hari Nahr, yakni tanggal 10 Zulhijah. Dinamakan hari Nahr karena di hari tersebut hewan-hewan kurban dinahr (disembelih).“Maka Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memerintahkanku tawaf ifāḍah”, yakni setelah Aisyah –raḍiyallāhu 'anhā- suci dari haidnya di hari Nahr, Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memerintahnya mengerjakan tawaf ifāḍah. Ia pun melaksanakannya. Dia berkata, “Lalu kami diberi daging sapi. Aku berkata, "Daging apa ini?" Maksudnya, ia dan kaum wanita yang bersamanya mendapatkan kiriman daging sapi, kemudian ia bertanya tentang asal daging ini. “Mereka menjawab, "Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- berkurban sapi untuk istri-istri beliau.” Maksudnya, Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menyembelih untuk setiap istri-istri beliau satu ekor sapi. “Di malam Ḥaṣbah”, yakni ketika tiba malam turun dari Mina, yaitu malam setelah hari-hari Tasyriq. Dinamakan malam Ḥaṣbah, karena mereka meninggalkan mina lalu singgah di Al-Muḥaṣṣab dan bermalam di tempat ini. Dalam riwayat Bukhari, “Bahwa Nabi –ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- tidur sebentar di Al-Muḥaṣṣab, kemudian naik kendaraan menuju Baitullah lalu mengerjakan tawaf.” “Aku berkata, "Wahai Rasulullah, orang-orang pulang pulang membawa haji dan umrah, sementara aku pulang hanya membawa haji." Maksudnya, mereka pulang membawa haji tersendiri dan umrah tersendiri, karena mereka melakukan haji Tamattuk, sementara aku pulang tanpa membawa umrah yang dikerjakan terpisah, karena ia melakukan haji Qiran. Umrah dalam haji Qiran masuk jadi satu dalam haji. Dalam riwayat Muslim, “Apakah orang-orang pulang dengan membawa dua pahala, sedangkan aku hanya satu pahala?” Maksudnya, ia ingin memiliki umrah yang dikerjakan terpisah dari haji sebagaimana dilakukan para Ummahatul Mukminin lainnya dan para sahabat yang mengubah haji menjadi umrah, di mana mereka menyelesaikan umrah dan tahalul sebelum hari Tarwiyah, kemudian mereka ihram haji dari Makkah di hari Tarwiyah. Sehingga mereka memperoleh umrah dan haji yang dikerjakan sendiri-sendiri. Sedangkan Aisyah hanya memiliki umrah yang masuk dalam haji karena memang digabungkan (haji Qiran). Maka Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda kepadanya di hari Nafar, “tawafmu cukup untuk haji dan umrahmu.” Artinya, kedua ibadah itu telah sempurna dan mencukupimu. Namun ia enggan dan tetap menginginkan umrah yang dikerjakan sendiri sebagaimana yang diperoleh orang lain. “Ia menuturkan, "lantas Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memerintah Abdurrahman bin Abu Bakar (menemaniku). Lalu ia memboncengku di atas untanya.” Artinya, Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memerintahkan saudara Aisyah, yakni Abdurrahman bin Abu Bakar -raḍiyallāhu 'anhumā- keluar bersamanya ke Tan'īm supaya Aisyah bisa menunaikan umrah dari tempat ini. Sehingga ia seperti orang lainnya. Maka Abdurrahman -raḍiyallāhu 'anhu- memboncengkan Aisyah di belakangnya, sebagaimana disebutkan dalam riwayat Muslim yang lain. “Ia menuturkan, “Sungguh aku masih ingat, ketika itu aku seorang wanita muda, aku mengantuk sehingga ujung pelana unta mengenai wajahku.” Yakni, ketika Abdurrahman bin Abu Bakar -raḍiyallāhu 'anhumā- membonceng Aisyah di belakangnya dan berangkat bersamanya menuju Tan'īm, Aisyah mengantuk hingga kepalanya tertunduk karena sangat mengantuk sampai terantuk ujung pelana unta. “Hingga kami tiba di Tan'īm, dan aku berihram umrah dari Tan'īm untuk menyamai umrah orang-orang yang sudah mengerjakannya.” Maksudnya, ketika keduanya tiba di Tan'īm, Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- berihram melaksanakan umrah yang dikerjakan sendiri untuk menyamai umrah orang-orang yang telah mengerjakan itu terlebih dulu. Dalam riwayat lain dalam “Aṣ-Ṣaḥīḥain” bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda kepadanya setelah ia menunaikan umrah, “Ini ganti umrahmu”, artinya umrah ini sebagai ganti umrah yang engkau ingin memperolehnya secara terpisah, tidak tergabung dalam haji, hanya saja haid menghalangimu melakukannya.

Rujukan

صحيح مسلم، مسلم بن الحجاج القشيري النيسابوري، تحقيق محمد فؤاد عبد الباقي، دار إحياء التراث العربي، بيروت، الطبعة: 1423هـ. لسان العرب، محمد بن مكرم بن منظور الأنصاري، دار صادر، بيروت، الطبعة: الثالثة 1414هـ. كشف المشكل من حديث الصحيحين، جمال الدين أبو الفرج عبد الرحمن بن الجوزي، تحقيق: علي حسين البواب، الناشر: دار الوطن، الرياض. المصباح المنير في غريب الشرح الكبير، أحمد بن محمد بن علي الفيومي، الناشر: المكتبة العلمية، بيروت. النهاية في غريب الحديث والأثر، مجد الدين أبو السعادات المبارك بن الأثير، تحقيق: طاهر أحمد الزاوى، محمود محمد الطناحي، نشر: المكتبة العلمية، بيروت، الطبعة: 1399هـ، 1979م. المنهاج شرح صحيح مسلم بن الحجاج، أبو زكريا محيي الدين النووي، دار إحياء التراث العربي، بيروت، الطبعة: الثانية 1392هـ. إكمال المعلم بفوائد مسلم، عياض بن موسى اليحصبي السبتي، المحقق: يحيى إسماعيل، الناشر: دار الوفاء للطباعة والنشر والتوزيع، مصر، الطبعة: الأولى، 1419هـ، 1998م. تسهيل الإلمام بفقه الأحاديث من بلوغ المرام، صالح بن فوزان بن عبد الله الفوزان، اعتنى بإخراجه عبدالسلام بن عبد الله السليمان، الرسالة، بيروت، الطبعة: الأولى 1427هـ، 2006م. توضيح الأحكام مِن بلوغ المرام، عبد الله بن عبد الرحمن البسام، مكتبة الأسدي، مكة المكرّمة، الطبعة: الخامِسَة 1423هـ، 2003م. فتح ذي الجلال والإكرام شرح بلوغ المرام، محمد بن صالح العثيمين، تحقيق: صبحي بن محمد رمضان، وأم إسراء بنت عرفة، المكتبة الإسلامية، الطبعة: الأولى 1427هـ.

Hadis ini di HadeethEnc.com

Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- berhaji di atas kendaraan dengan pelana yang usang dan tikar senilai empat dirham atau kurang, kemudian beliau bersabda, "Ya Allah! Aku menunaikan haji ini tanpa ria di dalamnya maupun sumah."

عن أنس بن مالك رضي الله عنه ، قال: حَجَّ النبي صلى الله عليه وسلم على رَحْلٍ رَثٍّ، وقَطِيفة تُساوي أربعة دراهم، أو لا تُساوي، ثم قال: «اللهمَّ حَجَّة لا رِياءَ فيها، ولا سُمْعَة».
Anas bin Malik -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, "Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- berhaji di atas kendaraan dengan pelana yang usang dan tikar senilai empat dirham atau kurang, kemudian beliau berkata, 'Ya Allah! Aku menunaikan haji ini tanpa ria di dalamnya maupun sumah.'"
Diriwayatkan oleh Ibnu MājahDerajatHadis sahih
Penjelasan

Hadis ini memberikan pelajaran bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- berhaji di atas unta dengan pelana yang usang dan tikar yang senilai empat dirham atau kurang dari itu, kemudian beliau berkata, "Ya Allah! Hajiku ini tidak aku kerjakan karena ria ataupun sumah pada manusia. Namun aku mengerjakannya murni untuk-Mu; agar Engkau rida kepadaku."

Rujukan

- سنن ابن ماجه، تحقيق: محمد فؤاد عبد الباقي، نشر: دار إحياء الكتب العربية - فيصل عيسى البابي الحلبي. - النهاية في غريب الحديث والأثر، لابن الأثير، نشر: المكتبة العلمية - بيروت، 1399هـ - 1979م، تحقيق: طاهر أحمد الزاوى - محمود محمد الطناحي. - فيض القدير شرح الجامع الصغير، للمناوي، المكتبة التجارية الكبرى – مصر، الطبعة: الأولى. - سلسلة الأحاديث الصحيحة وشيء من فقهها وفوائدها، تأليف محمد ناصر الدين الألباني، الناشر: مكتبة المعارف للنشر والتوزيع، الرياض، الطبعة: الأولى، لمكتبة المعارف. - معجم اللغة العربية المعاصرة، للدكتور أحمد مختار عبد الحميد عمر بمساعدة فريق عمل، الناشر: عالم الكتب، الطبعة: الأولى، 1429 هـ - 2008 م. - حاشية السندي على سنن ابن ماجه = كفاية الحاجة في شرح سنن ابن ماجه, محمد بن عبد الهادي التتوي، أبو الحسن، نور الدين السندي, دار الجيل - بيروت، بدون طبعة. - تهذيب اللغة, محمد بن أحمد بن الأزهري الهروي، المحقق: محمد عوض مرعب, دار إحياء التراث العربي - بيروت, الطبعة: الأولى، 2001م.

Hadis ini di HadeethEnc.com

Setiap hadis, derajat, penjelasan, dan faedah di sini ditampilkan persis sebagaimana diterbitkan HadeethEnc.com, menurut ketentuan penerbitan ulangnya. Derajat itu tidak menyebut siapa yang menilainya. Terjemahan dan penjelasan adalah karya para penyusunnya, dan sebagian menyebutkan hukum; para peninjau Sabīl belum memeriksanya. Hadis berbahasa Arablah teksnya. Sumber: HadeethEnc.com