Langsung ke konten
Hadis dengan penjelasan

Kewajiban-kewajiban Pemimpin

16 hadis

JIka harta dari negeri Bahrain telah sampai kepada kita maka aku pasti memberikan kepadamu sekian, sekian dan sekian.

عن جابر رضي الله عنه قَالَ: قال لِي النبي -صلَّى الله عليه وسلَّم-: «لَوْ قدْ جَاءَ مَال البَحرين أَعْطَيتُكَ هَكَذَا وهكذا وهكذا»، فَلَمْ يَجِئْ مَالُ البَحرَينِ حَتَّى قُبِضَ النَّبي -صلَّى الله عليه وسلَّم- فلمَّا جَاء مَالُ البحرينِ أمر أبو بكر رضي الله عنه فَنَادَى: مَنْ كَانَ لَهُ عِندَ رسُول الله -صلَّى الله عليه وسلَّم- عِدَةٌ أَو دَينٌ فَلْيَأتِنَا، فَأَتَيتُهُ وقُلتُ لَهُ: إِنَّ النبيَّ -صلَّى الله عليه وسلَّم- قال لِي كَذَا وكذا، فَحَثَى لِي حَثِيَّةً فَعَدَدتُهَا، فَإِذَا هِيَ خَمسُمِئَةٍ، فَقَال لي: خُذْ مِثلَيهَا.
Dari Jabir bin 'Abdullah -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Jika harta dari negeri Bahrain telah sampai kepada kita maka aku pasti memberikan kepadamu sekian, sekian dan sekian". Namun harta dari Bahrain tidak kunjung datang hingga Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- wafat. Ketika harta dari Bahrain datang, Abu Bakar -raḍiyallāhu 'anhu- memerintahkan dan berseru, "Siapa yang telah dijanjikan sesuatu atau diutangi oleh Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- hendaklah menemui kami". Maka aku mendatanginya dan aku katakan bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- telah berkata kepadaku begini dan begitu, lalu ia (Abu Bakar) memberiku setangkup, lalu aku menghitungnya ternyata ia berjumlah lima ratus, lalu ia berkata, "Ambillah dua kali lagi seperti itu."
Muttafaq 'alaihDerajatHadis sahih
Penjelasan

Jabir bin 'Abdullah -raḍiyallāhu 'anhumā- menyampaikan kepada kita dalam hadis ini bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menjanjikan kepadanya, jika harta dari negeri Bahrain datang maka beliau akan memberikan kepadanya jatah yang mencukupi. Ketika harta dari Bahrain datang pada masa Khalifah Abu Bakar setelah Rsulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- wafat, maka khalifah -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, "Siapa yang telah dijanjikan sesuatu atau diutangi oleh Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- hendaklah menemui kami". Karena bisa jadi Rasulullah membeli sesuatu dari seseorang sehingga beliau berutang, atau beliau menjajinkan sesuatu kepada orang tersebut. Maka Jabir -raḍiyallāhu 'anhu- mendatangi Abu Bakar -raḍiyallāhu 'anhu- dan mengatakan, "Sesungguhnya Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- telah berkata kepadaku, 'JIka harta dari negeri Bahrain telah sampai kepada kita maka aku pasti memberikan kepadamu sekian, sekian dan sekian. Abu Bakar berkata, 'Ambillah.' Lalu Jabir mengambil dengan kedua tangannya. Kemudian dia menghitungnya, ternyata jumlahnya lima ratus dirham. Maka Abu Bakar berkata, "Ambillah dua kali lagi seperti itu." Karena Rasul mengatakan, 'sekian, sekian dan sekian' sebanyak tiga kali. Makau Abu Bakar -raḍiyallāhu 'anhu- menunaikan janji yang dijanjikan oleh Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- kepada Jabir.

Rujukan

صحيح البخاري، للإمام أبي عبد الله محمد بن إسماعيل البخاري، عناية محمد زهير الناصر، دار طوق النجاة، الطبعة الأولى، 1422هـ. - صحيح مسلم، للإمام مسلم بن الحجاج، حققه ورقمه محمد فؤاد عبد الباقي، دار عالم الكتب، الرياض، الطبعة الأولى، 1417هـ. - كنوز رياض الصالحين، لحمد بن ناصر العمار، دار كنوز إشبيليا- الطبعة الأولى 1430ه - شرح رياض الصالحين، للشيخ محمد بن صالح العثيمين، مدار الوطن، الرياض، 1426هـ. - بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين، سليم الهلالي دار ابن الجوزي، الطبعة الأولى 1418ه. - دليل الفالحين لطرق رياض الصالحين, محمد علي بن محمد البكري, اعتنى بها: خليل مأمون شيحا, الناشر: دار المعرفة, بيروت، لبنان، الطبعة: الرابعة، 1425هـ - 2004م. - نزهة المتقين شرح رياض الصالحين, مصطفى سعيد الخن، مصطفى البغا، محي الدين مستو، علي الشربجي، محمد أمين لطفي, مؤسسة الرسالة، ط14, سنة النشر: 1407ه – 1987م.

Hadis ini di HadeethEnc.com

Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya Allah -Ta'ālā- telah berfirman kepada Nabi-Nya -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, "Berikanlah maaf, perintahkanlah untuk berbuat baik, dan berpalinglah dari orang-orang yang jahil!" Sesungguhnya orang ini termasuk orang-orang yang jahil.

عن عبد الله بن عباس رضي الله عنهما قال: قَدِم عُيَينَة بن حِصنٍ، فَنزَل على ابنِ أَخِيه الحُرِّ بن قَيسٍ، وكان من النَّفَر الذين يُدنِيهِم عمر رضي الله عنه ، وكان القُرَّاء أصحاب مَجلِس عُمر رضي الله عنه ومُشاوَرَتِه كُهُولا كانوا أو شُبَّانًا، فقال عيينة لابن أَخِيه: يَا ابن أخي، لك وَجْه عند هذا الأمير فَاسْتَأذِن لِي عليه، فَاسْتَأذَن فَأَذِن لَه عُمر، فَلَمَّا دَخَل قال: هي يا ابن الخطَّاب، فَوالله مَا تُعطِينَا الجَزْلَ ولا تَحكُمُ فِينَا بِالعَدلِ، فغضب عمر رضي الله عنه حَتَّى هَمَّ أَنْ يُوقِعَ بِه، فقال له الحُرُّ: يا أمير المؤمنين، إنَّ الله تعالى قال لِنَبِيِّه صلى الله عليه وسلم : {خذ العفو وأمر بالعرف وأعرض عن الجاهلين}، وإِنَّ هذا مِن الجَاهِلِين، والله مَا جَاوَزَها عُمر حِين تَلاَهَا، وكان وَقَّافًا عند كِتَاب الله تعالى .
Dari Abdullah bin 'Abbās -raḍiyallāhu 'anhumā- ia berkata, "Uyainah bin Ḥishn datang lalu menginap di tempat anak saudara, yaitu Al-Ḥurr bin Qais, dan ia merupakan salah seorang yang dekat dengan Umar. Umar mengangkat orang-orang yang pandai membaca Al-Qur`ān sebagai kawan dan orang yang diajak musyawarah di majlisnya, baik yang tua maupun yang masih muda usianya. 'Uyainah berkata kepada anak saudaranya, "Wahai anak saudaraku, kamu adalah orang yang dekat dengan Amirul Mukminin, maka mintalah izin kepadanya agar aku dapat menemuinya." Anak saudaranya tersebut memintakan izin dan Umar pun mengizinkannya. Ketika 'Uyainah masuk, ia berkata, "Wahai Ibnu Al-Khaṭṭab, demi Allah, engkau tidak berbuat banyak terhadap kami dan engkau tidak menetapkan hukum kepada kami dengan adil." Umar pun marah hingga hampir saja dia memukulnya. Al-Ḥurr berkata kepada Umar, "Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya Allah -Ta'ālā- telah berfirman kepada Nabi-Nya -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, "Berikanlah maaf, perintahkanlah untuk berbuat baik, dan berpalinglah dari orang-orang jahil." Sesungguhnya orang ini termasuk orang-orang yang jahil. Demi Allah, Umar tidak mengabaikan ayat itu ketika dia membacanya. Sebab, Umar adalah orang yang sangat teliti terhadap Al-Qur`ān."
Diriwayatkan oleh BukhariDerajatHadis sahih
Penjelasan

Sahabat yang mulia, Abdullah bin 'Abbās -raḍiyallāhu 'anhumā- menceritakan kepada kita mengenai peristiwa yang terjadi pada Umar bin Al-Khaṭṭab -raḍiyallāhu 'anhu-, yaitu ketika 'Uyainah bin Ḥishn datang dan ia salah seorang tokoh dari kaumnya. Ia memulai pembicaraan kasarnya dengan serangan, pengingkaran dan celaan lalu di akhiri dengan cercaan dengan mengucapkan, "Sesungguhnya engkau tidak berbuat banyak terhadap kami dan tidak menetapkan hukum di antara kami dengan adil." Tentu saja Umar marah sekali hingga hampir saja ia memukulnya. Hanya saja beberapa orang yang pandai membaca Al-Qur`ān berdiri, di antaranya anak dari saudara 'Uyainah, yaitu Al-Ḥurr bin Qais, ia berbicara kepada khalifah yang lurus -raḍiyallāhu 'anhu-, "Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya Allah -Ta'ālā- berfirman kepada Nabi-Nya -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, "Berikanlah maaf, perintahkanlah untuk berbuat baik, dan berpalinglah dari orang-orang jahil." Sesungguhnya orang ini termasuk orang-orang yang bodoh." Umar diam dan tidak mengabaikan ayat itu karena dia (Umar -raḍiyallāhu 'anhu wa arḍahu-) adalah orang yang teliti terhadap Al-Qur`ān. Dia berhenti dan tidak memukul orang itu demi ayat yang dibacakan ke pendengarannya. Inilah adab para sahabat -raḍiyallāhu 'anhum- di hadapan Al-Qur`ān. Mereka tidak mengabaikannya. Jika dikatakan kepada mereka, "Ini firman Allah," mereka pun diam bagaimanapun keadaannya.

Rujukan

بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين، لسليم الهلالي، ط1، دار ابن الجوزي، الدمام، 1415هـ. تطريز رياض الصالحين، للشيخ فيصل المبارك، ط1، تحقيق: عبد العزيز بن عبد الله آل حمد، دار العاصمة، الرياض، 1423هـ. رياض الصالحين للنووي، ط1، تحقيق: ماهر ياسين الفحل، دار ابن كثير، دمشق، بيروت، 1428هـ. رياض الصالحين، ط4، تحقيق: عصام هادي، وزارة الأوقاف والشؤون الإسلامية القطرية، دار الريان، بيروت، 1428هـ. كنوز رياض الصالحين، مجموعة من الباحثين برئاسة حمد بن ناصر العمار، ط1، كنوز إشبيليا، الرياض، 1430هـ. شرح رياض الصالحين، للشيخ ابن عثيمين، دار الوطن للنشر، الرياض، 1426هـ. صحيح البخاري، تحقيق: محمد زهير بن ناصر الناصر، ط1، دار طوق النجاة (مصورة عن السلطانية بإضافة ترقيم: محمد فؤاد عبد الباقي)، 1422هـ. نزهة المتقين شرح رياض الصالحين لمجموعة من الباحثين، ط14، مؤسسة الرسالة، 1407هـ. تاج العروس من جواهر القاموس، لمحمّد بن محمّد بن عبد الرزّاق الحسيني، الملقّب بمرتضى، الزَّبيدي، تحقيق مجموعة من المحققين، دار الهداية. الدلائل في غريب الحديث، لقاسم بن ثابت بن حزم العوفي السرقسطي، تحقيق: د. محمد بن عبد الله القناص، الناشر: مكتبة العبيكان، الرياض، الطبعة: الأولى، 1422هـ - 2001م.

Hadis ini di HadeethEnc.com

Akan ada (penguasa) yang mementingkan diri sendiri serta perkara-perkara yang kalian ingkari." Para sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah! Apa yang engkau perintahkan kepada kami?" Beliau menjawab, "Tunaikanlah hak yang menjadi kewajiban kalian dan mohonlah kepada Allah apa yang menjadi hak kalian

عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ رضي الله عنه عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «سَتَكُونُ أَثَرَةٌ وَأُمُورٌ تُنْكِرُونَهَا» قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ فَمَا تَأْمُرُنَا؟ قَالَ: «تُؤَدُّونَ الحَقَّ الَّذِي عَلَيْكُمْ، وَتَسْأَلُونَ اللَّهَ الَّذِي لَكُمْ».
Ibnu Mas'ūd -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan dari Nabi ﷺ, bahwa beliau bersabda, "Akan ada (penguasa) yang mementingkan diri sendiri serta perkara-perkara yang kalian ingkari." Para sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah! Apa yang engkau perintahkan kepada kami?" Beliau menjawab, "Tunaikanlah hak yang menjadi kewajiban kalian dan mohonlah kepada Allah apa yang menjadi hak kalian."
Muttafaq 'alaihDerajatSahih
Penjelasan

Nabi ﷺ mengabarkan bahwa kaum muslimin akan dikuasai oleh penguasa-penguasa yang mementingkan diri terkait harta umat Islam dan perkara dunia lainnya, mereka menggunakannya sesuka mereka dan menghalangi hak kaum muslimin darinya. Sebagaimana juga akan muncul dari mereka perkara-perkara yang diingkari dalam agama. Lantas para sahabat -raḍiyallāhu 'anhum- bertanya, Apa yang harus mereka lakukan pada keadaan itu? Beliau ﷺ menyampaikan, tindakan mereka yang mementingkan diri sendiri terkait harta itu tidak boleh menghalangi kalian dari menunaikan kewajiban untuk mendengar dan taat kepada mereka, tetapi bersabarlah, tetaplah taat, dan jangan memberontak, serta mohonlah hak kalian pada Allah dan agar Allah memperbaiki mereka sekaligus mengangkat keburukan dan kezaliman mereka.

Faedah
  1. 1- Hadis ini termasuk bukti kenabian Muhammad ﷺ, yaitu beliau mengabarkan sesuatu yang akan terjadi pada umat beliau lalu terjadi seperti yang beliau kabarkan.
  2. 2- Boleh mengabari seseorang tentang ujian yang diperkirakan akan menimpanya agar ia dapat mempersiapkan diri, sehingga ketika ujian itu datang ia bersabar dan mengharapkan pahala.
  3. 3- Berpegang pada Kitab dan Sunnah adalah solusi dari fitnah dan perselisihan.
  4. 4- Anjuran untuk tetap mendengar dan taat kepada para penguasa menurut yang makruf dan tidak memberontak kepada mereka sekalipun mereka melakukan suatu kezaliman.
  5. 5- Menerapkan sifat hikmah (kebijkasanaan) dan mengikuti Sunnah di zaman fitnah.
  6. 6- Seseorang wajib melaksanakan hak yang menjadi kewajibannya walaupun ia mengalami sebagian bentuk kezaliman.
  7. 7- Di dalamnya terdapat dalil untuk kaidah: Mengambil keburukan dan mudarat yang paling ringan.
Rujukan

صحيح البخاري (4/ 199) (3603). صحيح مسلم (3/ 1472) (1843). بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين، لسليم الهلالي (1/ 720). تطريز رياض الصالحين، لفيصل آل مبارك (ص52). كنوز رياض الصالحين، لمجموعة من الباحثين (9/ 402). شرح رياض الصالحين، لابن عثيمين (1/ 280). نزهة المتقين شرح رياض الصالحين، لمجموعة من الباحثين (1/ 554).

Hadis ini di HadeethEnc.com

Aku teringat sebuah emas yang ada pada kami, maka aku tidak suka batang emas itu menahanku. Lantas Aku pun menyuruh untuk membagikannya.

عن عقبة بن الحارث رضي الله عنه قال: صليت وراء النبي صلى الله عليه وسلم بالمدينة العصر، فسَلَّمَ ثم قام مُسرعًا، فتَخَطَّى رِقَابَ الناس إلى بعض حُجَرِ نِسائه، فَفَزِعَ الناسُ من سُرْعَتِهِ، فخرج عليهم، فرأى أنهم قد عجبوا من سُرْعَتِهِ، قال: «ذكرت شيئاً من تِبْرٍ عندنا فكرهت أن يَحْبِسَنِي، فأمرتُ بِقِسْمَتِهِ». وفي رواية: «كنت خَلَّفْتُ في البيت تِبْرًا من الصدقة، فكرهت أن أُبَيِّتَهُ».
Dari 'Uqbah bin Al-Hāriṡ -raḍiyallāhu 'anhu- ia berkata, "Aku pernah melaksanakan salat Asar di belakang Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- di Madinah. Beliau mengucapkan salam lalu berdiri dengan cepat kemudian melewati leher-leher manusia menuju ke salah satu kamar istrinya. Tentu saja orang-orang ketakutan dengan gerakan cepatnya. Lantas beliau keluar menemui mereka lalu melihat mereka heran dengan gerakan cepatnya. Beliau bersabda, "Aku teringat sebuah emas yang ada pada kami, maka aku tidak suka batang emas itu menahanku. Lantas Aku pun menyuruh untuk membagikannya." Dalam riwayat lain disebutkan, "Aku meninggalkan sebuah emas dari sedekah di rumah, lalu aku tidak suka mendiamkannya."
Diriwayatkan oleh BukhariDerajatHadis sahih
Penjelasan

Uqbah bin Al-Hāriṡ -raḍiyallāhu 'anhu- mengatakan bahwa suatu hari dirinya salat Asar bersama Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Usai salat, Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- berdiri meninggalkan tempatnya dengan cepat; beliau melewati leher-leher manusia menuju ke salah satu kamar istrinya. Tentu saja orang-orang merasa takut dengan hal itu. Kemudian beliau keluar lalu melihat orang-orang heran dengan tingkah tadi. Lantas Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menjelaskan kepada mereka mengenai sebab hal itu dan memberitahu bahwa dirinya ingat sebuah emas yang belum ditempa yang harus dibagikan. Beliau tidak suka emas itu menahannya dan membuatnya sibuk dengannya sehingga lalai dari menghadap kepada Allah -Ta'ālā-.

Rujukan

بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين، سليم بن عيد الهلالي، دار ابن الجوزي، الدمام، الطبعة: الأولى 1415هـ. رياض الصالحين من كلام سيد المرسلين، أبو زكريا محيي الدين النووي، تحقيق ماهر الفحل، دار ابن كثير، دمشق، بيروت، الطبعة: الأولى 1428هـ. كنوز رياض الصالحين، مجموعة من الباحثين برئاسة حمد بن ناصر العمار، كنوز إشبيليا، الرياض، الطبعة: الأولى1430هـ. شرح رياض الصالحين للشيخ ابن عثيمين، دار الوطن للنشر، الرياض، الطبعة: 1426هـ. صحيح البخاري، محمد بن إسماعيل البخاري الجعفي، تحقيق: محمد زهير الناصر، دار طوق النجاة (مصورة عن السلطانية بإضافة ترقيم: محمد فؤاد عبد الباقي)، الطبعة: الأولى 1422هـ. نزهة المتقين شرح رياض الصالحين، مجموعة من الباحثين، مؤسسة الرسالة، بيروت، الطبعة: الرابعة عشر 1407هـ.

Hadis ini di HadeethEnc.com

Demi Allah, sesungguhnya kami tidak menyerahkan pekerjaan (jabatan) ini kepada orang yang memintanya atau orang yang berambisi mengejarnya.

عن أبي موسى الأشعري رضي الله عنه قال: دخلتُ عَلى النَبيِّ -صلَّى الله عليه وسلَّم- أنَا ورجلاَن مِنْ بَنِي عَمِّي، فَقَال أحدهما: يا رسول الله، أمرنا على بعض ما ولاك الله عز وجل وقال الآخر مثل ذلك، فقال: «إِنَّا وَالله لاَ نُوَلِّي هَذَا العَمَلَ أَحَدًا سَأَلَهُ، أَو أَحَدًا حَرِصَ عَلَيهِ».
Dari Abu Musa Al-Asy'ari -raḍiyallāhu 'anhu- ia berkata, "Aku masuk menemui Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersama dua orang sepupuku. Lantas salah satu dari keduanya mengatakan, "Wahai Rasulullah! Angkatlah kami sebagai pemimpin atas sebagian wilayah yang Allah -'Azza wa Jalla- kuasakan kepada Anda." Yang lain juga mengatakan ucapan seperti itu. Maka beliau bersabda, "Demi Allah, sesungguhnya kami tidak menyerahkan pekerjaan (jabatan) ini kepada orang yang memintanya atau orang yang berambisi mengejarnya."
Muttafaq 'alaihDerajatHadis sahih
Penjelasan

Hadis ini menjelaskan larangan mengangkat orang yang meminta jabatan atau berambisi mendudukinya. Ketika dua orang tersebut meminta kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- agar mengangkat keduanya sebagai pemimpin atas sebagian wilayah yang Allah kuasakan pada beliau, beliau bersabda, "Demi Allah, sesungguhnya kami tidak menyerahkan pekerjaan (jabatan) ini kepada orang yang memintanya atau orang yang berambisi mengejarnya." Artinya, kami tidak mengangkat seorang pun yang meminta dan berambisi menguasai suatu jabatan. Karena orang yang meminta atau berambisi menduduki jabatan tersebut bisa jadi tujuannya ingin menjadikan dirinya berkuasa, bukan berniat memperbaiki manusia. Manakala ia dicurigai memiliki niat ini, Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- melarang mengangkat orang yang meminta jabatan, dan beliau bersabda, "Demi Allah, sesungguhnya kami tidak menyerahkan pekerjaan (jabatan) ini kepada orang yang memintanya atau orang yang berambisi mengejarnya." Tema ini diperkuat oleh hadis Abdurraḥmān bin Samurah -raḍiyallāhu 'anhu- bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Janganlah engkau meminta jabatan, karena jika engkau diberi jabatan tanpa memintanya niscaya engkau akan ditolong dalam mengembannya. Namun, jika diserahkan kepadamu karena permintaanmu niscaya akan dibebankan kepadamu (tidak ditolong)." Jadi, apabila ada orang meminta diangkat untuk memimpin suatu negeri atau wilayah yang membawahi daerah pedalaman atau semacamnya, tidak sepantasnya seorang pemimpin meluluskan permintaannya ini. Meskipun orang yang meminta tersebut layak mengemban jabatan itu. Demikian pula seandainya seseorang meminta jabatan sebagai hakim, ia berkata pada pihak yang berwenang mengurusi masalah pengadilan, seperti menteri kehakiman-misalnya-, “Angkatlah aku sebagai hakim di wilayah tertentu”, maka orang ini tidak boleh diangkat. Adapun orang yang meminta pindah tugas dari satu daerah ke daerah lain atau yang semacamnya, ia tidak termasuk dalam larangan hadis ini. Sebab ia telah menjabat sebelumnya, hanya saja ia meminta ditugaskan di tempat lain. Kecuali bila kita mengetahui ia memiliki niat dan bertujuan menguasai penduduk wilayah tersebut, maka kita perlu menghalanginya. Jadi, segala perbuatan itu tergantung pada niatnya. Jika ada orang mengatakan, “Bagaimana kalian mendudukkan ucapan Nabi Yusuf -'alaihiṣ ṣalātu was salām- pada raja, “Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga lagi berpengetahuan". Kita menjawabnya dengan salah satu dari dua jawaban: Pertama: sesungguhnya syariat umat sebelum kita apabila bertentangan dengan syariat kita maka yang jadi acuan adalah syariat kita. Hal ini berdasarkan kaidah yang dikenal di kalangan ulama usul fikih, “syariat umat sebelum kita adalah syariat kita selagi syariat kita tidak menyebutkan hukum yang menyelisihinya”. Dan ternyata syariat kita telah menyebutkan hukum yang berbeda, bahwa kita tidak boleh menyerahkan jabatan pada orang yang memintanya. Kedua: Nabi Yusuf -'alaihiṣ ṣalātu was salām- melihat persediaan dana menipis dan dana (negara) ini dibuang-buang dan dihambur-hamburkan. Maka ia ingin menyelamatkan negeri dari pemborosan ini. Hal yang seperti ini tujuannya adalah menghilangkan pengelolaan yang buruk dan pelaksanaan yang salah. Sehingga permintaan ini tidak apa-apa. Misalnya, apabila kita melihat pemimpin di suatu wilayah, akan tetapi ia telah menyalah gunakan kepemimpinan dan merusak masyarakat, maka orang yang layak memegang jabatan ini, apabila ia tidak mendapati orang lain, boleh meminta pada pemimpin agar dirinya diangkat sebagai pemimpin wilayah tersebut. Ia bisa mengatakan, “Angkatlah aku sebagai pemimpin wilayah ini, semata-mata untuk menghilangkan keburukan yang terjadi di dalamnya.” Permintaan seperti ini tidak masalah, sejalan dengan kaidah-kaidah. Pun selaras dengan hadis Uṡmān bin Abi Al-`Āṣ bahwa ia pernah berkata kepada Nabi –ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, “Jadikan aku imam kaumku” maksudnya imam salat. Beliau bersabda, “Engkau imam mereka.” Sebagian ulama mengatakan, “hadis ini menunjukkan bolehnya meminta jabatan dalam kebaikan.” Dan disebutkan dalam doa hamba-hamba Allah yang Maha penyayang, yang Allah sebutkan dengan kriteria-kriteria tersebut bahwa mereka mengucapkan, “Dan jadikan kami sebagai pemimpin orang-orang yang bertakwa.” Ini tidak termasuk meminta jabatan yang buruk. Karena larangan meminta jabatan tesebut berkaitan dengan kepemimpinan dunia yang pemintanya tidak akan dibantu mengembannya dan tidak layak dipercaya memegangnya.

Rujukan

بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين، سليم بن عيد الهلالي، دار ابن الجوزي، الدمام، الطبعة: الأولى 1415هـ. رياض الصالحين من كلام سيد المرسلين، أبو زكريا محيي الدين النووي، تحقيق ماهر الفحل، دار ابن كثير، دمشق، بيروت، الطبعة: الأولى 1428هـ، 2007م. رياض الصالحين من كلام سيد المرسلين، أبو زكريا محيي الدين النووي، تحقيق: عصام هادي، وزارة الأوقاف والشؤون الإسلامية القطرية، دار الريان، بيروت، الطبعة: الرابعة 1428هـ. شرح رياض الصالحين، محمد بن صالح العثيمين، دار الوطن، الرياض، الطبعة: 1426هـ. صحيح البخاري، محمد بن إسماعيل البخاري الجعفي، تحقيق: محمد زهير الناصر، دار طوق النجاة (مصورة عن السلطانية بإضافة ترقيم: محمد فؤاد عبد الباقي)، الطبعة: الأولى 1422هـ. صحيح مسلم، مسلم بن الحجاج القشيري النيسابوري، تحقيق محمد فؤاد عبد الباقي، دار إحياء التراث العربي، بيروت، الطبعة: 1423هـ. نزهة المتقين شرح رياض الصالحين، مجموعة من الباحثين، مؤسسة الرسالة، بيروت، الطبعة: الرابعة عشر 1407هـ، 1987م.

Hadis ini di HadeethEnc.com

Wahai anakku! Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Sesungguhnya sejelek-jelek penggembala itu adalah yang kejam." Maka jangan sampai engkau menjadi salah seorang dari mereka."

أنَّ عَائِذَ بن عَمْرو رضي الله عنه دَخَل على عُبَيد الله بن زياد، فقال: أي بُنَيَّ، إِنِّي سَمِعت رَسُول الله صلى الله عليه وسلم يقول: «إِنَّ شَرَّ الرِّعَاءِ الحُطَمَةُ» فَإِيَّاك أَن تَكُون مِنهُم، فقال له: اجْلِس فَإِنَّما أَنْت مِن نُخَالَةِ أَصحَاب محمَّد صلى الله عليه وسلم فقال: وهل كَانَت لَهُم نُخَالَة؟! إِنَّمَا كَانَت النُخَالَة بَعدَهُم وَفِي غَيرِهِم.
Āiż bin Amru -raḍiyallāhu 'anhu- masuk menemui 'Ubaidullah bin Ziyad. Lantas Ia berkata, "Wahai anakku! Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Sesungguhnya sejelek-jelek penggembala itu adalah yang kejam." Maka jangan sampai engkau menjadi salah seorang dari mereka." 'Ubaidullah berkata, "Duduklah, engkau hanya satu di antara kalangan rendahan sahabat Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-." Ia berkata, "Adakah pada generasi sahabat orang-orang rendahan? Sesungguhnya orang rendahan hanyalah ada di kalangan orang-orang setelah mereka atau di selain mereka."
Diriwayatkan oleh MuslimDerajatHadis sahih
Penjelasan

Āiż bin Amru -raḍiyallāhu 'anhu- masuk menemui 'Ubaidullah bin Ziyad, gubernur penduduk Irak setelah ayahnya. Ia berkata, "Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah bersabda, "Sesungguhnya seburuk-buruk penggembala adalah Al-ḥuṭamah." Al-Ḥuṭamah adalah orang yang kejam dalam mengurus unta, baik saat menggiring, memasukkan, mengeluarkan, membenturkan sebagian dengan sebagian yang lain, dan kasar terhadap unta. Beliau menjadikannya perumpamaan bagi penguasa yang jahat. Maksudnya adalah orang bengis yang menzalimi rakyat, tidak mengasihi dan tidak menyayangi mereka. Perkataannya, "Maka jangan sampai engkau menjadi salah satu dari mereka", adalah perkataan 'Āiż sebagai nasihat untuk Ibnu Ziyad. Namun Ibnu Ziyad justru memberi jawaban, "Engkau hanya orang rendahan di antara mereka". Artinya, engkau bukan dari kalangan orang-orang terkemuka, ulama dan orang-orang yang memiliki kedudukan di antara para sahabat. Tapi engkau dari kelompok rendahan mereka. Kata "an-nukhālah" dalam hadis ini diambil dari kata nukhālah ad-daqīq, yakni kulit padi (dedak). Kata "an-nukhālah, al-ḥuqālah, dan "al-huṡālah" artinya sama, (yakni orang rendahan). Lantas sahabat yang mulia ini -raḍiyallāhu 'anhu- menjawab, "Adakah pada generasi sahabat orang-orang rendahan. Sesungguhnya orang rendahan ada di kalangan orang-orang setelah mereka atau di selain mereka." Ini termasuk ungkapan yang tegas, jelas, dan jujur, yang diyakini setiap Muslim. Para sahabat -raḍiyallāhu 'anhum- semuanya adalah manusia pilihan, pemimpin umat, dan lebih baik dari orang setelah mereka. Mereka semua terpercaya dan teladan, tak ada orang rendahan di antara mereka. Justru pencampuran (antara orang yang baik dan buruk) muncul dari orang setelah mereka atau di antara orang-orang setelah mereka.

Rujukan

بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين، سليم بن عيد الهلالي، دار ابن الجوزي، الدمام، الطبعة: الأولى 1415هـ. تطريز رياض الصالحين، فيصل بن عبد العزيز المبارك، تحقيق: عبد العزيز بن عبد الله آل حمد، دار العاصمة للنشر والتوزيع، الرياض، الطبعة: الأولى 1423هـ، 2002م. دليل الفالحين لطرق رياض الصالحين، محمد علي بن البكري بن علان، اعتنى بها: خليل مأمون شيحا، دار المعرفة، بيروت، الطبعة: الرابعة 1425هـ. رياض الصالحين من كلام سيد المرسلين، أبو زكريا محيي الدين النووي، تحقيق ماهر الفحل، دار ابن كثير، دمشق، بيروت، الطبعة: الأولى 1428هـ، 2007م. رياض الصالحين من كلام سيد المرسلين، أبو زكريا محيي الدين النووي، تحقيق: عصام هادي، وزارة الأوقاف والشؤون الإسلامية القطرية، دار الريان، بيروت، الطبعة: الرابعة 1428هـ. صحيح مسلم، مسلم بن الحجاج القشيري النيسابوري، تحقيق محمد فؤاد عبد الباقي، دار إحياء التراث العربي، بيروت، الطبعة: 1423هـ. كنوز رياض الصالحين، مجموعة من الباحثين برئاسة حمد بن ناصر العمار، كنوز إشبيليا، الرياض، الطبعة: الأولى1430هـ، 2009م. المنهاج شرح صحيح مسلم بن الحجاج، أبو زكريا محيي الدين النووي، دار إحياء التراث العربي، بيروت، الطبعة: الثانية 1392هـ. نزهة المتقين شرح رياض الصالحين، مجموعة من الباحثين، مؤسسة الرسالة، بيروت، الطبعة: الرابعة عشر 1407هـ، 1987م.

Hadis ini di HadeethEnc.com

"Sesungguhnya manusia pada zaman Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- diberi hukuman sesuai dengan petunjuk wahyu, dan wahyu kini sudah terputus. Oleh karena itu, sekarang kami memberi keputusan kepada kalian sesuai dengan perbuatan yang tampak bagi kami. Jadi, siapa yang menampakkan perbuatan baik kepada kami, maka kami berikan keamanan dan kami dekatkan kedudukannya pada kami. Sedangkan urusan dalam hatinya tidak sedikit pun kami mengetahuinya, karena Allah-lah yang akan menghisab isi hatinya. Namun, siapa yang menampakkan kelakuan buruk pada kami, maka kami tidak akan memberikan keamanan padanya dan tidak akan mempercayai ucapannya."

عن عبد الله بن عتبة بن مسعود، قال: سمعت عمر بن الخطاب رضي الله عنه يقول: إن ناسا كانوا يُؤْخَذُونَ بالوحي في عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم وإن الوحي قد انقطع، وإنما نأخذكم الآن بما ظهر لنا من أعمالكم، فمن أظهر لنا خيرًا أَمَّنَّاهُ وقَرَّبْنَاهُ، وليس لنا من سريرته شيء، الله يحاسبه في سريرته، ومن أظهر لنا سوءًا لم نأمنه ولم نصدقه وإن قال: إن سريرته حسنة.
Dari Abdullah bin Utbah bin Mas'ūd, ia berkata, "Aku pernah mendengar Umar bin Al-Khaṭṭāb -raḍiyallāhu 'anhu- mengatakan, "Sesungguhnya manusia pada zaman Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- diberi hukuman sesuai dengan petunjuk wahyu, dan wahyu kini sudah terputus. Oleh karena itu, sekarang kami memberi keputusan kepada kalian sesuai dengan perbuatan yang tampak bagi kami. Jadi, siapa yang menampakkan perbuatan baik kepada kami, maka kami berikan keamanan dan kami dekatkan kedudukannya. Sedangkan urusan dalam hatinya kami tidak menhgetahuinya sedikitpun, karena Allah-lah yang akan menghisab isi hatinya. Namun, siapa yang menampakkan kelakuan buruk pada kami, maka kami tidak akan memberikan keamanan padanya dan tidak akan percaya ucapannya, sekalipun ia mengatakan, "Sesungguhnya niat hatinya itu baik."
Diriwayatkan oleh BukhariDerajatHadis sahih
Penjelasan

Umar bin Al-Khaṭṭāb -raḍiyallāhu 'anhu- membahas tentang orang yang menyembunyikan isi hatinya yang batil pada waktu wahyu turun, bahwa perkara orang itu tidak tersembunyi dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- karena ada wahyu yang turun. "Sesungguhnya manusia pada zaman Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- ada orang-orang munafik yang menampakkan kebaikan dan menyembunyikan keburukan. Hanya saja Allah -Ta'ālā-menguak cacat mereka dengan wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, tetapi ketika wahyu terhenti, maka orang-orang menjadi tidak mengetahui siapa orang munafik, karena kemunafikan itu dalam hati. Umar -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, "Sekarang kami memberi keputusan kepada kalian sesuai dengan perbuatan yang tampak bagi kami. Jadi, siapa yang menampakkan perbuatan baik kepada kami, maka kami akan memperlakukannya dengan baik sesuai dengan yang diperlihatkannya kepada kami, meskipun isi hatinya buruk. Siapa yang memperlihatkan keburukan, maka kami akan memperlakukannya dengan keburukan yang telah diperlihatkannya kepada kami. Kami tidak memiliki tanggung-jawab terhadap niatnya. Niat diserahkan kepada Rabb alam semesta -'Azza wa Jalla- yang mengetahui apa yang disembunyikan dan dibisikkan oleh jiwa manusia.

Rujukan

- صحيح البخاري -للإمام أبي عبد الله محمد بن إسماعيل البخاري، عناية محمد زهير الناصر، دار طوق النجاة، الطبعة الأولى، 1422هـ. - نزهة المتقين بشرح رياض الصالحين/ تأليف مصطفى سعيد الخن-مصطفى البغا-محي الدين مستو-علي الشربجي-محمد أمين لطفي-مؤسسة الرسالة-بيروت –لبنان-الطبعة الرابعة عشرة1407. - بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين – سليم بن عيد الهلالي دار ابن الجوزي –الطبعة الأولى 1418. - دليل الفالحين لطرق رياض الصالحين - محمد علي بن محمد بن علان الصديقي-اعتنى بها: خليل مأمون شيحا-دار المعرفة للطباعة والنشر والتوزيع، بيروت – لبنان-الطبعة: الرابعة، 1425 هـ - 2004 م.

Hadis ini di HadeethEnc.com

Ya Allah, siapa saja yang mengurusi urusan umatku (meskipun kecil), lalu ia menyusahkan mereka, maka susahkanlah dirinya. Dan barangsiapa yang mengurusi urusan umatku (meskipun kecil), lalu ia bersikap lemah lembut kepada mereka, maka perlakukanlah ia dengan lemah lembut.

عن عائشة رضي الله عنها قَالَتْ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ -صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم- يقُولُ في بيتي هَذَا: «اللهم من وَلِيَ من أمر أمتي شيئًا فَشَقَّ عليهم، فَاشْقُقْ عليه، ومن وَلِيَ من أمر أمتي شيئًا فَرَفَقَ بهم، فَارْفُقْ به».
Dari Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā-, dia berkata, Aku mendengar Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda di rumahku ini, "Ya Allah, siapa saja yang mengurusi urusan umatku (meskipun kecil), lalu ia menyusahkan mereka, maka susahkanlah dirinya. Dan barangsiapa yang mengurusi urusan umatku (meskipun kecil), lalu ia bersikap lemah lembut kepada mereka, maka perlakukanlah ia dengan lemah lembut."
Diriwayatkan oleh MuslimDerajatHadis sahih
Penjelasan

Hadis ini menjelaskan besarnya urusan pemerintahan. Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- berdoa bahwa barangsiapa membawahi sedikit saja dari urusan manusia, lalu ia menyusahkan mereka, maka Allah akan memperlakukannya seperti itu juga. Dan barangsiapa memperlakukan manusia dengan adil, objektif, kasih-sayang, dan lemah-lembut, maka Dia akan membalasnya. Balasan itu sesuai dengan jenis amalnya.

Rujukan

صحيح مسلم, ترقيم محمد فؤاد عبد الباقي, دار إحياء التراث العربي, بيروت. شرح رياض الصالحين، لابن عثيمين, دار مدار الوطن للنشر، الرياض, الطبعة، 1426هـ. بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين، لسليم الهلالي, دار ابن الجوزي. تطريز رياض الصالحين، لفيصل بن عبد العزيز المبارك النجدي, تحقيق: عبد العزيز آل حمد, دار العاصمة, الطبعة الأولى، 1423هـ. كنوز رياض الصالحين، بإشراف حمد العمار, دار كنوز إشبيليا, الطبعة الأولى, 1430ه. دليل الفالحين لطرق رياض الصالحين، لمحمد بن علان الصديقي, دار الكتاب العربي. نزهة المتقين شرح رياض الصالحين، لمجموعة من الباحثين, مؤسسة الرسالة, الطبعة الرابعة عشر, 1407ه. فيض القدير شرح الجامع الصغير، للمناوي، دار الكتب العلمية، بيروت - لبنان، الطبعة الاولى، 1415ه - 1994م.

Hadis ini di HadeethEnc.com
8 dari 16
16 hadis
  1. JIka harta dari negeri Bahrain telah sampai kepada kita maka aku pasti memberikan kepadamu sekian, sekian dan sekian.
  2. Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya Allah -Ta'ālā- telah berfirman kepada Nabi-Nya -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, "Berikanlah maaf, perintahkanlah untuk berbuat baik, dan berpalinglah dari orang-orang yang jahil!" Sesungguhnya orang ini termasuk orang-orang yang jahil.
  3. Akan ada (penguasa) yang mementingkan diri sendiri serta perkara-perkara yang kalian ingkari." Para sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah! Apa yang engkau perintahkan kepada kami?" Beliau menjawab, "Tunaikanlah hak yang menjadi kewajiban kalian dan mohonlah kepada Allah apa yang menjadi hak kalian
  4. Aku teringat sebuah emas yang ada pada kami, maka aku tidak suka batang emas itu menahanku. Lantas Aku pun menyuruh untuk membagikannya.
  5. Demi Allah, sesungguhnya kami tidak menyerahkan pekerjaan (jabatan) ini kepada orang yang memintanya atau orang yang berambisi mengejarnya.
  6. Wahai anakku! Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Sesungguhnya sejelek-jelek penggembala itu adalah yang kejam." Maka jangan sampai engkau menjadi salah seorang dari mereka."
  7. "Sesungguhnya manusia pada zaman Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- diberi hukuman sesuai dengan petunjuk wahyu, dan wahyu kini sudah terputus. Oleh karena itu, sekarang kami memberi keputusan kepada kalian sesuai dengan perbuatan yang tampak bagi kami. Jadi, siapa yang menampakkan perbuatan baik kepada kami, maka kami berikan keamanan dan kami dekatkan kedudukannya pada kami. Sedangkan urusan dalam hatinya tidak sedikit pun kami mengetahuinya, karena Allah-lah yang akan menghisab isi hatinya. Namun, siapa yang menampakkan kelakuan buruk pada kami, maka kami tidak akan memberikan keamanan padanya dan tidak akan mempercayai ucapannya."
  8. Ya Allah, siapa saja yang mengurusi urusan umatku (meskipun kecil), lalu ia menyusahkan mereka, maka susahkanlah dirinya. Dan barangsiapa yang mengurusi urusan umatku (meskipun kecil), lalu ia bersikap lemah lembut kepada mereka, maka perlakukanlah ia dengan lemah lembut.
  9. Aku pernah berjalan bersama Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- sementara beliau mengenakan selendang buatan negeri Najran yang kasar tepinya, lalu seorang badui mengejar beliau dan menarik selendang beliau dengan keras.
  10. Penduduk Kufah mengadukan Sa'ad, yaitu Sa'ad bin Abi Waqqāṣ -raḍiyallāhu 'anhu- kepada Umar bin Al-Khaṭṭāb -raḍiyallāhu 'anhu-. Lantas Umar memecatnya dan mengangkat 'Ammār menjadi gubernur mereka
  11. Umar bin Khaṭṭāb pernah menetapkan (bagian) untuk kaum Muhajirin generasi pertama sebesar 4000
  12. Demi Allah, tidaklah seseorang di antara kalian mengambil sesuatu yang bukan haknya, kecuali ia akan menghadap kepada Allah Ta'ala sambil memikul apa yang diambilnya pada hari Kiamat
  13. Kalian semua adalah pemimpin, dan akan ditanya tentang apa yang dipimpinnya
  14. Kebiasaan Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- adalah berada di belakang rombongan safar, dia menuntun yang lemah dan memboncengnya serta mendoakannya
  15. Siapa yang diamanahi kekuasaan oleh Allah -'Azza wa Jalla- pada sebagian urusan umat Islam lalu dia menutup diri dari memenuhi kebutuhan dan kemiskinan mereka, maka Allah akan menutup diri dari memenuhi kebutuhan dan kemiskinannya pada hari Kiamat.
  16. Agama itu nasihat (ketulusan)

Setiap hadis, derajat, penjelasan, dan faedah di sini ditampilkan persis sebagaimana diterbitkan HadeethEnc.com, menurut ketentuan penerbitan ulangnya. Derajat itu tidak menyebut siapa yang menilainya. Terjemahan dan penjelasan adalah karya para penyusunnya, dan sebagian menyebutkan hukum; para peninjau Sabīl belum memeriksanya. Hadis berbahasa Arablah teksnya. Sumber: HadeethEnc.com