Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ bersabda, "Cobaan akan senantiasa menimpa orang beriman laki-laki dan perempuan pada diri, anak, dan hartanya hingga dia berjumpa dengan Allah Ta'ala (meninggal) dalam keadaan tidak memiliki dosa."
HR. Tirmizi dan AhmadDerajatHasan
Penjelasan
Nabi ﷺ mengabarkan bahwa musibah dan ujian tidak akan berpisah dari hamba beriman laki-laki dan perempuan, pada dirinya berupa kesehatan dan fisiknya, pada anak-anaknya berupa sakit, kematian, kedurhakaan ataupun lainnya, dan pada hartanya berupa kemiskinan, usaha yang merugi, pencurian, kesulitan hidup dan kesempitan rezeki. Dengan itu, Allah menggugurkan semua dosa dan kesalahannya hingga ia berjumpa dengan Allah dalam keadaan telah bersih dari semua dosa dan kesalahan yang dilakukannya.
Faedah
1- Di antara bentuk kasih sayang Allah kepada hamba-hamba-Nya yang beriman ialah Allah menghapuskan dosa-dosa mereka di dunia dengan musibah dan ujian-ujian dunia.
2- Musibah saja akan menggugurkan dosa dengan syarat adanya keimanan. Adapun jika seorang hamba bersabar dan tidak murka maka ia akan diberi pahala.
3- Anjuran agar bersabar di semua urusan, baik yang ia sukai maupun yang tidak ia sukai. Seseorang bersabar hingga ia menunaikan apa yang diwajibkan oleh Allah dan bersabar hingga ia menjauhi apa yang diharamkan oleh Allah dengan mengharap pahala dari Allah dan takut terhadap siksa-Nya.
4- Pada sabda beliau "orang beriman laki-laki dan perempuan", tambahan kata "perempuan" menunjukkan tambahan penekanan bagi perempuan. Jadi, walau hanya dikatakan "orang beriman", perempuan juga telah masuk di dalamnya karena musibah itu tidak khusus bagi laki-laki. Ketika musibah menimpa seorang perempuan, ia juga dijanjikan dengan ganjaran yang seperti itu, yaitu pengguguran dosa dan kesalahan.
5- Di antara hal yang meringankan musibah yang menimpa seorang hamba berkali-kali ialah keutamaan yang diperoleh dari musibah tersebut.
Rujukan
سنن الترمذي (4/ 204) (2399).
مسند أحمد (13/ 248) (7859).
بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين، لسليم الهلالي (1/ 113).
تطريز رياض الصالحين، لفيصل آل مبارك (ص51).
شرح رياض الصالحين، لابن عثيمين (1/ 273).
نزهة المتقين شرح رياض الصالحين، لمجموعة من الباحثين (1/ 80).
Ṣuhaib -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ bersabda, "Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Sungguh, seluruh urusannya adalah kebaikan. Hal ini tidaklah didapati kecuali pada seorang mukmin. Ketika mendapatkan kesenangan, ia bersyukur, maka itu adalah kebaikan baginya. Ketika ditimpa kesusahan, ia bersabar, maka itu adalah kebaikan baginya."
HR. MuslimDerajatSahih
Penjelasan
Rasulullah ﷺ merasa takjub akan urusan dan keadaan orang beriman karena seluruh keadaannya mendatangkan kebaikan. Hal seperti itu tidak didapatkan kecuali pada orang beriman. Ketika mendapatkan kesenangan, ia mensyukuri Allah atas hal itu, sehingga ia mendapatkan pahala syukur. Ketika ditimpa keburukan, ia bersabar dan mengharapkan pahala dari Allah sehingga ia mendapatkan pahala sabar. Karena itulah, ia senantiasa meraih pahala di semua kondisinya.
Faedah
1- Keutamaan bersyukur atas kesenangan dan bersabar atas kesulitan. Siapa yang melakukan hal tersebut akan mendapatkan kebaikan dunia dan akhirat. Sebaliknya, siapa yang tidak mensyukuri nikmat dan tidak bersabar atas musibah, ia telah kehilangan pahala dan mendapatkan dosa.
2- Keutamaan iman, yaitu pahala di semua keadaan tidak diraih kecuali oleh orang beriman.
3- Bersyukur saat senang dan bersabar saat susah termasuk perangai orang-orang beriman.
4- Beriman pada takdir dan ketetapan Allah menjadikan seorang mukmin selalu ada dalam keridaan sempurna di semua keadaan. Hal ini berbeda dengan orang tidak beriman yang selalu murka saat mengalami keburukan, sedangkan ketika memperoleh suatu nikmat dari Allah ﷻ maka kenikmatan itu menyibukkannya dari ketaatan kepada Allah, di samping ia juga menggunakannya untuk bermaksiat kepada-Nya.
Rujukan
صحيح مسلم (4/ 2295) (2999).
بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين، لسليم الهلالي (1/ 82).
شرح رياض الصالحين، لابن عثيمين (1/ 197).
نزهة المتقين شرح رياض الصالحين، لمجموعة من الباحثين (1/ 59).
عن أنس بن مالك رضي الله عنه قال: «إنكم لتعملون أعمالا هي أَدَقُّ في أعينكم من الشَّعْرِ، كنا نَعُدُّهَا على عهد رسول الله - صلى الله عليه وسلم - من المُوبِقَاتِ».
Dari Anas bin Malik -raḍiyallāhu 'anhu- ia berkata, "Sesungguhnya kalian benar-benar mengerjakan perbuatan-perbuatan yang lebih lembut dari rambut dalam pandangan kalian, sedangkan kami menganggap itu bagian dari dosa-dosa besar pada masa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-."
Diriwayatkan oleh BukhariDerajatHadis sahih
Penjelasan
Sahabat yang mulia, Anas bin Malik -raḍiyallāhu 'anhu- berbicara kepada sekelompok orang-orang yang meremehkan amalan. Ia berkata, "Sesungguhnya kalian meremehkan sebagian kemaksiatan karena tidak adanya pandangan kalian terhadap Zat yang didurhakai, sehingga kemaksiatan itu kecil sekali menurut kalian. Sedangkan menurut para sahabat, mereka menganggapnya termasuk dosa-dosa besar yang membinasakan karena agungnya Zat yang didurhakai, dan karena hebatnya ketakutan, sikap diawasi dan evaluasi terhadap diri mereka sendiri.
Rujukan
بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين لسليم الهلالي، ط1، دار ابن الجوزي، الدمام، 1415ه.
تطريز رياض الصالحين للشيخ فيصل المبارك، ط1، تحقيق: عبد العزيز بن عبد الله آل حمد، دار العاصمة، الرياض، 1423 هـ.
دليل الفالحين لطرق رياض الصالحين لمحمد علي بن محمد بن علان، ط4، اعتنى بها: خليل مأمون شيحا، دار المعرفة،بيروت، 1425 ه.
رياض الصالحين للنووي، ط1، تحقيق: ماهر ياسين الفحل، دار ابن كثير، دمشق، بيروت، 1428 هـ.
كنوز رياض الصالحين، مجموعة من الباحثين برئاسة حمد بن ناصر العمار، ط1، كنوز إشبيليا، الرياض، 1430هـ.
صحيح البخاري، تحقيق: محمد زهير بن ناصر الناصر، ط1، دار طوق النجاة (مصورة عن السلطانية بإضافة ترقيم: محمد فؤاد عبد الباقي)، 1422ه.
نزهة المتقين شرح رياض الصالحين لمجموعة من الباحثين، ط14، مؤسسة الرسالة، 1407هـ.
عن أنس -رضي الله عنه - أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: "إذا أراد الله بعبده الخير عجل له العقوبة في الدنيا، وإذا أراد بعبده الشر أمسك عنه بذنبه حتى يُوَافِيَ به يومَ القيامة".
Dari Anas -raḍiyallāhu 'anhu- bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Jika Allah menghendaki kebaikan bagi hamba-Nya, Dia segerakan balasan dosanya di dunia. Jika Allah menghendaki keburukan pada hamba-Nya, Dia tahan balasan dosa hamba-Nya hingga dibalas-Nya (sekaligus) pada hari kiamat."
Diriwayatkan oleh TirmiżiDerajatHadis sahih
Penjelasan
Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengabarkan bahwa tanda Allah menginginkan kebaikan pada hamba-Nya adalah disegerakan balasan dosanya di dunia, sehingga dia wafat tanpa membawa dosa yang harus ditebusnya pada hari kiamat. Sebab siapa yang perhitungannya disegerakan (di dunia) maka hitungan akhirnya jadi ringan. Dan di antara tanda bahwa Allah menghendaki keburukan pada seorang hamba, Dia tidak membalas dosa hamba tersebut di dunia, hingga ia didatangkan pada hari kiamat dengan bergelimang dosa dan akan dibalas dengan yang setimpal pada hari kiamat.
Rujukan
الملخص في شرح كتاب التوحيد، للشيخ صالح الفوزان, دار العاصمة, الطبعة الأولى، 1422ه.
الجديد في شرح كتاب التوحيد، لمحمد بن عبد العزيز السليمان القرعاوي, تحقيق: محمد بن أحمد سيد, مكتبة السوادي، الطبعة: الخامسة، 1424ه.
جامع الترمذي, تحقيق: أحمد شاكر, شركة مكتبة ومطبعة مصطفى البابي, الطبعة: الثانية، 1395هـ.
صحيح الجامع الصغير, للألباني, المكتب الإسلامي.
An-Nu'mān bin Basyīr -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda -sembari An-Nu'mān menunjuk kedua jarinya ke telinganya-, "Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu juga jelas. Di antara keduanya terdapat hal-hal syubhat (samar) yang umumnya manusia tidak mengetahuinya. Siapa yang menjaga diri dari perkara syubhat, maka ia telah menjaga agama dan kehormatannya. Tetapi siapa yang jatuh ke dalam perkara syubhat, maka ia akan jatuh dalam perkara yang haram. Ia bagaikan seorang penggembala yang menggembalakan hewan ternaknya di sekitar kawasan terlarang, kemungkinan ia akan masuk dan makan di dalamnya. Ketahuilah, setiap penguasa mempunyai daerah larangan. Ketahuilah, larangan Allah adalah apa-apa yang diharamkan-Nya. Ketahuilah, di dalam jasad manusia ada segumpal daging, jika ia baik maka baik pula seluruh jasadnya, dan jika ia rusak maka rusak pula seluruh jasadnya. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah hati."
Muttafaq 'alaihDerajatSahih
Penjelasan
Nabi ﷺ menerangkan kaidah umum untuk semua hal, yaitu bahwa dalam syariat Islam terbagi menjadi tiga: jelas kehalalannya, jelas keharamannya, dan perkara-perkara syubhat (samar) yang tidak jelas hukumnya antara halal dan haram; hukumnya tidak diketahui oleh banyak orang.
Siapa yang meninggalkan perkara-perkara yang samar ini, maka agamanya selamat karena terhindar dari terjerumus ke dalam yang haram, dan kehormatannya juga selamat dari celaan manusia lantaran melakukan perkara yang samar. Orang yang tidak menjauhi perkara syubhat berarti telah membiarkan dirinya untuk terjerumus ke dalam yang haram atau dicela kehormatannya oleh manusia. Rasulullah ﷺ membuat sebuah perumpamaan untuk menerangkan keadaan orang yang melakukan syubhat, yaitu seperti seorang penggembala yang menggembalakan hewan gembalaannya di dekat kawasan yang dilarang oleh pemiliknya, besar kemungkinan gembalaannya akan masuk dan makan di kawasan larangan tersebut disebabkan kedekatan jaraknya. Demikian halnya orang yang melakukan perkara yang mengandung syubhat, berarti ia telah mendekati yang haram dan besar kemungkinan akan terjerumus ke dalamnya. Setelah itu, Nabi ﷺ mengabarkan bahwa di dalam jasad terdapat segumpal daging, yaitu hati. Seluruh jasad akan baik jika ia baik dan akan rusak jika ia rusak.
Faedah
- Anjuran meninggalkan perkara syubhat yang tidak jelas hukumnya.
Rujukan
صحيح البخاري (1/ 20) (52).
صحيح مسلم (3/ 1219) (1599).
التحفة الربانية في شرح الأربعين حديثا النووية (ص18).
شرح الأربعين النووية، لابن عثيمين (ص105).
فتح القوي المتين في شرح الأربعين وتتمة الخمسين، للعباد (ص41).
فتح الباري لابن حجر (4/ 291).
شرح النووي على مسلم (11/ 28).
Abdullah bin Umar -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ memegang pundakku seraya bersabda, "Hiduplah di dunia ini seperti orang asing atau yang hanya lewat." Ibnu Umar berkata, "Ketika berada di sore hari, jangan tunggu waktu pagi. Ketika berada di pagi hari, jangan tunggu waktu sore. Manfaatkan masa sehatmu untuk masa sakitmu dan manfaatkan masa hidupmu untuk masa meninggalmu."
HR. BukhariDerajatSahih
Penjelasan
Ibnu Umar -raḍiyallāhu 'anhumā- menyebutkan bahwa Nabi ﷺ pernah memegang pundaknya -yaitu pertemuan antara bahu dan lengan- seraya berkata kepadanya: Hiduplah di dunia ini seolah engkau orang asing yang datang ke suatu negeri, di sana ia tidak memiliki rumah tempat tinggal, tidak juga penghuni yang akan menghiburnya; tidak memiliki keluarga, kerabat dan ikatan yang akan menyebabkan dia lupa kepada Sang Pencipta. Bahkan, hiduplah lebih dari seperti orang asing, yaitu orang yang hanya lewat di jalan menuju negaranya. Orang yang asing kadang tinggal dan menetap di negeri asing, berbeda dengan orang yang hanya lewat menuju negerinya. Orang yang hanya lewat biasanya membawa barang seperlunya dan tidak berhenti, tetapi bergegas agar segera sampai ke negerinya. Sebagaimana orang musafir tidak membutuhkan lebih dari yang dapat mengantarkannya ke tujuan perjalanannya, demikian juga seorang mukmin tidak butuh di dunia lebih dari yang dapat mengantarkannya ke tujuannya.
Ibnu Umar pun menjalankan nasihat ini. Ia berkata: Jika engkau berada di pagi hari, jangan tunggu waktu sore. Jika engkau berada di sore hari, jangan tunggu waktu pagi. Hitung dirimu termasuk ahli kubur, karena umur tidak lepas dari sehat dan sakit. Segeralah melakukan ketaatan pada hari-hari sehatmu sebelum engkau sakit. Maksimalkanlah amal saleh pada masa sehat sebelum dihalangi oleh sakit. Manfaatkan masa hidupmu di dunia dan kumpulkan apa yang akan berguna bagimu setelah meninggal dunia.
Faedah
1- Seorang guru meletakkan tangan di pundak murid saat mengajarnya untuk membangun kedekatan dan membangkitkan perhatiannya.
2- Memulai nasihat dan bimbingan bagi orang yang tidak memintanya.
3- Indahnya pengajaran Nabi ﷺ dengan membuat permisalan yang mengena, yaitu sabda beliau: "Hiduplah di dunia seperti orang asing atau yang sekadar lewat."
4- Perbedaan manusia dalam perjalanan mereka ke akhirat. Orang yang hanya lewat adalah tingkatan zuhud yang lebih tinggi dari tingkatan orang asing.
5- Menjelaskan pendek angan-angan, dan persiapan untuk kematian.
6- Hadis ini tidak menunjukkan upaya meninggalkan rezeki dan mengharamkan kenikmatan dunia, tetapi menunjukkan anjuran bersikap zuhud terhadap dunia dan menguranginya.
7- Bersegera melakukan amal saleh sebelum hilangnya kemampuan dan terhalangi oleh sakit atau kematian.
8- Keutamaan Abdullah bin Umar -raḍiyallāhu 'anhumā-; yaitu ia terpengaruh dengan nasihat dari Rasulullah ﷺ ini.
9- Negeri orang beriman itu ialah surga sehingga ia asing di dunia dan musafir menuju negeri akhirat; hatinya tidak terikat dengan sesuatu pun di negeri keterasingan, tetapi hatinya terpaut dengan negeri tempat kembalinya. Masa tinggalnya di dunia adalah untuk menunaikan kebutuhannya dan persiapannya agar pulang ke negerinya.
Rujukan
صحيح البخاري (8/ 89) (6416).
التحفة الربانية في شرح الأربعين حديثًا النووية، لإسماعيل الأنصاري (ص90).
شرح الأربعين النووية، لابن عثيمين (ص390).
فتح القوي المتين في شرح الأربعين وتتمة الخمسين، للنووي وابن رجب (ص131).
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ bersabda, "Janganlah kalian saling mendengki, melakukan najasy, saling membenci, saling membelakangi, dan janganlah sebagian kalian melakukan jual beli di atas jual beli orang lain. Tetapi, jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara! Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya. Dia tidak boleh menzalimi, menghina, dan merendahkannya. Takwa itu di sini -beliau menunjuk dadanya tiga kali-. Cukuplah seseorang itu berbuat buruk kala menghina saudaranya yang muslim. Setiap muslim terhadap muslim lain haram darah, harta, dan kehormatannya."
HR. MuslimDerajatSahih
Penjelasan
Nabi ﷺ berpesan kepada orang Islam agar bersikap baik kepada saudaranya sesama muslim dan menjelaskan sebagian kewajiban dan adab yang wajib dilakukan kepada mereka, di antaranya: Pesan pertama: Jangan saling mendengki; yaitu sebagian kalian mengharapkan hilangnya nikmat yang ada pada orang lain. Kedua: Jangan melakukan najasy; yaitu sebagian kalian menaikkan penawaran harga barang padahal tidak ada niat membelinya, tetapi hanya ingin menguntungkan penjual atau merugikan pembeli. Ketiga: Jangan saling membenci; yaitu menginginkan keburukan pada yang lain, kebalikan mencintai, kecuali jika kebencian tersebut karena Allah Ta'ala maka hukumnya wajib. Keempat: Jangan saling membelakangi; yaitu satu sama lain saling memberi punggung, berpaling, dan memboikot. Kelima: Jangan melakukan jual beli di atas jual beli yang lain; yaitu berkata kepada orang yang sedang membeli suatu barang dari penjual lain: "Saya memiliki barang yang sama dengan harga lebih rendah, atau saya memiliki barang yang lebih bagus dengan harga sama." Kemudian beliau ﷺ berpesan dengan pesan yang komprehensif: Jadilah seperti saudara dengan meninggalkan larangan-larangan yang disebutkan dan dengan mencurahkan cinta, kelembutan, kasih sayang, dan kerja sama dalam kebaikan disertai dengan hati tulus dan nasihat pada semua keadaan. Di antara konsekuensi persaudaraan ini adalah: 1- Tidak menzalimi saudaranya sesama muslim. 2- Tidak membiarkan saudaranya sesama muslim dizalimi dengan meninggalkannya, padahal ia dalam kondisi mampu menolongnya dan menghilangkan kezaliman tersebut. 3- Tidak menghina, merendahkan, memandang sebelah mata, dan mendiskreditkannya karena semua itu lahir dari kesombongan yang ada di dalam hati. Kemudian Nabi ﷺ menerangkan sebanyak tiga kali bahwa ketakwaan itu ada dalam hati. Orang yang dalam hatinya terdapat ketakwaan yang melahirkan akhlak baik, rasa takut, dan perasaan selalu diawasi oleh Allah, tidak akan menghina seorang muslim. Cukuplah seseorang memiliki perangai buruk dan akhlak rendah manakala ia menghina saudaranya sesama muslim karena hal itu disebabkan keangkuhan di dalam hatinya. Kemudian beliau ﷺ menegaskan semua yang beliau sebutkan sebelumnya, bahwa setiap muslim terhadap muslim lainnya terlindungi darahnya, tidak boleh dizalimi dalam bentuk pembunuhan ataupun yang lebih ringan daripadanya, seperti melukai, memukul, dan semisalnya. Demikian juga hartanya, tidak boleh dirampas tanpa alasan yang benar, serta kehormatannya (harus dijaga) dengan tidak mencela dirinya ataupun nasabnya.
Faedah
1- Ajakan pada semua kewajiban persaudaraan iman dan larangan dari semua kebalikannya, baik berupa ucapan maupun perbuatan.
2- Pondasi takwa adalah makrifatullah, rasa takut, dan perasaan selalu diawasi oleh Allah yang ada dalam hati, dan takwa ini akan melahirkan amal saleh.
3- Penyimpangan pada amalan lahir menunjukkan kelemahan takwa dalam hati.
4- Larangan menyakiti muslim dalam bentuk apa pun, baik berupa ucapan maupun perbuatan.
5- Tidak termasuk sifat hasad manakala seorang muslim berharap menjadi seperti orang lain tanpa berharap hilangnya kenikmatan tersebut darinya. Ini disebut gibtah; hukumnya boleh untuk membantu berlomba melakukan kebaikan.
6- Tabiat manusia tidak suka dikalahkan oleh siapa pun dalam suatu kebaikan. Apabila ia ingin kebaikan tersebut hilang dari orang lain, itulah hasad yang tercela. Tetapi jika ia ingin berlomba, maka itu adalah gibtah yang dibolehkan.
7- Bukan termasuk praktik jual beli di atas jual beli saudara muslim apabila ia menerangkan kepada pembeli bahwa ia telah tertipu besar dalam pembeliannya. Ini termasuk kewajiban nasihat, dengan syarat niatnya adalah menasihati saudaranya yang melakukan pembelian, bukan untuk merugikan penjual, karena perbuatan tergantung niatnya.
8- Bukan termasuk praktik jual beli di atas jual beli saudara muslim apabila kedua penjual dan pembeli belum sepakat serta harga belum diputuskan.
9- Membenci karena Allah bukan termasuk bentuk saling benci yang dilarang dalam hadis, bahkan hal itu hukumnya wajib dan merupakan tali iman yang paling kuat.
Rujukan
صحيح مسلم (4/ 1986) (2564).
التحفة الربانية في شرح الأربعين حديثًا النووية، لإسماعيل الأنصاري (ص79).
شرح الأربعين النووية، لابن عثيمين (ص339).
فتح القوي المتين في شرح الأربعين وتتمة الخمسين، النووي وابن رجب (ص118).
الأحاديث الأربعون النووية وعليها الشرح الموجز المفيد، لعبد الله المحسن (ص67).
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ bersabda, "Lihatlah orang yang berada di bawah kalian (dalam urusan dunia), dan janganlah melihat orang yang ada di atas kalian. Hal itu lebih pantas agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah yang dianugerahkan kepada kalian."
Muttafaq 'alaihDerajatSahih
Penjelasan
Nabi ﷺ memerintahkan seorang muslim agar dalam urusan dunia terkait kedudukan, harta, kehormatan dan lainnya melihat kepada orang yang lebih rendah dan lebih minim keadaannya, tidak melihat orang yang berada di atasnya dan yang lebih baik darinya dalam urusan dunianya. Melihat orang yang lebih rendah lebih pantas dan lebih utama membuat Anda tidak menganggap kurang serta sedikit nikmat yang Allah berikan kepada Anda.
Faedah
1- Kanaah merupakan akhlak paling besar bagi orang beriman dan merupakan tanda rida pada takdir Allah.
2- Ibnu Jarīr berkata, "Hadis ini adalah hadis yang merangkum berbagai macam kebaikan karena saat manusia melihat orang yang melebihinya dalam urusan dunia, maka jiwanya akan menagih yang semisal itu dan menganggap kecil nikmat Allah Ta'ala yang ada pada dirinya serta tamak untuk mendapatkan tambahan demi menyusul orang tersebut atau mendekatinya. Inilah yang ada di kebanyakan manusia. Adapun jika ia melihat dalam urusan dunia kepada orang di bawahnya, maka ia akan melihat nikmat yang Allah Ta'ala berikan sangat nyata sehingga ia mensyukurinya dan bersikap tawaduk sekaligus memanfaatkannya untuk melakukan kebaikan."
Rujukan
صحيح البخاري (8/ 102) (6490).
صحيح مسلم (4/ 2275) (2963).
كنوز رياض الصالحين، لمجموعة من الباحثين (7/ 261).
بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين، لسليم الهلالي (1/ 534).
تطريز رياض الصالحين، لفيصل آل مبارك (ص316).
توضيح الأحكام من بلوغ المرام ، لعبد الله البسام (7/ 287).
منحة العلام شرح بلوغ المرام، لعبد الله الفوزان (10/ 17).
Setiap hadis, derajat, penjelasan, dan faedah di sini ditampilkan persis sebagaimana diterbitkan HadeethEnc.com, menurut ketentuan penerbitan ulangnya. Derajat itu tidak menyebut siapa yang menilainya. Terjemahan dan penjelasan adalah karya para penyusunnya, dan sebagian menyebutkan hukum; para peninjau Sabīl belum memeriksanya. Hadis berbahasa Arablah teksnya. Sumber: HadeethEnc.com