Langsung ke konten
Hadis dengan penjelasan

Taubat

14 hadis

Aku pernah bertanya, "Wahai Rasulullah! Apakah keselamatan itu?" Beliau bersabda, "Jagalah lisanmu, cukupkanlah diri dengan rumahmu, dan tangisilah kesalahanmu!

عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ رضي الله عنه قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ مَا النَّجَاةُ؟ قَالَ: «امْلِكْ عَلَيْكَ لِسَانَكَ، وَلْيَسَعْكَ بَيْتُكَ، وَابْكِ عَلَى خَطِيئَتِكَ».
'Uqbah bin 'Āmir -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Aku pernah bertanya, "Wahai Rasulullah! Apakah keselamatan itu?" Beliau bersabda, "Jagalah lisanmu, cukupkanlah diri dengan rumahmu, dan tangisilah kesalahanmu!"
HR. Tirmizi dan AhmadDerajatSahih
Penjelasan

'Uqbah bin 'Āmir -raḍiyallāhu 'anhu- bertanya kepada Nabi ﷺ tentang sebab keselamatan seorang mukmin di dunia dan akhirat? Beliau ﷺ menjawab: Engkau harus melakukan tiga perkara: Pertama: Jagalah lisanmu dari ucapan yang tidak mengandung kebaikan dan dari kata-kata buruk, serta jangan mengucapkan kecuali yang baik. Kedua: Tahan diri di rumahmu untuk beribadah kepada Allah saat sendiri, sibukkan diri dengan ketaatan kepada Allah ﷻ, dan diam di rumah untuk menjauhi fitnah. Ketiga: Menangis, menyesal, dan bertobat dari dosa-dosa yang engkau lakukan.

Faedah
  1. 1- Kesungguhan para sahabat -raḍiyallāhu 'anhum- untuk mengetahui jalan keselamatan.
  2. 2- Penjelasan tentang sebab-sebab keselamatan di dunia dan akhirat.
  3. 3- Mendorong seseorang agar sibuk dengan diri sendiri jika tidak mampu memberi manfaat kepada orang lain, atau khawatir terhadap agama dan dirinya jika berbaur dengan orang banyak.
  4. 4- Isyarat untuk memperhatikan rumah, khususnya saat-saat terjadi fitnah karena rumah termasuk sarana untuk menjaga keselamatan agama.
Rujukan

سنن الترمذي (4/ 208) (2406). مسند أحمد (28/ 654) (17452). بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين، لسليم الهلالي (3/ 15). نزهة المتقين شرح رياض الصالحين، لمجموعة من الباحثين (2/ 1039). مرقاة المفاتيح، لعلي القاري (7/ 3039).

Hadis ini di HadeethEnc.com

Ada seorang pria yang mencium seorang wanita, lalu ia datang menemui Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- kemudian menyampaikan hal itu. Maka Allah -Ta'ālā- pun menurunkan ayat, “Dan tegakkanlah salat di kedua ujung siang (pagi dan petang), dan pada bagian permulaan malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan baik itu menghapus kesalahan-kesalahan.”

عن ابن مسعود رضي الله عنه مرفوعاً: أن رجلاً أصاب من امرأةٍ قُبْلَةً، فأتى النبي صلى الله عليه وسلم فأخبره، فأنزل الله تعالى : (وأقم الصلاة طَرَفَيِ النَّهَار وزُلَفًا مِنَ اللَّيلِ إِنَّ الحَسَنَاتِ يُذْهِبنَ السَّيِئَات) [هود: 114] فقال الرجل: ألي هذا يا رسول الله؟ قال: «لِجَمِيعِ أُمَّتِي كُلِّهِم».
Dari Ibnu Mas‘ūd -raḍiyallāhu 'anhu- secara marfū', bahwasanya ada seorang pria yang mencium seorang wanita, lalu ia datang menemui Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- kemudian menyampaikan hal itu. Maka Allah -Ta'ālā- pun menurunkan ayat, “Dan tegakkanlah salat di kedua ujung siang (pagi dan petang), dan pada bagian permulaan malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan baik itu menghapus kesalahan-kesalahan.” Maka pria itu berkata, “Apakah ini (khusus) untukku, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Untuk semua umatku secara keseluruhan.”
Muttafaq 'alaihDerajatHadis sahih
Penjelasan

Ibnu Mas‘ūd -raḍiyallāhu 'anhu- menceritakan bahwa ada seorang pria dari kalangan sahabat Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, namanya Abu Al-Yusr, ia mencium seorang wanita yang bukan mahramnya, lalu ia menyesali apa yang telah dilakukannya. Ia pun mendatangi Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- guna menyampaikan kepada beliau apa yang telah terjadi. Maka Allah 'Azza wa Jalla pun menurunkan ayat, “Dan tegakkanlah salat di kedua ujung siang (pagi dan petang)”, maksudnya: kerjakanlah salat-salat yang ada di kedua ujung siang, yaitu salat Subuh, Zuhur dan Ashar. “dan pada bagian permulaan malam” maksudnya: kerjakanlah juga 2 salat yang ada di awal malam, yaitu salat Magrib dan Isya. “Sesungguhnya perbuatan-perbuatan baik itu menghapus kesalahan-kesalahan”, maksudnya bahwa kelima salat ini menjadi penghapus dosa-dosa kecil, termasuk di dalamnya apa yang telah engkau lakukan. Maka pria itupun bertanya, “Apakah ini (khusus) untukku?” Maksudnya: apa (salat) itu menjadi penghapus dosa khusus untuk saya saja atau juga untuk seluruh manusia. Beliau bersabda, “Untuk semua umatku”, maksudnya: bahwa kelima salat ini menjadi penghapus dosa untuk siapa saja yang melakukan hal itu dari seluruh umatku. Dalam hadits yang lain disebutkan, “Tidak ada seorang muslim pun yang melakukan satu dosa, lalu ia berwudu, kemudian mengerjakan salat 2 rakaat, lalu ia memohon ampun kepada Allah -Ta'ālā- untuk dosa itu, melainkan akan diampuni untuknya”, lalu beliau membaca kedua ayat ini, “Dan siapa melakukan perbuatan dosa atau menzalimi dirinya, lalu ia memohon ampun kepada Allah, niscaya ia akan mendapati Allah itu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”, dan ayat, “Dan orang-orang yang jika melakukan perbuatan keji atau menzalimi diri mereka…” (HR. Ahmad, no. 47). Ini merupakan salah satu bentuk keluasan rahmat Allah -Ta'ālā- kepada hamba-Nya, dengan menjadikan salat lima waktu dan juga salat-salat sunnah sebagai penghapus dosa-dosa mereka, sebab kalau tidak demikian maka mereka akan celaka.

Rujukan

- صحيح البخاري –الجامع الصحيح-؛ للإمام أبي عبد الله محمد بن إسماعيل البخاري، عناية محمد زهير الناصر، دار طوق النجاة، الطبعة الأولى، 1422هـ. - صحيح مسلم؛ للإمام مسلم بن الحجاج، حققه ورقمه محمد فؤاد عبد الباقي، دار عالم الكتب، الرياض، الطبعة الأولى، 1417هـ. - دليل الفالحين لطرق رياض الصالحين؛ لمحمد بن علان الشافعي، تحقيق خليل مأمون شيحا، دار المعرفة، بيروت، الطبعة الرابعة، 1425ه. - بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين؛ تأليف سليم الهلالي، دار ابن الجوزي، الطبعة الأولى1418ه. - نزهة المتقين شرح رياض الصالحين؛ تأليف د. مصطفى الخِن وغيره، مؤسسة الرسالة، بيروت، الطبعة الرابعة عشرة، 1407هـ. - كنوز رياض الصالحين،لحمد بن ناصر العمار، دار كنوز إشبيليا، الطبعة الأولى، 1430ه. - شرح رياض الصالحين؛ للشيخ محمد بن صالح العثيمين، مدار الوطن، الرياض، 1426هـ. - منار القاري شرح مختصر صحيح البخاري تأليف حمزة محمد قاسم مكتبة دار البيان، دمشق، الجمهورية العربية السورية، مكتبة المؤيد، الطائف، المملكة العربية السعودية، 1410 هـ - 1990 م.

Hadis ini di HadeethEnc.com

Seorang lelaki mendatangi Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- lalu berkata, "Wahai Rasulullah! Aku telah melanggar hukum, tegakkanlah hukum kepadaku!"

عن أنس رضي الله عنه مرفوعاً: جاء رجل إلى النبي صلى الله عليه وسلم فقال: يا رسول الله، أصَبْتُ حدًّا، فَأَقِمْه عليَّ، وحضرت الصلاة، فصلى مع رسول الله صلى الله عليه وسلم فلمَّا قضى الصلاة، قال: يا رسول الله، إني أصَبْتُ حَدًّا فأقم فيَّ كتاب الله. قال: «هل حَضَرْتَ مَعَنَا الصلاة»؟ قال: نعم. قال: «قد غُفِر لك».
Dari Anas -raḍiyallāhu 'anhu- secara marfū', Seorang lelaki mendatangi Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- lalu berkata, "Wahai Rasulullah! Aku telah melanggar hukum, tegakkanlah hukum kepadaku!" Lantas waktu salat tiba dan ia pun salat bersama Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Usai melaksanakan salat, orang itu berkata lagi, "Wahai Rasulullah! Sesungguhnya aku telah melanggar hukum, karena itu tegakkanlah kepadaku Kitabullah!" Beliau bertanya, "Apakah engkau ikut salat bersama kami." Orang itu menjawab, "Ya." Beliau bersabda, "Engkau sudah diampuni."
Muttafaq 'alaihDerajatHadis sahih
Penjelasan

Seorang lelaki datang lalu berkata, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku telah melakukan sesuatu yang wajib mendapatkan hukuman. Tegakkanlah hukuman itu kepadaku!" Maksudnya hukum Allah. Anas berkata, (Nabi tidak menanyakan kesalahannya kepadanya) "Nabi tidak menanyakan tentang kesalahannya" yaitu, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- tidak bertanya kepada orang itu mengenai sesuatu yang membuatnya harus dihukum, apa kesalahannya?" Ada yang mengatakan karena Nabi -'alaihiṣṣalātu was sallām- telah mengetahui dosa dan ampunan untuk orang itu melalui wahyu. (Lantas waktu salat tiba, lalu orang itu salat bersama Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-" yaitu salah satu salat atau salat ashar. Setelah orang itu menunaikannya, dia berdiri lalu berkata, "(Wahai Rasulullah! Aku telah melanggar hukum, tegakkanlah hukum kepadaku!) yaitu, tegakkanlah hukum Kitabullah kepadaku. yakni hukum Allah dari Al-Kitab dan As-Sunnah. Artinya lakukanlah hukuman atau lainnya yang berkaitan denganku." Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, (Bukankah engkau sudah salat bersama kami?") Orang itu menjawab, "Ya." Beliau bersabda, "Sesungguhnya Allah telah mengampuni dosamu atau hukumanmu." Perawi ragu-ragu, yaitu sebab hukumanmu. Maksud dari hukuman adalah sanksi yang universal termasuk ta'zīr, dan mungkin juga makna yang lain. Jadi maksud dari had bukan hakikat istilahnya seperti zina, minum khamar yang telah ditentukan hukumannya. Hikmah dari Rasul -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- tidak menanyakan tentang dosanya karena beliau tahu alasannya, maka tidak menanyakannya agar tidak menegakkan had atasnya. Sebab bila dilaporkan pada beliau, maka wajib ditegakkan hukuman itu padanya meski ia bertaubat. Karena taubat tidak dapat menghapus hukum had kecuali perampok jalanan berdasarkan ayat Al-Qur`ān, begitu pula hukuman zina bagi orang zimmi apabila dia masuk Islam.

Rujukan

- صحيح البخاري –الجامع الصحيح-؛ للإمام أبي عبد الله محمد بن إسماعيل البخاري، عناية محمد زهير الناصر، دار طوق النجاة، الطبعة الأولى، 1422هـ. - صحيح مسلم؛ للإمام مسلم بن الحجاج، حققه ورقمه محمد فؤاد عبد الباقي، دار عالم الكتب-الرياض، الطبعة الأولى، 1417هـ. - كنوز رياض الصالحين، لحمد بن ناصر العمار، دار كنوز إشبيليا- الطبعة الأولى1430ه. - شرح رياض الصالحين؛ للشيخ محمد بن صالح العثيمين، مدار الوطن، الرياض، 1426هـ. - جامع العلوم والحكم في شرح خمسين حديثاً من جوامع الكلم عبد الرحمن بن بن رجب بن الحسن الحنبلي - تحقيق: الدكتور محمد الأحمدي أبو النور دار السلام للطباعة والنشر والتوزيع الطبعة: الثانية، 1424 هـ - 2004 م. - بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين؛ تأليف سليم الهلالي، دار ابن الجوزي- الطبعة الأولى1418ه. - نزهة المتقين شرح رياض الصالحين؛ تأليف د. مصطفى الخِن وغيره، مؤسسة الرسالة-بيروت، الطبعة الرابعة عشرة، 1407هـ.

Hadis ini di HadeethEnc.com

Ada seorang lelaki dari golongan umat sebelum kalian telah membunuh sembilan puluh sembilan orang, kemudian ia menanyakan tentang orang yang paling alim dari penduduk bumi, lalu ia ditunjukkan kepada seorang pendeta. Ia pun mendatanginya seraya berkata bahwa sesungguhnya ia telah membunuh sembilan puluh sembilan manusia, apakah ia masih diterima untuk bertobat?" Pendeta itu menjawab, "Tidak bisa." Ia pun membunuh pendeta itu.

عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه أن نبي الله صلى الله عليه وسلم قال: «كان فيمن كان قبلكم رجل قتل تسعة وتسعين نفسًا، فسأل عن أعلم أهل الأرض، فَدُلَّ على راهب، فأتاه فقال: إنه قتل تسعة وتسعين نفسا فهل له من توبة؟ فقال: لا، فقتله فكمَّل به مئة، ثم سأل عن أعلم أهل الأرض، فَدُلَّ على رجل عالم، فقال: إنه قتل مائة نفس فهل له من توبة؟ فقال: نعم، ومَنْ يَحُولُ بينه وبين التوبة؟ انْطَلِقْ إلى أرض كذا وكذا فإن بها أناسا يعبدون الله تعالى فاعبد الله معهم، ولا ترجع إلى أرضك فإنها أرض سوء، فانطلق حتى إذا نَصَفَ الطريقَ أتاه الموت، فاختصمت فيه ملائكة الرحمة وملائكة العذاب، فقالت ملائكة الرحمة: جاء تائبا، مُقْبِلا بقلبه إلى الله تعالى ، وقالت ملائكة العذاب: إنه لم يعمل خيرا قط، فأتاهم ملك في صورة آدمي فجعلوه بينهم -أي حكمًا- فقال: قِيسُوا ما بين الأرضين فإلى أَيَّتِهِمَا كان أدنى فهو له، فقاسوا فوجدوه أدنى إلى الأرض التي أراد، فقبضته ملائكة الرحمة». وفي رواية في الصحيح: «فكان إلى القرية الصالحة أقرب بشبر فجعل من أهلها». وفي رواية في الصحيح: «فأوحى الله تعالى إلى هذه أن تَبَاعَدِي، وإلى هذه أن تَقَرَّبِي، وقال: قيسوا ما بينهما، فوجدوه إلى هذه أقرب بشبر فغُفِرَ له». وفي رواية: «فَنَأَى بصدره نحوها».
Dari Abu Sa'īd Al-Khudri -raḍiyallāhu 'anhu-, bahwa Nabiyullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Ada seorang lelaki dari golongan umat sebelum kalian telah membunuh sembilan puluh sembilan orang, kemudian ia menanyakan tentang orang yang paling alim dari penduduk bumi, lalu ia ditunjukkan kepada seorang pendeta. Ia pun mendatanginya seraya berkata bahwa sesungguhnya ia telah membunuh sembilan puluh sembilan manusia, apakah ia masih diterima untuk bertobat?" Pendeta itu menjawab, "Tidak bisa." Ia pun membunuh pendeta itu. Dengan demikian genaplah (jumlah korbannya) menjadi seratus. Lantas ia bertanya lagi tentang orang yang paling alim dari penduduk bumi, kemudian ia ditunjukkan kepada seorang yang alim. Selanjutnya ia mengatakan bahwa sebenarnya ia telah membunuh seratus manusia, apakah masih diterima tobatnya?" Orang alim itu menjawab, "Ya, masih bisa. Siapa yang dapat menghalang-halangi antara dia dengan tobat itu? Pergilah engkau ke tanah ini (satu wilayah), sebab di situ ada beberapa kelompok manusia yang menyembah Allah. Sembahlah Allah bersama dengan mereka dan janganlah engkau kembali ke tanahmu, sebab tanahmu adalah negeri yang buruk." Ia pun bergegas pergi sehingga ketika tiba di tengah jalan, tiba-tiba tibalah ajalnya. Lantas terjadilah perselisihan mengenai orang tersebut antara malaikat rahmat dan malaikat azab. Malaikat rahmat berkata, "Orang ini telah datang untuk bertobat sambil menghadapkan hatinya kepada Allah -Ta'ālā-." Malaikat azab berkata, "Orang ini sama sekali belum pernah melakukan kebaikan." Selanjutnya ada malaikat mendatangi mereka dalam wujud manusia, lalu mereka menjadikannya sebagai pemisah antara malaikat-malaikat yang berselisih tadi - sebagai hakim -. Ia berkata, "Ukurlah jarak antara dua tempat itu, ke mana ia lebih dekat letaknya, maka ia adalah untuknya." Para malaikat pun mengukur. Ternyata mereka mendapatkan bahwa orang itu lebih dekat kepada tanah yang dikehendaki (yang dituju untuk bertobat). Ia pun dibawa oleh malaikat rahmat." Di riwayat lain dalam Aṣ-Ṣaḥiḥ disebutkan, "Orang tersebut lebih dekat sejengkal saja ke perkampungan yang baik itu, maka ia pun dijadikan termasuk penduduknya." Dalam satu riwayat dalam Aṣ-Ṣaḥiḥ disebutkan, "Lantas Allah -Ta'ālā- mewahyukan kepada tanah yang ini (tanah asalnya), "Hendaknya engkau menjauh." Dan kepada tanah yang ini (tanah yang dituju), "Hendaknya engkau mendekat." kemudian Allah berfirman, "Ukurlah antara keduanya!" Ternyata para malaikat mendapatkan bahwa orang itu lebih dekat satu jengkal kepada tanah yang dituju sehingga ia pun diampuni." Dalam satu riwayat, "Orang tersebut bergerak dengan membusungkan dadanya ke arah tempat yang dituju."
Muttafaq 'alaihDerajatHadis sahih
Penjelasan

Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Ada seorang lelaki dari golongan umat sebelum kalian telah membunuh sembilan puluh sembilan orang. Selanjutnya ia menyesal dan menanyakan tentang orang yang paling alim di muka bumi untuk bertanya apakah masih ada tobat baginya? Ia pun ditunjukkan kepada seorang lelaki. Lelaki itu seorang ahli ibadah, tetapi dia tidak memiliki ilmu. Setelah ia bertanya kepadanya, ia mengatakan bahwa dirinya telah membunuh sembilan puluh sembilan jiwa. Adakah tobat baginya?" Rahib tersebut memandang bahwa dosa tersebut besar. Ia pun berkata, "Tidak ada tobat bagimu!" Seketika orang itu pun marah, gelisah dan ia pun membunuh rahib itu. Dengan demikian, ia telah genap membunuh seratus orang. Selanjutnya ia menanyakan tentang orang yang paling alim di bumi. Lantas ia ditunjukkan kepada seorang lelaki alim. Ia berkata kepadanya bahwa dirinya telah membunuh seratus jiwa, adakah tobat baginya?" Orang alim menjawab, "Ya! Siapa yang menghalangi antara dirinya dengan tobat? Pintu tobat masih terbuka. Hanya saja engkau harus pergi ke kampung fulan, karena di dalamnya ada kaum yang menyembah Allah. Sedangkan bumi yang ditempatinya - hanya Allah Yang Maha Tahu - adalah negara kafir. Orang alim ini memerintahkan orang itu untuk hijrah membawa agamanya ke kampung di mana Allah di sembah di sana. Ia pun keluar dalam keadaan tobat dan hijrah membawa agamanya menuju bumi yang di dalamnya ada kaum yang menyembah Allah -'Azza wa Jalla-. Di tengah jalan, tibalah ajalnya sehingga terjadilah perselisihan antara malaikat azab dan malaikat rahmat mengenai orang itu. Malaikat rahmat berkata, "orang ini telah bertobat dan datang dalam keadaan menyesal dan bertobat." Terjadilah perselisihan di antara keduanya. Lantas Allah mengutus satu malaikat kepada mereka untuk menetapkan keputusan diantara mereka. Malaikat itu berkata, "Ukurlah antara dua tanah, kemana saja ia lebih dekat, maka ia miliknya. Yakni, ia termasuk penduduk tanah itu." Jika tanah kafir lebih dekat kepadanya, maka malaikat azab mencabut rohnya. Jika ia lebih dekat kepada negeri orang mukmin, maka malaikat rahmat yang mencabut rohnya." Para malaikat pun mengukur antara kedua tanah itu. Ternyata negeri di mana orang itu menuju kepadanya - yaitu negeri tujuan - lebih dekat satu jengkal dari negeri yang ia tinggalkan, - jarak yang dekat - lalu malaikat rahmat pun mencabut nyawanya."

Rujukan

-نزهة المتقين شرح رياض الصالحين، نشر: مؤسسة الرسالة، الطبعة: الرابعة عشر، 1407هـ - 1987م. -شرح رياض الصالحين، لابن عثيمين، نشر: دار الوطن للنشر، الرياض، الطبعة: 1426هـ. -كنوز رياض الصالحين، نشر: دار كنوز إشبيليا، الطبعة: الأولى، 1430هـ - 2009م. -بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين، للهلالي، نشر: دار ابن الجوزي. -المعجم الوسيط، نشر: دار إحياء التراث العربي، بيروت – لبنان، الطبعة: الثانية. -صحيح البخاري، نشر: دار طوق النجاة (مصورة عن السلطانية بإضافة ترقيم ترقيم محمد فؤاد عبد الباقي)، الطبعة: الأولى، 1422هـ. -صحيح مسلم، تحقيق: محمد فؤاد عبد الباقي، نشر: دار إحياء التراث العربي – بيروت.

Hadis ini di HadeethEnc.com

Allah lebih gembira untuk menerima tobat hamba-Nya daripada salah seorang dari kalian yang menemukan tunggangannya setelah tersesat di gurun pasir.

عن أنس بن مالك رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : «للَّهُ أَفْرَحُ بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ مِنْ أَحَدِكُمْ، سَقَطَ عَلَى بَعِيرِهِ، وَقَدْ أَضَلَّهُ فِي أَرْضِ فَلاَةٍ». وفي رواية: «لَلَّهُ أَشَدُّ فَرَحًا بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ حِينَ يَتُوبُ إِلَيْهِ، مِنْ أَحَدِكُمْ كَانَ عَلَى رَاحِلَتِهِ بِأَرْضِ فَلَاةٍ، فَانْفَلَتَتْ مِنْهُ وَعَلَيْهَا طَعَامُهُ وَشَرَابُهُ، فَأَيِسَ مِنْهَا، فَأَتَى شَجَرَةً، فَاضْطَجَعَ فِي ظِلِّهَا، وقَدْ أَيِسَ مِنْ رَاحِلَتِهِ، فَبَيْنَا هُوَ كَذَلِكَ إِذَا هُوَ بِهَا، قَائِمَةً عِنْدَهُ، فَأَخَذَ بِخِطَامِهَا، ثُمَّ قَالَ مِنْ شِدَّةِ الْفَرَحِ: اللهُمَّ أَنْتَ عَبْدِي وَأَنَا رَبُّكَ! أَخْطَأَ مِنْ شِدَّةِ الْفَرَح».
Dari Anas bin Mālik -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Allah lebih gembira untuk menerima tobat hamba-Nya daripada salah seorang dari kalian yang menemukan tunggangannya setelah tersesat di gurun pasir." Dalam riwayat lain, "Allah lebih gembira untuk menerima tobat hamba-Nya daripada salah seorang dari kalian yang awalnya berada di atas tunggangannya di gurun pasir, kemudian tunggannya itu terlepas darinya, padahal di situ ada bekal makan dan minumnya. Saat putus asa, dia mendatangi sebuah pohon untuk berteduh di bawahnya. Dia telah putus asa untuk mendapatkan kembali tunggangannya. Dalam keadaan demikian itu, tunggangannya kembali, berada disisinya. Dia pun mengambil tali kekang tunggangannya dan berujar kegirangan, 'Wahai Allah, engkau adalah hambaku dan aku tuhan-Mu.' Dia keliru karena sangat bergembira."
Muttafaq 'alaihDerajatHadis sahih
Penjelasan

Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengabarkan bahwa Allah lebih gembira dengan hamba-Nya yang kembali kepada-Nya dengan mentaati dan menjalankan perintah-Nya, ikhlas dari hatinya, daripada kegembiraan salah seorang dari kalian yang berada di tengah gurun pasir, tidak ada seorang pun di sana. Tidak ada air, makanan maupun manusia. Kemudian tunggangannya hilang. Ia berusaha keras mencarinya tetapi tidak menemukannya. Kemudian dia berteduh di bawah sebatang pohon. Tiduran sambil pasrah menunggu kematian. Dia sudah putus asa dengan tunggangannya juga dengan hidupnya, karena bekal makan dan minumnya ada ditunggangannya yang hilang entah ke mana. Dalam keadaan seperti itu, tiba-tiba tunggangannya sudah berada di sisinya. Tali kekangnya tersangkut di ranting pohon tempat dia berteduh. Dapatkah terbayangkan betapa bahagianya dia. Kegembiraannya tidak terbayangkan oleh siapa pun, kecuali oleh mereka yang mengalaminya. Kebahagiaan yang besar, kegembiraan dengan kehidupan setelah mengira akan mati. Karenanya, dia segera mengambil kekang tunggangannya seraya berujar, 'Wahai Allah, engkau adalah hambaku dan aku adalah tuhan-Mu.' Sebenarnya ia ingin memuji Allah, "'Wahai Allah, aku hamba-Mu dan Engkau tuhan-Ku." Tapi karena sangat gembira, ia jadi keliru.

Rujukan

-نزهة المتقين شرح رياض الصالحين، نشر: مؤسسة الرسالة، الطبعة: الرابعة عشر، 1407هـ - 1987م. -دليل الفالحين لطرق رياض الصالحين، لابن علان، نشر دار الكتاب العربي. -شرح رياض الصالحين، لابن عثيمين، نشر: دار الوطن للنشر، الرياض، الطبعة: 1426هـ. -كنوز رياض الصالحين، نشر: دار كنوز إشبيليا، الطبعة: الأولى، 1430ه 2009م. -تطريز رياض الصالحين، لفيصل الحريملي، نشر: دار العاصمة، الرياض، الطبعة: الأولى، 1423هـ. - 2002م. -بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين، للهلالي، نشر: دار ابن الجوزي. -المعجم الوسيط، نشر: دار إحياء التراث العربي، بيروت – لبنان، الطبعة: الثانية. -صحيح البخاري، نشر: دار طوق النجاة (مصورة عن السلطانية بإضافة ترقيم ترقيم محمد فؤاد عبد الباقي)، الطبعة: الأولى، 1422هـ. -صحيح مسلم، تحقيق: محمد فؤاد عبد الباقي، نشر: دار إحياء التراث العربي – بيروت.

Hadis ini di HadeethEnc.com

Sesungguhnya Allah -'Azza wa Jalla- menerima tobat seorang hamba selama nyawanya belum sampai ke tenggorokan.

عن عبد الله بن عمر رضي الله عنهما عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: «إن الله عز وجل يقبل تَوْبَةَ العَبْدِ ما لم يُغَرْغِرْ».
Dari Abdullah bin Umar -raḍiyallāhu 'anhumā, dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, beliau bersabda, "Sesungguhnya Allah -'Azza wa Jalla- menerima tobat seorang hamba selama nyawanya belum sampai ke tenggorokan."
Diriwayatkan oleh Ibnu Mājah - Diriwayatkan oleh Tirmiżi - Diriwayatkan oleh AhmadDerajatHadis hasan
Penjelasan

Allah -'Azza wa Jalla- menerima tobat seorang hamba selama nyawanya belum sampai di tenggorokan. Apabila nyawa sudah sampai ke tenggorokan, maka tidak ada tobat baginya. Hal ini berdasarkan firman Allah -Ta'ālā-, "Dan tobat itu tidaklah (diterima Allah) dari mereka yang melakukan kejahatan hingga apabila datang ajal kepada seseorang dari mereka, (barulah) dia mengatakan, "Saya benar-benar bertobat sekarang." (QS. An-Nisa': 18).

Rujukan

نزهة المتقين شرح رياض الصالحين، نشر: مؤسسة الرسالة، الطبعة الرابعة عشر، 1407هـ - 1987م. شرح رياض الصالحين، لابن عثيمين، نشر: دار الوطن للنشر، الرياض، الطبعة: 1426هـ. بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين، للهلالي، نشر: دار ابن الجوزي. المعجم الوسيط، نشر: دار إحياء التراث العربي، بيروت – لبنان، الطبعة الثانية. مسند الإمام أحمد بن حنبل، تحقيق: شعيب الأرنؤوط - عادل مرشد، وآخرون، نشر: مؤسسة الرسالة، الطبعة الأولى، 1421هـ - 2001م. سنن الترمذي، نشر: شركة مكتبة ومطبعة مصطفى البابي الحلبي – مصر، الطبعة الثانية، 1395هـ - 1975م. سنن ابن ماجه، تحقيق: محمد فؤاد عبد الباقي، نشر: دار إحياء الكتب العربية، فيصل عيسى البابي الحلبي. صحيح الجامع الصغير وزياداته، للألباني، نشر: المكتب الإسلامي.

Hadis ini di HadeethEnc.com

Sesungguhnya Allah membentangkan tangan-Nya pada waktu malam agar orang yang berbuat dosa di waktu siang bisa bertobat; Dia juga membentangkan tangan-Nya di waktu siang agar orang yang berbuat dosa di waktu malam bertobat, hingga matahari terbit dari arah terbenamnya

عَنْ أَبِي مُوسَى رضي الله عنه عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يَبْسُطُ يَدَهُ بِاللَّيْلِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ النَّهَارِ، وَيَبْسُطُ يَدَهُ بِالنَّهَارِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ اللَّيْلِ، حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا».
Abu Musa -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Nabi ﷺ bersabda, "Sesungguhnya Allah membentangkan tangan-Nya pada waktu malam agar orang yang berbuat dosa di waktu siang bisa bertobat; Dia juga membentangkan tangan-Nya di waktu siang agar orang yang berbuat dosa di waktu malam bertobat, hingga matahari terbit dari arah terbenamnya."
HR. MuslimDerajatSahih
Penjelasan

Nabi ﷺ mengabarkan bahwa Allah Ta'ala menerima tobat para hamba-Nya. Jika hamba berbuat dosa di siang hari lalu bertobat di malam hari, niscaya Allah menerima tobatnya. Sebaliknya, jika dia berbuat dosa di malam hari dan bertobat di siang hari, niscaya Allah menerima tobatnya. Allah ﷻ membentangkan tangan-Nya terhadap tobat sebagai wujud gembira dan menerimanya. Pintu tobat akan senantiasa terbuka hingga matahari terbit dari arah terbenamnya sebagai pemberitahuan berakhirnya dunia. Ketika matahari telah terbit dari arah tersebut, maka pintu tobat ditutup.

Faedah
  1. 1- Penerimaan tobat akan terus berlanjut selama pintu tobat terbuka. Pintu tobat akan ditutup saat terbitnya matahari dari arah terbenamnya dan saat tiba sakratulmaut, yaitu saat roh sampai ke tenggorokan.
  2. 2- Tidak boleh putus asa dan patah harapan lantaran banyak dosa, karena ampunan dan rahmat Allah Ta'ala sangat luas dan pintu tobat selalu terbuka.
  3. 3- Syarat-syarat tobat: - Pertama: Meninggalkan kemaksiatan - Kedua: Menyesal telah mengerjakannya - Ketiga: Bertekad tidak akan melakukannya kembali selamanya. Tiga syarat ini harus terpenuhi jika kemaksiatan itu terkait hak Allah Ta'ala. Tetapi, jika ia berkaitan dengan hak hamba, maka syarat sahnya tobat ditambah satu lagi, yaitu menunaikan hak tersebut kepada pemiliknya atau pemilik hak memaafkannya.
Rujukan

صحيح مسلم (4/ 2113) (2759). نزهة المتقين شرح رياض الصالحين، لمجموعة من الباحثين (1/ 35). شرح رياض الصالحين، لابن عثيمين (1/ 103). بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين، لسليم الهلالي (1/ 55).

Hadis ini di HadeethEnc.com

Siapa yang bertobat sebelum matahari terbit dari barat maka Allah menerima tobatnya

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : «مَنْ تَابَ قَبْلَ أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا تَابَ اللهُ عَلَيْهِ».
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-bersabda, "Siapa yang bertobat sebelum matahari terbit dari barat maka Allah menerima tobatnya."
Diriwayatkan oleh MuslimDerajatHadis sahih
Penjelasan

Hadis ini memberi faedah bahwa Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- menerima tobat hamba-Nya yang berdosa sebelum terbit matahari dari barat, karena itu merupakan batas akhir waktu diterimanya tobat dan itu merupakan salah satu tanda kiamat besar.

Rujukan

-نزهة المتقين شرح رياض الصالحين، نشر: مؤسسة الرسالة، الطبعة: الرابعة عشر، 1407هـ - 1987م. -شرح رياض الصالحين، لابن عثيمين، نشر: دار الوطن للنشر، الرياض، الطبعة: 1426هـ. -المعجم الوسيط، نشر: دار إحياء التراث العربي، بيروت – لبنان، الطبعة: الثانية. -صحيح مسلم، تحقيق: محمد فؤاد عبد الباقي، نشر: دار إحياء التراث العربي – بيروت.

Hadis ini di HadeethEnc.com
8 dari 14
14 hadis
  1. Aku pernah bertanya, "Wahai Rasulullah! Apakah keselamatan itu?" Beliau bersabda, "Jagalah lisanmu, cukupkanlah diri dengan rumahmu, dan tangisilah kesalahanmu!
  2. Ada seorang pria yang mencium seorang wanita, lalu ia datang menemui Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- kemudian menyampaikan hal itu. Maka Allah -Ta'ālā- pun menurunkan ayat, “Dan tegakkanlah salat di kedua ujung siang (pagi dan petang), dan pada bagian permulaan malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan baik itu menghapus kesalahan-kesalahan.”
  3. Seorang lelaki mendatangi Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- lalu berkata, "Wahai Rasulullah! Aku telah melanggar hukum, tegakkanlah hukum kepadaku!"
  4. Ada seorang lelaki dari golongan umat sebelum kalian telah membunuh sembilan puluh sembilan orang, kemudian ia menanyakan tentang orang yang paling alim dari penduduk bumi, lalu ia ditunjukkan kepada seorang pendeta. Ia pun mendatanginya seraya berkata bahwa sesungguhnya ia telah membunuh sembilan puluh sembilan manusia, apakah ia masih diterima untuk bertobat?" Pendeta itu menjawab, "Tidak bisa." Ia pun membunuh pendeta itu.
  5. Allah lebih gembira untuk menerima tobat hamba-Nya daripada salah seorang dari kalian yang menemukan tunggangannya setelah tersesat di gurun pasir.
  6. Sesungguhnya Allah -'Azza wa Jalla- menerima tobat seorang hamba selama nyawanya belum sampai ke tenggorokan.
  7. Sesungguhnya Allah membentangkan tangan-Nya pada waktu malam agar orang yang berbuat dosa di waktu siang bisa bertobat; Dia juga membentangkan tangan-Nya di waktu siang agar orang yang berbuat dosa di waktu malam bertobat, hingga matahari terbit dari arah terbenamnya
  8. Siapa yang bertobat sebelum matahari terbit dari barat maka Allah menerima tobatnya
  9. Setiap anak Adam berbuat salah, dan sebaik-baik ‎orang yang berbuat salah adalah yang ‎bertobat.‎
  10. Wahai anak Adam! Selama engkau berdoa dan berharap kepada-Ku, Aku ampuni semua dosamu yang telah kamu lakukan, sedang Aku tidak peduli
  11. Jauhkanlah kotoran yang dilarang oleh Allah ini. Siapa yang melakukannya, hendaklah ia menutup diri dengan tirai Allah dan bertobat kepada Allah. Sungguh, siapa yang menampakkan lehernya pada kami, kami akan tegakkan padanya hukum Kitab Allah ﷻ
  12. Tidaklah seseorang berbuat sebuah dosa, kemudian ia bangun lalu berwudu, kemudian ia mengerjakan salat lalu memohon ampun kepada Allah kecuali pasti Allah akan mengampuni dosanya
  13. Sesungguhnya Allah ﷻ tidak tidur, dan tidak pantas bagi-Nya untuk tidur
  14. Berbaiatlah kepadaku untuk tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu pun, tidak mencuri, tidak berzina

Setiap hadis, derajat, penjelasan, dan faedah di sini ditampilkan persis sebagaimana diterbitkan HadeethEnc.com, menurut ketentuan penerbitan ulangnya. Derajat itu tidak menyebut siapa yang menilainya. Terjemahan dan penjelasan adalah karya para penyusunnya, dan sebagian menyebutkan hukum; para peninjau Sabīl belum memeriksanya. Hadis berbahasa Arablah teksnya. Sumber: HadeethEnc.com