Langsung ke konten
Hadis dengan penjelasan

Penyakit-penyakit Hati

5 hadis

Seseorang tidur sekali, lalu sifat amanah dicabut dari hatinya hingga bekasnya tinggal seperti bintik-bintik. Kemudian ia tidur sekali lagi lalu sifat amanah dicabut dari hatinya hingga bekasnya menjadi seperti bekas lepuhan.

عن حذيفة بن اليمان رضي الله عنه قال: حَدَثَنا رسول الله صلى الله عليه وسلم حدِيثَين قَد رَأَيتُ أَحَدَهُما وأنا أنتظر الآخر: حدثنا أنَّ الأمَانة نَزَلَت في جَذر قُلُوب الرِّجال، ثمَّ نزل القرآن فَعَلِموا مِن القرآن، وعَلِمُوا مِن السُنَّة، ثمَّ حدَّثنا عن رفع الأمانة، فقال: «يَنَامُ الرَّجُلُ النَّومَة فَتُقْبَضُ الأَمَانَةُ مِنْ قَلْبِهِ، فَيَظَلُّ أَثَرُهَا مِثلَ الوَكْتِ، ثُمَّ يَنَامُ النَّومَةَ فَتُقبَض الأَمَانَة مِن قَلْبِه، فَيَظَلُّ أَثَرُها مِثل أَثَر المَجْلِ، كَجَمْرٍ دَحْرَجْتَهُ عَلى رِجْلِكَ فَنَفِطَ، فَتَرَاهُ مُنْتَبِراً وَلَيس فِيه شَيء»، ثم أَخَذ حَصَاةً فَدَحْرَجَه على رجله «فَيَصبَح النَّاس يَتَبَايَعُون، فَلاَ يَكَاد أَحَدٌ يُؤَدِّي الأَمَانَةَ حَتَّى يُقَال: إِنَّ فِي بَنِي فُلاَن رَجُلاً أَمِيناً، حَتَّى يُقَال للرَّجُل: مَا أَجْلَدَهُ! مَا أَظْرَفَه! مَا أَعْقَلَه! وَمَا فِي قَلبِه مِثْقَالُ حَبَّة مِن خَرْدَل مِنْ إيمان»، ولَقَد أتى عَلَيَّ زَمَان وما أُبَالي أَيُّكُم بَايعت: لئِن كان مُسلِمًا لَيَرُدَنَّه عَلَيَّ دِينه، وَإِن كان نصرانيا أو يهوديا ليَرُدنَّه عَلَيَّ سَاعِيه، وأَمَّا اليوم فَمَا كُنت أَبَايِعُ مِنكُم إِلاَّ فُلاَنا وفُلاَناً».
Dari Ḥużaifah bin Al-Yamān -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menceritakan pada kami tentang dua peristiwa yang salah satunya aku telah saksikan terjadi dan aku sedang menanti terjadinya yang kedua. Beliau bercerita pada kami bahwa sifat amanah turun di dasar hati orang-orang, kemudian diturunkanlah Al-Qur`ān sehingga merekapun memahami Al-Qur`ān dan sunnah. Kemudian beliau bercerita pada kami tentang diangkatnya sifat amanah. Beliau menuturkan, "Seseorang tidur sekali, lalu sifat amanah dicabut dari hatinya hingga bekasnya tinggal seperti bintik-bintik. Kemudian ia tidur sekali lagi lalu sifat amanah dicabut dari hatinya hingga bekasnya menjadi seperti bekas lepuhan, laksana bara api yang engkau gelindingkan ke kakimu hingga ia melepuh, sampai-sampai engkau melihatnya mengembung namun tak ada apa-apa di dalamnya." Kemudian beliau mengambil kerikil dan menggelindingkannya pada kakinya. "Maka orang-orangpun berjual beli, tapi tak seorangpun yang nyaris menunaikan amanah, hingga dikatakan, "Di bani fulan ada orang yang amanah". Sampai-sampai dikatakan pada orang itu, "Alangkah sabarnya ia! Alangkah cerdiknya ia! Alangkah dewasanya ia!" Padahal sebenarnya di hatinya tak ada seberat biji sawipun dari keimanan." Sungguh telah datang padaku satu zaman yang aku tidak peduli siapa diantara kalian yang aku berjual beli dengannya, jika ia seorang muslim pasti agamanya akan mengembalikannya padaku dan jika ia seorang nasrani atau yahudi pasti penguasanya akan mengembalikannya padaku, adapun hari ini aku tidak melakukan jual beli dengan kalian selain dengan fulan dan fulan."
Muttafaq 'alaihDerajatHadis sahih
Penjelasan

Hadis ini menjelaskan bahwa sifat amanah lenyap dari hati manusia sedikit demi sedikit. Apabila bagian pertamanya hilang, sirnalah cahayanya dan diganti kegelapan seperti bintik-bintik, yakni berbentuk warna yang berbeda dengan warna asalnya. Bila bagian lainnya hilang, bekasnya menjadi seperti melepuh, yakni bekas yang kuat dan hampir tidak hilang kecuali setelah beberapa waktu. Kegelapan ini lebih pekat dibanding sebelumnya. Kemudian beliau menyerupakan hilangnya cahaya sifat amanah tersebut -setelah berada di hati dan keluarnya darinya setelah tertanam di dalamnya dan digantikan dengan kegelapan- seperti bara api yang digelindingkan pada kaki hingga melepuhkannya, kemudian bara itu hilang sementara lepuhan masih ada. Perbuatan beliau mengambil kerikil dan menggelindingkannya dimaksudkan untuk lebih memperjelas permisalan yang beliau sabdakan. “Maka orang-orangpun” -setelah bangun dari tidur yang di dalamnya sifat amanah itu dicabut- “berjual beli, tapi tak seorangpun” dari mereka “yang nyaris” yakni hampir “menunaikan amanah”, apalagi bila benar-benar menunaikannya. “Sampai-sampai dikatakan” karena langkanya sifat ini dan populernya orang yang menyandangnya, "Di bani fulan ada orang yang amanah" yakni, memiliki sifat amanah. “Hingga dikatakan pada orang itu, "Alangkah sabarnya ia” dalam beramal, “mā aẓrafahu” (Alangkah cerdiknya ia!), berasal dari kata aẓ-ẓarf (kecerdikan). “Alangkah dewasanya ia!" Yakni, alangkah kuat kesadaran dan kecerdikannya. “Padahal sebenarnya di hatinya tak ada seberat biji sawipun dari keimanan." Apalagi sifat amanah yang merupakan cabang dari keimanan, tentu tidak ada. “Sungguh telah datang padaku satu zaman yang aku tidak peduli siapa di antara kalian yang aku berjual beli dengannya.” Yakni, aku tidak peduli dengan orang yang aku ajak jual beli karena aku tahu amanah belum terangkat dan manusia masih menunaikan janji. Sehingga aku memilih berjual beli dengan orang yang aku temui tanpa meneliti sisi amanahnya karena aku masih percaya pada manusia dan sifat amanah mereka. “Adapun hari ini” maka sifat amanah telah hilang kecuali hanya sedikit. Karenanya ia mengatakan, “aku tidak melakukan jual beli dengan kalian kecuali dengan fulan dan fulan." Yakni, beberapa person yang aku kenal dan aku mempercayai mereka.

Rujukan

صحيح البخاري، تأليف: محمد بن إسماعيل البخاري، تحقيق: محمد زهير بن ناصر الناصر، دار طوق النجاة ترقيم محمد فؤاد عبدالباقي، ط 1422هـ. صحيح مسلم، تأليف: مسلم بن حجاج النيسابوري، تحقيق: محمد فؤاد عبدالباقي، دار إحياء التراث العربي. بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين، تأليف: سليم بن عيد الهلالي، دار ابن الجوزي. نزهة المتقين شرح رياض الصالحين، تأليف: مصطفى الخن ومصطفى البغا ومحي الدين مستو وعلي الشربجي ومحمد لطفي، مؤسسة الرسالة، ط 14، عام 1407 - 1987. دليل الفالحين لطرق رياض الصالحين، تأليف: محمد علي بن محمد البكري الصديقي، عناية: خليل مأمون شيحا، الناشر: دار المعرفة، ط.4، 1425هـ. رياض الصالحين، للنووي، نشر: دار ابن كثير للطباعة والنشر والتوزيع، دمشق – بيروت، تحقيق: ماهر ياسين الفحل، الطبعة الأولى، 1428هـ - 2007م. كنوز رياض الصالحين، نشر: دار كنوز إشبيليا، الطبعة: الأولى، 1430ه 2009م.

Hadis ini di HadeethEnc.com

Sesungguhnya manusia yang pertama kali diputuskan perkaranya pada hari kiamat adalah orang yang mati syahid. Ia dihadapkan kepada Allah lalu dikenalkan kepadanya nikmat-Nya, maka ia pun mengenalnya. Allah berfirman, "Apa yang telah engkau lakukan dengan nikmat ini?" Ia menjawab, "Aku telah berperang di jalan-Mu hingga aku mati syahid."

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: «إن أول الناس يُقضى يوم القيامة عليه رجُل اسْتُشْهِدَ، فأُتي به، فعرَّفه نِعمته، فعرَفَها، قال: فما عَمِلت فيها؟ قال: قَاتَلْتُ فيك حتى اسْتُشْهِدْتُ. قال: كَذبْتَ، ولكنك قَاتَلْتَ لأن يقال: جَرِيء! فقد قيل، ثم أُمِرَ به فَسُحِب على وجهه حتى أُلقي في النار. ورجل تعلم العلم وعلمه، وقرأ القرآن، فأُتي به فعرَّفه نِعَمه فعرَفَها. قال: فما عملت فيها؟ قال: تعلمت العلم وعلمته، وقرأت فيك القرآن، قال: كَذَبْتَ، ولكنك تعلمت ليقال: عالم! وقرأت القرآن ليقال: هو قارئ؛ فقد قيل، ثم أُمِر به فَسُحِب على وجهه حتى ألقي في النار. ورجل وَسَّعَ الله عليه، وأعطاه من أصناف المال، فأُتي به فعرَّفه نِعَمه، فعرَفَها. قال: فما عملت فيها؟ قال: ما تركت من سبيل تُحِبُّ أن يُنْفَقَ فيها إلا أنفقت فيها لك. قال: كَذَبْتَ، ولكنك فعلت ليقال: جواد! فقد قيل، ثم أُمِر به فَسُحِب على وجهه حتى ألقي في النار».
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, "Aku mendengar Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Sesungguhnya manusia yang pertama kali diputuskan perkaranya pada hari kiamat adalah orang yang mati syahid. Ia dihadapkan kepada Allah lalu dikenalkan kepadanya nikmat-Nya, maka ia pun mengenalnya. Allah berfirman, "Apa yang telah engkau lakukan dengan nikmat ini?" Ia menjawab, "Aku telah berperang di jalan-Mu sampai aku mati syahid." Allah berfirman, "Engkau berdusta. Engkau berperang agar disebut pemberani, maka sungguh hal itu telah dikatakan." Selanjutnya ia diperintahkan untuk dibawa lalu diseret dengan wajahnya sampai ia dilemparkan ke neraka. Selanjutnya, orang yang mempelajari satu ilmu dan mengajarkannya dan membaca Al-Qur`ān. Ia pun dihadapkan kepada Allah, lalu dikenalkan kepadanya nikmat-Nya, maka ia pun mengenalinya. Allah berfirman, "Apa yang telah engkau lakukan dengan nikmat tersebut?" Ia menjawab, "Aku mempelajari satu ilmu dan mengajarkannya dan aku membaca Al-Qur`ān karena-Mu." Allah berfirman, "Engkau berdusta. Engkau belajar agar disebut seorang yang berilmu dan engkau membaca Al-Qur`ān agar disebut pembaca, maka sungguh semua itu telah dikatakan." Lalu ia diperintahkan untuk dibawa lalu diseret dengan wajahnya sampai ia dilemparkan ke neraka. Selanjutnya, orang yang diluaskan rezekinya dan diberi berbagai macam harta oleh Allah. Lalu ia dihadapkan kepada Allah kemudian dikenalkan nikmat-Nya, maka ia pun mengenalinya. Allah berfirman, "Apa yang telah engkau lakukan dengan nikmat ini?" Ia menjawab, "Aku berinfak karena-Mu di semua jalan yang Engkau sukai." Allah berfirman, "Engkau berdusta. Engkau melakukan itu agar disebut dermawan, maka sungguh hal itu telah dikatakan." Kemudian ia diperintahkan untuk dibawa lalu diseret dengan wajahnya sampai ia dilemparkan ke neraka."
Diriwayatkan oleh MuslimDerajatHadis sahih
Penjelasan

Manusia yang pertama kali diputuskan perkaranya pada hari kiamat adalah tiga golongan: orang yang belajar dengan ria, orang yang berperang dengan ria, dan orang yang bersedekah dengan ria. Selanjutnya Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- membawa mereka ke hadapan-Nya pada hari kiamat lalu Allah memperlihatkan mereka kepada nikmat-Nya sehingga mereka pun mengenalnya dan mengakuinya. Lantas masing-masing dari mereka ditanya, "Apa yang telah engkau lakukan?" yakni, untuk mensyukuri nikmat ini. Golongan pertama menjawab, "Aku mempelajari satu ilmu dan aku membaca Al-Qur`ān karena-Mu." Allah berfirman kepadanya, "Engkau berdusta. Engkau belajar agar disebut seorang yang berilmu dan engkau membaca Al-Qur`ān agar disebut qari', bukan untuk Allah tapi karena riya." Lalu ia diperintahkan untuk dibawa lalu diseret dengan wajahnya sampai ia dilemparkan ke neraka. Demikian juga golongan setelahnya.

Rujukan

نزهة المتقين، تأليف: جمعٌ من المشايخ، الناشر: مؤسسة الرسالة، الطبعة الأولى: 1397 هـ الطبعة الرابعة عشر 1407 هـ. بهجة الناظرين، تأليف: سليم بن عيد الهلالي، الناشر: دار ابن الجوزي، سنة النشر: 1418 هـ - 1997م. صحيح مسلم، تأليف: مسلم بن الحجاج النيسابوري، تحقيق: محمد فؤاد عبد الباقي الناشر: دار إحياء التراث العربي – بيروت. رياض الصالحين، تأليف: محيي الدين يحيى بن شرف النووي، تحقيق: د. ماهر بن ياسين الفحل، الطبعة: الأولى، 1428 هـ. شرح رياض الصالحين، تأليف: محمد بن صالح العثيمين، الناشر: دار الوطن للنشر، 1426 هـ.

Hadis ini di HadeethEnc.com

Sungguh yang aku khawatirkan pada kalian ialah seseorang yang membaca Al-Qur`ān, hingga ketika keindahan Al-Qur`ān terlihat padanya dan ia menjadi pembela bagi Islam, ternyata ia mengubahnya kepada yang dikehendaki Allah, kemudian ia meninggalkannya dan membuang (tidak mengamalkan)nya serta ia membunuh tetangganya dengan pedang dan menuduhnya dengan kesyirikan.

عن حذيفة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : «إنَّ ما أَتَخوَّفُ عليكم رجلٌ قَرَأ القرآنَ حتى إذا رُئِيَتْ بَهْجتُه عليه، وكان رِدْئًا للإِسلام، غَيَّرَه إلى ما شاء الله، فانْسَلَخَ مِنْه ونَبَذَه وراءَ ظَهْرِه، وسَعَى على جاره بالسَّيف، ورمَاه بالشِّرك»، قال: قلتُ: يا نبيَّ الله، أيُّهما أوْلى بالشِّرك، المَرْمِي أم الرَّامي؟ قال: «بل الرَّامي».
Ḥużaifah -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Sungguh yang aku khawatirkan pada kalian ialah seseorang yang membaca Al-Qur`ān, hingga ketika keindahan Al-Qur`ān terlihat padanya dan ia menjadi pembela bagi Islam, ternyata ia mengubahnya kepada yang dikehendaki Allah, kemudian ia meninggalkannya dan membuang (tidak mengamalkan)nya serta ia membunuh tetangganya dengan pedang dan menuduhnya dengan kesyirikan." Ḥużaifah bertanya, "Wahai Nabi utusan Allah! Siapakah yang lebih patut dengan kesyirikan, yang dituduh atau yang menuduh?" Beliau bersabda, "Yang menuduh."
Diriwayatkan oleh Ibnu HibbānDerajatHadis hasan
Penjelasan

Di antara perkara yang paling banyak dikhawatirkan oleh Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- terhadap umatnya ialah seseorang yang membaca Al-Qur`ān lalu manusia melihat padanya cahaya dan keindahan Al-Qur`ān serta efek baiknya dan ia menjadi pembela bagi Islam dan pemeluknya, ternyata kemudian ia mengubah hal itu; ia memisahkan diri dari Islam, meninggalkan Al-Qur`ān, membunuh tetangganya dan menuduhnya dengan kesyirikan. Lantas para sahabat bertanya kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, "Siapakah yang lebih patut pada kesyirikan; orang yang membunuh tetangganya ini dan menuduhnya berbuat syirik, ataukah tetangganya tersebut?" Maka Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengabarkan bahwa penuduh tetangganya dengan kesyirikan dan pembunuhnya itulah yang lebih patut dan lebih pantas dengan kesyirikan tersebut.

Rujukan

-الإحسان في تقريب صحيح ابن حبان، المؤلف: محمد بن حبان بن أحمد بن حبان بن معاذ البُستي، ترتيب: الأمير علاء الدين علي بن بلبان الفارسي، حققه وخرج أحاديثه وعلق عليه: شعيب الأرنؤوط، الناشر: مؤسسة الرسالة، بيروت، الطبعة: الأولى، 1408 هـ - 1988 م. -سلسلة الأحاديث الصحيحة وشيء من فقهها وفوائدها، تأليف محمد ناصر الدين الألباني، الناشر: مكتبة المعارف للنشر والتوزيع، الرياض، الطبعة: الأولى، لمكتبة المعارف. -مختار الصحاح، لزين الدين أبو عبد الله محمد بن أبي بكر بن عبد القادر الحنفي الرازي، تحقيق: يوسف الشيخ محمد، نشر: المكتبة العصرية - الدار النموذجية، بيروت – صيدا، لطبعة: الخامسة، 1420هـ - 1999م. -معجم اللغة العربية المعاصرة، للدكتور أحمد مختار عبد الحميد عمر بمساعدة فريق عمل، الناشر: عالم الكتب، الطبعة: الأولى، 1429 هـ - 2008 م. -شرح مشكل الآثار, أبو جعفر أحمد بن محمد الطحاوي, تحقيق: شعيب الأرنؤوط, مؤسسة الرسالة, الطبعة: الأولى - 1415 هـ، 1494 م.

Hadis ini di HadeethEnc.com

Janganlah kalian belajar ilmu untuk membanggakan diri di hadapan ulama untuk mendebat orang-orang bodoh

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ رضي الله عنهما أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «لَا تَعَلَّمُوا الْعِلْمَ لِتُبَاهُوا بِهِ الْعُلَمَاءَ، وَلَا لِتُمَارُوا بِهِ السُّفَهَاءَ، وَلَا تَخَيَّرُوا بِهِ الْمَجَالِسَ، فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ، فَالنَّارُ النَّارُ».
Jābir bin Abdillah -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan, bahwa Nabi ﷺ bersabda, "Janganlah kalian belajar ilmu untuk membanggakan diri di hadapan ulama untuk mendebat orang-orang bodoh, maupun meraih keunggulan dalam majelis. Siapa yang melakukan hal itu, maka balasannya ialah neraka, neraka."
HR. Ibnu MajahDerajatSahih
Penjelasan

Nabi ﷺ memberi peringatan terhadap orang yang belajar ilmu untuk berbangga di hadapan ulama serta menampakkan aku berilmu seperti kalian, atau untuk mendebat orang-orang yang bodoh dan lemah akal, atau belajar agar menjadi pemimpin dalam majelis atau diunggulkan atas yang lainnya. Siapa yang melakukan hal itu maka dia pantas mendapatkan neraka, sebab ia telah pamer dan tidak ikhlas kepada Allah dalam menuntut ilmu.

Faedah
  1. 1- Ancaman neraka bagi orang yang belajar ilmu demi berbangga, berdebat, atau memimpin majelis, dan lain sebagainya.
  2. 2- Urgensi mengikhlaskan niat bagi orang yang belajar ilmu dan mengajarkannya.
  3. 3- Niat adalah pondasi amal dan menjadi tolok ukur balasan.
Rujukan

سنن ابن ماجه (1/ 170) (254)، مرشد ذوي الحجا والحاجة (2/378)، مشارق الأنوار الوهاجة ومطالع الأسرار البهاجة في شرح سنن الإمام ابن ماجه (4/ 482).

Hadis ini di HadeethEnc.com

Apabila engkau melihat orang-orang yang mengikuti yang mutasyābihāt, mereka itulah orang-orang yang Allah sebutkan, maka waspadalah terhadap mereka

عَنْ ‌عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ: تَلَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَذِهِ الْآيَةَ: {هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ، وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَّهُ، وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ} [آل عمران: 7]. قَالَتْ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «فَإِذَا رَأَيْتِ الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ فَأُولَئِكَ الَّذِينَ سَمَّى اللهُ، فَاحْذَرُوهُمْ».
Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- berkata, ia berkata, "Rasulullah ﷺ membaca ayat ini, 'Dialah yang menurunkan Kitab (Al-Qur`an) kepadamu (Muhammad). Di antaranya ada ayat-ayat yang muḥkamāt, itulah pokok-pokok kitab (Al-Qur`an) dan yang lain mutasyābihāt. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong pada kesesatan, mereka mengikuti yang mutasyābihāt untuk mencari-cari fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya kecuali Allah. Dan orang-orang yang ilmunya mendalam berkata, "Kami beriman kepadanya (Al-Qur`an), semuanya dari sisi Tuhan kami." Tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang berakal'." [QS. Āli 'Imrān: 7] Aisyah berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, "Apabila engkau melihat orang-orang yang mengikuti yang mutasyābihāt, mereka itulah orang-orang yang Allah sebutkan, maka waspadalah terhadap mereka."
Muttafaq 'alaihDerajatSahih
Penjelasan

Rasulullah ﷺ membaca ayat ini (yang artinya): "Dialah yang menurunkan Kitab (Al-Qur`an) kepadamu (Muhammad). Di antaranya ada ayat-ayat yang muḥkamāt, itulah pokok-pokok kitab (Al-Qur`an) dan yang lain mutasyābihāt. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong pada kesesatan, mereka mengikuti yang mutasyābihāt untuk mencari-cari fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya kecuali Allah. Dan orang-orang yang ilmunya mendalam berkata, "Kami beriman kepadanya (Al-Qur`an), semuanya dari sisi Tuhan kami." Tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang berakal." Di dalam ayat ini, Allah Subḥānah mengabarkan bahwa Dialah yang menurunkan Al-Qur`an kepada Nabi-Nya, sebagiannya ada ayat-ayat yang memiliki petunjuk jelas serta hukum yang terang benderang, tidak ada kerancuan di dalamnya. Ini merupakan pokok dan induk Al-Qur`an serta menjadi referensi ketika terjadi perbedaan. Sebagian lainnya, ayat-ayat yang mengandung lebih dari satu makna, sehingga maknanya samar bagi sebagian orang, atau mereka mengira ada kontradiksi antara ayat itu dan ayat yang lain. Kemudian Allah menjelaskan interaksi orang terhadap ayat-ayat itu: Orang-orang yang di dalam hatinya terdapat penyimpangan dari kebenaran, mereka meninggalkan ayat yang muḥkam dan mengambil yang mutasyābih, tujuannya menyulut syubhat dan menyesatkan manusia, dan dengan itu mereka berupaya menakwilnya menurut yang sesuai dengan hawa nafsu mereka. Adapun orang-orang yang keilmuannya lebih mendalam, mereka mengetahui ayat yang mutasyābih dan mengembalikannya kepada yang muḥkam; mereka mengimani bahwa ia datang dari Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā-, sehingga ia tidak mungkin rancu ataupun kontradiktif. Akan tetapi tidak ada yang mengambil pelajaran dengan hal itu kecuali orang-orang yang berakal lurus. Kemudian Nabi ﷺ bersabda kepada ibunda kaum mukminin Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā-, apabila dia melihat orang yang mengikuti ayat-ayat mutasyābihāt, maka mereka itulah yang disebutkan oleh Allah di dalam firman-Nya, "Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong pada kesesatan ...", maka waspadalah terhadap mereka dan jangan mendengarkan mereka.

Faedah
  1. 1- Ayat-ayat Al-Qur`an yang muḥkam ialah yang memiliki petunjuk jelas dan makna terang. Sedangkan yang mutasyābih ialah yang mengandung lebih dari satu makna dan membutuhkan penelaahan dan pemahaman.
  2. 2- Waspada dalam berinteraksi dengan pengikut kesesatan dan pelaku bidah serta orang-orang yang melontarkan permasalahan dengan tujuan ingin menyesatkan manusia dan memasukkan keraguan kepada mereka.
  3. 3- Pada penutupan ayat tersebut, dengan firman Allah Ta'ālā, "Tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang berakal", terdapat sindiran terhadap orang-orang yang menyimpang dan pujian untuk orang-orang yang keilmuannya mendalam, yakni siapa yang tidak mengambil pelajaran lalu mengikuti hawa nafsunya maka bukan termasuk orang-orang yang berakal.
  4. 4- Mengikuti ayat yang mutasyābih termasuk sebab penyimpangan hati.
  5. 5- Kewajiban mengembalikan ayat-ayat mutasyābihāt yang kadang tidak dipahami maknanya kepada ayat-ayat muḥkamāt.
  6. 6- Allah -Subāḥānahu wa Ta'ālā- menjadikan beberapa ayat Al-Qur`an muḥkam dan beberapa lainnya mutasyābih sebagai ujian bagi manusia, sehingga akan tampak perbedaan antara orang yang beriman dan orang yang sesat.
  7. 7- Adanya ayat mutasyābih dalam Al-Qur`an adalah untuk menunjukkan keutamaan para ulama di atas orang-orang selain mereka, serta sebagai pemberitahuan mengenai keterbatasan kemampuan akal manusia, agar ia tunduk kepada Tuhannya dan mengakui kelemahannya.
  8. 8- Keutamaan memiliki keilmuan yang kokoh dan keharusan untuk teguh di atasnya.
  9. 9- Ada dua pendapat menurut para ahli tafsir tentang waqaf (berhenti) pada lafaz "Allāh" dalam firman-Nya: Wa mā ya'lamu ta`wīlahū illallāh, war-rāsikhūna fil 'ilmi (Tidak ada yang mengetahui takwilnya kecuali Allah dan orang-orang yang mendalam ilmunya). Orang yang wakaf pada kalimat "Allāh", maka yang dimaksudkan dengan takwil ialah mengetahui hakikat sesuatu serta perkara yang tidak dapat diketahui seperti roh dan hari kiamat, yang disembunyikan pengetahuannya oleh Allah; orang-orang yang ilmunya mendalam, mereka mengimaninya dan mengembalikan hakikatnya kepada Allah; mereka tunduk dan pasrah kepada-Nya. Sedangkan orang yang membaca waṣal (disambung), tidak waqaf pada lafaz "Allāh", maka yang dimaksud dengan takwil ialah penafsiran dan penjelasan; yaitu Allah mengetahuinya, demikian juga orang-orang yang memiliki ilmu yang mendalam pun mengetahuinya, mereka mengimaninya dan mengembalikannya kepada yang muḥkam.
Rujukan

صحيح البخاري (6/ 33) (4547)، صحيح مسلم (4/ 2053) (2665)، فتح الباري (8/211)، شرح النووي على مسلم (16/217)، النهاية في غريب الحديث والأثر (ص 407، 465)، فتح الودود في شرح سنن أبي داود (4/415)، تحفة الأبرار شرح مصابيح السنّة (1/129)، البحر المحيط الثجاج في شرح صحيح الإمام مسلم بن الحجاج (41/ 559).

Hadis ini di HadeethEnc.com

Setiap hadis, derajat, penjelasan, dan faedah di sini ditampilkan persis sebagaimana diterbitkan HadeethEnc.com, menurut ketentuan penerbitan ulangnya. Derajat itu tidak menyebut siapa yang menilainya. Terjemahan dan penjelasan adalah karya para penyusunnya, dan sebagian menyebutkan hukum; para peninjau Sabīl belum memeriksanya. Hadis berbahasa Arablah teksnya. Sumber: HadeethEnc.com