عن أبي هريرة رضي الله عنه مرفوعاً: يُستجاب لأحدكم ما لم يَعْجَلْ: يقول: قد دعوت ربي، فلم يستجب لي».
وفي رواية لمسلم: «لا يزال يُستجاب للعبد ما لم يَدْعُ بإثم، أو قطيعة رحم، ما لم يَسْتَعْجِلْ» قيل: يا رسول الله ما الاستعجال؟ قال: «يقول: قد دعوت، وقد دعوت، فلم أر يستجب لي، فَيَسْتَحْسِرُ عند ذلك ويَدَعُ الدعاء».
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- secara marfū', (Nabi bersabda), "Doa salah seorang dari kalian akan dikabulkan selama ia tidak tergesa-gesa, (yaitu) orang tersebut berkata, "Aku telah berdoa kepada Tuhanku, tetapi Dia tidak mengabulkannya untukku." Dalam riwayat Muslim (disebutkan), "Doa seorang hamba senantiasa akan dikabulkan selama ia tidak berdoa untuk dosa atau memutuskan hubungan keluarga, asalkan ia tidak tergesa-gesa." Ditanyakan, "Wahai Rasulullah, apa yang dimaksud dengan tergesa-gesa?" Beliau bersabda, "Seseorang berkata: Sungguh aku telah berdoa dan sungguh aku telah berdoa, namun aku belum melihat dikabulkannya doaku," maka ia pun merasa rugi (putus asa) ketika itu sehingga meninggalkan doa."
Muttafaq 'alaihDerajatHadis sahih
Penjelasan
Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengabarkan bahwa doa seorang hamba akan dikabulkan selama ia tidak berdoa untuk kemaksiatan atau memutuskan hubungan keluarga, juga tidak tergesa-gesa. Nabi ditanya, "Wahai Rasulullah, apa yang dimaksud dengan tergesa-gesa yang menjadi sebab terhalangnya doa untuk dikabulkan?" Beliau bersabda, "Seseorang berkata, "Sungguh aku telah berdoa, sungguh aku telah berdoa, dan berulang kali aku panjatkan doa, namun Dia tidak mengabulkannya untukku. Saat itulah ia tergesa-gesa dan meninggalkan doa.
Rujukan
- صحيح البخاري، للإمام محمد بن إسماعيل البخاري، تحقيق محمد الناصر، دار طوق النجاة.
- صحيح مسلم، للإمام مسلم بن الحجاج النيسابوري، تحقيق محمد فؤاد عبد الباقي، دار إحياء التراث العربي.
- بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين، تأليف سليم بن عيد الهلالي، دار ابن الجوزي، الطبعة الأولى، 1418ه.
- نزهة المتقين شرح رياض الصالحين، تأليف د. مصطفى سعيد الخِن وغيره، مؤسسة الرسالة، بيروت، الطبعة الرابعة عشرة، 1407هـ.
- كنوز رياض الصالحين، لحمد بن ناصر العمار، دار كنوز إشبيليا، الطبعة الأولى، 1430ه.
- دليل الفالحين لطرق رياض الصالحين، لمحمد علي بن محمد بن علان البكري الصديقي، اعتنى بها: خليل مأمون شيحا، دار المعرفة.
- شرح رياض الصالحين، للشيخ محمد بن صالح العثيمين، مدار الوطن، الرياض، 1426هـ.
Hadis ini di HadeethEnc.comعَنْ أَبِي سَعِيدٍ رضي الله عنه أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيهَا إِثْمٌ، وَلَا قَطِيعَةُ رَحِمٍ، إِلَّا أَعْطَاهُ اللهُ بِهَا إِحْدَى ثَلَاثٍ: إِمَّا أَنْ تُعَجَّلَ لَهُ دَعْوَتُهُ، وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ، وَإِمَّا أَنْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنَ السُّوءِ مِثْلَهَا» قَالُوا: إِذنْ نُكْثِرُ، قَالَ: «اللهُ أَكْثَرُ».
Abu Sa‘īd Al-Khudriy -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda, "Tidaklah seorang muslim berdoa dengan satu doa yang tidak mengandung dosa maupun pemutusan silaturahmi, melainkan dengan doanya itu Allah pasti memberinya satu dari tiga hal: doanya akan disegerakan kepadanya, Allah simpankan doanya itu untuknya di akhirat, atau Allah hindarkan darinya kejelekan yang sebanding dengan doanya." Para sahabat berkata, "Kalau begitu, kita perbanyak doa." Beliau bersabda, "Allah lebih banyak (memberi)."
HR. AhmadDerajatSahih
Penjelasan
Nabi ﷺ mengabarkan, apabila seorang muslim berdoa kepada Allah, meminta suatu permintaan yang tidak mengandung dosa, misalkan ia berdoa kepada Allah agar dimudahkan pada kemaksiatan dan kezaliman, tidak berdoa yang mengandung pemutusan silaturahmi seperti mendoakan celaka untuk anak-anak dan kerabatnya, kecuali dengan doanya itu Allah akan memberinya salah satu dari tiga perkara: 1- Allah menyegerakan doanya dan memberikan apa yang ia minta. 2- Allah ﷻ akan mengakhirkan doanya itu sebagai pahala untuknya kelak di hari Kiamat berupa ketinggian derajat atau rahmat dan ampunan dari kesalahan. 3- Allah jauhkan darinya -saat sekarang di dunia- sebagian keburukan yang sebanding dengan kadar doanya. Para sahabat berkata kepada Nabi ﷺ: Kalau begitu, kita perbanyak berdoa saja agar kita mendapatkan salah satu keutamaan ini? Nabi ﷺ menjawab: Apa yang ada di sisi Allah lebih banyak dan lebih besar daripada apa yang kalian minta. Pemberian-Nya tidak pernah habis dan tidak tidak akan berujung.
Faedah
- 1- Doa seorang muslim itu mustajab, tidak akan ditolak, tetapi harus terpenuhi syarat dan adab-adabnya. Oleh karena itu, seorang hamba harus memperbanyak doa dan tidak terburu-buru menginginkan pengabulan.
- 2- Pengabulan doa tidak terbatas pada didapatkannya apa yang diminta. Bisa jadi ia diberi ampunan dengan sebab doanya itu atau disimpankan untuknya di akhirat.
- 3- Ibnu Bāz berkata, "Menguatkan permintaan, berbaik sangka kepada Allah, dan tidak putus asa termasuk sebab pengabulan yang paling besar. Sebab itu, seseorang harus berdoa dengan kuat, berbaik sangka kepada Allah ﷻ, serta meyakini bahwa Allah Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui. Terkadang Allah menyegerakan pengabulannya karena suatu hikmah, terkadang mengakhirkannya karena hikmah yang lain, dan terkadang memberi orang yang berdoa sesuatu yang lebih baik daripada permintaannya."
Rujukan
مسند أحمد (17/ 213) (11133).
بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين، لسليم الهلالي (2/ 592).
تطريز رياض الصالحين، لفيصل آل مبارك (ص805).
شرح رياض الصالحين، لابن عثيمين (6/ 54).
مرقاة المفاتيح شرح مشكاة المصابيح، للقاري (4/ 1537).
نزهة المتقين شرح رياض الصالحين، لمجموعة من الباحثين (2/ 1020).
Hadis ini di HadeethEnc.comعَنْ سَلْمَانَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّ رَبَّكُمْ حَيِيٌّ كَرِيمٌ، يَسْتَحْيِي مِنْ عَبْدِهِ إِذَا رَفَعَ يَدَيْهِ إِلَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا».
Salmān -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ bersabda, “Sungguh, Tuhan kalian Mahamalu dan Mahadermawan. Dia malu kepada hamba-Nya jika dia mengangkat tangan kepada-Nya untuk mengembalikannya dalam keadaan kosong.”
HR. Abu Daud, Tirmizi, dan Ibnu MajahDerajatHasan
Penjelasan
Nabi ﷺ menganjurkan untuk mengangkat kedua tangan saat berdoa. Beliau mengabarkan bahwa Allah Mahamalu, yaitu memiliki banyak sifat malu, tidak berhenti melakukan apa yang menyenangkan hamba-Nya dan meninggalkan apa yang memudaratkannya. Allah Mahadermawan, yaitu memberi walaupun tidak ada permintaan. Lalu bagaimana jika ada permintaan! Allah malu kepada hamba-Nya yang beriman untuk mengembalikan kedua tangannya setelah diangkat untuk berdoa dalam keadaan kosong dan rugi tanpa dikabulkan.
Faedah
- 1- Semakin hamba memperlihatkan kebergantungan dan penghambaan kepada Allah Ta'ala, maka harapan semakin besar dan semakin dekat pada pengabulan.
- 2- Dorongan agar berdoa dan anjuran mengangkat kedua tangan dalam doa, bahwa hal tersebut termasuk sebab pengabulan.
- 3- Menerangkan luasnya kebaikan dan rahmat Allah kepada hamba-hamba-Nya.
Rujukan
سنن أبي داود (2/ 609) (1488).
سنن الترمذي (5/ 521) (3556).
توضيح الأحكام من بلوغ المرام، لعبد الله البسام (7/ 552).
منحة العلام في شرح بلوغ المرام، لعبد الله الفوزان (10/ 423).
فتح ذي الجلال والإكرام، لابن عثيمين (6/ 483).
Hadis ini di HadeethEnc.comعَنْ عَائِشَةَ رضي الله عنها قَالَتْ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْتَحِبُّ الْجَوَامِعَ مِنَ الدُّعَاءِ، وَيَدَعُ مَا سِوَى ذَلِكَ.
Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- meriwayatkan, ia berkata, "Rasulullah ﷺ menyukai doa-doa yang ringkas namun bermakna komprehensif dan meninggalkan yang selain itu."
HR. Abu Daud dan AhmadDerajatSahih
Penjelasan
Nabi ﷺ menganjurkan doa-doa yang komprehensif, mencakup kebaikan dunia dan akhirat, yang memiliki lafaz sedikit tetapi maknanya banyak, berisikan pujian-pujian kepada Allah Ta'ala dan keinginan-keinginan yang baik, dan sebaliknya beliau meninggalkan selain itu.
Faedah
- 1- Anjuran berdoa dengan doa yang memiliki lafaz sedikit tetapi mencakup seluruh makna kebaikan dan dimakruhkannya memaksakan diri dan berlebih-lebihan dalam permintaan karena hal itu menyelisihi petunjuk Nabi ﷺ.
- 2- Rasulullah ﷺ diberikan keistimewaan berupa ungkapan kalimat yang ringkas padat.
- 3- Antusias untuk membaca doa-doa yang secara valid Nabi ﷺ pernah membacanya, walaupun panjang dan memiliki kata-kata yang banyak karena itu semuanya termasuk doa yang singkat padat.
Rujukan
سنن أبي داود (2/ 605) (1482).
مسند أحمد (42/ 76) (25151).
بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين، لسليم الهلالي (2/ 542).
نزهة المتقين شرح رياض الصالحين، لمجموعة من الباحثين (2/ 1003).
شرح رياض الصالحين، لابن عثيمين (6/ 15).
كنوز رياض الصالحين، لمجموعة من الباحثين (17/ 349).
Hadis ini di HadeethEnc.comعَن أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: «لاَ يَقُلْ أَحَدُكُمْ: اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي إِنْ شِئْتَ، ارْحَمْنِي إِنْ شِئْتَ، ارْزُقْنِي إِنْ شِئْتَ، وَليَعْزِمْ مَسْأَلَتَهُ، إِنَّهُ يَفْعَلُ مَا يَشَاءُ، لاَ مُكْرِهَ لَهُ».
ولمسلم: «وَلَكِنْ لِيَعْزِمِ الْمَسْأَلَةَ وَلْيُعَظِّمِ الرَّغْبَةَ، فَإِنَّ اللهَ لَا يَتَعَاظَمُهُ شَيْءٌ أَعْطَاهُ».
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda, "Janganlah salah seorang kalian mengatakan, 'Ya Allah! Ampunilah aku jika Engkau menghendaki, rahmatilah aku jika Engkau menghendaki, berilah aku rezeki jika Engkau menghendaki.' Namun, hendaknya ia bersungguh-sungguh dalam meminta karena Allah melakukan semua yang dikehendaki-Nya dan tidak ada yang dapat memaksa-Nya." Dalam riwayat Muslim: "Akan tetapi, hendaknya ia meminta dengan yakin dan dengan harapan besar, karena Allah tidak pernah menganggap besar sesuatu yang diberikan-Nya."
Muttafaq 'alaihDerajatSahih
Penjelasan
Nabi ﷺ melarang menggantungkan doa pada sesuatu, bahkan pada kehendak Allah sekalipun karena hal itu adalah perkara yang telah diketahui dan diyakini bersama bahwa Allah tidak akan mengampuni kecuali jika Dia menghendaki. Tidak ada artinya mensyaratkan kehendak karena kehendak itu disyaratkan pada orang yang ada kemungkinan melakukan sesuatu tanpa kehendak, baik dengan paksaan atau lainnya, padahal hal itu disucikan dari Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā-. Nabi ﷺ telah menjelaskan hal tersebut di bagian akhir hadis, yaitu dengan sabda beliau: Sesungguhnya tidak ada yang bisa memaksa Allah. Selain itu, Allah juga tidak pernah menganggap besar sesuatu yang diberikan-Nya. Dia tidak lemah, tidak pula ada sesuatu yang dianggap-Nya besar sehingga perlu dikatakan: jika Engkau menghendaki. Menggantungkan permintaan pada kehendak merupakan bentuk sikap tidak butuh pada ampunan-Nya. Perkataan seseorang: "Jika engkau berkenan memberiku begini maka silakan lakukan", ini tidak digunakan kecuali pada keadaan sedang tidak butuh kepadanya atau pada orang yang tak mampu. Adapun pada orang yang mampu disertai ada kebutuhan tinggi kepadanya, maka ia akan meminta dengan tekad bulat dan layaknya permintaan orang yang butuh dan terpaksa pada apa yang ia minta. Dia akan kembali kepada Allah karena Dia Mahakaya, Mahasempurna lagi Mahakuasa atas segala sesuatu.
Faedah
- 1- Larangan menggantungkan doa pada kehendak.
- 2- Menyucikan Allah dari semua yang tidak pantas dengan zat-Nya, keluasan karunia-Nya, kesempurnaan kemahakayaan-Nya, serta kebaikan dan kedermawanan-Nya.
- 3- Menetapkan kesempurnaan bagi Allah ﷻ.
- 4- Memperkuat harapan pada apa yang ada di sisi Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- dan berbaik sangka kepada-Nya.
- 5- Sebagian orang menggantungkan doa pada kehendak tanpa mereka sadari. Misalnya perkataan: Jazākallāhu khairan in syā`allāh, yarḥamukallāhu in syā`allāh. Perkataan ini tidak boleh berdasarkan hadis dalam pembahasan ini.
Rujukan
صحيح البخاري (9/ 140) (7477).
صحيح مسلم (4/ 2063) (2679).
الجديد في شرح كتاب التوحيد، لمحمد القرعاوي (ص410).
الملخص في شرح كتاب التوحيد، لصالح الفوزان (ص368).
القول المفيد على كتاب التوحيد، لابن عثيمين (2/ 331).
Hadis ini di HadeethEnc.comعن أبي بن كعب رضي الله عنه : كان رسولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم إذا ذَهَبَ ثُلثُ الليلِ قامَ، فقال: "يا أيها الناسُ، اذكروا اللهَ، جاءت الرَّاجِفَةُ، تَتْبَعُها الرَّادِفَةُ، جاءَ الموتُ بما فيه، جاءَ الموتُ بما فيه"، قلتُ: يا رسول الله، إني أُكْثِرُ الصلاةَ عليكَ، فكم أجعلُ لكَ من صلاتِي؟ فقالَ: "ما شِئتَ"، قلتُ: الرُّبُعَ؟، قالَ: "ما شئتَ، فإنْ زِدتَ فهو خيرٌ لكَ"، قلتُ: فالنّصفَ؟، قالَ: "ما شئتَ، فإن زِدتَ فهو خيرٌ لكَ"، قلتُ: فالثلثين؟ قالَ: "ما شئتَ، فإن زدتَ فهو خيرٌ لكَ"، قلتُ: أجعلُ لكَ صلاتِي كُلَّها؟ قالَ: "إذاً تُكْفى هَمَّكَ، ويُغْفَرَ لكَ ذَنبُكَ".
Dari Ubay bin Ka'ab -raḍiyallāhu 'anhu-, "Apabila telah berlalu sepertiga malam, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bangun kemudian bersabda, "Hai sekalian manusia, ingatlah Allah, telah datang guncangan besar yang diikuti oleh peristiwa dahsyat. Kematian itu datang dengan berbagai kesusahannya, kematian itu datang dengan berbagai kesusahannya." Aku berkata, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku banyak berselawat kepadamu, maka berapa banyak aku harus berselawat untukmu?" Beliau menjawab, "Sekehendakmu saja." Aku bertanya, "Seperempat?" Beliau menjawab, "Sekehendakmu, tetapi kalau engkau tambah maka itu lebih baik bagimu." Aku bertanya lagi, "Bagaimana kalau setengahnya?' Beliau menjawab, "Sekehendakmu, tetapi kalau engkau tambah maka itu lebih baik lagi untukmu." Aku bertanya lagi, "Kalau begitu, dua pertiganya bagaimana?" Beliau menjawab, "Sekehendakmu saja, tetapi kalau engkau tambah maka itu lebih baik untukmu." Aku berkata, "Aku akan menjadikan semua selawat untukmu." Beliau bersabda, "Jika demikian maka akan dihilangkan keprihatinanmu serta diampuni dosamu."
Diriwayatkan oleh Tirmiżi - Diriwayatkan oleh AhmadDerajatHadis hasan
Penjelasan
Di awal hadis disebutkan bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- apabila bangun di sepertiga malam, beliau bersabda untuk mengingatkan umatnya dari kelalaian dan mengajaknya untuk mengerjakan sesuatu yang mengantarkannya pada keridaan Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- berupa kesempurnaan rahmat-Nya, "Hai sekalian manusia, ingatlah Allah (berzikirlah)!" yakni, dengan lisan dan hati agar membawa apa yang dapat diraih dari buah zikir berupa memperbanyak kebajikan dan meninggalkan yang lainnya.
Dalam hadis itu juga disebutkan bahwa penanya mempunyai doa yang selalu diulangi untuk dirinya, maka ia bisa menjadikan sepertiga doanya untuk Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Selawat kepadanya adalah doa, dan mungkin saja doa itu setengahnya untuk beliau, atau juga seluruh doanya untuk beliau. Seperti berselawat kepadanya sebagai ganti berdoa untuknya. Dalam hadis disebutkan bahwa Siapa yang berselawat kepada Nabi satu kali, maka Allah berselawat kepada orang itu sepuluh kali." HR. Muslim dari hadis Abu Hurairah, sehingga pahala selawatnya cukup untuknya. Karena itu, beliau bersabda, "Jika demikian maka akan dihilangkan keprihatinanmu serta diampuni dosamu." Yakni, sesungguhnya engkau hanya meminta hilangnya sebab bahaya yang meninggalkan kesedihan dan menyebabkan dosa. Jika engkau berselawat kepadaku sebagai ganti doamu, maka tercapailah maksudmu. Mungkin juga maksud hadis ini adalah memasukkan Nabi dalam doanya. Seolah-olah orang tersebut berkata, "setiap kali aku berdoa maka aku berselawat untukmu". Ini bukan berarti cukup berselawat saja tanpa perlu berdoa, tetapi maksudnya adalah menggabungkan keduanya, sebagai bentuk pengamalan semua nas-nas yang ada.
Rujukan
بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين؛ تأليف سليم الهلالي، دار ابن الجوزي.
تحفة الذاكرين بعدة الحصن الحصين؛ للإمام محمد بن علي الشوكاني، تحقيق سيد إبراهيم وغيره، دار الحديث-القاهرة، الطبعة الأولى، 1419م.
الجامع الكبير؛ للإمام محمد بن عيسى الترمذي، تحقيق د. بشار عواد، دار الغرب الإسلامي-بيروت، الطبعة الثانية، 1998م.
جامع المسائل؛ لشيخ الإسلام أحمد بن تيمية الحراني، تحقيق محمد عزيز شمس، دار عالم الفوائد، الطبعة الأولى، 1422هـ.
دليل الفالحين لطرق رياض الصالحين؛ لمحمد بن علان الشافعي، دار الكتاب العربي-بيروت.
رياض الصالحين من كلام سيد المرسلين؛ للإمام أبي زكريا النووي، تحقيق د. ماهر الفحل، دار ابن كثير-دمشق، الطبعة الأولى، 1428هـ.
سلسلة الأحاديث الصحيحة؛ للشيخ محمد ناصر الدين الألباني، مكتبة المعارف-الرياض، 1415هـ.
صحيح مسلم؛ للإمام مسلم بن الحجاج، حققه ورقمه محمد فؤاد عبدالباقي، دار عالم الكتب-الرياض، الطبعة الأولى، 1417هـ.
كنوز رياض الصالحين؛ فريق علمي برئاسة أ.د. حمد العمار، دار كنوز إشبيليا-الرياض، الطبعة الأولى، 1430هـ.
المسند؛ للإمام أحمد بن حنبل، نشر المكتب الإسلامي-بيروت، مصور عن الطبعة الميمنية.
نزهة المتقين شرح رياض الصالحين؛ تأليف د. مصطفى الخِن وغيره، مؤسسة الرسالة-بيروت، الطبعة الرابعة عشر، 1407هـ.
Hadis ini di HadeethEnc.comعن أنس رضي الله عنه : أن النبيَّ صلى الله عليه وسلم جاءَ إلى سعد بنِ عبادة رضي الله عنه فَجَاءَ بِخُبْزٍ وَزَيْتٍ، فأكلَ، ثم قال النبيُّ صلى الله عليه وسلم : «أفْطَرَ عِنْدَكُمُ الصَّائِمُونَ؛ وَأكَلَ طَعَامَكُمُ الأَبرَارُ، وَصَلَّتْ عَلَيْكُمُ المَلاَئِكَةُ».
Dari Anas -raḍiyallāhu 'anhu- bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- datang kepada Sa'ad bin Ubādah -raḍiyallāhu 'anhu-, lalu ia menghidangkan roti dan minyak, maka Nabi pun makan. Selanjutnya Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Orang-orang yang berpuasa telah berbuka di tempat kalian dan orang-orang baik telah memakan makanan kalian serta para malaikat mendoakan kalian."
Diriwayatkan oleh Ibnu Mājah - Diriwayatkan oleh Abu Daud - Diriwayatkan oleh Ahmad - Diriwayatkan oleh DārimiDerajatSanadnya sahih
Penjelasan
Dari Anas bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- datang kepada Sa'ad bin Ubādah, pemimpin Khazraj. Ucapannya, "Dia menghidangkan roti dan minyak," mengandung penjelasan mengenai menghidangkan sesuatu yang mudah dan itu tidak menafikan kedermawanan, "maka Nabi pun makan," Yakni, Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Ucapannya, "Selanjutnya Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, " Yakni, setelah selesai makan. Sabdanya, "Orang-orang yang berpuasa telah berbuka di tempat kalian," Yakni, Semoga Allah memberikan balasan kepada kalian sebagai pahala orang yang memberi makan untuk berbuka bagi orang yang puasa. Kalimat tersebut bermakna doa. Sabdanya, "dan orang-orang baik telah menyantap makanan kalian," Al-Abrār adalah bentuk jamak dari Birrun, yaitu orang bertakwa. Sabdanya, "Serta para malaikat mendoakan kalian," Yakni, para malaikat memohonkan ampunan untuk kalian.
Rujukan
1- بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين؛ تأليف سليم الهلالي، دار ابن الجوزي.
2- تطريز رياض الصالحين؛ تأليف فيصل آل مبارك، تحقيق د. عبدالعزيز آل حمد، دار العاصمة-الرياض، الطبعة الأولى، 1423هـ.
3- دليل الفالحين لطرق رياض الصالحين؛ لمحمد بن علان الشافعي، دار الكتاب العربي-بيروت.
4- رياض الصالحين من كلام سيد المرسلين؛ للإمام أبي زكريا النووي، تحقيق د. ماهر الفحل، دار ابن كثير-دمشق، الطبعة الأولى، 1428هـ.
5- سنن أبي داود؛ للإمام أبي داود سليمان بن الأشعث السجستاني، تعليق عزت الدعاس وغيره، دار ابن حزم-بيروت، الطبعة الأولى، 1418هـ.
6- سنن ابن ماجه؛ للحافظ محمد بن يزيد القزويني، حققه محمد فؤاد عبدالباقي، دار إحياء الكتب العربية.
7- المسند؛ للإمام أحمد بن حنبل، نشر المكتب الإسلامي-بيروت، مصور عن الطبعة الميمنية.
8- مسند الدارمي –المعروف بـ: سنن الدارمي-؛ للإمام عبدالله بن عبدالرحمن الدارمي، تحقيق حسين سليم، دار المغني-الرياض، الأولى، 1421هـ.
9- مشكاة المصابيح؛ تأليف محمد بن عبدالله التبريزي، تحقيق محمد ناصر الدين الألباني، المكتب الإسلامي-بيروت، الطبعة الثانية، 1399هـ.
10- نزهة المتقين شرح رياض الصالحين؛ تأليف د. مصطفى الخِن وغيره، مؤسسة الرسالة-بيروت، الطبعة الرابعة عشر، 1407هـ.
Hadis ini di HadeethEnc.comSetiap hadis, derajat, penjelasan, dan faedah di sini ditampilkan persis sebagaimana diterbitkan HadeethEnc.com, menurut ketentuan penerbitan ulangnya. Derajat itu tidak menyebut siapa yang menilainya. Terjemahan dan penjelasan adalah karya para penyusunnya, dan sebagian menyebutkan hukum; para peninjau Sabīl belum memeriksanya. Hadis berbahasa Arablah teksnya. Sumber: HadeethEnc.com