Langsung ke konten
Hadis dengan penjelasan

Adab Bermimpi

7 hadis

Jika salah seorang kalian melihat mimpi yang dia sukai, maka itu berasal dari Allah. Sebab itu, hendaklah dia memuji Allah dan menceritakannya. Tetapi, jika dia melihat mimpi selain itu yang dia tidak sukai, maka itu berasal dari setan. Sebab itu hendaklah dia memohon perlindungan (kepada Allah) dari keburukannya dan janganlah dia menceritakannya kepada siapa pun karena tidak akan membahayakannya

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الخُدْرِيِّ رضي الله عنه أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «إِذَا رَأَى أَحَدُكُمُ الرُّؤْيَا يُحِبُّهَا فَإِنَّهَا مِنَ اللَّهِ، فَلْيَحْمَدِ اللَّهَ عَلَيْهَا وَلْيُحَدِّثْ بِهَا، وَإِذَا رَأَى غَيْرَ ذَلِكَ مِمَّا يَكْرَهُ، فَإِنَّمَا هِيَ مِنَ الشَّيْطَانِ، فَلْيَسْتَعِذْ مِنْ شَرِّهَا، وَلاَ يَذْكُرْهَا لِأَحَدٍ، فَإِنَّهَا لَنْ تَضُرَّهُ».
Abu Sa‘īd Al-Khudriy -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, bahwa ia mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, "Jika salah seorang kalian melihat mimpi yang dia sukai, maka itu berasal dari Allah. Sebab itu, hendaklah dia memuji Allah dan menceritakannya. Tetapi, jika dia melihat mimpi selain itu yang dia tidak sukai, maka itu berasal dari setan. Sebab itu hendaklah dia memohon perlindungan (kepada Allah) dari keburukannya dan janganlah dia menceritakannya kepada siapa pun karena tidak akan membahayakannya."
HR. BukhariDerajatSahih
Penjelasan

Nabi ﷺ mengabarkan bahwa mimpi baik yang membahagiakan dalam tidur berasal dari Allah. Lantas beliau mengarahkan agar memuji Allah atas mimpi itu dan menceritakannya. Tetapi, jika melihat mimpi yang tidak disukai dan mendatangkan sedih, mimpi tersebut berasal dari setan. Sebab itu, ia harus meminta perlindungan kepada Allah dari keburukannya dan tidak menceritakannya kepada siapa pun karena mimpi tersebut tidak akan mencelakakannya, yaitu Allah menjadikan apa yang disebutkan sebagai sebab keselamatan dari keburukan yang lahir dari mimpi.

Faedah
  1. 1- Macam-macam mimpi: 1- Mimpi baik. Ini merupakan mimpi yang benar dan kabar gembira yang berasal dari Allah yang dilihatnya atau dilihat dalam mimpi oleh orang lain. 2- Bisikan hati. Ini adalah apa yang terbetik di hati seseorang saat dia tidak tidur. 3- Mimpi dalam bentuk upaya dan perbuatan setan untuk mendatangkan rasa sedih dan takut agar manusia merasa sedih.
  2. 2- Kesimpulan yang disebutkan pada pembahasan tentang mimpi yang baik ada tiga: memuji Allah karenanya, merasa gembira dengannya, dan menceritakannya. Tetapi, hendaknya ia menceritakannya kepada orang yang ia cintai, bukan kepada orang yang ia benci.
  3. 3- Kesimpulan yang disebutkan tentang adab mimpi buruk ada lima: berlindung kepada Allah dari keburukannya, berlindung dari keburukan setan, memercikkan ludah saat bangun tidur ke sebelah kirinya tiga kali, tidak menceritakannya sama sekali kepada siapa pun, dan jika ingin tidur kembali agar membalik posisi dari sisi sebelumnya. Jika itu dilakukan, niscaya mimpi tersebut tidak akan membahayakannya.
  4. 4- Ibnu Ḥajar berkata, "Hikmahnya adalah jika dia menceritakan mimpi yang baik kepada orang yang tidak suka, ada kemungkinan ia akan menafsirkannya dengan tafsir yang tidak dia sukai, baik karena benci ataupun hasad, lalu mimpi tersebut terjadi seperti yang diterangkan atau melalui hal itu ia telah memasukkan rasa sedih dan susah pada dirinya. Oleh sebab itu, ia diperintahkan agar tidak bercerita kepada orang yang tidak suka."
  5. 5- Memuji Allah ketika ada kenikmatan dan pertambahannya karena itu adalah sebab keberlangsungannya.
Rujukan

صحيح البخاري (9/ 43) (7045). كنوز رياض الصالحين، لمجموعة من الباحثين (11/ 181). شرح رياض الصالحين، لابن عثيمين (4/ 370). تطريز رياض الصالحين، لفيصل آل مبارك (ص510). بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين، لسليم الهلالي (2/ 124). نزهة المتقين شرح رياض الصالحين، لمجموعة من الباحثين (1/ 657).

Hadis ini di HadeethEnc.com

Apabila telah dekat waktunya (kiamat), hampir tidak ada mimpi seorang Mukmin yang dusta. Mimpi seorang Mukmin itu satu dari empat puluh enam bagian kenabian.

عن أبي هريرة رضي الله عنه مرفوعاً: «إذا اقترب الزمان لم تَكَدْ رؤيا المؤمن تكذب، ورؤيا المؤمن جزء من ستة وأربعين جزءا من النبوة». وفي رواية: «أصدقكم رؤيا، أصدقكم حديثا».
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Apabila telah dekat waktunya (kiamat), hampir tidak ada mimpi seorang mukmin yang dusta. Mimpi seorang mukmin itu satu dari empat puluh enam bagian kenabian. Dalam riwayat lain disebutkan, "Orang yang paling benar mimpinya adalah orang yang paling jujur bicaranya."
Muttafaq 'alaihDerajatHadis sahih
Penjelasan

Makna hadis: Sesungguhnya mimpi orang Mukmin di akhir zaman akan menjadi benar. Bisa jadi ini adalah berita mengenai sesuatu yang terjadi atau sesuatu yang akan terjadi sehingga terjadi di alam nyata sesuai mimpi. Dengan demikian, mimpi ini laksana wahyu kenabian karena kebenaran maknanya. "Mimpi seorang mukmin itu satu dari empat puluh enam bagian kenabian." Yakni, bagian dari ilmu kenabian dari segi kandungan berita mengenai hal gaib. Kenabian sendiri tidak abadi, hanya saja ilmunya tetap langgeng. Adanya pengkhususan bilangan tersebut karena usia Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dalam sebagian besar riwayat yang sahih adalah enam puluh tiga tahun dan masa kenabiannya adalah duapuluh tiga tahun, karena beliau diutus saat usianya sudah mencapai empat puluh tahun. Sebelum diangkat sebagai Nabi, beliau pernah bermimpi yang baik selama enam bulan. Mimpi-mimpi itu datang seperti waktu fajar yang jelas dan terang. Selanjutnya beliau melihat malaikat dalam keadaan terjaga. Jika masa wahyu ketika tidur, yaitu enam bulan, diperbandingkan dengan masa kenabiannya, yaitu dua puluh tiga tahun, maka enam bulan adalah setengah bagian dari dua puluh tiga bagian (1/2x23), maka itu berarti menjadi satu bagian dari empat puluh enam bagian (1/46). Sabda beliau, "Orang yang paling benar mimpinya adalah orang yang paling jujur bicaranya." Artinya, jika seseorang jujur dalam pembicaraannya dan dekat dengan Allah, maka biasanya mimpinya lebih dekat kepada kebenaran. Untuk itulah, dalam hadis Bukhari dibatasi bahwa, "Mimpi yang baik berasal dari lelaki yang saleh..." Adapun orang yang tidak jujur dalam bicaranya (suka berdusta) dan melakukan kekejian yang tampak dan yang tersembunyi, maka biasanya mimpi-mimpinya bagian dari permainan setan. Ibnul Qayyim -raḥimahullāh- berkata, "Barangsiapa ingin mimpinya benar, hendaknya ia menjaga kejujuran dan makan yang halal serta memelihara amar makruf dan nahi mungkar. Juga hendaknya tidur dalam keadaan suci yang sempurna dengan menghadap ke arah kiblat, zikir kepada Allah hingga kedua matanya tertidur, maka sesudah itu mimpinya hampir dipastikan tidak akan meleset sama sekali."

Rujukan

بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين لسليم الهلالي، ط1، دار ابن الجوزي، الدمام، 1415ه. دليل الفالحين لطرق رياض الصالحين لمحمد علي بن محمد بن علان، ط4، اعتنى بها: خليل مأمون شيحا، دار المعرفة، بيروت، 1425ه. رياض الصالحين للنووي، ط1، تحقيق: ماهر ياسين الفحل، دار ابن كثير، دمشق، بيروت، 1428 هـ. رياض الصالحين، ط4، تحقيق: عصام هادي، وزارة الأوقاف والشؤون الإسلامية القطرية، دار الريان، بيروت، 1428هـ. شرح رياض الصالحين للشيخ ابن عثيمين، دار الوطن للنشر، الرياض، 1426هـ. صحيح البخاري، ط1، تحقيق: محمد زهير بن ناصر الناصر دار طوق النجاة (مصورة عن السلطانية بإضافة ترقيم: محمد فؤاد عبد الباقي)، 1422ه. صحيح مسلم، تحقيق: محمد فؤاد عبد الباقي، دار إحياء التراث العربي، بيروت. نزهة المتقين شرح رياض الصالحين لمجموعة من الباحثين، ط14، مؤسسة الرسالة، 1407هـ. سلسلة الأحاديث الصحيحة وشيء من فقهها وفوائدها للألباني، مكتبة المعارف، ط1، الرياض، 1422ه. مدارج السالكين بين منازل إياك نعبد وإياك نستعين لابن قيم الجوزية ، تحقيق: محمد المعتصم بالله البغدادي، ط3، دار الكتاب العربي، بيروت، 1416 ه. عون المعبود شرح سنن أبي داود، ومعه حاشية ابن القيم: تهذيب سنن أبي داود وإيضاح علله ومشكلاته للعظيم آبادي ط3، دار الكتب العلمية، بيروت، 1415 هـ.

Hadis ini di HadeethEnc.com

Mimpi yang baik itu datang dari Allah, sedangkan mimpi yang buruk datang dari setan. Jika salah seorang kalian bermimpi buruk yang ia khawatirkan, hendaklah ia meludah ke sebelah kirinya dan berlindung dari setan, karena itu tidak akan membahayakannya

عَنْ أَبِي قَتَادَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «الرُّؤْيَا الصَّالِحَةُ مِنَ اللَّهِ، وَالحُلُمُ مِنَ الشَّيْطَانِ، فَإِذَا حَلَمَ أَحَدُكُمْ حُلُمًا يَخَافُهُ فَلْيَبْصُقْ عَنْ يَسَارِهِ، وَلْيَتَعَوَّذْ بِاللَّهِ مِنْ شَرِّهَا، فَإِنَّهَا لاَ تَضُرُّهُ».
Abu Qatādah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Nabi ﷺ bersabda, "Mimpi yang baik itu datang dari Allah, sedangkan mimpi yang buruk datang dari setan. Jika salah seorang kalian bermimpi buruk yang ia khawatirkan, hendaklah ia meludah ke sebelah kirinya dan berlindung dari setan, karena itu tidak akan membahayakannya."
Muttafaq 'alaihDerajatSahih
Penjelasan

Nabi ﷺ mengabarkan bahwa mimpi baik yang membuat bahagia dalam tidur berasal dari Allah. Sedangkan ḥulm, yaitu mimpi yang tidak disukai dan membuat sedih, berasal dari setan. Siapa melihat mimpi yang tidak disukainya, hendaknya meludah ke arah kirinya dan berlindung kepada Allah dari keburukannya, sebab mimpi itu tidak akan mencelakakannya karena Allah telah menjadikan apa yang disebutkan sebagai sebab keselamatan dari keburukan yang diakibatkan oleh mimpi.

Faedah
  1. 1- Ru`yā dan ḥulm adalah mimpi yang dilihat oleh orang tidur di dalam tidurnya, tetapi istilah ru`yā lebih dominan digunakan pada mimpi yang baik dan indah, sedangkan istilah ḥulm lebih banyak digunakan pada mimpi yang buruk dan jelek. Namun terkadang, masing-masing digunakan dengan makna yang sama.
  2. 2- Macam-macam mimpi: 1- Mimpi baik; yaitu mimpi yang benar dan kabar gembira dari Allah yang dilihatnya atau dilihat dalam mimpi oleh orang lain. 2- Isi hati; yaitu isi pikiran hati seseorang saat tidak tidur. 3- Upaya setan untuk mendatangkan rasa sedih dan takut serta perbuatannya menakut-nakuti agar manusia merasa sedih.
  3. 3- Kesimpulan sikap yang disebutkan tentang adab mimpi yang baik ada tiga: memuji Allah karenanya, merasa gembira dengannya, dan menceritakannya. Tetapi, hendaknya ia menceritakannya kepada orang yang ia cintai, bukan kepada orang yang ia benci.
  4. 4- Kesimpulan sikap yang disebutkan tentang adab mimpi buruk ada lima: berlindung kepada Allah dari keburukannya, berlindung dari keburukan setan, berludah saat bangun tidur ke sebelah kirinya tiga kali, tidak menceritakannya sama sekali kepada siapa pun, dan jika ingin tidur kembali agar membalik posisi dari sisi sebelumnya. Jika itu dilakukan, niscaya mimpi tersebut tidak akan membahayakannya.
Rujukan

صحيح البخاري (4/ 125) (3292). صحيح مسلم (4/ 1771) (2261). كنوز رياض الصالحين، لمجموعة من الباحثين (11/ 190). بهجة الناظرين، لسليم الهلالي (2/ 125). بهجة قلوب الأبرار، لعبد الرحمن آل سعدي (ص149). شرح رياض الصالحين، لابن عثيمين (6/ 170). منار القاري، لحمزة محمد قاسم (1/ 44). المنهاج شرح صحيح مسلم، للنووي (15/ 18).

Hadis ini di HadeethEnc.com

Di antara dusta yang paling besar adalah seseorang mengaku anak kepada selain bapaknya, atau mengaku bermimpi padahal dia tidak bermimpi, atau berkata atas nama Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- apa yang tidak beliau ucapkan.

عن وَاثِلَةَ بن الأَسْقَعِ ـ رضي الله عنه ـ مرفوعاً: «إن من أعظم الفِرَى أن يَدَّعِيَ الرجلُ إلى غير أبيه، أو يُرِي عَيْنَهُ ما لم تَرَ، أو يقول على رسول الله صلى الله عليه وسلم ما لم يَقْلْ».
Dari Wāṣilah bin Al-Asqa' -raḍiyallāhu 'anhu-, dia berkata, "Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, 'Di antara dusta yang paling besar adalah seseorang mengaku anak kepada selain bapaknya, atau mengaku bermimpi padahal dia tidak bermimpi, atau berkata atas nama Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- apa yang tidak beliau ucapkan'."
Diriwayatkan oleh BukhariDerajatHadis sahih
Penjelasan

Sesungguhnya dusta yang paling berat di hadapan Allah -Ta'ālā- adalah seseorang menyebutkan nasabnya bukan kepada bapaknya yang hakiki atau seseorang memberinya nasab kepada selain bapaknya dan dia setujui hal itu. Ini termasuk dusta paling berat. Termasuk juga dusta paling berat di sisi Allah -Ta'ālā- adalah seseorang mengaku bermimpi, padahal dia tidak bermimpi. Juga termasuk dusta yang sangat berat adalah menyematkan suatu perkataan, perbuatan atau persetujuan kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- padahal tidak bersumber dari beliau.

Rujukan

- صحيح البخاري، للإمام محمد بن إسماعيل البخاري، تحقيق محمد الناصر، دار طوق النجاة. - بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين؛ تأليف سليم الهلالي، دار ابن الجوزي- الطبعة الأولى1418ه. - نزهة المتقين شرح رياض الصالحين؛ تأليف د. مصطفى الخِن وغيره، مؤسسة الرسالة-بيروت، الطبعة الرابعة عشرة، 1407هـ. - كنوز رياض الصالحين»، لحمد بن ناصر العمار، دار كنوز إشبيليا- الطبعة الأولى1430ه. - دليل الفالحين لطرق رياض الصالحين، لمحمد علي بن محمد بن علان بن إبراهيم البكري الصديقي الشافعي اعتنى بها: خليل مأمون شيحا، دار المعرفة . - شرح رياض الصالحين؛ للشيخ محمد بن صالح العثيمين، مدار الوطن، الرياض، 1426هـ.

Hadis ini di HadeethEnc.com

Tidak ada yang tersisa dari kenabian selain Al-Mubasy-syirāt.

عن أبي هريرة ـ رضي الله عنه ـ قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: «لم يبقَ من النُّبُوَّةِ إلا المُبَشِّرَاتُ» قالوا: وما المُبَشِّرَاتُ ؟ قال: «الرؤيا الصالحة».
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, Aku pernah mendengar Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Tidak ada yang tersisa dari kenabian selain Al-Mubasy-syirāt." Para sahabat bertanya, "Apa Al-Mubasy-syirāt itu?" Beliau bersabda, "Mimpi yang baik."
Diriwayatkan oleh BukhariDerajatHadis sahih
Penjelasan

Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengisyaratkan bahwa mimpi baik adalah mubasy-syirāt. Dan itu merupakan peninggalan kenabian yang masih tersisa setelah wahyu terputus. Tidak ada lagi yang tersisa untuk mengetahui apa yang akan terjadi kecuali mimpi yang baik.

Rujukan

- صحيح البخاري، للإمام محمد بن إسماعيل البخاري، تحقيق محمد الناصر، دار طوق النجاة. - بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين؛ تأليف سليم الهلالي، دار ابن الجوزي- الطبعة الأولى 1418ه. - نزهة المتقين شرح رياض الصالحين؛ تأليف د. مصطفى الخِن وغيره، مؤسسة الرسالة-بيروت، الطبعة الرابعة عشر، 1407هـ. - كنوز رياض الصالحين»، لحمد بن ناصر العمار، دار كنوز إشبيليا- الطبعة الأولى1430ه. - دليل الفالحين لطرق رياض الصالحين، لمحمد علي بن محمد بن علان بن إبراهيم البكري الصديقي الشافعي اعتنى بها: خليل مأمون شيحا، دار المعرفة - شرح رياض الصالحين؛ للشيخ محمد بن صالح العثيمين، مدار الوطن، الرياض، 1426هـ.

Hadis ini di HadeethEnc.com

Siapa melihatku dalam tidurnya, niscaya ia akan melihatku dalam sadarnya - atau seakan-akan ia melihatku dalam sadarnya - karena setan tidak bisa menyerupaiku.

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : «من رآني في المنام فَسَيَرَانِي في اليَقظة -أو كأنما رآني في الْيَقَظَةِ- لا يَتَمَثَّلُ الشيطان بي».
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Siapa melihatku dalam tidurnya, niscaya ia akan melihatku dalam sadarnya - atau seakan-akan ia melihatku dalam sadarnya - karena setan tidak bisa menyerupaiku."
Diriwayatkan oleh Muslim - Muttafaq 'alaihDerajatHadis sahih
Penjelasan

Para ulama berbeda pendapat mengenai penjelasan makna hadis ini menjadi beberapa pandangan, di antaranya: Pertama: Maksudnya adalah orang-orang yang hidup pada masa beliau. Artinya, orang yang melihat beliau dalam tidurnya dan tidak hijrah, niscaya Allah -Ta'ālā- memberikan taufik kepadanya untuk hijrah, dan melihat Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- di alam sadar dengan mata kepala sendiri. Kedua: Orang yang dilihat ketika itu benar-benar Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, artinya di alam ruh, dan bahwa mimpinya tersebut adalah benar, dengan syarat dia melihat beliau sesuai dengan ciri-ciri beliau yang sudah dikenal. Ketiga: Dia akan melihat realisasi mimpi tersebut dalam kondisi sadar di akhirat dengan penglihatan khusus sebagai bentuk kedekatan dengannya, mendapatkan syafaatnya dan sebagainya. Sabda beliau, "atau seakan-akan ia melihatku dalam sadarnya " ini merupakan riwayat Muslim. Ia meriwayatkannya dengan ragu, "Apakah Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Niscaya ia akan melihatku dalam sadarnya" atau beliau bersabda, "Seakan-akan ia melihatku dalam sadarnya." Artinya, orang yang melihat Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- ketika tidur dalam bentuk sebagaimana aslinya, seakan-akan orang itu melihatnya saat sadar. Ini seperti sabda Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dalam Aṣ-Ṣaḥīḥain, "Siapa melihatku dalam tidur, sesungguhnya ia telah melihatku (dengan sebenarnya)." Dalam satu riwayat masih dalam Aṣ-Ṣaḥīḥain, "Siapa melihatku dalam tidur, sesungguhnya ia telah melihat kebenaran." Sabda beliau, "Setan tidak bisa menyerupaiku," Dalam redaksi lain, "Siapa melihatku dalam tidur, maka ia telah melihatku, karena sesungguhnya setan tidak bisa menyerupai wujudku." Maksudnya, bahwa setan tidak mungkin bisa menyerupai Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dalam bentuk yang sebenarnya. Kalau tidak, maka setan akan datang dan berkata, "Sesungguhnya dia itu Rasulullah dalam wujud yang bukan wujud beliau, tentu ini bukan Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Jika seseorang melihat manusia dan timbul dalam dirinya bahwa manusia itu adalah Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, hendaknya ia meneliti sifat-sifat orang yang dilihatnya, apakah sesuai dengan sifat-sifat Nabi -'alaihiṣṣalātu was sallām- atau tidak? Jika sesuai, maka ia telah melihat Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, dan jika tidak sesuai maka itu bukan Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, tetapi itu khayalan dari setan yang ditimpakan kepada orang yang tidur bahwa wujud itu adalah Rasulullah, padalah itu bukan beliau. Ahmad dan At-Tirmiżi meriwayatkan dalam Asy-Syamā`il dari Yazid Al-Fārisi seraya berkata, Aku pernah melihat Rasulullah dalam tidur, lalu aku berkata kepada Ibnu Abbas, "Sesungguhnya aku melihat Rasulullah dalam tidur." Ibnu Abbas berkata, "Sesungguhnya Rasulullah pernah bersabda, 'Sesungguhnya setan tidak bisa menyerupaiku. Barangsiapa melihatku dalam tidur, maka sesungguhnya ia telah melihatku.' Apakah engkau bisa menggambarkan orang yang engkau lihat?" Aku jawab, "Ya." Setelah selesai menggambarkannya, Ibnu Abbas berkata, "Seandainya engkau melihatnya saat sadar, niscaya engkau tidak akan mampu menggambarkannya lebih dari itu." Maksudnya, seandainya engkau melihat Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dalam kondisi terjaga, niscaya engkau tidak akan mampu menggambarkan lebih dari apa yang engkau gambarkan. Ini berarti bahwa ia benar-benar telah melihat Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-.

Rujukan

كنوز رياض الصالحين، تأليف: حمد بن ناصر العمار، الناشر: دار كنوز أشبيليا، الطبعة الأولى: 1430هـ. بهجة الناظرين، تأليف: سليم بن عيد الهلالي، نسخة الكترونية، لا يوجد بها بيانات نشر. صحيح البخاري، تأليف: محمد بن إسماعيل البخاري، تحقيق: محمد زهير الناصر، الناشر: دار طوق النجاة، الطبعة الأولى، 1422هـ. صحيح مسلم، تأليف: مسلم بن الحجاج النيسابوري، تحقيق: محمد فؤاد عبد الباقي الناشر: دار إحياء التراث العربي – بيروت. شرح رياض الصالحين، تأليف: محمد بن صالح العثيمين، الناشر: دار الوطن للنشر، الطبعة: 1426هـ. رياض الصالحين، تأليف: محيي الدين يحيى بن شرف النووي، تحقيق: د. ماهر بن ياسين الفحل، الطبعة الأولى، 1428هـ. التنوير شرح الجامع الصغير، تأليف: محمد بن إسماعيل الصنعاني، تحقيق: د. محمد إسحاق محمد إبراهيم، الناشر: مكتبة دار السلام، الطبعة الأولى، 1432هـ.

Hadis ini di HadeethEnc.com

Kebohongan yang paling bohong adalah jika seseorang mengaku melihat apa yang tidak dilihat kedua matanya.

عن ابن عمر رضي الله عنهما قال: قال النبي صلى الله عليه وسلم : «أَفْرَى الفِرَى أن يُرِيَ الرجل عينيه ما لم تَرَيَا».
Dari Abdullah bin Umar -raḍiyallāhu 'anhumā-, ia berkata, "Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Kebohongan yang paling bohong adalah jika seseorang mengaku melihat apa yang tidak dilihat kedua matanya."
Diriwayatkan oleh BukhariDerajatHadis sahih
Penjelasan

Nabi -ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam- menjelaskan bahwa dusta yang paling dusta adalah jika seseorang mengaku bahwa dirinya telah melihat sesuatu dalam tidurnya atau saat terjaganya, padahal sebenarnya ia berdusta dalam pengakuannya tersebut karena ia tidak melihat apa pun. Dusta mengenai ru`yā (mimpi baik) dalam tidur adalah lebih besar daripada dusta mengaku melihat sesuatu di alam terjaga. Sebab, ru`yā (mimpi baik) yang dilihat manusia saat tidur adalah dari Allah melalui perantara malaikat. Dengan demikian, dusta dalam situasi tidur itu adalah dusta atas nama Allah -Ta'ālā-. Adapun aḥlām (mimpi buruk) maka itu dari setan, dan ada juga bisikan jiwa kepada jiwa. Jadi, yang dilihat oleh orang yang tidur adalah salah satu dari yang tiga ini.

Rujukan

- رياض الصالحين من كلام سيد المرسلين؛ للإمام أبي زكريا النووي، تحقيق د. ماهر الفحل، دار ابن كثير-دمشق، الطبعة الأولى، 1428ه . - بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين؛ تأليف سليم الهلالي، دار ابن الجوزي- الطبعة الأولى، 1418ه - نزهة المتقين شرح رياض الصالحين؛ تأليف د. مصطفى الخِن وغيره، مؤسسة الرسالة-بيروت، الطبعة الرابعة عشر، 1407هـ. - صحيح البخاري، للإمام محمد بن إسماعيل البخاري، دار طوق النجاة. - كنوز رياض الصالحين، لحمد بن ناصر العمار، دار كنوز إشبيليا- الطبعة الأولى1430ه - دليل الفالحين لطرق رياض الصالحين، لمحمد علي بن محمد بن علان بن إبراهيم البكري الصديقي الشافعي اعتنى بها: خليل مأمون شيحا، دار المعرفة - شرح رياض الصالحين؛ للشيخ محمد بن صالح العثيمين، مدار الوطن، الرياض، 1426هـ.

Hadis ini di HadeethEnc.com

Setiap hadis, derajat, penjelasan, dan faedah di sini ditampilkan persis sebagaimana diterbitkan HadeethEnc.com, menurut ketentuan penerbitan ulangnya. Derajat itu tidak menyebut siapa yang menilainya. Terjemahan dan penjelasan adalah karya para penyusunnya, dan sebagian menyebutkan hukum; para peninjau Sabīl belum memeriksanya. Hadis berbahasa Arablah teksnya. Sumber: HadeethEnc.com