Anas bin Mālik -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, "Rasulullah ﷺ pernah masuk toilet, lalu aku dan seorang anak sebayaku membawa wadah berisi air dan sebuah tongkat. Lantas beliau beristinja dengan air tersebut."
Muttafaq 'alaihDerajatSahih
Penjelasan
Anas bin Mālik -raḍiyallāhu ‘anhu- menceritakan bahwa ia dan seorang pelayan lain yang seusia dengannya biasa mengikuti Nabi ﷺ ketika beliau keluar untuk buang hajat. Mereka membawa sebuah tongkat yang ujungnya runcing seperti ujung tombak, yang digunakan sebagai penutup dengan menggantung sesuatu yang dapat menutup maupun sebagai pembatas saat beliau salat. Mereka juga membawa sebuah wadah kecil dari kulit yang penuh berisi air. Setelah Nabi ﷺ selesai buang hajat, salah satu dari mereka menyerahkan wadah air itu kepada beliau, lalu beliau bersuci dengannya.
Faedah
1- Seorang muslim hendaknya menyiapkan air untuk bersuci sebelum buang hajat, agar tidak perlu mencarinya setelah buang air yang bisa menyebabkan dirinya terkena najis.
2- Menjaga aurat saat buang hajat agar tidak terlihat oleh siapa pun, karena melihat aurat adalah hal yang diharamkan. Oleh karena itu, Nabi ﷺ biasa menancapkan tongkat ke tanah lalu memasang kain yang dapat menutup dirinya.
3- Mengajarkan dan mendidik anak dengan adab-adab Islam supaya dapat mereka wariskan secara turun-temurun.
Rujukan
صحيح البخاري (1/ 42) (152).
صحيح مسلم (1/ 227) (271).
تيسير العلام شرح عمدة الأحكام، لعبد الله البسام (ص40).
تنبيه الأفهام شرح عمدة الأحكام، لابن عثيمين (1/ 43).
الإفهام في شرح عمدة الأحكام، لابن باز (ص84).
عن أنس بن مالك رضي الله عنه قال: قَال أَبُو بَكر لِعُمَر رضي الله عنهما بَعْدَ وَفَاةِ رَسُول الله صلى الله عليه وسلم : انْطَلِق بِنَا إِلَى أُمِّ أَيمَنَ -رَضِي الله عنها- نَزُورُهَا كَمَا كَانَ رَسول الله صلى الله عليه وسلم يَزُورُها، فَلَمَّا انتَهَيَا إِلَيهَا، بَكَت، فَقَالاَ لَهَا: مَا يُبكِيك؟ أَمَا تَعْلَمِين أَنَّ ما عِنْد الله خَيرٌ لِرَسول الله صلى الله عليه وسلم ؟ فَقَالَت: مَا أَبْكِي أَنْ لاَ أَكُون أَعلَم أَنَّ مَا عِندَ الله تعالى خَيرٌ لِرَسُول الله صلى الله عليه وسلم ، وَلَكِن أَبكِي أَنَّ الوَحي قَدْ انْقَطَع مِنَ السَّمَاء؛ فَهَيَجَتْهُمَا عَلَى البُكَاء؛ فَجَعَلاَ يَبْكِيَان مَعَهَا.
Dari Anas bin Malik -raḍiyallāhu 'anhu- ia menuturkan, "Abu Bakar berkata kepada Umar -raḍiyallāhu 'anhumā- setelah Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- wafat, "Mari kita pergi ke rumah Ummu Aiman -raḍiyallāhu 'anhā- untuk mengunjunginya sebagaimana dulu Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- biasa mengunjunginya." Ketika keduanya telah sampai di rumahnya, ia (Ummu Aiman) menangis. Maka keduanya bertanya, "Apa yang membuatmu menangis? Tidak tahukah engkau bahwa apa yang ada di sisi Allah lebih baik bagi Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-? Ia menjawab, "Aku menangis bukan karena aku tidak tahu bahwa apa yang ada di sisi Allah -Ta'ālā- lebih baik bagi Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, tetapi aku menangis karena wahyu telah terputus dari langit." Maka ia membuat keduanya terharu untuk menangis, sehingga keduanya menangis bersamanya."
Diriwayatkan oleh MuslimDerajatHadis sahih
Penjelasan
Para sahabat -raḍiyallāhu 'anhum- adalah manusia yang paling antusias meneladani Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dalam segala hal yang kecil maupun besar, hingga mereka mencari-cari perjalanan beliau dalam kehidupan, majlis dan tempat berada beliau, serta segala perbuatan yang mereka ketahui beliau melakukannya. Dan hadis ini menegaskan semangat mereka tersebut, serta menuturkan kisah Abu Bakar dan Umar ketika keduanya mengunjungi seorang wanita yang dulu Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- biasa mengunjunginya. Keduanya mengunjungi wanita ini karena kunjungan Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- kepadanya. Manakala keduanya telah duduk di hadapannya, wanita tersebut menangis. Keduanya bertanya, "Apa yang membuatmu menangis? Tidak tahukan engkau bahwa apa yang ada di sisi Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- lebih baik bagi Rasulullah?" Yakni lebih baik bagi beliau dibanding dunia. Ia menjawab, "Aku menangis bukan lantaran itu, tapi karena terputusnya wahyu. Sebab ketika Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- meninggal dunia maka wahyu terputus, sehingga tidak ada wahyu lagi sepeninggal Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Oleh sebab itu, Allah menyempurnakan syariat-Nya sebelum beliau wafat. Allah -Ta'ālā- berfirman, "Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridai Islam itu jadi agamamu..." Maka Abu Bakar dan Umar menangis, karena wanita tersebut telah mengingatkan keduanya pada apa yang terlupakan oleh keduanya.
Rujukan
بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين، سليم بن عيد الهلالي، دار ابن الجوزي، الدمام، الطبعة: الأولى 1415هـ.
رياض الصالحين من كلام سيد المرسلين، أبو زكريا محيي الدين النووي، تحقيق ماهر الفحل، دار ابن كثير، دمشق، بيروت، الطبعة: الأولى 1428هـ.
شرح رياض الصالحين، محمد بن صالح العثيمين، دار الوطن، الرياض، الطبعة: 1426هـ.
نزهة المتقين شرح رياض الصالحين، مجموعة من الباحثين، مؤسسة الرسالة، بيروت، الطبعة: الرابعة عشر 1407هـ، 1987م.
صحيح مسلم، مسلم بن الحجاج القشيري النيسابوري، تحقيق محمد فؤاد عبد الباقي، دار إحياء التراث العربي، بيروت، الطبعة: 1423 هـ.
عن أنس بن سيرين قال: «اسْتَقبَلنَا أَنَسًا حِين قَدِم مِن الشَّام، فَلَقِينَاه بِعَينِ التَّمرِ، فَرَأَيتُهُ يُصَلِّي على حِمَار، وَوَجهُهُ مِن ذَا الجَانِب -يعني عن يَسَارِ القِبلَة- فقلت: رَأَيتُك تُصَلِّي لِغَيرِ القِبلَة؟ فقال: لَولاَ أنِّي رَأيتُ رسول الله صلى الله عليه وسلم يَفْعَلُه ما فَعَلتُه».
Dari Anas bin Sīrīn, ia berkata, "Kami menyambut Anas ketika dia datang dari Syam lalu kami menemukannya di 'Ain at-Tamr. Aku lihat dia salat di atas keledai dengan wajahnya dari sisi ini - maksudnya dari kiri kiblat- aku pun berkata, "Sesungguhnya aku melihatmu salat menghadap selain kiblat. Anas berkata, "Seandainya aku tidak melihat Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- melakukannya, tentu aku tidak akan mengerjakannya."
Muttafaq 'alaihDerajatHadis sahih
Penjelasan
Anas bin Malik datang ke Syam. Mengingat kemuliaan kedudukannya dan keluasan ilmunya, maka orang-orangpun menyambutnya. Demikian dalam riwayat Imam Muslim. "Datang ke Syam", tetapi maknanya adalah: kami menyambutnya ketika dia kembali dari Syam, namun lafal "kembali" dihilangkan karena sudah diketahui; karena mereka keluar dari Baṣrah untuk menyambutnya ketika dia datang dari Syam. Perawi menyebutkan -dan ia termasuk orang yang menyambut- bahwa dia melihat Anas salat di atas keledai dalam keadaan kiblat di arah kirinya. Lantas perawi bertanya kepadanya. Anas memberitahu mereka bahwa dia pernah melihat Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- melakukan itu. Seandainya dia tidak melihat beliau mengerjakan itu, tentu dia pun tidak akan melakukanya.
Rujukan
تيسير العلام شرح عمدة الأحكام للبسام، حققه وعلق عليه وخرج أحاديثه وصنع فهارسه: محمد صبحي بن حسن حلاق، ط10، مكتبة الصحابة، الإمارات - مكتبة التابعين، القاهرة، 1426هـ.
تنبيه الأفهام شرح عمدة لأحكام لابن عثيمين، ط1، مكتبة الصحابة، الإمارات، 1426هـ.
الإلمام بشرح عمدة الأحكام، لإسماعيل الأنصاري، ط1، دار الفكر، دمشق، 1381هـ.
عمدة الأحكام من كلام خير الأنام صلى الله عليه وسلم لعبد الغني المقدسي، دراسة وتحقيق: محمود الأرناؤوط، مراجعة وتقديم: عبد القادر الأرناؤوط، ط2، دار الثقافة العربية، دمشق ، بيروت، مؤسسة قرطبة، 1408 هـ.
صحيح البخاري، تحقيق: محمد زهير بن ناصر الناصر، ط1، دار طوق النجاة (مصورة عن السلطانية بإضافة ترقيم: محمد فؤاد عبد الباقي)، 1422هـ.
صحيح مسلم، تحقيق: محمد فؤاد عبد الباقي، دار إحياء التراث العربي، بيروت.
عن أنس بن مالك رضي الله عنه قال: خَرَجتُ معَ جَرِير بنِ عَبدِ الله البَجَلِي رضي الله عنه في سَفَرٍ، فَكَانَ يَخْدُمُنِي، فقُلتُ لَهُ: لا تفْعَل، فقَال: إِنِّي قَدْ رَأَيتُ الأَنْصَارَ تَصْنَعُ بِرَسُولِ الله صلى الله عليه وسلم شَيئًا آلَيتُ عَلَى نَفْسِي أَنْ لاَ أَصْحَبَ أَحدًا مِنْهُم إِلاَّ خَدَمْتُه.
Dari Anas bin Malik -raḍiyallāhu 'anhu- ia berkata, "Aku keluar bersama Jarir bin Abdillah Al-Bajaliy -raḍiyallāhu 'anhu- dalam suatu perjalanan. Ternyata ia melayaniku. Aku berkata padanya, "Jangan lakukan!" Ia menjawab, "Sungguh aku telah melihat orang-orang Ansar melakukan sesuatu (kebaikan) pada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, di mana aku bersumpah terhadap diriku bahwa aku tidak menyertai salah seorang dari mereka kecuali aku akan melayaninya."
Muttafaq 'alaihDerajatHadis sahih
Penjelasan
Hadis Jarir bin Abdillah Al-Bajaliy -raḍiyallāhu 'anhu- ini menceritakan bahwa ia dalam suatu perjalanan. Ia melayani kawan-kawannya yang termasuk orang-orang Ansar. Di antara mereka adalah Anas bin Malik -raḍiyallāhu 'anhu- yang notabenenya lebih muda dibanding Jarir. Maka ia ditanya tentang sikapnya ini, yakni mengapa engkau melayani mereka padahal engkau seorang sahabat Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-? Ia menjawab, "Aku telah melihat orang-orang Ansar melakukan sesuatu (kebaikan) pada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, di mana aku bersumpah terhadap diriku bahwa aku tidak menemani salah seorang dari mereka kecuali aku melayaninya. Ini termasuk memuliakan orang yang memuliakan Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Memuliakan sahabat-sahabat seseorang sama dengan memuliakan orang tersebut dan menghormati mereka sama dengan menghormatinya. Oleh sebab ini, Jarir -raḍiyallāhu 'anhu- memandang memuliakan mereka ini termasuk memuliakan Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-.
Rujukan
بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين، لسليم الهلالي، ط1، دار ابن الجوزي، الدمام، 1415هـ.
تطريز رياض الصالحين، للشيخ فيصل المبارك، ط1، تحقيق: عبد العزيز بن عبد الله آل حمد، دار العاصمة، الرياض، 1423هـ.
دليل الفالحين لطرق رياض الصالحين، لمحمد علي بن محمد بن علان، ط4، اعتنى بها: خليل مأمون شيحا، دار المعرفة، بيروت، 1425هـ.
رياض الصالحين، للنووي، ط1، تحقيق: ماهر ياسين الفحل، دار ابن كثير، دمشق، بيروت، 1428هـ.
رياض الصالحين، ط4، تحقيق: عصام هادي، وزارة الأوقاف والشؤون الإسلامية القطرية، دار الريان، بيروت، 1428هـ.
شرح رياض الصالحين، للشيخ ابن عثيمين، دار الوطن للنشر، الرياض، 1426هـ.
صحيح البخاري، ط1، تحقيق: محمد زهير بن ناصر الناصر، دار طوق النجاة، (مصورة عن السلطانية بإضافة ترقيم: محمد فؤاد عبد الباقي)، 1422هـ.
صحيح مسلم، تحقيق: محمد فؤاد عبد الباقي، دار إحياء التراث العربي، بيروت.
عن أبي موسى الأشعري رضي الله عنه أَنَّهُ تَوَضَّأ في بيتِهِ، ثُمَّ خَرَج، فقَال: لَأَلْزَمَنَّ رسُول الله صلى الله عليه وسلم ولَأَكُونَنَّ مَعَهُ يَومِي هَذَا، فَجَاءَ الْمَسْجِدَ، فَسَألَ عَنِ النبيِّ -صلَّى الله عليه وسلَّم- فَقَالُوا وَجَّهَ هَاهُنَا، قال: فَخَرَجْتُ عَلَى أَثَرِهِ أَسأَلُ عنْهُ، حتَّى دخَلَ بِئْرَ أَرِيسٍ، فَجَلَستُ عِندَ البَابِ حتَّى قَضَى رسُولُ الله -صلَّى الله عليه وسلَّم- حَاجَتَهُ وَتَوَضَّأ، فَقُمتُ إِلَيهِ، فَإِذَا هُوَ قَدْ جَلَسَ عَلَى بِئْرِ أَرِيسٍ وَتَوَسَّطَ قُفَّهَا، وكَشَفَ عَنْ سَاقَيهِ وَدلَّاهُمَا فِي البِئرِ، فَسَلَّمتُ علَيه ثُمَّ انْصَرَفْتُ، فَجَلَسْتُ عِند البَابِ، فقُلتُ: لأَكُونَنَّ بَوَّابَ رسُول الله -صلَّى الله عليه وسلَّم- اليَومَ، فجَاءَ أَبُو بَكر -رضِيَ الله عنْهُ- فَدَفَعَ البَابَ، فقُلتُ: مَنْ هَذَا؟ فَقَالَ: أَبُو بَكْرٍ، فقُلتُ: عَلَى رِسْلِكَ، ثُمَّ ذَهَبتُ، فَقُلْتُ: يَا رسُولَ الله، هَذَا أبُو بكرٍ يَسْتَأذِنُ، فقَالَ: «ائْذَنْ لَهُ وَبَشِّرْهُ بِالجَنَّةِ» فَأَقْبَلْتُ حتَّى قُلتُ لَأَبِي بَكْرٍ: ادْخُلْ وَرَسُولُ الله -صلَّى الله عليه وسلَّم- يُبَشِّرُكَ بِالْجَنَّةِ، فَدَخَلَ أَبُو بَكرٍ حَتَّى جَلَسَ عَن يَمِينِ النبيِّ -صلَّى الله عليه وسلَّم- مَعَهُ فِي القُفِّ، ودَلَّى رِجْلَيهِ فِي البِئْرِ كَمَا صَنَعَ رَسُولُ الله -صلَّى الله عليه وسلَّم- وَكَشَفَ عَنْ سَاقَيهِ، ثُمَّ رَجَعْتُ وَجَلَسْتُ، وَقَدْ تَرَكْتُ أَخِي يَتَوَضَّأ وَيَلْحَقُنِي، فَقُلْتُ: إِنْ يُرِدِ اللهُ بِفُلاَنٍ - يُريِدُ أَخَاهُ - خَيرًا يَأتِ بِهِ، فَإِذَا إِنسَانٌ يُحَرِّكُ البَّابَ، فقُلتُ: مَنْ هَذَا؟ فقَالَ: عُمَرُ بن الخَطَّابِ، فقُلتُ: عَلَى رِسْلِكَ، ثُمَّ جِئْتُ إِلَى رسُول الله -صلَّى الله عليه وسلَّم- فَسَلَّمْتُ عَلَيهِ وقُلْتُ: هَذَا عُمَرُ يَسْتَأْذِنُ؟ فَقَال: «ائْذَنْ لَهُ وَبَشِّرْهُ بِالجَنَّةِ» فَجِئْتُ عُمَرَ، فَقُلتُ: أَذِنَ وَيُبَشِّرُكَ رَسُولُ الله -صلَّى الله عليه وسلَّم- بِالجَنَّةِ، فَدَخَلَ فَجَلَسَ مَعَ رسُولِ الله -صلَّى الله عليه وسلَّم- فِي القُفِّ عَنْ يَسَارِهِ وَدَلَّى رِجْلَيهِ فِي البِئْرِ، ثُمَّ رَجَعْتُ فَجَلَسْتُ، فَقُلتُ: إِن يُرِدِ اللهُ بِفُلاَنٍ خَيرًا -يعنِي أَخَاهُ- يَأتِ بِهِ، فَجَاءَ إِنسَانٌ فَحَرَّكَ البَابَ، فقُلتُ: مَنْ هَذَا؟ فقَالَ: عُثمَانُ بنُ عَفَّان، فقُلتُ: عَلَى رِسْلِكَ، وَجِئتُ النبِيَّ -صلَّى الله عليه وسلَّم- فَأَخبَرتُهُ، فقَالَ: «ائْذَنْ لَهُ وَبَشِّرهُ بِالجَنَّةِ مَعَ بَلوَى تُصِيبُهُ» فَجِئتُ، فقُلتُ: ادْخُل وَيُبَشِّرُكَ رسُول الله -صلَّى الله عليه وسلَّم- بِالجَنَّةِ مَعَ بَلوَى تُصِيبُكَ، فَدَخَلَ فَوَجَدَ القُفَّ قَدْ مُلِئَ، فَجَلَسَ وِجَاهَهُم مِنَ الشِقِّ الآخَرِ.
قال سعيد بنُ الْمُسَيِّبِ: فَأَوَّلْتُهَا قُبُورَهُم.
وزاد في رواية: وَأَمَرَنِي رسُول الله -صلَّى الله عليه وسلَّم- بِحفظِ البابِ، وفيها: أنَّ عُثمَانَ حِينَ بَشَّرَهُ حَمِدَ الله -تَعَالَى-، ثُمَّ قَالَ: اللهُ الْمُسْتَعَانُ.
Dari Abu Musa Al-Asy'ari -raḍiyallāhu 'anhu- bahwa ia berwudu di rumahnya kemudian keluar. Lalu ia berkata, "Aku akan menemani Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dan aku akan bersamanya di hariku ini." Lantas ia mendatangi masjid lalu menanyakan Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Orang-orang menjawab, "Beliau keluar ke arah sana." Ia berkata, "Aku pun keluar mengejarnya, aku menanyakannya sampai beliau masuk ke sumur Arīs. Aku duduk di dekat pintu hingga Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menyelesaikan keperluannya dan berwudu. Aku pun berdiri menghampiri beliau. Ternyata beliau sedang duduk di atas sumur Arīs, di tengah-tengah tepinya. Beliau menyingkapkan kedua betisnya dan menjulurkan keduanya ke dalam sumur. Aku mengucapkan salam kepada beliau lalu kembali lagi duduk di dekat pintu. Aku berkata, "Aku akan menjadi penjaga pintu Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- hari ini. Lantas datang Abu Bakar -raḍiyallāhu 'anhu- lalu ia mendorong pintu. Aku bertanya, "Siapa ini?" Ia menjawab, "Abu Bakar." Aku katakan, "Sebentar." Selanjutnya aku pergi (menemui Nabi) lalu aku katakan, "Wahai Rasulullah, ini Abu Bakar datang meminta izin (masuk)." Beliau bersabda, "Izinkan dia dan berilah kabar gembira berupa Surga untuknya." Lalu aku datang menghampirinya hingga aku berkata kepada Abu Bakar, "Masuklah, dan Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memberimu kabar gembira berupa Surga." Abu Bakar masuk lalu duduk di samping kanan Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- di tepi sumur dan menjulurkan kedua kakinya ke dalam sumur seperti yang dilakukan oleh Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- serta menyingkapkan kedua betisnya. Kemudian aku kembali ke tempat dan duduk, dan aku membiarkan saudaraku berwudu serta menyusulku. Aku berkata, "Jika Allah menghendaki kebaikan untuk seseorang -yaitu saudaranya- Dia pasti mendatangkannya. Tiba-tiba ada seseorang menggerak-gerakkan pintu. Aku pun bertanya, "Siapa ini?" Ia menjawab, "Umar bin Al-Khaṭṭāb." Aku berkata, "Sebentar." Kemudian aku mendatangi Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- lalu mengucapkan salam kepadanya dan berkata, "Ini Umar meminta izin." Beliau bersabda, "Berilah ia izin dan berilah ia kabar gembira berupa Surga." Aku pun mendatangi Umar lalu berkata, "Beliau telah memberi izin dan memberimu kabar gembira berupa Surga." Lantas Umar masuk lalu duduk bersama Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- di tepi sumur, di sebelah kiri beliau, dan menjulurkan kedua kakinya ke dalam sumur. Selanjutnya aku kembali dan duduk. Aku berkata, "Jika Allah menghendaki kebaikan untuk seseorang -maksudnya saudaranya- pasti Dia mendatangkannya. Tiba-tiba datang seseorang lalu menggerak-gerakkan pintu. Aku pun bertanya, "Siapa ini?" Ia menjawab, "Uṡmān bin 'Affān." Aku berkata, "Sebentar." Aku mendatangi Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- lalu mengabarkan kedatangannya kepada beliau. Beliau bersabda, "Berilah ia izin dan berilah ia kabar gembira berupa Surga beserta bencana yang menimpanya." Aku pun mendatangi Uṡmān lalu berkata, "Masuklah dan beliau memberimu kabar gembira berupa Surga beserta bencana yang akan menimpamu." Uṡmān masuk dan mendapati tepi sumur sudah penuh, maka dia pun duduk di hadapan mereka di sisi lainnya." Sa'īd bin Al-Musayyab berkata, "Aku menakwilkannya sebagai posisi kubur mereka." Dalam sebuah riwayat, Abu Musa menambahkan, "Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memerintahkanku untuk menjaga pintu." Dalam riwayat itu disebutkan bahwa ketika Uṡmān diberi kabar gembira tersebut, dia memuji Allah -Ta'ālā- lalu berkata, "Allah tempat meminta pertolongan."
Diriwayatkan oleh Bukhari - Muttafaq 'alaihDerajatHadis sahih
Penjelasan
Dalam hadis Abu Musa Al-Asy'ari -raḍiyallāhu 'anhu- dikemukakan bahwa pada suatu hari dia berwudu di rumahnya dan keluar mencari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- seraya berkata, "Aku akan menemani Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pada hariku ini." Yakni, aku akan bersamanya pergi dan pulang. Abu Musa Al-Asy'ari -raḍiyallāhu 'anhu-keluar mencari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- lalu mendatangi masjid, karena Rasulullah -'alaihi aṣṣalātu wa as-salām- bisa berada di masjid, bisa juga di rumahnya sedang melakukan pekerjaan keluarganya, dan bisa juga sedang mengurus keperluan-keperluan para sahabatnya -'alaihi aṣṣalātu wa as-salām-. Ternyata dia tidak menemukan beliau di masjid. Lantas ia bertanya tentang beliau. Orang-orang menjawab, "Beliau pergi ke arah sana." Mereka memberi isyarat ke arah Arīs, yaitu sumur di sekitar Quba. Abu Musa pergi menyusul beliau hingga tiba di sumur lalu menemukan Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- di sana, ia pun diam di pintu kebun yang ada sumurnya itu. Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menunaikan keperluannya dan berwudu, lalu Nabi -'alaihi aṣṣalātu wa as-salām- duduk di tengah-tengah tepi sumur, yaitu sisi sumur, dan menjulurkan kedua kakinya sambil menyingkapkan kedua betisnya. Sedangkan Abu Musa berada di dekat pintu untuk menjaga pintu sumur itu laksana penjaga Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Tiba-tiba Abu Bakar -raḍiyallāhu 'anhu- meminta izin (masuk). Abu Musa tidak memberinya izin sampai memberitahukan terlebih dahulu kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Dia berkata kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, "Ini Abu Bakar meminta izin." Beliau bersabda, "Berilah ia izin dan sampaikan kabar gembira kepadanya berupa Surga." Ia pun memberinya izin sambil berkata kepadanya, "Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memberimu kabar gembira berupa Surga." Ini merupakan kabar gembira yang agung. Ia memberinya kabar gembira berupa Surga lalu memberinya izin untuk masuk agar bisa bersama Rasul -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Abu Bakar masuk dan menemukan Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- sedang berada di tengah-tengah tepi sumur. Ia pun duduk di sebelah kanannya karena Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- suka (mendahulukan) kanan dalam segala sesuatu. Abu Bakar duduk di sebelah kanan beliau dan melakukan seperti yang Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- lakukan; dia menjulurkan kedua kakinya di dalam sumur, serta menyingkap kedua betisnya karena tidak suka menyelisihi Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dalam duduk tersebut. Abu Musa -yang meninggalkan saudaranya berwudu dan hendak menyusulnya- berkata, "Jika Allah menghendaki kebaikan untuk (saudaranya), niscaya Dia mendatangkannya." Jika dia datang dan meminta izin maka dia memperoleh kabar gembira berupa Surga. Akan tetapi datang lelaki kedua yang meminta izin. Abu Musa pun datang kepada Rasul -'alaihi aṣṣalātu wa as-salām- sambil berkata, "Ini Umar." Beliau bersabda, "Berilah ia izin dan berilah ia kabar gembira berupa Surga." Dia pun memberinya izin dan berkata kepadanya, "Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memberimu kabar gembira berupa Surga." Umar masuk dan mendapati Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dan Abu Bakar di tepi sumur. Ia pun duduk di sisi kiri Rasul -`alaihi aṣsalatu wa as-salam- sedangkan sumur itu sempit, tidak luas. Ketiga orang itu berada di satu sisi. Selanjutnya Uṡmān meminta izin. Abu Musa pun meminta izin (kepada Nabi) sebagaimana yang dilakukannya. Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Berilah ia izin dan berilah ia kabar gembira berupa Surga beserta musibah yang akan menimpanya." Ia pun memberinya izin sambil berkata, "Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memberimu kabar gembira berupa Surga beserta musibah yang akan menimpamu." Dengan demikian, dia akan mendapatkan Surga dan musibah. Uṡmān -raḍiyallāhu 'anhu- berujar, "Segala puji hanya milik Allah. Allah tempat meminta pertolongan atas musibah ini, dan segala puji hanya milik Allah atas kabar gembira ini." Dia pun masuk lalu mendapati sisi sumur sudah penuh karena sisi tersebut tidak terlalu luas. Ia pun menuju ke arah lain di hadapan mereka dan duduk di sana, menjulurkan kedua kakinya, dan menyingkap kedua betisnya. Sa'īd bin Al-Musayyab -seorang pembesar tabiin- menakwilkannya bahwa itu adalah posisi kuburan mereka. Sebab, kuburan ketiga orang itu berada di satu tempat; Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, Abu Bakar dan Umar. Semuanya dalam satu ruangan. Mereka semua dikuburkan dalam satu tempat. Dulu mereka di dunia pergi bersama dan pulang bersama. Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- senantiasa bersabda, "Aku pergi bersama Abu Bakar dan Umar, dan aku datang bersama Abu Bakar dan Umar." Keduanya adalah dua sahabat dan penolong beliau. Pada hari kiamat kelak, mereka akan bangkit dari kuburnya bersama-sama. Dengan demikian, mereka itu bersama-sama di dunia dan akhirat. Lantas Uṡmān -raḍiyallāhu 'anhu- duduk di hadapan mereka. Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memberinya kabar gembira berupa Surga beserta musibah yang akan menimpanya. Musibah ini adalah tindakan orang-orang yang berselisih dengannya dan memberontak kepadanya, serta tindakan mereka membunuhnya di rumahnya -raḍiyallāhu 'anhu-. Para pemberontak tersebut masuk ke rumahnya di Madinah dan membunuhnya pada saat dirinya sedang membaca Alquran dan Kitabullah berada di hadapannya.
Rujukan
بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين لسليم الهلالي، ط1، دار ابن الجوزي، الدمام، 1415ه.
تطريز رياض الصالحين للشيخ فيصل المبارك، ط1، تحقيق: عبد العزيز بن عبد الله آل حمد، دار العاصمة، الرياض، 1423هـ.
رياض الصالحين للنووي، ط1، تحقيق: ماهر ياسين الفحل، دار ابن كثير، دمشق، بيروت، 1428هـ.
شرح رياض الصالحين للشيخ ابن عثيمين، دار الوطن للنشر، الرياض، 1426هـ.
صحيح البخاري، تحقيق: محمد زهير بن ناصر الناصر، ط1، دار طوق النجاة (مصورة عن السلطانية بإضافة ترقيم: محمد فؤاد عبد الباقي)، 1422ه.
صحيح مسلم، تحقيق: محمد فؤاد عبد الباقي، دار إحياء التراث العربي، بيروت.
كنوز رياض الصالحين، مجموعة من الباحثين برئاسة حمد بن ناصر العمار، ط1، كنوز إشبيليا، الرياض، 1430هـ.
نزهة المتقين شرح رياض الصالحين لمجموعة من الباحثين، ط14، مؤسسة الرسالة، 1407هـ.
عن أنس رضي الله عنه أنه قال: «إني لا آلُو أن أُصَلِّيَ بكم كما كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يُصَلِّي بنا، قال ثابت فكان أَنَس يصنع شيئا لا أراكم تصنعونه: كان إذا رفع رأسه من الركوع انْتَصَبَ قائما، حتى يقول القائل: قد نَسِيَ، وإذا رفع رأسه من السَّجْدَةِ مكث، حتى يقول القائل: قد نَسِيَ».
Dari Anas -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, "Aku berjanji akan salat bersama kalian sebagaimana aku lihat Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- salat bersama kami." Ṡābit berkata, "Anas melakukan suatu amalan (salat) yang tidak pernah aku lihat kalian melakukannya yaitu apabila mengangkat kepalanya dari rukuk beliau berdiri lama, hingga ada orang berkata, 'Beliau lupa.' Dan apabila mengangkat kepalanya dari sujud beliau berdiam lama hingga ada orang berkata, 'Beliau lupa'.”
Muttafaq 'alaihDerajatHadis sahih
Penjelasan
Anas -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, "Sungguh aku akan berusaha salat bersama kalian sebagaimana Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- salat bersama kami, agar kalian mengikutinya sehingga kalian bisa salat sama seperti salat beliau." Ṡābit Al-Bunānī berkata, "Anas melakukan suatu amalan (salat) yang termasuk kesempurnaan dan baiknya salat, di mana aku tidak pernah melihat kalian melakukan sepertinya. Beliau berdiri lama setelah bangkit dari rukuk dan duduk lama setelah bangkit dari sujud. Bila beliau mengangkat kepalanya (bangkit) dari rukuk, ia berdiri lama hingga ada orang berkata -karena lamanya beliau berdiri-, 'Dia lupa bahwa dia sedang berdiri antara rukuk dan sujud.' Dan apabila beliau mengangkat kepalanya dari sujud, beliau berdiam duduk hingga ada orang yang berkata -karena lamanya beliau duduk-, 'Dia juga lupa'.”
Rujukan
تيسير العلام، للبسام، الناشر: مكتبة الصحابة، الإمارات، مكتبة التابعين، القاهرة، الطبعة العاشرة، 1426هـ - 2006م.
تنبيه الأفهام، للعثيمين، طبعة مكتبة الصحابة، الإمارات، مكتبة التابعين، القاهرة، الطبعة الأولى، 1426ه.
الإلمام بشرح عمدة الأحكام، لإسماعيل الأنصاري، طبعة دار الفكر، دمشق، الأولى، 1381ه.
صحيح البخاري، لأبو عبد الله محمد بن إسماعيل البخاري، تحقيق محمد زهير بن ناصر الناصر، الناشر: دار طوق النجاة، الطبعة: الأولى، 1422هـ.
صحيح مسلم، المحقق: محمد فؤاد عبد الباقي - الناشر: دار إحياء التراث العربي – بيروت.
تأسيس الأحكام، أحمد بن يحيى النجمي، دار المنهاج، القاهرة، مصر، الطبعة الأولى.
عن أنس بن مالك رضي الله عنه قال: «إنكم لتعملون أعمالا هي أَدَقُّ في أعينكم من الشَّعْرِ، كنا نَعُدُّهَا على عهد رسول الله - صلى الله عليه وسلم - من المُوبِقَاتِ».
Dari Anas bin Malik -raḍiyallāhu 'anhu- ia berkata, "Sesungguhnya kalian benar-benar mengerjakan perbuatan-perbuatan yang lebih lembut dari rambut dalam pandangan kalian, sedangkan kami menganggap itu bagian dari dosa-dosa besar pada masa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-."
Diriwayatkan oleh BukhariDerajatHadis sahih
Penjelasan
Sahabat yang mulia, Anas bin Malik -raḍiyallāhu 'anhu- berbicara kepada sekelompok orang-orang yang meremehkan amalan. Ia berkata, "Sesungguhnya kalian meremehkan sebagian kemaksiatan karena tidak adanya pandangan kalian terhadap Zat yang didurhakai, sehingga kemaksiatan itu kecil sekali menurut kalian. Sedangkan menurut para sahabat, mereka menganggapnya termasuk dosa-dosa besar yang membinasakan karena agungnya Zat yang didurhakai, dan karena hebatnya ketakutan, sikap diawasi dan evaluasi terhadap diri mereka sendiri.
Rujukan
بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين لسليم الهلالي، ط1، دار ابن الجوزي، الدمام، 1415ه.
تطريز رياض الصالحين للشيخ فيصل المبارك، ط1، تحقيق: عبد العزيز بن عبد الله آل حمد، دار العاصمة، الرياض، 1423 هـ.
دليل الفالحين لطرق رياض الصالحين لمحمد علي بن محمد بن علان، ط4، اعتنى بها: خليل مأمون شيحا، دار المعرفة،بيروت، 1425 ه.
رياض الصالحين للنووي، ط1، تحقيق: ماهر ياسين الفحل، دار ابن كثير، دمشق، بيروت، 1428 هـ.
كنوز رياض الصالحين، مجموعة من الباحثين برئاسة حمد بن ناصر العمار، ط1، كنوز إشبيليا، الرياض، 1430هـ.
صحيح البخاري، تحقيق: محمد زهير بن ناصر الناصر، ط1، دار طوق النجاة (مصورة عن السلطانية بإضافة ترقيم: محمد فؤاد عبد الباقي)، 1422ه.
نزهة المتقين شرح رياض الصالحين لمجموعة من الباحثين، ط14، مؤسسة الرسالة، 1407هـ.
عن أسيد بن حضير وأنس بن مالك رضي الله عنهما أنَّ رجُلاً من الأنصار، قال: يا رسول الله، ألاَ تَستَعمِلُنِي كما استَعمَلت فُلانًا، فقال: «إِنَّكُم سَتَلقَون بَعدِي أَثَرَة فَاصبِرُوا حَتَّى تَلقَونِي على الحَوض».
Dari Usaid bin Ḥuḍair dan Anas bin Malik -raḍiyallāhu 'anhumā- bahwa seorang lelaki Ansar berkata, "Wahai Rasulullah, tidakkah engkau menjadikanku sebagai pegawai sebagaimana engkau mengangkat si fulan sebagai pegawai." Beliau bersabda, "Sesungguhnya kalian akan menghadapi (penguasa) yang egois setelahku. Karena itu bersabarlah sampai kalian menjumpaiku di telaga."
Muttafaq 'alaihDerajatHadis sahih
Penjelasan
Seorang lelaki datang kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dan meminta beliau untuk menjadikannya pegawai di salah satu jabatan sebagaimana orang lain yang telah beliau angkat. Lantas Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memberitahunya suatu hal, yaitu bahwa hendaklah ia dan para sahabatnya bersabar terhadap suatu kezaliman dan aniaya yang akan mereka dapati dari para penguasa di masa datang. Para penguasa itu memonopoli harta benda dan kekayaan tanpa (memberikan hak) rakyatnya. Beliau memerintahkan mereka bersabar sampai mereka mendatangi telaga Nabi -'alaihissalām-.
Rujukan
بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين، لسليم الهلالي، ط1، دار ابن الجوزي، الدمام، 1415هـ.
رياض الصالحين للنووي، ط1، تحقيق: ماهر ياسين الفحل، دار ابن كثير، دمشق، بيروت، 1428هـ.
رياض الصالحين، ط4، تحقيق: عصام هادي، وزارة الأوقاف والشؤون الإسلامية القطرية، دار الريان، بيروت، 1428هـ.
الشرح الممتع على زاد المستقنع، لمحمد بن صالح بن محمد العثيمين، ط1، دار ابن الجوزي، 1422 - 1428هـ.
شرح رياض الصالحين، للشيخ ابن عثيمين، دار الوطن للنشر، الرياض، 1426هـ.
صحيح البخاري، ط1، تحقيق: محمد زهير بن ناصر الناصر، دار طوق النجاة، (مصورة عن السلطانية بإضافة ترقيم: محمد فؤاد عبد الباقي)، 1422هـ.
صحيح مسلم، تحقيق: محمد فؤاد عبد الباقي، دار إحياء التراث العربي، بيروت.
كنوز رياض الصالحين، مجموعة من الباحثين، برئاسة حمد بن ناصر العمار، ط1، كنوز إشبيليا، الرياض، 1430هـ.
نزهة المتقين شرح رياض الصالحين، لمجموعة من الباحثين، ط14، مؤسسة الرسالة، 1407ه.
Setiap hadis, derajat, penjelasan, dan faedah di sini ditampilkan persis sebagaimana diterbitkan HadeethEnc.com, menurut ketentuan penerbitan ulangnya. Derajat itu tidak menyebut siapa yang menilainya. Terjemahan dan penjelasan adalah karya para penyusunnya, dan sebagian menyebutkan hukum; para peninjau Sabīl belum memeriksanya. Hadis berbahasa Arablah teksnya. Sumber: HadeethEnc.com