Langsung ke konten
Hadis dengan penjelasan

Ruqyah Syar'iyyah

9 hadis

Aku berada bersama Sa'īd bin Jubair lalu ia bertanya, "Siapakah di antara kalian yang melihat planet jatuh tadi malam?" Aku jawab, "Aku." Lalu aku katakan, "Adapun aku sedang tidak melaksanakan salat karena aku disengat."

عن حُصين بن عبد الرحمن قال: كنتُ عند سعيد بن جُبير فقال: أيكم رأى الكوكب الذي انقَضَّ البارحة؟ فقلتُ: أنا، ثم قلتُ: أما إني لم أكن في صلاة، ولكني لُدغْتُ، قال: فما صنعتَ؟ قلت: ارتقيتُ، قال: فما حَمَلك على ذلك؟ قلت: حديث حدَّثَناه الشعبي، قال: وما حدَّثَكم؟ قلتُ حدثنا عن بريدة بن الحُصيب أنه قال: "لا رُقْية إلا مِن عَيْن أو حُمَة"، قال: قد أحسَن مَن انتهى إلى ما سمع، ولكن حدثنا ابن عباس عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال: "عُرضت عليّ الأُمم، فرأيتُ النبي ومعه الرَّهط والنبي ومعه الرجل والرجلان، والنبي وليس معه أحد، إذ رُفع لي سواد عظيم فظننتُ أنهم أمَّتي، فقيل لي: هذا موسى وقومه، فنظرتُ فإذا سواد عظيم، فقيل لي: هذه أمَّتك، ومعهم سبعون ألفا يدخلون الجنة بغير حساب ولا عذاب، ثم نهض فدخل منْزله، فخاض الناس في أولئك؛ فقال بعضهم: فلعلهم الذين صحِبوا رسول الله صلى الله عليه وسلم وقال بعضهم: فلعلهم الذين وُلِدُوا في الإسلام فلم يشركوا بالله شيئا، وذكروا أشياء، فخرج عليهم رسول الله صلى الله عليه وسلم فأخبروه، فقال: هم الذين لا يَسْتَرقون، ولا يَكْتَوُون، ولا يَتَطَيَّرون، وعلى ربهم يتوكلون، فقام عُكاشة بن مِحصَن فقال: ادع الله أن يجعلني منهم، قال: أنت منهم، ثم قام جل آخر فقال: ادع الله أن يجعلني منهم، فقال: سَبَقَك بها عكاشة".
Dari Ḥuṣain bin Abdirrahman, ia berkata, "Aku berada bersama Sa'īd bin Jubair lalu ia bertanya, 'Siapakah di antara kalian yang melihat planet jatuh tadi malam?' Aku jawab, 'Aku.' Lalu aku katakan, 'Adapun aku sedang tidak melaksanakan salat karena aku disengat.' Ia bertanya, 'Lantas apa yang kau lakukan?' Aku Jawab, 'Aku meruqyahnya.' Ia bertanya lagi, 'Apa yang mendorongmu melakukan itu?' Aku Jawab, 'Hadis yang diceritakan asy-Sya'bi kepada kami.' Ia bertanya, 'Apa yang dia ceritakan kepada kalian?' Aku jawab, 'Kami mendapatkan kabar dari Buraidah bin Al-Ḥuṣaib bahwasannya dia berkata, 'Tidak ada ruqyah kecuali dari penyakit 'Ain (karena pandangan mata hasad) atau demam.' Ia berkata, 'Sungguh telah berbuat baik orang yang berhenti sampai di dalil yang ia dengarkan. Akan tetapi Ibnu 'Abbās bercerita kepada kami dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bahwa beliau bersabda, 'Telah diperlihatkan kepadaku umat-umat. Aku melihat seorang Nabi yang memiliki beberapa orang pengikut. Ada juga seorang Nabi yang memiliki satu dan dua orang pengikut saja. Bahkan ada seorang Nabi yang tidak memiliki pengikut sama sekali. Tiba-tiba satu kelompok besar orang diperlihatkan kepadaku hingga aku menduga bahwa mereka itu umatku. Lantas dikatakan kepadaku, 'Ini Mūsa bersama kaumnya.' Aku memandang, ternyata ada sekelompok besar manusia. Lantas dikatakan kepadaku, 'Ini umatmu dan bersama mereka ada tujuh puluh ribu orang masuk Surga tanpa hisab dan azab.' Selanjutnya beliau bangkit dan masuk ke rumahnya sehingga orang-orang pun berbicara panjang lebar mengenainya. Sebagian mereka berkata, 'Mungkin saja mereka itu orang-orang yang selalu menyertai Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-.' Sebagian lagi berkata, 'Barangkali mereka itu orang-orang yang dilahirkan dalam Islam lalu mereka tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu pun.' Mereka menyebutkan berbagai hal. Tiba-tiba Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menemui mereka lalu mengabarkannya. Beliau bersabda, "Mereka adalah orang-orang yang tidak meminta diruqyah, tidak berobat dengan cara kay (sundutan besi panas), tidak pesimis dan mereka bertawakal kepada Allah.' Tiba-tiba 'Ukāsyah bin Miḥṣan berkata, 'Mohonlah kepada Allah agar menjadikanku bagian dari mereka.' Beliau bersabda, Engkau termasuk dari golongan mereka.' Lantas seorang lelaki lain berkata, 'Mohonlah kepada Allah agar menjadikanku bagian dari mereka.' Beliau bersabda, 'Ukāsyah telah mendahuluimu'."
Muttafaq 'alaihDerajatHadis sahih
Penjelasan

Ḥuṣain bin Abdirrahman -raḥimahullāh- mengabarkan kepada kami tentang dialog yang berlangsung antara dirinya dengan Sa'īd bin Jubair -raḥimahullāh- mengenai ruqyah. Hal ini terjadi karena Ḥuṣain disengat kalajengking dan meruqyahnya dengan ruqyah syar'iyyah. Saat Sa'īd bertanya kepadanya mengenai dalilnya, ia memberitahunya dengan hadis asy-Sya'bi yang membolehkan ruqyah dari penyakit 'Ain (karena pandangan mata hasad) dan racun. Sa'īd pun memujinya mengenai hal itu. Akan tetapi dia meriwayatkan hadis lain untuknya yang menganggap bagus meninggalkan ruqyah. Yaitu hadis Ibnu 'Abbās yang mengandung empat sifat. Siapa yang memiliki sifat itu maka dia berhak masuk Surga tanpa hisab dan azab. Sifat itu adalah tidak meminta ruqyah, tidak berobat dengan cara kay (sundutan besi panas), tidak pesimis, dan benar dalam bersandar kepada Allah -Ta'ālā-. Saat 'Ukāsyah meminta kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- agar mendoakan dirinya menjadi bagian dari mereka, beliau pun memberitahunya bahwa ia bersama mereka. Ketika seorang lelaki lain berdiri untuk tujuan yang sama, Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pun bersikap ramah kepadanya dalam melarang demi menutup bab ini dan memutuskan kelanjutan permintaan.

Rujukan

-صحيح البخاري، المحقق: محمد زهير بن ناصر الناصر، الناشر: دار طوق النجاة (مصورة عن السلطانية بإضافة ترقيم محمد فؤاد عبد الباقي)، الطبعة: الأولى، 1422ه. -صحيح مسلم، المحقق: محمد فؤاد عبد الباقي - الناشر: دار إحياء التراث العربي - بيروت. -الملخص في شرح كتاب التوحيد، دار العاصمة، الرياض، الطبعة: الأولى، 1422ه - 2001م. -الجديد في شرح كتاب التوحيد، مكتبة السوادي، جدة، المملكة العربية السعودية، الطبعة: الخامسة، 1424هـ - 2003م.

Hadis ini di HadeethEnc.com

Sesungguhnya jampi-jampi, jimat, dan pelet (pengasih) adalah syirik

عن عبد الله بن مسعود رضي الله عنه قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: «إنَّ الرُّقَى والتَمائِمَ والتِّوَلَةَ شِرْكٌ».
Abdullah bin Mas'ūd -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, "Sesungguhnya jampi-jampi, jimat, dan pelet (pengasih) adalah syirik."
HR. Abu Daud, Ibnu Majah, dan AhmadDerajatSahih
Penjelasan

Nabi ﷺ menjelaskan beberapa perkara yang masuk kategori syirik bila dikerjakan, di antaranya: Pertama: Jampi. Jampi adalah bacaan yang mengandung kesyirikan yang digunakan oleh masyarakat jahiliah untuk meminta kesembuhan. Kedua: Jimat berupa kulit kerang dan semisalnya yang digantungkan di leher anak kecil, binatang, dan lain sebagainya untuk menangkal penyakit 'ain. - Ketiga: Pelet yang digunakan untuk membuat seseorang mencintai pasangannya. Perkara-perkara ini termasuk kesyirikan karena ia dijadikan sebagai sebab, padahal bukan sebab yang disyariatkan yang dibuktikan dengan dalil dan bukan juga sebab indrawi yang dibuktikan dengan uji coba. Adapun sebab-sebab yang disyariatkan seperti membaca Al-Qur`an dan sebab-sebab indrawi seperti obat-obatan yang terbukti mujarab melalui uji coba, maka hukumnya boleh dengan tetap meyakininya sebagai sebab, sementara manfaat dan mudarat hanya ada di tangan Allah.

Faedah
  1. 1- Menjaga tauhid dan akidah dari semua hal yang dapat merusaknya.
  2. 2- Keharaman memakai jampi-jampi yang mengandung kesyirikan, jimat, dan pelet.
  3. 3- Meyakini ketiga perkara ini sebagai sebab adalah syirik kecil karena menjadikan sesuatu yang bukan sebab sebagai sebab. Adapun kalau dia meyakininya dapat mendatangkan manfaat dan mudarat dengan sendirinya, maka hukumnya syirik besar.
  4. 4- Peringatan dari sebab-sebab yang mengandung kesyirikan dan keharaman.
  5. 5- Pengharaman jampi, dan ia termasuk kesyirikan, kecuali jampi yang disyariatkan.
  6. 6- Sepantasnya hati hanya bergantung kepada Allah saja; karena keburukan dan kebaikan hanya berasal dari Allah, tidak ada sekutu bagi-Nya, tidak ada yang mampu memberikan kebaikan kecuali Allah, serta tidak dapat mengangkat keburukan kecuali Allah.
  7. 7- Jampi yang dibolehkan ialah yang memenuhi tiga syarat: 1) Ia diyakini sebagai sebab dan tidak dapat mendatangkan manfaat kecuali dengan izin Allah; 2) Menggunakan Al-Qur`an, nama-nama dan sifat-sifat Allah, doa yang datang dari nabi, dan doa-doa yang disyariatkan; 3) Menggunakan bahasa yang dapat dipahami dan tidak mengandung azimat dan sihir.
Rujukan

سنن أبي داود (6/ 31) (3883). سنن ابن ماجه (4/ 554) (3530). مسند أحمد (6/ 110) (3615). الجديد في شرح كتاب التوحيد، لمحمد القرعاوي (ص91). الملخص في شرح كتاب التوحيد، لصالح الفوزان (ص79). القول المفيد على كتاب التوحيد، لابن عثيمين (1/ 180).

Hadis ini di HadeethEnc.com

Ażhibil-ba`sa, rabban-nās, wa-syfi antasy-syāfī, lā syifā`a illā syifā`uka, syifā`an lā yugādiru saqaman (Hilangkanlah penyakit ini, wahai Tuhan manusia! Sembuhkanlah ia, karena Engkaulah Yang Maha Menyembuhkan, tiada kesembuhan selain kesembuhan-Mu, dengan kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit)

عَنْ عَائِشَةَ أُمِّ المؤْمنينَ رَضيَ اللهُ عنها قَالَت: كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَتَى الْمَرِيضَ يَدْعُو لَهُ قَالَ: «أَذْهِبِ الْبَاسَ، رَبَّ النَّاسِ، وَاشْفِ أَنْتَ الشَّافِي، لَا شِفَاءَ إِلَّا شِفَاؤُكَ، شِفَاءً لَا يُغَادِرُ سَقَمًا».
Ummul Mukminin Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- meriwayatkan, Apabila Rasulullah ﷺ menjenguk orang sakit, beliau biasa mendoakannya dengan membaca, "Ażhibil-ba`sa, rabban-nās, wa-syfi antasy-syāfī, lā syifā`a illā syifā`uka, syifā`an lā yugādiru saqaman (Hilangkanlah penyakit ini, wahai Tuhan manusia! Sembuhkanlah ia, karena Engkaulah Yang Maha Menyembuhkan, tiada kesembuhan selain kesembuhan-Mu, dengan kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit)."
Muttafaq 'alaihDerajatSahih
Penjelasan

1- Nabi ﷺ ketika menjenguk orang yang sakit. Beliau akan mendoakannya dengan mengatakan: Ya Allah, ażhibil-ba`sa (hilangkanlah penyakit ini); singkirkanlah kedahsyatannya .. rabban-nās (wahai Tuhan manusia); yang menciptakan dan yang mengurusi mereka .. isyfi (sembuhkanlah) orang yang sakit ini .. antasy-syāfī (Engkau Yang Maha Menyembuhkan); aku bertawasul kepada-Mu dengan menyebut nama-Mu asy-Syāfī .. lā syifā`a (tiada kesembuhan) yang akan diperoleh oleh orang yang sakit .. illā syifā`uka (selain kesembuhan-Mu) dan keafiatan yang datang dari-Mu .. syifā`an (dengan kesembuhan) total .. lā yugādiru (yang tidak meninggalkan), tidak menyisakan .. saqaman (penyakit) yang lain.

Faedah
  1. 1- Penyembuh adalah Allah ﷻ, sedangkan dokter dan obat adalah sebab yang tidak dapat memberi manfaat maupun mengangkat keburukan kecuali dengan izin Allah.
  2. 2- Menjenguk orang sakit termasuk hak di antara umat Islam, terlebih lagi jika yang sakit adalah keluarga.
  3. 3- Anjuran bagi orang yang menjenguk orang sakit agar mendoakannya menggunakan doa berkah yang datang dari Nabi ﷺ ini.
  4. 4- Di antara petunjuk Nabi ﷺ ialah pengobatan dengan ruqyah yang disyariatkan, yaitu menggunakan Al-Qur`an dan doa-doa yang baik karena Rasulullah ﷺ biasa melakukan ruqyah untuk dirinya saat sakit, bahkan beliau juga melakukan ruqyah untuk orang yang sakit di antara keluarga beliau dan lainnya.
  5. 5- Ibnu Ḥajar berkata, "Doa kesembuhan bagi orang sakit dianggap kontradiksi, karena penyakit itu menjadi penghapus dosa dan adanya pahala sebagaimana yang disebutkan banyak hadis. Jawabannya: berdoa adalah ibadah, dan ia tidak kontradiktif dengan pahala dan pengampunan karena keduanya diperoleh saat pertama kali sakit datang dan sikap sabar menerimanya. Orang yang berdoa ada di antara dua kebaikan: permintaannya dikabulkan, atau digantikan dengan diberi suatu kebaikan ataupun dijauhkan dari keburukan lainnya. Masing-masing itu adalah karunia dari Allah Ta'ala."
Rujukan

صحيح البخاري (7/ 134) (5750). صحيح مسلم (4/ 1721) (2191). بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين، لسليم الهلالي (2/ 162). شرح رياض الصالحين، لابن عثيمين (4/ 477). كنوز رياض الصالحين، لمجموعة من الباحثين (11/ 539). نزهة المتقين شرح رياض الصالحين، لمجموعة من الباحثين (1/ 687).

Hadis ini di HadeethEnc.com

Bismillāhi arqīka, min kulli syai`in yu`żīka, min syarri kulli nafsin aw 'ainin ḥāsidin, Allāhu yasyfīka, bismillāhi arqīka." Artinya: "Dengan menyebut nama Allah, aku meruqyahmu dari segala hal yang menyakitimu dan dari kejelekan setiap jiwa atau mata yang hasad. Semoga Allah menyembuhkanmu. Dengan nama Allah, aku meruqyahmu

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ رَضيَ اللهُ عنه: أَنَّ جِبْرِيلَ أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ اشْتَكَيْتَ؟ فَقَالَ: «نَعَمْ» قَالَ: «بِاسْمِ اللهِ أَرْقِيكَ، مِنْ كُلِّ شَيْءٍ يُؤْذِيكَ، مِنْ شَرِّ كُلِّ نَفْسٍ أَوْ عَيْنِ حَاسِدٍ، اللهُ يَشْفِيكَ بِاسْمِ اللهِ أَرْقِيكَ».
Abu Sa'īd -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan: "Jibril datang kepada Nabi ﷺ lalu berkata, "Wahai Muhammad, apakah engkau mengeluh sakit?" Beliau menjawab, "Ya." Jibril kemudian membaca (doa ruqyah): "Bismillāhi arqīka, min kulli syai`in yu`żīka, min syarri kulli nafsin aw 'ainin ḥāsidin, Allāhu yasyfīka, bismillāhi arqīka." Artinya: "Dengan menyebut nama Allah, aku meruqyahmu dari segala hal yang menyakitimu dan dari kejelekan setiap jiwa atau mata yang hasad. Semoga Allah menyembuhkanmu. Dengan nama Allah, aku meruqyahmu."
HR. MuslimDerajatSahih
Penjelasan

Malaikat Jibril -'alaihissalām- datang menemui Nabi ﷺ lalu bertanya, "Wahai Muhammad, engkau mengeluh sakit?" Beliau menjawab, "Ya." Lalu Jibril -'alaihissalām- meruqyah ruqyah dengan membaca: Bismillāh (dengan menyebut nama Allah), sebagai bentuk memohon pertolongan kepada-Nya... arqīka (aku meruqyahmu), yakni aku memintakan perlindungan untukmu... min kulli syai`in yu`ẓīka (dari segala hal yang menyakitimu), baik yang kecil maupun besar... min syarri kulli nafsin (dari kejelekan setiap jiwa), yaitu jiwa yang buruk... Aw 'ainin ḥāsidin (atau mata yang hasad), yang dapat mengenaimu... Allahu yasyfīka (Semoga Allah menyembuhkanmu), yakni melindungi dan memeliharamu dari semua penyakit. Bismillāhi arqīka (dengan nama Allah, aku meruqyahmu), beliau mengulanginya sebagai penegasan. Jibril menjadikannya sebagai pembuka dan penutup untuk menunjukkan bahwa tidak ada yang dapat memberi manfaat kecuali Allah Ta'ala.

Faedah
  1. 1- Boleh mengabarkan sakit yang diderita dalam rangka menjelaskan keadaan yang terjadi, bukan dalam rangka mengungkapkan kekesalan.
  2. 2- Ruqyah dibolehkan dengan syarat-syarat berikut: a) Menggunakan ayat Al-Qur`an atau zikir dan doa-doa yang disyariatkan. b) Menggunakan bahasa Arab atau bahasa lainnya yang dapat dipahami maknanya. c) Meyakini bahwa ruqyah tidak dapat menyembuhkan sendiri, melainkan sebatas satu sebab yang tidak dapat memengaruhi kecuali dengan izin Allah ﷻ. d) Bebas dari syirik, praktik haram, bidah atau pengantar kepada hal itu.
  3. 3- Menetapkan adanya bahaya ain, hal itu benar ada, sehingga sepatutnya dilakukan ruqyah.
  4. 4- Anjuran melakukan ruqyah menggunakan bacaan yang disebutkan dalam hadis.
  5. 5- Nabi ﷺ sama dengan manusia lainnya, beliau dapat mengalami sakit seperti yang lain.
  6. 6- Penjagaan Allah kepada Nabi-Nya serta menugaskan malaikat-malaikat-Nya untuk itu.
Rujukan

صحيح مسلم (4/ 1718) (2186). بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين، لسليم الهلالي (2/ 164). تطريز رياض الصالحين، لفيصل آل مبارك (ص538). شرح رياض الصالحين، لابن عثيمين (4/ 485). كنوز رياض الصالحين، لمجموعة من الباحثين (11/ 568). نزهة المتقين شرح رياض الصالحين، لمجموعة من الباحثين (1/ 690).

Hadis ini di HadeethEnc.com

Letakkanlah tanganmu pada bagian tubuhmu yang sakit dan bacalah: 'Bismillāh', sebanyak tiga kali. Kemudian bacalah sebanyak tujuh kali: A'ūżu billāhi wa qudratihi min syarri mā ajidu wa uḥāżir (Aku berlindung dengan keagungan dan kekuasaan Allah dari keburukan apa yang aku dapatkan dan yang aku takutkan)

عَنْ عُثْمَانَ بْنِ أَبِي الْعَاصِ الثَّقَفِيِّ رضي الله عنه أَنَّهُ شَكَا إِلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَجَعًا يَجِدُهُ فِي جَسَدِهِ مُنْذُ أَسْلَمَ، فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «ضَعْ يَدَكَ عَلَى الَّذِي تَأَلَّمَ مِنْ جَسَدِكَ، وَقُلْ بِاسْمِ اللهِ ثَلَاثًا، وَقُلْ سَبْعَ مَرَّاتٍ أَعُوذُ بِاللهِ وَقُدْرَتِهِ مِنْ شَرِّ مَا أَجِدُ وَأُحَاذِرُ».
Uṡmān bin Abil-Āṣ aṡ-Ṡaqafiy -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa dia mengeluhkan rasa sakit yang dia rasakan di tubuhnya sejak masuk Islam kepada Rasulullah ﷺ. Maka Rasulullah ﷺ bersabda kepadanya, "Letakkanlah tanganmu pada bagian tubuhmu yang sakit dan bacalah: 'Bismillāh', sebanyak tiga kali. Kemudian bacalah sebanyak tujuh kali: A'ūżu billāhi wa qudratihi min syarri mā ajidu wa uḥāżir (Aku berlindung dengan keagungan dan kekuasaan Allah dari keburukan apa yang aku dapatkan dan yang aku takutkan)."
HR. MuslimDerajatSahih
Penjelasan

Uṡmān bin Abil-Āṣ -raḍiyallāhu 'anhu- ditimpa sakit yang hampir membinasakannya, sehingga Nabi ﷺ menjenguknya dan mengajarinya sebuah doa yang menjadi sebab Allah mengangkat penyakit yang menimpanya, yaitu agar ia meletakkan tangan di atas bagian yang sakit dan membaca, "Bismillāh" sebanyak tiga kali, dilanjutkan tujuh kali membaca: A'ūżu (aku berlindung); aku menyelamatkan diri dan melindungi diri .. billāhi wa qudratihi min syarri mā ajidu (kepada Allah dan kekuatan-Nya dari keburukan apa yang kudapatkan) berupa sakit yang kuderita sekarang .. wa uḥāżir (dan yang aku takutkan); yaitu yang aku khawatirkan kejadiannya di masa depan seperti sedih dan takut, atau berlanjutnya penyakit ini dan rasa sakitnya meluas pada seluruh tubuh.

Faedah
  1. 1- Anjuran melakukan ruqyah sendiri, sebagaimana yang disebutkan dalam hadis.
  2. 2- Keluhan tanpa disertai rasa marah dan sikap tidak rela tidak menafikan tawakal dan sabar.
  3. 3- Doa termasuk tindakan melakukan sebab, oleh karena itu harus komitmen dengan lafaz dan bilangannya.
  4. 4- Doa ini berlaku untuk semua sakit pada organ.
  5. 5- Meletakkan tangan pada bagian yang sakit saat melakukan ruqyah dengan doa ini.
Rujukan

صحيح مسلم (4/ 1728) (2202). بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين، لسليم الهلالي (2/ 163). شرح رياض الصالحين، لابن عثيمين (4/ 481). فيض القدير شرح الجامع الصغير، لعبدالرؤوف المناوي (1/ 284). نزهة المتقين شرح رياض الصالحين، لمجموعة من الباحثين (1/ 689).

Hadis ini di HadeethEnc.com

Dengan nama Allah, debu tanah kami, dengan ludah sebagian kami, semoga sembuh orang yang sakit dari kami, dengan izin Rabb kami.

عن عائشة رضي الله عنها : أنَّ النَّبيَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ إِذَا اشْتَكى الإنْسَانُ الشَّيْءَ مِنْهُ، أَوْ كَانَتْ بِهِ قَرْحَةٌ أَوْ جُرْح، قالَ النبيُّ صلى الله عليه وسلم بأُصبعِهِ هكذا - ووضع سفيان بن عيينة الراوي سبابته بالأرض ثم رفعها- وقالَ: «بِسمِ اللهِ، تُرْبَةُ أرْضِنَا، بِرِيقَةِ بَعْضِنَا، يُشْفَى بِهِ سَقِيمُنَا، بإذْنِ رَبِّنَا».
Dari Aisyah -raḍiyallāhu 'anhumā-, "Sesungguhnya Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- apabila ada orang yang mengeluhkan sakit di tubuhnya, atau ada luka kecil atau besar, beliau berkata dengan satu jarinya begini (Sufyān bin Uyainah, periwayat hadis ini meletakkan jari telunjuknya ke tanah kemudian mengangkatnya) dan beliau berdoa, "Dengan nama Allah, ini adalah tanah bumi kita, dengan ludah sebagian kita, orang sakit di antara kita sembuh dengan izin Tuhan kita."
Muttafaq 'alaihDerajatHadis sahih
Penjelasan

Dari Aisyah -raḍiyallāhu 'anhumā- bahwa: "Sesungguhnya Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- apabila ada orang yang mengeluhkan sesuatu dari tubuhnya, atau ada luka kecil atau besar, beliau berkata dengan satu jarinya begini (Sufyān bin Uyainah, periwayat hadis ini meletakkan jari telunjuknya ke tanah kemudian mengangkatnya) dan beliau berdoa, "Dengan nama Allah, ini adalah tanah bumi kita, dengan ludah sebagian dari kita, orang sakit di antara kita sembuh atas izin Tuhan kita."

Rujukan

بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين، تأليف سليم الهلالي، دار ابن الجوزي. رياض الصالحين من كلام سيد المرسلين، للإمام أبي زكريا النووي، تحقيق د. ماهر الفحل، دار ابن كثير - دمشق، الطبعة الأولى، 1428هـ. شرح رياض الصالحين، للشيخ محمد بن صالح العثيمين، مدار الوطن - الرياض، 1426هـ. شرح صحيح مسلم، للإمام محي الدين النووي، دار الريان للتراث - القاهرة، الطبعة الأولى، 1407هـ. صحيح البخاري، للإمام أبي عبدالله محمد بن إسماعيل البخاري، عناية محمد زهير الناصر، دار طوق النجاة، الطبعة الأولى، 1422هـ. صحيح مسلم، للإمام مسلم بن الحجاج، حققه ورقمه محمد فؤاد عبدالباقي، دار عالم الكتب - الرياض، الطبعة الأولى، 1417هـ. كنوز رياض الصالحين، فريق علمي برئاسة أ.د. حمد العمار، دار كنوز إشبيليا - الرياض، الطبعة الأولى، 1430هـ. نزهة المتقين شرح رياض الصالحين، تأليف د. مصطفى الخِن وغيره، مؤسسة الرسالة - بيروت، الطبعة الرابعة عشر، 1407هـ.

Hadis ini di HadeethEnc.com

Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- berlindung dari jin dan pandangan (hasad) manusia.

عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه قال: كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يَتَعَوَّذُ مِنَ الجَانِّ، وعَيْنِ الإنسان، حتى نَزَلَتْ المُعَوِّذتان، فلمَّا نَزَلَتا، أخذ بهما وتركَ ما سواهما.
Dari Abu Said al-Khudri -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, "Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- berlindung dari jin dan pandangan (hasad) manusia hingga turun al-Mu'awwiżatān (Surah Al-Falaq dan An-Nās). Setelah keduanya turun, beliau pun berpegang pada keduanya dan meninggalkan (doa perlindungan) selainnya."
Diriwayatkan oleh Ibnu Mājah - Diriwayatkan oleh Tirmiżi - Diriwayatkan oleh Nasā`iDerajatHadis sahih
Penjelasan

Hadis ini mengisyaratkan bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- berlindung kepada Allah -Ta'ālā- dari kejahatan jin dan pandangan mata manusia yang dengki melalui doa-doa dan zikir dengan mengucapkan, "Aku berlindung kepada Allah dari jin dan pandangan (hasad) manusia" hingga turun al-Mu'awwiżatān (Surah Al-Falaq dan An-Nās). Setelah kedua surah itu turun, beliau biasanya senantiasa membaca keduanya dalam melindungi dirinya, dan meninggalkan berbagai doa perlindungan dan ruqyah selainnya karena kandungan kedua surah tersebut meliputi Zat yang dimintai perlindungan dan obyek yang minta perlindungan darinya.

Rujukan

1-بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين؛ تأليف: سليم بن عيد الهلالي، الناشر: دار ابن الجوزي ، سنة النشر: 1418 هـ- 1997م 2-الجامع الصحيح –وهو سنن الترمذي-؛ للإمام محمد بن عيسى الترمذي، تحقيق الشيخ أحمد شاكر، مكتبة الحلبي-مصر، الطبعة الثانية، 1388هـ. 3-رياض الصالحين من كلام سيد المرسلين؛ للإمام أبي زكريا النووي، تحقيق د. ماهر الفحل، دار ابن كثير-دمشق، الطبعة الأولى، 1428هـ. 4-سنن ابن ماجه؛ للحافظ محمد بن يزيد القزويني، حققه محمد فؤاد عبدالباقي، دار إحياء الكتب العربية. 5-السنن الصغرى للنسائي "المجتبى"، تحقيق: عبد الفتاح أبو غدة، نشر: مكتب المطبوعات الإسلامية – حلب، الطبعة: الثانية، 1406ه – 1986م. 6-كنوز رياض الصالحين؛ فريق علمي برئاسة أ.د. حمد العمار، دار كنوز إشبيليا-الرياض، الطبعة الأولى، 1430هـ. 7-مرقاة المفاتيح شرح مشكاة المصابيح، لعلي بن سلطان الملا الهروي القاري، الناشر: دار الفكر، بيروت – لبنان، الطبعة: الأولى، 1422هـ - 2002م. 8-مشكاة المصابيح؛ تأليف محمد بن عبدالله التبريزي، تحقيق محمد ناصر الدين الألباني، المكتب الإسلامي-بيروت، الطبعة الثانية، 1399هـ. 9-نزهة المتقين شرح رياض الصالحين؛ تأليف د. مصطفى الخِن وغيره، مؤسسة الرسالة-بيروت، الطبعة الرابعة عشر، 1407هـ. 10- دليل الفالحين لطرق رياض الصالحين, محمد علي بن محمد البكري الصديقي الشافعي, اعتنى بها: خليل مأمون شيحا, الناشر: دار المعرفة للطباعة والنشر والتوزيع، بيروت – لبنان, الطبعة: الرابعة، 1425 هـ - 2004 م.

Hadis ini di HadeethEnc.com

Siapa yang menjenguk orang sakit sebelum ajalnya datang, lalu berdoa di sisinya sebanyak tujuh kali: 'As`alullāhal-'aẓīm, rabbal-'arsyil-'aẓīm an yasyfiyak (Au memohon kepada Allah Yang Mahaagung, Pemilik Arasy yang agung, agar menyembuhkanmu),' niscaya Allah menyembuhkannya dari penyakit tersebut

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رضي الله عنهما عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «مَنْ عَادَ مَرِيضًا، لَمْ يَحْضُرْ أَجَلُهُ فَقَالَ عِنْدَهُ سَبْعَ مِرَارٍ: أَسْأَلُ اللَّهَ الْعَظِيمَ رَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ أَنْ يَشْفِيَكَ، إِلَّا عَافَاهُ اللَّهُ مِنْ ذَلِكَ الْمَرَضِ».
Ibnu 'Abbās -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda, "Siapa yang menjenguk orang sakit sebelum ajalnya datang, lalu berdoa di sisinya sebanyak tujuh kali: 'As`alullāhal-'aẓīm, rabbal-'arsyil-'aẓīm an yasyfiyak (Au memohon kepada Allah Yang Mahaagung, Pemilik Arasy yang agung, agar menyembuhkanmu),' niscaya Allah menyembuhkannya dari penyakit tersebut."
HR. Abu Daud, Tirmizi, dan AhmadDerajatSahih
Penjelasan

Nabi ﷺ mengabarkan, tidaklah seorang muslim menjenguk muslim lainnya di masa sakitnya sebelum datang waktu kematiannya, kemudian penjenguk mendoakan orang yang sakit dengan doa: As`alullāhal-'aẓīm (Aku memohon kepada Allah Yang Mahaagung) dalam zat-Nya, sifat-Nya dan perbuatan-perbuatan-Nya .. rabbal-'arsyil-'aẓīm an yasyfiyak (Pemilik Arasy yang agung, agar menyembuhkanmu), dan ia mengulanginya tujuh kali, kecuali Allah akan menyembuhkannya dari penyakit tersebut.

Faedah
  1. 1- Anjuran mendoakan orang yang sakit dengan doa ini dan mengulangnya sebanyak tujuh kali.
  2. 2- Terwujudnya kesembuhan bagi orang yang dibacakan padanya doa ini, dengan izin Allah Ta'ala, jika diucapkan dengan tulus dan benar.
  3. 3- Doa ini dapat dibaca dengan suara pelan dan suara tinggi, semuanya boleh. Akan tetapi, jika ia perdengarkan kepada orang yang sakit, maka hal itu lebih utama dan lebih afdal karena di dalamnya terkandung hal yang membuatnya bahagia.
Rujukan

سنن أبي داود (5/ 22) (3106). سنن الترمذي (3/ 593) (2083). السنن الكبرى للنسائي (9/ 385) (10820). مسند أحمد (4/ 40) (2137). بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين، لسليم الهلالي (2/ 163). تطريز رياض الصالحين، لفيصل آل مبارك (ص537). شرح رياض الصالحين، لابن عثيمين (4/ 483). كنوز رياض الصالحين، لمجموعة من الباحثين (11/ 559). نزهة المتقين شرح رياض الصالحين، لمجموعة من الباحثين (1/ 689).

Hadis ini di HadeethEnc.com

Setiap hadis, derajat, penjelasan, dan faedah di sini ditampilkan persis sebagaimana diterbitkan HadeethEnc.com, menurut ketentuan penerbitan ulangnya. Derajat itu tidak menyebut siapa yang menilainya. Terjemahan dan penjelasan adalah karya para penyusunnya, dan sebagian menyebutkan hukum; para peninjau Sabīl belum memeriksanya. Hadis berbahasa Arablah teksnya. Sumber: HadeethEnc.com