Langsung ke konten
Hadis dengan penjelasan

Kedokteran, Pengobatan, dan Ruqyah Syar'iyyah

22 hadis

‘Jika engkau mau, bersabarlah niscaya engkau akan mendapat surga. Namun jika engkau tetap ingin didoakan, aku akan berdoa kepada Allah agar menyembuhkanmu.’

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رضيَ اللهُ عنهما: أنَّهُ قَالَ لعَطَاءِ بْنِ أَبِي رَبَاحٍ: أَلَا أُرِيكَ امْرَأَةً مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ؟ قُلْتُ: بَلَى، قَالَ: هَذِهِ الْمَرْأَةُ السَّوْدَاءُ، أَتَتِ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَتْ: إِنِّي أُصْرَعُ وَإِنِّي أَتَكَشَّفُ، فَادْعُ اللهَ لِي، قَالَ: «إِنْ شِئْتِ صَبَرْتِ وَلَكِ الْجَنَّةُ، وَإِنْ شِئْتِ دَعَوْتُ اللهَ أَنْ يُعَافِيَكِ» قَالَتْ: أَصْبِرُ، قَالَتْ: فَإِنِّي أَتَكَشَّفُ فَادْعُ اللهَ أَنْ لَا أَتَكَشَّفَ، فَدَعَا لَهَا.
Ibnu 'Abbās -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan, Ia pernah berkata kepada Aṭā’ bin Abi Rabāḥ, “Maukah engkau kutunjukkan seorang wanita yang termasuk penghuni surga?” Aṭā’ menjawab, “Iya.” Ibnu 'Abbās berkata, “Wanita berkulit hitam ini. Ia pernah datang kepada Nabi ﷺ dan mengadu, ‘Sesungguhnya aku menderita penyakit ayan. Saat kambuh, auratku terbuka. Mohonkanlah kepada Allah agar aku disembuhkan.’ Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Jika engkau mau, bersabarlah niscaya engkau akan mendapat surga. Namun jika engkau tetap ingin didoakan, aku akan berdoa kepada Allah agar menyembuhkanmu.’ Wanita itu menjawab, ‘Aku akan bersabar.’ Namun ia menambahkan, ‘Hanya saja, auratku terbuka saat penyakitku kambuh. Mohonkanlah kepada Allah agar auratku tidak terbuka.’ Lalu Rasulullah pun mendoakannya.”
Muttafaq 'alaihDerajatSahih
Penjelasan

Ibnu 'Abbās -raḍiyallāhu 'anhumā- berkata kepada Aṭā’ bin Abi Rabāḥ, "Maukah engkau kutunjukkan seorang wanita yang termasuk penghuni surga?" Aṭā’ menjawab, "Tentu mau." Ibnu 'Abbās berkata, “Ia adalah wanita Habasyah yang berkulit hitam ini. Ia pernah datang kepada Nabi ﷺ dan mengadu, 'Sesungguhnya aku menderita penyakit ayan, dan saat kambuh, auratku terbuka. Sebagian tubuhku tersingkap tanpa aku sadari. Mohonkanlah kepada Allah agar aku disembuhkan.' Nabi ﷺ bersabda, "Jika engkau mau, bersabarlah niscaya engkau akan mendapat surga. Namun jika engkau tetap ingin didoakan, aku akan berdoa kepada Allah agar menyembuhkanmu." Wanita itu menjawab, "Kalau begitu, aku akan bersabar." Kemudian ia berkata, "Tetapi mohonkanlah kepada Allah agar sebagian tubuhku tidak tersingkap saat datang ayan." Lantas Rasulullah pun mendoakannya.

Faedah
  1. 1- Sabar terhadap ujian di dunia menyebabkan masuk surga.
  2. 2- An-Nawawi berkata, "Di dalam hadis ini terdapat petunjuk bahwa penyakit ayan diberikan pahala paling sempurna."
  3. 3- Sifat malu dan kehati-hatian para wanita sahabat serta kegigihan mereka untuk menutup diri -semoga Allah meridai mereka-. Lihatlah wanita ini, hal paling besar yang ia khawatirkan adalah apabila sebagian tubuhnya tersingkap.
  4. 4- Ibnu Hajar berkata, "Mengambil hal yang berat lebih utama daripada mengambil rukhsah (keringanan) bagi orang yang mengetahui dirinya mampu dan tidak merasa lemah untuk menjalankannya."
  5. 5- Ibnu Hajar berkata, "Hadis ini mengandung pelajaran bahwa mengobati berbagai macam penyakit dengan doa dan bersandar kepada Allah lebih manjur daripada pengobatan dengan obat-obatan. Pengaruh doa dan respons tubuh terhadapnya lebih besar dibanding pengaruh obat fisik. Namun, hal itu hanya akan manjur dengan dua syarat: pertama, dari pihak orang yang sakit, yaitu niat yang tulus; dan kedua, dari pihak yang mengobati, yaitu kekuatan doa serta kekuatan hatinya yang dilandasi takwa dan tawakal. Wallāhu a'lam."
  6. 6- Ibnu Hajar berkata, "Hadis ini mengandung dalil bolehnya tidak berobat."
Rujukan

صحيح البخاري (7/ 116) (5652). صحيح مسلم (4/ 1994) (2576). بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين، لسليم الهلالي (1/ 95). شرح رياض الصالحين، لابن عثيمين (1/ 235).

Hadis ini di HadeethEnc.com

Demi Allah! Sungguh bila Allah memberi petunjuk pada satu orang melalui usahamu, itu lebih baik bagimu dari pada memiliki unta-unta merah

عَنْ سَهْلُ بْنُ سَعْدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَوْمَ خَيْبَرَ: «لَأُعْطِيَنَّ هَذِهِ الرَّايَةَ غَدًا رَجُلًا يَفْتَحُ اللَّهُ عَلَى يَدَيْهِ، يُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيُحِبُّهُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ»، قَالَ: فَبَاتَ النَّاسُ يَدُوكُونَ لَيْلَتَهُمْ أَيُّهُمْ يُعْطَاهَا، فَلَمَّا أَصْبَحَ النَّاسُ غَدَوْا عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلُّهُمْ يَرْجُو أَنْ يُعْطَاهَا، فَقَالَ: «أَيْنَ عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ؟» فَقِيلَ: هُوَ يَا رَسُولَ اللَّهِ يَشْتَكِي عَيْنَيْهِ، قَالَ: «فَأَرْسِلُوا إِلَيْهِ»، فَأُتِيَ بِهِ فَبَصَقَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي عَيْنَيْهِ وَدَعَا لَهُ، فَبَرَأَ حَتَّى كَأَنْ لَمْ يَكُنْ بِهِ وَجَعٌ، فَأَعْطَاهُ الرَّايَةَ، فَقَالَ عَلِيٌّ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أُقَاتِلُهُمْ حَتَّى يَكُونُوا مِثْلَنَا؟ فَقَالَ: «انْفُذْ عَلَى رِسْلِكَ حَتَّى تَنْزِلَ بِسَاحَتِهِمْ، ثُمَّ ادْعُهُمْ إِلَى الإِسْلاَمِ، وَأَخْبِرْهُمْ بِمَا يَجِبُ عَلَيْهِمْ مِنْ حَقِّ اللَّهِ فِيهِ، فَوَاللَّهِ لَأَنْ يَهْدِيَ اللَّهُ بِكَ رَجُلًا وَاحِدًا، خَيْرٌ لَكَ مِنْ أَنْ يَكُونَ لَكَ حُمْرُ النَّعَمِ».
Sahal bin Sa'ad -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda di saat perang Khaibar, "Sungguh, aku akan berikan bendera ini besok kepada seseorang yang melalui tangannya Allah memberi kemenangan; orang itu mencintai Allah dan rasul-Nya serta ia dicintai oleh Allah dan rasul-Nya." Sahal menuturkan: Di malam harinya orang-orang larut membicarakan siapakah di antara mereka yang akan diserahi bendera tersebut. Memasuki pagi hari, mereka datang menemui Rasulullah ﷺ, semua berharap diserahi bendera. Rasulullah ﷺ lalu bersabda, "Mana Ali bin Abi Ṭālib?" Dikatakan, "Dia sedang sakit mata, wahai Rasulullah!" Rasulullah ﷺ bersabda, "Kirimlah utusan kepadanya." Lantas Ali dihadirkan, lalu Rasulullah ﷺ meludahi matanya dan mendoakannya. Seketika, Ali pun sembuh hingga seperti tidak pernah sakit sebelumnya. Lalu Rasulullah ﷺ memberikan bendera kepadanya. Ali berkata, "Wahai Rasulullah! Apakah aku memerangi mereka sampai mereka menjadi seperti kita?" Rasulullah ﷺ bersabda, "Berangkatlah dengan tenang hingga engkau berada di medan mereka. Kemudian ajaklah mereka masuk Islam dan beritahukan kepada mereka tentang hak Allah yang diwajibkan pada mereka di dalamnya. Demi Allah! Sungguh bila Allah memberi petunjuk pada satu orang melalui usahamu, itu lebih baik bagimu dari pada memiliki unta-unta merah."
Muttafaq 'alaihDerajatSahih
Penjelasan

Nabi ﷺ mengabari para sahabat tentang kemenangan kaum muslimin atas orang-orang Yahudi Khaibar di keesokan harinya. Kemenangan itu akan diraih melalui tangan seseorang yang akan beliau berikan panji perang, yaitu bendera yang dijadikan simbol oleh pasukan. Di antara ciri-ciri orang tersebut adalah ia mencintai Allah dan Rasulullah serta dicintai pula oleh Allah dan Rasulullah. Pada malam tersebut, para sahabat larut membahas siapa orang yang akan diberikan panji itu karena mereka semua menginginkan kemuliaan yang besar itu. Keesokan harinya, mereka segera mendatangi Nabi ﷺ; semua mereka berharap sebagai orang yang akan mendapatkan kemuliaan itu. Lantas Nabi ﷺ menanyakan tentang Ali bin Abu Ṭālib -raḍiyallāhu 'anhu-. Dikatakan: Dia sedang sakit, ada keluhan di kedua matanya. Maka Nabi ﷺ mengirim utusan kepadanya. Lantas mereka pun menghadirkannya. Lalu beliau meludah pada mata Ali dengan air liur beliau yang mulia dan mendoakannya. Seketika Ali sembuh dari sakitnya, seakan-akan ia tidak pernah sakit sebelumnya. Lalu beliau memberinya panji perang dan memerintahkannya untuk berangkat dengan tenang sampai mendekati benteng musuh, lalu mengajak mereka masuk Islam. Jika mereka menyambutnya, maka dia lanjutkan dengan menerangkan kepada mereka kewajiban-kewajiban yang diwajibkan pada mereka. Kemudian Nabi ﷺ menerangkan kepada Ali tentang keutamaan berdakwah kepada Allah; bahwa jika seorang dai menjadi perantara petunjuk satu orang, hal itu lebih baik baginya dari memiliki unta-unta merah yang merupakan harta paling berharga bagi bangsa Arab, lalu ia menahannya ataupun menyedekahkannya.

Faedah
  1. 1- Keutamaan Ali bin Abi Ṭālib -raḍiyallāhu 'anhu- dan kesaksian Rasulullah ﷺ untuknya tentang kecintaan Allah dan Rasulullah kepadanya serta kecintaannya kepada Allah dan Rasulullah.
  2. 2- Kegigihan para sahabat terhadap kebaikan dan persaingan mereka dalam mewujudkannya.
  3. 3- Perintah memperhatikan adab ketika perang dan meninggalkan sikap gegabah dan gaduh yang tidak dibutuhkan.
  4. 4- Di antara tanda kenabian Nabi ﷺ ialah berita tentang kemenangan atas orang-orang Yahudi serta kesembuhan kedua mata Ali bin Abi Ṭālib melalui tangan beliau dengan izin Allah.
  5. 5- Tujuan utama jihad ialah agar manusia masuk ke dalam Islam.
  6. 6- Dakwah dilakukan secara bertahap. Pertama kali meminta orang kafir agar masuk Islam dengan mengucapkan dua kalimat syahadat, kemudian diajak melaksanakan kewajiban-kewajiban Islam setelah itu.
  7. 7- Keutamaan berdakwah kepada Islam serta kebaikan yang terkandung di dalamnya bagi orang yang didakwahi serta orang yang berdakwah; orang yang didakwahi bisa mendapatkan petunjuk, sedangkan orang yang berdakwah diberi pahala yang besar.
Rujukan

صحيح البخاري (5/ 134) (4210). صحيح مسلم (4/ 1872) (2406). فتح المجيد شرح كتاب التوحيد، (ص88). القول المفيد على كتاب التوحيد، (1/ 134). الملخص في شرح كتاب التوحيد، (ص57). الجديد في شرح كتاب التوحيد، (ص67). التمهيد لشرح كتاب التوحيد، (ص59).

Hadis ini di HadeethEnc.com

Di setiap sisi kota Madinah ada malaikat. Dajjal dan ṭā'ūn tidak akan masuk ke dalamnya.

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : «على أَنْقَابِ المدينةِ ملائكةٌ لا يدخلُها الطَّاعونُ، ولا الدَّجَّالُ».
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, "Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Di setiap sisi kota Madinah ada malaikat. Dajjal dan ṭā'ūn tidak akan masuk ke dalamnya."
Muttafaq 'alaihDerajatHadis sahih
Penjelasan

Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menuturkan dalam hadis ini bahwa di antara keutamaan Madinah adalah keberadaan para malaikat di berbagai jalur masuk Madinah dan jalan-jalannya dengan misi menjaganya. Dengan demikian, Madinah tidak akan dimasuki Ṭā'ūn -yaitu kematian mengerikan yang epidemi- dan al-Masih Dajjal.

Rujukan

-صحيح البخاري، نشر: دار طوق النجاة (مصورة عن السلطانية بإضافة ترقيم محمد فؤاد عبد الباقي)، الطبعة: الأولى، 1422هـ. -صحيح مسلم، تحقيق: محمد فؤاد عبد الباقي، نشر: دار إحياء التراث العربي - بيروت. -عمدة القاري شرح صحيح البخاري، لمحمود بن أحمد بن موسى الحنفى بدر الدين العينى، الناشر: دار إحياء التراث العربي – بيروت. -إرشاد الساري لشرح صحيح البخاري، لأحمد بن محمد بن أبى بكر بن عبد الملك القسطلاني القتيبي المصري، الناشر: المطبعة الكبرى الأميرية، مصر، الطبعة: السابعة، 1323 هـ. -المنهاج شرح صحيح مسلم بن الحجاج، للنووي، نشر: دار إحياء التراث العربي - بيروت، الطبعة: الثانية، 1392ه. -شرح صحيح البخاري لابن بطال، تحقيق: أبي تميم ياسر بن إبراهيم، نشر: مكتبة الرشد، الرياض-السعودية، الطبعة: الثانية 1423هـ، 2003م.

Hadis ini di HadeethEnc.com

Musnahnya umatku sebab tusukan pedang (perang) dan wabah penyakit

عن أبي موسى رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : «فَنَاءُ أُمَّتي بالطَّعْن والطَّاعون». فقيل: يا رسول الله، هذا الطَّعْنُ قد عَرَفْناه، فما الطَّاعون؟ قال: «وَخْزُ أعدائِكم مِن الجِنِّ، وفي كلٍّ شُهَداء».
Dari Abu Musa -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Musnahnya umatku sebab tusukan pedang (perang) dan wabah penyakit." Kemudian beliau ditanya, "Wahai Rasulullah, tusukan pedang telah kami ketahui, lalu apa itu ṭā'ūn?!" Beliau menjawab, "Serangan musuh kalian dari bangsa jin. Dan (korban) dari keduanya adalah syahid."
Diriwayatkan oleh AhmadDerajatHadis sahih
Penjelasan

Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menuturkan bahwa kematian mayoritas umatnya dengan dua sebab: Pertama, peperangan dengan kontak senjata antara kaum Muslimin dan kaum kafir dan fitnah peperangan internal kaum Muslimin. Kedua, ṭā'ūn (wabah penyakit), kematian masal. Faktor utamanya adalah serangan musuh-musuh kaum Muslimin dari kalangan jin kafir. Siapa yang meninggal karena salah satu dari dua sebab ini: perperangan dan wabah penyakit, maka ia syahid. Ada yang berpendapat bahwa sesungguhnya maksudnya adalah doa, yakni Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- berdoa agar kematian umatnya karena salah satu dari dua sebab ini agar mendapatkan syahid. Pendapat yang benar adalah pendapat yang pertama, Allāhu a'lam.

Rujukan

-مسند الإمام أحمد بن حنبل، تحقيق: شعيب الأرنؤوط - عادل مرشد، وآخرون، نشر: مؤسسة الرسالة، الطبعة: الأولى، 1421هـ - 2001م. -التنوير شرح الجامع الصغير، لمحمد بن إسماعيل بن صلاح بن محمد الحسني، الكحلاني الأمير الصنعاني، المحقق: د. محمَّد إسحاق محمَّد إبراهيم، الناشر: مكتبة دار السلام، الرياض، الطبعة: الأولى، 1432 هـ - 2011 م. -إرشاد الساري لشرح صحيح البخاري، لأحمد بن محمد بن أبى بكر بن عبد الملك القسطلاني القتيبي المصري، الناشر: المطبعة الكبرى الأميرية، مصر، الطبعة: السابعة، 1323 هـ. -مختار الصحاح، لزين الدين أبو عبد الله محمد بن أبي بكر بن عبد القادر الحنفي الرازي، تحقيق: يوسف الشيخ محمد، نشر: المكتبة العصرية - الدار النموذجية، بيروت – صيدا، لطبعة: الخامسة، 1420هـ / 1999م. -فيض القدير شرح الجامع الصغير, زين الدين محمد المدعو بعبد الرؤوف بن تاج العارفين بن علي بن زين العابدين الحدادي ثم المناوي القاهري , الناشر: المكتبة التجارية الكبرى - مصر, الطبعة: الأولى، 1356 -إرواء الغليل في تخريج أحاديث منار السبيل, محمد ناصر الدين الألباني, إشراف: زهير الشاويش, المكتب الإسلامي – بيروت, الطبعة: الثانية 1405 هـ - 1985م. -شرح سنن النسائي المسمى «ذخيرة العقبى في شرح المجتبى»، المؤلف: محمد بن علي بن آدم الإثيوبي الوَلَّوِي، الناشر: دار المعراج الدولية للنشر - دار آل بروم للنشر والتوزيع, الطبعة الأولى, 1416- 1424.

Hadis ini di HadeethEnc.com

Siapa yang mengaku mengetahui ilmu kedokteran, padahal dia tidak memiliki ilmu kedokteran, maka dia bertanggung jawab (atas akibat perbuatannya).

عن عبد الله بن عمرو رضي الله عنهما قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «مَنْ تَطَبَّبَ، ولا يُعْلَمُ مِنْهُ طِبٌّ، فهو ضامِنٌ»
Dari Abdullah bin 'Amr -raḍiyallāhu 'anhumā-, ia berkata, "Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Siapa yang mengaku mengetahui ilmu kedokteran, padahal dia tidak memiliki ilmu kedokteran, maka dia bertanggung jawab (atas akibat perbuatannya)."
Diriwayatkan oleh Ibnu Mājah - Diriwayatkan oleh Nasā`i - Diriwayatkan oleh Abu DaudDerajatHadis hasan
Penjelasan

Orang yang mengklaim tahu tentang ilmu kedokteran padahal dia tidak mengetahuinya dan tidak ahli dalam hal itu lalu menipu manusia dan mengobati mereka sehingga pengobatannya itu merusak jiwa atau organ tubuh lainnya, maka ia bertanggung jawab (atas kerusakan itu) karena dia zalim dengan menipu manusia dan mengajukan dirinya untuk sesuatu yang tidak diketahuinya. Tidak ada perbedaan pandangan (antara para ulama) bahwa orang yang mengobati lalu berbuat aniaya sehingga pasien (orang yang sakit) binasa, maka dia bertanggung jawab. Demikian juga orang yang menerapkan satu ilmu atau pekerjaan yang tidak diketahuinya maka dia orang yang zalim, sehingga jika perbuatannya menimbulkan kerusakan, ia bertanggung jawab membayar diat (tebusan) dan gugurlah darinya hukuman kisas karena dia tidak melakukan hal tersebut tanpa seizin orang sakit (pasien).

Rujukan

سنن أبي داود، المحقق: محمد محيي الدين عبد الحميد . الناشر: المكتبة العصرية، صيدا – بيروت. سنن الترمذي ، تحقيق وتعليق: أحمد محمد شاكر (جـ 1، 2) ومحمد فؤاد عبد الباقي (جـ 3) وإبراهيم عطوة عوض المدرس في الأزهر الشريف (جـ 4، 5) الناشر: شركة مكتبة ومطبعة مصطفى البابي الحلبي – مصر . الطبعة: الثانية، 1395 هـ - 1975 م. سنن للنسائي، تحقيق: عبد الفتاح أبو غدة، الناشر: مكتب المطبوعات الإسلامية، حلب، الطبعة: الثانية، 1406 – 1986. فتح ذي الجلال والإكرام شرح بلوغ المرام،محمد بن صالح بن محمد العثيمين، تحقيق: صبحي بن محمد رمضان، وأُم إسراء بنت عرفة، المكتبة الإسلامية، القاهرة،الطبعة الأولى ، 1427هـ. توضيح الأحكام من بلوغ المرام، عبد الله بن عبد الرحمن البسام، مكتبة الأسدي، مكة، الطبعة الخامسة، 1423. منحة العلام شرح بلوغ المرام، عبد الله الفوزان، دار ابن الجوزي، الطبعة الأولى، 1428. بلوغ المرام من أدلة الأحكام، أحمد بن علي بن حجر العسقلاني، تحقيق وتخريج وتعليق: سمير بن أمين الزهيري-الناشر: دار الفلق – الرياض-الطبعة: السابعة، 1424 هـ. سلسلة الأحاديث الصحيحة وشيء من فقهها وفوائدها، تأليف محمد ناصر الدين الألباني، الناشر: مكتبة المعارف للنشر والتوزيع، الرياض، الطبعة: الأولى، لمكتبة المعارف.

Hadis ini di HadeethEnc.com

Setiap hadis, derajat, penjelasan, dan faedah di sini ditampilkan persis sebagaimana diterbitkan HadeethEnc.com, menurut ketentuan penerbitan ulangnya. Derajat itu tidak menyebut siapa yang menilainya. Terjemahan dan penjelasan adalah karya para penyusunnya, dan sebagian menyebutkan hukum; para peninjau Sabīl belum memeriksanya. Hadis berbahasa Arablah teksnya. Sumber: HadeethEnc.com