Langsung ke konten
Hadis dengan penjelasan

Memerdekakan Budak

13 hadis

Seorang laki-laki dari kalangan Ansar hendak memerdekakan budaknya sepeninggal dirinya.

عن جابر بن عبد الله رضي الله عنهما قال: دَبَّرَ رَجُلٌ مِنْ الأَنْصَارِ غُلاماً لَهُ-، وَفِي لَفْظٍ: بَلَغَ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم : أَنَّ رَجُلاً مِنْ أَصْحَابِهِ أَعْتَقَ غُلاماً لَهُ عنْ دُبُرٍ- لَمْ يَكُنْ لَهُ مَالٌ غَيْرُهُ فَبَاعَهُ رَسُولُ الله بِثَمَانِمِائَةِ دِرْهَمٍ، ثُمَّ أَرْسَلَ ثَمَنَهُ إلَيْهِ.
Dari Jabir bin Abdillah -raḍiyallāhu 'anhumā- ia berkata, "Seorang laki-laki dari kalangan Ansar hendak memerdekakan budaknya sepeninggal dirinya." -dalam lafal lain disebutkan, "Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mendapatkan berita bahwa seorang sahabatnya akan memerdekakan hamba sahayanya sepeninggal dirinya- padahal dia tidak memiliki harta selain budak itu. Lantas Rasulullah menjualnya dengan harga delapan ratus dirham lalu mengirimkan hasil penjualannya kepada sahabat tersebut.
Muttafaq 'alaihDerajatHadis sahih
Penjelasan

Seorang laki-laki dari kalangan Ansar mengaitkan kemerdekaan budaknya dengan kematiannya. Padahal dia tidak memiliki harta benda selainnya. (Berita) mengenai hal itu sampai kepada Nabi - ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, maka beliau pun menganggap pembebasan ini sebagai tindakan melampaui batas dan beliau tidak membenarkan perbuatan tersebut. Lantas beliau menolak orang itu dan menjual budaknya seharga delapan ratus dirham. Beliau mengirimkan hasil penjualan budak itu kepadanya. Sebab, mengurus dirinya dan keluarganya lebih prioritas dan utama dari pembebasan budak agar dia tidak menjadi beban bagi manusia. Hadis-hadis seperti ini mengandung hukum-hukum yang diketahui manusia meskipun tidak diamalkannya, tetapi tidak selayaknya untuk tidak mempelajari dan memahaminya dengan alasan sekarang ini tidak ada perbudakan. Sesungguhnya perbudakan itu masih tetap ada di berbagai tempat di Afrika dan bisa jadi akan terjadi lagi. Perbudakan ada sejak lama sekali sampai datang Islam dan setelahnya. Hanya saja Islam mengharapkan kemerdekaan dan pembebasan jika terjadi perbudakan.

Rujukan

صحيح البخاري، للإمام أبي عبد الله محمد بن إسماعيل البخاري، عناية محمد زهير الناصر، دار طوق النجاة، الطبعة الأولى، 1422هـ. صحيح مسلم، للإمام مسلم بن الحجاج، حققه ورقمه محمد فؤاد عبد الباقي، دار عالم الكتب، الرياض، الطبعة الأولى، 1417هـ. تيسير العلام شرح عمدة الأحكام، عبد الله البسام -تحقيق محمد صبحي حسن حلاق- مكتبة الصحابة- الشارقة- الطبعة العاشرة- 1426هـ.

Hadis ini di HadeethEnc.com

Siapa yang memerdekakan bagiannya dari satu budak, sedangkan jumlah hartanya yang ia miliki (untuk memerdekakan budak itu) mencapai harga budak tersebut, maka budak itu dinilai dengan harga yang adil, lalu ia memberi sekutu-sekutunya sesuai bagian masing-masing, dan budak tersebut merdeka dengan cara ini.

عن عَبْدُ الله بن عمر رضي الله عنهما عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: «مَن أَعْتَقَ شِرْكًا له في عَبْدٍ، فكان له مالٌ يَبْلُغُ ثَمَنَ العَبْدِ: قُوِّمَ عليه قِيمَةَ عَدْلٍ ، فأعطى شُرَكَاءَهُ حِصَصَهُمْ، وعَتَقَ عليه العَبْدُ ، وإلا فقد عَتَقَ منه ما عَتَقَ».
Dari Abdullah bin Umar -raḍiyallāhu 'anhumā- dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, beliau bersabda, "Siapa yang memerdekakan bagiannya dari satu budak, sedangkan jumlah hartanya yang ia miliki (untuk memerdekakan budak itu) mencapai harga budak tersebut, maka budak itu dinilai dengan harga yang adil, lalu ia memberi sekutu-sekutunya sesuai bagian masing-masing, dan budak tersebut merdeka dengan cara ini. Adapun jika ia tidak memiliki harta senilai budak tersebut, maka ia telah memerdekakan bagiannya saja dari budak tersebut."
Muttafaq 'alaihDerajatHadis sahih
Penjelasan

Siapa yang memiliki bagian persekutuan, meskipun sedikit, dalam satu budak laki-laki atau perempuan, kemudian ia memerdekakan bagiannya maka bagiannya tersebut merdeka dengan pembebasan itu. Jika orang yang memerdekakan ini berharta -di mana ia mampu membayar harga bagian sekutunya- maka budak tersebut merdeka secara keseluruhan baik dari segi bagian orang yang memerdekakan ataupun bagian sekutunya. Lalu ia melihat harga bagian sekutunya (pada budak itu) yang setara di pasaran dan memberi sekutunya harga tersebut. Namun jika ia tidak berharta -yakni ia tidak memiliki harta senilai bagian sekutunya- maka pembebasannya tersebut sama sekali tidak merugikan sekutunya karena ia memerdekakan bagiannya saja, sedang bagian sekutunya (pada budak itu) tetap sebagai budak seperti sedia kala.

Rujukan

صحيح البخاري، تحقيق: محمد زهير بن ناصر الناصر، ط1، دار طوق النجاة (مصورة عن السلطانية بإضافة ترقيم: محمد فؤاد عبد الباقي)، 1422هـ. صحيح مسلم، تحقيق: محمد فؤاد عبد الباقي، دار إحياء التراث العربي، بيروت، 1423هـ. تيسير العلام شرح عمدة الأحكام للبسام، حققه وعلق عليه وخرج أحاديثه وصنع فهارسه: محمد صبحي بن حسن حلاق، ط10، مكتبة الصحابة، الأمارات - مكتبة التابعين، القاهرة، 1426هـ.

Hadis ini di HadeethEnc.com

Barangsiapa yang memerdekakan satu bagian dari budak (yang dimiliki bersama), maka ia harus membebaskannya secara keseluruhan dengan hartanya. Namun jika ia tidak memiliki harta, budak itu dihargai dengan adil.

عن أبي هريرة رضي الله عنه عن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: «من أعتق شِقْصَاً مِنْ مملوك، فعليهِ خَلاصُهُ كله في ماله، فإِنْ لم يكن له مال؛ قُوِّمَ المملوك قِيمَةَ عَدْلٍ، ثمَّ اُسْتُسْعِيَ العبد، غير مَشْقُوقٍ عليه».
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- dari Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Barangsiapa yang memerdekakan satu bagian dari budak (yang dimiliki bersama), maka ia harus membebaskannya secara keseluruhan dengan hartanya. Namun jika ia tidak memiliki harta, budak itu dihargai dengan adil, kemudian budak tersebut dipekerjakan (untuk menebus dirinya) tanpa memberatkannya."
Muttafaq 'alaihDerajatHadis sahih
Penjelasan

Orang yang memerdekakan bagiannya dari budak (yang dimiliki bersama), maka orang yang memerdekakan ini harus membebaskan budak tersebut secara keseluruhan, apabila ia memiliki harta. Artinya, orang yang membebaskan tersebut memiliki harta yang cukup untuk memerdekakan, yaitu dengan membayar harga bagian partnernya dalam budak itu supaya menjadi merdeka. Adapun bila ia tidak memiliki harta, atau mempunyai harta namun tidak mencukupi atau berpotensi menimbulkan bahaya pada dirinya, maka dalam kondisi ini budak diberi dua pilihan. Pertama, ia membiarkan dirinya dalam perbudakan sesuai bagian yang belum dimerdekakan sehingga ia menjadi budak muba'aḍ, yakni sebagian dirinya budak dan sebagian lain merdeka. Dalam kondisi seperti ini ia boleh menjadi budak muba'aḍ. Kedua, ia bekerja untuk membayar kepada partner yang belum memerdekakan bagiannya setelah budak ini dihargai secara adil, dan ini disebut al-istis'ā`.

Rujukan

عمدة الأحكام من كلام خير الأنام -صلى الله عليه وسلم- لعبد الغني المقدسي، دراسة وتحقيق: محمود الأرناؤوط، مراجعة وتقديم: عبد القادر الأرناؤوط، دار الثقافة العربية، دمشق، بيروت، مؤسسة قرطبة، الطبعة: الثانية 1408هـ. صحيح البخاري، محمد بن إسماعيل البخاري الجعفي، تحقيق: محمد زهير الناصر، دار طوق النجاة (مصورة عن السلطانية بإضافة ترقيم: محمد فؤاد عبد الباقي)، الطبعة: الأولى 1422هـ. صحيح مسلم، مسلم بن الحجاج القشيري النيسابوري، تحقيق محمد فؤاد عبد الباقي، دار إحياء التراث العربي، بيروت، الطبعة: 1423هـ. تيسير العلام شرح عمدة الأحكام، عبد الله بن عبد الرحمن البسام، تحقيق: محمد صبحي حلاق، مكتبة الصحابة، الأمارات، مكتبة التابعين، القاهرة، الطبعة: العاشرة 1426هـ.

Hadis ini di HadeethEnc.com

Alangkah baiknya andai hamba sahaya itu engkau berikan saja kepada paman dari ibumu, karena yang demikian itu lebih besar pahalanya bagimu.

عن أم المؤمنين ميمونة بنت الحارث رضي الله عنها : أنها أعتقت وَليدَةً ولم تستأذن النبي صلى الله عليه وسلم فلما كان يَومُها الذي يَدورُ عليها فيه، قالت: أشَعَرْتَ يا رسول الله، أني أعتقت وليدتي؟ قال: «أو فعلت؟» قالت: نعم. قال: «أما إنك لو أعطيتها أخوالك كان أعظم لأجرك».
Dari Ummul Mu'minin, Maimūnah binti Al-Ḥāriṣ -raḍiyallāhu 'anhā- bahwasanya ia memerdekakan seorang hamba sahayanya (perempuan) tanpa meminta izin lebih dahulu kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Ketika tiba giliran malam beliau menginap bersamanya, Maimunah berkata, "Apakah engkau sudah tahu, wahai Rasulullah bahwa aku telah memerdekakan hamba sahayaku?" Beliau bertanya, "Apakah itu sudah engkau kerjakan?" Maimunah menjawab, "Ya." Beliau bersabda, "Alangkah baiknya andai hamba sahaya itu engkau berikan saja kepada paman dari ibumu, karena yang demikian itu lebih besar pahalanya bagimu."
Muttafaq 'alaihDerajatHadis sahih
Penjelasan

Makna hadis: Sesungguhnya Ummul Mukminin Maimūnah -raḍiyallāhu 'anhā- telah memerdekakan hamba sahayanya, karena ia mengetahui keutamaan memerdekakan budak sahaya di jalan Allah. Hal itu terjadi tanpa ia beritahukan kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- atau tanpa meminta izin terlebih dahulu dalam memerdekakannya. Saat tiba gilirannya, ia pun memberitahu Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengenai apa yang telah dilakukannya. Beliau bertanya, "Apakah itu sudah engkau kerjakan?" Maimunah menjawab, "Ya." Beliau tidak mengingkari apa yang telah dilakukan Maimunah tanpa lebih dahulu meminta pendapatnya. Hanya saja beliau bersabda kepadanya, "Alangkah baiknya kalau hamba sahaya itu engkau berikan saja kepada paman dari ibumu, karena yang demikian itu lebih besar pahalanya untukmu." Maknanya bahwa apa yang engkau lakukan itu baik. Hanya saja seandainya engkau menghadiahkan budak sahaya itu kepada pamanmu dari pihak ibumu dari Bani Hilal, pasti itu lebih utama dan lebih banyak pahalanya karena di dalamnya mengandung sedekah kepada kerabat dan menyambung silaturrahmi dengannya.

Rujukan

- رياض الصالحين من كلام سيد المرسلين؛ للإمام أبي زكريا النووي، تحقيق د. ماهر الفحل، دار ابن كثير-دمشق، الطبعة الأولى، 1428ه. - بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين؛ تأليف سليم الهلالي، دار ابن الجوزي- الطبعة الأولى1418ه. - نزهة المتقين شرح رياض الصالحين؛ تأليف د. مصطفى الخِن وغيره، مؤسسة الرسالة-بيروت، الطبعة الرابعة عشر، 1407هـ. - صحيح البخاري –الجامع الصحيح-؛ للإمام أبي عبد الله محمد بن إسماعيل البخاري، عناية محمد زهير الناصر، دار طوق النجاة، الطبعة الأولى، 1422هـ. - صحيح مسلم؛ للإمام مسلم بن الحجاج، حققه ورقمه محمد فؤاد عبد الباقي، دار عالم الكتب-الرياض، الطبعة الأولى، 1417هـ. - شرح رياض الصالحين؛ للشيخ محمد بن صالح العثيمين، مدار الوطن، الرياض، 1426هـ. - كنوز رياض الصالحين»، لحمد بن ناصر العمار، دار كنوز إشبيليا- الطبعة الأولى1430ه مرعاة المفاتيح شرح مشكاة المصابيح - أبو الحسن عبيد الله المباركفوري - إدارة البحوث العلمية والدعوة والإفتاء - الجامعة السلفية - بنارس الهند الطبعة: الثالثة - 1404 هـ، 1984.

Hadis ini di HadeethEnc.com

Ada tiga orang yang mendapatkan dua pahala: (1) seorang Ahli Kitab yang beriman kepada nabinya dan beriman kepada Muhammad. (2) budak apabila menunaikan hak Allah dan hak tuannya. (3) seseorang yang memiliki hamba sahaya wanita lalu ia mendidiknya dengan baik dan mengajarinya dengan sebaik-baik pengajaran, memerdekakannya kemudian menikahinya. Baginya dua pahala.

عن أبي موسى الأشعري رضي الله عنه مرفوعاً: «ثلاثة لهم أجْرَان: رجُلٌ من أهل الكتاب آمن بِنَبِيِّه، وآمَن بمحمد، والعَبْد المملوك إذا أَدَّى حَقَّ الله، وحَقَّ مَوَالِيه، ورجل كانت له أمَة فأدَّبَها فأحسن تَأدِيبَها، وَعَلَّمَهَا فأحسن تَعْلِيمَهَا، ثم أعْتَقَها فتزوجها؛ فله أجران».
Dari Abu Musa Al-Asy'ari -raḍiyallāhu 'anhu- secara marfu', "Ada tiga orang yang mendapatkan dua pahala: (1) seorang Ahli Kitab yang beriman kepada nabinya dan beriman kepada Muhammad. (2) budak apabila menunaikan hak Allah dan hak tuannya. (3) seseorang yang memiliki hamba sahaya wanita lalu ia mendidiknya dengan baik dan mengajarinya dengan sebaik-baik pengajaran, memerdekakannya kemudian menikahinya. Baginya dua pahala."
Diriwayatkan oleh BukhariDerajatHadis sahih
Penjelasan

Terdapat tiga golongan manusia yang berhak memperoleh pahala dua kali lipat pada hari ‎kiamat, kemudian dia menyebutkan ketiga golongan tersebut, yaitu: - Seorang lelaki dari kalangan ahli kitab, yaitu dari kaum Yahudi dan ‎Nasrani. Dia beriman kepada Nabi yang telah diutus sebelumnya kepadanya, yaitu Nabi Musa ‎atau Isa -'alaihimā aṣ-ṣalātu was salām-, hal itu adalah sebelum diutusnya Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dan sebelum dakwahnya sampai. Ketika Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- telah diutus, dan dakwahnya telah sampai kepada dirinya, diapun beriman kepadanya. ‎Maka dengan hal ini dia berhak mendapatkan dua pahala; pahala atas keimanannya kepada ‎utusan yang pertama kali diutus kepadanya, dan pahala atas keimanannya kepada -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. - Seorang hamba sahaya jika ia beribadah kepada Allah -Ta'ālā- ‎serta melakukan dengan baik apa yang dibebankan oleh tuannya atas dirinya, maka baginya dua ‎pahala. - Dan seorang lelaki yang memiliki seorang hamba sahaya wanita lalu ia mendidiknya ‎dengan pendidikan yang baik dan juga mengajarinya berbagai perkara agama dari perkara halal ‎dan haram, kemudian ia memerdekakannya dari status kehambasahayaan/perbudakan lalu ‎menikahinya maka baginya dua pahala; pahala pertama atas pengajaran dan kemerdekaan yang ‎telah ia berikan kepadanya, dan pahala kedua atas kebaikan yang dia lakukan setelah ‎memerdekakan yaitu bahwa dia tidak menelantarkannya begitu saja, akan tetapi dia menikahi ‎wanita tersebut, mencukupi kebutuhannya dan menjaga kesuciannya.

Rujukan

نزهة المتقين شرح رياض الصالحين، نشر: مؤسسة الرسالة، الطبعة: الرابعة عشر، 1407ه 1987م. شرح رياض الصالحين، لابن عثيمين، نشر: دار الوطن للنشر، الرياض، الطبعة: 1426ه. بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين، للهلالي، نشر: دار ابن الجوزي. صحيح البخاري، نشر: دار طوق النجاة (مصورة عن السلطانية بإضافة ترقيم محمد فؤاد عبد الباقي)، الطبعة: الأولى، 1422ه. صحيح مسلم، تحقيق: محمد فؤاد عبد الباقي، نشر: دار إحياء التراث العربي – بيروت.

Hadis ini di HadeethEnc.com

Sesungguhnya walā' (perwalian) untuk orang yang memerdekakan.

عن عائشة بنت أبي بكر رضي الله عنهما قالت: كانت في بريرة ثلاث سنن: خُيِّرَتْ على زوجها حين عتقت. وأُهْدِيَ لها لحم، فدخل علي رسول الله صلى الله عليه وسلم والبُرْمَةُ على النار، فدعا بطعام، فَأُتِيَ بخبز وأُدْمٌ من أدم البيت، فقال: ألم أَرَ البرمة على النار فيها لحم؟ قالوا: بلى، يا رسول الله، ذلك لحم تُصدِّق به على بريرة، فكرهنا أن نطعمك منه، فقال: هو عليها صدقة، وهو منها لنا هدية. وقال النبي صلى الله عليه وسلم فيها: إنما الوَلاء لمن أعتق».
Dari Aisyah binti Abi Bakar -raḍiyallāhu 'anhumā- ia berkata, "Dalam kasus Barirah ada tiga sunnah yaitu; dia diberi pilihan atas suaminya ketika dia dimerdekakan, dia juga pernah diberi daging, lalu Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- masuk ke rumahku, ketika itu ada periuk yang sedang dipanasi di atas api. Kemudian beliau meminta dihidangkan makanan, lalu beliau diberi roti dan lauk pauk yang ada di rumah, lalu beliau bertanya: Bukankah tadi saya melihat periuk di atas api yang berisi daging? Mereka menjawab, "Ya, wahai Rasulullah, itu adalah daging yang tadi disedekahkan kepada Barirah, sehingga kami tidak suka untuk memberikannya kepada Engkau." Beliau bersabda, "Daging tersebut bagi Barirah adalah sedekah, sedangkan bagi kita adalah hadiah dari Barirah." Lalu Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda mengenai dirinya, "Sesungguhnya hak perwalian adalah untuk orang yang memerdekakan."
Muttafaq 'alaihDerajatHadis sahih
Penjelasan

Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- menyebutkan keberkahan mantan budak perempuannya yaitu Barirah. Aisyah senang dengan transaksi yang mendekatkannya kepada Barirah, di mana Allah -Ta'ālā- memberlakukan sebagian hukum-hukum-Nya yang lurus berupa tiga sunnah melalui Barirah. (Ketiganya) tetap menjadi syariat umum sepanjang masa. Pertama: dia dimerdekakan dalam kekuasaan suaminya yang masih menjadi hamba sahaya (Mugīṡ). Lantas dia (Barirah) diberi pilihan antara tetap tinggal bersama suaminya berdasarkan pernikahan pertama atau berpisah dengannya. Ternyata dia memilih dirinya sendiri karena suaminya menjadi tidak kufu` (setara) lagi dengannya dalam derajat. Sebab, dia (Barirah) sudah merdeka, sedangkan suaminya masih menjadi hamba sahaya. Al-Kafā`ah (kesetaraan) di sini merupakan sesuatu yang menjadi pertimbangan. Lantas dia memilih dirinya sendiri dan membatalkan pernikahannya sehingga hal ini menjadi sunnah bagi selainnya. Kedua: dia (Barirah) mendapatkan sedekah daging saat dia masih berada di rumah tuannya, Aisyah. Tiba-tiba Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- masuk pada saat daging sedang dimasak di dalam periuk. Lantas beliau meminta makanan lalu dibawakan kepada beliau roti dan salad lauk pauk yang biasanya selalu mereka pakai. Mereka tidak membawakan daging yang disedekahkan kepada Barirah karena mereka tahu bahwa beliau tidak makan sedekah. Beliau bersabda, "Aku tidak melihat periuk yang di dalamnya ada daging?" Mereka menjawab, "Ya. Sesungguhnya daging itu disedekahkan kepada Barirah, dan kami tidak suka memberimu makanan dari daging itu." Beliau bersabda, "Daging itu menjadi sedekah baginya. Sedangkan daging itu darinya menjadi hadiah untuk kita." Ketiga: sesungguhnya keluarga Barirah ketika ingin menjualnya (Barirah) kepada Aisyah, mereka mensyaratkan agar walā`nya (hak perwaliannya) untuk mereka supaya mereka mendapatkan kebanggaan dengannya ketika walā' itu disandangkan kepada mereka, dan mungkin saja dengan walā` itu mereka memperoleh manfaat materil berupa warisan, pertolongan dan sebagainya. Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Sesungguhnya hak perwalian itu untuk orang yang memerdekakan." Bukan milik yang menjual dan bukan juga milik selainnya. Perwalian adalah hubungan antara tuan pemilik dan budak setelah dia dimerdekakan. Maka sang tuan mewarisi (mantan) budaknya jika ia tidak memiliki ahli waris, atau masih ada warisan yang tersisa setelah semua aṣḥābul furūḍ mengambil bagian mereka masing-masing.

Rujukan

تيسير العلام شرح عمدة الأحكام للبسام، حققه وعلق عليه وخرج أحاديثه وصنع فهارسه: محمد صبحي بن حسن حلاق، ط10، مكتبة الصحابة، الإمارات - مكتبة التابعين، القاهرة، 1426 هـ. خلاصة الكلام شرح عمدة الأحكام لفيصل بن عبد العزيز آل المبارك ، ط2، 1412 هـ. الإلمام بشرح عمدة الأحكام لإسماعيل الأنصاري، ط1، دار الفكر، دمشق، 1381ه. صحيح البخاري، تحقيق: محمد زهير بن ناصر الناصر، ط1، دار طوق النجاة (مصورة عن السلطانية بإضافة ترقيم: محمد فؤاد عبد الباقي)، 1422ه. صحيح مسلم، تحقيق: محمد فؤاد عبد الباقي، دار إحياء التراث العربي، بيروت.

Hadis ini di HadeethEnc.com

Seorang budak yang dimiliki tuannya dan saleh, maka baginya dua pahala.

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : «للعبد المملوك المصلح أجران»، والذي نفس أبي هريرة بيده لولا الجهاد في سبيل الله والحج، وبر أمي، لأحببت أن أموت وأنا مملوك.
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-, dia berkata, Rasulullah -ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam- bersabda, "Seorang budak yang dimiliki tuannya dan saleh memiliki dua pahala." Demi Yang jiwa Abu Hurairah di tangan-Nya, seandainya bukan karena Jihad di jalan Allah, haji dan berbakti kepada ibuku, sungguh aku suka jika diriku mati dalam keadaan sebagai budak."
Muttafaq 'alaihDerajatHadis sahih
Penjelasan

Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, "Rasulullah -ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam- bersabda, "Seorang hamba sahaya yang dimiliki tuannya dan dia patuh kepada tuannya, juga menunaikan hak Tuhannya, maka baginya dua pahala; karena dia menunaikan hak Allah -Ta'ālā- dan menunaikan hak tuannya dalam bentuk pelayanan. Kemudian Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- mengabarkan bahwa kalau bukan karena budak itu tidak diwajibkan berjihad, dan seandainya dia tidak sedang berbakti kepada ibunya dengan memberi nafkah dan pelayanan, maka sungguh beliau lebih suka mati dalam keadaan sebagai budak karena pahala yang bakal didapat oleh budak."

Rujukan

صحيح البخاري، نشر: دار طوق النجاة (مصورة عن السلطانية بإضافة ترقيم ترقيم محمد فؤاد عبد الباقي)، الطبعة: الأولى، 1422ه. صحيح مسلم, ترقيم محمد فؤاد عبد الباقي, دار إحياء التراث العربي, بيروت. نزهة المتقين شرح رياض الصالحين، لمجموعة من الباحثين, مؤسسة الرسالة, الطبعة الرابعة عشر, 1407ه. دليل الفالحين لطرق رياض الصالحين، لمحمد بن علان الصديقي, دار الكتاب العربي. كنوز رياض الصالحين، بإشراف حمد العمار, دار كنوز إشبيليا, الطبعة الأولى, 1430ه. بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين، لسليم الهلالي, دار ابن الجوزي. شرح رياض الصالحين لابن عثيمين، دار مدار الوطن للنشر، الرياض, الطبعة : 1426 هـ.

Hadis ini di HadeethEnc.com

Siapa membebaskan seorang hamba sahaya Muslim, Allah pasti membebaskan dengan setiap anggota badan hamba sahaya itu setiap anggota tubuh orang yang memerdekakannya dari neraka, hingga kemaluan dengan kemaluannya.

عن أبي هريرة رضي الله عنه مرفوعاً: «من أعتق رقبة مسلمة أعتق الله بكل عضو منه، عضوًا منه في النار، حتى فرجه بفرجه».
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- secara marfū', "Siapa membebaskan seorang hamba sahaya Muslim, Allah pasti membebaskan dengan setiap anggota badan hamba sahaya itu setiap anggota tubuh orang yang memerdekakannya dari neraka, hingga kemaluan dengan kemaluannya."
Muttafaq 'alaihDerajatHadis sahih
Penjelasan

Hadis ini mengandung penjelasan keutamaan memerdekakan hamba sahaya Muslim. Orang yang memerdekakan hamba sahaya bagaikan membebaskan setiap anggota tubuhnya dari neraka. Memerdekakan hamba sahaya berarti merealisasikan kemuliaan bagi kaum Muslimin dengan melenyapkan kehinaan perbudakan dari mereka.

Rujukan

صحيح البخاري، تحقيق محمد الناصر، دار طوق النجاة المصورة عن السلطانية الطبعة الأولى 1422. صحيح مسلم, ترقيم محمد فؤاد عبد الباقي, دار إحياء التراث العربي, بيروت. نزهة المتقين شرح رياض الصالحين، لمجموعة من الباحثين, مؤسسة الرسالة, الطبعة الرابعة عشر, 1407ه. دليل الفالحين لطرق رياض الصالحين لمحمد بن علان الصديقي, دار الكتاب العربي. كنوز رياض الصالحين، بإشراف حمد العمار, دار كنوز إشبيليا, الطبعة الأولى, 1430ه. بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين، لسليم الهلالي, دار ابن الجوزي. شرح رياض الصالحين لابن عثيمين، دار مدار الوطن للنشر، الرياض, الطبعة : 1426 هـ. تطريز رياض الصالحين، لفيصل بن عبد العزيز المبارك النجدي, تحقيق: عبد العزيز آل حمد, دار العاصمة , الطبعة: الأولى، 1423 هـ.

Hadis ini di HadeethEnc.com
8 dari 13
13 hadis
  1. Seorang laki-laki dari kalangan Ansar hendak memerdekakan budaknya sepeninggal dirinya.
  2. Siapa yang memerdekakan bagiannya dari satu budak, sedangkan jumlah hartanya yang ia miliki (untuk memerdekakan budak itu) mencapai harga budak tersebut, maka budak itu dinilai dengan harga yang adil, lalu ia memberi sekutu-sekutunya sesuai bagian masing-masing, dan budak tersebut merdeka dengan cara ini.
  3. Barangsiapa yang memerdekakan satu bagian dari budak (yang dimiliki bersama), maka ia harus membebaskannya secara keseluruhan dengan hartanya. Namun jika ia tidak memiliki harta, budak itu dihargai dengan adil.
  4. Alangkah baiknya andai hamba sahaya itu engkau berikan saja kepada paman dari ibumu, karena yang demikian itu lebih besar pahalanya bagimu.
  5. Ada tiga orang yang mendapatkan dua pahala: (1) seorang Ahli Kitab yang beriman kepada nabinya dan beriman kepada Muhammad. (2) budak apabila menunaikan hak Allah dan hak tuannya. (3) seseorang yang memiliki hamba sahaya wanita lalu ia mendidiknya dengan baik dan mengajarinya dengan sebaik-baik pengajaran, memerdekakannya kemudian menikahinya. Baginya dua pahala.
  6. Sesungguhnya walā' (perwalian) untuk orang yang memerdekakan.
  7. Seorang budak yang dimiliki tuannya dan saleh, maka baginya dua pahala.
  8. Siapa membebaskan seorang hamba sahaya Muslim, Allah pasti membebaskan dengan setiap anggota badan hamba sahaya itu setiap anggota tubuh orang yang memerdekakannya dari neraka, hingga kemaluan dengan kemaluannya.
  9. Aku adalah anak ketujuh dari tujuh bersaudara dari Bani Muqarrin. Kami hanya memiliki seorang pelayan (hamba sahaya). Pada suatu ketika, saudara kami yang paling kecil menamparnya. Lantas Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memerintahkan kami untuk memerdekakannya.
  10. Sesungguhnya salat ini tidak sepantasnya terdapat ucapan manusia di dalamnya. Sesungguhnya ucapan yang pantas hanyalah tasbih, takbir, dan bacaan Al-Qur'ān.
  11. Walā` (hak perwalian budak) bagi orang yang memberikan nikmat
  12. Siapa saja yang memerdekakan seorang muslim maka Allah akan menyelamatkan setiap anggota tubuhnya dari api neraka sebagai tebusan setiap anggota tubuh orang yang dimerdekakannya.
  13. Seorang mukatab tetap sebagai seorang budak selama ia belum menyelesaikan tanggungan pembebasannya meskipun satu dirham

Setiap hadis, derajat, penjelasan, dan faedah di sini ditampilkan persis sebagaimana diterbitkan HadeethEnc.com, menurut ketentuan penerbitan ulangnya. Derajat itu tidak menyebut siapa yang menilainya. Terjemahan dan penjelasan adalah karya para penyusunnya, dan sebagian menyebutkan hukum; para peninjau Sabīl belum memeriksanya. Hadis berbahasa Arablah teksnya. Sumber: HadeethEnc.com