Langsung ke konten
Hadis dengan penjelasan

Tafsir Al-Qur`ān

17 hadis

Umar -raḍiyallāhu 'anhu- mengajakku bergabung dengan tokoh-tokoh senior perang Badar. Tampak sebagian mereka merasakan gerah di dirinya

عن عبد الله ابن عباس رضي الله عنهما كان عمر رضي الله عنه يُدْخِلُنِي مع أَشْيَاخِ بَدْرٍ فَكَأَنَّ بَعْضَهُم وَجَدَ في نفسه، فقال: لم يُدْخِلُ هذا معنا ولنا أبناءٌ مثله؟! فقال عمر: إنه من حَيْثُ عَلِمْتُمْ! فدعاني ذاتَ يومٍ فأَدَخَلَنِي مَعَهُمْ فما رأيتُ أنه دعاني يَوْمَئِذٍ إلا لِيُرِيَهُم، قال: ما تقولون في قول الله:(إذا جاء نصر الله والفتح)، [الفتح: 1]، فقال بعضهم: أَمَرَنَا نَحْمَدُ اللهَ ونَسْتَغْفِرُهُ إذا نصرنا وفَتَحَ علينا، وسكتَ بعضُهُم فَلَمْ يَقُلْ شيئًا، فقال لي: أكذلك تقولُ يا ابنَ عباس؟ فقلت: لا، قال: فما تقول؟ قلت: هو أَجَلُ رسولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم أَعْلَمَهُ له، قال: "إذا جاء نصر الله والفتح" وذلك علامةُ أجلِكَ، "فسبح بحمد ربك واستغفره إنه كان توابا" فقال عمر رضي الله عنه : مَا أَعْلَمُ مِنْهَا إلَّا مَا تَقُولُ.
Dari Abdullah bin Abbas -raḍiyallāhu 'anhuma-, ia berkata, "Umar -raḍiyallāhu 'anhu- mengajakku bergabung dengan tokoh-tokoh senior perang Badar. Tampak sebagian mereka merasakan gerah di dirinya dan berkata, "Kenapa pemuda ini dimasukkan ke dalam kelompok senior, padahal kita mempunyai anak yang sebaya dengannya?" Umar menjawab, "Itulah penilaian kalian terhadapnya." Pada suatu hari Umar memanggilku dan memasukkanku bersama mereka. Aku tahu bahwa Umar memanggilku pada hari itu adalah untuk menunjukkan (kelebihanku) kepada mereka. Umar berkata: "Apakah pendapat kalian tentang firman Allah -Ta'ālā-, 'Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan?' (An-Naṣr: 1). Sebagian mereka menjawab, "Kita diperintahkan untuk memuji Allah dan memohon ampunan-Nya apabila kita mendapat pertolongan dan kemenangan." Sebagian yang lain terdiam tanpa ada yang mengatakan apapun." Lantas Umar bertanya kepadaku, "Apakah pendapatmu juga seperti itu, wahai Ibnu Abbas?" Aku jawab, "Tidak." Umar bertanya, "Lantas apa pendapatmu?" Aku jawab, "Ayat itu merupakan (isyarat dekatnya) ajal Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- yang diberitahukan oleh Allah kepada beliau. Allah berfirman, "Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan." Dan itu adalah tanda dekatnya ajalmu. "Maka sucikanlah dengan memuji Rabbmu dan mohonlah ampunan kepada-Nya karena Dia-lah Zat Yang Maha Penerima Taubat." Umar -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, "Aku tidak mengetahui maksud ayat itu melain seperti apa yang kamu katakan."
Diriwayatkan oleh BukhariDerajatHadis sahih
Penjelasan

Diantara tradisi Umar -raḍiyallāhu 'anhu- bahwasanya ia selalu bermusyawarah dengan para tokoh berbagai permasalahan yang dihadapinya. Ia melibatkan Abdullah bin Abbas bersama tokoh-tokoh perang Badar dan sahabat senior, padahal usia Ibnu Abbas masih muda dibandingkan dengan mereka. Tentu saja hal ini membuat mereka tersinggung. Bagaimana mungkin Ibnu Abbas -raḍiyallāhu 'anhumā- dilibatkan bersama mereka, sedangkan putra-putra mereka tidak. Maka Umar ingin memperlihatkan kepada mereka kedudukan Abdullah bin Abbas -raḍiyallāhu 'anhumā- dari segi ilmu, kepintaran dan kecerdasan. Lantas ia mengumpulkan para sahabat tersebut dan memanggil Ibnu Abbas. Ia menyodorkan kepada mereka surat berikut ini: "Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan. Dan engkau lihat manusia berbondong-bondong masuk ke dalam agama Allah, maka sucikanlah dengan memuji Rabbmu dan mohonlah ampunan kepada-Nya karena Dia-lah Zat Yang Maha Penerima Taubat." Para sahabat terbagi menjadi dua kelompok; Satu kelompok diam dan satu kelompok lagi berkata, "Kita diperintahkan untuk memohon ampunan atas dosa-dosa kita, memuji Allah dan bertasbih dengan memuji-Nya apabila kita mendapat pertolongan dan kemenangan." Umar ingin mengetahui konklusi surat tersebut dan tidak ingin tahu arti struktural dari lafal dan kalimatnya. Lantas ia bertanya kepada Ibnu Abbas -raḍiyallāhu 'anhumā-, "Apa pendapatmu tentang surat ini? Ibnu Abbas menjawab, "Ayat itu merupakan ajal Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, maksudnya tanda dekatnya ajal beliau. Allah memberinya ayat "Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan." Yakni, penaklukan kota Makkah. Itu adalah tanda dekatnya ajalmu. "Maka sucikanlah dengan memuji Rabbmu dan mohonlah ampunan kepada-Nya karena Dia-lah Zat Yang Maha Penerima Taubat." Umar berkata, "Saya tidak mengetahui maksud ayat itu kecuali apa yang kamu ketahui." Dengan demikian, tampaklah keutamaan Abdullah bin Abbas -raḍiyallāhu 'anhumā-.

Rujukan

صحيح البخاري، للإمام أبي عبد الله محمد بن إسماعيل البخاري، عناية محمد زهير الناصر، دار طوق النجاة، الطبعة الأولى، 1422هـ. - صحيح مسلم، للإمام مسلم بن الحجاج، حققه ورقمه محمد فؤاد عبد الباقي، دار عالم الكتب، الرياض، الطبعة الأولى، 1417هـ. - كنوز رياض الصالحين، لحمد بن ناصر العمار، دار كنوز إشبيليا، الطبعة الأولى، 1430ه. - شرح رياض الصالحين، للشيخ محمد بن صالح العثيمين، مدار الوطن، الرياض، 1426هـ. - نزهة المتقين بشرح رياض الصالحين، تأليف مصطفى سعيد الخن، مصطفى البغا، محي الدين مستو، علي الشربجي، محمد أمين لطفي، مؤسسة الرسالة، بيروت، لبنان، الطبعة الرابعة عشرة، 1407ه. - بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين، سليم بن عيد الهلالي، دار ابن الجوزي، الطبعة الأولى، 1418ه. - دليل الفالحين لطرق رياض الصالحين، المؤلف: محمد علي بن محمد بن علان الصديقي، اعتنى بها: خليل مأمون شيحا، دار المعرفة للطباعة والنشر والتوزيع، بيروت – لبنان - الطبعة: الرابعة، 1425هـ - 2004م.

Hadis ini di HadeethEnc.com

Wahai pamanku! Ucapkanlah, 'Lā ilāha illallāh'; sebuah kalimat yang dapat aku gunakan untuk membelamu di sisi Allah

عن سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ، عَنْ أَبِيهِ قَالَ: لَمَّا حَضَرَتْ أَبَا طَالِبٍ الْوَفَاةُ، جَاءَهُ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم فَوَجَدَ عِنْدَهُ أَبَا جَهْلٍ وَعَبْدَ اللهِ بْنَ أَبِي أُمَيَّةَ بْنِ الْمُغِيرَةِ، فَقَالَ: «أَيْ عَمِّ، قُلْ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، كَلِمَةً أُحَاجُّ لَكَ بِهَا عِنْدَ اللهِ»، فَقَالَ أَبُو جَهْلٍ وَعَبْدُ اللهِ بْنُ أَبِي أُمَيَّةَ: أَتَرْغَبُ عَنْ مِلَّةِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ، فَلَمْ يَزَلْ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَعْرِضُهَا عَلَيْهِ، وَيُعِيدَانِهِ بِتِلْكَ الْمَقَالَةِ، حَتَّى قَالَ أَبُو طَالِبٍ آخِرَ مَا كَلَّمَهُمْ: عَلَى مِلَّةِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ، وَأَبَى أَنْ يَقُولَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: «وَاللهِ لَأَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ مَا لَمْ أُنْهَ عَنْكَ»، فَأَنْزَلَ اللهُ: {مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ} [التوبة: 113]، وَأَنْزَلَ اللهُ فِي أَبِي طَالِبٍ، فَقَالَ لِرَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم: {إِنَّكَ لا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ} [القصص: 56].
Sa'īd bin Al-Musayyib meriwayatkan, ayahnya berkata, "Menjelang Abu Ṭālib wafat, Rasulullah ﷺ datang menjenguknya dan beliau mendapati Abu Jahal dan Abdullah bin Abu Umayyah bin Al-Mugīrah ada di sisinya. Beliau berkata, "Wahai pamanku! Ucapkanlah, 'Lā ilāha illallāh'; sebuah kalimat yang dapat aku gunakan untuk membelamu di sisi Allah." Abu Jahal dan Abdullah bin Abu Umayyah berkata, "Apakah kamu membenci agama Abdul Muṭṭalib?" Rasulullah ﷺ terus mengajaknya mengucapkan itu, dan kedua orang tersebut juga mengulangi kata itu kepadanya. Hingga Abu Ṭālib berkata di akhir ucapannya kepada mereka, "Tetap di atas agama Abdul Muṭṭalib." Dia enggan mengucapkan "lā ilāha illallāh". Rasulullah ﷺ bersabda, "Demi Allah, sungguh aku akan memohon ampunan untukmu selama aku tidak dilarang memintanya untukmu." Maka Allah menurunkan, "Tidak pantas bagi Nabi dan orang-orang yang beriman untuk memohonkan ampunan (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik." [QS. At-Taubah: 113] Allah juga menurunkan ayat tentang Abu Ṭālib, yaitu Allah berfirman kepada Rasulullah ﷺ, "Sungguh, engkau (Muhammad) tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang Dia kehendaki." [QS. Al-Qaṣaṣ: 56]."
Muttafaq 'alaihDerajatSahih
Penjelasan

Nabi ﷺ datang menemui pamannya, Abu Ṭālib, ketika sedang sekarat, lalu beliau berkata: Wahai pamanku! Ucapkanlah "lā ilāha illallāh"; sebuah kalimat yang dapat aku gunakan untuk membelamu di sisi Allah. Abu Jahal dan Abdullah bin Abu Umayyah berkata: Wahai Abu Ṭālib! Apakah kamu akan meninggalkan agama ayahmu, Abdul Muṭṭalib? Yaitu menyembah berhala. Keduanya terus-menerus berbicara kepadanya hingga ia mengucapkan kalimat terakhir yang disampaikannya: "Tetap di atas agama Abdul Muṭṭalib", yaitu agama kesyirikan dan penyembahan berhala. Kemudian Nabi ﷺ bersabda: Aku akan memohon ampunan untukmu selama Tuhanku tidak melarangku dari hal itu. Maka turunlah firman Allah Ta'ala, "Tidak pantas bagi Nabi dan orang-orang yang beriman untuk memohonkan ampunan (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, sekalipun orang-orang itu kaum kerabat-(nya), setelah jelas bagi mereka, bahwa orang-orang musyrik itu penghuni neraka Jahannam." [QS. At-Taubah: 113]. Dan turun pula terkait Abu Ṭālib, firman Allah Ta'ala, "Sungguh, engkau (Muhammad) tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang Dia kehendaki, dan Dia lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk." [QS. Al-Qaṣaṣ: 56]. Engkau tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang kauinginkan hidayah untuknya, karena kewajibanmu adalah menyampaikan, dan Allah-lah yang menunjuki siapa yang Dia kehendaki.

Faedah
  1. 1- Haram memohonkan ampunan bagi orang-orang musyrik, walau seperti apa pun kekerabatan, amalan, dan kebaikan mereka.
  2. 2- Mengikuti nenek moyang dan orang-orang besar dalam kebatilan merupakan perbuatan ahli jahiliah.
  3. 3- Kesempurnaan kasih sayang Nabi ﷺ dan kesungguhan beliau dalam mendakwahi manusia dan memberi mereka petunjuk.
  4. 4- Bantahan terhadap orang yang mengira keislaman Abu Ṭālib.
  5. 5- Amalan tergantung penutupnya.
  6. 7- Batilnya tindakan bergantung kepada Nabi ﷺ dan yang lainnya untuk mendatangkan manfaat atau menolak bahaya.
  7. 8- Orang yang mengucapkan "lā ilāha illallāh" atas dasar ilmu, yakin, dan keimanan, maka ia telah masuk Islam.
  8. 9- Bahaya memiliki teman buruk dan jahat.
  9. 10- Makna "lā ilāha illallāh" ialah meninggalkan penyembahan terhadap berhala, para wali, dan orang-orang saleh; mengesakan Allah dalam ibadah. Orang-orang musyrik sebenarnya mengetahui maknanya.
  10. 11- Boleh menjenguk orang musyrik yang sedang sakit jika diharapkan keislamannya.
  11. 12- Hidayah taufik di tangan Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, sedangkan Rasul ﷺ hanya bertugas mengemban hidayah petunjuk, bimbingan, dan penyampaian.
Rujukan

صحيح البخاري (6/ 112) (4772). صحيح مسلم (1/ 54) (24). الملخص في شرح كتاب التوحيد، لصالح الفوزان (ص155). الجديد في شرح كتاب التوحيد، للقرعاوي (ص169).

Hadis ini di HadeethEnc.com

Ibnu Abbas berkata, "Jika (seorang suami) mengharamkan istrinya, maka itu bukan talak." Ia membaca ayat, "Telah ada untuk kalian pada Rasulullah teladan yang baik."

عن ابن عباس رضي الله عنهما أنه كان يقول: «إذا حَرَّمَ امرأته ليس بشيء» وقال: {لقد كان لكم في رسول الله أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ} [الأحزاب: 21]
Dari Ibnu Abbas -raḍiyallāhu 'anhumā- bahwasannya dia berkata, "Jika (seorang suami) mengharamkan istrinya, maka itu bukan talak." Ia membaca ayat, "Telah ada untuk kalian pada Rasulullah teladan yang baik." (Al-Aḥzāb: 21).
Diriwayatkan oleh BukhariDerajatHadis sahih
Penjelasan

Makna aṡar tersebut bahwa jika seorang suami berkata kepada istrinya, "Engkau haram bagiku atau menjadi haram dan sebagainya," maka (ucapan) itu bukan pengharaman yang berarti talak, tetapi merupakan sumpah yang mengharuskan pembayaran kafarat sumpah. Sebagaimana Allah -Ta'ālā- berfirman, "Wahai Nabi! Mengapa engkau mengharamkan apa yang dihalalkan Allah bagimu? Engkau ingin menyenangkan hati istri-istrimu? Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. Sungguh, Allah telah mewajibkan kepadamu membebaskan diri dari sumpahmu." (At-Taḥrīm: 1-2) Yakni, Allah telah mensyariatkan bagi kalian tentang pembebasan sumpah-sumpah kalian dengan membayarkan kafarat yang disebutkan dalam surah Al-Mā`idah.

Rujukan

- البدرُ التمام شرح بلوغ المرام، للمغربي. الناشر: دار هجر. الطبعة: الأولى. - توضِيحُ الأحكَامِ مِن بُلوُغ المَرَام، للبسام. مكتَبة الأسدي، مكّة المكرّمة.الطبعة: الخامِسَة، 1423 هـ - 2003 م - بلوغ المرام من أدلة الأحكام، لابن حجر. دار القبس للنشر والتوزيع، الرياض - المملكة العربية السعودية الطبعة: الأولى، 1435 هـ - 2014 م - فتح ذي الجلال والاكرام بشرح بلوغ المرام، للشيخ ابن عثيمين، المكتبة الإسلامية - الطبعة الأولى 1427 - 2006م - صحيح البخاري، تحقيق: محمد زهير بن ناصر الناصر، ط1، دار طوق النجاة (مصورة عن السلطانية بإضافة ترقيم: محمد فؤاد عبد الباقي)، 1422هـ. - عمدة القاري شرح صحيح البخاري، للعيني. الناشر: دار إحياء التراث العربي – بيروت. - اللامع الصبيح بشرح الجامع الصحيح، للبِرْماوي. الناشر: دار النوادر، سوريا.الطبعة: الأولى، 1433 هـ - 2012 م - فتاوى اللجنة الدائمة - المجموعة الأولى- : اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء- جمع وترتيب: أحمد بن عبد الرزاق الدويش.

Hadis ini di HadeethEnc.com

Telah diturunkan kepadaku suatu ayat yang lebih aku sukai daripada dunia semuanya

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضيَ اللهُ عنهُ قَالَ: لَمَّا نَزَلَتْ: {إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُبِينًا لِيَغْفِرَ لَكَ اللهُ} إِلَى قَوْلِهِ {فَوْزًا عَظِيمًا} [الفتح: ١-٥] مَرْجِعَهُ مِنَ الْحُدَيْبِيَةِ، وَهُمْ يُخَالِطُهُمُ الْحُزْنُ وَالْكَآبَةُ، وَقَدْ نَحَرَ الْهَدْيَ بِالْحُدَيْبِيَةِ، فَقَالَ: «لَقَدْ أُنْزِلَتْ عَلَيَّ آيَةٌ هِيَ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنَ الدُّنْيَا جَمِيعًا».
Anas bin Mālik -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Tatkala turun ayat: "Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata, supaya Allah memberi ampunan kepadamu ..." hingga firman-Nya: "... suatu keuntungan yang besar" (QS. Al-Fatḥ: 1-5), yaitu sekembalinya beliau dari Hudaibiyah, sementara para sahabat dirundung kesedihan dan kejengkelan, serta beliau ﷺ sendiri telah menyembelih hewan kurbannya di Hudaibiyah, beliau bersabda, "Telah diturunkan kepadaku suatu ayat yang lebih aku sukai daripada dunia semuanya."
HR. MuslimDerajatSahih
Penjelasan

Anas bin Mālik -raḍiyallāhu 'anhu- mengabarkan, ketika turun pada Rasulullah ﷺ firman Allah Ta'ala: Sungguh, Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata, agar Allah memberikan ampunan kepadamu (Muhammad) atas dosamu yang lalu dan yang akan datang, serta menyempurnakan nikmat-Nya atasmu dan menunjukimu ke jalan yang lurus, dan agar Allah menolongmu dengan pertolongan yang kuat (banyak). Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin untuk menambah keimanan atas keimanan mereka (yang telah ada). Milik Allahlah tentara langit dan bumi dan Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana. Agar Dia masukkan orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya, dan agar Dia menghapus kesalahan-kesalahan mereka. Yang demikian itu menurut Allah suatu keuntungan yang besar." (QS. Al-Fatḥ: 1-5) Waktu itu adalah saat beliau pulang dari Hudaibiyah, sementara para sahabat digeluti rasa sedih dan susah karena mereka dihalangi menunaikan umrah lantaran perjanjian yang beliau sepakati dan prasangka mereka bahwa itu tidak membawa kebaikan untuk umat Islam, serta mereka pun telah melakukan penyembelihan hewan kurban di Hudaibiyah. Maka beliau ﷺ bersabda: Telah diturunkan kepadaku sebuah ayat yang lebih aku sukai daripada dunia semuanya. Kemudian beliau membacanya.

Faedah
  1. 1- Menjelaskan besarnya nikmat yang Allah Ta'ala berikan kepada Nabi-Nya Muhammad ﷺ berupa penaklukan yang besar pada perjanjian Hudaibiyah, yaitu Allah berfirman, "Sungguh, Kami telah memberimu kemenangan yang nyata ...."
  2. 2- Menjelaskan nikmat yang Allah Ta'ala berikan kepada para sahabat -raḍiyallāhu 'anhum- manakala mereka tunduk dan patuh pada perintah-Nya, yaitu diturunkannya firman Allah Ta'ala untuk mereka: "Agar Dia masukkan orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai." (QS. Al-Fatḥ: 5)
  3. 3- Menjelaskan karunia Allah kepada Nabi-Nya dan orang-orang beriman dengan menjanjikan mereka kemenangan.
  4. 4- Ketika menafsirkan ayat ini: "Sungguh Kami telah memberimu kemenangan yang nyata" (QS. Al-Fatḥ: 1), As-Sa'diy berkata, "Kemenangan yang disebutkan ini adalah perjanjian Hudaibiyah, yaitu saat orang-orang musyrik menghalangi Rasulullah ﷺ waktu beliau datang untuk berumrah di dalam kisah yang panjang, di mana ujungnya Rasulullah ﷺ berdamai dengan mereka untuk menghentikan perang selama sepuluh tahun, beliau akan berumrah di tahun depan, siapa pun bebas masuk dalam perjanjian dan sekutu Quraisy dan siapa pun bebas masuk ke dalam perjanjian dan sekutu Rasulullah ﷺ. Dengan sebab itu, ketika mereka saling memberi jaminan satu sama lain, ranah mendakwahkan agama Allah ﷻ menjadi semakin luas, setiap orang beriman dapat berada di mana pun dalam daerah-daerah tersebut dan orang yang ingin mempelajari hakikat Islam dapat melakukannya sehingga umat manusia pada rentang waktu itu berbondong-bondong masuk ke dalam Islam. Oleh sebab itu, Allah menamainya sebagai kemenangan, bahkan menyifatinya sebagai kemenangan nyata yang terlihat jelas. Alasannya, karena tujuan penaklukan negeri-negeri kaum musyrikin adalah meninggikan agama Allah dan kemenangan umat Islam, dan itu semua terjadi dengan sebab perjanjian itu."
Rujukan

صحيح مسلم (3/ 1413) (1786). تفسير القرطبي (16/ 259-265). البحر المحيط الثجاج في شرح صحيح الإمام مسلم بن الحجاج (31/ 234).

Hadis ini di HadeethEnc.com

Setiap hadis, derajat, penjelasan, dan faedah di sini ditampilkan persis sebagaimana diterbitkan HadeethEnc.com, menurut ketentuan penerbitan ulangnya. Derajat itu tidak menyebut siapa yang menilainya. Terjemahan dan penjelasan adalah karya para penyusunnya, dan sebagian menyebutkan hukum; para peninjau Sabīl belum memeriksanya. Hadis berbahasa Arablah teksnya. Sumber: HadeethEnc.com