عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : إذا قرأتم: الحمد لله فاقرءوا: ﴿بسم الله الرحمن الرحيم﴾ إنها أم القرآن، وأم الكتاب، والسبع المثاني، و﴿بسم الله الرحمن الرحيم﴾ إحداها.
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- ia berkata: Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, “Jika kalian membaca: Alḥamdulillāh (surah Al-Fātiḥah) maka bacalah: bismillāhirraḥmānirraḥim, karena ia adalah Ummul Qur`ān, Ummul Kitāb, dan tujuh rangkaian ayat, dan bismillāhirraḥmānirraḥim salah satu ayatnya."
Diriwayatkan oleh Baihaqi - Diriwayatkan oleh DaruquṭniDerajatHadis sahih
Penjelasan
Hadis yang mulia ini menjelaskan tentang disyariatkannya membaca basmalah sebelum membaca Al-Fātiḥah dalam salat, karena basmalah termasuk bagian dari surah Al-Fātiḥah. Maksudnya adalah membacanya secara sir (dengan suara pelan) bukan jahr (dengan suara keras). Keterangan tentang hal tersebut disebutkan dalam banyak hadis dan lebih sahih. Aṭ-Ṭaḥāwi berkata, "Sesungguhnya meninggalkan jahr dalam membaca basmalah di dalam salat telah mutawatir dari Nabi ṣallallāhu 'alaihi wa sallam dan para khalifah beliau."
Rujukan
سنن الدارقطني، تحقيق: شعيب الأرنؤوط وآخرون، ط1، مؤسسة الرسالة، بيروت، لبنان، 1424 هـ.
صحيح الجامع الصغير وزيادته للألباني، ط3، المكتب الإسلامي، بيروت، 1408هـ.
سنن البيهقي الكبرى، أحمد بن الحسين أبو بكر البيهقي، مكتبة دار الباز، مكة المكرمة، 1414هـ – 1994م، تحقيق: محمد عبد القادر عطا.
توضيح الأحكام من بلوغ المرام، لعبدالله بن عبد الرحمن البسام، مكتبة الأسدي، مكة، ط الخامسة 1423هـ.
عن علي بن أبي طالب رضي الله عنه أنه قال: «أنا أَوَّلُ من يَجْثُو بين يَدَيِ الرحمن للخُصُومة يوم القيامة» وقال قيس بن عباد: وفيهم أُنْزِلَتْ : {هذان خصمان اخْتَصَمُوا في ربهم} [الحج: 19] قال: "هم الذين تَبَارَزُوا يوم بَدْرٍ: حمزة، وعلي، وَعُبَيْدَةُ، أو أبو عبيدة بن الحارث، وَشَيْبَةُ بن رَبِيعَةَ، وعتبة بن رَبِيعَةَ، والوليد بن عُتْبَةُ".
Ali bin Abu Ṭālib -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, "Aku adalah orang pertama yang akan berlutut di hadapan Allah Yang Maha Pengasih untuk berperkara pada hari Kiamat." Qais bin 'Ubād berkata, "Pada merekalah turun ayat: 'Inilah dua golongan (golongan mukmin dan kafir) yang bertengkar, mereka bertengkar mengenai Tuhan mereka.' (QS. Al-Ḥajj: 19). Yaitu orang-orang yang bertanding pada perang Badar, yaitu: Hamzah, Ali, 'Ubaidah atau Abu 'Ubaidah bin Al-Ḥāriṡ menghadapi Syaibah bin Rabī'ah, 'Utbah bin Rabī'ah, dan Al-Walīd bin 'Utbah."
Diriwayatkan oleh BukhariDerajatHadis sahih
Penjelasan
Aṡar dari Ali bin Abu Ṭālib -raḍiyallāhu 'anhu- ini menceritakan tentang dirinya bahwa dia adalah orang pertama yang akan duduk berlutut pada hari Kiamat untuk disidang di hadapan Allah, Rabb semesta alam. Juga, bahwa ayat ini: "Inilah dua golongan (golongan mukmin dan kafir) yang bertengkar, mereka bertengkar mengenai Tuhan mereka" turun padanya bersama Hamzah dan Abu 'Ubaidah -raḍiyallāhu 'anhum- ketika mereka melakukan duel tanding melawan tokoh-tokoh kafir pada perang Badar, yaitu Syaibah bin Rabī'ah, 'Utbah bin Rabī'ah, dan Al-Walīd bin 'Utbah. Hal ini menunjukkan bolehnya melakukan duel tanding -bertanding dengan pedang antara dua orang- sebelum memulai peperangan.
Rujukan
صحيح البخاري -الجامع الصحيح-؛ للإمام أبي عبد الله محمد بن إسماعيل البخاري، عناية محمد زهير الناصر، دار طوق النجاة، الطبعة الأولى، 1422هـ.
البدرُ التمام شرح بلوغ المرام، الحسين بن محمد بن سعيد، المعروف بالمَغرِبي، المحقق: علي بن عبد الله الزبن: دار هجر الطبعة: الأولى، 1414 هـ - 1994 م.
إرشاد الساري لشرح صحيح البخاري، أحمد بن محمد بن أبى بكر القسطلاني القتيبي المصري، المطبعة الكبرى الأميرية، مصر- الطبعة: السابعة، 1323 هـ.
منحة العلام في شرح بلوغ المرام: تأليف عبد الله الفوزان، طبعة دار ابن الجوزي، الطبعة الأولى 1428.
توضيح الأحكام شرح بلوغ المرام: تأليف عبد الله البسام، مكتبة الأسدي، مكة المكرمة، الطبعة: الخامِسَة، 1423 هـ - 2003 م.
تسهيل الإلمام بفقه الأحاديث من بلوغ المرام: تأليف الشيخ صالح الفوزان، عناية عبد السلام السليمان، مؤسسة الرسالة الطبعة الأولى.
فتح ذي الجلال والإكرام بشرح بلوغ المرام، للشيخ ابن عثيمين، المكتبة الإسلامية بالقاهرة، تحقيق صبحي رمضان وأم إسراء بيومي، الطبعة الأولى 1427.
عن عقبة بن عامر قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم وهو على المنبر، يقول: "{وأعدوا لهم ما استطعتم من قوة} [الأنفال: 60]، ألا إن القُوَّةَ الرَّميُ، ألا إن القوة الرمي، ألا إن القوة الرمي".
Uqbah bin 'Āmir berkata, Aku mendengar Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- ketika beliau di atas mimbar membaca ayat, "Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu mampui." (QS. Al-Anfāl: 60). Beliau bersabda, "Ketahuilah! Kekuatan itu adalah memanah. Ketahuilah! Kekuatan itu adalah memanah. Ketahuilah! Kekuatan itu adalah memanah."
Diriwayatkan oleh MuslimDerajatHadis sahih
Penjelasan
Hadis ini menerangkan penafsiaran Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- tentang kekuatan yang diperintahkan untuk dipersiapkan dalam rangka memerangi para musuh dan orang-orang kafir, yaitu memanah. Karena memanah lebih mematikan dan sekaligus jauh dari serangan musuh. Memanah pada masa turunnya ayat yang mulia ini ialah dengan menggunakan panah, tetapi ayat ini dengan kemukjizatannya menyebutkan kekuatan secara mutlak sehingga mencakup kekuatan di semua zaman dan tempat. Hadis yang mulia ini juga hadir dengan mukjizat ilmiah lainnya, yaitu dengan menyebutkan memanah secara mutlak yang mencakup memanah dengan semua jenisnya supaya bisa ditafsirkan dengan semua bentuk pemanahan yang terperbaharukan dan dengan senjata modern apa pun.
Rujukan
- صحيح مسلم؛ للإمام مسلم بن الحجاج، حققه ورقمه محمد فؤاد عبد الباقي، دار عالم الكتب-الرياض، الطبعة الأولى، 1417هـ.
- منحة العلام في شرح بلوغ المرام: تأليف عبد الله الفوزان، طبعة دار ابن الجوزي، الطبعة الأولى 1428.
- توضيح الأحكام شرح بلوغ المرام: تأليف عبد الله البسام، مكتبة الأسدي، مكة المكرمة، الطبعة: الخامِسَة، 1423 هـ - 2003 م.
- تسهيل الإلمام بفقه الأحاديث من بلوغ المرام:تأليف الشيخ صالح الفوزان- عناية عبد السلام السليمان - مؤسسة الرسالة الطبعة الأولى.
- فتح ذي الجلال والإكرام بشرح بلوغ المرام للشيخ ابن عثيمين، المكتبة الإسلامية القاهرة، تحقيق صبحي رمضان وأم إسراء بيومي، الطبعة الأولى 1427.
- بلوغ المرام من أدلة الأحكام، لابن حجر، دار القبس للنشر والتوزيع، الرياض - المملكة العربية السعودية الطبعة: الأولى، 1435 هـ - 2014 م.
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Kiamat tidak akan terjadi hingga matahari terbit dari tempat terbenamnya. Ketika matahari terbit dan orang-orang melihatnya, mereka semuanya beriman. Itulah hari ketika 'tidak berguna lagi iman seseorang yang belum beriman sebelum itu, atau (belum) berusaha berbuat kebajikan dengan imannya itu' (QS. Al-An'ām: 158). Sungguh kiamat akan terjadi padahal dua orang telah menggelar pakaiannya di antara mereka lalu mereka tidak jadi berjual beli dan belum melipatnya. Sungguh kiamat akan terjadi padahal seseorang telah beranjak membawa susu perahannya lalu dia tidak jadi meminumnya. Sungguh kiamat akan terjadi padahal seseorang telah memperbaiki telaganya dan dia belum sempat memasukkan air ke dalamnya. Sungguh kiamat akan terjadi padahal seseorang di antara kalian telah mengangkat makanan ke mulutnya lalu dia tidak jadi menyantapnya."
Muttafaq 'alaihDerajatSahih
Penjelasan
Rasulullah ﷺ mengabarkan bahwa di antara tanda besar kiamat ialah matahari terbit dari barat, bukan dari timur. Ketika orang-orang melihatnya, mereka semuanya beriman. Ketika itu, tidak lagi berguna bagi orang kafir keimanannya, tidak juga amal saleh dan tobatnya. Kemudian beliau ﷺ mengabarkan bahwa kiamat datang dengan sangat cepat, sampai-sampai kiamat itu terjadi di saat manusia sedang dalam kerutinan dan urusan kehidupan mereka. Kiamat terjadi di saat penjual dan pembeli telah menggelar pakaian di antara keduanya, lalu mereka tidak jadi bertransaksi dan belum melipatnya. Kiamat terjadi di saat seseorang telah mengambil susu dari unta perahannya, namun dia belum sempat meminumnya. Kiamat terjadi ketika seseorang telah memperbaiki dan melapisi telaganya dengan tanah, lalu dia belum memasukkan air ke dalamnya. Kiamat terjadi pada waktu seseorang telah mengangkat santapannya ke mulut untuk dimakan, namun dia tidak jadi menyantapnya.
Faedah
1- Islam dan tobat seseorang masih diterima selama matahari belum terbit dari tempat terbenamnya.
2- Anjuran untuk bersiap-siap menghadapi kiamat dengan keimanan dan amal saleh, karena kiamat terjadi secara tiba-tiba.
Rujukan
صحيح البخاري (8/ 106) (6506)، صحيح مسلم (1/ 137) (157)، عمدة القاري شرح صحيح البخاري (23/ 92).
Abu Sa'īd Al-Khudri -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ bersabda, "Kematian didatangkan dalam rupa seekor domba jantan yang berbulu putih bercampur hitam. Lantas seorang penyeru memanggil, 'Wahai penduduk surga.' Mereka pun mendongak seraya melihat. Penyeru itu berkata, 'Apakah kalian mengetahui ini?' Mereka menjawab, 'Ya. Itu adalah kematian.' Mereka semua pernah melihatnya. Kemudian dia memanggil lagi, 'Wahai penduduk neraka.' Mereka pun mendongak seraya melihat. Dia berkata, 'Apakah kalian mengetahui ini?' Mereka menjawab, 'Ya. Itu adalah kematian.' Mereka semua pernah melihatnya. Lantas domba itu disembelih. Kemudian dia berkata, 'Wahai penduduk surga, kekekalan bagimu, tidak ada lagi kematian. Wahai penduduk neraka, kekekalan bagimu, tidak ada lagi kematian.'" Kemudian Nabi membaca, "Dan berilah mereka peringatan tentang hari penyesalan, (yaitu) ketika segala perkara telah diputus, sedang mereka dalam kelalaian." (QS. Maryam: 39). -Mereka itu dalam kelalaian, yaitu penduduk dunia- "dan mereka tidak beriman." (QS. Maryam: 39)".
Muttafaq 'alaihDerajatSahih
Penjelasan
Nabi ﷺ menjelaskan bahwa kelak di hari kiamat kematian akan didatangkan dalam rupa domba jantan yang berbulu putih bercampur hitam. Lantas ada yang memanggil: Wahai penduduk surga! Maka mereka menjulurkan leher dan mengangkat kepala seraya melihat. Penyeru itu berkata kepada mereka: Apakah kalian mengetahui ini? Mereka menjawab: Ya, itu adalah kematian. Semua mereka pernah melihatnya dan mengetahuinya. Kemudian penyeru itu kembali memanggil: "Wahai penduduk neraka!" Maka mereka menjulurkan leher dan mengangkat kepala seraya melihat. Penyeru itu berkata: Apakah kalian mengetahui ini? Mereka menjawab: Ya, itu adalah kematian. Semua mereka telah melihatnya. Lalu domba itu disembelih, kemudian penyeru berkata: Wahai penduduk surga, kekal selama-lamanya, tidak ada lagi kematian. Wahai penduduk neraka, kekal selama-lamanya, tidak ada lagi kematian. Yang demikian itu agar menjadi tambahan kenikmatan bagi orang-orang beriman serta tambahan siksaan orang-orang kafir. Kemudian Nabi ﷺ bersabda, "Dan berilah mereka peringatan tentang hari penyesalan, (yaitu) ketika segala perkara telah diputus, sedang mereka dalam kelalaian dan mereka tidak beriman." Pada hari kiamat akan dipisahkan antara penghuni surga dan neraka, masing-masing masuk ke tempatnya, dan kekal di dalamnya. Maka orang yang berbuat keburukan akan menyesal, sebab tidak berbuat baik, demikian juga orang yang lalai, sebab tidak menambah kebaikan.
Faedah
1- Kesudahan manusia di akhirat ialah kekal di surga atau neraka.
2- Peringatan keras terhadap kesengsaraan hari kiamat, bahwa hari kiamat adalah hari penyesalan.
صحيح البخاري (6/ 93) (4730)، صحيح مسلم (4/ 2188) (2849)، التوضيح شرح الجامع الصحيح (22/595)، عمدة القاري شرح صحيح البخاري (19/ 52)، البحر المحيط الثجاج (43/686).
'Adiy bin Ḥātim meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda, "Kaum Yahudi itu orang-orang yang dimurkai, sedangkan kaum Nasrani adalah orang-orang yang tersesat."
HR. TirmiziDerajatSahih
Penjelasan
Nabi ﷺ mengabarkan bahwa orang-orang Yahudi adalah kaum yang dimurkai oleh Allah karena mereka mengetahui yang benar namun tidak mengamalkannya. Sedangkan orang-orang Nasrani adalah kaum yang tersesat karena mereka berbuat tanpa dasar ilmu.
Faedah
1- Menggabungkan antara ilmu dan amal adalah sebab keselamatan dari jalan orang-orang yang dimurkai dan yang tersesat.
2- Peringatan agar tidak mengikuti jalan orang-orang Yahudi dan Nasrani, sebaliknya berkomitmen mengikuti jalan yang lurus, yaitu Islam.
3- Masing-masing dari kalangan Yahudi dan Nasrani sama-sama tersesat dan dimurkai, tetapi orang-orang Yahudi lebih spesifik dengan kemurkaan, sedangkan orang-orang Nasrani lebih spesifik dengan kesesatan.
Rujukan
سنن الترمذي (5/ 71) (2954)، النهاية في غريب الحديث و الأثر ( ص 548)، المنهل العذب المورود (5/250)، البحر المحيط الثجاج (9/248).
Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- berkata, ia berkata, "Rasulullah ﷺ membaca ayat ini, 'Dialah yang menurunkan Kitab (Al-Qur`an) kepadamu (Muhammad). Di antaranya ada ayat-ayat yang muḥkamāt, itulah pokok-pokok kitab (Al-Qur`an) dan yang lain mutasyābihāt. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong pada kesesatan, mereka mengikuti yang mutasyābihāt untuk mencari-cari fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya kecuali Allah. Dan orang-orang yang ilmunya mendalam berkata, "Kami beriman kepadanya (Al-Qur`an), semuanya dari sisi Tuhan kami." Tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang berakal'." [QS. Āli 'Imrān: 7] Aisyah berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, "Apabila engkau melihat orang-orang yang mengikuti yang mutasyābihāt, mereka itulah orang-orang yang Allah sebutkan, maka waspadalah terhadap mereka."
Muttafaq 'alaihDerajatSahih
Penjelasan
Rasulullah ﷺ membaca ayat ini (yang artinya): "Dialah yang menurunkan Kitab (Al-Qur`an) kepadamu (Muhammad). Di antaranya ada ayat-ayat yang muḥkamāt, itulah pokok-pokok kitab (Al-Qur`an) dan yang lain mutasyābihāt. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong pada kesesatan, mereka mengikuti yang mutasyābihāt untuk mencari-cari fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya kecuali Allah. Dan orang-orang yang ilmunya mendalam berkata, "Kami beriman kepadanya (Al-Qur`an), semuanya dari sisi Tuhan kami." Tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang berakal."
Di dalam ayat ini, Allah Subḥānah mengabarkan bahwa Dialah yang menurunkan Al-Qur`an kepada Nabi-Nya, sebagiannya ada ayat-ayat yang memiliki petunjuk jelas serta hukum yang terang benderang, tidak ada kerancuan di dalamnya. Ini merupakan pokok dan induk Al-Qur`an serta menjadi referensi ketika terjadi perbedaan.
Sebagian lainnya, ayat-ayat yang mengandung lebih dari satu makna, sehingga maknanya samar bagi sebagian orang, atau mereka mengira ada kontradiksi antara ayat itu dan ayat yang lain.
Kemudian Allah menjelaskan interaksi orang terhadap ayat-ayat itu:
Orang-orang yang di dalam hatinya terdapat penyimpangan dari kebenaran, mereka meninggalkan ayat yang muḥkam dan mengambil yang mutasyābih, tujuannya menyulut syubhat dan menyesatkan manusia, dan dengan itu mereka berupaya menakwilnya menurut yang sesuai dengan hawa nafsu mereka.
Adapun orang-orang yang keilmuannya lebih mendalam, mereka mengetahui ayat yang mutasyābih dan mengembalikannya kepada yang muḥkam; mereka mengimani bahwa ia datang dari Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā-, sehingga ia tidak mungkin rancu ataupun kontradiktif. Akan tetapi tidak ada yang mengambil pelajaran dengan hal itu kecuali orang-orang yang berakal lurus.
Kemudian Nabi ﷺ bersabda kepada ibunda kaum mukminin Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā-, apabila dia melihat orang yang mengikuti ayat-ayat mutasyābihāt, maka mereka itulah yang disebutkan oleh Allah di dalam firman-Nya, "Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong pada kesesatan ...", maka waspadalah terhadap mereka dan jangan mendengarkan mereka.
Faedah
1- Ayat-ayat Al-Qur`an yang muḥkam ialah yang memiliki petunjuk jelas dan makna terang. Sedangkan yang mutasyābih ialah yang mengandung lebih dari satu makna dan membutuhkan penelaahan dan pemahaman.
2- Waspada dalam berinteraksi dengan pengikut kesesatan dan pelaku bidah serta orang-orang yang melontarkan permasalahan dengan tujuan ingin menyesatkan manusia dan memasukkan keraguan kepada mereka.
3- Pada penutupan ayat tersebut, dengan firman Allah Ta'ālā, "Tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang berakal", terdapat sindiran terhadap orang-orang yang menyimpang dan pujian untuk orang-orang yang keilmuannya mendalam, yakni siapa yang tidak mengambil pelajaran lalu mengikuti hawa nafsunya maka bukan termasuk orang-orang yang berakal.
4- Mengikuti ayat yang mutasyābih termasuk sebab penyimpangan hati.
5- Kewajiban mengembalikan ayat-ayat mutasyābihāt yang kadang tidak dipahami maknanya kepada ayat-ayat muḥkamāt.
6- Allah -Subāḥānahu wa Ta'ālā- menjadikan beberapa ayat Al-Qur`an muḥkam dan beberapa lainnya mutasyābih sebagai ujian bagi manusia, sehingga akan tampak perbedaan antara orang yang beriman dan orang yang sesat.
7- Adanya ayat mutasyābih dalam Al-Qur`an adalah untuk menunjukkan keutamaan para ulama di atas orang-orang selain mereka, serta sebagai pemberitahuan mengenai keterbatasan kemampuan akal manusia, agar ia tunduk kepada Tuhannya dan mengakui kelemahannya.
8- Keutamaan memiliki keilmuan yang kokoh dan keharusan untuk teguh di atasnya.
9- Ada dua pendapat menurut para ahli tafsir tentang waqaf (berhenti) pada lafaz "Allāh" dalam firman-Nya: Wa mā ya'lamu ta`wīlahū illallāh, war-rāsikhūna fil 'ilmi (Tidak ada yang mengetahui takwilnya kecuali Allah dan orang-orang yang mendalam ilmunya). Orang yang wakaf pada kalimat "Allāh", maka yang dimaksudkan dengan takwil ialah mengetahui hakikat sesuatu serta perkara yang tidak dapat diketahui seperti roh dan hari kiamat, yang disembunyikan pengetahuannya oleh Allah; orang-orang yang ilmunya mendalam, mereka mengimaninya dan mengembalikan hakikatnya kepada Allah; mereka tunduk dan pasrah kepada-Nya. Sedangkan orang yang membaca waṣal (disambung), tidak waqaf pada lafaz "Allāh", maka yang dimaksud dengan takwil ialah penafsiran dan penjelasan; yaitu Allah mengetahuinya, demikian juga orang-orang yang memiliki ilmu yang mendalam pun mengetahuinya, mereka mengimaninya dan mengembalikannya kepada yang muḥkam.
Rujukan
صحيح البخاري (6/ 33) (4547)، صحيح مسلم (4/ 2053) (2665)، فتح الباري (8/211)، شرح النووي على مسلم (16/217)، النهاية في غريب الحديث والأثر (ص 407، 465)، فتح الودود في شرح سنن أبي داود (4/415)، تحفة الأبرار شرح مصابيح السنّة (1/129)، البحر المحيط الثجاج في شرح صحيح الإمام مسلم بن الحجاج (41/ 559).
Ibnu 'Abbās -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan, Sejumlah orang dari kalangan musyrikin telah banyak membunuh dan banyak berzina. Mereka lalu datang menemui Nabi Muhammad ﷺ seraya bertanya, "Sungguh, yang engkau sampaikan dan dakwahkan itu benar-benar bagus, sekiranya engkau mengabarkan kafarat untuk apa yang telah kami perbuat?" Maka turunlah ayat: "Orang-orang yang tidak mempersekutukan Allah dengan sembahan lain dan tidak membunuh orang yang diharamkan Allah kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina..." [QS. Al-Furqān: 68] Juga turun ayat: "Katakanlah, 'Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah..." [QS. Az-Zumar: 53]
Muttafaq 'alaihDerajatSahih
Penjelasan
Sejumlah laki-laki dari kalangan musyrikin datang menemui Nabi ﷺ. Sebelumnya, mereka banyak membunuh dan berzina. Lalu mereka bertanya kepada Nabi: Islam yang engkau dakwahkan berikut ajaran-ajarannya adalah sesuatu yang bagus, tetapi keadaan kami serta kesyirikan dan dosa-dosa besar yang kami terjerumus di dalamnya, apakah ada penggugurnya?
Maka turunlah dua ayat tersebut, yaitu Allah menerima tobat manusia sekalipun dosa mereka banyak dan besar. Kalau tidak seperti itu, niscaya mereka akan tetap lanjut di atas kekafiran dan kezaliman mereka, serta mereka tidak akan masuk ke dalam agama ini.
Faedah
1- Keutamaan dan keagungan Islam, yaitu ia menggugurkan dosa-dosa sebelumnya.
2- Luasnya rahmat dan ampunan Allah untuk para hamba-Nya.
3- Pengharaman kesyirikan, membunuh jiwa tanpa alasan yang benar, dan pengharaman zina serta ancaman bagi orang yang melakukan dosa-dosa tersebut.
4- Tobat yang benar yang disertai keikhlasan dan amal saleh akan menggugurkan semua dosa besar, termasuk dosa kufur kepada Allah Ta'ala.
5- Pengharaman sikap berputus asa dari rahmat Allah ﷻ.
Rujukan
صحيح البخاري (6/ 125) (4810)، صحيح مسلم (1/ 113) (122)، إرشاد الساري لشرح صحيح البخاري (7/ 319)، النهاية في غريب الحديث والأثر (ص 808).
Setiap hadis, derajat, penjelasan, dan faedah di sini ditampilkan persis sebagaimana diterbitkan HadeethEnc.com, menurut ketentuan penerbitan ulangnya. Derajat itu tidak menyebut siapa yang menilainya. Terjemahan dan penjelasan adalah karya para penyusunnya, dan sebagian menyebutkan hukum; para peninjau Sabīl belum memeriksanya. Hadis berbahasa Arablah teksnya. Sumber: HadeethEnc.com