Maryam
Wannan fassarar tafsirin as-Saʿdī ce, kamar yadda IslamHouse.com ke wallafa ta a saadi.islamenc.com, an karanta ta daga shafukan wannan shafin yanar gizo. Shafin bai faɗi wanda ya fassara ta ba, ko wane bugu da aka buga take bi, kuma bai bayyana sharuɗɗa na ɗaukar rubutunta ba, saboda haka ba a tabbatar da haƙƙin nuna ta ba. Babu wanda ya kwatanta ta da littafin da aka buga, kuma babu malami da ya duba ta. Kowane sashe yana kusa da ayoyin da yake bayani a kansu, waɗanda rubutun Alƙur’ani ne na Tanzil, kamar yadda yake a can; aya da shafin bai ba ta bayani na kanta ba tana tare da sashen da ya gabace ta, kuma jerin yana ambaton kowace irin wannan aya. Sabīl bai rubuta wani abu daga cikinta ba, kuma bai fassara ta ba.
Rubutu dagasaadi.islamenc.comIslamHouse.comnone stated (the site names no licence and no terms for taking its text)an ɗauka 2026-10-22
وَمَا نَتَنَزَّلُ إِلَّا بِأَمْرِ رَبِّكَ ۖ لَهُۥ مَا بَيْنَ أَيْدِينَا وَمَا خَلْفَنَا وَمَا بَيْنَ ذَٰلِكَ ۚ وَمَا كَانَ رَبُّكَ نَسِيًّا 64
(64) Rasulullah pernah sekali merasakan keterlambatan Jibril عليه السلام untuk mendatangi beliau (dengan wahyu), maka Rasulullah berkata kepadanya, "Seandainya engkau datang lebih sering kepadaku dari sebelumnya," karena kerinduan beliau kepadanya dan kerisauan lantaran berpisah dengannya, supaya hati beliau menjadi tenang dengan kedatangannya. Maka lewat lisan malaikat Jibril, Allah تعالى menurunkan, ﴾ وَمَا نَتَنَزَّلُ إِلَّا بِأَمۡرِ رَبِّكَۖ ﴿ "Dan tidaklah kami (Jibril) turun, kecuali dengan perintah Rabbmu," maksudnya kami tidak memiliki wewenang sama sekali dalam (pengaturan) urusan-urusan. Jika Dia memerintahkan kami, pasti kami segera melaksanakan perin-tahNya, tidak melanggar perintahNya. Sebagaimana Allah men-ceritakan tentang mereka, ﴾ لَّا يَعۡصُونَ ٱللَّهَ مَآ أَمَرَهُمۡ وَيَفۡعَلُونَ مَا يُؤۡمَرُونَ 6 ﴿ "Mereka tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka, dan mereka selalu mengerjakan apa yang diperintah-kan." (At-Tahrim: 6). Kami hanyalah hamba yang diperintah. ﴾ لَهُۥ مَا بَيۡنَ أَيۡدِينَا وَمَا خَلۡفَنَا وَمَا بَيۡنَ ذَٰلِكَۚ ﴿ "KepunyaanNya-lah segala sesuatu yang ada di hadapan kita, segala sesuatu yang di belakang kita, dan segala sesuatu yang ada di antara keduanya," maksudnya bagi Allah semua perkara-perkara yang telah berlalu, yang akan datang serta yang sedang terjadi, di setiap waktu dan tempat. Jika sudah (kian) jelas bahwa semua urusan adalah milik Allah, sedangkan kita adalah hamba yang diatur, maka perkara-perkara itu terpaku pada kisaran "Apakah hikmah ilahiyah menuntutnya, sehingga Dia menjalankannya, atau tidak menuntutnya, sehingga Dia menundanya? Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ وَمَا كَانَ رَبُّكَ نَسِيّٗا 64 ﴿ "Dan tidaklah Rabbmu lupa," maksud-nya Allah tidak pernah melupakan dan mengabaikanmu. Seperti Firman Allah, ﴾ مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَىٰ 3 ﴿ "Rabbmu tidak meninggalkanmu dan tidak membencimu." (Adh- Dhuha: 3). Bahkan Allah senantiasa memperhatikan urusanmu, merea-lisasikannya bagimu dengan fasilitas-fasilitasNya yang indah dan pengaturan-pengaturanNya yang elok. Maksudnya, kedatangan kami terlambat dari waktu yang biasa, maka janganlah hal itu membuatmu sedih dan menggelayuti pikiranmu. Ketahuilah bahwa Allah-lah yang menghendaki hal itu, karena Dia memiliki hikmah dalam keputusan ini.