İçeriğe geç
Tafsir As-Saadi - Indonesian · An-Naml
Sure 27

An-Naml

Bu, as-Saʿdī’nin tefsirinin, IslamHouse.com’un saadi.islamenc.com adresinde yayımladığı hâliyle bir çevirisidir; o sitenin sayfalarından okunmuştur. Site, kimin çevirdiğini ya da hangi basılı neşri izlediğini söylemez ve metnini almak için hiçbir şart belirtmez; bu yüzden bunu gösterme hakkı doğrulanmamıştır. Kimse bunu basılı bir kitapla karşılaştırmadı ve hiçbir âlim gözden geçirmedi. Her bölüm, yorumladığı âyetlerin yanında durur; bu âyetler Tanzil’in Kur’ân metnidir, orada olduğu gibi gösterilir; sitenin kendine ait bir yorum vermediği bir âyet kendisinden önceki bölümle birlikte durur ve dizin böyle her âyeti adıyla anar. Sabīl bunun hiçbirini yazmamış ve çevirmemiştir.

Metin kaynağı:saadi.islamenc.comIslamHouse.comnone stated (the site names no licence and no terms for taking its text)2026-10-22 tarihinde alındı

Ayet 44

قِيلَ لَهَا ٱدْخُلِى ٱلصَّرْحَ ۖ فَلَمَّا رَأَتْهُ حَسِبَتْهُ لُجَّةً وَكَشَفَتْ عَن سَاقَيْهَا ۚ قَالَ إِنَّهُۥ صَرْحٌ مُّمَرَّدٌ مِّن قَوَارِيرَ ۗ قَالَتْ رَبِّ إِنِّى ظَلَمْتُ نَفْسِى وَأَسْلَمْتُ مَعَ سُلَيْمَـٰنَ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَـٰلَمِينَ 44

(44) Kemudian Sulaiman ingin agar Balqis melihat sebagian dari kekuasaannya yang mencengangkan akal. Lalu dia menyuruh-nya masuk ke mahligainya (istana), yaitu berupa tempat (ruangan) yang tinggi dan luas. Ia terbuat dari kaca yang tembus pandang, di bawahnya sungai-sungai mengalir, ﴾ قِيلَ لَهَا ٱدۡخُلِي ٱلصَّرۡحَۖ فَلَمَّا رَأَتۡهُ حَسِبَتۡهُ لُجَّةٗ ﴿ "Dikatakan kepadanya, 'Masuklah ke dalam istana.' Maka tatkala dia me-lihat lantai istana itu, dikiranya kolam yang besar'," maksudnya, kolam air. Hal itu karena kaca-kaca tersebut tembus pandang, hingga air yang berada di bawahnya terlihat seolah-olah tempat itu adalah air yang mengalir tanpa pembatas yang membatasinya. ﴾ وَكَشَفَتۡ عَن سَاقَيۡهَاۚ ﴿ "Dan dia menyingkap kedua betisnya." Karena takut basah. Ini juga termasuk kecerdasan dan kesopanannya, karena dia tidak menolak untuk masuk ke tempat yang diperintahkan kepadanya untuk dimasuki. Sebab, dia yakin bahwa dirinya tidak diundang kecuali untuk dihormati, dan dia tahu bahwa kerajaan Sulaiman dan sistem regulasinya telah dibangun di atas landasan kebijaksanaan, dan dalam hatinya pun sama sekali tidak ada rasa ragu sedikit pun ter-hadap kondisi buruk setelah melihat apa yang telah bisa dilihatnya. Setelah dia bersiap untuk menceburkan diri, maka dikatakan kepa-danya, ﴾ إِنَّهُۥ صَرۡحٞ مُّمَرَّدٞ ﴿ "Sesungguhnya ia adalah istana licin." Maksud-nya sebuah majelis, ﴾ مِّن قَوَارِيرَۗ ﴿ "terbuat dari kaca." Maka Anda tidak perlu menyingkap kedua betismu. Pada saat itu, ketika dia telah sampai kepada Sulaiman dan menyaksikan apa yang telah dilihat-nya serta mengetahui kenabian dan kerasulannya, maka dia pun bertaubat dan kembali dari kekafirannya, dan berkata, ﴾ رَبِّ إِنِّي ظَلَمۡتُ نَفۡسِي وَأَسۡلَمۡتُ مَعَ سُلَيۡمَٰنَ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Ya Rabbku, sesungguhnya aku telah berbuat zhalim terhadap diriku, dan aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Rabb semesta alam." Demikianlah bagian dari kisah ratu negeri Saba` yang Allah kisahkan kepada kita dan tentang apa yang terjadi antara dia dengan Sulaiman. Adapun selain itu berupa kisah-kisah tambahan dan kisah-kisah isra`iliyat (yang bersumber dari Bani Israil) maka sama sekali tidak ada hubungannya dengan tafsir (penjelasan) ter-hadap Firman Allah, yang mana tafsir itu harus berdasarkan pada dalil yang telah dimaklumi lagi terjaga, sedangkan nukilan-nukilan dalam malasah ini, semuanya atau kebanyakannya tidak demikian. Kewajiban yang harus dilakukan adalah mengabaikannya dan tidak memasukkannya ke dalam tafsir. Wallahu a'lam.