Al-Israa
Kani waa tarjumaad tafsiirka as-Saʿdī sida IslamHouse.com ugu daabacdo saadi.islamenc.com, oo laga akhriyay bogagga goobtaas. Goobtu ma sheegayso cidda tarjuntay ama daabacaadda la daabacay ee ay raacayso, mana sheegayso shuruudo qaadashada qoraalkeeda ah, sidaas darteed xaqa muujinteeda lama xaqiijin. Qofna ma barbardhigin buug la daabacay, aqoonyahanna ma dib u eegin. Qayb kasta waxay ag taagan tahay aayadaha ay ka hadlayso, kuwaas oo ah qoraalka Quraanka ee Tanzil, sida uu ugu yaal halkaas; aayad goobtu aanay faallo u gaar ah ka bixin waxay la taagan tahay qaybta ka horraysa, tusmaduna waxay magacaabaysaa aayad kasta oo caynkaas ah. Sabīl wax ka mid ah ma qorin, mana tarjumin.
Qoraalka waxaa laga helaysaadi.islamenc.comIslamHouse.comnone stated (the site names no licence and no terms for taking its text)la qaaday 2026-10-22
وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوٓا۟ إِلَّآ إِيَّاهُ وَبِٱلْوَٰلِدَيْنِ إِحْسَـٰنًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ ٱلْكِبَرَ أَحَدُهُمَآ أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَآ أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا 23
(23) Ketika Allah melarang perbuatan syirik, maka Dia me-merintahkan untuk bertauhid, seraya berfirman, ﴾ وَقَضَىٰ رَبُّكَ ﴿ "Dan Rabbmu telah memerintahkan," dengan ketetapan agama dan memerin-tahkan dengan perintah syar'i (yang berhubungan dengan mahabbah Allah terhadap perintah tersebut. Pent.) ﴾ أَلَّا تَعۡبُدُوٓاْ ﴿ "janganlah kalian menyembah," siapa pun dari penduduk bumi ataupun langit, yang masih hidup maupun yang sudah mati ﴾ إِلَّآ إِيَّاهُ ﴿ "kecuali kepadaNya," karena Dia-lah Mahatunggal, Maha Esa dan Satu, tempat bergan-tung, yang memiliki semua sifat kesempurnaan, (dan memiliki sifat) paling agung di antara sifat-sifat yang sempurna itu dalam bentuk tingkatan yang tidak ada satu makhluk pun yang menyeru-paiNya. Dia-lah Pemberi nikmat lahiriyah dan batiniyah, Dzat yang mampu menolak semua siksaan, Yang Menciptakan, Pemberi rizki dan Pengatur segala urusan. Dia Esa dengan segala sifat itu. Adapun selain Allah, maka tidak ada yang memiliki sedikit pun dari sifat-sifat tersebut. Setelah menyebutkan hak-hakNya, Allah kemudian menyebut-kan masalah pelaksanaan hak kedua orang tua dengan FirmanNya, ﴾ وَبِٱلۡوَٰلِدَيۡنِ إِحۡسَٰنًاۚ ﴿ "Dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya," maksudnya berbuatlah kebaikan kepada orang tua dengan segala bentuk kebaktian yang bersifat perkataan ataupun perbuatan. Hal ini dikarenakan mereka merupakan penye-bab munculnya seseorang di dunia ini. Mereka mempunyai rasa kecintaan dan keinginan berbuat baik serta kedekatan kepada anak yang menorehkan tuntutan semakin kuatnya hak mereka dan se-makin wajibnya berbakti kepada mereka. ﴾ إِمَّا يَبۡلُغَنَّ عِندَكَ ٱلۡكِبَرَ أَحَدُهُمَآ أَوۡ كِلَاهُمَا ﴿ "Jika salah seorang di antara ke-duanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaan-mu," maksudnya apabila keduanya telah memasuki usia (lanjut), saat kekuatan mereka mulai melemah, dan membutuhkan sikap kelembutan dan baik dalam kadar yang sudah semestinya ﴾ فَلَا تَقُل لَّهُمَآ أُفّٖ ﴿ "maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan, 'Ah'." Ini adalah bentuk gangguan yang paling ringan, Allah memperingatkan dengan bentuk gangguan ini terhadap jenis gangguan lain (yang lebih besar). Pengertiannya, janganlah kamu menyakiti keduanya dengan gangguan sekecil apa pun, ﴾ وَلَا تَنۡهَرۡهُمَا ﴿ "dan janganlah kamu membentak mereka," maksudnya janganlah meng-gertak dan berkata kepada keduanya dengan kata-kata yang kasar. ﴾ وَقُل لَّهُمَا قَوۡلٗا كَرِيمٗا ﴿ "Dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia," dengan ungkapan yang mereka sukai dengan penuh sopan-santun, dengan omongan yang lemah-lembut nan elok, yang menye-jukkan hati dan menentramkan jiwa mereka. Semuanya itu disesuai-kan dengan situasi dan kondisi serta masa.