عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «إِنَّ أَثْقَلَ صَلَاةٍ عَلَى الْمُنَافِقِينَ صَلَاةُ الْعِشَاءِ وَصَلَاةُ الْفَجْرِ، وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِيهِمَا لَأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا، وَلَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ آمُرَ بِالصَّلَاةِ فَتُقَامَ، ثُمَّ آمُرَ رَجُلًا فَيُصَلِّيَ بِالنَّاسِ، ثُمَّ أَنْطَلِقَ مَعِي بِرِجَالٍ مَعَهُمْ حُزَمٌ مِنْ حَطَبٍ إِلَى قَوْمٍ لَا يَشْهَدُونَ الصَّلَاةَ، فَأُحَرِّقَ عَلَيْهِمْ بُيُوتَهُمْ بِالنَّارِ».
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ bersabda, "Salat yang paling berat bagi orang-orang munafik adalah salat Isya dan salat Subuh. Andaikata mereka mengetahui keutamaan yang terkandung dalam keduanya, pasti mereka menghadirinya meskipun dengan cara merangkak. Sungguh aku sangat ingin menyuruh seseorang mengumandangkan ikamah, kemudian aku menyuruh seseorang untuk mengimami salat orang-orang, kemudian aku berangkat bersama dengan beberapa orang yang membawa kayu bakar menuju orang-orang yang tidak menghadiri salat, lalu membakar rumah-rumah mereka dengan api."
Muttafaq 'alaihDerajatSahih
Penjelasan
Nabi ﷺ mengabarkan perihal orang-orang munafik dan kemalasan mereka untuk menghadiri salat, khususnya salat Isya dan Subuh; bahwa seandainya mereka mengetahui kadar pahala menghadirinya bersama jemaah kaum muslimin, mereka pasti datang menghadiri keduanya walaupun dengan cara merangkak seperti rangkakan anak kecil menggunakan tangan dan lutut.
Sungguh Nabi ﷺ pernah bertekad untuk memberikan perintah agar salat dilaksanakan dan ikamah dikumandangkan, lalu beliau menunjuk seseorang menggantikan beliau untuk mengimami orang-orang, kemudian beliau beranjak bersama orang-orang yang membawa beberapa ikat kayu bakar menuju orang-orang yang tidak menghadiri salat jemaah lalu membakar rumah-rumah mereka dengan api. Tetapi, beliau tidak melakukannya karena di dalam rumah terdapat wanita, anak-anak yang masih belum terbebani dan kalangan lainnya yang memiliki uzur dan tidak bersalah.
Faedah
- 1- Bahaya tidak menghadiri salat berjemaah di masjid.
- 2- Orang-orang munafik tidak meniatkan pada ibadah mereka kecuali ria dan sumah sehingga mereka tidak menghadiri salat kecuali pada waktu terlihat oleh orang lain.
- 3- Besarnya pahala salat Isya dan Subuh secara berjemaah sehingga keduanya pantas didatangi walaupun dengan merangkak.
- 4- Memelihara salat Isya dan Subuh adalah keselamatan dari kemunafikan, sedangkan tidak menghadirinya termasuk ciri-ciri orang munafik.
Rujukan
صحيح مسلم (1/ 451) (651).
صحيح البخاري (1/ 132) (657).
الإلمام بشرح عمدة الأحكام، لإسماعيل الأنصاري (1/ 88).
تيسير العلام شرح عمدة الأحكام، للبسام (ص107).
تنبيه الأفهام شرح عمدة الأحكام، لابن عثيمين (1/ 136).
Hadis ini di HadeethEnc.comعن زيد بن أَرْقَم رضي الله عنه قال: خَرَجْنَا مع رسول الله صلى الله عليه وسلم في سَفَر أَصَاب الناس فيه شِدَّة، فقال عبد الله بن أُبَيٍّ: لاَ تُنْفِقُوا على من عِندَ رسول الله صلى الله عليه وسلم حتى يَنْفَضُّوا، وقال: لَئِنْ رَجَعْنَا إلى المدينة لَيُخْرِجَنَّ الأَعَزُّ منها الأَذَلَّ، فَأَتَيْتُ رسول الله صلى الله عليه وسلم فَأَخْبَرْتُه بذلك، فأَرْسَل إلى عبد الله بن أُبي، فاجْتَهَدَ يَمِينَه: ما فعل، فقالوا: كَذَب زَيْدٌ رسول الله صلى الله عليه وسلم فَوَقَعَ في نَفْسِي ممَّا قَاَلُوه شِدَّة حتَّى أَنْزَل الله تعالى تَصْدِيقِي: (إذا جاءك المنافقون) ثم دعاهُم النبي صلى الله عليه وسلم لِيَسْتَغْفِرَ لهم فَلَوَّوْا رُؤُوسَهُم.
Dari Zaid bin Arqam -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, "Kami keluar bersama Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dalam suatu perjalanan yang sulit bagi peserta rombongan. Lantas Abdullah bin Ubay berkata kepada rekan-rekannya, "Janganlah kalian berinfak kepada orang-orang yang bersama Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- sampai mereka bercerai-berai meninggalkannya!" Ia berkata, "Jika kita kembali ke Madinah, pastilah orang yang lebih mulia akan mengusir orang yang lebih hina dari Madinah." Aku datang kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- lalu mengabarkan kepada beliau tentangnya. Selanjutnya Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengutus orang kepada Abdullah bin Ubay untuk menanyakan kabar tersebut. Abdullah bin Ubay lalu mengerahkan segala usahanya untuk bersumpah (mengingkari) atas apa yang telah dilakukannya. Mereka berkata, "Zaid telah berdusta kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-." Aku pun merasa sesak karena apa yang mereka katakan itu, sampai Allah menurunkan ayat yang membenarkanku, "Apabila orang-orang munafik datang kepadamu." Mmaka Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memanggil mereka guna memintakan ampunan untuk mereka. Namun mereka malah memalingkan kepalanya."
Muttafaq 'alaihDerajatHadis sahih
Penjelasan
Zaid bin Al-Arqam -raḍiyallāhu 'anhu- menuturkan bahwa ia bersama Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dalam suatu perjalanan, pesertanya terdiri dari orang-orang mukmin dan orang-orang munafik. Lantas orang-orang ditimpa kesulitan dan kesusahan karena kurangnya bekal yang ada pada mereka. Ketika itulah, Abdullah bin Ubay bin Salul, gembong kekufuran dan kemunafikan, berkata, "Janganlah kalian berinfak kepada orang-orang yang bersama Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- sampai mereka bercerai-berai meninggalkannya." (QS. Al-Munafiqun: 7). Yakni janganlah kalian memberi mereka nafkah sedikit pun sampai mereka lapar, bercerai-berai dan meninggalkan Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-!" Ia juga berkata, "Jika kita kembali ke Madinah, pastilah orang yang lebih mulia akan mengusir orang yang lebih hina dari Madinah." (QS. Al-Munafiqun: 8). Yang dimaksud dengan orang-orang mulia adalah dirinya dan kaumnya. Sedangkan orang yang lebih hina adalah Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. "Berita ini terdengar oleh Zaid bin Al-Arqam -raḍiyallāhu 'anhu-, ia pun mendatangi Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- lalu melaporkan kepada beliau bahwa Abdullah bin Ubay bin Salul telah mengatakan begini dan begitu, hingga mengingatkan beliau darinya. Selanjutnya Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengutus orang kepada Abdullah bin Ubay untuk menanyakan kabar tersebut. Abdullah bin Ubay bersumpah dan sangat keras dalam bersumpah bahwa ia tidak mengatakan itu. Inilah kebiasaan orang-orang munafik. Mereka bersumpah atas dusta padahal mereka mengetahuinya. Ia bersumpah bahwa dirinya tidak mengatakan hal itu. Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menerima keterangan mereka dan membiarkan rahasia hatinya kepada Allah. Saat hal itu sampai kepada Zaid bin Al-Arqam, ia pun merasa berat dengan hal itu karena orang tersebut (Abdullah bin Ubay) telah bersumpah di hadapan Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dan mengerahkan segala kemampuannya untuk bersumpah. Orang-orang berkata, "Zaid bin Al-Arqam telah berdusta kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-." Yakni Zaid bin Al-Arqam telah menyampaikan berita bohong kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Tentu saja itu membuat Zaid bin Al-Arqam merasa sesak sampai Allah menurunkan sesuatu yang membenarkannya dengan firman-Nya, "Apabila orang-orang munafik datang kepadamu," yakni surah Al-Munāfiqūn. Lalu Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memanggil orang-orang munafik, terutama pemimpinnya Abdullah bin Ubay guna memintakan ampunan untuk mereka atas ucapan keji yang keluar dari mulut mereka. Ternyata mereka berpaling dari itu karena sifat sombong pada diri mereka sekaligus penghinaan terhadap Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, karena beliau hendak memohonkan ampun untuk mereka kepada Allah -Ta'ālā-.
Rujukan
بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين لسليم الهلالي، ط1، دار ابن الجوزي، الدمام، 1415ه.
كنوز رياض الصالحين، مجموعة من الباحثين برئاسة حمد بن ناصر العمار، ط1، كنوز إشبيليا، الرياض، 1430هـ.
رياض الصالحين للنووي، ط1، تحقيق: ماهر ياسين الفحل، دار ابن كثير، دمشق، بيروت، 1428 هـ.
رياض الصالحين، ط4، تحقيق: عصام هادي، وزارة الأوقاف والشؤون الإسلامية القطرية، دار الريان، بيروت، 1428هـ.
صحيح البخاري، ط1، تحقيق: محمد زهير بن ناصر الناصر دار طوق النجاة (مصورة عن السلطانية بإضافة ترقيم: محمد فؤاد عبد الباقي)، 1422ه.
صحيح مسلم، تحقيق: محمد فؤاد عبد الباقي، دار إحياء التراث العربي، بيروت.
دار البيان، دمشق، مكتبة المؤيد، الطائف ، ط 1410 هـ.
نزهة المتقين شرح رياض الصالحين لمجموعة من الباحثين، ط14، مؤسسة الرسالة، 1407هـ.
شرح رياض الصالحين للشيخ ابن عثيمين، دار الوطن للنشر، الرياض، 1426هـ.
Hadis ini di HadeethEnc.comعن عائشة رضي الله عنها قالت: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : «ما أُظُن فُلَانا وفُلَانا يَعْرِفَان من دِيِننَا شَيْئَا».
قال اللَّيث بن سعد أحد رُواة هذا الحديث: هذان الرجلان كانا من المنافقين.
Dari Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā-, ia berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-bersabda, "Aku tidak yakin si fulan dan si fulan tahu sedikit pun tentang agama kita."
Al-Laiṡ bin Sa'ad, salah seorang perawi hadis ini berkata, "Kedua orang tersebut adalah dua orang dari kaum munafik."
Diriwayatkan oleh BukhariDerajatHadis sahih
Penjelasan
Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- mengabarkan bahwa Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bercerita kepadanya mengenai dua orang lelaki dan kedua orang itu tidak tahu sedikit pun tentang agama Islam, karena keduanya menampakkan keislaman dan menyembunyikan kekafiran. Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menuturkan bahwa ghibah tentang kedua orang ini tidak termasuk gibah yang dilarang. Justru termasuk hal-hal yang diharuskan agar tampilan luar orang itu tidak mengecoh orang yang tidak mengenalnya. Sabda beliau, "Aku tidak yakin..." Aẓ-Ẓannu di sini artinya yakin. Sebab, Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengetahui orang-orang munafik dengan sebenarnya berkat pemberitahuan Allah kepadanya tentang mereka dalam surat Bara'ah. Ibnu Abbas -raḍiyallāhu 'anhu-ma berkata, "Kami menamakan surat Barā`ah dengan nama Al-Fāḍiḥah (yang menyingkap). Ibnu Abbas -raḍiyallāhu 'anhu-ma berkata, "Surat itu terus menurunkan (keterangan), "Dan di antara mereka, dan di antara mereka," hingga kami takut (termasuk dari mereka)."
Rujukan
بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين، لسليم الهلالي، ط1، دار ابن الجوزي، الدمام، 1415ه.
رياض الصالحين، للنووي، ط1، تحقيق: ماهر ياسين الفحل، دار ابن كثير، دمشق، بيروت، 1428هـ.
رياض الصالحين، ط4، تحقيق: عصام هادي، وزارة الأوقاف والشؤون الإسلامية القطرية، دار الريان، بيروت، 1428هـ.
صحيح البخاري، ط1، تحقيق: محمد زهير بن ناصر الناصر، دار طوق النجاة (مصورة عن السلطانية بإضافة ترقيم: محمد فؤاد عبد الباقي)، 1422ه.
نزهة المتقين شرح رياض الصالحين، لمجموعة من الباحثين، ط14، مؤسسة الرسالة، 1407هـ.
شرح صحيح البخاري، لابن بطال، تحقيق: أبو تميم ياسر بن إبراهيم، ط2، مكتبة الرشد - السعودية، الرياض، 1423هـ.
Hadis ini di HadeethEnc.comعن أبي مسعود عقبة بن عمرو الأنصاري البدري رضي الله عنه قال: لما نزلت آية الصدقة كنَّا نُحَامِلُ على ظُهُورِنَا، فجاء رجل فتصدق بشيء كثير، فقالوا: مُراءٍ، وجاء رجل آخر فتصدق بصاع، فقالوا: إن الله لَغَنيٌّ عن صاع هذا!؛ فنزلت: (الذين يلمزون المطوعين من المؤمنين في الصدقات والذين لا يجدون إلا جهدهم).
Dari Abu Mas'ūd 'Uqbah bin 'Amru Al-Anṣāri Al-Badri -raḍiyallāhu 'anhu- ia berkata, "Ketika turun ayat perintah bersedekah, kami (bekerja) mengangkut (hasil sedekah) dengan punggung kami. Maka seseorang datang menyedekahkan sesuatu dalam jumlah banyak. Mereka (orang-orang munafik) berkata, "Ini orang yang ria (pamer)." Seorang lain datang lalu menyedekahkan satu ṣā'. Mereka berkata, "Allah tidak membutuhkan ṣā' orang ini." Maka turunlan ayat, "(Orang-orang munafik) yaitu orang-orang yang mencela orang-orang Mukmin yang memberi sedekah dengan sukarela dan (mencela) orang-orang yang tidak punya (untuk disedekahkan) selain sekedar kesanggupannya."
Muttafaq 'alaihDerajatHadis sahih
Penjelasan
Abu Mas'ūd -raḍiyallāhu 'anhu- menuturkan, ketika turun ayat sedekah, yakni ayat yang menganjurkan bersedekah. Al-Hāfiẓ mengatakan, "Sepertinya ia menunjuk pada firman Allah -Ta'ālā-, "Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka." Maka para sahabat -raḍiyallāhu 'anhum- bersegera dan berlomba-lomba memberikan sedekah kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Setiap orang membawa sedekah semampunya kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Lantas ada orang yang datang dengan sedekah yang banyak dan ada orang yang datang dengan sedekah yang sedikit. Ketika seseorang datang membawa sedekah banyak, orang-orang munafik mengatakan, "Orang ini ria, tidak meniatkan sedekahnya untuk mencari rida Allah." Dan apabila seseorang membawa sedekah sedikit mereka mengatakan, "Sesungguhnya Allah tidak membutuhkannya." Ada orang yang datang membawa sedekah satu ṣā', mereka berkata, "Allah tidak membutuhkan satu ṣā'-mu ini." Maka Allah menurunkan firman-Nya, "(orang-orang munafik) yaitu orang-orang yang mencela orang-orang Mukmin yang memberi sedekah dengan sukarela dan (mencela) orang-orang yang tidak punya (untuk disedekahkan) selain sekedar kesanggupannya." Yaitu, mereka mencibir orang-orang yang sukarela bersedekah dan orang-orang yang tidak mendapatkan sedekah selain sekedar kemampuannya. Orang-orang munafik ini mencela mereka semua. "Maka orang-orang munafik itu menghina mereka. Allah akan membalas penghinaan mereka itu, dan untuk mereka azab yang pedih." Kita berlindung kepada Allah dari perbuatan tersebut.
Rujukan
تطريز رياض الصالحين، فيصل بن عبد العزيز المبارك، تحقيق: عبد العزيز بن عبد الله آل حمد، دار العاصمة للنشر والتوزيع، الرياض، الطبعة: الأولى 1423هـ، 2002م.
نزهة المتقين شرح رياض الصالحين، مجموعة من الباحثين، مؤسسة الرسالة، بيروت، الطبعة: الرابعة عشر 1407هـ، 1987م.
شرح رياض الصالحين، محمد بن صالح العثيمين، مدار الوطن، الرياض، 1426هـ.
صحيح البخاري، محمد بن إسماعيل البخاري الجعفي، تحقيق: محمد زهير الناصر، دار طوق النجاة (مصورة عن السلطانية بإضافة ترقيم: محمد فؤاد عبد الباقي)، الطبعة: الأولى 1422هـ.
صحيح مسلم، مسلم بن الحجاج القشيري النيسابوري، تحقيق محمد فؤاد عبد الباقي، دار إحياء التراث العربي، بيروت، الطبعة: 1423هـ.
Hadis ini di HadeethEnc.comعن محمد بن زيد: أن نَاسًا قالوا لجده عبد الله بن عمر رضي الله عنهما : إنا ندخل على سَلاطِينِنَا فنقول لهم بخلاف ما نتكلم إذا خرجنا من عندهم، قال: كنا نَعُدُّ هذا نفاقا على عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم .
Dari Muhammad bin Zaid bahwa sekelompok orang berkata pada kakeknya, Abdullah bin Umar -raḍiyallāhu 'anhumā-, "Sesungguhnya kami masuk menemui penguasa-penguasa kami, lalu kami mengatakan pada mereka hal yang berbeda dengan apa yang kami katakan ketika telah keluar dari hadapannya." Ia berkata, "Kami dulu, di masa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menganggap hal ini sebagai kemunafikan."
Diriwayatkan oleh BukhariDerajatHadis sahih
Penjelasan
Dari Abdullah bin Umar -raḍiyallāhu 'anhumā- bahwa sekelompok orang datang padanya dan mengatakan, "Kami menemui penguasa-penguasa kami, lalu kami mengatakan suatu perkataan pada mereka, akan tetapi ketika kami telah keluar dari hadapannya kami mengatakan perkataan yang berbeda." Ia menjawab, "Kami dulu, di masa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, menganggap perbuatan itu sebagai kemunafikan. Karena mereka bicara dan berdusta, berkhianat dan tidak memberi nasihat. Yang wajib dilakukan oleh orang yang menemui penguasa baik panglima, menteri, pemimpin maupun raja adalah ia mengungkapkan suatu perkara sesuai hakekatnya.
Rujukan
رياض الصالحين للنووي، تحقيق: ماهر الفحل، دار ابن كثير، دمشق، ط1، 2007م.
صحيح البخاري، بترقيم محمد فؤاد عبد الباقي.
نزهة المتقين شرح رياض الصاحين، شرح الدكتور مصطفى الخن وآخرين، مؤسسة الرسالة، ط 1. 1987م.
تطريز رياض الصالحين، لفيصل بن عبد العزيز آل مبارك، تحقيق: عبد العزيز آل حمد، دار العاصمة، ط1، الرياض، 2002م.
دليل الفالحين لطرق رياض الصالحين، لابن علان، دار الكتاب العربي، بيروت.
شرح رياض الصالحين، لابن عثيمين، مؤسسة ابن عثيمين الخيرية، مدار الوطن للنشر، الرياض، ط1426هـ.
كنوز رياض الصالحين، المجلس العلمي كنوز دار إشبيليا، الرياض، ط1، 2009م.
Hadis ini di HadeethEnc.comعن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه مرفوعاً: «يكشِف ربُّنا عن ساقِه، فيسجدُ له كلُّ مؤمنٍ ومؤمنةٍ، فيبقى كلُّ مَن كان يسجدُ في الدنيا رياءً وسُمْعةً، فيذهبُ ليسجدَ، فيعودَ ظهرُه طبقًا واحدًا».
Dari Abu Sa'īd Al-Khudri -raḍiyallāhu 'anhu- secara marfu, “Tuhan kita akan menyingkapkan betis-Nya, sehingga bersujud kepada-Nya semua laki-laki dan wanita beriman. Lantas tertinggal mereka yang biasa sujud di dunia karena ria dan sum’ah (mencari popularitas). Dia ingin sujud, tetapi punggungnya menjadi satu ruas saja (tak dapat ditekuk)."
Muttafaq 'alaihDerajatHadis sahih
Penjelasan
Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- menyingkapkan betis-Nya yang mulia. Lantas seluruh laki-laki dan wanita yang beriman bersujud kepada-Nya. Adapun orang-orang munafik yang dulu bersujud di dunia agar dilihat manusia, maka mereka terhalang untuk sujud dan punggung-punggung mereka menjadi tulang punggung yang rata (tak beruas). Mereka tidak bisa lagi membungkuk dan sujud, karena mereka sebenarnya dulu tidak bersujud untuk Allah di dunia. Dulu mereka bersujud demi berbagai kepentingan duniawi. Betis di sini tidak boleh ditakwilkan dengan makna ketakutan atau bencana dan sebagainya, tetapi harus menetapkannya sebagai sifat bagi Allah -Ta'ālā- tanpa mempertanyakan bagaimana ataupun penyerupaan, juga tanpa ada penyimpangan dan pengosongan makna.
Rujukan
صحيح البخاري، نشر: دار طوق النجاة (مصورة عن السلطانية بإضافة ترقيم محمد فؤاد عبد الباقي)، الطبعة: الأولى، 1422ه.
عمدة القاري شرح صحيح البخاري، لمحمود بن أحمد بن موسى الحنفى بدر الدين العينى، الناشر: دار إحياء التراث العربي – بيروت.
مرقاة المفاتيح شرح مشكاة المصابيح، لعلي بن سلطان الملا الهروي القاري، الناشر: دار الفكر، بيروت – لبنان، الطبعة: الأولى، 1422هـ - 2002م.
شرح كتاب التوحيد من صحيح البخاري، لعبد الله بن محمد الغنيمان، الناشر: مكتبة الدار، المدينة المنورة، الطبعة: الأولى، 1405 هـ.
Hadis ini di HadeethEnc.comعَنِ ابْنِ عُمَرَ رضي الله عنهما عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: «مَثَلُ الْمُنَافِقِ، كَمَثَلِ الشَّاةِ الْعَائِرَةِ بَيْنَ الْغَنَمَيْنِ تَعِيرُ إِلَى هَذِهِ مَرَّةً وَإِلَى هَذِهِ مَرَّةً».
Ibnu Umar -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan, Nabi ﷺ bersabda, "Permisalan orang munafik adalah seperti kambing yang bolak-balik di antara dua gerombolan kambing; sesekali datang ke kelompok ini dan pada kesempatan lain datang ke kelompok yang satunya."
HR. MuslimDerajatSahih
Penjelasan
Nabi ﷺ menjelaskan keadaan orang munafik, yaitu seperti kambing yang ragu, tidak tahu akan mengikuti gerombolan kambing yang mana; sesekali datang ke kelompok ini dan di lain waktu, ia menuju ke kelompok yang lain. Mereka bingung antara keimanan dan kekafiran. Mereka tidak bersama orang-orang mukmin lahir dan batin, tidak juga bersama orang-orang kafir lahir dan batin. Zahir mereka bersama orang mukmin, tetapi batin mereka dalam keraguan dan kebimbangan. Sesekali ia condong ke orang-orang yang mukmin, dan lain waktu ia condong kepada orang-orang kafir.
Faedah
- 1- Di antara petunjuk Nabi ﷺ ialah membuat permisalan untuk membuat sebuah makna lebih dipahami.
- 2- Penjelasan mengenai keadaan orang-orang munafik yang ragu dan bingung serta tidak konsisten.
- 3- Peringatan terhadap perilaku orang munafik serta anjuran untuk jujur dan teguh di atas keimanan secara zahir dan batin.
Rujukan
صحيح مسلم (4/ 2146) (2784)، إكمال المعلم بفوائد مسلم (8/ 313)، عمدة القاري شرح صحيح البخاري (16/ 69).
Hadis ini di HadeethEnc.comعَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رضي الله عنهما قال: قال رَسولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَرْبَعٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ كَانَ مُنَافِقًا خَالِصًا، وَمَنْ كَانَتْ فِيهِ خَلَّةٌ مِنْهُنَّ كَانَتْ فِيهِ خَلَّةٌ مِنْ نِفَاقٍ حَتَّى يَدَعَهَا: إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا عَاهَدَ غَدَرَ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَإِذَا خَاصَمَ فَجَرَ».
Abdullah bin 'Amr -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ bersabda, "Ada empat sifat, siapa yang memiliki keempatnya maka dia seorang munafik sejati, namun siapa yang memiliki salah satunya maka dalam dirinya terdapat satu sifat kemunafikan hingga dia meninggalkannya, yaitu: jika dia berbicara maka dia berdusta, jika dia membuat perjanjian maka dia melanggarnya, melanggarnya, jika dia berjanji maka dia menyelisihinya, dan ketika berdebat maka dia berlaku curang."
Muttafaq 'alaihDerajatSahih
Penjelasan
Nabi ﷺ mengingatkan dari empat sifat, jika keempatnya terkumpul pada seorang muslim maka dia sangat mirip dengan orang munafik lantaran adanya sifat-sifat itu. Ini terkait orang yang secara dominan memiliki keempat sifat ini. Adapun orang jarang melakukan sifat tersebut, maka ia tidak termasuk di dalamnya. Keempat sifat itu adalah:
Pertama: Ketika berbicara, dia sengaja berdusta dan tidak jujur dalam ucapannya.
- Kedua: ketika membuat sebuah perjanjian, ia tidak memenuhinya dan mengkhianati rekannya.
- Ketiga: ketika membuat sebuah janji, ia tidak menepatinya, bahkan menyelisihinya.
- Keempat: ketika berseteru dan berselisih dengan seseorang, serangannya keras dan keluar dari kebenaran, ia curang dalam membantah dan menyanggah, dan ia menyampaikan kebatilan dan kedustaan.
Kemunafikan ialah menampakkan suatu kebalikan dari yang disembunyikan. Hakikat ini ada pada pemilik sifat-sifat ini. Kemunafikannya adalah pada orang yang ia ajak bicara, orang yang ia beri janji, orang yang mengamanahinya, orang yang ia lawan berseteru, dan orang yang ia beri perjanjian. Ini bukan munafik dalam Islam dengan menampakkan keislaman tetapi menyembunyikan kekafiran. Siapa yang memiliki salah satu sifat ini maka dalam dirinya terdapat satu sifat kemunafikan hingga ia meninggalkannya.
Faedah
- 1- Menjelaskan sebagian tanda orang munafik untuk memberikan rasa takut dan peringatan agar tidak terjerumus ke dalamnya.
- 2- Maksud hadis ini adalah bahwa sifat-sifat ini adalah sifat kemunafikan dan pemiliknya mirip dengan orang munafik di dalam sifat-sifat ini serta berperilaku dengan perangai mereka, bukan berarti ia seorang munafik yang menampakkan keislaman dan menyembunyikan kekafiran. Konon, hadis ini dimaknai pada orang yang sifat-sifat ini dominan padanya serta menyepelekan dan menggampangkannya karena orang yang seperti itu biasanya memiliki akidah yang rusak.
- 3- Al-Gazāliy berkata, "Pilar agama mengerucut kepada tiga hal: perkataan, perbuatan, dan niat. Beliau mengingatkan kerusakan perkataan dengan dusta, kerusakan perbuatan dengan khianat, dan kerusakan niat dengan menyelisihi janji. Hal itu karena menyelisihi janji tidak menjadi cela kecuali jika tekad untuk itu bersamaan dengan janji. Adapun jika ia bertekad kemudian muncul di hadapannya suatu penghalang atau tampak baginya suatu pandangan lain, maka yang seperti ini belum muncul padanya potret kemunafikan."
- 4- Kemunafikan terbagi menjadi dua: (a) Kemunafikan dalam akidah yang mengeluarkan pelakunya dari keimanan, yaitu menampakkan keislaman tetapi menyembunyikan kekafiran (b) Kemunafikan dalam amal, yaitu menyerupai orang munafik di dalam akhlak mereka, dan ini tidak mengeluarkan pelakunya dari keimanan, tetapi ia merupakan dosa besar.
- 5- Ibnu Ḥajar berkata, "Ulama telah berijmak bahwa orang yang menyatakan beriman dengan hati dan lisannya lalu melakukan sifat-sifat ini tidak dihukumi kafir ataupun munafik yang kekal dalam neraka."
- 6- An-Nawawiy berkata, "Sejumlah ulama mengatakan: maksudnya ialah orang-orang munafik di masa Nabi ﷺ, yaitu mereka menyatakan beriman tetapi berdusta, mereka dipercayai terkait agama mereka tetapi berkhianat, mereka berjanji membela agama tetapi ingkar, dan mereka curang di dalam perseteruan mereka."
Rujukan
صحيح البخاري (1/ 16) (34)، صحيح مسلم (1/ 78) (58)، المفهم لما أشكل من تلخيص كتاب مسلم (1/ 250)، بهجة قلوب الأبرار (ص 26)، البحر المحيط الثجاج (2/370).
Hadis ini di HadeethEnc.comSetiap hadis, derajat, penjelasan, dan faedah di sini ditampilkan persis sebagaimana diterbitkan HadeethEnc.com, menurut ketentuan penerbitan ulangnya. Derajat itu tidak menyebut siapa yang menilainya. Terjemahan dan penjelasan adalah karya para penyusunnya, dan sebagian menyebutkan hukum; para peninjau Sabīl belum memeriksanya. Hadis berbahasa Arablah teksnya. Sumber: HadeethEnc.com