عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ مَسْعُودٍ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «مَا مِنْ نَبِيٍّ بَعَثَهُ اللهُ فِي أُمَّةٍ قَبْلِي إِلَّا كَانَ لَهُ مِنْ أُمَّتِهِ حَوَارِيُّونَ، وَأَصْحَابٌ يَأْخُذُونَ بِسُنَّتِهِ وَيَقْتَدُونَ بِأَمْرِهِ، ثُمَّ إِنَّهَا تَخْلُفُ مِنْ بَعْدِهِمْ خُلُوفٌ يَقُولُونَ مَا لَا يَفْعَلُونَ، وَيَفْعَلُونَ مَا لَا يُؤْمَرُونَ، فَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِيَدِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ، وَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِلِسَانِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ، وَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِقَلْبِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ، وَلَيْسَ وَرَاءَ ذَلِكَ مِنَ الْإِيمَانِ حَبَّةُ خَرْدَلٍ».
Abdullah bin Mas'ūd -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Tidaklah ada seorang nabi yang Allah utus pada suatu umat sebelumku kecuali ia memiliki para pengikut setia dan sahabat-sahabat yang mengamalkan sunnahnya dan mengikuti perintahnya. Kemudian datang generasi pengganti setelah mereka yang mengatakan apa yang tidak mereka lakukan dan melakukan apa yang tidak diperintahkan. Siapa yang berjuang melawan mereka dengan tangannya, maka ia seorang mukmin. Siapa yang berjuang melawan mereka dengan lisannya, maka ia seorang mukmin. Siapa yang berjuang melawan mereka dengan hatinya, maka ia seorang mukmin. Tidak ada keimanan pada selain itu meskipun sekecil biji sawi."
HR. MuslimDerajatSahih
Penjelasan
Nabi ﷺ mengabarkan bahwa tidak ada seorang nabi yang diutus oleh Allah pada suatu umat sebelumnya kecuali ia memiliki pengikut-pengikut pilihan serta pejuang-pejuang yang ikhlas di antara umatnya, yang pantas menjadi generasi pengganti setelahnya; mereka mengikuti sunnahnya dan menaati perintahnya. Kemudian sepeninggal para pendahulu yang saleh itu, datanglah generasi yang tidak memiliki kebaikan; mereka mengatakan apa yang tidak mereka lakukan dan melakukan apa yang tidak diperintahkan. Oleh sebab itu, siapa yang berjuang melawan mereka dengan tangannya, maka ia seorang mukmin. Siapa yang berjuang melawan mereka dengan lisannya, maka ia seorang mukmin. Siapa yang berjuang melawan mereka dengan hatinya, ia adalah seorang mukmin. Tidak ada keimanan di balik itu meskipun sekecil biji sawi.
Faedah
- 1- Motivasi untuk melawan orang-orang yang menyelisihi syariat dalam perkataan dan perbuatan mereka.
- 2- Tidak mengingkari kemungkaran dengan hati menunjukkan kelemahan atau kehilangan iman.
- 3- Allah Ta'ala memberi kemudahan kepada para nabi dengan memunculkan generasi yang akan mengemban tugas mereka sepeninggal mereka.
- 4- Orang yang menginginkan keselamatan harus mengikuti jalan para nabi karena semua jalan selain jalan mereka adalah kebinasaan dan kesesatan.
- 5- Semakin jauh dari masa Nabi ﷺ dan sahabat-sahabatnya, manusia semakin meninggalkan Sunnah, mengikuti hawa nafsu, dan mengadakan bidah.
- 6- Menjelaskan tingkatan-tingkatan jihad, yaitu: - Jihad dengan tangan bagi orang yang memiliki kemampuan mengubahnya, seperti jajaran pemerintah, hakim, dan penguasa. - Jihad dengan perkataan, yaitu dengan menerangkan kebenaran dan berdakwah kepadanya. - Jihad dengan hati, yaitu dengan mengingkari kemungkaran dalam hati, tidak menyukai ataupun menerimanya.
- 7- Kewajiban amar makruf dan nahi mungkar.
Rujukan
صحيح مسلم (1/ 69) (50).
بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين، لسليم الهلالي (1/ 276).
تطريز رياض الصالحين، لفيصل آل مبارك (ص148).
كنوز رياض الصالحين، لمجموعة من الباحثين (4/ 16).
نزهة المتقين شرح رياض الصالحين، لمجموعة من الباحثين (1/ 209).
Hadis ini di HadeethEnc.comعن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ -أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ- شُعْبَةً، فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الْأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ، وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الْإِيمَانِ».
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ bersabda, "Iman memiliki lebih dari tujuh puluhan -atau enam puluhan- cabang. Cabang yang paling utama ialah ucapan lā ilāha illallāh, sedangkan yang paling rendah ialah menyingkirkan gangguan dari jalan, dan malu juga salah satu cabang iman."
Muttafaq 'alaihDerajatSahih
Penjelasan
Nabi ﷺ mengabarkan bahwa iman terdiri dari banyak cabang yang mencakup amalan, keyakinan, dan ucapan.
Beliau memaparkan bahwa cabang iman yang paling tinggi dan paling utama ialah ucapan "lā ilāha illallāh" disertai dengan mengetahui maknanya dan mengamalkan kandungannya. Maknanya: Allah satu-satunya sembahan yang Maha Esa lagi Mahatunggal dan yang berhak diibadahi, tidak ada sembahan yang lain.
Juga menjelaskan bahwa amalan iman yang paling rendah ialah menyingkirkan semua hal yang mengganggu orang dari jalan mereka.
Kemudian beliau ﷺ menyampaikan bahwa malu bagian dari cabang iman, yaitu suatu akhlak yang mendorong untuk melakukan yang baik dan meninggalkan yang buruk.
Faedah
- 1- Iman itu bertingkat-tingkat, sebagiannya lebih afdal dari yang lain.
- 2- Iman terdiri dari perkataan, perbuatan dan keyakinan.
- 3- Malu kepada Allah Ta'ala menuntut agar Allah tidak melihat Anda di tempat yang Dia larang serta tidak kehilangan Anda pada tempat yang Dia perintahkan.
- 4- Penyebutan bilangan cabang iman tidak menunjukkan pembatasan pada bilangan itu, tetapi menunjukkan banyaknya cabang iman, karena bangsa Arab kadang menyebutkan bilangan pada sesuatu tetapi tidak bermaksud sebagai pembatasan bilangan itu.
Rujukan
صحيح البخاري (1/ 11) (9).
صحيح مسلم (1/ 63) (35).
نزهة المتقين شرح رياض الصالحين (1/ 154).
شرح رياض الصالحين، لابن عثيمين (2/ 169).
تطريز رياض الصالحين، لفيصل آل مبارك (ص106).
بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين، لسليم لهلالي (1/ 205).
Hadis ini di HadeethEnc.comعَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «المُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ المُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ، وَالمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ».
Abdullah bin 'Amr -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan, Nabi ﷺ bersabda, "Seorang muslim adalah orang yang tidak menyakiti kaum muslimin lainnya, entah dengan lisan ataupun tangannya. Orang yang berhijrah itu adalah yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah."
Muttafaq 'alaihDerajatSahih
Penjelasan
Nabi ﷺ mengabarkan bahwa muslim yang sempurna keislamannya adalah orang yang kaum muslimin lainnya selamat dari lisannya sehingga ia tidak mencaci, melaknat, dan menggunjing mereka, serta tidak melakukan upaya apa pun yang menyakiti dengan lisannya. Demikian juga mereka selamat dari tangannya, ia tidak menzalimi mereka dan tidak mengambil harta mereka tanpa alasan yang benar dan lain sebagainya. Sedangkan orang yang berhijrah ialah yang meninggalkan semua yang diharamkan oleh Allah Ta'ala.
Faedah
- 1- Kesempurnaan Islam tidak akan terwujud kecuali dengan tidak menyakiti orang lain secara lahir maupun batin.
- 2- Penyebutan lisan dan tangan secara khusus karena banyaknya kesalahan dan keburukan keduanya, yaitu mayoritas keburukan bersumber dari keduanya.
- 3- Dorongan untuk meninggalkan kemaksiatan dan menaati semua perintah Allah Ta'ala.
- 4- Kaum muslimin yang paling utama adalah yang menunaikan hak Allah Ta'ala dan hak kaum muslimin.
- 5- Perbuatan melampaui batas dapat berupa ucapan maupun perbuatan.
- 6- Hijrah yang sempurna ialah meninggalkan semua yang diharamkan oleh Allah Ta'ala.
Rujukan
صحيح البخاري (1/ 11) (10).
صحيح مسلم (1/ 65) (40).
نزهة المتقين شرح رياض الصالحين، لمجموعة من الباحثين (1/ 236).
شرح رياض الصالحين، لابن عثيمين (2/ 511).
بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين، لسليم الهلالي (1/ 306).
Hadis ini di HadeethEnc.comعن أبي سعيد الخُدْريِّ رضي الله عنه قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: «مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ».
Abu Sa'īd Al-Khudri -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, ia berkata, "Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda", "Siapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka hendaklah dia mengubahnya dengan tangannya; jika tidak mampu, maka dengan lisannya; jika tidak mampu juga, maka dengan hatinya, dan itulah iman yang paling lemah."
HR. MuslimDerajatSahih
Penjelasan
Nabi ﷺ memerintahkan kita agar mengubah kemungkaran -yaitu semua yang dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya- sesuai kemampuan. Ketika seseorang melihat suatu kemungkaran, maka ia wajib mengubahnya dengan tangannya jika merasa mampu melakukannya. Akan tetapi, jika ia tidak mampu melakukan hal itu, maka dia harus mengubahnya dengan lisan, melarang pelakunya dan menjelaskan bahayanya serta membimbingnya kepada kebaikan sebagai ganti keburukan itu. Jika tingkatan ini pun ia tidak mampu, maka dia harus mengubahnya dengan hati, yaitu dengan membenci kemungkaran tersebut dan bertekad seandainya memiliki kemampuan untuk mengubahnya maka akan ia lakukan. Mengingkari di dalam hati adalah tingkatan iman yang paling lemah dalam mengubah kemungkaran.
Faedah
- 1- Hadis ini adalah dasar di dalam menjelaskan tingkatan mengubah kemungkaran.
- 2- Perintah agar bertahap dalam mencegah kemungkaran, masing-masing sesuai dengan kemampuan dan kekuasaannya.
- 3- Melarang kemungkaran merupakan perkara besar dalam agama dan tidak pernah gugur dari seseorang; setiap muslim dibebani sesuai kemampuannya.
- 4- Amar makruf nahi mungkar termasuk cabang iman, dan iman itu bisa bertambah dan berkurang.
- 5- Di antara syarat mencegah kemungkaran ialah memastikan bahwa perbuatan itu memang mungkar.
- 6- Syarat lain dalam mengubah kemungkaran adalah tidak menimbulkan kemungkaran lain yang lebih besar.
- 7- Melarang kemungkaran memiliki adab-adab dan syarat-syarat yang harus dipelajari oleh seorang muslim.
- 8- Mengingkari kemungkaran membutuhkan siasat yang sesuai syariat serta ilmu dan pengetahuan.
- 9- Tidak mengingkari dengan hati menunjukkan kelemahan iman.
Rujukan
صحيح مسلم (1/ 69).
جامع العلوم والحكم (2/245).
المعين على تفهم الأربعين (ص 393).
شرح الأربعين النووية للعثيمين (ص: 336).
البحر المحيط الثجاج (2/204).
فتح القوي المتين للعباد (ص 116).
Hadis ini di HadeethEnc.comعَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَجُلٌ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَنُؤَاخَذُ بِمَا عَمِلْنَا فِي الْجَاهِلِيَّةِ؟ قَالَ: «مَنْ أَحْسَنَ فِي الْإِسْلَامِ لَمْ يُؤَاخَذْ بِمَا عَمِلَ فِي الْجَاهِلِيَّةِ، وَمَنْ أَسَاءَ فِي الْإِسْلَامِ أُخِذَ بِالْأَوَّلِ وَالْآخِرِ».
Ibnu Mas'ūd -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, ia berkata, Ada seorang laki-laki berkata, "Wahai Rasulullah, apakah kami akan dihukum terkait apa yang telah kami kerjakan di masa jahiliah?" Beliau bersabda, "Siapa yang berbuat kebaikan di masa Islam tidak akan dihukum terkait apa yang telah dikerjakannya di masa jahiliah. Tetapi siapa yang berbuat keburukan di masa Islam, maka ia akan dihukum dengan masa pertama dan yang terakhir."
Muttafaq 'alaihDerajatSahih
Penjelasan
Nabi ﷺ menerangkan keutamaan masuk Agama Islam; bahwa orang yang masuk Islam dan bagus keislamannya serta ikhlas dan jujur, ia tidak dihisab terkait kemaksiatan-kemaksiatan yang dikerjakannya di masa jahiliah. Tetapi siapa yang berbuat keburukan di masa Islam; misalnya ia munafik atau murtad dari agamanya, maka ia akan dihisab terkait perbuatannya di masa kafir dan perbuatan-perbuatannya di masa Islam.
Faedah
- 1- Perhatian para sahabat -riḍwānullāhi 'alaihim- serta kekhawatiran mereka terhadap perbuatan-perbuatan di masa jahiliah yang pernah mereka kerjakan.
- 2- Anjuran agar istikamah di atas Islam.
- 3- Keutamaan masuk Agama Islam, bahwa ia menggugurkan perbuatan-perbuatan sebelumnya.
- 4- Orang yang murtad dan munafik akan dihisab terkait semua amalnya yang telah lalu di masa jahiliah dan semua dosa yang dikerjakannya di masa Islam.
Rujukan
صحيح البخاري (9/ 14) (6921).
صحيح مسلم (1/ 111) (120).
مشارق الأنوار على صحاح الآثار (2/229).
الكواكب الدراري (24/43).
عمدة القاري شرح صحيح البخاري (24/ 76).
Hadis ini di HadeethEnc.comعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قال: جَاءَ نَاسٌ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَسَأَلُوهُ: إِنَّا نَجِدُ فِي أَنْفُسِنَا مَا يَتَعَاظَمُ أَحَدُنَا أَنْ يَتَكَلَّمَ بِهِ، قَالَ: «وَقَدْ وَجَدْتُمُوهُ؟» قَالُوا: نَعَمْ، قَالَ: «ذَاكَ صَرِيحُ الْإِيمَانِ».
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, ia berkata, Sejumlah orang dari kalangan sahabat Nabi ﷺ datang, lalu bertanya kepada beliau, "Sungguh kami mendapatkan dalam diri kami sesuatu yang berat kami ucapkan." Beliau bertanya, "Apakah kalian benar-benar telah mendapatkannya?" Mereka menjawab, "Ya." Beliau bersabda, "Yang demikian itu adalah wujud konkret dari iman."
HR. MuslimDerajatSahih
Penjelasan
Sejumlah orang dari kalangan sahabat Nabi ﷺ datang, lalu menanyakan perkara besar yang mereka temukan dalam diri mereka, yang berat untuk diungkapkan karena dianggap tidak baik serta tidak pantas untuk disampaikan. Maka Nabi ﷺ bersabda: Apa yang kalian temukan dalam diri kalian itu adalah wujud konkret keimanan dan keyakinan, yang mendorong kalian melakukan penolakan terhadap apa yang dilontarkan oleh setan pada hati serta pengingkaran untuk mengucapkannya dan kalian menganggapnya sebagai sesuatu yang besar, dan setan tidak dapat menguasai hati kalian; namun akan berbeda kondisinya saat seseorang hatinya telah dikuasai oleh setan, sehingga tidak ada penolakan terhadapnya.
Faedah
- 1- Menerangkan lemahnya setan saat berhadapan dengan orang beriman; ia tidak mampu menguasainya kecuali sebatas menghadirkan waswas.
- 2- Tidak boleh mempercayai dan menerima bisikan jiwa berupa waswas, karena itu berasal dari setan.
- 3- Bisikan setan tidak akan mencelakakan orang beriman, tetapi dia tetap harus memohon perlindungan kepada Allah dari bisikan itu dan tidak larut di dalamnya.
- 4- Seorang muslim tidak boleh diam saja terhadap perkara yang membingungkannya dalam agama, tetapi dia harus menanyakannya.
Rujukan
صحيح مسلم (1/ 119) (132)، معالم السنن (4/174)، المفهم للقرطبي (1/344)، شرح النووي على مسلم (2/154)، البحر المحيط الثجاج (3/622).
Hadis ini di HadeethEnc.comعَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ رضي الله عنهما قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّ الْإِيمَانَ لَيَخْلَقُ فِي جَوْفِ أَحَدِكُمْ كَمَا يَخْلَقُ الثَّوْبُ الْخَلِقُ، فَاسْأَلُوا اللَّهَ أَنْ يُجَدِّدَ الْإِيمَانَ فِي قُلُوبِكُمْ».
Abdullah bin 'Amr bin Al-'Āṣ -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ bersabda, "Sungguh iman itu dapat lusuh di dalam dada salah satu di antara kalian, sebagaimana lusuhnya pakaian yang sudah usang. Maka mohonlah kepada Allah agar memperbarui iman di dalam hati kalian."
HR. Hakim dan TabaraniDerajatSahih
Penjelasan
Nabi ﷺ mengabarkan bahwa iman dapat usang dan lemah dalam hati seorang muslim sebagaimana pakaian baru yang dapat lusuh karena sudah lama dipakai. Hal itu disebabkan oleh kelesuan dalam beribadah atau melakukan kemaksiatan dan larut di dalam syahwat. Maka Nabi ﷺ mengarahkan kita agar berdoa kepada Allah Ta'ala semoga Allah memperbarui iman kita dengan melaksanakan kewajiban-kewajiban serta banyak berzikir dan beristigfar.
Faedah
- 1- Anjuran memohon kepada Allah agar iman di dalam hati diteguhkan dan diperbarui kembali.
- 2- Iman itu mencakup perkataan, perbuatan, dan keyakinan. Ia dapat bertambah melalui ketaatan dan berkurang karena kemaksiatan.
Rujukan
المستدرك على الصحيحين للحاكم (1/ 45) (5)، المعجم الكبير للطبراني (13/ 36) (84)، النهاية في غريب الحديث والأثر، ص(282)، النهاية (1/316)، فيض القدير (2/323)، التنوير شرح الجامع الصغير (3/434).
Hadis ini di HadeethEnc.comعَنِ الْعَبَّاسِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ رضي الله عنه أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَقُولُ: «ذَاقَ طَعْمَ الْإِيمَانِ مَنْ رَضِيَ بِاللهِ رَبًّا، وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا، وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولًا».
Al-'Abbās bin Abdul Muṭṭalib -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa ia mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, "Pasti akan mengecap kenikmatan iman, siapa yang rida Allah sebagai tuhannya, Islam sebagai agamanya, dan Muhammad sebagai rasulnya."
HR. MuslimDerajatSahih
Penjelasan
Nabi ﷺ mengabarkan bahwa mukmin yang jujur dalam keimanannya serta hatinya tenteram dengan keimanan itu akan menemukan dalam hatinya kelapangan, kebahagiaan, kenikmatan dan kepuasan dekat dari Allah ﷺ, jika ia rida dengan tiga perkara:
- Pertama: dia rida Allah sebagai tuhannya. Yaitu apabila dadanya lapang dengan semua yang datang dari Allah dalam hal rububiyah seperti pembagian rezeki dan keadaan, ia tidak menemukan dalam hatinya perlawanan terhadap satu pun dari hal tersebut serta tidak menginginkan tuhan selain Allah ﷻ.
- Kedua: dia rida Islam sebagai agamanya. Yaitu apabila dadanya lapang dengan semua pembebanan dan kewajiban dalam agama Islam dan ia tidak berjalan di selain jalan Islam.
- Ketiga: dia rida Muhammad ﷺ sebagai rasulnya. Yaitu apabila dadanya lapang dan bahagia dengan semua yang beliau bawa tanpa ragu-ragu dan syak, ia tidak menempuh kecuali yang sesuai dengan petunjuk beliau ﷺ.
Faedah
- 1- Iman memiliki kenikmatan dan rasa yang dapat dirasakan dengan hati sebagaimana kenikmatan makanan dan minuman dirasakan dengan mulut.
- 2- Badan tidak akan merasakan nikmat makanan dan minuman kecuali ketika sehat, demikian juga halnya hati ketika sehat dari penyakit-penyakit hawa nafsu yang menyesatkan serta syahwat-syahwat yang diharamkan, niscaya akan merasakan nikmat keimanan. Tetapi jika hati sakit maka ia tidak akan merasakan kenikmatan iman, bahkan bisa jadi justru menganggap nikmat hawa nafsu dan kemaksiatan yang sebenarnya berisikan kebinasaannya.
- 3- Ketika seseorang rida dan senang dengan suatu perkara maka urusannya akan mudah, sedikit pun tidak ada yang berat baginya, ia akan senang dengan semua yang berkaitan dengannya dan hatinya akan riang gembira. Demikian juga seorang mukmin, jika iman telah masuk ke dalam hatinya maka akan mudah baginya melakukan ketaatan kepada Tuhannya, jiwanya akan menikmatinya, dan ia tidak akan merasa berat untuk mengupayakannya.
- 4- Ibnul-Qayyim berkata, "Hadis ini berisikan kewajiban rida dengan rububiyah dan uluhiyah Allah ﷻ, rida dengan Rasul-Nya serta tunduk kepadanya, dan rida dengan agama-Nya sekaligus mengikutinya.
Rujukan
صحيح مسلم (1/ 62) (34)، البحر المحيط الثجاج في شرح صحيح الإمام مسلم بن الحجاج (2/ 11)، إكمال المعلم بفوائد مسلم (1/ 270).
Hadis ini di HadeethEnc.comSetiap hadis, derajat, penjelasan, dan faedah di sini ditampilkan persis sebagaimana diterbitkan HadeethEnc.com, menurut ketentuan penerbitan ulangnya. Derajat itu tidak menyebut siapa yang menilainya. Terjemahan dan penjelasan adalah karya para penyusunnya, dan sebagian menyebutkan hukum; para peninjau Sabīl belum memeriksanya. Hadis berbahasa Arablah teksnya. Sumber: HadeethEnc.com