Langsung ke konten
Hadis dengan penjelasan

Mengusap Sepatu dan Semacamnya

10 hadis

Biarkan keduanya karena aku memasukkan kedua kakiku ke dalam keduanya dalam keadaan suci

عَنْ المُغِيرَةِ رضي الله عنه قَالَ: كُنْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي سَفَرٍ، فَأَهْوَيْتُ لِأَنْزِعَ خُفَّيْهِ، فَقَالَ: «دَعْهُمَا، فَإِنِّي أَدْخَلْتُهُمَا طَاهِرَتَيْنِ» فَمَسَحَ عَلَيْهِمَا.
Al-Mugīrah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Aku pernah bersama Nabi ﷺ dalam sebuah perjalanan. Aku merunduk untuk melepas sepasang khuff (sepatu kulit) beliau, maka beliau bersabda, "Biarkan keduanya karena aku memasukkan kedua kakiku ke dalam keduanya dalam keadaan suci." Lalu beliau mengusap bagian atas kedua khuff tersebut.
Muttafaq 'alaihDerajatSahih
Penjelasan

Dalam sebuah perjalanannya, Nabi ﷺ berwudu. Ketika akan membasuh kaki, Al-Mugīrah bin Syu'bah -raḍiyallāhu 'anhu- mengulurkan kedua tangannya untuk melepas khuff yang ada di kaki Nabi ﷺ agar kaki beliau dapat dibasuh. Namun, Nabi ﷺ bersabda, "Biarkan keduanya, jangan dilepas; karena aku memasukkan kedua kakiku ke dalam khuff dalam keadaan suci." Lantas Nabi ﷺ mengusap kedua khuff tersebut sebagai ganti membasuh kedua kaki.

Faedah
  1. 1- Boleh mengusap khuff ketika berwudu dari hadas kecil, adapun mandi karena hadas besar maka harus dengan membasuh kaki.
  2. 2- Mengusap khuff dilakukan satu kali-satu kali dengan menjalankan tangan yang basah di bagian atas khuff tanpa bagian bawahnya.
  3. 3- Dalam mengusap khuff, disyaratkan: - Khuff dipakai setelah berwudu secara sempurna dengan membasuh kedua kaki dengan air. - Khuff dipakai dalam keadaan suci. - Khuff tersebut menutup seluruh bagian kaki yang wajib dibasuh. - Pengusapannya dilakukan pada hadas kecil, bukan pada junub atau lainnya yang mewajibkan mandi. - Mengusap dilakukan pada batasan waktu yang disyariatkan, yaitu satu hari satu malam bagi orang mukim dan tiga hari tiga malam bagi musafir.
  4. 4- Semua yang menutup kaki seperti kaos kaki dan semisalnya dapat dianalogikan dengan khuff, sehingga semua itu bisa diusap.
  5. 5- Baiknya akhlak Nabi ﷺ serta metode pengajaran beliau, yaitu beliau melarang Al-Mugīrah melepas khuff beliau seraya menjelaskan sebabnya, yaitu bahwa beliau memasukkan kedua kakinya dalam keadaan suci, agar hati Al-Mugīrah tenang dan mengetahui hukum tersebut.
Rujukan

صحيح البخاري (1/ 52) (206). صحيح مسلم (1/ 230) (274). تيسير العلام شرح عمدة الأحكام، لعبد الله البسام (ص50). الإلمام بشرح عمدة الأحكام، لإسماعيل الأنصاري (1/ 36). خلاصة الكلام شرح عمدة الأحكام، لفيصل آل مبارك (ص27).

Hadis ini di HadeethEnc.com

Aku pernah bersama Nabi ﷺ, lalu beliau pergi ke tempat pembuangan sampah suatu kaum lalu beliau kencing berdiri

عَنْ حُذَيْفَةَ رضي الله عنه قَالَ: كُنْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَانْتَهَى إِلَى سُبَاطَةِ قَوْمٍ، فَبَالَ قَائِمًا، فَتَنَحَّيْتُ فَقَالَ: «ادْنُهْ» فَدَنَوْتُ حَتَّى قُمْتُ عِنْدَ عَقِبَيْهِ فَتَوَضَّأَ فَمَسَحَ عَلَى خُفَّيْهِ.
Ḥużaifah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Aku pernah bersama Nabi ﷺ, lalu beliau pergi ke tempat pembuangan sampah suatu kaum lalu beliau kencing berdiri, sehingga aku pun menjauh. Beliau bersabda, "Mendekatlah." Aku pun mendekat sampai berdiri di sisi kedua tumit beliau, lalu beliau berwudu dan mengusap kedua khuff beliau.
Muttafaq 'alaihDerajatSahih
Penjelasan

Ḥużaifah -raḍiyallāhu 'anhu- menuturkan bahwa ia pernah bersama Nabi ﷺ. Lalu beliau ingin kencing, sehingga masuk ke subāṭah suatu kaum. Subāṭah adalah tempat pembuangan sampah dan tanah yang disapu dari rumah. Kemudian beliau kencing berdiri. Tetapi, kebiasaan beliau yang paling umum ialah kencing duduk. Ḥużaifah lalu menjauh dari beliau. Tetapi beliau ﷺ berkata: mendekatlah. Lantas Ḥużaifah mendekat hingga berdiri di belakang tumit beliau sebagai sutrah (penghalang) yang menutupi beliau dari pandangan orang lain pada kondisi tersebut. Setelah itu, beliau berwudu. Ketika membasuh kedua kaki, beliau hanya mengusap kedua khuff dan tidak melepasnya. Khuff adalah kasut atau sepatu yang terbuat dari kulit tipis dan semisalnya yang menutupi kedua mata kaki.

Faedah
  1. 1- Pensyariatan mengusap kedua khuff dalam berwudu.
  2. 2- Boleh kencing berdiri dengan syarat jangan sampai terkena air kencing walaupun sedikit.
  3. 3- Nabi ﷺ memilih subāṭah, yaitu tempat sampah, karena biasanya tempat seperti itu tidak keras sehingga air kencing yang jatuh tidak terciprat kepada orang yang kencing.
Rujukan

صحيح البخاري (1/ 54) (224). صحيح مسلم (1/ 228) (273). تيسير العلام شرح عمدة الأحكام، للبسام (ص51). تنبيه الأفهام شرح عمدة الأحكام، لابن عثيمين (1/ 61).

Hadis ini di HadeethEnc.com

Jika kami sedang safar, Rasulullah ﷺ menyuruh kami supaya tidak melepaskan sepatu kami selama tiga hari tiga malam, kecuali jika kami junub, tetapi hanya untuk buang air besar, kencing, dan tidur

عَنْ زِرِّ بْنِ حُبَيْشٍ قَالَ: أَتَيْتُ صَفْوَانَ بْنَ عَسَّالٍ المُرَادِيَّ، أَسْأَلُهُ عَنِ المَسْحِ عَلَى الخُفَّيْنِ، فَقَالَ: مَا جَاءَ بِكَ يَا زِرُّ؟ فَقُلْتُ: ابْتِغَاءَ العِلْمِ، فَقَالَ: إِنَّ المَلاَئِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا لِطَالِبِ العِلْمِ؛ رِضًا بِمَا يَطْلُبُ، فَقُلْتُ: إِنَّهُ حَكَّ فِي صَدْرِي المَسْحُ عَلَى الخُفَّيْنِ بَعْدَ الغَائِطِ وَالبَوْلِ، وَكُنْتَ امْرَأً مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَجِئْتُ أَسْأَلُكَ: هَلْ سَمِعْتَهُ يَذْكُرُ فِي ذَلِكَ شَيْئًا؟ قَالَ: نَعَمْ، كَانَ يَأْمُرُنَا إِذَا كُنَّا سَفْرًا أَوْ مُسَافِرِينَ أَلَّا نَنْزِعَ خِفَافَنَا ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ وَلَيَالِيهِنَّ إِلَّا مِنْ جَنَابَةٍ، لَكِنْ مِنْ غَائِطٍ وَبَوْلٍ وَنَوْمٍ، فَقُلْتُ: هَلْ سَمِعْتَهُ يَذْكُرُ فِي الهَوَى شَيْئًا؟ قَالَ: نَعَمْ، كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي سَفَرٍ فَبَيْنَا نَحْنُ عِنْدَهُ إِذْ نَادَاهُ أَعْرَابِيٌّ بِصَوْتٍ لَهُ جَهْوَرِيٍّ: يَا مُحَمَّدُ، فَأَجَابَهُ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى نَحْوٍ مِنْ صَوْتِهِ: «هَاؤُمُ» وَقُلْنَا لَهُ: وَيْحَكَ اغْضُضْ مِنْ صَوْتِكَ، فَإِنَّكَ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَقَدْ نُهِيتَ عَنْ هَذَا، فَقَالَ: وَاللَّهِ لاَ أَغْضُضُ، قَالَ الأَعْرَابِيُّ: المَرْءُ يُحِبُّ القَوْمَ وَلَمَّا يَلْحَقْ بِهِمْ، قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «المَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ يَوْمَ القِيَامَةِ»، فَمَا زَالَ يُحَدِّثُنَا حَتَّى ذَكَرَ بَابًا مِنْ قِبَلِ المَغْرِبِ مَسِيرَةُ عَرْضِهِ، أَوْ يَسِيرُ الرَّاكِبُ فِي عَرْضِهِ أَرْبَعِينَ أَوْ سَبْعِينَ عَامًا.
Zir bin Ḥubaisy meriwayatkan: Aku datang menemui Ṣafwān bin 'Assāl Al-Murādiy -raḍiyallāhu 'anhu- untuk menanyakan soal mengusap khuf. Ṣafwān berkata, "Apakah yang menyebabkan engkau datang, wahai Zir?" Aku menjawab, "Ingin mencari ilmu." Ia berkata lagi, "Sesungguhnya para malaikat itu meletakkan sayapnya untuk penuntut ilmu karena rida dengan apa yang mereka cari." Aku berkata, "Sebenarnya hatiku masih ragu tentang mengusap khuf sehabis buang air besar atau kecil, sementara engkau termasuk salah satu sahabat Nabi ﷺ. Karena itu, kedatanganku ini adalah untuk menanyakan apakah engkau pernah mendengar beliau ﷺ menerangkan hal itu?" Ṣafwān menjawab, "Iya pernah. Jika kami sedang safar, Rasulullah ﷺ menyuruh kami supaya tidak melepaskan sepatu kami selama tiga hari tiga malam, kecuali jika kami junub, tetapi hanya untuk buang air besar, kencing, dan tidur." Aku berkata lagi, "Apakah engkau pernah mendengar beliau ﷺ menyebutkan sesuatu tentang persoalan cinta?" Dia menjawab, "Ya pernah, yaitu ketika kami bersama Nabi ﷺ dalam sebuah perjalanan, ketika kami sedang bersama beliau, tiba-tiba ada seorang arab badui memanggil beliau dengan suara yang keras sekali, ia berkata, "Wahai Muhammad!" Maka Rasulullah ﷺ menjawabnya dengan suara yang sama keras, “Kemarilah!” Lalu aku berkata kepada orang tersebut, "Celaka engkau! Pelankanlah suaramu, sebab engkau sedang berada di hadapan Nabi ﷺ dan engkau dilarang untuk berperilaku seperti itu." Orang itu berkata, "Demi Allah, aku tidak akan memelankan suaraku." Badui itu berkata, “Ada orang yang mencintai suatu kaum, tetapi ia tidak dapat menyamai (derajat kemuliaan) mereka?” Nabi ﷺ menjawab, “Seseorang itu akan bersama orang yang dicintainya pada hari kiamat.” Zirr berkata, "Ṣafwān tidak henti-hentinya memberitahukan banyak hal kepada kami, hingga ia menyebutkan bahwa di arah barat kelak, ada sebuah pintu yang lebarnya sama dengan jarak perjalanan seorang pengendara selama empat puluh atau tujuh puluh tahun."
HR. Tirmizi, Ibnu Majah, dan AhmadDerajatSahih
Penjelasan

Zirr bin Ḥubaisy datang menemui Ṣafwān bin 'Assāl -raḍiyallāhu 'anhu- untuk bertanya kepadanya mengenai hukum mengusap khuf. Ṣafwān berkata, "Apa yang menyebabkanmu datang wahai Zirr?" Zirr menjawab, "Mencari ilmu." Lalu Ṣafwān berkata, "Sesungguhnya para malaikat meletakkan sayap-sayap mereka untuk penuntut ilmu sebagai bentuk keridaan serta penghormatan atas apa yang dilakukan oleh penuntut ilmu." Zirr berkata, "Ada keraguan dalam hatiku mengenai hukum mengusap khuf setelah buang air besar dan kencing, sementara engkau termasuk sahabat Nabi ﷺ. Aku datang kemari untuk bertanya kepadamu, apakah engkau pernah mendengar Nabi ﷺ menyinggung masalah tersebut?" Ṣafwān menjawab, "Iya. Beliau memerintahkan kami, jika sedang safar agar tidak melepas khuf selama tiga hari tiga malam ketika hadas kecil seperti buang air besar, buang air kecil, dan tidur, kecuali jika junub, maka wajib dilepas." Zirr bertanya, "Apakah Anda pernah mendengar beliau menyinggung tentang cinta?" Ṣafwān menjawab, "Iya. Kami pernah bersama Nabi ﷺ dalam suatu perjalanan. Ketika kami sedang bersama beliau, tiba-tiba seorang laki-laki badui memanggil beliau dengan suara tinggi, 'Wahai Muhammad!' Beliau pun menjawabnya dengan suara yang lantang mendekati lantang suaranya, 'Kemarilah.' Maka kami berkata kepada laki-laki tersebut, 'Celakalah engkau, turunkan volume suaramu. Sesungguhnya engkau sedang bersama Nabi ﷺ, dan engkau dilarang mengangkat suara di sisi beliau.'" Karena wataknya yang keras, ia menjawab, "Demi Allah, aku tidak akan menurunkan suaraku." Laki-laki badui itu melanjutkan, "Wahai Rasulullah, seseorang menyukai suatu kaum yang saleh, tetapi ia belum mampu beramal seperti mereka?" Nabi ﷺ bersabda, "Seseorang akan bersama orang yang ia cintai pada hari Kiamat." Zirr berkata, "Ṣafwān masih terus bercerita kepada kami, sampai ia menyebutkan suatu pintu untuk bertobat, di arah negeri Syam, yang Allah ciptakan saat Dia menciptakan langit dan bumi, lebar pintu tersebut selebar lamanya orang berkendara selama empat puluh tahun atau tujuh puluh tahun, dan tidak akan ditutup sampai matahari terbit dari arah barat."

Faedah
  1. 1- Keutamaan mencari ilmu dan mulianya kedudukan penuntut ilmu, sampai para malaikat pun menaungi mereka.
  2. 2- Penjelasan semangat para tabi'in dalam menuntut ilmu kepada para sahabat -raḍiyallāhu 'anhum-.
  3. 3- Boleh mengusap khuf. Masa berlakunya: bagi musafir tiga hari tiga malam, sedangkan bagi yang mukim sehari semalam.
  4. 4- Mengusap khuf hanya terkait hadas kecil saja.
  5. 5- Penanya boleh meminta penjelasan kepada sang alim mengenai dalil yang disampaikan, apakah itu nas atau ijtihad, dan bagi sang alim tidak perlu merasa terusik dengan hal tersebut.
  6. 6- Beretika terhadap ulama dan orang-orang saleh, serta merendahkan suara di majelis ilmu.
  7. 7- Mengajarkan orang yang jahil mengenai adab yang baik dan kaidah dalam tata krama.
  8. 8- Motivasi untuk meneladan Nabi ﷺ dalam hal kesabarannya, kemuliaan akhlaknya, serta berbicara kepada manusia disesuaikan dengan tingkat keilmuan dan pemahaman mereka.
  9. 9- Al-Mubārakfuri berkata, "Nabi ﷺ mengangkat suara kepada laki-laki tersebut adalah karena rasa kasihan beliau kepadanya, yaitu agar amalnya tidak batal berdasarkan firman Allah Ta'ala (artinya): "Janganlah kamu meninggikan suaramu lebih tinggi (daripada) suara Nabi." Beliau memakluminya karena ketidaktahuannya. Tindakan Nabi ﷺ yang mengangkat suara, hingga terdengar setara atau lebih keras darinya adalah karena sangat kasihannya beliau kepadanya."
  10. 10- Semangat untuk duduk satu majelis dengan orang-orang saleh, dekat dengan mereka, dan mencintai mereka.
  11. 11- An-Nawawi berkata, "Kebersamaannya dengan orang-orang saleh itu tidak mesti membuat kedudukan dan pahalanya sama persis seperti mereka (orang saleh) dari segala sisi."
  12. 12- Membuka pintu harap, memberi kabar gembira ketika ada keselamatan, dan bersikap lembut saat menasihati.
  13. 13- Luasnya rahmat Allah ﷻ dan pintu tobat dibuka lebar oleh-Nya.
  14. 14- Motivasi agar seseorang bersegera untuk bertobat, muhasabah diri, serta kembali kepada Allah Ta'ala.
Rujukan

سنن الترمذي (5/ 505) (3535). سنن ابن ماجه (1/ 302) (478). مسند أحمد (30/ 18) (18095). نزهة المتقين شرح رياض الصالحين، لمجموعة من الباحثين (1/ 36). شرح رياض الصالحين، لابن عثيمين (1/ 107). بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين، لسليم الهلالي (1/ 57). المعجم الوسيط (2/ 968).

Hadis ini di HadeethEnc.com

Aku pernah melihat Rasulullah -șallallāhu ‘alaihi wa sallam- mengusap bagian atas kedua sepatunya.

عن عبد خير، عن علي رضي الله عنه ، قال: لو كان الدين بالرأي لكان أسفل الخُفِّ أولى بالمسح من أعلاه، وقد «رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم يمسح على ظَاهر خُفَيْهِ».
Dari ‘Abdu Khair dari Ali -raḍiyallāhu ‘anhu- ia berkata, “Seandainya agama itu dengan logika, niscaya bagian bawah (sepatu lebih pantas untuk diusap daripada bagian atasnya dan sungguh aku pernah melihat Rasulullah -șallallāhu ‘alaihi wa sallam- mengusap bagian atas kedua sepatunya."
Diriwayatkan oleh Abu DaudDerajatHadis sahih
Penjelasan

Ali -raḍiyallāhu ‘anhu- mengabarkan bahwa seandainya agama didasarkan dengan akal tanpa naql (Alquran dan Sunah), niscaya bagian bawah sepatu lebih pantas diusap daripada bagian atasnya karena bagian bawah sepatu langsung bersentuhan dengan tanah dan kotoran, maka secara logika bagian bawahnya lebih pantas diusap. Akan tetapi syariat menyatakan sebaliknya, maka wajib beramal dengannya dan meninggalkan pendapat yang menyelisihi nas-nas (dalil-dalil). Dia juga mengabarkan bahwa ia telah melihat Nabi -șallallāhu ‘alaihi wa sallam- mengusap bagian atas sepatunya. Apa yang dilakukan Nabi -șallallāhu ‘alaihi wa sallam- ini sesuai dengan akal dari sisi lainnya karena jika beliau mengusap bagian bawah sepatu dengan air maka akan menyebabkan najis menempel pada sepatu, sehingga diusaplah bagian atasnya untuk menghilangkan debu yang menempel padanya, karena bagian atas sendal adalah bagian yang terlihat, sehingga mengusapnya lebih utama. Jadi, setiap hukum-hukum syariat tidak menyelisihi akal sehat, namun hal itu kadang-kadang tidak diketahui oleh sebagian orang yang berakal.

Rujukan

سنن أبي داود، تأليف: سليمان بن الأشعث السِّجِسْتاني، تحقيق: محمد محيي الدين عبد الحميد، الناشر: المكتبة العصرية، صيدا. مرقاة المفاتيح شرح مشكاة المصابيح، تأليف: علي بن سلطان القاري، الناشر: دار الفكر، الطبعة: الأولى، 1422هـ. مشكاة المصابيح، تأليف: محمد بن عبد الله التبريزي، تحقيق : محمد ناصر الدين الألباني، الناشر: المكتب الإسلامي، الطبعة: الثالثة، 1985م. تسهيل الإلمام بفقه الأحاديث من بلوغ المرام، تأليف: صالح بن فوزان بن عبد الله الفوزان، الطبعة: الأولى، 1427 هـ - 2006 م. توضيح الأحكام مِن بلوغ المرام، تأليف: عبد الله بن عبد الرحمن بن صالح البسام، الناشر: مكتبة الأسدي، مكة المكرّمة الطبعة: الخامِسَة، 1423 هـ - 2003 م. سبل السلام شرح بلوغ المرام، تأليف: محمد بن إسماعيل بن صلاح الصنعاني، الناشر: دار الحديث الطبعة: بدون طبعة وبدون تاريخ. شرح سنن أبي داود، تأليف: عبد المحسن بن حمد بن عبد المحسن العباد، نسخة الإلكترونية.

Hadis ini di HadeethEnc.com

Rasulullah -șallallāhu ‘alaihi wa sallam- mengirim pasukan, lalu mereka tertimpa hawa dingin. Saat mereka tiba di hadapan Rasulullah -șallallāhu ‘alaihi wa sallam-, maka beliau memerintahkan mereka untuk mengusap serban dan sepatu.

عن ثوبان رضي الله عنه ، قال: «بعث رسول الله صلى الله عليه وسلم سَرِيَّةً، فأصابهم البَرْد فلما قَدِموا على رسول الله صلى الله عليه وسلم أمَرَهُم أن يَمْسَحوا على الْعَصَائِب والتَّسَاخِين».
Dari Ṡaubān -raḍiyallāhu ‘anhu- ia berkata: “Rasulullah -șallallāhu ‘alaihi wa sallam- mengirim pasukan, lalu mereka tertimpa hawa dingin. Saat mereka tiba di hadapan Rasulullah -șallallāhu ‘alaihi wa sallam- (mereka mengeluhkan hawa dingin yang menimpa mereka tersebut), maka beliau memerintahkan mereka untuk mengusap serban dan sepatu.”
Diriwayatkan oleh Abu Daud - Diriwayatkan oleh AhmadDerajatHadis sahih
Penjelasan

Ṡaubān -raḍiyallāhu ‘anhu- mengabarkan bahwa Rasulullah -șallallāhu ‘alaihi wa sallam- mengutus sekelompok sahabat untuk menghadapi orang-orang kafir. Di tengah perjalanan, mereka kesulitan untuk melepas serban-serban dan sepatu mereka disebabkan dinginnya cuaca. Tatkala mereka tiba di Madinah, mereka mengabarkan hal itu kepada Nabi -șallallāhu ‘alaihi wa sallam-, lalu beliau memperbolehkan mereka untuk mengusap di atas sorban dan sepatu, baik sepatu itu terbuat dari kulit, wol, ataupun potongan kain demi memudahkan para mukallaf (dalam menunaikan ibadah). Hal ini pun menjadi sunah yang tetap pada waktu bermukim maupun saat safar, baik karena ada uzur maupun tidak ada uzur.

Rujukan

سنن أبي داود، تأليف: سليمان بن الأشعث السِّجِسْتاني، تحقيق: محمد محيي الدين عبد الحميد، الناشر: المكتبة العصرية، صيدا. مسند الإمام أحمد، تأليف: أحمد بن محمد بن حنبل، تحقيق: شعيب الأرناؤوط وغيره، الناشر: مؤسسة الرسالة، الطبعة: الأولى، 1421هـ. صحيح أبي داود - الأم، للألباني، نشر: مؤسسة غراس للنشر والتوزيع، الكويت، الطبعة: الأولى، 1423هـ - 2002 م. توضيح الأحكام مِن بلوغ المرام، تأليف: عبد الله بن عبد الرحمن بن صالح البسام، الناشر: مكتبة الأسدي، مكة المكرّمة، الطبعة الخامِسَة، 1423 هـ - 2003 م. فتح ذي الجلال والإكرام، شرح بلوغ المرام، تأليف: محمد بن صالح بن محمد العثيمين، الناشر: المكتبة الإسلامية، تحقيق: صبحي بن محمد رمضان، وأُم إسراء بنت عرفة. منحة العلام في شرح بلوغ المرام، تأليف: عبد الله بن صالح الفوزان، الناشر: دار ابن الجوزي، الطبعة الأولى ، 1427 هـ - 1431 هـ.

Hadis ini di HadeethEnc.com

Jika salah seorang kalian berwudu dengan memakai kedua khuff-nya, hendaklah ia salat menggunakan keduanya dan hendaklah ia mengusap ‎bagian atasnya saat berwudu, kemudian ia tidak melepaskannya jika mau, kecuali ‎karena junub

عَنْ أَنَسٍ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «إِذَا تَوَضَّأَ أَحَدُكُمْ وَلَبِسَ خُفَّيْهِ فَلْيُصَلِّ فِيهِمَا، وَلْيَمْسَحْ عَلَيْهِمَا ثُمَّ لَا يَخْلَعْهُمَا إِنْ شَاءَ إِلَّا مِنْ جَنَابَةٍ».
Anas -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Jika salah seorang kalian berwudu dengan memakai kedua khuff-nya, hendaklah ia salat menggunakan keduanya dan hendaklah ia mengusap ‎bagian atasnya saat berwudu, kemudian ia tidak melepaskannya jika mau, kecuali ‎karena junub."
HR. DaraquṭniDerajatSahih
Penjelasan

Nabi ﷺ menerangkan, apabila seorang muslim memakai khuff setelah berwudu kemudian ia mengalami hadas setelah itu dan hendak berwudu, maka ia boleh mengusapnya jika ia mau melakukan itu, dan ia boleh salat dengan memakainya dan tidak melepasnya sekian waktu. Kecuali jika ia mengalami junub, maka ia wajib melepas khuff dan mandi.

Faedah
  1. 1- Tidak dibolehkan mengusap khuff kecuali jika keduanya dipakai setelah berwudu sempurna.
  2. 2- Waktu mengusap bagi orang yang sedang mukim ialah satu hari satu malam, sedangkan bagi orang yang musafir adalah tiga hari tiga malam.
  3. 3- Mengusap khuff khusus pada hadas kecil, tidak berlaku pada hadas besar. Adapun hadas besar, maka tidak boleh mengusapnya, tetapi diharuskan melepas khuff dan membasuh kaki.
  4. 4- Dianjurkan salat menggunakan sepatu, khuff dan semisalnya untuk menyelisihi orang Yahudi. Hal itu jika ia bersih dan tidak mengganggu orang lain yang mengerjakan salat atau tidak mengotori masjid, seperti masjid yang diberi karpet, maka tidak boleh salat menggunakan itu.
  5. 5- Mengusap khuff mengandung kemudahan dan keringanan bagi umat ini.
Rujukan

سنن الدارقطني (1/ 376) (781). توضيح الأحكام مِن بلوغ المرام، لعبد الله البسام (1/ 274). سبل السلام شرح بلوغ المرام، للصنعاني (1/ 86).

Hadis ini di HadeethEnc.com

Mereka telah membunuhnya, semoga Allah membunuh mereka, mengapa mereka tidak bertanya ‎bila tidak mengetahuinya, karena obat kejahilan adalah bertanya, sesungguhnya cukup baginya ‎bertayamum dan hendaknya dia membalut lukanya dengan kain lalu mengusap bagian atasnya dan ‎membasuh seluruh badannya.‎

عن جابر رضي الله عنه قال: خرجنا في سَفَر فأصاب رجُلا مِنَّا حَجَرٌ فَشَجَّهُ في رأسه، ثم احتلم فسأل أصحابه فقال: هل تجدون لي رُخْصَة في التَّيمم؟ فقالوا: ما نَجِد لك رُخْصَة وأنت تَقْدِرُ على الماء فاغْتَسَل فمات، فلمَّا قَدِمْنَا على النبي صلى الله عليه وسلم أخبر بذلك فقال: «قَتَلُوه قَتَلَهُم الله ألا سَألُوا إذ لم يعلموا فإنَّما شِفَاء العِيِّ السؤال، إنما كان يَكفيه أن يَتيمَّم ويَعْصِر-أو يَعْصِب- على جُرحِه خِرقَة، ثم يمسح عليها، ويَغسل سائر جسده».
Dari Jābir -raḍiyallāhu 'anhu- ia berkata, “Kami pernah mengadakan safar, lalu ada seorang ‎sahabat kami yang tertimpa batu hingga kepalanya terluka, lalu dia mimpi basah dan bertanya ‎kepada para sahabatnya, “Apakah kalian memandang ada rukhsah bagiku untuk ‎bertayamum?” Mereka menjawab, “Menurut kami engkau tidak mendapatkan keringanan ‎selagi engkau mampu menggunakan air.” Diapun mandi lalu meninggal dunia. Tatkala kami ‎datang kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, beliau dikabarkan dengan peristiwa tadi, ‎kemudian beliau bersabda, “Mereka telah membunuhnya, semoga Allah membunuh mereka, ‎mengapa mereka tidak bertanya bila tidak tahu karena obat kejahilan adalah bertanya, ‎sesungguhnya cukup baginya bertayamum dan hendaknya dia membalut lukanya dengan kain lalu ‎mengusap bagian atasnya dan membasuh seluruh badannya.”‎
Diriwayatkan oleh Abu DaudDerajatHadis hasan li gairihi
Penjelasan

Jābir -raḍiyallāhu 'anhu- mengabarkan bahwa mereka pernah mengadakan safar, lalu salah ‎seorang dari mereka tertimpa batu hingga melukai kepalanya, lalu dia mimpi basah dan bertanya ‎kepada para sahabatnya tentang hukum dibolehkannya bertayamum sebagai pengganti dari ‎membasuh anggota wudu. ‎Mereka menjawab, "Kami tidak melihat ada keringanan bagi kamu untuk bertayamum jika kamu mampu menggunakan air", yakni bahwa dirinya tidak diperbolehkan untuk ‎bertayamum dalam kondisi tersebut; karena ketersediaan air. Adapun keringanan ‎bertayamum adalah bagi orang yang tidak mendapati air, sedangkan dalam kondisi air tersedia ‎maka tidak ada keringanan bagimu untuk bertayamum. Kemudian dia mandi dan lukanya semakin parah terkena air, lalu dia -raḍiyallāhu 'anhu- meninggal dunia. Tatkala mereka tiba di ‎Madinah, merekapun menceritakan kisah tersebut kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, ‎lalu beliau mencela mereka dengan sabdanya,‎ ‏"mereka telah membunuhnya, semoga Allah membunuh mereka", yakni: Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mencela mereka; karena mereka telah ‎menjadi penyebab kematiannya karena fatwa mereka yang salah.‎ ‏"Mengapa mereka tidak bertanya jika mereka tidak tahu", yakni: yang wajib mereka lakukan seharusnya adalah bertanya terlebih dahulu ‎dan tidak tergesa-gesa dalam berfatwa; karena di dalamnya terkandung sesuatu yang dapat ‎membahayakan orang lain yaitu apa yang terjadi.‎ ‏"sesungguhnya obat kebodohan itu dengan bertanya." Al-'aiyyu adalah kebodohan, dan maknanya adalah: Kenapa mereka tidak ‎bertanya ketika mereka tidak tahu; karena obat kebodohan itu adalah bertanya. Jika seseorang tidak mengetahui hukum syar'i, maka obat ketidaktahuan itu adalah bertanya, dan tidak boleh ‎berfatwa dengan fatwa yang dapat mendatangkan bahaya atau kebinasaan bagi orang lain.‎ Kemudian Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menjelaskan kepada mereka tentang hukum ‎syari'at yang berkaitan dengan permasalahan tersebut dengan sabdanya, ‏"‎sesungguhnya dia hanya cukup bertayamum saja dan hendaknya dia membalut lukanya dengan kain lalu ‎mengusap bagian atasnya dan membasuh seluruh badannya",‎ inilah yang seharusnya ‎dia lakukan yang sesuai dengan pokok syariat. Adapun mengharuskannya mandi junub dengan ‎menanggung konsekuensi yang ditimbulkannya berupa bahaya bagi tubuhnya, kematian atau keterlambatan kesembuhannya, maka semua ini ‎menyelisihi pokok-pokok syari'at.‎ Berdasarkan hal itu, maka orang yang sedang terluka boleh mengambil rukhsah untuk membasuh seluruh tubuhnya dengan air dan cukup mengusap ‎di atas balutan lukanya. Adapun bertayamum dalam kondisi memakai pembalut luka, ‎maka hal ini tidak disyari'atkan; karena mewajibkan dua kali bersuci untuk satu anggota ‎tubuh adalah menyelisihi kaidah-kaidah syari'at. Dan hadis ini dapat dimaknai–wallāhu a'lam- ‎bahwa balutan luka itu melebihi kebutuhan, dan membukanya akan menyulitkan ‎atau dapat membahayakan; oleh sebab itu disyariatkan untuk mengusap ‎di atas balutan luka, atau dapat dimaknai bahwa yang terluka tepat pada anggota wudu, ‎sehingga air tidak mungkin sampai kepadanya, maka digantilah dengan tayamum sebagai ganti ‎dari membasuh anggota wudu tersebut.

Rujukan

سنن أبي داود، تأليف: سليمان بن الأشعث السِّجِسْتاني، تحقيق: محمد محيي الدين عبد الحميد، الناشر: المكتبة العصرية، صيدا. سنن ابن ماجه، تأليف: محمد بن يزيد بن ماجه القزويني، تحقيق: محمد فؤاد عبد الباقي، الناشر: الناشر: دار إحياء الكتب العربية. مشكاة المصابيح، تأليف: محمد بن عبد الله، التبريزي، تحقيق: محمد ناصر الدين الألباني، الناشر: المكتب الإسلامي، الطبعة: الثالثة، 1985م. معالم السنن، تأليف: حمد بن محمد بن إبراهيم الخطابي، الناشر: المطبعة العلمية، الطبعة: الأولى 1351 هـ. النهاية في غريب الحديث والأثر، تأليف: مجد الدين أبو السعادات المعروف بابن الأثير، الناشر: المكتبة العلمية - بيروت، 1399هـ - 1979م، تحقيق: طاهر أحمد الزاوى - محمود محمد الطناحي. معجم اللغة العربية المعاصرة، تأليف: د/ أحمد مختار عبد الحميد عمر، بمساعدة فريق عمل، الناشر: عالم الكتب، الطبعة: الأولى، 1429 هـ - 2008م. تسهيل الإلمام بفقه الأحاديث من بلوغ المرام، تأليف: صالح بن فوزان بن عبد الله الفوزان، الطبعة: الأولى، 1427 هـ - 2006 م. توضيح الأحكام مِن بلوغ المرام، تأليف: عبد الله البسام، الناشر: مكتبة الأسدي، مكة المكرّمة، الطبعة: الخامِسَة، 1423 هـ - 2003 م. فتح ذي الجلال والإكرام، شرح بلوغ المرام، تأليف: محمد بن صالح بن محمد العثيمين، الناشر: المكتبة الإسلامية، تحقيق: صبحي بن محمد رمضان، وأُم إسراء بنت عرفة. سبل السلام شرح بلوغ المرام، تأليف: محمد بن إسماعيل بن صلاح الصنعاني، الناشر: دار الحديث، الطبعة: بدون طبعة وبدون تاريخ. شرح سنن أبي داود، تأليف: عبد المحسن بن حمد بن عبد المحسن العباد، نسخة الإلكترونية.

Hadis ini di HadeethEnc.com

Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menjadikan tiga hari tiga malam (jangka waktu mengusap khuf) untuk musafir dan sehari semalam untuk orang yang mukim

عن شريح بن هانئ، قال: أتيتُ عائشة أسألها عن المسح على الخُفَّين، فقالت: عَلَيْكَ بِابْنِ أبِي طالب، فَسَلْهُ فإِنَّه كان يُسَافِرُ مع رسول الله صلى الله عليه وسلم فسألناه فقال: «جَعَلَ رسول الله صلى الله عليه وسلم ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ وَلَيَالِيَهُنَّ للمسافر، ويوما وليلة للمُقيم».
Dari Syuraiḥ bin Hāni`, ia berkata, "Aku datang kepada Aisyah untuk bertanya mengenai mengusap dua khuf (sepatu kulit). Ia menjawab, "Silakan datang ke Ibnu Abi Ṭālib (Ali) lalu tanyakan hal itu kepadanya. Sebab, dia biasa bepergian bersama Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-." Kami pun bertanya kepadanya. Ia berkata, "Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menjadikan tiga hari tiga malam (jangka waktu mengusap khuf) untuk musafir dan sehari semalam untuk mukim."
Diriwayatkan oleh MuslimDerajatHadis sahih
Penjelasan

Syuraiḥ bin Hāni` termasuk sahabat Ali -raḍiyallāhu 'anhu-. Dia datang kepada Ali untuk meminta fatwa mengenai jangka waktu mengusap dua khuf. Permintaan keterangan ini dilakukan setelah ibu kita, Aisyah -raḍiyyallāhu 'anhā- menyuruhnya menemui Ali karena dia pakar dalam sunah mengusap khuf. Ia berkata, "Kami bertanya kepadanya mengenai mengusap (khuf)," yakni, mengenai jangka waktunya. Mengusap artinya menempelkan tangan yang basah ke organ tubuh. Sedangkan khuf adalah sepatu kulit yang menutupi kedua mata kaki. Adapun kaos kaki adalah pembalut kaki dari bahan apapun, baik itu dari bulu atau wol, tebal ataupun tipis sampai ke atas mata kaki yang dipakai saat dingin. Ali bin Abi Ṭālib -raḍiyallāhu 'anhu- memberikan jawaban kepada mereka, "Tiga hari tiga malam untuk musafir dan sehari semalam untuk orang yang mukim." Ini menjadi dalil bagi pendapat mayoritas ulama mengenai penetapan waktu mengusap (khuf), yaitu tiga hari bagi musafir dan sehari semalam bagi orang yang mukim. Beliau menambah waktu bagi musafir karena dialah yang lebih berhak mendapatkan keringanan daripada orang yang mukim karena kesulitan perjalanan.

Rujukan

صحيح مسلم، مسلم بن الحجاج القشيري النيسابوري، تحقيق محمد فؤاد عبد الباقي، دار إحياء التراث العربي، بيروت، الطبعة: 1423 هـ. توضيح الأحكام مِن بلوغ المرام، عبد الله بن عبد الرحمن البسام، مكتبة الأسدي، مكة المكرّمة، الطبعة: الخامِسَة 1423هـ، 2003م.

Hadis ini di HadeethEnc.com
8 dari 10
10 hadis
  1. Biarkan keduanya karena aku memasukkan kedua kakiku ke dalam keduanya dalam keadaan suci
  2. Aku pernah bersama Nabi ﷺ, lalu beliau pergi ke tempat pembuangan sampah suatu kaum lalu beliau kencing berdiri
  3. Jika kami sedang safar, Rasulullah ﷺ menyuruh kami supaya tidak melepaskan sepatu kami selama tiga hari tiga malam, kecuali jika kami junub, tetapi hanya untuk buang air besar, kencing, dan tidur
  4. Aku pernah melihat Rasulullah -șallallāhu ‘alaihi wa sallam- mengusap bagian atas kedua sepatunya.
  5. Rasulullah -șallallāhu ‘alaihi wa sallam- mengirim pasukan, lalu mereka tertimpa hawa dingin. Saat mereka tiba di hadapan Rasulullah -șallallāhu ‘alaihi wa sallam-, maka beliau memerintahkan mereka untuk mengusap serban dan sepatu.
  6. Jika salah seorang kalian berwudu dengan memakai kedua khuff-nya, hendaklah ia salat menggunakan keduanya dan hendaklah ia mengusap ‎bagian atasnya saat berwudu, kemudian ia tidak melepaskannya jika mau, kecuali ‎karena junub
  7. Mereka telah membunuhnya, semoga Allah membunuh mereka, mengapa mereka tidak bertanya ‎bila tidak mengetahuinya, karena obat kejahilan adalah bertanya, sesungguhnya cukup baginya ‎bertayamum dan hendaknya dia membalut lukanya dengan kain lalu mengusap bagian atasnya dan ‎membasuh seluruh badannya.‎
  8. Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menjadikan tiga hari tiga malam (jangka waktu mengusap khuf) untuk musafir dan sehari semalam untuk orang yang mukim
  9. Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memberi rukhsah kepada musafir selama tiga hari tiga malam dan kepada orang yang bermukim selama sehari semalam
  10. Aku pernah melihat Rasulullah ﷺ kencing, kemudian beliau berwudu dan mengusap kedua khufnya

Setiap hadis, derajat, penjelasan, dan faedah di sini ditampilkan persis sebagaimana diterbitkan HadeethEnc.com, menurut ketentuan penerbitan ulangnya. Derajat itu tidak menyebut siapa yang menilainya. Terjemahan dan penjelasan adalah karya para penyusunnya, dan sebagian menyebutkan hukum; para peninjau Sabīl belum memeriksanya. Hadis berbahasa Arablah teksnya. Sumber: HadeethEnc.com