عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: بال أعرابي في المسجد، فقام الناس إليه لِيَقَعُوا فيه، فقال النبي صلى الله عليه وسلم : «دعوه وأريقوا على بوله سَجْلاً من ماء، أو ذَنُوبًا من ماء، فإنما بُعِثْتُمْ مُيَسِّرِينَ، ولم تُبْعَثُوا مُعَسِّرِينَ».
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, “Seorang arab badui kencing di mesjid, lalu orang-orang pun berdiri memarahinya. Maka Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, ‘Biarkanlah ia dan siramlah kencingnya dengan sebejana air, atau setimba air, karena kalian diutus untuk memberikan kemudahan, dan tidak diutus untuk memberikan kesulitan'.”
Muttafaq 'alaih, dan ini redaksi BukhariDerajatHadis sahih
Penjelasan
Seorang arab badui berdiri lalu mulai kencing di Mesjid Nabawi, maka orang-orang pun menghardiknya dengan lisan, bukan dengan tangan mereka. Maksudnya: mereka meneriakinya. Maka Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pun berkata kepada mereka, “Biarkanlah ia…”. Maka ketika ia selesai dari buang air kecilnya, beliau menyuruh mereka untuk menyirami tempat yang dikencinginya dengan setimba air. Beliau menjelaskan kepada mereka bahwa mereka adalah penyeru kepada kemudahan, dan bukan diutus untuk membuat manusia lari dari hidayah.
Rujukan
الجامع المسند الصحيح (صحيح البخاري), تأليف: محمد بن إسماعيل البخاري, تحقيق: محمد زهير بن ناصر الناصر, دار طوق النجاة ترقيم محمد فؤاد عبدالباقي, ط 1422.
رياض الصالحين-النووي-تعليق وتحقيق: الدكتور ماهر ياسين الفحل الناشر: دار ابن كثير للطباعة والنشر والتوزيع، دمشق - بيروت-الطبعة: الأولى، 1428 هـ - 2007 م.
بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين, تأليف: سليم بن عيد الهلالي, دار ابن الجوزي.
إرشاد الساري لشرح صحيح البخاري, تأليف: أبو العباس أحمد بن محمد القسطلاني, الناشر: المطبعة الكبرى الأميرية, ط7 عام 1323.
Hadis ini di HadeethEnc.comعَنْ عَائِشَةَ أُمِّ المُؤْمِنينَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّهَا قَالَتْ: مَا خُيِّرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَ أَمْرَيْنِ إِلَّا أَخَذَ أَيْسَرَهُمَا، مَا لَمْ يَكُنْ إِثْمًا، فَإِنْ كَانَ إِثْمًا كَانَ أَبْعَدَ النَّاسِ مِنْهُ، وَمَا انْتَقَمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِنَفْسِهِ إِلَّا أَنْ تُنْتَهَكَ حُرْمَةُ اللَّهِ، فَيَنْتَقِمَ لِلَّهِ بِهَا.
Ummul Mukminin Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- berkata, "Tidaklah Rasulullah ﷺ diberi dua pilihan kecuali beliau pasti memilih yang paling mudah, selama tidak merupakan dosa. Jika yang mudah itu dosa, beliau pasti orang yang paling jauh darinya. Rasulullah ﷺ tidak pernah melakukan pembalasan untuk dirinya kecuali kalau sesuatu yang diharamkan oleh Allah dilanggar, maka beliau membalasnya karena Allah Ta'ala."
Muttafaq 'alaihDerajatSahih
Penjelasan
Ummul Mukminin Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- menceritakan sebagian akhlak Nabi ﷺ. Di antara yang ia sebutkan: Beliau ﷺ tidak pernah diberi dua pilihan kecuali beliau pilih yang paling mudah, selama yang lebih mudah itu tidak mengandung dosa. Jika mengandung dosa maka beliau adalah orang yang paling jauh darinya, dan ketika itu beliau memilih yang lebih berat. Beliau ﷺ tidak pernah melakukan pembalasan khusus untuk dirinya, melainkan beliau bersikap lapang dan memaafkan haknya. Kecuali jika larangan Allah dilanggar, maka beliau akan membalas karena Allah, dan beliau adalah orang yang paling marah karena Allah.
Faedah
- 1- Anjuran memilih pilihan yang paling mudah selama tidak mengandung maksiat.
- 2- Kemudahan Islam.
- 3- Perintah marah karena Allah Ta'ala.
- 4- Sikap santun dan sabar beliau ﷺ serta menegakkan kebenaran dalam menegakkan batasan-batasan Allah Ta'ala.
- 5- Ibnu Ḥajar berkata, "Di dalamnya terdapat faedah agar tidak memilih sesuatu yang sulit, merasa cukup dengan yang ada, dan tidak memaksakan pada sesuatu yang tidak darurat."
- 6- Dorongan untuk memaafkan kecuali terkait hak Allah Ta'ala.
Rujukan
صحيح البخاري (4/ 189) (3560).
صحيح مسلم (4/ 1813) (2327).
فتح الباري لابن حجر (575/6).
شرح صحيح مسلم (83/15).
كنوز رياض الصالحين، لمجموعة من الباحثين (601/9).
شرح رياض الصالحين لابن عثيمين (587/3).
Hadis ini di HadeethEnc.comعن أنس رضي الله عنه : أن اليَهُود كانوا إذا حَاضَت المرأة فيهم لم يؤَاكِلُوها، ولم يُجَامِعُوهُن في البيوت فسأل أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم النبي صلى الله عليه وسلم فأنزل الله تعالى: {ويسألونك عن المحيض قل هو أذى فاعتزلوا النساء في المحيض} [البقرة: 222] إلى آخر الآية، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم : «اصْنَعُوا كلَّ شيء إلا النكاح». فَبَلغ ذلك اليهود، فقالوا: ما يُريد هذا الرَّجُل أن يَدع من أمْرِنا شيئا إلا خَالفَنَا فيه، فجاء أُسَيْدُ بن حُضَيْر، وعَبَّاد بن بِشْر فقالا يا رسول الله، إن اليهود تقول: كذا وكذا، فلا نُجَامِعُهُن؟ فَتغيَّر وجه رسول الله صلى الله عليه وسلم حتى ظَنَنَا أن قد وجَد عليهما، فخرجا فَاسْتَقْبَلَهُمَا هَدِيَّة من لَبَنٍ إلى النبي صلى الله عليه وسلم ، فأَرسَل في آثَارِهِما فَسَقَاهُمَا، فَعَرَفَا أن لم يَجِد عليهما.
Dari Anas -raḍiyallāhu 'anhu-, “Bahwa orang-orang Yahudi jika ada seorang wanita di antara mereka sedang haid, mereka tidak mengajaknya makan bersama dan tidak menggauli mereka di rumah. Para sahabat Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- kemudian bertanya kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Lalu Allah menurunkan ayat: “Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah, haid itu adalah suatu kotoran. Oleh sebab itu, hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haid….”. (QS. Al Baqarah: 222) hingga akhir ayat. Maka Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, “Perbuatlah segala sesuatu kecuali nikah (bersetubuh)”. Ketika hal itu sampai kepada orang-orang Yahudi, mereka berkata, “Laki-laki ini tidak ingin meninggalkan sesuatu dari perkara kita melainkan dia menyelisihi kita”. Lalu Usaid bin Ḥuḍair dan Abbad bin Bisyr berkata, “Wahai Rasulullah! Sesungguhnya orang-orang Yahudi berkata demikian dan demikian, Apakah kami tidak boleh menyetubuhi wanita saat haid sekalian?”. Lalu raut wajah Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- berubah hingga kami mengira bahwa beliau telah marah pada keduanya. Lalu keduanya keluar dan berpapasan dengan orang yang membawa hadiah susu untuk diberikan kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, lalu beliau mengirim utusan untuk menyusul kepergian keduanya, lalu beliau menyuguhkan minuman untuk keduanya. Maka keduanya sadar bahwa beliau tidak marah pada keduanya.”
Diriwayatkan oleh MuslimDerajatHadis sahih
Penjelasan
Anas -raḍiyallāhu 'anhu- memberitahukan bahwa orang-orang Yahudi enggan untuk makan bersama wanita yang sedang haid, tidak minum dari gelas bekasnya dan tidak makan dari makanan buatannya; karena mereka berkeyakinan para wanita tersebut dan keringatnya bernajis. "Dan tidak menggauli mereka di rumah. Yang dimaksud dengan al-mujāma'ah (menggauli) di sini adalah tinggal dan berbaur. Orang-orang Yahudi, jika seorang wanita dari mereka sedang haid, mereka akan menjauhinya tidak menggaulinya, bahkan mengeluarkannya dari rumah, sebagaimana disebutkan dalam riwayat Anas -raḍiyallāhu 'anhu- riwayat Abu Daud: "Orang-orang Yahudi, jika seorang wanita dari mereka sedang haid, mereka mengeluarkannya dari rumah. Mereka tidak makan dan minum bersama serta tidak tinggal seatap dengannya.” Para sahabat Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- kemudian bertanya kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Maksudnya, ketika para sahabat Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengetahui kondisi orang-orang Yahudi yang menjauhi wanita-wanita mereka pada masa haid, merekapun bertanya kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- tentang hal tersebut. Lalu Allah menurunkan ayat: “Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah, haid itu adalah suatu kotoran. Oleh sebab itu, hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haid." Maka Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, “Perbuatlah segala sesuatu kecuali bersetubuh”. Maka syariat membolehkan untuk berinteraksi berbaur dengan mereka, makan dan minum bersama, menyentuh serta tidur berdampingan. Beliau membolehkan untuk melakukan segala sesuatu kecuali menyetubuhinya. Sabda beliau -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- “Perbuatlah segala sesuatu kecuali bersetubuh” berisi penjelasan tentang keumuman ayat; karena i'tizāl (menjauhi wanita haid) mencakup berinteraksi, makan, minum serta berduaan bersama. Maka Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan i'tizāl (menjauhi wanita) itu adalah tidak menyetubuhinya dan bukan yang lainnya. "Maka hal itu sampai kepada orang-orang Yahudi", yakni berita itu sampai kepada orang-orang Yahudi, bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- membolehkan para sahabatnya untuk melakukan segala sesuatu terhadap istri-istri mereka pada masa haid kecuali bersetubuh. Mereka berkata, “Laki-laki ini tidak ingin meninggalkan sesuatu dari perkara kita melainkan dia menyelisihi kita”, yakni jika ia melihat kami melakukan sesuatu, maka dia akan memerintahkan serta menunjukkan kepada kebalikannya. Dia sangat jeli dalam menyelisihi kami di berbagai lini. Lalu Usaid bin Ḥuḍair dan Abbad bin Bisyr berkata, “Wahai Rasulullah! Sesungguhnya orang-orang Yahudi berkata demikian dan demikian, apakah kami tidak boleh menyetubuhi wanita saat haid sekalian?” Yakni Usaid bin Ḥuḍair dan Abbad bin Bisyr -raḍiyallāhu 'anhumā-menyampaikan kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- apa yang dikatakan oleh orang-orang Yahudi ketika mereka mengetahui tentang penyelisihan Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- terhadap mereka. Kemudian keduanya -raḍiyallāhu 'anhumā- bertanya kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- tentang dibolehkannya bersetubuh untuk merelisasikan penyelisihan terhadap orang-orang Yahudi dalam segala hal. Dan maknanya adalah jika kita telah menyelisihi mereka dalam hal bahwa mereka tidak berinteraksi dengan wanita haid, tidak tidur, makan dan minum bersamanya, dan kita melakukan segala sesuatu kecuali jimak, tidakkah kita menyetubuhi mereka, hingga benar-benar terealisasi penyelisihan terhadap mereka dalam segala hal? "Lalu raut wajah Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- berubah". Yakni bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- tidak mengakui ijtihad keduanya, bahkan marah dan tanda-tanda kemarahannya tampak di raut wajahnya; karena perkataan keduanya tersebut menyelisihi syariat. Karena Allah -Ta'ālā- berfirman, "Dan jauhilh wanita-wanita ketika haid" (QS Al-Baqarah: 222). Dan Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- telah menjelaskan tentang apa yang dimaksud dengan i'tizāl (menjauhi) yang disebutkan dalam ayat tersebut, yaitu tidak ada hak bagi kalian untuk menyetubuhi wanita pada masa haid. "Hingga kami mengira bahwa beliau telah marah pada keduanya." Yakni keduanya mengira bahwa beliau marah kepada keduanya karena perkataan mereka berdua. "Lalu keduanya keluar dan berpapasan dengan orang yang membawa hadiah susu untuk diberikan kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, lalu beliau mengirim utusan untuk menyusul kepergian keduanya, lalu beliau menyuguhkan minuman untuk keduanya." Keduanya keluar dari hadapan beliau, dan ketika itu seseorang yang membawa hadiah susu untuk diberikan kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bertemu dengan keduanya. Ketika orang yang akan memberikan hadiah masuk menemui Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, beliau mengutusnya untuk menjemput kembali mereka berdua. Dan ketika keduanya telah datang kembali kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, beliau memberi minum keduanya dari susu tersebut sebagai bentuk kelembutan dan keridaan terhadap keduanya. "Maka keduanya sadar bahwa beliau tidak marah pada keduanya." Yakni beliau -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- tidaklah marah; karena mereka berdua adalah orang yang patut dimaafkan karena kebaikan niat keduanya berkaitan dengan apa yang telah mereka berdua katakan, atau kemarahan beliau -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- kepada keduanya tidaklah berkelanjutan, akan tetapi kemarahan tersebut telah sirna darinya. Ini adalah bagian dari kemuliaan akhlak beliau -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dan kelembutannya terhadap para sahabatnya.
Rujukan
صحيح مسلم، تأليف: مسلم بن الحجاج النيسابوري، تحقيق: محمد فؤاد عبد الباقي الناشر: دار إحياء التراث العربي – بيروت.
تسهيل الإلمام بفقه الأحاديث من بلوغ المرام، تأليف: صالح بن فوزان بن عبد الله الفوزان، الطبعة: الأولى، 1427 هـ _ 2006 م.
توضيح الأحكام مِن بلوغ المرام، تأليف: عبد الله بن عبد الرحمن بن صالح البسام، الناشر: مكتبة الأسدي، مكة المكرّمة الطبعة: الخامِسَة، 1423 هـ - 2003 م.
فتح ذي الجلال والإكرام، شرح بلوغ المرام، تأليف: محمد بن صالح بن محمد العثيمين، الناشر: المكتبة الإسلامية، تحقيق: صبحي بن محمد رمضان، وأُم إسراء بنت عرفة.
المنهاج شرح صحيح مسلم، تأليف: محيي الدين يحيى بن شرف النووي، الناشر: دار إحياء التراث العربي، الطبعة: الثانية 1392هـ.
مرقاة المفاتيح شرح مشكاة المصابيح، تأليف: علي بن سلطان القاري، الناشر: دار الفكر، الطبعة: الأولى، 1422هـ.
عون المعبود شرح سنن أبي داود، تأليف: محمد شمس الحق العظيم آبادي، الناشر: دار الكتب العلمية، الطبعة: الثانية، 1415هـ.
شرح سنن أبي داود، تأليف: عبد المحسن بن حمد بن عبد المحسن العباد، نسخة الإلكترونية.
Hadis ini di HadeethEnc.comعن عائشة، قالت: كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يحِبُّ الحَلْواء والعسل، فكان إذا صلَّى العصر دارَ على نسائه، فَيَدْنُو منهنَّ، فدَخَل على حفصة، فَاحْتَبَسَ عندها أكثرَ ممَّا كان يحْتَبِس، فسألتُ عن ذلك، فقيل لي: أهْدَتْ لها امرأة من قومها عُكَّةً من عسل، فسَقَتْ رسول الله صلى الله عليه وسلم منه شرْبة، فقلتُ: أمَا والله لنَحْتالَنَّ له، فذكرتُ ذلك لسَوْدَة، وقلتُ: إذا دخل عليكِ، فإنه سَيَدْنُو منكِ، فقولي له: يا رسول الله، أَكَلْتَ مَغَافِيرَ؟ فإنه سيقول لك: «لا»، فقولي له: ما هذه الرِّيح؟ وكان رسول الله صلى الله عليه وسلم يشْتَدُّ عليه أنْ يوجد منه الريح، فإنه سيقول لك: «سَقَتْني حفصة شربة عسل»، فقولي له: جَرَسَتْ نَحْلُهُ الْعُرْفُطَ، وسأقول ذلك له، وقولِيه أنتِ يا صفية، فلما دخَل على سودة قالت: تقول سودة: والذي لا إله إلا هو لقد كدتُ أن أبادئه بالذي قلتِ لي، وإنه لعلى البابِ فرقًا منكِ، فلما دَنا رسول الله صلى الله عليه وسلم ، قالت: يا رسول الله، أَكَلْتَ مَغَافِيرَ؟ قال: «لا»، قالت: فما هذه الريح؟ قال: «سَقَتْني حفصة شربة عسل»، قالت: جَرَسَتْ نَحْلُهُ الْعُرْفُطَ، فلما دخل عليَّ، قلتُ له: مثل ذلك، ثم دخل على صفية، فقالت بمثل ذلك، فلما دخل على حفصة، قالت: يا رسول الله، ألا أسْقِيك منه؟ قال: «لا حاجةَ لي به»، قالت: تقول سودة: سبحان الله، والله لقد حَرَمْنَاهُ، قالت: قلتُ لها: اسْكُتِي.
Dari Aisyah, ia berkata, “Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menyukai manisan dan madu. Apabila beliau telah selesai menunaikan salat Asar, beliau berkeliling mengunjungi istri-istrinya dan bercumbu dengan mereka. Lalu beliau masuk ke rumah Hafṣah dan menetap di sana lebih lama, tidak seperti biasanya. Akupun bertanya tentang hal tersebut, lalu dikatakan kepadaku, “Seorang wanita dari kaumnya telah memberinya hadiah berupa sebotol kecil madu. Lalu Hafṣah menyuguhi Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- minuman dari madu tersebut." Akupun berkata, “Sungguh kita akan kelabui beliau.” Lalu aku pun menyampaikan rencana tersebut kepada Saudah, aku berkata, “Apabila beliau masuk ke rumahmu, beliau akan mendekatimu, maka katakanlah kepada beliau, “Ya Rasulullah! Apakah engkau telah memakan beberapa magāfīr (makanan berbau tidak sedap)?" Maka beliau akan menjawab, “Tidak”, lalu katakanlah, “Bau apa ini?” Sudah merupakan sifat Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- sangat tidak suka tercium bau tak sedap dari dirinya. Lalu beliau akan berkata kepadamu, “Hafṣah telah memberiku minuman madu.” Lalu katakan kepada beliau, “Lebahnya telah menghisap bunga 'Urfuṭ (sejenis tumbuhan berbau busuk).” Dan aku pun akan berkata seperti itu kepada beliau, dan kamu pun harus mengatakan seperti itu wahai Ṣafiyyah." Ketika beliau masuk ke rumah Saudah, Aisyah berkata, “Saudah berkata, Demi Allah yang tidak ada sesembahan yang hak selain Dia, sungguh aku hampir saja menyambutnya dengan mengatakan apa yang kamu sampaikan kepadaku, padahal beliau masih di pintu lantaran takut padamu (wahai Aisyah)." Tatkala Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mendekat, dia bertanya, “Ya Rasulullah, apakah engkau telah memakan beberapa magāfīr?" Beliau menjawab, “Tidak.” Dia berkata, “Bau apa ini?” Beliau berkata, “Ḥafṣah telah memberiku minuman madu.” Lalu ia berkata kepada beliau, “Lebahnya telah menghisap bunga 'Urfuṭ.” Dan ketika beliau masuk ke rumahku, aku pun mengatakan hal yang sama. Lalu beliau masuk ke rumah Ṣafiyyah, dia pun mengatakan hal yang sama, dan tatkala masuk ke rumah Hafṣah, Hafṣah berkata, “Ya Rasulullah, maukah aku hidangkan minuman dari madu itu?”, Beliau menjawab, “Aku tidak menginginkannya.” Aisyah berkata, "Saudah berkata, Maha suci Allah, demi Allah kita telah mengharamkannya." Aisyah berkata, “Akupun berkata kepadanya, “Diam kamu!”
Muttafaq 'alaihDerajatHadis sahih
Penjelasan
Dalam hadis ini Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- menyebutkan bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menyukai makanan apa saja yang manis dan madu. Apabila beliau telah selesai menunaikan salat Asar, beliau berkeliling masuk ke rumah istri-istrinya serta mendekati salah seorang dari mereka untuk mencium dan mencumbunya tanpa menggaulinya. Pada suatu waktu beliau masuk ke rumah Hafṣah -raḍiyallāhu 'anhā- dan menetap di rumahnya lebih lama dari biasanya. Aisyah bertanya tentang hal itu dan mengetahui bahwa salah seorang kerabat Hafṣah telah memberinya hadiah sebotol kecil madu, dan Hafṣah menyuguhkan minuman dari madu tersebut. Lalu Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- merasa cemburu dan sepakat bersama dengan Saudah dan Ṣafiyyah bahwa apabila beliau masuk ke rumah salah seorang dari mereka ia akan bertanya kepada beliau, apakah beliau telah memakan beberapa magāfīr, yaitu sejenis makanan dari getah pohon lengket dan berbau tidak sedap. Beliau -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- tidak suka adanya bau tidak sedap pada diri beliau. Tatkala beliau masuk ke rumah Hafṣah, ia pun menyuguhkan minuman dari madu namun beliau menolaknya. Dalam riwayat lain disebutkan bahwa beliau sampai bersumpah untuk tidak meminumnya kembali. Terjadi perbedaan riwayat yang menyebutkan tentang siapakah istri yang memberikan minuman madu tersebut kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Dikatakan bahwa beliau -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- meminumnya di rumah Zainab, dalam riwayat lain di rumah Saudah. Sebagian ulama merajihkan bahwa pemilik madu tersebut adalah Zainab, dan yang bersepakat dengan Aisyah adalah Hafṣah. Dan sebagian lainnya menjadikannya sebagai kisah yang berbeda-beda, karena beragamnya suatu sebab tidak menghalangi munculnya satu perkara, sehingga itu menjadi kisah lain tersendiri.
Rujukan
صحيح البخاري، تأليف: محمد بن إسماعيل البخاري، تحقيق: محمد زهير الناصر، الناشر: دار طوق النجاة الطبعة: الأولى، 1422هـ
صحيح مسلم المحقق: محمد فؤاد عبد الباقي - الناشر: دار إحياء التراث العربي – بيروت.
المنهاج شرح صحيح مسلم بن الحجاج، للنووي، نشر: دار إحياء التراث العربي – بيروت، الطبعة: الثانية، 1392هـ.
التوضيح لشرح الجامع الصحيح, ابن الملقن سراج الدين أبو حفص عمر بن علي بن أحمد الشافعي, ت: دار الفلاح للبحث العلمي وتحقيق التراث، دار النوادر، دمشق – سوريا, الطبعة: الأولى، 1429 هـ - 2008 م.
إرشاد الساري لشرح صحيح البخاري, أحمد بن محمد بن أبى بكر بن عبد الملك القسطلاني القتيبي المصري, الناشر: المطبعة الكبرى الأميرية، مصر, الطبعة: السابعة، 1323 هـ
فتح الباري شرح صحيح البخاري, أحمد بن علي بن حجر أبو الفضل العسقلاني الشافعي, دار المعرفة - بيروت، 1379, رقم كتبه وأبوابه وأحاديثه: محمد فؤاد عبد الباقي, قام بإخراجه وصححه وأشرف على طبعه: محب الدين الخطيب.
إكمال المعلم بفوائد مسلم لعياض بن موسى بن عياض بن عمرون اليحصبي السبتي، المحقق: الدكتور يحيى إسماعيل، الناشر: دار الوفاء للطباعة والنشر والتوزيع، مصر، الطبعة: الأولى، 1419 هـ - 1998 م.
معالم السنن، وهو شرح سنن أبي داود, أبو سليمان حمد بن محمد بن إبراهيم بن الخطاب البستي المعروف بالخطابي, المطبعة العلمية - حلب, الطبعة: الأولى 1351 هـ - 1932 م.
Hadis ini di HadeethEnc.com