Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ bersabda, "Maukah kalian aku beritahukan ciri-ciri Dajal yang tidak pernah diberitahukan oleh seorang nabi terdahulu kepada umatnya? Sesungguhnya matanya buta sebelah dan ia datang dengan membawa replika surga dan neraka. Apa yang ia sebut sebagai surga pada hakikatnya adalah neraka. Sungguh, aku memperingatkan kalian tentangnya sebagaimana yang telah diperingatkan oleh Nabi Nuh kepada kaumnya."
Muttafaq 'alaihDerajatSahih
Penjelasan
Nabi ﷺ mengabarkan kepada sahabat-sahabatnya tentang Dajal dan ciri-cirinya yang belum pernah disampaikan oleh seorang nabi sebelumnya, di antaranya:
1- Matanya buta sebelah.
2- Allah Ta'ala memberikan padanya replika surga dan neraka menurut pandangan mata.
Akan tetapi, surganya adalah neraka, dan nerakanya adalah surga. Siapa yang patuh kepadanya akan dimasukkannya ke dalam surga menurut yang dilihat manusia, tetapi hakikatnya adalah api yang membakar. Sebaliknya, orang yang membangkang padanya akan dimasukkannya ke dalam neraka menurut yang dilihat manusia, tetapi hakikatnya adalah surga yang nikmat. Kemudian Nabi ﷺ mengingatkan fitnah Dajal sebagimana yang telah diperingatkan oleh Nabi Nuh kepada kaumnya.
Faedah
1- Besarnya fitnah Dajal.
2- Faktor keselamatan dari fitnah Dajal ialah iman yang jujur, kembali kepada Allah Ta'ala, berlindung dengan Allah dari Dajjal pada tasyahud akhir, dan menghafal sepuluh ayat pertama surah Al-Kahfi.
3- Besarnya perhatian Nabi ﷺ terhadap umatnya dengan menjelaskan kepada mereka tentang ciri-ciri Dajal yang belum pernah diterangkan oleh seorang nabi sebelumnya.
Rujukan
صحيح البخاري (4/ 134) (3338).
صحيح مسلم (4/ 2250) (2936).
عن أبي قَتَادَةَ الأَنْصَارِيِّ رضي الله عنه قال: «أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان يُصَلِّي وهو حامل أُمَامَةَ بنت زينب بنت رسول الله صلى الله عليه وسلم ».
ولأبي العاص بن الربيع بن عبد شَمْسٍ رضي الله عنه : «فإذا سجد وضعها، وإذا قام حملها».
Dari Abu Qatādah Al-Anṣāri -raḍiyallāhu 'anhu- ia berkata, “Bahwasanya Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pernah salat dengan menggendong Umāmah binti Zainab binti Rasulillah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-”. Disebutkan dalam riwayat Abu Al 'Āṣ bin Rabī' bin Abdu Syams -raḍiyallāhu 'anhu-, “Jika sujud beliau meletakkannya, dan jika berdiri beliau menggendongnya."
Muttafaq 'alaihDerajatHadis sahih
Penjelasan
Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pernah salat dengan menggendong anak dari putri beliau yaitu Umāmah binti Zainab. Beliau menggendongnya di atas bahunya jika sedang berdiri, dan jika rukuk atau sujud, beliau meletakkannya di lantai dengan penuh kecintaan dan kasih sayang.
Rujukan
تيسير العلام للبسام الناشر: مكتبة الصحابة، الأمارات - مكتبة التابعين، القاهرة الطبعة- العاشرة، 1426 هـ - 2006 م .
تنبيه الأفهام للعثيمين -طبعة مكتبة الصحابة الامارات - مكتبة التابعين- القاهرة- الطبعة الأولى 1426.
صحيح البخاري -أبو عبد الله محمد بن إسماعيل بن إبراهيم بن المغيرة الجعفي البخاري، تحقيق محمد زهير بن ناصر الناصر - الناشر : دار طوق النجاة -الطبعة : الأولى 1422هـ.
صحيح مسلم المحقق: محمد فؤاد عبد الباقي - الناشر: دار إحياء التراث العربي – بيروت.
تأسيس الأحكام -أحمد بن يحيى النجمي- دار المنهاج- القاهرة- مصر -الطبعة الأولى.
عن أسامة بن زيد بن حارثة رضي الله عنهما قال: أرسلت بنت النبي صلى الله عليه وسلم إنَّ ابني قد احتُضِر فاشْهَدنَا، فأرسَل يُقرِىءُ السَّلام، ويقول: «إنَّ لِلَّه ما أَخَذ ولَهُ ما أَعطَى، وكلُّ شَيءٍ عِنده بِأجَل مُسمَّى فَلتَصبِر ولتَحتَسِب». فأرسلت إليه تُقسِم عَليه لَيَأتِيَنَّها، فقام ومعه سعد بن عبادة، ومعاذ بن جبل، وأبي بن كعب، وزيد بن ثابت، ورجال رضي الله عنهم فَرفع إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم الصَّبِي، فأَقعَدَه في حِجرِه ونَفسه تَقَعقَع، فَفَاضَت عينَاه فقال سعد: يا رسول الله، ما هذا؟ فقال: «هذه رَحمَة جَعلَها الله تعالى في قُلُوب عِباده» وفي رواية: «في قلوب من شاء من عباده، وإنَّما يَرحَم الله من عِبَاده الرُّحَماء».
Dari Usāmah bin Zaid bin Hāriṡah -raḍiyallāhu 'anhumā- ia berkata, "Salah seorang puteri Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pernah mengutus seseorang untuk memberitahu kepada beliau, bahwa anaknya sedang sakaratul maut, maka dari itu beliau diminta untuk hadir. Beliau hanya mengirimkan seorang utusan untuk menyampaikan salam, seraya bersabda, "Sesungguhnya milik Allah-lah segala yang Dia ambil, dan kepunyaan-Nya pula segala yang Dia beri, dan segala sesuatu di sisi-Nya telah ditentukan, maka hendaklah dia bersabar dan mengharap pahala dari Allah." Kemudian puteri beliau mengirimkan berita kembali kepada beliau yang disertai sumpah agar beliau berkenan untuk hadir. Lantas beliau berangkat bersama Sa'ad bin 'Ubādah, Mu'āż bin Jabal, Ubay bin Ka'ab, Zaid bin Ṡābit, dan beberapa sahabat yang lain. Kemudian anak yang sakit itu diberikan kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dan didudukkan di pangkuan beliau dalam keadaan nafasnya terengah-engah. Tiba-tiba air mata beliau menetes. Sa'ad bertanya, "Wahai Rasulullah, (air mata) apakah ini?" Beliau menjawab, "Tetesan air mata ini adalah rahmat yang dikaruniakan Allah -Ta'ālā- ke dalam hati para hamba-Nya." Dalam riwayat lain disebutkan, "Ke dalam hati hamba-hamba yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah hanya menyayangi hamba-hamba-Nya yang penyayang."
Muttafaq 'alaihDerajatHadis sahih
Penjelasan
Usāmah bin Zaid -raḍiyallāhu 'anhu- menuturkan bahwa salah seorang puteri Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengutus seseorang untuk mengabarkan bahwa puteranya sedang sekarat. Yakni sedang menghadapi kematian. Ia meminta beliau untuk hadir. Ketika sang utusan itu sudah menyampaikannya kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, beliau bersabda, "Perintahkan dia (puterinya) untuk bersabar dan mengharap pahala (dari Allah). Sesungguhnya milik Allah-lah segala yang Dia ambil, dan kepunyaan-Nya pula segala yang Dia beri, dan segala sesuatu di sisi-Nya telah ditentukan." Nabi -'alaihi aṣ-ṣalātu wa as-salām- memerintahkan kepada orang yang diutus oleh putrinya agar menyuruh putrinya itu -ibu anak kecil tersebut- dengan beberapa kata berikut: Beliau bersabda, "Hendaklah dia bersabar." Yakni, terhadap musibah ini. "Dan hendaklah dia mengharap pahala." Yakni, hendaknya dia mengharap pahala dari Allah atas kesabarannya. Sebab, ada orang yang bisa sabar tetapi tidak mengharap pahala dari Allah. Tetapi jika dia sabar dan mengharapkan pahala dari Allah. Yakni, beliau ingin dengan kesabarannya itu Allah akan memberinya balasan dan ganjaran. Inilah sikap mengharap pahala. Sabda beliau, "Sesungguhnya milik Allah-lah segala yang Dia ambil, dan kepunyaan-Nya pula segala yang Dia beri." Ini merupakan kalimat yang agung. Jika segala sesuatu itu milik Allah, maka jika Dia mengambil sesuatu darimu, maka sesuatu itu memang milik-Nya. Jika Dia memberimu sesuatu, itu adalah milik-Nya. Lantas kenapa engkau murka jika Dia mengambil darimu hal yang memang merupakan milik-Nya? Oleh sebab itu, disunahkan bagi seseorang apabila ditimpa musibah, hendaklah dia mengucapkan, "Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji'ūn (sesungguhnya kita ini milik Allah dan kepada-Nya kita kembali)". Yakni, kita milik Allah, Dia melakukan apa saja kepada kita sesuai kehendak-Nya. Demikian pula apa yang kita cintai, jika Dia mengambilnya dari kita, maka itu adalah milik-Nya -Subḥānahu wa Ta'ālā-. Menjadi hak Allah untuk mengambil dan memberi. Bahkan yang Dia berikan kepadamu, bukanlah menjadi milikmu, tetapi milik-Nya. Karena itu engkau tidak bisa menggunakan apa yang Dia berikan kepadamu kecuali sesuai dengan arah yang Dia bolehkan. Ini merupakan dalil bahwa milik kita yang diberikan oleh Allah adalah kepemilikan yang terbatas. Kita tidak bisa menggunakannya secara mutlak. Karena itu, beliau bersabda, "Menjadi hak Allah untuk mengambil dan memberi." Jika apa yang Allah ambil itu milik-Nya, kenapa kita gelisah (tidak sabar)? Bagaimana bisa kita marah kepada pemilik yang mengambil milik-Nya -Subḥānahu wa Ta'ālā-? Ini bertentangan dengan akal dan dalil naqli. Beliau bersabda, "Dan segala sesuatu telah ditentukan ajalnya di sisi-Nya." Segala sesuatu ada ketetapannya di sisi-Nya. Perkataan, "Bi ajalin musammā", artinya ajal tertentu. Jika engkau telah meyakini hal ini, yaitu bahwa menjadi hak Allah untuk mengambil dan memberi, dan segala sesuatunya telah ditentukan ajalnya di sisi-Nya, maka engkau akan merasa puas (kanaah). Ungkapan terakhir ini menunjukkan bahwa seseorang tidak mungkin mampu merubah ajal yang sudah ditentukan, baik disegerakan atau diakhirkan. Sebagaimana firman Allah -Ta'ālā-, "Bagi setiap umat ada ajal (batas waktu). Apabila ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan atau percepatan sesaat pun." Jika sesuatu telah ditetapkan takdirnya, tidak dapat dipercepat atau ditunda, maka tidak ada manfaatnya gelisah dan murka, karena walaupun engkau gusar (tidak sabar) dan murka, engkau tidak akan mampu merubah sesuatu pun yang sudah ditetapkan. Kemudian sang utusan tersebut memberitahu puteri Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengenai pesan beliau yang harus disampaikan kepadanya. Akan tetapi sang puteri kembali mengutusnya untuk memintanya agar datang. Maka berangkatlah beliau bersama sejumlah sahabatnya. Setibanya di sana beliau menggendong sang anak yang nafasnya terengah-engah naik turun. Seketika itu Rasulullah -'alaihiṣ salatu wa as-salam- menangis dan kedua matanya berlinang, sehingga Sa'ad mengira bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menangis karena resah. Nabi -'alaihi aṣ-ṣalātu wa as-salām- bersabda, Ini adalah kasih sayang." Yakni, aku menangis karena sayang kepada anak ini bukan karena gelisah (tidak sabar) terhadap takdir. Selanjutnya beliau -'alaihi aṣ-ṣalātu wa as-salām- bersabda, "Sesungguhnya Allah hanya mengasihi hamba-Nya yang pengasih." Hadis ini menjadi dalil dibolehkannya menangis karena mengasihi orang yang terkena musibah.
Rujukan
بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين، لسليم الهلالي، ط1، دار ابن الجوزي، الدمام، 1415هـ.
رياض الصالحين للنووي، ط1، تحقيق: ماهر ياسين الفحل، دار ابن كثير، دمشق، بيروت، 1428 هـ.
رياض الصالحين، ط4، تحقيق: عصام هادي، وزارة الأوقاف والشؤون الإسلامية القطرية، دار الريان، بيروت، 1428هـ.
كنوز رياض الصالحين، مجموعة من الباحثين برئاسة حمد بن ناصر العمار، ط1، كنوز إشبيليا، الرياض، 1430هـ.
شرح رياض الصالحين للشيخ ابن عثيمين، دار الوطن للنشر، الرياض، 1426هـ.
صحيح البخاري، تحقيق: محمد زهير بن ناصر الناصر، ط1، دار طوق النجاة (مصورة عن السلطانية بإضافة ترقيم: محمد فؤاد عبد الباقي)، 1422هـ.
صحيح مسلم، تحقيق: محمد فؤاد عبد الباقي، دار إحياء التراث العربي، بيروت.
نزهة المتقين شرح رياض الصالحين، لمجموعة من الباحثين، ط14، مؤسسة الرسالة، 1407هـ.
عن ثوبان رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: "إن الله زَوَى لي الأرض، فرأيت مشارقها ومغاربها، وإن أمتي سيبلغ ملكُها ما زُوِيَ لي منها. وأعطيت الكنْزين الأحمر والأبيض. وإني سألت ربي لأمتي أن لا يهلكها بسَنَةٍ بعامةٍ، وأن لا يُسَلِّطَ عليهم عدوا من سوى أنفسهم فيَسْتَبِيحَ بَيْضَتَهُمْ؛ وإن ربي قال: يا محمد، إذا قضيتُ قضاءً فإنه لا يُرَدُّ، وإني أعطيتك لأمتك أن لا أهلكهم بسنة عامة، وأن لا أُسَلِّطَ عليهم عدوا من سوى أنفسهم فيَسْتَبِيحَ بَيْضَتَهُمْ ولو اجتمع عليهم مَنْ بأقطارها، حتى يكون بعضُهم يُهْلِكُ بعضًا ويَسْبِي بعضُهم بعضًا".
ورواه البرقاني في صحيحه، وزاد: "وإنما أخاف على أمتي الأئمةَ المضلين، وإذا وقع عليهم السيف لم يرفع إلى يوم القيامة. ولا تقوم الساعة حتى يلحق حي من أمتي بالمشركين، وحتى تعبد فِئامٌ من أمتي الأوثان. وإنه سيكون في أمتي كذابون ثلاثون؛ كلهم يزعم أنه نبي، وأنا خاتم النبيين لا نبي بعدي. ولا تزال طائفة من أمتي على الحق منصورة لا يضرهم من خذلهم حتى يأتي أمر الله تبارك وتعالى".
Dari Ṡaubān -raḍiyallāhu 'anhu- bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Sesungguhnya Allah menggulung bumi untukku sehingga aku bisa melihat bagian timur dan baratnya. Sesungguhnya kekuasaan umatku akan mencapai bumi yang telah digulung untukku. Dan aku diberi dua harta simpanan merah (Persia) dan putih (Romawi). Sesungguhnya Aku memohon kepada Tuhanku untuk umatku agar tidak dibinasakan dengan kekeringan yang melanda dan tidak menjadikan musuh menguasai mereka selain diri mereka sendiri, lalu musuh itu merusak kehormatan mereka. Sesungguhnya Tuhanku berfirman, "Wahai Muhammad, apabila aku sudah menetapkan satu keputusan maka sesungguhnya keputusan itu tidak dapat ditolak. Sesungguhnya Aku sudah memberi (keputusan) untuk umatmu bahwa Aku tidak akan membinasakan mereka dengan paceklik yang merata dan Aku tidak akan menguasakan musuh terhadap mereka dari selain diri mereka sendiri lalu musuh itu merusak kehormatan mereka, meskipun semua musuh yang ada di bumi bersatu menghadapi mereka, sehingga (kehancuran umatku adalah karena) sebagian dari mereka membinasakan sebagian lainnya dan saling menawan satu sama lain..." Al-Burqāni meriwayatkan hadis ini dalam shahihnya dan menambahkan, "Sesungguhnya yang aku takuti pada umatku ialah para imam (pemimpin) yang menyesatkan. Apabila pedang sudah diletakkan (terjadi perperangan) pada mereka maka tidak akan diangkat sampai hari kiamat. Kiamat tidak akan terjadi sampai seorang umatku yang hidup bergabung dengan orang musyrikin, dan hingga beberapa kelompok umat menyembah berhala. Sesungguhnya di tengah-tengah umatku akan muncul tigapuluh pendusta. Mereka semua mengklaim dirinya sebagai nabi. Sesungguhnya aku penutup para nabi, tidak ada nabi setelahku. Akan tetap ada satu kelompok dari umatku yang berjaya tegak di atas kebenaran, mereka tidak terpengaruh oleh orang yang melecehkan mereka sampai datang ketentuan Allah -Tabāraka wa Ta'ālā-."
Diriwayatkan oleh Ibnu Mājah - Diriwayatkan oleh Abu Daud - Diriwayatkan oleh Ahmad - Diriwayatkan oleh MuslimDerajatHadis sahih
Penjelasan
Ini adalah hadis yang agung, mencakup berbagai hal penting dan berita-berita yang valid. Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- yang benar dan dibenarkan- mengabarkan dalam hadis itu bahwa Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- menghimpun bumi untuknya hingga beliau melihat apa yang akan dikuasai oleh umatnya dari ujung timur hingga barat. Berita ini telah menjadi nyata. Kekuasaan umat beliau telah mencapai ujung barat sampai ujung timur. Beliau juga mengabarkan bahwa dirinya telah diberi dua harta terpendam. Hal itu terjadi sebagaimana beliau beritakan. Umat beliau berhasil menaklukkan kerajaan Kisra (Persia) dan Kaisar (Romawi) berikut apa yang ada di dalamnya, yaitu emas, perak dan berlian. Beliau juga mengabarkan bahwa dirinya telah memohon kepada Tuhannya untuk umatnya agar mereka tidak dibinasakan dengan paceklik yang merata, tidak menjadikan musuh dari kalangan orang-orang kafir menguasai negeri mereka dan membinasakan kaum muslimin hingga ke akarnya.
Sesungguhnya Allah telah mengabulkan permohonan pertama, dan mengabulkan permohonan kedua selama umat ini menghindari perselisihan, perpecahan dan peperangan intern. Namun bila hal itu terjadi pada mereka, maka musuh mereka yang kafir akan menguasainya. Apa yang diberitakan beliau benar-benar terjadi saat umat berpecah-belah.
Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memperingatkan umatnya akan bahaya para pemimpin dan ulama yang sesat lagi menyesatkan. Sebab, manusia mengikuti mereka dalam kesesatannya. Beliau juga mengabarkan bahwa apabila fitnah dan pertempuran sudah terjadi pada umat, sesungguhnya hal itu akan terus berlangsung sampai hari kiamat. Apa yang beliau beritakan sudah benar-benar terjadi. Sejak terjadinya fitnah dengan pembunuhan Utsman -raḍiyallāhu 'anhu-, maka fitnah itu terus berantai sampai hari ini. Beliau juga mengabarkan bahwa sebagian umatnya mengikuti orang-orang musyrik secara teritorial dan beragama, dan sekelompok dari umat akan beralih kepada kesyirikan. Apa yang beliau beritakan benar-benar sudah terjadi sehingga kuburan-kuburan, pohon-pohon dan bebatuan disembah.
Beliau juga mengabarkan mengenai kemunculan orang-orang yang mengklaim kenabian - dan sesungguhnya setiap orang yang mengaku nabi, maka ia seorang pendusta. Sebab, kenabian itu berakhir dengan diutusnya Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Beliau juga memberikan kabar gembira mengenai akan adanya sekelompok umat Islam yang tetap kokoh dalam Islam, meskipun terjadi berbagai bencana dan fitnah. Kelompok tersebut meskipun minoritas, tidak akan tertimpa bahaya tipu daya musuh-musuhnya dan para penentangnya.
Rujukan
الملخص في شرح كتاب التوحيد، دار العاصمة الرياض، الطبعة: الأولى 1422هـ- 2001م.
الجديد في شرح كتاب التوحيد، مكتبة السوادي، جدة، المملكة العربية السعودية، الطبعة: الخامسة، 1424هـ/2003م.
صحيح مسلم، تحقيق: محمد فؤاد عبد الباقي، نشر: دار إحياء التراث العربي – بيروت.
Maḥmūd bin Labīd -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Hal yang paling aku khawatirkan pada kalian adalah syirik kecil." Para sahabat bertanya, "Apa syirik kecil itu, wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "Yaitu ria. Allah ﷻ akan berfirman pada mereka di hari Kiamat ketika manusia diberikan balasan amal mereka, 'Carilah orang-orang yang kalian bersikap ria di hadapannya saat di dunia, lalu tunggulah, apakah kalian menemukan balasan dari mereka?'"
HR. AhmadDerajatHasan
Penjelasan
Nabi ﷺ mengabarkan bahwa hal yang paling beliau khawatirkan pada umatnya ialah syirik kecil, yaitu ria, yang bermakna: beramal karena manusia. Kemudian beliau menyebutkan hukuman untuk orang-orang yang berbuat ria di hari Kiamat, yaitu dikatakan pada mereka: Carilah orang-orang yang dulu menjadi tujuan kalian beramal, lalu tunggu, apakah mereka mampu memberi kalian pahala atas amal itu?!
Faedah
1- Kewajiban memurnikan amal untuk Allah ﷻ dan waspada terhadap sifat ria.
2- Besarnya kasih sayang Nabi ﷺ kepada umatnya serta kegigihan beliau dalam menjelaskan petunjuk dan memberikan nasihat kepada mereka.
3- Jika kekhawatiran beliau ﷺ pada umatnya sampai kadar seperti ini, padahal beliau sedang berbicara kepada para sahabat yang merupakan pimpinan orang-orang saleh, maka kekhawatiran terhadap orang setelah mereka tentu lebih tinggi.
Rujukan
مسند أحمد (39/ 39) (23630).
الجديد في شرح كتاب التوحيد، لمحمد القرعاوي (ص57).
الملخص في شرح كتاب التوحيد، لصالح الفوزان (ص45).
عن عَبْد اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ رضي الله عنهما قال: «أّعْتَمَ النَبِيُّ -صلَّى الله عليه وسلَّم- بِالعِشَاء، فَخَرَج عُمَر فقال: الصَّلاةَ يا رسول الله، رَقَد النِسَاءُ والصِّبيَان. فَخَرَجَ ورَأسُهُ يَقطُر يقول: لَولاَ أن أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي -أو على النَّاس- لَأَمَرتُهُم بهذه الصَّلاة هذه السَّاعَة».
Dari Abdullah bin 'Abbās -raḍiyallāhu 'anhumā-, ia berkata, "Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- terlambat salat Isya. Lantas Umar keluar lalu berkata, "Salat, wahai Rasulullah. Para perempuan dan anak-anak sudah tidur." Beliau pun keluar dalam keadaan kepala meneteskan air (bekas wudu) seraya bersabda, "Seandainya tidak memberatkan umatku, niscaya aku pasti memerintahkan mereka melaksanakan salat (Isya) pada waktu seperti ini."
Muttafaq 'alaihDerajatHadis sahih
Penjelasan
Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pernah terlambat melaksanakan salat Isya hingga malam berlalu dan para perempuan serta anak-anak telah tidur karena mereka tidak memiliki daya dan kemampuan untuk menunggu lama. Lantas Umar bin Al-Khaṭṭāb -raḍiyallāhu 'anhu- mendatangi beliau dan berkata, "Mari salat. Sungguh, para wanita dan anak-anak sudah tidur." Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- keluar dari rumahnya menuju masjid dalam keadaan kepalanya meneteskan air setelah mandi. Beliau bersabda untuk menjelaskan bahwa salat Isya itu paling utama dilaksanakan di waktu akhir seandainya bukan karena kesulitan yang dialami oleh orang-orang yang menunggu salat, "Seandainya tidak memberatkan umatku, niscaya aku pasti memerintahkan mereka melaksanakan salat (Isya) pada waktu terakhir seperti ini."
Rujukan
الإلمام بشرح عمدة الأحكام لإسماعيل الأنصاري، ط1، دار الفكر، دمشق، 1381هـ
تيسير العلام شرح عمدة الأحكام للبسام، حققه وعلق عليه وخرج أحاديثه وصنع فهارسه: محمد صبحي بن حسن حلاق، ط10، مكتبة الصحابة، الإمارات - مكتبة التابعين، القاهرة، 1426 هـ
تنبيه الأفهام شرح عمدة لأحكام لابن عثيمين، ط1، مكتبة الصحابة، الإمارات، 1426هـ
عمدة الأحكام من كلام خير الأنام صلى الله عليه وسلم لعبد الغني المقدسي، دراسة وتحقيق: محمود الأرناؤوط، مراجعة وتقديم: عبد القادر الأرناؤوط، ط2، دار الثقافة العربية، دمشق ، بيروت، مؤسسة قرطبة، 1408 هـ
صحيح البخاري، تحقيق: محمد زهير بن ناصر الناصر، ط1، دار طوق النجاة (مصورة عن السلطانية بإضافة ترقيم: محمد فؤاد عبد الباقي)، 1422هـ.
صحيح مسلم، تحقيق: محمد فؤاد عبد الباقي، دار إحياء التراث العربي، بيروت، 1423 هـ.
عن أم المؤمنين عائشة رضي الله عنها قالت: إِنْ كَانَ رسولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم لَيَدَعُ العَمَلَ، وهو يُحِبُّ أَنْ يَعْمَلَ بِهِ؛ خَشْيَةَ أَنْ يَعْمَلَ بِهِ النَّاسُ فَيُفْرَضَ عَلَيْهِمْ.
Dari Ummul Mukminin Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā-, "Sungguh Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pernah meninggalkan suatu amal, padahal beliau suka mengerjakannya, karena takut orang-orang mengikutinya (mencontohnya) lalu diwajibkan kepada mereka.
Muttafaq 'alaihDerajatHadis sahih
Penjelasan
Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- sudah biasa meninggalkan suatu amalan padahal beliau suka mengerjakannya, agar orang-orang tidak mengamalkannya, yang bisa menyebabkan amalan tersebut diwajibkannya kepada mereka. Dan hal itu bakal menimbulkan kesulitan yang besar bagi mereka. Padahal Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- tidak suka menimpakan kesulitan pada mereka.
Rujukan
نزهة المتقين شرح رياض الصالحين، نشر: مؤسسة الرسالة، الطبعة: الرابعة عشر، 1407هـ - 1987م.
شرح رياض الصالحين، لابن عثيمين، نشر: دار الوطن للنشر، الرياض، الطبعة: 1426هـ.
بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين، للهلالي، نشر: دار ابن الجوزي -الطبعة الأولى 1418هـ.
صحيح البخاري، نشر: دار طوق النجاة (مصورة عن السلطانية بإضافة ترقيم ترقيم محمد فؤاد عبد الباقي)، الطبعة: الأولى، 1422هـ.
صحيح مسلم، تحقيق: محمد فؤاد عبد الباقي، نشر: دار إحياء التراث العربي، بيروت.
عن أبي قتادة وأنس بن مالك رضي الله عنهما مرفوعاً: «إني لأقوم إلى الصلاة، وأريد أن أُطَوِّلَ فيها، فأسمع بكاء الصبي فأَتَجَوَّزُ في صلاتي كراهيةَ أن أَشُقَّ على أمه».
Dari Qatādah dan Anas bin Mālik -raḍiyallāhu 'anhumā- secara marfū', "Sesungguhnya aku berdiri untuk salat dan aku bermaksud hendak memanjangkannya, lalu aku mendengar tangisan seorang anak kecil, lalu aku ringankan salatku karena aku tak mau merisaukan ibunya."
Diriwayatkan oleh Bukhari - Muttafaq 'alaihDerajatHadis sahih
Penjelasan
Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- melaksanakan salat berjama'ah. Beliau ingin memanjangkan salatnya. Tiba-tiba beliau mendengar tangisan anak, beliau pun meringankan salatnya karena khawatir bila panjang dapat merisaukan ibu anak itu yang mana hatinya terpaut dengan anaknya.
Rujukan
دليل الفالحين لطرق رياض الصالحين، لابن علان، نشر دار الكتاب العربي.
نزهة المتقين شرح رياض الصالحين، نشر: مؤسسة الرسالة، الطبعة الرابعة عشر، 1407ه - 1987م.
شرح رياض الصالحين، لابن عثيمين، نشر: دار الوطن للنشر، الرياض، الطبعة: 1426ه.
بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين، للهلالي، نشر: دار ابن الجوزي.
Setiap hadis, derajat, penjelasan, dan faedah di sini ditampilkan persis sebagaimana diterbitkan HadeethEnc.com, menurut ketentuan penerbitan ulangnya. Derajat itu tidak menyebut siapa yang menilainya. Terjemahan dan penjelasan adalah karya para penyusunnya, dan sebagian menyebutkan hukum; para peninjau Sabīl belum memeriksanya. Hadis berbahasa Arablah teksnya. Sumber: HadeethEnc.com