Langsung ke konten
Hadis dengan penjelasan

Kedermawanan Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-

6 hadis

Tidaklah Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dimintai sesuatu, lalu mengatakan, "Tidak."

عن جابر بن عبد الله رضي الله عنهما قال: ما سُئل رسول الله - صلى الله عليه وسلم- شيئا قطُّ، فقال: لا. وعن أنس رضي الله عنه قال: ما سئل رسول الله صلى الله عليه وسلم على الإسلام شيئا إلا أعطاه، ولقد جاءه رجل، فأعطاه غنما بين جبلين، فرجع إلى قومه، فقال: يا قوم، أسلموا فإن محمدا يعطي عطاء من لا يخشى الفقر، وإن كان الرجل ليسلم ما يريد إلا الدنيا، فما يلبث إلا يسيرا حتى يكون الإسلام أحب إليه من الدنيا وما عليها.
Dari Jābir -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata,"Tidaklah Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dimintai sesuatu, lalu mengatakan, 'Tidak'.” Dan dari Anas -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, “Tidaklah Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dimintai atas (nama) Islam, melainkan beliau akan memberinya. Sungguh pernah datang seorang pria kepada beliau, lalu beliau membelinya kambing yang ada di antara dua gunung (satu lembah). Maka pria itu kembali kepada kaumnya, lalu berkata: ‘Wahai kaumku, masuk Islamlah kalian! karena sesungguhnya Muhammad memberikan pemberian seperti orang yang tidak takut kefakiran.’ Meskipun orang itu masuk Islam tidak lain karena menginginkan dunia (di awalnya -korektor), namun tidak lama kemudian Islam menjadi hal yang lebih dicintainya daripada dunia dan seisinya.”
Muttafaq 'alaihDerajatHadis sahih
Penjelasan

Makna hadis ini: Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- tidak pernah dimintai oleh seorang pun dari perkara dunia, lalu beliau mengatakan, "Tidak," dengan maksud menolak untuk memberi. Namun jika beliau memilikinya, beliau akan memberinya, atau meresponnya dengan ucapan yang baik. Itu sebagai bentuk pelaksanaan terhadap perintah Allah -Ta'ālā- dalam firman-Nya, “Dan adapun peminta-minta, maka janganlah engkau menghardiknya.” Imam Bukhari meriwayatkan dalam Al-Adab Al-Mufrad, dari Anas, bahwasanya beliau -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- adalah, “Orang yang penyayang. Tidak pernah beliau didatangi oleh seorang pun (lalu meminta) melainkan beliau menjanjikannya atau memenuhi permintaannya pada saat itu juga jika beliau memilikinya.” Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-, bahwasanya seorang pria mendatangi Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, lalu beliau mengutus (seseorang) menemui salah seorang istri beliau, namun mereka mengatakan, ‘Kami tidak punya apa-apa selain air.’ Maka Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Siapa yang mau menjamu orang ini?” (HR. Al-Bukhari) Dalam Sahih Bukhari juga, dari Sahl bin Sa’ad -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, “Seorang wanita datang membawa kain burdah…ia berkata, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku telah memintalnya dengan kedua tanganku ini untuk kukenakan pada Anda.’ Maka Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pun mengambilnya karena beliau memang membutuhkannya. Beliau pun keluar menemui kami dan mengenakan kain itu sebagai kain sarungnya. Lalu seorang pria berkata, ‘Wahai Rasulullah, berikanlah kain itu untukku.’ Beliau berkata, ‘Baiklah.’ Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pun duduk di majlis itu, lalu kembali, kemudian melepaskan kain itu dan mengirimkannya kepada pria tadi. Maka orang-orang pun berkata padanya, ‘Tindakanmu tak terpuji, engkau meminta kain itu pada beliau, sementara engkau tahu bahwa beliau tak pernah menolak orang yang meminta apa pun.’ Pria itu berkata, ‘Demi Allah, aku tidak meminta kepada beliau kecuali agar kain itu menjadi kain kafanku pada hari kematianku.’ Sahal berkata, ‘Maka kain itupun betul-betul menjadi kain kafannya.’” Demikianlah kondisi beliau -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersama orang yang meminta kepada beliau. Jika beliau punya, beliau akan memberikannya, meskipun itu milik Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- satu-satunya dan beliau membutuhkannya. Dan jika beliau tidak punya, beliau akan meminta maaf, atau menjanjikannya hingga waktu tertentu, atau memberikan syafaat (baca: rekomendasi) untuknya kepada para sahabatnya. Ini salah satu bukti kemurahan dan kedermawanan serta kemuliaan akhlak beliau -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-.

Rujukan

بهجة الناظرين، تأليف: سليم بن عيد الهلالي. تيسير الكريم الرحمن في تفسير كلام المنان، تأليف: عبد الرحمن بن ناصر آل سعدي، تحقيق: عبد الرحمن بن معلا اللويحق، الناشر: مؤسسة الرسالة، الطبعة الأولى، 1420هـ. صحيح البخاري، تأليف: محمد بن إسماعيل البخاري، تحقيق: محمد زهير الناصر، الناشر: دار طوق النجاة، الطبعة الأولى، 1422هـ. صحيح مسلم، تأليف: مسلم بن الحجاج النيسابوري، تحقيق: محمد فؤاد عبد الباقي الناشر: دار إحياء التراث العربي – بيروت. دليل الفالحين، تأليف: محمد بن علان، الناشر: دار الكتاب العربي. مرقاة المفاتيح شرح مشكاة المصابيح، تأليف: علي بن سلطان القاري، الناشر: دار الفكر، الطبعة: الأولى، 1422هـ.

Hadis ini di HadeethEnc.com

"Apa pun kebaikan yang aku punya, aku tidak akan menyembunyikannya dari kalian. Barangsiapa menjaga kehormatan dirinya dari kejelekan, maka Allah akan memulyakannya. Barangsiapa merasa cukup (dengan karunia Allah) maka Allah akan mencukupinya. Barangsiapa melatih diri untuk bersabar, maka Allah akan menjadikannya penyabar. Dan tidaklah seseorang diberi suatu pemberian yang lebih baik dan lebih luas daripada anugerah kesabaran".

عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه مرفوعاً: أنَّ ناسًا من الأنصارِ سألوا رسولَ الله - صلى الله عليه وسلم - فأعطاهم، ثم سألوه فأعطاهم، حتى نَفِدَ ما عنده، فقال لهم حين أنفقَ كلَّ شيءٍ بيده: «ما يَكُنْ عندي من خيرٍ فلن أَدَّخِرَهُ عَنْكُم، ومَنْ يَسْتَعْفِفْ يُعِفِّهُ اللهُ، ومَنْ يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ اللهُ، ومَنْ يَتَصَبَّرْ يُصَبِّرْهُ اللهُ. وما أُعْطِيَ أَحَدٌ عطاءً خَيرًا وأَوسع من الصبرِ».
Dari Abu Sa'îd al-Khudri -raḍiyallāhu 'anhu- secara marfū', bahwa ada sebagian orang dari Ansar yang meminta-minta kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dan beliau beri. Kemudian minta lagi dan diberi lagi, sampai yang beliau miliki habis. Beliau berkata kepada mereka ketika apa yang beliau miliki sudah habis, "Apa pun kebaikan yang aku punya, aku tidak akan menyembunyikannya dari kalian. Barangsiapa menjaga kehormatan dirinya dari kejelekan, maka Allah akan memulyakannya. Barangsiapa merasa cukup (dengan karunia Allah) maka Allah akan mencukupinya. Barangsiapa melatih diri untuk bersabar, maka Allah akan menjadikannya penyabar. Dan tidaklah seseorang diberi suatu pemberian yang lebih baik dan lebih luas daripada anugerah kesabaran".
Muttafaq 'alaihDerajatHadis sahih
Penjelasan

Ada orang-orang dari Ansar meminta kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- kemudian diberi. Lalu minta lagi dan diberi lagi. Hingga habis apa yang beliau punya. Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengabarkan bahwa tidak mungkin beliau menyimpan sesuatu, untuk disembunyikan dari mereka. Tetapi sudah tidak tersisa apa pun pada beliau. Beliau menasehati mereka agar menjaga kehormatan, merasa cukup dan bersabar. Beliau mengabarkan, bahwa siapa yang merasa cukup dengan apa yang ada di sisi Allah dari harta yang ada di tangan manusia, Allah akan mencukupinya. Kaya yang hakiki tentunya kaya hati. Jika seseorang telah merasa cukup dengan apa yang ada di sisi Allah, dari apa yang ada di tangan manusia, Allah cukupkan dia dari rasa butuh kepada manusia. Menjadikannya punya harga diri (martabat), jauh dari meminta-minta. Siapa yang menjaga kemuliaan diri dari perkara yang Allah haramkan seperti wanita (lawan jenis), Allah jadikan dia mulia, Allah melindunginya dan juga keluarganya. Dan siapa yang berusaha sabar, Allah jadikan dia penyabar. Maksudnya Allah beri dia kesabaran. Dan tidaklah Allah mengaruniai kepada seseorang pemberian atau rezeki atau lainnya, yang lebih baik dan lebih lapang daripada sabar.

Rujukan

1- نزهة المتقين شرح رياض الصالحين، نشر: مؤسسة الرسالة، الطبعة: الرابعة عشر، 1407ه 1987م. 2- شرح رياض الصالحين، لابن عثيمين، نشر: دار الوطن للنشر، الرياض، الطبعة: 1426ه. 3- بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين، للهلالي، نشر: دار ابن الجوزي. 4- صحيح البخاري، نشر: دار طوق النجاة (مصورة عن السلطانية بإضافة ترقيم ترقيم محمد فؤاد عبد الباقي)، الطبعة: الأولى، 1422ه. 5- صحيح مسلم، تحقيق: محمد فؤاد عبد الباقي، نشر: دار إحياء التراث العربي – بيروت. 6- المعجم الوسيط، نشر: دار إحياء التراث العربي، بيروت – لبنان، الطبعة: الثانية.

Hadis ini di HadeethEnc.com

Seorang wanita datang kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dengan membawa sebuah kain burdah yang dipintal.

عن سهل بن سعد رضي الله عنه : أن امرأةَ جاءت إلى رسولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم بِبُرْدَةٍ مَنسُوجَةٍ، فقالت: نَسَجتُها بيديَّ لأَكْسُوَكَها، فأخذها النبيُّ صلى الله عليه وسلم محتاجاً إليها، فخرجَ إلينا وإنها إزارُهُ، فقال فلانٌ: اكسُنِيها ما أحسَنَها! فقال: "نعم"، فجلسَ النبيُّ صلى الله عليه وسلم في المجلسِ، ثم رجع فطَوَاها، ثم أرسلَ بها إليه، فقال له القومُ: ما أحسَنتَ! لبسها النبيُّ صلى الله عليه وسلم محتاجاً إليها، ثم سألته وعَلِمتَ أنه لا يَرُدَ سائلاً، فقال: إني واللهِ ما سألتُهُ لألبِسَها، إنما سألتُهُ لتكُونَ كَفَنِي. قال سهلٌ: فكانت كَفَنَهُ.
Dari Sahl bin Sa ‘ad -raḍiyallāhu 'anhu-, bahwa seorang wanita datang menemui Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dengan membawa sebuah kain burdah yang dipintal. Wanita itu berkata, “Aku memintalnya dengan kedua tanganku agar engkau dapat mengenakannya.” Maka Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pun menerimanya (karena memang) membutuhkannya. Beliau pun keluar menemui kami dan mengenakan kain itu sebagai sarungnya. Lalu seseorang berkata, “Kenakanlah untukku, betapa indahnya!” Beliau pun berkata, “Baiklah.” Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pun duduk di majelis, lalu kembali untuk melipat kain itu, kemudian beliau mengirimnya kepada orang tersebut. Orang-orang pun berkata, “Tak pantas kau berbuat demikian! Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengenakannya karena membutuhkannya, lalu engkau memintanya padahal engkau tahu beliau tak pernah menolak orang yang meminta.” Orang itu menjawab, “Sungguh demi Allah, aku tidak memintanya karena ingin memakainya. Aku memintanya tidak lain agar ia menjadi kain kafanku.” Sahl berkata, “Maka (kain itu) memang menjadi kain kafannya."
Bukhari meriwayatkannya seperti iniDerajatHadis sahih
Penjelasan

Hadis ini menunjukkan sikap îtsâr (mendahulukan orang lain) Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- daripada dirinya sendiri.; karena beliau lebih memprioritaskan pria itu dengan kain burdah yang sebenarnya beliau butuhkan, sebab beliau benar-benar mengenakannya; hal ini menunjukkan bahwa beliau sangat membutuhkannya. Karena seorang wanita datang dan menghadiahkan kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- sehelai kain burdah, lalu seorang pria maju menemui beliau dan berkata, “Betapa bagusnya ini!” Lalu ia memintanya dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Maka Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pun melepasnya, melipatnya kemudian memberikannya kepadanya. Sebagian ulama yang menjelaskan Hadis ini menyebutkan bahwa di antara pelajaran dari Hadis ini adalah bolehnya mengambil berkah (tabarruk) dengan barang peninggalan orang-orang saleh. Namun sebenarnya tidak demikian, karena yang ada (dalam Hadis ini) adalah mengambil berkah dari dzat/diri Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Dan selain beliau tidak dapat diqiyaskan kepada beliau dalam hal keutamaan dan kesalehan. Apalagi juga para sahabat tidak pernah melakukan hal itu kepada selain beliau, baik semasa hidup beliau maupun setelah wafatnya. Seandainya itu adalah suatu kebaikan, pasti mereka telah mendahului kita untuk melakukannya.

Rujukan

بهجة شرح رياض الصالحين؛ تأليف سليم الهلالي، دار ابن الجوزي. تطريز رياض الصالحين؛ تأليف فيصل آل مبارك، تحقيق د. عبدالعزيز آل حمد، دار العاصمة-الرياض، الطبعة الأولى، 1423هـ. تيسير العزيز الحميد في شرح كتاب التوحيد؛ للإمام سليمان بن عبدالله بن محمد بن عبدالوهاب، تحقيق أسامة عطايا، دار الصميعي-الرياض، الطبعة الأولى، 1428هـ. الجمع بين الصحيحين؛ للإمام محمد بن فتوح الحميدي، تحقيق د. علي البواب، دار ابن حزم. دليل الفالحين لطرق رياض الصالحين؛ لمحمد بن علان الشافعي، دار الكتاب العربي-بيروت. رياض الصالحين من كلام سيد المرسلين؛ للإمام أبي زكريا النووي، تحقيق د. ماهر الفحل، دار ابن كثير-دمشق، الطبعة الأولى، 1428هـ. صحيح البخاري –الجامع الصحيح-؛ للإمام أبي عبدالله محمد بن إسماعيل البخاري، عناية محمد زهير الناصر، دار طوق النجاة، الطبعة الأولى، 1422هـ. فتح الباري بشرح صحيح البخاري؛ للحافظ أحمد بن علي بن حجر العسقلاني، دار المعرفة-بيروت. كنوز رياض الصالحين؛ فريق علمي برئاسة أ.د. حمد العمار، دار كنوز إشبيليا-الرياض، الطبعة الأولى، 1430هـ. نزهة المتقين شرح رياض الصالحين؛ تأليف د. مصطفى الخِن وغيره، مؤسسة الرسالة-بيروت، الطبعة الرابعة عشر، 1407هـ.

Hadis ini di HadeethEnc.com

Kembalikan serbanku. Andaikan aku memiliki unta sebanyak duri pohon ini (pohon Samurah) pastilah aku akan membagikannya kepada kalian, kemudian kalian tidak akan mendapatiku sebagai orang pelit, pendusta, maupun pengecut

عن جبير بن مطعم رضي الله عنه قال: بينما هو يسير مع النبي صلى الله عليه وسلم مَقْفَلَه من حُنَيْن، فَعَلِقَهُ الأعراب يسألونه، حتى اضطروه إلى سَمُرَة، فَخَطِفَت رداءه، فوقف النبي صلى الله عليه وسلم فقال: «أعطوني ردائي، فلو كان لي عدد هذه العِضَاهِ نَعَمًا، لقسمته بينكم، ثم لا تجدوني بخيلًا ولا كذابًا ولا جبانًا».
Dari Jubair bin Muṭ’im -raḍiyallāhu 'anhu ia- berkata, tatkala dia berjalan bersama Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- saat pulang dari Ḥunain, lalu orang-orang badui berusaha merangkul beliau untuk meminta sesuatu hingga beliau terdesak ke pohon Samurah, dan serban beliau tersangkut di pohon itu. Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- berdiri dan bersabda, “Kembalikan serbanku. Andaikan aku memiliki unta sebanyak duri pohon ini (pohon Samurah) pastilah aku akan membagikannya kepada kalian, kemudian kalian tidak akan mendapatiku sebagai orang pelit, pendusta, maupun pengecut."
Diriwayatkan oleh BukhariDerajatHadis sahih
Penjelasan

Tatkala Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pulang dari perang Ḥunain yaitu sebuah lembah di antara Makkah dan Thaif, dan saat itu beliau bersama Jubair bin Muṭ’im -raḍiyallāhu 'anhu-, lalu orang-orang memepet beliau untuk meminta bagian ganimah (harta rampasan perang) hingga mereka mendesak beliau ke pohon Samurah –yaitu salah satu pohon berduri di perkampungan badui-, lalu serban beliau tersangkut di durinya, lalu orang-orang badui merebutnya. Lantas Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Berikan serbanku, andaikan aku memiliki binatang ternak seperti unta, sapi, dan kambing sebanyak duri pohon ini- pohon itu adalah pohon yang banyak durinya- sungguh aku akan membagikannya kepada kalian." Kemudian beliau bersabda, "Dan jika kalian ingin mengujiku niscaya kalian tidak akan mendapatiku sebagai orang pelit, pendusta, dan tidak pula pengecut."

Rujukan

صحيح البخاري، محمد بن إسماعيل البخاري الجعفي، تحقيق: محمد زهير الناصر، دار طوق النجاة (مصورة عن السلطانية بإضافة ترقيم: محمد فؤاد عبد الباقي)، الطبعة: الأولى 1422هـ. رياض الصالحين من كلام سيد المرسلين، أبو زكريا محيي الدين النووي، تحقيق ماهر الفحل، دار ابن كثير، دمشق، بيروت، الطبعة: الأولى 1428هـ، 2007م. بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين، سليم بن عيد الهلالي، دار ابن الجوزي، الطبعة: الأولى 1418 هـ، 1997م. إرشاد الساري لشرح صحيح البخاري، أحمد بن محمد القسطلاني القتيبي، الناشر: المطبعة الكبرى الأميرية، مصر، الطبعة: السابعة 1323 هـ.

Hadis ini di HadeethEnc.com

Sesungguhnya mereka ini memberikan pilihan kepadaku antara meminta kepadaku secara kasar, ataukah mereka akan menuduhku orang bakhil. Padahal aku bukan orang yang bakhil.

عن عمر رضي الله عنه قال: قَسَمَ رسول الله صلى الله عليه وسلم قَسْمًا، فقلت: يا رسول الله لَغَيْرُ هؤلاء كانوا أحق به منهم؟ فقال: «إنهم خَيَّرُونِي أن يسألوني بالْفُحْشِ، أو يُبَخِّلُونِي ولست بِبَاخِلٍ».
Dari Umar -raḍiyallāhu 'anhu, ia berkata-, ia berkata, "Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- membagikan sebuah pembagian, lalu aku berkata, "Wahai Rasulullah, selain orang itu masih banyak lagi orang yang lebih berhak menerimanya." Beliau bersabda, "Sesungguhnya mereka ini memberikan pilihan kepadaku antara meminta kepadaku secara kasar, ataukah mereka akan menuduhku orang bakhil. Padahal aku bukan orang yang bakhil."
Diriwayatkan oleh MuslimDerajatHadis sahih
Penjelasan

Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- membagikan harta yang dibawanya kepada beberapa orang dan tidak membagikannya kepada yang lainnya. Lantas Umar -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, "Tidakkah engkau memberikan pembagian kepada orang yang belum engkau beri? Karena sesungguhnya mereka lebih berhak dari orang-orang yang telah diberi?" Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Mereka meminta kepadaku dengan memaksa karena lemahnya iman mereka, dan mereka memaksaku sesuai keadaan mereka untuk meminta dengan cara kasar, atau mereka menganggapku kikir." Beliau memilih untuk memberi karena kikir bukan sifat beliau. Juga untuk membujuk dan menarik hati mereka.

Rujukan

المسند الصحيح (صحيح مسلم), تأليف: مسلم بن حجاج النيسابوري, تحقيق: محمد فؤاد عبدالباقي, دار إحياء التراث العربي. تاج العروس من جواهر القاموس, تأليف: محمد بن محمد الزبيدي, تحقيق: مجموعة من المحققين, الناشر: دار الهداية. بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين, تأليف: سليم بن عيد الهلالي, دار ابن الجوزي. نزهة المتقين شرح رياض الصالحين, تأليف: مصطفى الخن ومصطفى البغا ومحي الدين مستو وعلي الشربجي ومحمد لطفي, مؤسسة الرسالة, ط 14 عام 1407 - 1987.

Hadis ini di HadeethEnc.com

Rasulullah ﷺ adalah manusia yang paling dermawan. Beliau menjadi lebih dermawan lagi di bulan Ramadan ketika ditemui Jibril

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رضي الله عنهما قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ، وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ، وَكَانَ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ القُرْآنَ، فَلَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدُ بِالخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ المُرْسَلَةِ.
Ibnu 'Abbās -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan, "Rasulullah ﷺ adalah manusia yang paling dermawan. Beliau menjadi lebih dermawan lagi di bulan Ramadan ketika ditemui Jibril. Jibril biasa menemui beliau di setiap malam bulan Ramadan, lalu beliau saling mempelajari Al-Qur`an dengannya. Sungguh Rasulullah ﷺ lebih dermawan dalam kebaikan dibanding angin yang berhembus."
Muttafaq 'alaihDerajatSahih
Penjelasan

Nabi ﷺ adalah orang yang paling dermawan. Kedermawanan beliau akan meningkat saat bulan Ramadan, yaitu beliau memberikan apa yang seharusnya kepada orang yang sepatutnya diberikan. Faktor bertambahnya kedermawanan beliau ada dua: Pertama: Perjumpaan beliau dengan Jibril -'alaihissalām-. Kedua: Saling simak Al-Qur`an, yaitu membaca Al-Qur`an dari hafalan. Jibril -'alaihissalām- dan beliau saling menyimak semua ayat Al-Qur`an yang telah turun. Rasulullah ﷺ lebih dermawan, lebih banyak memberi dan berbuat kebaikan, dan lebih cepat memberi manfaat kepada sesama dari angin baik yang dikirim oleh Allah dengan membawa hujan dan rahmat.

Faedah
  1. 1- Menjelaskan kedermawanan Nabi ﷺ dan luasnya kebaikan beliau, khususnya di bulan Ramadan, karena bulan Ramadan adalah bulan ketaatan dan musim kebaikan.
  2. 2- Mendorong sikap dermawan di semua waktu dan dianjurkan agar ditingkatkan di bulan Ramadan.
  3. 3- Memperbanyak berderma, berbuat baik, dan membaca Al-Qur`an di bulan Ramadan.
  4. 4- Di antara sebab menjaga ilmu ialah memurajaahnya bersama para penuntut ilmu dan ulama.
Rujukan

صحيح البخاري (1/ 8) (6). صحيح مسلم (4/ 1803) (2308). شرح رياض الصالحين، لابن عثيمين (5/ 275). نزهة المتقين شرح رياض الصالحين، مجموعة من الباحثين (2/ 870). بهجة الناظرين، لسليم الهلالي (2/ 364). كنوز رياض الصالحين، لمجموعة من الباحثين.

Hadis ini di HadeethEnc.com

Setiap hadis, derajat, penjelasan, dan faedah di sini ditampilkan persis sebagaimana diterbitkan HadeethEnc.com, menurut ketentuan penerbitan ulangnya. Derajat itu tidak menyebut siapa yang menilainya. Terjemahan dan penjelasan adalah karya para penyusunnya, dan sebagian menyebutkan hukum; para peninjau Sabīl belum memeriksanya. Hadis berbahasa Arablah teksnya. Sumber: HadeethEnc.com