عن ابن عباس رضي الله عنهما في قصة بريرة وزوجها، قال: قال لها النبي صلى الله عليه وسلم : «لو رَاجَعْتِهِ؟» قالت: يا رسول الله تأمرني؟ قال: «إنما أشْفَع» قالت: لا حاجة لي فيه.
Dari Ibnu Abas -raḍiyallāhu 'anhumā- tentang kisah Barīrah dan suaminya, dia berkata, "Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- berkata kepadanya, 'Seandainya engau rujuk dengannya?" Dia berkata, "Wahai Rasulullah, apakah engkau memerintahkan aku?' Beliau bersabda, 'Aku hanya sarankan saja.' Maka dia berkata, 'Saya tidak lagi butuh dengannya."
Diriwayatkan oleh BukhariDerajatHadis sahih
Penjelasan
Suami Barīrah -raḍiyallāhu 'anhumā- adalah seorang budak, yang bernama Mugīṡ -raḍiyallāhu 'anhu-. Dan Barīrah menjadi pelayan Aisyah sebelum dibelinya. Setelah dibeli dia memerdekakannya, kemudian Barirah diberikan pilihan untuk tetap menjadi isteri Mugīṡ atau berpisah darinya. Barīrah ternyata memilih berpisah. Mugīṡ goncang menghadapi keretakan rumah tangga, sehingga dia selalu membuntutinya di jalan-jalan kota Madinah sambil menangis berderai air mata hingga membasahi jenggotnya. Inilah tanda cintanya kepada Barīrah. Dia masih berharap Barīrah meralat keputusannya dan rujuk kembali dengannya.
Maka Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda kepada Barīrah -raḍiyallāhu 'anhumā-, "Seandainya engkau rujuk dengannya, maka engkau akan mendapatkan pahala." Maka berkatalah Barīrah -raḍiyallāhu 'anhumā-, "Wahai Rasulullah, apakah engkau perintahkan aku dan mewajibkanku untuk rujuk kepadanya?" Beliau -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menjawab, "Aku hanya memberi saran." Maka dia berkata,"Saya tidak butuh ataupun berminat untuk rujuk dengannya."
Rujukan
كنوز رياض الصالحين، أ. د . حمد بن ناصر بن عبد الرحمن العمار، دار كنوز اشبيليا الطبعة الأولى : 1430 هـ.
بهجة الناظرين، الشيخ: سليم بن عيد الهلالي، دار ابن الجوزي.
نزهة المتقين، د. مصطفى سعيد الخن، د. مصطفى البغا، محي الدين مستو، علي الشرجبي، محمد أمين لطفي، مؤسسة الرسالة ، بيروت، الطبعة الأولى : 1397 هـ 1977 م، الطبعة الرابعة عشرة 1407 هـ 1987م.
شرح رياض الصالحين، المؤلف: محمد بن صالح بن محمد العثيمين، الناشر: دار الوطن للنشر، الرياض، الطبعة: 1426 هـ.
رياض الصالحين، د. ماهر بن ياسين الفحل، الناشر: دار ابن كثير للطباعة والنشر والتوزيع، دمشق - بيروت، الطبعة: الأولى، 1428 هـ - 2007 م.
صحيح البخاري، لمحمد بن إسماعيل البخاري، دار طوق النجاة، الطبعة : الأولى، 1422هـ.
مرقاة المفاتيح شرح مشكاة المصابيح، المؤلف: علي بن (سلطان) محمد، أبو الحسن نور الدين الملا الهروي القاري، الناشر: دار الفكر، بيروت - لبنان، الطبعة: الأولى، 1422هـ - 2002م.
Hadis ini di HadeethEnc.comعن أم كلثوم بنت عقبة بن أبي مُعَيط رضي الله عنها قالت: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: «ليس الكذاب الذي يُصلح بين الناس فَيَنْمِي خيرًا، أو يقول خيرًا»
وفي رواية مسلم زيادة، قالت: ولم أسمعه يُرَخِّصُ في شيء مما يقوله الناس إلا في ثلاث، تعني: الحرب، والإصلاح بين الناس، وحديث الرجل امرأته، وحديث المرأة زوجها.
Dari Ummu Kalṡūm binti ‘Uqbah bin Abi Mu‘aiṭ -raḍiyallāhu 'anhā-, ia berkata, Aku pernah mendengarkan Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Bukanlah dinamakan pendusta orang yang mendamaikan antara manusia, lalu ia menyampaikan kebaikan atau mengatakan kebaikan." Dalam riwayat Muslim terdapat tambahan, Dia (Ummu Kalṡūm ) mengatakan, "Aku tidak pernah mendengar beliau memberikan keringanan terhadap apa yang diucapkan oleh manusia, kecuali dalam tiga hal: perang, mendamaikan antara manusia dan pembicaraan (rayuan) seorang pria terhadap istrinya atau pembicaraan (rayuan) seorang wanita terhadap suaminya.
Muttafaq 'alaihDerajatHadis sahih
Penjelasan
Hukum asalnya berdusta adalah haram; berdasarkan sabda Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, “Jauhilah oleh kalian dusta, karena sesungguhnya dusta itu akan menuntun kepada kekejian, dan sungguh kekejian itu akan menjerumuskan ke neraka. Dan (jika) seseorang terus melakukan dusta dan ketagihan dusta, maka ia akan dicatat di sisi Allah sebagai orang pendusta.” HR. Muslim. Namun ada 3 kedustaan yang dikecualikan:
1. Berdusta untuk mendamaikan antar kerabat.
2. Berdusta dalam peperangan.
3. Pembicaraan (rayuan) seorang pria terhadap istrinya dan sebaliknya.
Bolehnya berdusta dalam ketiga perkara ini telah disebutkan dalam As-Sunnah; karena kemaslahatan yang terdapat di dalamnya tanpa adanya mafsadat yang diakibatkannya.
Pertama adalah berdusta demi mendamaikan antara dua orang atau dua suku yang berselisih; (juru damai) menyampaikan perkataan yang baik-baik, menyampaikan kepada pihak lain bahwa “lawan”nya menyanjung, memuji dan menyebutkan sifat-sifat kebaikannya; padahal (juru damai) tak pernah mendengarkan hal tersebut, namun ia bermaksud mendekatkan antara mereka berdua, serta menghilangkan permusuhan dan rasa ego diantara mereka. Maka hal seperti ini dibolehkan dan tidak masalah dilakukan, selama tujuannya untuk mendamaikan dan menghilangkan permusuhan, kemarahan dan kebencian dalam jiwa.
Kedua: berdusta dalam peperangan. Yaitu dengan menampakkan kekuatan diri, berbicara dengan sesuatu yang membangkitkan semangat pasukannya dan menipu musuhnya. Atau dengan mengatakan bahwa jumlah kaum muslimin banyak dan akan datang bala bantuan yang banyak. Atau mengatakan, “Lihat ke belakangmu, si fulan telah datang dari belakangmu untuk menebasmu…”; ini juga dibolehkan, karena mengandung maslahat yang besar untuk Islam dan kaum muslimin.
Ketiga: kedustaan seorang pria kepada istrinya, atau sebaliknya. Seperti mengatakan padanya, “Sungguh engkau adalah manusia yang paling kucintai, aku sangat berhasrat kepada orang sepertimu”, dan ungkapan lainnya yang dapat mendatangkan rasa cinta dan sayang di antara keduanya. Dan sang istri pun mengucapkan hal yang sama kepada sang suami. Maka yang seperti ini juga dibolehkan karena kemaslahatan yang terkandung di dalamnya.
Tentu saja, berdusta di antara suami-istri dibatasi pada hal-hal yang dapat melanggengkan rasa sayang, cinta dan kemesraan di antara keduanya, bukan berarti dibolehkan dalam segala hal.
An-Nawawi -raḥimahullāhu- mengatakan, “Adapun kedustaan suami kepada istrinya dan sebaliknya, maka maksudnya adalah upaya menampakkan rasa cinta dan menjanjikan apa yang tidak menjadi kewajibannya, serta yang semacamnya. Adapun jika tujuannya adalah menipu karena ingin menahan apa yang menjadi kewajiban suami atau istri, atau untuk mengambil apa yang bukan haknya, maka ini diharamkan berdasarkan ijmak kaum muslimin.”
Al-Ḥāfiẓ (Ibnu Hajar) -raḥimahullāhu- mengatakan, “Dan (para ulama) sepakat bahwa yang dimaksud berdusta oleh istri dan suami hanyalah dalam hal-hal yang tidak sampai menggugurkan kewajiban suami ataupun istri, atau tidak untuk mengambil apa yang bukan hak suami ataupun istri.”
Rujukan
كنوز رياض الصالحين
أ. د . حمد بن ناصر بن عبد الرحمن العمار
دار كنوز اشبيليا ـ
الطبعة الأولى : 1430 هـ
بهجة الناظرين
الشيخ: سليم بن عيد الهلالي
دار ابن الجوزي
نزهة المتقين
د . مصطفى سعيد الخن ـ د. مصطفى البغا ـ محي الدين مستو ـ علي الشرجبي ـ محمد أمين لطفي.
مؤسسة الرسالة ، بيروت
الطبعة الأولى : 1397 هـ 1977 م
الطبعة الرابعة عشر 1407 هـ 1987م
شرح رياض الصالحين، محمد بن صالح بن محمد العثيمين، دار الوطن للنشر، الرياض، الطبعة: 1426 هـ.
رياض الصالحين، د. ماهر بن ياسين الفحل، الناشر: دار ابن كثير للطباعة والنشر والتوزيع، دمشق - بيروت، الطبعة: الأولى، 1428 هـ - 2007 م.
صحيح البخاري، محمد بن إسماعيل البخاري، دار طوق النجاة، الطبعة : الأولى، 1422هـ.
صحيح مسلم، مسلم بن الحجاج القشيري النيسابوري، محمد فؤاد عبد الباقي، دار إحياء التراث العربي - بيروت.
المنهاج شرح صحيح مسلم بن الحجاج، أبو زكريا محيي الدين يحيى بن شرف النووي، دار إحياء التراث العربي - بيروت، الطبعة: الثانية، 1392.
منار القاري شرح مختصر صحيح البخاري، المؤلف: حمزة محمد قاسم، راجعه: الشيخ عبد القادر الأرناؤوط، عني بتصحيحه ونشره: بشير محمد عيون، الناشر: مكتبة دار البيان، دمشق - الجمهورية العربية السورية، مكتبة المؤيد، الطائف - المملكة العربية السعودية، عام النشر: 1410 هـ - 1990 م.
فتح الباري شرح صحيح البخاري، المؤلف: أحمد بن علي بن حجر العسقلاني الشافعي، الناشر: دار المعرفة - بيروت، 1379، رقم كتبه وأبوابه وأحاديثه: محمد فؤاد عبد الباقي، قام بإخراجه وصححه وأشرف على طبعه: محب الدين الخطيب، عليه تعليقات العلامة: عبد العزيز بن عبد الله بن باز.
معالم السنن، وهو شرح سنن أبي داود، حمد بن سليمان الخطابي، الناشر: المطبعة العلمية - حلب، الطبعة: الأولى 1351 هـ - 1932 م.
مرقاة المفاتيح شرح مشكاة المصابيح، المؤلف: علي بن (سلطان) محمد، أبو الحسن نور الدين الملا الهروي القاري، الناشر: دار الفكر، بيروت - لبنان
الطبعة: الأولى، 1422هـ.
Hadis ini di HadeethEnc.comعَنِ الأَسْوَدِ بنِ يَزِيدَ قَالَ: سَأَلْتُ عَائِشَةَ مَا كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصْنَعُ فِي بَيْتِهِ؟ قَالَتْ: كَانَ يَكُونُ فِي مِهْنَةِ أَهْلِهِ -تَعْنِي خِدْمَةَ أَهْلِهِ-، فَإِذَا حَضَرَتِ الصَّلاَةُ خَرَجَ إِلَى الصَّلاَةِ.
Al-Aswad bin Yazīd menuturkan: Aku pernah bertanya kepada Aisyah tentang apa yang Nabi ﷺ lakukan di rumah. Aisyah menjawab, "Beliau ﷺ biasa membantu pekerjaan istrinya. Namun jika waktu salat sudah tiba, beliau keluar untuk melaksanakan salat."
HR. BukhariDerajatSahih
Penjelasan
Ummul Mukminin Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- ditanya tentang kegiatan Nabi ﷺ di rumah serta apa yang beliau lakukan. Aisyah menjelaskan bahwa beliau sama seperti manusia lainnya. Beliau di rumah mengerjakan apa yang biasa dikerjakan laki-laki di rumahnya. Beliau biasa mengerjakan kebutuhan pribadi dan keluarganya, yaitu memerah susu, menambal baju, menjahit sandal, dan menambal ember. Tetapi jika telah tiba waktu untuk salat, beliau ﷺ segera keluar untuk melaksanakannya tanpa ditunda.
Faedah
- 1- Kesempurnaan sifat tawaduk Nabi ﷺ serta kebaikan beliau kepada keluarganya.
- 2- Pekerjaan dunia tidak boleh melalaikan hamba dari ibadah salat.
- 3- Komitmen Nabi ﷺ untuk menjaga salat di awal waktunya.
- 4- Ibnu Ḥajar berkata, "Di dalamnya terdapat motivasi untuk bersikap tawaduk, meninggalkan kesombongan, dan membantu keluarga (istri)."
Rujukan
صحيح البخاري (1/ 136) (676).
بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين، لسليم الهلالي (1/ 660).
شرح رياض الصالحين، لابن عثيمين (3/ 526).
شرح صحيح البخاري، لابن بطال (2/ 296).
نزهة المتقين شرح رياض الصالحين، لمجموعة من الباحثين (1/ 516).
Hadis ini di HadeethEnc.comعن أنس رضي الله عنه قال: كان ابن لأبي طلحة رضي الله عنه يشتكي، فخرج أبو طلحة، فَقُبِضَ الصَّبي، فلما رجع أبو طلحة، قال: ما فعل ابني؟ قالت أم سليم وهي أم الصَّبي: هو أسْكَن ما كان، فَقَرَّبَت إليه العشاء فتَعَشَّى، ثم أصاب منها، فلما فَرَغ،َ قالت: وارُوا الصَّبي فلما أصبح أبو طلحة أتى رسول الله صلى الله عليه وسلم فأخبره، فقال:«أعَرَّسْتُمُ اللَّيلَةَ؟» قال: نعم، قال: «اللَّهُمَّ بارِك لهما»، فولدت غلامًا، فقال لي أبو طلحة: احْمِلْهُ حتى تأتي به النبي صلى الله عليه وسلم وبعث معه بتمرات، فقال: «أمَعَه شيء؟» قال: نعم، تَمَرات، فأخذها النبي صلى الله عليه وسلم فمَضَغَها، ثم أخذها من فِيه فجعلها في فِيِّ الصَّبي، ثم حَنَّكَهُ وسماه عبد الله.
وفي رواية: قال ابن عيينة: فقال رجل من الأنصار: فرأيت تِسْعَة أولاد كلهم قد قرؤوا القرآن، يعني: من أولاد عبد الله المولود.
وفي رواية: مات ابن لأبي طلحة من أم سليم، فقالت لأهلها: لا تُحَدِّثوا أبا طلحة بابْنِهِ حتى أكون أنا أُحدِّثه، فجاء فَقَرَّبَتْ إليه عشاء فأكَل وشرب، ثم تَصَنَّعَتْ له أحْسَن ما كانت تصنع قبل ذلك، فَوَقَع بها. فلمَّا أن رأت أنه قد شَبِع وأصاب منها، قالت: يا أبا طلحة، أرأيت لو أن قومًا أعَارُوا عَارِيَتَهُم أهل بيت فطَلَبوا عَارِيَتَهُم، ألهم أن يَمْنَعُوهُم؟ قال: لا، فقالت: فَاحْتَسِبْ ابنك، قال: فغضِب، ثم قال: تَرَكْتِني حتى إذا تَلطَّخْتُ، ثم أخبرتني بابني؟! فانطلق حتى أتى رسول الله -صلى الله عليه وسلم- فأخبره بما كان فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم : «بارك الله في لَيْلَتِكُمَا»، قال: فَحَمَلَتْ. قال: وكان رسول الله صلى الله عليه وسلم في سَفَر وهي معه، وكان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا أتى المدينة من سَفر لا يَطْرُقُهَا طُرُوقًا فَدَنَوا من المدينة، فضَرَبَها المَخَاض، فَاحْتَبَسَ عليها أبو طلحة، وانطلق رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: يقول أبو طلحة: إنك لَتَعْلَمُ يَا رَبِّ أنه يُعْجِبُنِي أن أخرج مع رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا خرج وأدخل معه إذا دخل وقد احْتَبَسْتُ بما ترى، تقول أم سليم: يا أبا طلحة، ما أجِدُ الذي كنت أجِدُ، انطلق، فانطلقنا وضربها المَخَاض حين قَدِما، فولدت غلامًا. فقالت لي أمي: يا أنس، لا يُرْضِعْهُ أحدٌ حتى تَغْدُو به على رسول الله صلى الله عليه وسلم فلمَّا أصبح احتَمَلْتُه فانْطَلَقتُ به إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم ... وذكر تمام الحديث.
Dari Anas -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, "Putra Abu Ṭalḥah -raḍiyallāhu 'anhu- sedang menderita sakit. Lantas Abu Ṭalḥah keluar lalu anak itu meninggal dunia. Saat Abu Ṭalḥah kembali, ia bertanya, "Apa yang terjadi terhadap putraku?" Ummu Sulaim, ibu sang anak menjawab, "Dia sudah lebih tenang." Selanjutnya Ummu Sulaim menghindangkan makan malam kepada Abu Ṭalḥah lalu ia pun makan. Selanjutnya Abu Ṭalḥah menggaulinya. Setelah selesai berhubungan, Ummu Sulaim berkata, "Orang-orang sudah mengubur anak itu." Keesokan paginya Abu Ṭalḥah mendatangi Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- lalu memberitahukan hal tersebut. Nabi bertanya, "Apakah tadi malam kalian berhubungan?" Abu Ṭalḥah menjawab, "Ya." Beliau bersabda, "Ya Allah, berkahilah keduanya." Lantas Ummu Sulaim melahirkan seorang anak. Abu Ṭalḥah berkata kepadaku (Anas), "Bawalah anak itu sampai engkau menghadap kepada Nabi - ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Dia juga mengirimkan beberapa butir kurma bersama Anas. Nabi bertanya, "Apakah anak ini membawa sesuatu?" Anas menjawab, "Ya. Beberapa butir kurma." Lantas Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengambilnya lalu mengunyahnya. Setelah itu mengambilnya dari mulutnya dan meletakkannya di mulut anak itu lalu Nabi mentahniknya dan memberinya nama Abdullah." Dalam riwayat lain disebutkan, "Ibnu Uyainah berkata, "Seorang lelaki Ansar berkata, "Aku lihat sembilan orang anak yang seluruhnya membaca (hafal) Alquran. Yakni, anak-anak Abdullah."
Dalam riwayat lain disebutkan, "Putra Abu Ṭalḥah dari Ummu Sulaim meninggal dunia lalu Ummu Sulaim berkata kepada keluarganya, "Kalian jangan bercerita kepada Abu Ṭalḥah mengenai putranya sampai aku yang bercerita kepadanya." Ketika Abu Ṭalḥah datang, Ummu Sulaim menyuguhkan makan malam kepadanya lalu ia pun makan dan minum. Selanjutnya Ummu Sulaim berhias lebih rapi dari biasanya hingga Abu Ṭalḥah menggaulinya. Setelah selesai makan malam dan berhubungan, Ummu Sulaim berkata, "Wahai Abu Ṭalḥah, bagaimana pendapatmu sekiranya ada kaum yang meminjamkan barang pinjaman kepada keluarganya lalu mereka meminta kembali barang pinjamannya, apakah boleh mereka menolaknya?" Abu Ṭalḥah menjawab, "Tidak." Istrinya berkata, "Mohonlah pahala atas putramu." Abu Ṭalḥah -raḍiyallāhu 'anhu- marah mendengar perkataan istrinya lalu berkata, "Engkau membiarkanku hingga aku melakukan jimak lalu engkau memberitahuku mengenai putraku?" Lantas Abu Ṭalḥah berangkat menuju Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- untuk mengadukan istrinya dan apa yang telah dilakukannya. Maka Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mendoakannya, "Semoga Allah memberkahi malam kalian berdua." Selanjutnya istri Abu Ṭalḥah -raḍiyallāhu 'anhu- hamil, dan ia bersama suaminya sedang bersama Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dalam suatu perjalanan. Di antara kebiasaan Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- tidak langsung masuk Madinah (sampai beliau mengirim utusan untuk memberitahu penduduk Madinah mengenai kedatangan kafilah). Ternyata Ummu Sulaim mengalami kontraksi melahirkan sehingga Abu Ṭalḥah tertahan tidak bisa masuk Madinah. Sementara itu Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- berangkat. Anas berkata, "Lantas Abu Ṭalḥah berdoa kepada Rabbnya, 'Wahai Rabbku, Engkau tahu bahwa aku sangat suka untuk keluar bersama Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- apabila beliau keluar dan masuk bersamanya apabila beliau masuk. Sedangkan (sekarang) aku tertahan sebagaimana Engkau lihat'." Ummu Sulaim -raḍiyallāhu 'anha- berkata kepada Abu Ṭalḥah, "Wahai Abu Ṭalḥah, aku tidak merasakan apa yang pernah aku rasakan, berangkatlah!" Lantas kami berangkat, dan ketika kafilah tiba di Madinah, Ummu Sulaim mengalami kontraksi melahirkan lalu melahirkan seorang anak laki-laki. Selanjutnya Ibuku berkata kepadaku, "Wahai Anas, tidak boleh ada seorang pun wanita yang menyusuinya hingga kamu bawa dia menemui Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Ketika pagi tiba, aku bawa dia menemui Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-…lalu ia menyebutkan sampai akhir hadis.
Muttafaq 'alaihDerajatHadis sahih
Penjelasan
Hadis Anas bin Mālik berkenaan dengan Abu Ṭalḥah bahwa dia mempunyai seorang anak yang mengeluh. Artinya sedang menderita sakit. Abu Ṭalḥah adalah suami ibu Anas bin Mālik -raḍiyallāhu 'anhum-. Ia menikahi ibunya setelah (pisah) dari bapak Anas. Abu Ṭalḥah pergi untuk satu keperluannya lalu anak itu meninggal dunia. Saat pulang, Abu Ṭalḥah bertanya kepada Ummu Sulaim mengenai anak tersebut, "Bagaimana keadaan putraku?" Ummu Sulaim menjawab, "Dia sangat tenang." Dia berbicara benar bahwa anaknya sangat tenang karena dia sudah meninggal dunia. Sementara Abu Ṭalḥah -raḍiyallāhu 'anhu- memahami bahwa anaknya sudah sembuh dan sekarang sehat. Lantas Ummu Sulaim menghidangkan makan malam, Abu Ṭalḥah pun menyantap makan malam karena (merasa) anaknya sudah sembuh. Setelah itu dia menggauli istrinya. Setelah selesai berhubungan badan, Ummu Sulaim berkata, "Orang-orang sudah menimbun anak itu." Yakni, orang-orang sudah mengubur anak tersebut karena dia sudah wafat, -berdasarkan riwayat pertama-. Ketika pagi tiba, Abu Ṭalḥah -raḍiyallāhu 'anhu- mengubur anak tersebut dan memberitahukan hal tersebut kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Beliau bertanya, "Apakah tadi malam kalian berhubungan?" Abu Ṭalḥah menjawab, "Ya." Lantas beliau -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mendoakan keberkahan untuk keduanya. Selanjutnya Ummu Sulaim -raḍiyallāhu 'anha- melahirkan seorang anak yang diberkahi. Anas berkata, "Abu Ṭalḥah berkata kepadaku, "Bawalah anak ini sampai engkau bertemu dengan Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-," ia juga mengirimkan beberapa butir kurma bersamanya agar beliau melakukan tahnik padanya supaya ludah Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menjadi makanan yang pertama kali masuk ke dalam perut si anak sehingga mendapatkan keberkahan. Setelah Anas sampai ke hadapan Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, beliau bertanya, "Apakah anak ini membawa sesuatu?" Yakni, yang dapat dijadikan untuk tahnik. Anas -raḍiyallāhu 'anhu- menjawab bahwa dia membawa beberapa butir kurma. Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengambil kurma itu lalu mengunyahnya supaya bercampur dengan air liurnya yang mulia dan anak tersebut mampu menelannya. Dengan demikian makanan yang pertama kali masuk ke dalam perutnya adalah kunyahan yang bercampur dengan air liur al-Mushthafa -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- sehingga anak itu bahagia dan memperoleh keberkahan. Selanjutnya Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengeluarkan kurma yang sudah dikunyah dari mulutnya lalu meletakkannya di mulut anak bayi itu kemudian memijitnya dengan mentahniknya serta memberinya nama Abdullah. Anak bayi ini selanjutnya mempunyai sembilan orang anak yang seluruhnya membaca (hafal) Alquran berkat doa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-.
Adapun menurut riwayat Muslim, "Ummu Sulaim berkata kepada keluarganya, "Janganlah kalian bercerita kepada Abu Ṭalḥah mengenai anaknya sampai aku yang pertama kali memberitahukan berita tersebut kepadanya." Ketika Abu Ṭalḥah datang, Ummu Sulaim menyuguhkan makan malam kepadanya lalu ia pun makan dan minum. Selanjutnya Ummu Sulaim berhias, memakai minyak wangi, dan berpura-pura hingga Abu Ṭalḥah menggaulinya. Setelah selesai berhubungan badan, Ummu Sulaim memberikan perumpamaan kepada Abu Ṭalḥah dengan barang pinjaman yang dikembalikan lagi kepada pemiliknya." Ia berkata kepada Abu Ṭalḥah, "Wahai Abu Ṭalḥah, bagaimana pendapatmu sekiranya ada kaum yang meminjamkan barang pinjaman kepada keluarganya lalu mereka meminta kembali barang pinjamannya, apakah boleh mereka menolaknya?" Abu Ṭalḥah menjawab, "Tidak." Istrinya berkata, "Mohonlah pahala atas putramu." Abu Ṭalḥah - raḍiyallāhu 'anhu- marah mendengar perkataan istrinya lalu berkata, "Engkau membiarkanku hingga aku melakukan jimak lalu engkau memberitahuku mengenai putraku?" Lantas Abu Ṭalḥah berangkat menuju Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- untuk mengadukan istrinya dan apa yang telah dilakukannya. Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mendoakan bagi keduanya dengan sesuatu yang manfaatnya indah akan kembali kepada keduanya, "Semoga Allah memberkahi malam kalian berdua." Yakni, apa yang telah kalian berdua lakukan di malam hari. Mudah-mudahan Allah menjadikannya hasil yang baik dan buah yang indah. Selanjutnya istri Abu Ṭalḥah -raḍiyallāhu 'anhā- hamil, dan ia bersama suaminya sedang bersama Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dalam suatu perjalanan. Ketika mereka hendak memasuki Madinah, istri Abu Ṭalḥah merasakan sakit karena akan melahirkan (kontraksi). Di antara kebiasaan Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- tidak masuk Madinah sampai beliau mengirim utusan untuk memberitahu penduduk Madinah mengenai kedatangan kafilah. Ternyata Abu Ṭalḥah -raḍiyallāhu 'anhu- tertahan tidak bisa masuk Madinah karena sibuk mengurusi istrinya. Sementara itu Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- berangkat.
Lantas Abu Ṭalḥah berdoa kepada Rabbnya, "Wahai Rabbku, Engkau tahu bahwa aku sangat suka untuk keluar bersama Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- apabila beliau keluar dan masuk bersamanya apabila beliau masuk. Sedangkan (sekarang) aku tertahan sebagaimana Engkau lihat." Ummu Sulaim -raḍiyallāhu 'anha- berkata kepada Abu Ṭalḥah, "Wahai Abu Ṭalḥah, aku tidak merasakan apa yang pernah aku rasakan." Yakni, aku tidak merasakan sakit melahirkan seperti yang pernah aku alami sebelumnya." Setelah itu Ummu Sulaim berkata kepadanya, "Pergilah."
Ketika kafilah tiba di Madinah, Ummu Sulaim mengalami kontraksi lalu lahirlah seorang anak laki-laki. Selanjutnya ia menyuruh Anas - raḍiyallāhu 'anhu- agar membawa anak itu kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dan tidak boleh ada seorang pun wanita yang menyusuinya agar makanan pertama yang masuk ke dalam perutnya adalah air liur Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- sehingga mendatangkan kebaikan di dunia dan akhirat baginya. Dampak hal itu terlihat pada anak ini dengan memperoleh banyak putra yang saleh, bertakwa, dan beruntung.
Sebagai penutup penjelasan ini bahwa tabaruk dengan sesuatu yang terpisah dari tubuh merupakan salah satu kekhususan Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- tanpa ada seorang pun dari umat ini yang menyertainya.
Bukti paling besar untuk masalah ini adalah bahwa para sahabat -raḍiyallāhu 'anhum- yang menyaksikan turunnya Alquran dan memahami hakikat agama tidak mencari keberkahan pada para khulafaurrasyidin, dan tidak juga kepada sepuluh sahabat selain mereka.
Rujukan
كنوز رياض الصالحين، تأليف: حمد بن ناصر بن العمار ، الناشر: دار كنوز أشبيليا، الطبعة الأولى: 1430 هـ.
بهجة الناظرين، تأليف: سليم بن عيد الهلالي، الناشر: دار ابن الجوزي، سنة النشر: 1418 هـ- 1997م.
تطريز رياض الصالحين، تأليف: فيصل بن عبد العزيز آل مبارك، الناشر: دار العاصمة للنشر والتوزيع، الطبعة: الأولى، 1423 هـ.
نزهة المتقين، تأليف: جمعٌ من المشايخ، الناشر: مؤسسة الرسالة، الطبعة الأولى: 1397 هـ، الطبعة الرابعة عشر 1407 هـ.
شرح رياض الصالحين، تأليف: محمد بن صالح العثيمين، الناشر: دار الوطن للنشر، الطبعة: 1426 هـ.
دليل الفالحين، تأليف: محمد بن علان، الناشر: دار الكتاب العربي، نسخة الكترونية ، لا يوجد بها بيانات نشر.
صحيح البخاري، تأليف: محمد بن إسماعيل البخاري، تحقيق: محمد زهير الناصر، الناشر: دار طوق النجاة الطبعة: الأولى، 1422هـ.
صحيح مسلم، تأليف: مسلم بن الحجاج النيسابوري، تحقيق: محمد فؤاد عبد الباقي الناشر: دار إحياء التراث العربي – بيروت.
Hadis ini di HadeethEnc.comعن عائشة رضي الله عنها قالت: «كان النبي صلى الله عليه وسلم إذا أراد أَنْ يَخْرُج أَقْرَعَ بَيْن نِسائه، فأيَّتُهُنَّ يَخْرُج سَهْمُها خَرَج بها النبي صلى الله عليه وسلم ، فَأَقْرَعَ بَيْنَنَا في غَزْوَةٍ غَزَاها، فَخَرج فيها سَهْمِي، فخَرَجْتُ مع النبي صلى الله عليه وسلم بَعْد ما أُنْزِلَ الحِجابُ».
Dari Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā-, ia berkata, “Apabila Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- hendak melakukan perjalanan beliau mengundi antara para istrinya. Siapa saja yang keluar undiannya, maka Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- akan pergi bersamanya. Beliau pernah mengundi di antara kami pada suatu peperangan yang beliau ikuti, lalu keluarlah undianku, dan aku pun keluar bersama Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- setelah turun perintah berhijab.”
Muttafaq 'alaihDerajatHadis sahih
Penjelasan
Dalam hadis ini Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- memberitahukan bahwa di antara bentuk kesempurnaan keadilan Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dalam memperlakukan para istrinya adalah apabila beliau hendak pergi melakukan suatu perjalanan, beliau akan mengundi di antara mereka untuk menenangkan hati-hati mereka. Jika keluar nama salah satu dari mereka, maka beliau akan mengikutsertakannya. Beliau -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pernah mengundi pada suatu pertempuran yang diikutinya, yaitu perang Bani Muṣṭaliq, lalu keluarlah undian Aisyah dan ia pun ikut menyertai beliau. Kemudian Aisyah menyebutkan bahwa peristiwa ini terjadi setelah Allah -Ta'ālā- menurunkan perintah untuk berhijab. Telah dimaklumi tentunya bahwa pada perjalanan beliau -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- berikutnya, beliau akan mengundi di antara para istrinya yang lain; karena istri yang bagiannya telah keluar pada pengundian sebelumnya itu telah mendapatkan haknya. Hingga apabila tidak tersisa lagi kecuali hanya bagian untuk seorang dari mereka, maka sudah jelas dia akan menyertai beliau -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dalam perjalanan terakhir tanpa melalui pengundian.
Rujukan
صحيح البخاري، تأليف: محمد بن إسماعيل البخاري، تحقيق: محمد زهير الناصر، الناشر: دار طوق النجاة الطبعة: الأولى، 1422هـ
صحيح مسلم، تأليف مسلم بن الحجاج النيسابوري، المحقق: محمد فؤاد عبد الباقي - الناشر: دار إحياء التراث العربي – بيروت.
إرشاد الساري لشرح صحيح البخاري, أحمد بن محمد بن أبى بكر بن عبد الملك القسطلاني القتيبي المصري, الناشر: المطبعة الكبرى الأميرية، مصر, الطبعة: السابعة، 1323 هـ
تاج العروس من جواهر القاموس, محمّد بن محمّد بن عبد الرزّاق الحسيني، أبو الفيض، الملقّب بمرتضى، الزَّبيدي, مجموعة من المحققين, الناشر: دار الهداية
توضيح الأحكام مِن بلوغ المرام، تأليف: عبد الله بن عبد الرحمن بن صالح البسام، الناشر: مكتبة الأسدي، مكة المكرّمة الطبعة: الخامِسَة، 1423 هـ - 2003 م
تسهيل الإلمام بفقه الأحاديث من بلوغ المرام، تأليف: صالح بن فوزان بن عبد الله الفوزان، الطبعة: الأولى، 1427 هـ 2006 م
فتح ذي الجلال والإكرام شرح بلوغ المرام لمحمد بن صالح بن محمد العثيمين، تحقيق: صبحي بن محمد رمضان، وأُم إسراء بنت عرفة، ط1، المكتبة الإسلامية، مصر، 1427هـ.
منحة العلام في شرح بلوغ المرام، تأليف : عبد الله بن صالح الفوزان، الناشر : دار ابن الجوزي الطبعة : الأولى ، 1427 هـ ـ 1431 هـ
بلوغ المرام من أدلة الأحكام، لابن حجر. دار القبس للنشر والتوزيع، الرياض - المملكة العربية السعودية. الطبعة: الأولى، 1435 هـ - 2014 م
التيسير بشرح الجامع الصغير، للمناوي. دار النشر - مكتبة الإمام الشافعي - الرياض - 1408- 1988م.
Hadis ini di HadeethEnc.comعن ابن عباس، قال: لَعَنَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم المُخَنَّثِينَ من الرجال، والمُتَرَجِّلاَتِ من النساء، وقال: «أخرجوهم من بيوتكم» قال: فَأَخْرَجَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم فلانًا، وأَخْرَجَ عُمَرُ فلانًا.
Ibnu 'Abbās -raḍiyallāhu 'anhumā- berkata, "Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- melaknat laki-laki yang menyerupai perempuan dan perempuan yang menyerupai laki-laki. Beliau bersabda, 'Keluarkanlah mereka dari rumah kalian.'" Ibnu 'Abbās melanjutkan, "Maka Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengeluarkan si polan, serta Umar mengeluarkan si polan."
Diriwayatkan oleh BukhariDerajatHadis sahih
Penjelasan
Di dalam hadis ini Ibnu 'Abbās -raḍiyallāhu 'anhumā- mengabarkan bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mendoakan keburukan untuk laki-laki yang menyerupakan dirinya dengan perempuan dan perempuan yang menyerupakan dirinya dengan laki-laki. Yaitu beliau mendoakan untuk mereka laknat dan pengusiran dari rahmat Allah; karena perbuatan mereka tersebut mengandung pengubahan ciptaan Allah. Kemudian Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memerintahkan agar mereka dikeluarkan dari rumah dan masyarakat untuk menjauhkan keburukan mereka dari manusia serta menjaga kesucian rumah.
Rujukan
- صحيح البخاري، تحقيق: محمد زهير بن ناصر الناصر، ط1، دار طوق النجاة (مصورة عن السلطانية بإضافة ترقيم: محمد فؤاد عبد الباقي)، 1422ه
- تسهيل الالمام، للشيخ صالح الفوزان. طبعة الرسالة. الطبعة الأولى 1427 – 2006 م
- فتح ذي الجلال والاكرام بشرح بلوغ المرام، للشيخ ابن عثيمين، المكتبة الإسلامية - الطبعة الأولى 1427 - 2006م
- توضِيحُ الأحكَامِ مِن بُلوُغ المَرَام، للبسام، مكتَبة الأسدي، مكّة المكرّمة، الطبعة: الخامِسَة، 1423 هـ - 2003 م
- بلوغ المرام من أدلة الأحكام، لابن حجر، دار القبس للنشر والتوزيع، الرياض - المملكة العربية السعودية، الطبعة: الأولى، 1435 هـ - 2014 م
- مرقاة المفاتيح شرح مشكاة المصابيح، للتبريزي، الناشر: دار الكتب العلمية، سنة النشر: 1422 - 2001 ط 1.
Hadis ini di HadeethEnc.comعَنْ أُمَيْمَةَ بِنْتِ رُقَيْقَةَ رضي الله عنها أَنَّهَا قَالَتْ: أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي نِسْوَةٍ مِنَ الْأَنْصَارِ نُبَايِعُهُ، فَقُلْنَا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، نُبَايِعُكَ عَلَى أَلَّا نُشْرِكَ بِاللَّهِ شَيْئًا، وَلَا نَسْرِقَ، وَلَا نَزْنِيَ، وَلَا نَأْتِيَ بِبُهْتَانٍ نَفْتَرِيهِ بَيْنَ أَيْدِينَا وَأَرْجُلِنَا، وَلَا نَعْصِيَكَ فِي مَعْرُوفٍ، قَالَ: «فِيمَا اسْتَطَعْتُنَّ، وَأَطَقْتُنَّ» قَالَتْ: قُلْنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَرْحَمُ بِنَا، هَلُمَّ نُبَايِعْكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنِّي لَا أُصَافِحُ النِّسَاءَ، إِنَّمَا قَوْلِي لِمِائَةِ امْرَأَةٍ كَقَوْلِي لِامْرَأَةٍ وَاحِدَةٍ، أَوْ مِثْلُ قَوْلِي لِامْرَأَةٍ وَاحِدَةٍ».
Umaimah binti Ruqaiqah -raḍiyallāhu 'anhā- meriwayatkan, Aku menemui Nabi ﷺ bersama sejumlah orang wanita Ansar untuk berbaiat kepada beliau. Kami berkata, "Wahai Rasulullah! Kami berbaiat kepadamu agar tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apa pun, tidak mencuri, tidak berzina, tidak mengada-adakan kebohongan di antara kedua tangan dan kedua kaki kami, dan tidak bermaksiat kepadamu terkait suatu kebaikan." Beliau bersabda, "Sesuai yang kalian mampu dan yang kalian bisa." Kami berkata, "Allah dan Rasul-Nya lebih penyayang kepada kami. Mari, kami berbaiat kepadamu, wahai Rasulullah." Maka Rasulullah ﷺ bersabda, "Sesungguhnya aku tidak berjabat tangan dengan perempuan. Perkataan untuk 100 orang perempuan seperti perkataanku untuk satu orang perempuan -atau semisal perkataanku untuk satu orang perempuan."
HR. Tirmizi, Nasai, dan Ibnu MajahDerajatSahih
Penjelasan
Umaimah binti Ruqaiqah -raḍiyallāhu 'anhā- mengabarkan bahwa dia datang menemui Nabi ﷺ bersama sejumlah wanita Ansar untuk berbaiat kepada beliau agar tidak akan menyekutukan Allah dengan sesuatu apa pun, tidak mencuri, tidak berzina, tidak mengada-adakan kebohongan di antara tangan dan kaki mereka, dan tidak durhaka kepada beliau terkait suatu kebaikan. Lantas beliau ﷺ bersabda: Ya, tapi pada batasan yang kalian mampu. Kami berkata: Allah dan Rasul-Nya lebih sayang kepada kami. Kemarilah, kami membaiatmu, wahai Rasulullah, dengan berjabatan tangan sebagaimana yang dilakukan oleh para laki-laki.
Maka beliau ﷺ bersabda: Sungguh, aku tidak berjabat tangan dengan para wanita. Perkataanku dan pembaiatanku terhadap 100 perempuan seperti perkataanku terhadap satu orang perempuan.
Faedah
- 1- Menjelaskan cara pembaiatan Nabi ﷺ kepada para wanita.
- 2- Haramnya menjabat tangan perempuan yang bukan mahram.
- 3- Kewajiban-kewajiban syariat tergantung pada kemampuan.
Rujukan
سنن الترمذي (3/ 247) (1597).
سنن النسائي (7/ 149) (4181).
سنن ابن ماجه (4/ 128) (2874).
ذخيرة العقبى في شرح المجتبى (32/ 263).
Hadis ini di HadeethEnc.com