Langsung ke konten
Hadis dengan penjelasan

Kisah dan Keadaan Umat Terdahulu

8 hadis

Ganimah tidak dihalalkan bagi siapa pun sebelum kita. Kemudian Allah menghalalkan ganimah untuk kita karena Allah melihat kelemahan dan ketidakmampuan kita. Dia pun menghalalkannya untuk kita.

عن أبي هريرة رضي الله عنه مرفوعًا: «غَزَا نَبِيٌّ مِن الأَنبِيَاء -صلوات الله وسلامه عليهم- فقال لقومه: لاَ يَتبَعَنِّي رجُل مَلَك بُضْعَ امرَأَةٍ وَهُوَ يُرِيدُ أنْ يَبنِي بِهَا وَلَمَّا يَبْنِ بِهَا، وَلاَ أحَدٌ بَنَى بُيُوتًا لم يَرفَع سُقُوفَهَا، ولاَ أَحَدٌ اشتَرَى غَنَمًا أو خَلِفَات وهو يَنتظِرُ أَولاَدَها، فَغَزَا فَدَنَا مِنَ القَريَةِ صَلاةَ العَصر أو قَرِيباً مِن ذلك، فَقَال للشَّمسِ: إِنَّك مَأمُورَة وأَنَا مَأمُور، اللَّهُمَّ احْبِسْهَا عَلَينَا، فَحُبِسَتْ حَتَّى فَتَحَ الله عليه، فَجَمَع الغَنَائِم فَجَاءَت -يعني النار- لِتَأكُلَهَا فَلَم تَطعَمها، فقال: إِنَّ فِيكُم غُلُولاً، فَليُبَايعنِي مِنْ كُلِّ قَبِيلَة رجل، فَلَزِقَت يد رجل بِيَدِهِ فقال: فِيكُم الغُلُول فلتبايعني قبيلتك، فلزقت يد رجلين أو ثلاثة بيده، فقال: فيكم الغلول، فَجَاؤوا بِرَأس مثل رأس بَقَرَةٍ من الذَّهَب، فَوَضَعَهَا فجاءت النَّارُ فَأَكَلَتهَا، فَلَم تَحِلَّ الغَنَائِم لأحَدٍ قَبلَنَا، ثُمَّ أَحَلَّ الله لَنَا الغَنَائِم لَمَّا رَأَى ضَعفَنَا وَعَجزَنَا فَأَحَلَّهَا لَنَا».
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- secara marfū', "Ada salah seorang di antara para Nabi -ṣalawātullāh wa salāmuhu 'alaihim- berperang lalu berkata kepada kaumnya, "Jangan mengikutiku (berperang) seorang lelaki yang baru menikah, dan ia ingin menggauli istrinya, sementara ia belum melakukannya. Tidak juga seorang yang membangun rumah sedangkan ia belum selesai memasang atapnya. Dan tidak pula seorang yang baru membeli kambing atau unta yang sedang bunting dan ia menunggu kelahiran anaknya." Lantas Nabi itu berangkat perang dan ketika mendekati negeri (yang diperangi) pada waktu salat Asar atau mendekati waktu itu, Nabi itu berkata kepada matahari, "Wahai matahari, sesungguhnya engkau diperintah dan aku pun diperintah. Ya Allah, tahanlah matahari itu untuk kami. Kemudian matahari itu pun tertahan jalannya sehingga Allah memberikan kemenangan kepada Nabi tersebut. Lalu Nabi itu mengumpulkan harta rampasan perang kemudian datanglah -yaitu api- untuk melahapnya, tetapi api itu tidak dapat melahapnya. Nabi itu berkata, "Sesungguhnya di antara kalian ada yang berbuat gulūl (menyembunyikan harta rampasan perang), maka setiap kabilah harus mengirimkan seorang laki-laki untuk berbaiat kepadaku." Lantas ada seorang laki-laki yang tangannya lekat dengan tangan Nabi itu, maka Nabi itu berkata, "Sesungguhnya di kalangan kabilahmu ada yang berbuat gulul, oleh sebab itu hendaklah seluruh orang dari kabilahmu memberikan pembaiatan kepadaku." Kemudian ada dua atau tiga orang (dari kabilah tersebut) yang tangannya lekat dengan tangan Nabi itu, lalu Nabi itu berkata, "Dari kalanganmu ada yang berbuat gulul." Lalu mereka membawa emas sebesar kepala sapi, kemudian meletakannya. Lantas datanglah api dan melahapnya. Ganimah tidak dihalalkan bagi siapa pun sebelum kita. Kemudian Allah menghalalkan ganimah untuk kita karena Allah melihat kelemahan dan ketidakmampuan kita. Dia pun menghalalkannya untuk kita."
Muttafaq 'alaihDerajatHadis sahih
Penjelasan

Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menceritakan tentang salah seorang Nabi -'alaihim aṣ-ṣalātu wa as-salām- yang memerangi suatu kaum yang diperintahkan untuk diperangi. Hanya saja Nabi tersebut -'alaihi aṣ-ṣalātu wa as-salām- melarang (untuk ikut berperang) setiap orang yang baru melangsungkan akad nikah dan belum sempat menggauli istrinya, setiap orang yang membangun rumah dan belum memasang atap rumahnya, dan setiap orang yang membeli kambing atau unta bunting dan dia sedang menunggu kelahiran anak-anaknya. Hal itu karena orang-orang tersebut akan sibuk dengan hal yang menjadi perhatian mereka. Seorang laki-laki yang sudah menikah akan sibuk dengan istrinya yang belum digaulinya, sehingga dia selalu merindukannya. Demikian juga orang yang membangun rumah dan belum memasang atapnya, maka dia pun akan sibuk (memikirkan) rumahnya yang ingin ditempatinya bersama keluarganya. Begitu pula pemilik unta-unta bunting dan kambing, ia akan sibuk dengannya karena menunggu kelahiran anak-anaknya. Padahal jihad itu harus dilakukan oleh orang yang mencurahkan perhatian kepadanya; tidak ada keinginan selain jihad. Kemudian Nabi ini berangkat perang dan sampai ke tempat kaum (yang akan diperangi) setelah salat Asar serta malam sudah mendekat. Ia pun takut jika malam sudah tiba maka tidak akan ada kemenangan. Lantas dia berseru kepada matahari dengan mengatakan, "Wahai matahari, sesungguhnya engkau diperintah dan aku pun diperintah." Hanya saja, perintah kepada matahari berupa perintah alami sedangkan perintah kepada Nabi itu merupakan perintah syariat. Nabi itu diperintahkan untuk berjihad, sedangkan matahari diperintahkan untuk berjalan sesuai dengan perintah Allah -'Azza wa Jalla-. Allah berfirman, "Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan (Allah) Yang Maha Perkasa lagi Maha mengetahui." Matahari berjalan sejak pertama kali Allah - 'Azza wa Jalla- menciptakannya, ia berjalan sesuai dengan apa yang diperintahkan kepadanya; tidak maju dan tidak lambat, tidak turun dan tidak naik (tanpa perintah-Nya). Nabi ini berdoa, "Ya Allah, tahanlah jalannya matahari itu untuk kami." Allah pun menahan matahari sehingga tidak terbenam pada waktunya sampai Nabi tersebut melancarkan pertempuran dan memperoleh ganimah yang banyak. Ketika Nabi tersebut sudah mendapatkan ganimah (Padahal ganimah itu pada umat-umat terdahulu tidak dihalalkan untuk para pejuang, tetapi kehalalan ganimah adalah bagian dari kekhususan umat ini, -segala puji hanya milik Allah-. Adapun umat terdahulu, mereka mengumpulkan harta-harta rampasan perang lalu api turun kepadanya dari langit kemudian membakarnya, jika Allah menerimanya) maka ganimah itu dikumpulkan, tetapi api tidak turun dari langit dan tidak melahapnya. Nabi itu pun berkata, "Di antara kalian ada yang melakukan gulul (menyembunyikan ganimah)." Kemudian ia memerintahkan agar dari setiap kabilah ada seorang yang maju untuk berbaiat kepadanya bahwa dia tidak melakukan gulul. Setelah mereka membaiatnya bahwa dirinya tidak melakukan gulul, tangan salah seorang dari mereka menempel di tangan Nabi ini -'alaihiṣ ṣalātu was salām-. Ketika menempel, ia berkata, "Di antara kalian ada yang melakukan gulul." Yakni dari kabilah laki-laki tersebut. Selanjutnya, Nabi tersebut memerintahkan setiap orang dari kabilah tersebut agar berbait. Lantas ada dua atau tiga orang dari mereka yang tangannya menempel. Nabi itu pun berkata, “Di antara kalian ada yang melakukan gulul. Lantas mereka membawa ganimah yang disembunyikan. Ternyata mereka telah menyembunyikan emas sebesar kepala sapi. Setelah barang itu dibawa dan diletakkan bersama ganimah lainnya, api pun membakarnya.

Rujukan

بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين، لسليم الهلالي، ط1، دار ابن الجوزي، الدمام، 1415هـ. رياض الصالحين، للنووي، ط1، تحقيق: ماهر ياسين الفحل، دار ابن كثير، دمشق، بيروت، 1428هـ. رياض الصالحين، ط4، تحقيق: عصام هادي، وزارة الأوقاف والشؤون الإسلامية القطرية، دار الريان، بيروت، 1428هـ. كنوز رياض الصالحين، مجموعة من الباحثين برئاسة حمد بن ناصر العمار، ط1، كنوز إشبيليا، الرياض، 1430هـ. شرح رياض الصالحين، للشيخ ابن عثيمين، دار الوطن للنشر، الرياض، 1426هـ. صحيح البخاري، تحقيق: محمد زهير بن ناصر الناصر، ط1، دار طوق النجاة (مصورة عن السلطانية بإضافة ترقيم: محمد فؤاد عبد الباقي)، 1422هـ. صحيح مسلم، تحقيق: محمد فؤاد عبد الباقي، دار إحياء التراث العربي، بيروت. نزهة المتقين شرح رياض الصالحين، لمجموعة من الباحثين، ط14، مؤسسة الرسالة، 1407هـ.

Hadis ini di HadeethEnc.com

Ada seorang raja yang hidup sebelum kalian. Ia memiliki seorang tukang sihir

عَنْ صُهَيْبٍ رَضيَ اللهُ عنه أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: "كَانَ مَلِكٌ فِيمَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ، وَكَانَ لَهُ سَاحِرٌ، فَلَمَّا كَبِرَ، قَالَ لِلْمَلِكِ: إِنِّي قَدْ كَبِرْتُ، فَابْعَثْ إِلَيَّ غُلَامًا أُعَلِّمْهُ السِّحْرَ، فَبَعَثَ إِلَيْهِ غُلَامًا يُعَلِّمُهُ، فَكَانَ فِي طَرِيقِهِ إِذَا سَلَكَ رَاهِبٌ فَقَعَدَ إِلَيْهِ وَسَمِعَ كَلَامَهُ، فَأَعْجَبَهُ، فَكَانَ إِذَا أَتَى السَّاحِرَ مَرَّ بِالرَّاهِبِ وَقَعَدَ إِلَيْهِ، فَإِذَا أَتَى السَّاحِرَ ضَرَبَهُ، فَشَكَا ذَلِكَ إِلَى الرَّاهِبِ، فَقَالَ: إِذَا خَشِيتَ السَّاحِرَ، فَقُلْ: حَبَسَنِي أَهْلِي، وَإِذَا خَشِيتَ أَهْلَكَ فَقُلْ: حَبَسَنِي السَّاحِرُ، فَبَيْنَمَا هُوَ كَذَلِكَ إِذْ أَتَى عَلَى دَابَّةٍ عَظِيمَةٍ قَدْ حَبَسَتِ النَّاسَ، فَقَالَ: الْيَوْمَ أَعْلَمُ آلسَّاحِرُ أَفْضَلُ أَمِ الرَّاهِبُ أَفْضَلُ؟ فَأَخَذَ حَجَرًا، فَقَالَ: اللهُمَّ إِنْ كَانَ أَمْرُ الرَّاهِبِ أَحَبَّ إِلَيْكَ مِنْ أَمْرِ السَّاحِرِ فَاقْتُلْ هَذِهِ الدَّابَّةَ، حَتَّى يَمْضِيَ النَّاسُ، فَرَمَاهَا فَقَتَلَهَا، وَمَضَى النَّاسُ، فَأَتَى الرَّاهِبَ فَأَخْبَرَهُ، فَقَالَ لَهُ الرَّاهِبُ: أَيْ بُنَيَّ أَنْتَ الْيَوْمَ أَفْضَلُ مِنِّي، قَدْ بَلَغَ مِنْ أَمْرِكَ مَا أَرَى، وَإِنَّكَ سَتُبْتَلَى، فَإِنِ ابْتُلِيتَ فَلَا تَدُلَّ عَلَيَّ، وَكَانَ الْغُلَامُ يُبْرِئُ الْأَكْمَهَ وَالْأَبْرَصَ، وَيُدَاوِي النَّاسَ مِنْ سَائِرِ الْأَدْوَاءِ، فَسَمِعَ جَلِيسٌ لِلْمَلِكِ كَانَ قَدْ عَمِيَ، فَأَتَاهُ بِهَدَايَا كَثِيرَةٍ، فَقَالَ: مَا هَاهُنَا لَكَ أَجْمَعُ، إِنْ أَنْتَ شَفَيْتَنِي، فَقَالَ: إِنِّي لَا أَشْفِي أَحَدًا إِنَّمَا يَشْفِي اللهُ، فَإِنْ أَنْتَ آمَنْتَ بِاللهِ دَعَوْتُ اللهَ فَشَفَاكَ، فَآمَنَ بِاللهِ فَشَفَاهُ اللهُ، فَأَتَى الْمَلِكَ فَجَلَسَ إِلَيْهِ كَمَا كَانَ يَجْلِسُ، فَقَالَ لَهُ الْمَلِكُ: مَنْ رَدَّ عَلَيْكَ بَصَرَكَ؟ قَالَ: رَبِّي، قَالَ: وَلَكَ رَبٌّ غَيْرِي؟ قَالَ: رَبِّي وَرَبُّكَ اللهُ، فَأَخَذَهُ فَلَمْ يَزَلْ يُعَذِّبُهُ حَتَّى دَلَّ عَلَى الْغُلَامِ، فَجِيءَ بِالْغُلَامِ، فَقَالَ لَهُ الْمَلِكُ: أَيْ بُنَيَّ قَدْ بَلَغَ مِنْ سِحْرِكَ مَا تُبْرِئُ الْأَكْمَهَ وَالْأَبْرَصَ، وَتَفْعَلُ وَتَفْعَلُ، فَقَالَ: إِنِّي لَا أَشْفِي أَحَدًا، إِنَّمَا يَشْفِي اللهُ، فَأَخَذَهُ فَلَمْ يَزَلْ يُعَذِّبُهُ حَتَّى دَلَّ عَلَى الرَّاهِبِ، فَجِيءَ بِالرَّاهِبِ، فَقِيلَ لَهُ: ارْجِعْ عَنْ دِينِكَ، فَأَبَى، فَدَعَا بِالْمِئْشَارِ، فَوَضَعَ الْمِئْشَارَ فِي مَفْرِقِ رَأْسِهِ، فَشَقَّهُ حَتَّى وَقَعَ شِقَّاهُ، ثُمَّ جِيءَ بِجَلِيسِ الْمَلِكِ فَقِيلَ لَهُ: ارْجِعْ عَنْ دِينِكَ، فَأَبَى فَوَضَعَ الْمِئْشَارَ فِي مَفْرِقِ رَأْسِهِ، فَشَقَّهُ بِهِ حَتَّى وَقَعَ شِقَّاهُ، ثُمَّ جِيءَ بِالْغُلَامِ فَقِيلَ لَهُ ارْجِعْ عَنْ دِينِكَ، فَأَبَى فَدَفَعَهُ إِلَى نَفَرٍ مِنْ أَصْحَابِهِ، فَقَالَ: اذْهَبُوا بِهِ إِلَى جَبَلِ كَذَا وَكَذَا، فَاصْعَدُوا بِهِ الْجَبَلَ، فَإِذَا بَلَغْتُمْ ذُرْوَتَهُ، فَإِنْ رَجَعَ عَنْ دِينِهِ، وَإِلَّا فَاطْرَحُوهُ، فَذَهَبُوا بِهِ فَصَعِدُوا بِهِ الْجَبَلَ، فَقَالَ: اللهُمَّ اكْفِنِيهِمْ بِمَا شِئْتَ، فَرَجَفَ بِهِمِ الْجَبَلُ فَسَقَطُوا، وَجَاءَ يَمْشِي إِلَى الْمَلِكِ، فَقَالَ لَهُ الْمَلِكُ: مَا فَعَلَ أَصْحَابُكَ؟ قَالَ: كَفَانِيهِمُ اللهُ، فَدَفَعَهُ إِلَى نَفَرٍ مِنْ أَصْحَابِهِ، فَقَالَ: اذْهَبُوا بِهِ فَاحْمِلُوهُ فِي قُرْقُورٍ، فَتَوَسَّطُوا بِهِ الْبَحْرَ، فَإِنْ رَجَعَ عَنْ دِينِهِ وَإِلَّا فَاقْذِفُوهُ، فَذَهَبُوا بِهِ، فَقَالَ: اللهُمَّ اكْفِنِيهِمْ بِمَا شِئْتَ، فَانْكَفَأَتْ بِهِمِ السَّفِينَةُ فَغَرِقُوا، وَجَاءَ يَمْشِي إِلَى الْمَلِكِ، فَقَالَ لَهُ الْمَلِكُ: مَا فَعَلَ أَصْحَابُكَ؟ قَالَ: كَفَانِيهِمُ اللهُ، فَقَالَ لِلْمَلِكِ: إِنَّكَ لَسْتَ بِقَاتِلِي حَتَّى تَفْعَلَ مَا آمُرُكَ بِهِ، قَالَ: وَمَا هُوَ؟ قَالَ: تَجْمَعُ النَّاسَ فِي صَعِيدٍ وَاحِدٍ، وَتَصْلُبُنِي عَلَى جِذْعٍ، ثُمَّ خُذْ سَهْمًا مِنْ كِنَانَتِي، ثُمَّ ضَعِ السَّهْمَ فِي كَبِدِ الْقَوْسِ، ثُمَّ قُلْ: بِاسْمِ اللهِ رَبِّ الْغُلَامِ، ثُمَّ ارْمِنِي، فَإِنَّكَ إِذَا فَعَلْتَ ذَلِكَ قَتَلْتَنِي، فَجَمَعَ النَّاسَ فِي صَعِيدٍ وَاحِدٍ، وَصَلَبَهُ عَلَى جِذْعٍ، ثُمَّ أَخَذَ سَهْمًا مِنْ كِنَانَتِهِ، ثُمَّ وَضَعَ السَّهْمَ فِي كَبْدِ الْقَوْسِ، ثُمَّ قَالَ: بِاسْمِ اللهِ، رَبِّ الْغُلَامِ، ثُمَّ رَمَاهُ فَوَقَعَ السَّهْمُ فِي صُدْغِهِ، فَوَضَعَ يَدَهُ فِي صُدْغِهِ فِي مَوْضِعِ السَّهْمِ فَمَاتَ، فَقَالَ النَّاسُ: آمَنَّا بِرَبِّ الْغُلَامِ، آمَنَّا بِرَبِّ الْغُلَامِ، آمَنَّا بِرَبِّ الْغُلَامِ، فَأُتِيَ الْمَلِكُ فَقِيلَ لَهُ: أَرَأَيْتَ مَا كُنْتَ تَحْذَرُ؟ قَدْ وَاللهِ نَزَلَ بِكَ حَذَرُكَ، قَدْ آمَنَ النَّاسُ، فَأَمَرَ بِالْأُخْدُودِ فِي أَفْوَاهِ السِّكَكِ، فَخُدَّتْ وَأَضْرَمَ النِّيرَانَ، وَقَالَ: مَنْ لَمْ يَرْجِعْ عَنْ دِينِهِ فَأَحْمُوهُ فِيهَا، أَوْ قِيلَ لَهُ: اقْتَحِمْ، فَفَعَلُوا حَتَّى جَاءَتِ امْرَأَةٌ وَمَعَهَا صَبِيٌّ لَهَا فَتَقَاعَسَتْ أَنْ تَقَعَ فِيهَا، فَقَالَ لَهَا الْغُلَامُ: يَا أُمَّهْ اصْبِرِي فَإِنَّكِ عَلَى الْحَقِّ".
Ṣuḥaib -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Ada seorang raja yang hidup sebelum kalian. Ia memiliki seorang tukang sihir. Ketika tukang sihir itu telah lanjut usia, ia berkata kepada raja, 'Aku telah tua, maka kirimlah seorang pemuda kepadaku agar aku dapat mengajarinya sihir.' Lalu raja mengirim seorang pemuda kepadanya. Dalam perjalanannya, pemuda tersebut melewati seorang pendeta. Ia pun menemuinya dan mendengar nasihat-nasihatnya, lalu ia pun menyukainya. Setiap kali hendak pergi ke tukang sihir, ia pasti melewati pendeta itu dan duduk mendengarkan ajarannya. Apabila ia datang terlambat, tukang sihir memukulnya. Ia pun mengeluhkan hal itu kepada pendeta. Pendeta berkata, 'Jika engkau takut dipukul tukang sihir, katakan, 'Keluargaku menahanku.' Namun, jika engkau takut pada keluargamu (karena terlambat pulang), katakan, 'Si tukang sihir menahanku.' Pada suatu hari, dalam keadaan seperti biasa, tiba-tiba ia menjumpai seekor binatang besar yang menghalangi jalan orang banyak. Ia berkata, 'Hari ini aku akan mengetahui siapa yang lebih utama, tukang sihir ataukah pendeta?' Lalu ia mengambil sebuah batu lalu berdoa, 'Ya Allah, jika ajaran pendeta lebih Engkau sukai daripada ajaran tukang sihir itu, maka bunuhlah binatang ini agar orang-orang bisa lewat.' Ia pun melemparnya dengan batu tersebut dan berhasil membunuhnya. Orang-orang pun bisa lewat. Kemudian ia mendatangi pendeta dan menceritakan peristiwa itu. Pendeta berkata, 'Wahai anakku, hari ini engkau lebih unggul daripadaku. Aku melihat engkau telah mencapai derajat yang tinggi dan engkau pasti akan diuji. Jika engkau diuji, maka jangan menyebutkan namaku.' Pemuda itu dikaruniai kemampuan mengobati orang yang buta dan belang, serta mengobati orang banyak dari berbagai penyakit lainnya. Salah seorang menteri raja yang buta mendengar kehebatan pemuda itu. Ia pun datang dengan membawa banyak hadiah seraya berkata, 'Semua yang ada di sini menjadi milikmu jika engkau bisa menyembuhkanku.' Pemuda itu berkata, 'Aku tidak menyembuhkan siapa pun. Hanya Allah yang dapat menyembuhkan. Jika engkau beriman kepada Allah, aku akan berdoa kepada-Nya, lalu Dia akan menyembuhkanmu.' Akhirnya Sang menteri beriman kepada Allah, dan Allah pun menyembuhkannya. Kemudian ia kembali ke istana dan duduk di sisi raja seperti biasanya. Raja berkata, 'Siapa yang menyembuhkan matamu?' Ia menjawab, 'Tuhanku.' Raja berkata, 'Engkau memiliki Tuhan selain aku?' Ia berkata, 'Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah.' Lalu raja pun menahannya dan terus menyiksanya hingga ia menyampaikan perihal pemuda itu. Pemuda itu kemudian dijemput dan dibawa menghadap raja. Raja berkata, 'Wahai anakku, ilmu sihirmu sungguh tinggi sampai bisa menyembuhkan orang buta dan belang, serta engkau bisa melakukan ini dan itu.' Namun pemuda itu menjawab, 'Aku tidak menyembuhkan siapa pun. Hanya Allah yang dapat menyembuhkan.' Lalu raja menahannya dan terus menyiksanya hingga ia menyebutkan nama sang pendeta. Pendeta pun didatangkan dan dikatakan kepadanya, 'Tinggalkan agamamu!' Namun ia menolak. Maka raja meminta gergaji, lalu diletakkan tepat di tengah kepalanya, kemudian dia dibelah hingga kedua sisi tubuhnya jatuh. Setelah itu, menteri raja didatangkan dan dikatakan kepadanya, 'Tinggalkan agamamu!' Ia pun menolak. Maka raja meminta gergaji lalu diletakkan tepat di tengah kepalanya sampai ia terbelah dua hingga kedua sisi tubuhnya jatuh. Selanjutnya pemuda itu didatangkan dan dikatakan padanya, 'Tinggalkan agamamu!' Ia pun menolak. Maka raja menyerahkannya ke sekelompok tentaranya dan berpesan, 'Bawalah ia ke gunung ini dan ini. Bawalah ia naik. Jika di puncaknya ia mau meninggalkan agamanya, lepaskan dia. Jika tidak, lemparkan dia dari atas.' Mereka pun membawanya naik hingga ke puncak gunung. Pemuda itu berdoa, 'Ya Allah, Selamatkan aku dari mereka dengan cara apa saja yang Engkau kehendaki.' Gunung itu pun mengguncang mereka hingga jatuh. Pemuda itu lalu datang berjalan menemui raja. Raja bertanya, 'Apa yang terjadi dengan orang-orang yang membawamu?' Pemuda itu menjawab, 'Allah telah menyelamatkanku dari mereka.' Lalu raja menyerahkannya ke kelompok tentara yang lain. Raja berkata, 'Bawalah ia pergi ke tengah laut, lalu naikkan ia ke sebuah perahu. Jika ia mau meninggalkan agamanya, bawalah ia pulang. Namun jika ia tidak, lemparkan dia.' Mereka pun membawanya ke tengah laut. Pemuda itu berdoa, 'Ya Allah, selamatkan aku dari mereka dengan cara apa saja yang Engkau kehendaki.' Perahu itu akhirnya terbalik dan mereka semua tenggelam. Pemuda itu pun datang berjalan menemui raja. Raja bertanya, 'Apa yang terjadi pada orang-orang yang membawamu?' Ia menjawab, 'Allah telah menyelamatkanku dari mereka.' Maka ia berkata kepada raja, 'Engkau tidak akan bisa membunuhku kecuali jika engkau mau melakukan apa yang aku perintahkan.' Raja bertanya, 'Apa yang kau perintahkan?' Pemuda itu berkata, 'Engkau kumpulkan semua orang di satu tanah lapang. Lalu salib aku pada batang kayu. Lalu ambil satu anak panah dari tempat anak panahku, letakkan di tengah busur, lalu ucapkan, 'Dengan nama Allah, Tuhan pemuda ini.' Kemudian bidiklah aku. Jika engkau melakukannya pasti engkau bisa membunuhku.' Raja pun mengumpulkan orang-orang di satu tanah lapang dan menyalib pemuda itu pada batang kayu. Kemudian ia mengambil satu anak panah dari tempat anak panahnya, selanjutnya meletakkan anak panah itu di tengah-tengah busur. Kemudian ia mengucapkan, 'Dengan nama Allah, Tuhan pemuda ini.' Kemudian ia membidiknya hingga anak panah itu tepat mengenai pelipisnya. Pemuda itu meletakkan tangannya tepat di tempat panah menancap, lalu ia meninggal dunia. Orang-orang pun berkata, 'Kami beriman pada Tuhan pemuda itu. Kami beriman pada Tuhan pemuda itu. Kami beriman pada Tuhan pemuda itu.' Lalu Raja didatangi dan diberi laporan, 'Tahukah Anda apa yang Anda khawatirkan? Demi Allah, apa yang Anda khawatirkan telah terjadi. Orang-orang telah beriman.' Sebab itu, raja memerintahkan pembuatan parit di jalanan. Parit-parit pun dibuat dan api dinyalakan di dalamnya. Raja berkata, 'Siapa yang tidak mau meninggalkan agamanya, lemparkan dia ke dalamnya.' Atau dikatakan padanya, 'Masuklah.' Mereka pun melaksanakan perintah tersebut. Hingga datang giliran seorang wanita yang membawa bayinya. Ia mundur agar tidak terjatuh dalam parit api. Maka bayi itu berkata, 'Wahai ibuku, bersabarlah. Sesungguhnya engkau berada di atas kebenaran.'"
HR. MuslimDerajatSahih
Penjelasan

Nabi ﷺ mengabarkan bahwa dahulu ada seorang raja di tengah umat sebelum kita. Dia memiliki seorang tukang sihir. Ketika tukang sihir itu telah lanjut usia, ia berkata kepada raja, "Aku telah tua, maka kirimlah kepadaku seorang pemuda yang dapat aku ajari sihir." Raja pun mengirim seorang pemuda kepadanya untuk diajar. Di jalan yang dilalui oleh pemuda itu ke tukang sihir, ada seorang pendeta. Suatu saat, ia datang menemuinya dan mendengarkan nasihat-nasihatnya, dan ternyata ia menyukainya. Akhirnya, jika ia pergi ke tukang sihir, ia selalu melewati pendeta tersebut dan duduk menyimak pelajarannya. Ketika dia datang terlambat, tukang sihir itu memukulnya. Ia pun mengeluhkan hal itu ke pendeta. Pendeta berkata, "Jika kamu takut kepada tukang sihir, katakan, 'Aku ditahan oleh keluargaku.' Namun, jika kamu takut keluargamu, katakan, 'Aku ditahan oleh tukang sihir.'" Suatu hari, ketika ia beraktivitas seperti biasanya, tiba-tiba ia menjumpai seekor binatang besar yang menghalangi jalan orang banyak. Ia pun berkata, "Hari ini aku akan tahu, siapakah yang lebih utama, tukang sihir ataukah pendeta?" Ia pun mengambil sebuah batu lalu berdoa, "Ya Allah, jika ajaran pendeta itu lebih Engkau sukai daripada ajaran tukang sihir, bunuhlah binatang ini, agar orang-orang dapat lewat." Ia pun melemparnya dan berhasil membunuhnya, sehingga orang-orang pun berhasil lewat. Ia kemudian datang menemui pendeta dan mengabarinya. Pendeta berkata, "Anakku, hari ini engkau telah mengungguliku. Aku melihat urusanmu telah mencapai puncak. Kamu pasti akan diuji. Jika kamu diuji, janganlah engkau menyebut namaku." Pemuda tersebut lalu dianugerahi kemampuan menyembuhkan orang buta dan kusta, serta mengobati orang banyak dari berbagai penyakit lainnya, dengan izin Allah. Seorang menteri raja yang kehilangan penglihatan mendengar beritanya. Ia pun menemuinya dengan membawa banyak hadiah. Ia berkata, "Semua hadiah yang ada di sini menjadi milikmu jika kamu menyembuhkanku." Pemuda itu menjawab, "Aku tidak dapat menyembuhkan siapa pun. Yang menyembuhkan hanyalah Allah. Jika engkau beriman kepada Allah, aku akan berdoa kepada Allah, dan Allah akan menyembuhkanmu." Ia pun beriman kepada Allah, lalu Allah menyembuhkannya. Ia kemudian datang menemui raja dan duduk di sisinya sebagaimana biasanya. Raja berkata, "Siapa yang memulihkan penglihatanmu?" Ia menjawab, "Tuhanku." Sontak raja berkata, "Apakah kamu punya Tuhan selainku?" Ia menjawab, "Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah." Raja pun menahannya dan terus menyiksanya hingga ia menyebutkan nama pemuda itu. Pemuda itu pun dihadirkan. Raja berkata, "Anakku, sihirmu telah mampu menyembuhkan orang buta dan kusta, serta engkau mampu melakukan ini dan itu." Ia menjawab, "Aku tidak menyembuhkan siapa pun. Yang menyembuhkan hanya Allah." Raja pun menahannya dan terus menyiksanya hingga ia menunjukkan nama pendeta. Sang pendeta pun didatangkan, lalu dikatakan kepadanya, "Tinggalkanlah agamamu!" Namun ia menolak. Raja pun meminta gergaji lalu meletakkannya di bagian tengah kepalanya dan membelahnya menjadi dua bagian. Kemudian giliran menteri raja dihadirkan. Dikatakan kepadanya, "Tinggalkan agamamu!" Namun ia menolak. Lalu raja meletakkan gergaji di bagian tengah kepalanya lalu membelahnya menjadi dua bagian. Selanjutnya si pemuda dihadirkan. Dikatakan kepadanya, "Tinggalkan agamamu!" Ia pun menolak. Maka raja menyerahkannya kepada sekelompok tentaranya, sekitar 3-10 orang. Raja berpesan, "Bawa dia ke sebuah gunung, lalu bawa dia ke atas gunung itu. Setelah sampai di puncak, bebaskan dia kalau ia mau meninggalkan agamanya. Jika tidak, jatuhkan dia dari atas." Mereka pun membawanya naik ke atas gunung itu. Pemuda itu berdoa, "Ya Allah, lindungilah aku dari mereka dengan cara apa saja yang Engkau kehendaki." Gunung itu pun mengguncang mereka dan bergoyang dahsyat sehingga mereka jatuh. Lalu pemuda itu datang berjalan menemui raja. Raja bertanya, "Apa yang dilakukan oleh orang-orang yang bersamamu?" Ia menjawab, "Allah melindungiku dari mereka." Raja kemudian menyerahkannya kepada tentaranya yang lain. Ia berpesan, "Bawalah ia pergi. Naikkan ia ke perahu kecil lalu berlayar ke tengah lautan. Bebaskan dia jika dia mau meninggalkan agamanya. Jika tidak, lemparkan dia ke laut." Mereka pun membawanya pergi. Pemuda itu berdoa, "Ya Allah, lindungilah aku dari mereka dengan cara apa saja yang Engkau kehendaki." Perahu itu pun terbalik sehingga mereka tenggelam. Lalu ia datang berjalan menemui raja. Raja bertanya, "Apa yang dilakukan oleh orang-orang yang bersamamu?" Ia menjawab, "Allah telah menyelamatkanku dari mereka." Pemuda itu berkata kepada raja, "Engkau tidak akan bisa membunuhku hingga melakukan apa yang aku perintahkan." Raja bertanya, "Apa itu?" Ia berkata, "Kumpulkan orang banyak di satu tempat terbuka. Salib aku di sebatang kayu. Ambil satu anak panah dari tempat anak panahku, letakkan anak panah di pegangan busur, lalu ucapkan, 'Dengan nama Allah, Tuhan pemuda ini.' Setelah itu, bidiklah aku. Jika itu engkau lakukan, engkau akan dapat membunuhku." Lalu raja pun mengumpulkan orang banyak di satu tempat dan menyalibnya di satu batang kayu. Kemudian ia mengambil satu anak panah dari tempat anak panah pemuda itu. Kemudian diletakkannya anak panah itu di bagian tengah busur seraya mengucapkan, "Dengan nama Allah, Tuhan pemuda ini." Kemudian ia membidiknya. Anak panah pun tepat mengenai pelipisnya, di antara mata dengan telinganya. Seketika ia meletakkan tangannya di tempat anak panah, dan ia pun meninggal dunia. Orang-orang pun berkata, "Kami beriman kepada Tuhan pemuda ini. Kami beriman kepada Tuhan pemuda ini. Kami beriman kepada Tuhan pemuda ini." Lantas raja pun didatangi. Dikatakan kepadanya, "Tahukah Anda tentang apa yang Anda khawatirkan? Demi Allah, apa yang Anda khawatirkan telah terjadi. Orang-orang mengikuti pemuda itu dan beriman semuanya kepada Tuhannya." Raja pun memerintahkan untuk menggali parit-parit besar yang memanjang di pintu-pintu jalan lalu dinyalakan api di dalamnya. Raja berkata, "Siapa saja yang tidak meninggalkan agamanya, jatuhkan ia ke dalamnya." Mereka pun melaksanakan perintah raja. Hingga datang seorang wanita dengan membawa anak bayinya. Ia berhenti dan diam di tempatnya. Ia tidak mau masuk ke dalam api. Tetapi anak bayinya berkata, "Ibuku, bersabarlah. Sungguh, engkau berada di atas kebenaran."

Faedah
  1. 1- Menetapkan adanya karamah wali, di antaranya: terbunuhnya binatang yang besar dengan lemparan sang pemuda, dikabulkannya doa sang pemuda sebanyak dua kali, dan anak kecil yang masih menyusu bisa berbicara.
  2. 2- Pertolongan untuk orang-orang yang berserah kepada Allah ﷻ.
  3. 3- Menjelaskan kemuliaan sabar dan tegar di atas agama.
  4. 4- Hikmah menuntut ilmu di usia muda karena umumnya pemuda lebih cepat hafal dibanding orang tua.
  5. 5- Kekuatan iman pemuda ini. Dia tidak goyah dari keimanannya dan tidak meninggalkannya.
  6. 6- Allah ﷻ akan mengabulkan doa orang yang terdesak jika ia berdoa.
  7. 7- Seseorang boleh menempatkan dirinya dalam risiko demi kemaslahatan umum bagi kaum Muslimin. Pemuda tersebut telah menunjukkan kepada raja cara untuk membunuh dan membinasakan dirinya, yaitu dengan mengambil satu anak panah dari tempat anak panahnya, meletakkannya di tengah-tengah busur, lalu mengucapkan, "Dengan nama Allah, Tuhan pemuda ini."
  8. 8- Boleh berbohong dalam perang dan yang semisalnya, demikian juga untuk menyelamatkan seorang jiwa dari kebinasaan.
  9. 9- Seorang mukmin akan diuji dalam ketulusan imannya dan keteguhan di atas menyampaikan kebenaran, meskipun sampai ke tingkat mengorbankan nyawa.
  10. 10- Berkorban di jalan dakwah kepada Allah dan menyampaikan kebenaran.
  11. 11- Hati manusia di tangan Allah, Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya dan menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya. Pemuda ini mendapatkan petunjuk, padahal ia dalam asuhan tukang sihir dan pengawasan raja yang zalim.
  12. 12- Boleh memohon kepada Allah Ta'ala agar memperlihatkan kepada hamba sebuah tanda untuk mengenal kebenaran dan yang akan mendatangkan keyakinan.
  13. 13- Kaum beriman menjadikan seluruh nikmat dan karunia yang Allah berikan kepada mereka sebagai sarana untuk melayani agama-Nya serta berdakwah menyeru kepada jalan-Nya.
  14. 14- Sebab-sebab kematian ada di tangan Allah. Jika Allah berkehendak, Dia akan merealisasikannya, namun jika tidak, Allah akan membatalkannya.
  15. 15- Orang kafir tidak sedang kekurangan argumen dan bukti untuk beriman, tetapi kekafiran mereka disebabkan oleh sikap keras kepala dan kesombongan.
  16. 16- Tagut dan orang-orang zalim seputar mereka memiliki kesiapan untuk membunuh semua manusia demi mempertahankan kenikmatan dunia yang mereka peroleh.
  17. 17- Allah akan menyiksa orang-orang yang zalim dari arah yang mereka tidak sangka-sangka. Orang-orang banyak menyatakan beriman kepada Tuhan pemuda tersebut setelah mereka melihat keteguhannya, kejujuran dakwahnya, dan ketidaktakutannya terhadap celaan orang lain ketika ia di jalan Allah.
  18. 18- Ada selain Nabi Isa -‘alaihissalām- yang berbicara saat masih dalam buaian. Hadis ini menjelaskan sabda Rasulullah ﷺ, "Tidak ada yang berbicara dalam buaian kecuali tiga orang...," lalu beliau menyebutkan mereka dan membatasinya pada kalangan Bani Israil saja, tidak mencakup selain mereka.
Rujukan

صحيح مسلم (4/ 2299) (3005). بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين، لسليم الهلالي (1/ 86). تطريز رياض الصالحين، لفيصل آل مبارك (ص39). كنوز رياض الصالحين، لمجموعة من الباحثين (1/ 412). شرح رياض الصالحين، لابن عثيمين (1/ 210). نزهة المتقين شرح رياض الصالحين، لمجموعة من الباحثين (1/ 62).

Hadis ini di HadeethEnc.com

Apa yang telah aku larang untuk kalian, maka jauhilah, dan apa yang telah aku perintahkan kepada kalian, maka lakukanlah semampu kalian! Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian binasa disebabkan oleh banyaknya pertanyaan dan perselisihan mereka terhadap nabi-nabi mereka.

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: «ما نهيتكم عنه فاجتنبوه، وما أمرتكم به فأْتُوا منه ما استطعتم، فإنما أَهلَكَ الذين من قبلكم كثرةُ مسائلهم واختلافهم على أنبيائهم».
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, Aku mendengar Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Apa yang telah aku larang untuk kalian, maka jauhilah, dan apa yang telah aku perintahkan kepada kalian, maka lakukanlah semampu kalian! Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian binasa disebabkan oleh banyaknya pertanyaan dan perselisihan mereka terhadap nabi-nabi mereka."
Muttafaq 'alaihDerajatHadis sahih
Penjelasan

Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menunjukkan kepada kita bahwa apabila beliau melarang kita dari sesuatu, maka kita wajib menjauhinya tanpa ada pengecualian. Namun, apabila beliau menyuruh kita dengan sesuatu, hendaknya kita melaksanakannya semampu kita. Selanjutnya beliau mengingatkan kita agar tidak menjadi seperti sebagian umat yang lampau, yaitu ketika mereka banyak bertanya kepada para nabinya disertai pengingkaran terhadap mereka, Allah pun mengazab mereka dengan bermacam-macam azab dan kehancuran. Dengan demikian, kita tidak boleh seperti mereka agar kita tidak binasa sebagaimana mereka telah binasa.

Faedah
  1. Perintah untuk melaksanakan perintah dan menjauhi larangan.
  2. Tidak ada keringanan untuk melanggar sebagian dari larangan, sedangkan perintah terikat dengan kemampuan. Karena tindakan meninggalkan adalah sesuatu yang ada dalam kemampuan, sementara tindakan melaksanakan perintah membutuhkan kemampuan untuk mewujudkannya.
  3. Larangan banyak bertanya. Para ulama telah membagi pertanyaan menjadi dua bagian. Pertama: bertanya sebagai bentuk belajar tentang sesuatu yang dibutuhkan dalam urusan agama; ini diperintahkan. Termasuk jenis ini adalah pertanyaan-pertanyaan para sahabat. Kedua: bertanya sebagai wujud penolakan dan memaksakan diri; ini dilarang.
  4. Mengingatkan umat dari perbuatan menyelisihi nabi mereka, sebagaimana yang terjadi pada umat-umat sebelumnya.
  5. Larangan ini mencakup yang sedikit dan banyak; karena tidak mungkin menjauhi larangan kecuali dengan menjauhi yang sedikit dan banyak. Misalnya: kita dilarang dari riba; maka larangan itu mencakup riba yang sedikit dan yang banyak.
  6. Meninggalkan sebab-sebab yang dapat mengantarkan kepada yang haram; karena yang demikian itu masuk dalam makna menjauhi.
  7. Manusia memiliki kuasa dan kemampuan; berdasarkan sabda beliau, "Sesuai yang kalian mampu." Maka, di dalamnya terdapat bantahan kepada kelompok Jabariyyah yang berkata, "Manusia tidak memiliki kuasa karena dia terpaksa pada perbuatannya." Bahkan mereka mengatakan bahwa bila seseorang menggerakkan tangannya ketika berbicara, itu tidak dengan kuasa dan kemauannya, melainkan karena dia terpaksa. Tidak diragukan ini adalah pendapat batil yang melahirkan kerusakan-kerusakan besar.
  8. Tidak sepantasnya ketika seseorang mendengar perintah Rasul -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- kemudian dia mengatakan, "Apakah itu wajib atau sunnah?" Karena beliau bersabda, "Lakukanlah ia (perintah itu) sesuai yang kalian mampu."
  9. Apa yang diperintahkan oleh Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- atau yang beliau larang maka itu adalah agama, baik itu ada dalam Al-Qur`ān ataupun tidak. Sehingga harus mengamalkan sunnah yang tidak disebutkan dalam Al-Qur`ān, baik yang berbentuk perintah ataupun larangan.
  10. Banyak bertanya adalah sebab kebinasaan, terlebih pada perkara-perkara yang tidak mungkin diketahui. Seperti pertanyaan-pertanyaan tentang yang gaib, seperti nama Allah dan sifat-sifat-Nya dan suasana hari Kiamat. Janganlah memperbanyak pertanyaan di dalamnya, maka Anda akan binasa. Karena dengan itu Anda telah memaksakan diri dan berlebihan.
  11. Umat-umat terdahulu binasa karena banyak bertanya. Juga mereka binasa karena banyak menentang nabi-nabi mereka.
Rujukan

-التحفة الربانية في شرح الأربعين حديثًا النووية، مطبعة دار نشر الثقافة، الإسكندرية، الطبعة: الأولى، 1380 هـ. -شرح الأربعين النووية، للشيخ ابن عثيمين، دار الثريا للنشر. -فتح القوي المتين في شرح الأربعين وتتمة الخمسين، دار ابن القيم، الدمام المملكة العربية السعودية، الطبعة: الأولى، 1424هـ/2003م. -الفوائد المستنبطة من الأربعين النووية، للشيخ عبد الرحمن البراك، دار التوحيد للنشر، الرياض. -شرح الأربعين النووية، للشيخ صالح آل الشيخ، دار الحجاز، الطبعة: الثانية، 1433هـ. -الأربعون النووية وتتمتها رواية ودراية، للشيخ خالد الدبيخي، ط. مدار الوطن. -الجامع في شروح الأربعين النووية، للشيخ محمد يسري، ط. دار اليسر. -صحيح البخاري، نشر: دار طوق النجاة (مصورة عن السلطانية بإضافة ترقيم ترقيم محمد فؤاد عبد الباقي)، الطبعة: الأولى، 1422هـ. -صحيح مسلم، تحقيق: محمد فؤاد عبد الباقي، نشر: دار إحياء التراث العربي – بيروت.

Hadis ini di HadeethEnc.com

Dahulu Bani Israil dipimpin oleh para nabi. Setiap kali seorang nabi meninggal, ia akan digantikan oleh nabi yang lain. Akan tetapi, sungguh tidak ada nabi lagi sesudahku. Sepeninggalku akan ada khalifah-khalifah dan jumlahnya banyak

عَنْ أَبِي حَازِمٍ قَالَ: قَاعَدْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ رضي الله عنه خَمْسَ سِنِينَ، فَسَمِعْتُهُ يُحَدِّثُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: «كَانَتْ بَنُو إِسْرَائِيلَ تَسُوسُهُمُ الأَنْبِيَاءُ، كُلَّمَا هَلَكَ نَبِيٌّ خَلَفَهُ نَبِيٌّ، وَإِنَّهُ لاَ نَبِيَّ بَعْدِي، وَسَيَكُونُ خُلَفَاءُ فَيَكْثُرُونَ» قَالُوا: فَمَا تَأْمُرُنَا؟ قَالَ: «فُوا بِبَيْعَةِ الأَوَّلِ فَالأَوَّلِ، أَعْطُوهُمْ حَقَّهُمْ، فَإِنَّ اللَّهَ سَائِلُهُمْ عَمَّا اسْتَرْعَاهُمْ».
Abu Ḥāzim meriwayatkan, Aku belajar kepada Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- selama lima tahun, aku pernah mendengarnya meriwayatkan dari Nabi ﷺ, bahwa beliau bersabda, "Dahulu Bani Israil dipimpin oleh para nabi. Setiap kali seorang nabi meninggal, ia akan digantikan oleh nabi yang lain. Akan tetapi, sungguh tidak ada nabi lagi sesudahku. Sepeninggalku akan ada khalifah-khalifah dan jumlahnya banyak." Para sahabat bertanya, "Lalu apa yang engkau perintahkan kepada kami?" Beliau menjawab, "Tunaikanlah baiat yang telah diberikan kepada (khalifah) yang paling pertama kemudian yang berikutnya. Penuhilah hak mereka dan mintalah kepada Allah apa yang menjadi hak kalian, karena sesungguhnya Allah akan menanyai mereka tentang apa yang mereka pimpin."
Muttafaq 'alaihDerajatSahih
Penjelasan

Nabi Muhammad ﷺ mengabarkan bahwa Bani Israil dipimpin oleh para nabi. Para nabi yang mengurus urusan mereka seperti yang dilakukan oleh gubernur dan pemerintah pada rakyat. Setiap kali muncul kerusakan di tengah mereka, Allah mengutus kepada mereka seorang nabi untuk meluruskan urusan mereka dan membersihkan hukum yang mereka ubah. Sungguh, tidak ada lagi nabi setelahku untuk melakukan seperti yang dilakukan oleh nabi-nabi tersebut. Tetapi setelahku adalah para khalifah dan jumlah mereka banyak, namun di antara mereka terjadi pertikaian dan perselisihan. Lantas para sahabat -raḍiyallāhu 'anhum- bertanya kepada Rasulullah ﷺ: Apa yang engkau perintahkan kepada kami? Beliau menjawab: Apabila seorang khalifah dibaiat setelah khalifah lain, maka baiat pada khalifah pertama itulah yang benar dan yang harus ditunaikan. Sedangkan baiat khalifah yang kedua batal dan ia haram memintanya. Berikan mereka haknya, patuhi mereka, dan sikapilah mereka dengan mendengar dan taat pada selain kemaksiatan. Kelak Allah akan menanyai dan menghisab mereka terkait semua yang mereka lakukan pada kalian.

Faedah
  1. 1- Rakyat harus memiliki seorang nabi atau khalifah yang mengurus urusannya dan mengarahkannya pada jalan yang lurus.
  2. 2- Tidak ada lagi nabi setelah nabi kita Muhammad ﷺ.
  3. 3- Peringatan terhadap perbuatan melawan orang yang sah menjadi pemimpin melalui cara yang dibenarkan syariat.
  4. 4- Tidak boleh memberi baiat kepada dua khalifah dalam waktu yang bersamaan.
  5. 5- Besarnya tanggung jawab seorang imam (pemimpin), yaitu Allah Ta'ala akan menanyainya tentang rakyatnya.
  6. 6- Ibnu Ḥajar berkata, "Mengedepankan perkara agama di atas perkara dunia, yaitu beliau ﷺ memerintahkan agar menunaikan hak pemimpin secara penuh karena hal itu akan menjunjung agama serta meredam fitnah dan keburukan, dan penundaan meminta hak tidak berarti menggugurkannya karena Allah telah menjanjikan bahwa Dia akan menyelamatkannya dan akan memberikan haknya secara penuh walaupun nanti di negeri akhirat."
  7. 7- Salah satu tanda kenabian beliau ﷺ, yaitu terbukti banyak khalifah setelah beliau yang silih berganti memimpin umat, ada yang baik dan ada juga yang buruk.
Rujukan

صحيح البخاري (4/ 169) (3455). صحيح مسلم (3/ 1471) (1842). بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين، لسليم الهلالي (1/ 707). نزهة المتقين شرح رياض الصالحين، لمجموعة من الباحثين (1/ 544).

Hadis ini di HadeethEnc.com

Sesungguhnya ada tiga orang dari Bani Israel: yang berpenyakit sopak (belang kulitnya), botak dan buta. Selanjutnya Allah hendak menguji mereka lalu mengutus seorang malaikat kepada mereka.

عن أبي هريرة رضي الله عنه أنه سمع النبي صلى الله عليه وسلم ، يقول: "إنّ ثلاثة من بني إسرائيل: أبرص وأقرع وأعمى، فأراد الله أن يَبْتَلِيَهم، فبعث إليهم ملَكًا، فأتى الأبرص؛ فقال: أيُّ شيء أحب إليك؟ قال: لون حسن، وجلد حسن، ويذهب عني الذي قد قَذِرَني النَّاس به. قال: فمسحه فذهب عنه قَذَرُه، فأُعْطِيَ لوناً حسناً وجلداً حسناً. قال: فأي المال أحب إليك؟ قال: الإبل أو البقر -شك إسحاق-. فأُعْطي ناقة عُشَرَاءَ، وقال: بارك الله لك فيها. قال: فأتى الأقرع؛ فقال: أي شيء أحب إليك؟ قال شعر حسن، ويذهب عني الذي قد قَذِرَني الناس به. فمسحه فذهب عنه، وأُعْطِيَ شعراً حسناً. فقال: أي المال أحب إليك؟ قال: البقر أو الإبل. فأُعْطِيَ بقرة حاملاً، قال: بارك الله لك فيها. فأتى الأعمى؛ فقال: أي شيء أحب إليك؟ قال: أن يَرُدَّ الله إليَّ بصري فأبصر به الناس. فمسحه فردَّ الله إليه بصره. قال: فأي المال أحب إليك؟ قال: الغنَم، فأُعْطِي شاة والدًا. فأُنْتِجَ هذان، ووَلَّد هذا، فكان لهذا وادٍ مِن الإبل، ولهذا وادٍ مِن البقر، ولهذا وادٍ من الغنم. قال: ثم إنه أتى الأبرص في صورته وهيئته، فقال: رجل مسكين قد انقطعت بي الحِبال في سفري، فلا بلوغ لي اليوم إلا بالله ثم بك، أسألك بالذي أعطاك اللون الحسن والجلد الحسن والمال بعيرا أَتَبَلَّغُ به في سفري. فقال: الحقوق كثيرة. فقال: كأني أعرفك، ألم تكن أبرص يَقْذَرُك الناس، فقيرًا فأعطاك الله المال؟ فقال: إنما ورثت هذا المال كابرًا عن كابرٍ. فقال: إن كنت كاذباً فصيَّرك الله إلى ما كنت. وأتى الأقرعَ في صورته فقال له مثل ما قال لهذا، وردَّ عليه مثل ما ردَّ عليه هذا. فقال: إن كنت كاذباً فصيّرك الله إلى ما كنت. قال: وأتى الأعمى في صورته، فقال: رجل مسكين وابن سبيل قد انقطعت بي الحِبال في سفري، فلا بلاغ لي اليوم إلا بالله ثم بك، أسألك بالذي ردَّ عليك بصرك شاة أَتَبَلَّغُ بها في سفري. فقال: قد كنت أعمى فردَّ الله إليَّ بصري، فخُذْ ما شِئْت ودَعْ ما شِئْت، فوالله لا أَجْهَدُك اليوم بشيء أخذته لله. فقال: أَمْسِكْ مالك؛ فإنما ابتُلِيتُم؛ فقد رضِيَ الله عنك، وسَخِط على صاحبيك".
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- bahwasannya dia mendengar Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Sesungguhnya ada tiga orang dari Bani Israil; yang berpenyakit sopak (belang kulitnya), botak, dan buta. Kemudian Allah hendak menguji mereka, lalu Allah mengutus seorang malaikat kepada mereka. Malaikat itu mendatangi orang yang sopak lalu bertanya, "Apa yang paling engkau inginkan?" Orang itu menjawab, "Warna yang indah dan kulit yang bagus serta hilangnya penyakit yang kuderita yang membuat orang-orang menjauhiku." Nabi bersabda, "Lantas malaikat itu mengusapnya lalu lenyaplah penyakit tersebut dan ia diberi warna yang indah dan kulit yang bagus." Malaikat bertanya, "Apa harta yang paling engkau senangi?" Orang itu menjawab, "Unta atau sapi." Ishaq (perawi) ragu-ragu (menyebutkan yang tepat). Lantas orang itu dikaruniai seekor unta yang sedang bunting sepuluh bulan. Malaikat berkata, "Semoga Allah memberimu keberkahan dalam unta ini." Nabi bersabda, "Lantas malaikat itu mendatangi orang botak lalu bertanya, "Apa yang paling kau senangi?" Orang itu menjawab, "Rambut indah dan hilangnya penyakit yang membuat orang-orang menjauhiku." Malaikat itu mengusapnya lalu hilanglah penyakitnya dan ia dianugerahi rambut yang indah. Malaikat bertanya, "Apa harta yang paling engkau sukai?" Orang itu menjawab, "Sapi atau unta." Lantas ia diberi seekor sapi bunting. Malaikat berkata, "Semoga Allah memberimu keberkahan dalam sapi ini." Malaikat itu mendatangi orang buta lalu bertanya, "Apa yang paling engkau senangi?" Orang itu menjawab, "Allah mengembalikan pandanganku sehingga aku bisa melihat manusia." Dia pun mengusapnya lalu Allah mengembalikan pandangannya kepadanya. Malaikat bertanya, "Apa harta yang paling engkau inginkan?" Orang itu menjawab, "Kambing." Orang itu pun dikaruniai kambing yang tengah mengandung. Selang beberapa waktu, unta, sapi dan kambing itu melahirkan anaknya sehingga orang yang tadinya sopak memiliki satu lembah unta, orang yang tadinya botak mempunyai satu lembah sapi, dan orang yang tadinya buta mempunyai satu lembah kambing. Nabi bersabda, "Lantas malaikat tersebut mendatangi si sopak dengan (merubah) rupanya (seperti rupa si sopak) pada saat ia mendatanginya pertama kali, lalu berkata, "Aku adalah lelaki miskin yang kehabisan bekal di tengah perjalanan. Sampai hari ini tidak ada yang memberi pertolongan kepadaku kecuali dengan pertolongan Allah kemudian dengan pertolonganmu. Aku memohon kepadamu atas nama Żat yang telah memberimu warna yang indah dan kulit yang bagus serta harta. Aku minta seekor unta untuk bekal melanjutkan perjalananku." Orang itu menjawab, "Keperluan-keperluanku masih banyak sekali." Malaikat itu bertanya, "Kalau tidak salah, aku mengenalmu. Bukankah engkau dahulu seorang yang berpenyakit sopak yang dijauhi manusia? Dulu engkau miskin lalu Allah memberimu harta?" Orang itu menjawab, "Harta ini warisan dari nenek moyangku." Malaikat tersebut berkata, "Jika engkau berdusta, semoga Allah mengembalikanmu kepada keadaanmu semula." Selanjutnya malaikat itu mendatangi orang botak dengan (merubah) rupanya (seperti rupa si botak) di saat ia mendatanginya pertama kali lalu berkata kepadanya sebagaimana yang dikatakan kepada orang sopak. Orang buta itu menjawab sebagaimana jawaban orang sopak. Malaikat berkata, "Jika engkau berdusta, semoga Allah mengembalikanmu kepada keadaanmu semula." Nabi bersabda, "Malaikat itu mendatangi orang buta dengan (merubah) rupanya (seperti rupa si buta) di saat ia mendatanginya pertama kali lalu berkata, "Aku adalah lelaki miskin yang kehabisan bekal di tengah perjalanan. Sampai hari ini tidak ada yang memberi pertolongan kepadaku kecuali dengan pertolongan Allah kemudian dengan pertolonganmu. Aku memohon kepadamu atas nama Żat yang telah mengembalikan pandanganmu. Aku minta seekor kambing untuk bekal melanjutkan perjalananku." Orang itu berkata, "Dulu aku buta lalu Allah mengembalikan pandanganku. Ambillah (kambing-kambing itu) sesukamu dan sisakan sesukamu. Demi Allah, sekarang aku tidak akan memberatkanmu dengan sesuatu yang engkau ambil karena Allah." Malaikat itu berkata, "Peganglah hartamu. Sesungguhnya kalian telah diuji dan Allah telah meridaimu dan murka kepada dua sahabatmu (si sopak dan si botak)."
Muttafaq 'alaihDerajatHadis sahih
Penjelasan

Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menceritakan tentang kisah tiga orang dari Bani Israil yang masing-masing menderita cacat di tubuh dan kekurangan harta. Mereka itu orang sopak yang menderita penyakit dan kelainan warna di kulitnya, orang botak yang kehilangan rambut di seluruh kepalanya atau sebagiannya, dan orang buta. Allah hendak mencoba dan menguji iman dan sikap syukur mereka. Lantas Allah mengutus seorang malaikat kepada mereka dalam wujud manusia. Malaikat itu mendatangi orang sopak. Dia mendahulukan orang sopak karena penyakitnya sangat buruk, jelek dan berat lalu bertanya kepadanya, "Apa yang paling engkau inginkan?" Orang itu menjawab, "Warna indah dan kulit bagus serta dihilangkan penyakit yang telah menyebabkan orang-orang menjauhiku." Ia tidak hanya meminta warna yang baik karena kulit orang sopak dapat mengerut, mengisut dan kasar yang menambah buruk dan cacat pemiliknya. Malaikat bertanya, "Harta apa yang paling engkau inginkan?" Orang itu menjawab, "Unta" atau dia mengatakan, "Sapi". Perawi ragu-ragu, apakah dia mendengarnya dengan lafal 'unta atau sapi', namun yang benar adalah unta karena sudah dibatasi oleh perkataannya, "Selanjutnya orang itu dikaruniai seekor unta yang sedang bunting sepuluh bulan, dan itu merupakan unta paling berharga." Malaikat berkata, "Semoga Allah memberkahimu dalam unta ini." Doa malaikat tersebut dikabulkan sebagaimana dalam lanjutan hadis ini. Nabi bersabda, "Malaikat itu mendatangi orang botak lalu bertanya, "Apa yang paling engkau inginkan?" Orang itu menjawab, "Rambut bagus dan hilangnya botak yang kuderita yang membuat orang membenciku." Nabi bersabda, "Lantas malaikat itu mengusapnya," baik pada bagian penyakit saja, dan ini pendapat paling dekat, atau seluruh tubuhnya supaya keberkahannya menyeluruh. Kebotakan pun hilang dari orang itu dan ia dianugerahi rambut yang indah. Malaikat bertanya kepadanya, "Harta apa yang paling engkau inginkan?" Orang itu menjawab, "Sapi." Orang itu pun dikaruniai sapi bunting. Malaikat berkata, "Semoga Allah memberkahimu dalam sapi ini." Doa malaikat itu dikabulkan sebagaimana dalam kelanjutan hadis ini. Nabi bersabda, "Lantas malaikat itu mendatangi orang buta lalu bertanya, "Apa hal yang paling engkau inginkan?" Orang itu menjawab, "Allah mengembalikan pandanganku sehingga aku bisa melihat manusia." Nabi bersabda, "Lantas malaikat itu mengusapkan tangannya ke kedua matanya," dan mungkin saja ke seluruh tubuhnya, namun pendapat pertama lebih mendekati kebenaran sebagaimana yang sudah dipaparkan. Allah pun mengembalikan pandangannya. Malaikat bertanya, "Harta apa yang paling engkau sukai?" Orang itu menjawab, "Kambing." Lantas orang itu dianugerahi seekor kambing beranak. Ada yang berpendapat seekor kambing bunting. Para pemilik unta dan sapi (si sopak dan si botak) kemudian mengurusi kelahirannya. Demikian juga pemilik kambing (si buta) tersebut. Selanjutnya orang sopak memiliki satu lembah unta, orang botak memiliki satu lembah sapi, dan orang buta memiliki satu lembah kambing. Al-'Ainī berkata, "Beliau memperhatikan kebiasaan penggunaan (kata) di mana beliau bersabda mengenai unta dan sapi dengan ungkapan, "Antaja," (berkembangbiak) dan mengenai kambing dengan ungkapan, "Walada" (beranak). Nabi bersabda, "Selanjutnya malaikat tersebut mendatangi orang sopak dalam wujud orang sopak tersebut ketika pertama kali ia mendatanginya dan mengenakan pakaian jelek. Setelah orang sopak itu sembuh dan kaya, malaikat mendatanginya dalam rupa (orang sopak sebelumnya) saat malaikat pertama kali datang kepadanya, lalu berkata, "Aku lelaki miskin yang membutuhkan makanan. Aku sudah kehabisan bekal dan sarana untuk melanjutkan perjalananku. Sekarang aku tidak bisa lagi sampai ke tempat yang aku inginkan kecuali atas pertolongan Allah kemudian pertolonganmu karena penampilanmu yang baik dan kaya. Ungkapan dari malaikat ini mengandung sindiran yang tujuannya memahamkan suatu maksud dengan ungkapan yang dipahami bukan sesuai hakekatnya. Ia berkata, "Aku bersumpah kepadamu dengan meminta belas kasihan Żat yang telah memberimu warna indah dan kulit bagus serta harta setelah diuji dengan kefakiran dan penyakit. Aku minta satu ekor unta yang cukup untuk perjalananku." Orang sopak menjawab, "Kebutuhan-kebutuhanku sangat banyak sehingga tidak ada kelebihan harta yang bisa aku berikan kepadamu. Carilah pada selainku." Malaikat berkata, "Tampaknya aku mengenalmu. Bukankah dulu engkau sopak sehingga manusia membencimu lalu Allah menyembuhkanmu? Dulu engkau fakir lalu Allah memberimu harta?" Orang itu berkata, "Sesungguhnya aku mewarisi harta ini dari nenek moyangku." Ringkasnya, orang itu memungkiri keadaan dirinya yang buruk tersebut sebelumnya, dan mengklaim bahwa harta itu berkembang dalam situasi dirinya yang baik, alias harta itu bukan hal yang baru bagi dirinya. Tentunya ini termasuk sikap mengingkari nikmat dan kufur terhadap pemberi nikmat tersebut, faktornya adalah sifat kekikirannya. Malaikat berkata, "Jika engkau berdusta dalam pengakuanmu, semoga Allah mengembalikanmu kepada kondisimu yang semula." Nabi bersabda, "Malaikat tersebut mendatangi orang botak dalam wujud orang botak tersebut sebelumnya, yang dijauhi manusia dan rupanya yang dihina karena keadaannya yang compang-camping. Meskipun malaikat mendatangi orang itu dengan wujud dan rupa (orang botak itu sendiri) saat dia mendatanginya pertama kali yang kemudian ia memperoleh kesembuhan dan kekayaan, namun ternyata orang botak itu mengklaim tidak mengenalnya, pura-pura tidak mengetahuinya, dan bahkan membanggakan diri kepadanya bahwa harta tersebut berasal dari warisan bapaknya. Selain berdusta, orang ini juga menampakkan berbagai sikap buruk yang mengisyaratkan bahwa dia telah mencapai puncak celaan dan ketololan yang tidak pernah dicapai selainnya. Lantas malaikat itu berkata kepadanya sebagaimana yang dikatakannya kepada orang sopak. Orang botak itu pun menjawab sebagaimana jawaban orang sopak. Malaikat berkata, "Jika engkau berdusta, semoga Allah menjadikanmu kembali kepada kondisimu yang semula yaitu botak dan fakir." Nabi bersabda, "Malaikat tersebut mendatangi orang buta dengan merubah wujud menjadi manusia buta dan dalam rupa si buta yang pertama kali bertemu dahulu. Malaikat itu berkata, "Aku lelaki miskin dan musafir yang telah kehabisan bekal perjalanan. Sekarang aku tidak bisa sampai ke tempatku kecuali dengan pertolongan Allah kemudian pertolonganmu. Aku memohon kepadamu dengan nama Żat yang telah mengembalikan pandanganmu. Aku minta seekor kambing yang cukup untuk perjalananku." Orang itu menjawab dengan mengingat nikmat Allah kepadanya dan kondisinya yang baik setelah ditimpa kemelaratan, "Dulu aku buta lalu Allah mengembalikan pandanganku. Ambillah harta sesukamu dan tinggalkan sesukamu. Demi Allah, sekarang aku tidak akan memberatkanmu untuk mengembalikan apa yang telah engkau ambil." Malaikat tersebut berkata, "Peganglah hartamu! Sesungguhnya aku hanya menguji kalian, dan Allah Yang mengetahui segala urusan memperlakukanmu dengan perlakuan seorang penguji supaya menghasilkan jejak-Nya pada amal kalian. Sebab, balasan itu hanya Allah berikan berdasarkan apa yang tampak di alam nyata bukan apa yang sudah diketahui-Nya. Dia telah rida kepadamu dan murka kepada kedua sahabatmu yang sopak dan botak."

Rujukan

صحيح البخاري، المحقق : محمد زهير بن ناصر الناصر، الناشر: دار طوق النجاة، الطبعة: الأولى 1422هـ. صحيح مسلم بن الحجاج، المحقق: محمد فؤاد عبد الباقي، الناشر: دار إحياء التراث العربي، بيروت. القول المفيد على كتاب التوحيد، للشيخ محمد بن صالح العثيمين دار ابن الجوزي، المملكة العربية السعودية، الطبعة: الثانية، محرم 1424هـ. الملخص في شرح كتاب التوحيد، للشيخ صالح الفوزان دار العاصمة الرياض، الطبعة: الأولى 1422هـ- 2001م. الجديد في شرح كتاب التوحيد، للشيخ محمد بن عبد العزيز القرعاوي، مكتبة السوادي، جدة، المملكة العربية. دليل الفالحين لطرق رياض الصالحين لمحمد علي بن محمد بن علان، ط4، اعتنى بها: خليل مأمون شيحا، دار المعرفة، بيروت، 1425 هـ.

Hadis ini di HadeethEnc.com

Tidak ada orang yang dapat berbicara saat masih dalam buaian kecuali tiga orang

عن أبي هريرة رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: «لم يتكلَّم في المهد إلا ثلاثة: عيسى ابن مريم، وصاحب جرَيج، وكان جُريج رجلًا عابِدا، فاتخذ صَوْمَعَة فكان فيها، فأتته أمه وهو يصلي، فقالت: يا جريج، فقال: يا رَبِّ أُمِّي وصلاتي فأقبل على صلاته فانْصَرفت. فلمَّا كان من الغَدِ أتَتْهُ وهو يصلي، فقالت: يا جُريج، فقال: أي رَبِّ أمِّي وصلاتي، فأقبل على صلاته، فلمَّا كان من الغَدِ أتَتْهُ وهو يصلي، فقالت: يا جُريج، فقال: أي رَبِّ أمِّي وصلاتي، فأقبل على صلاته، فقالت: اللَّهُمَّ لاَ تُمِتْهُ حتى يَنظر إلى وجوه المُومِسَاتِ. فتذاكر بَنُو إسرائيل جُريجا وعبادته، وكانت امرأة بَغِيٌّ يُتَمَثَّلُ بحُسنها، فقالت: إن شِئتم لأَفْتِنَنَّهُ، فتَعرَّضت له، فلم يَلتَفت إليها، فأتت راعِيا كان يَأوِي إلى صَوْمَعَتِهِ، فَأَمْكَنَتْه من نَفسِها فوقع عليها، فحملت، فلمَّا ولدت، قالت: هو من جُريج، فَأتَوْهُ فَاسْتَنْزَلُوهُ وهدَمُوا صَومَعتَه، وجَعَلوا يَضربونه، فقال: ما شَأنُكم؟ قالوا: زَنَيْتَ بهذه البَغِيِّ فولَدَت منك. قال: أين الصَّبي؟ فجاؤَوا به فقال: دَعوني حتى أُصلَّي، فصلَّى فلمَّا انْصرف أتى الصَّبي فَطَعن في بَطنه، وقال: يا غُلام مَنْ أبوك؟ قال: فلانٌ الراعي، فأقبلوا على جُريج يقبلونه ويَتمسَّحون به، وقالوا: نَبْنِي لك صَوْمَعَتَكَ من ذهب. قال: لا، أعِيدُوها من طين كما كانت، ففعلوا. وبينا صبي يَرضع من أُمِّهِ فمرَّ رجل راكب على دابة فَارِهة وَشَارَةٍ حسَنَة، فقالت أمه: اللهم اجعل ابْني مثل هذا، فَترك الثَّدْي وأقْبَلَ إليه فنَظَر إليه، فقال: اللَّهم لا تجعلني مثْلَه، ثم أقْبَلَ على ثَدْيه فجعل يَرتضع»، فكأني أنظر إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم وهو يَحكي ارتْضَاعه بِأصْبَعِهِ السَّبَّابَة في فِيه، فجعل يَمُصُّهَا، قال: «ومَرُّوا بجارية وهم يَضْرِبُونها، ويقولون: زَنَيْتِ سَرقت، وهي تقول: حَسبي الله ونعم الوكيل. فقالت أمه: اللَّهم لا تجعل ابني مِثلها، فترك الرَّضاع ونظر إليها، فقال: اللَّهم اجعلني مِثْلَها، فَهُنَالك تَرَاجَعَا الحديث، فقالت: مرَّ رجلٌ حَسَنُ الهَيْئَةِ ، فقلت: اللَّهم اجعل ابْنِي مِثْلَه، فقلت: اللَّهم لا تَجْعَلْنِي مِثْله، ومَرُّوا بهذه الأَمَة وهم يَضربونها ويقولون: زَنَيْتِ سَرقت، فقلت: اللَّهم لا تجعل ابني مِثلها، فقلت: اللَّهم اجعلني مِثلها؟! قال: إن ذلك الرَّجُل كان جبَّارا، فقلت: اللَّهم لا تجعلني مِثْله، وإن هذه يقولون: زَنَيْتِ، ولم تَزْنِ وسَرقْتِ، ولم تَسْرِقْ، فقلت: اللَّهم اجْعَلْنِي مِثْلَهَا».
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-, dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, dia berkata, "Tidak ada orang yang dapat berbicara saat masih dalam buaian kecuali tiga orang; (Pertama) Isa bin Maryam. (Kedua) Seseorang pada kisah Juraij. Juraij asalnya adalah orang yang taat beribadah. Lalu dia membuat tempat ibadah. Ibunya mendatanginya ketika dia sedang salat dan memanggilnya, "Wahai Juraij." Dia (Juraij) berkata (dalam hati), "Ya Tuhanku! Apakah aku penuhi panggilan ibuku atau aku teruskan salatku. Akhirnya dia teruskan salatnya. Lalu sang ibu pulang. Keesokan harinya sang ibu datang lagi saat Juraij sedang salat. Dia berkata, "Wahai Juraij." Juraij berkata (dalam hati), "Ya Tuhanku! Apakah aku penuhi panggilan ibuku atau aku teruskan salatku. Lalu dia memilih meneruskan salatnya. Keesokan harinya sang ibu datang lagi saat Juraij sedang salat. Dia berkata, "Wahai Juraij." Juraij berkata (dalam hati), "Ya Tuhanku! Apakah aku penuhi panggilan ibuku atau aku teruskan salatku. Lalu dia memilih meneruskan salatnya. Maka berkatalah sang ibu, "Ya Allah! Jangan matikan dia sebelum melihat wajah pelacur." Maka Bani Israel menyebut-nyebut Juraij dan ibadahnya. Kemudian ada seorang wanita pelacur yang terkenal cantik, dia berkata, "Kalau kalian mau, saya akan menggodanya." Lalu dia menggodanya, namun Juraij tak mempedulikannya. Maka wanita pelacur itu mendatangi seorang penggembala yang sedang berteduh di bawah rumah ibadah itu. Lalu dia menggodanya untuk berbuat zina. Maka terjadilah perzinaan di antara mereka. Kemudian wanita itu hamil. Ketika telah melahirkan, dia berkata, 'Ini anak dari Juraij.' Masyarakat pun mendatanginya dan memaksanya turun lalu rumah ibadahnya dirobohkan. Merekapun memukulinya. Dia berkata, 'Ada apa kalian ini?' Mereka berkata, 'Engkau telah berzina dengan wanita pelacur ini sehingga dia melahirkan anak darimu.' Juraij berkata, 'Mana anaknya?' Mereka membawakan bayi tersebut. Dia berkata, "Biarkan aku salat!" Lalu dia salat. Setelah selesai salat dia datangi anak bayi tersebut dan dia tekan perutnya seraya berkata, "Wahai anak kecil, siapa bapakmu?" Anak itu menjawab, "Si penggembala" Maka orang-orang mengerumuni Juraij, mencium dan mengusap-usapnya. Mereka berkata, "Kami akan bangunkan rumah ibadahmu dari emas." Dia berkata, "Tidak, bangunlah kembali dari tanah liat seperti semula!" Lalu mereka kerjakan. (Ketiga) ketika seorang bayi sedang menyusu pada ibunya, lewatlah seseorang yang menunggang kendaraannya yang tampak mewah dan berpenampilan bagus. Sang ibu berkata, "Ya Allah! Jadikanlah anakku seperti orang itu." Lalu sang bayi melepas sedotan dari payudara ibunya dan memandang orang itu seraya berkata, "Ya Allah! Jangan jadikan aku seperti orang itu!" Kemudian dia kembali menyusu kepada ibunya lagi. Aku melihat Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mempraktekkan anak yang sedang menyusu tersebut dengan mememasukkan jari telunjuknya ke mulutnya dan beliau hisap. Kemudian beliau melanjutkan perkataannya, "Lalu lewat lagi seorang budak wanita yang sedang dipukul orang-orang seraya berkata, "Engkau telah berzina dan mencuri, sedangkan wanita tersebut hanya berkata, "Ḥasbiyallāhu wa ni'mal wakīl." Maka sang ibu berkata, "Ya Allah! Jangan jadikan anakku seperti dia." Lalu anak itu melepas susuannya dan memandang ibunya, kemudian dia berkata, "Ya Allah! Jadikanlah aku seperti dia." Maka ibu dan anak itu saling berbicara. Sang ibu berkata, "Ketika ada orang yang berpenampilan bagus, aku berdoa, Ya Allah! Jadikan puteraku seperti dia", engkau katakan, "Ya Allah! Jangan jadikan aku seperti dia." Lalu ketika ada seorang budak wanita yang sedang dipukuli seraya mereka berkata, "Engkau telah berzina dan mencuri" Lalu aku berdoa, "Ya Allah! Jangan jadikan puteraku seperti dia". Lalu engkau berkata, "Ya Allah! Jadikan aku seperti dia?!" Anak itu berkata, "Laki-laki itu adalah orang yang angkuh, maka aku berdoa, "Ya Allah! Jangan jadikan aku seperti dia." Sedangkan terhadap orang yang kalian katakan, "Engkau telah berzina dan mencuri, dia tidak berzina dan tak mencuri. Maka aku berdoa, "Ya Allah! Jadikan aku seperti dia."
Muttafaq 'alaihDerajatHadis sahih
Penjelasan

Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, beliau bersabda, "Tidak ada yang berbicara ketika masih dalam buaian kecuali tiga orang." Maksudnya hari-hari pertama ketika dia masih bayi. Mereka adalah: Pertama: Isa bin Maryam -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Isa bin Maryam adalah salah satu di antara tanda kebesaran Allah, dia dapat berbicara saat berada dalam ayunan. Kedua: Seorang anak pada masa Juraij. Juraij adalah seorang ahli ibadah. Allah bebaskan Juraij dari tuduhan yang hendak dialamatkan kepadanya dengan memperlihatkan karomah padanya yaitu dengan berbicaranya anak bayi yang menjelaskan bahwa dia tidak salah. Dia membuat tempat ibadah. Suatu hari, ibunya datang ketika dia sedang salat, "Wahai Juraij." Dia (Juraij) berkata (dalam hati), "Ya Tuhanku, apakah aku penuhi panggilan ibuku atau aku teruskan salatku. Dia bimbang, apakah memutuskan salat untuk menjawab ibunya atau meneruskan salatnya. Akhirnya dia teruskan salatnya. Lalu sang ibu pulang. Keesokan harinya sang ibu datang lagi saat Juraij sedang salat. Maka kejadian seperti kemaren terulang kembali. Keesokan harinya, sang ibu datang lagi saat Juraij sedang salat, dan kejadian kemaren terulang kembali. Maka sang ibu berdoa, "Ya Allah! Jangan matikan dia sebelum melihat wajah pelacur." Maka Bani Israel menyebut-nyebut Juraij dan ibadahnya. Kemudian ada seorang wanita pelacur yang terkenal cantik, dia berkata, "Kalau kalian mau, saya akan menggodanya, sehingga dia meninggalkan salatnya dan terjerumus ke dalam perzinaan." Lalu dia menggodanya, namun Juraij tak mempedulikannya. Maka wanita pelacur itu mendatangi seorang penggembala dan berzina dengannya. Kemudian wanita itu hamil. Ketika telah melahirkan, dia berkata, 'Ini anak dari Juraij.' Masyarakat pun mendatanginya dan memaksanya turun lalu rumah ibadahnya dirobohkan. Merekapun memukulinya. Dia berkata, 'Ada apa kalian ini?' Mereka berkata, 'Engkau telah berzina dengan wanita pelacur ini sehingga dia melahirkan anak darimu.' Juraij berkata, 'Mana anaknya?' Merekapun membawakan bayi tersebut. Dia berkata, "Biarkan aku salat!" Lalu dia salat. Setelah selesai salat dia datangi anak bayi tersebut dan dia tekan perutnya seraya berkata, "Wahai anak kecil, siapa bapakmu?" Anak itu menjawab, "Si penggembala" Maka orang-orang mengerumuni Juraij, mencium dan mengusap-usapnya. Mereka berkata, "Kami akan bangunkan rumah ibadahmu dari emas." Dia berkata, "Tidak, bangunlah kembali dari tanah liat seperti semula!" Lalu mereka kerjakan. Ketiga: Bayi yang sedang menyusu kepada ibunya. Lalu lewat seorang laki-laki menunggang kudanya yang mewah dengan penampilan yang bagus. Dan Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- saat menyebutkan kisah anak yang menyusu itu dengan praktek memasukkan jari telunjuknya ke mulutnya dan menghisapnya untuk memperjelas masalah. Lalu sang ibu berkata, "Ya Allah! Jadikanlah anakku seperti orang itu." Maka sang anak berkata, "Ya Allah! Jangan jadikan aku seperti dia!" Kemudian mereka mendapati seorang budak wanita yang sedang dipukuli sambil mereka berkata, "Engkau telah berzina dan mencuri." Sementara wanita itu berkata, "Ḥasbunallāhu wa ni'mal wakīl." Maka ibu anak kecil itu berkata sambil menyusui, "Ya Allah! Jangan jadikan anakku seperti dia." Lalu sang anak melepaskan susuannya dan melihat ke orang itu dan berkata, "Ya Allah! Jadikan aku seperti dia?" Lalu ibu dan anak itu terlibat pembicaraan. Sang ibu berkata, "Aku melewati seseorang yang berpenampilan baik, lalu aku berkata, "Ya Allah! Jadikan anakku seperti dia." Kemudian engkau berkata, "Ya Allah! Jangan jadikan aku seperti dia." Sang anak berkata, "Ya. Karena orang itu adalah orang yang keras dan pembangkang, makanya aku mohon kepada Allah agar Dia tidak menjadikan aku sepertinya." Adapun wanita yang kalian katakan, "Engkau berzina dan mencuri" sementara wanita itu berkata, "Ḥasbiyallāhu wa ni'mal wakīl". Maka aku katakan, "Ya Allah! Jadikan aku seperti dia". Maksudnya adalah jadikanlah aku suci dari perbuatan zina dan mencuri sambil menyerahkan urusanku kepada Allah seperti ucapannya, "Ḥasbiyallāhu wa ni'mal wakīl." (Dalil Al-Falihin, 3/81,87, Syarah Riyadhus-Shalihin, Ibnu Utsaimin, 3/70,78.

Rujukan

كنوز رياض الصالحين، تأليف: حمد بن ناصر بن العمار، الناشر: دار كنوز أشبيليا، الطبعة الأولى: 1430 هـ. بهجة الناظرين، تأليف: سليم بن عيد الهلالي، الناشر: دار ابن الجوزي ، سنة النشر: 1418 هـ- 1997م. نزهة المتقين، تأليف: جمعٌ من المشايخ، الناشر: مؤسسة الرسالة، الطبعة الأولى: 1397 هـ، الطبعة الرابعة عشر 1407 هـ. شرح رياض الصالحين، تأليف: محمد بن صالح العثيمين، الناشر: دار الوطن للنشر، الطبعة: 1426 هـ. رياض الصالحين، تأليف: محيي الدين يحيى بن شرف النووي، تحقيق: د. ماهر بن ياسين الفحل ، الطبعة: الأولى، 1428 هـ. دليل الفالحين، تأليف: محمد بن علان، الناشر: دار الكتاب العربي، نسخة الإلكترونية ، لا يوجد بها بيانات نشر. صحيح البخاري، تأليف: محمد بن إسماعيل البخاري، تحقيق: محمد زهير الناصر، الناشر: دار طوق النجاة الطبعة: الأولى، 1422هـ. صحيح مسلم، تأليف: مسلم بن الحجاج النيسابوري، تحقيق: محمد فؤاد عبد الباقي الناشر: دار إحياء التراث العربي – بيروت. دروس وعبر من صحيح القصص النبوي، تأليف: شحاتة محمد صقر، الناشر: مكتبة دار العلوم، البحيرة، مصر.

Hadis ini di HadeethEnc.com

Sungguh, aku akan menyedekahkan satu sedekah. Lantas ia keluar membawa sedekahnya dan meletakkannya di tangan seorang pencuri

عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: «قال رجل لأَتَصَدَّقَنَّ بصدقة، فخرج بصدقته فوضعها في يد سارق، فأصبحوا يتحدثون: تُصُدِّقَ على سارق! فقال: اللهم لك الحمد لأَتَصَدَّقَنَّ بصدقة، فخرج بصدقته فوضعها في يد زانية؛ فأصبحوا يتحدثون: تُصُدِّقَ الليلة على زانية! فقال: اللهم لك الحمد على زانية! لأَتَصَدَّقَنَّ بصدقة، فخرج بصدقته فوضعها في يد غني، فأصبحوا يتحدثون: تُصُدِّقَ على غني؟ فقال: اللهم لك الحمد على سارق وعلى زانية وعلى غني! فأتي فقيل له: أما صدقتك على سارق فلعله أن يَسْتَعِفَّ عن سرقته، وأما الزانية فلعلها تَسْتَعِفُّ عن زناها، وأما الغني فلعله أن يَعْتَبِرَ فيُنْفِقَ مما أعطاه الله».
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Seseorang mengatakan, sungguh, aku akan menyedekahkan satu sedekah. Lantas ia keluar membawa sedekahnya dan meletakkannya di tangan seorang pencuri. Keesokan harinya orang-orang membicarakan, "Ada seorang pencuri diberi sedekah!" Orang itu berkata, "Ya Allah, bagi-Mu segala pujian, sungguh aku akan menyedekahkan satu sedekah lagi." Ia keluar membawa sedekahnya lalu meletakkannya di tangan wanita pezina. Keesokan harinya orang-orang membicarakan, "Semalam seorang pezina diberi sedekah!" Ia berkata, "Ya Allah, bagi-Mu segala pujian atas (rezeki yang Engkau berikan pada) seorang pezina. Sungguh aku akan menyedekahkan satu sedekah lagi." Ia keluar membawa sedekahnya lalu meletakkannya di tangan orang kaya. Pagi harinya orang-orang membicarakan, "Seorang kaya diberi sedekah!" Ia berkata, "Ya Allah, bagi-Mu segala pujian atas (rezeki yang engkau berikan) pada seorang pencuri, seorang pezina dan orang kaya." Orang itu didatangi dan dikatakan padanya, "Tentang sedekahmu pada pencuri barangkali ia akan menghentikan tindak pencuriannya, tentang (sedekahmu) pada wanita pezina barangkali ia akan menghentikan praktek zinanya dan tentang (sedekahmu) pada orang kaya barangkali ia mengambil pelajaran lalu menginfakkan sebagian harta yang Allah berikan padanya."
Muttafaq 'alaihDerajatHadis sahih
Penjelasan

Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menyampaikan pada kita salah satu berita dari umat yang telah berlalu untuk diambil pelajarannya. Beliau bersabda yang maknanya; seseorang keluar untuk bersedekah dan sebagaimana yang sama-sama diketahui bahwa sedekah itu biasanya diberikan pada kaum fakir dan miskin, namun sedekahnya ini ternyata jatuh ke tangan pencuri. Maka, pada pagi harinya orang-orang memperbincangkan, "Tadi malam seorang pencuri malah diberi sedekah, padahal pencuri itu perlu dihukum, bukan malah diberi dan diperbanyak hartanya." Orang yang bersedekah ini hanya mengucapkan, "Segala puji bagi Allah", karena Allah -Ta'ālā- itu terpuji dalam segala keadaan. Kemudian orang tersebut keluar dan mengatakan, "Malam ini sungguh aku akan bersedekah lagi." Tapi sedekahnya jatuh di tangan seorang pelacur yang membiarkan orang melakukan zina dengannya. Pagi harinya orang-orang memperbincangkan, "Semalam seorang pelacur diberi sedekah, dan ini adalah hal yang tidak masuk akal dan tidak sesuai fitrah." Ia hanya berkata, "Segala puji bagi Allah." Kemudian mengucapkan, "Sungguh malam ini akan bersedekah lagi." -Sepertinya ia melihat sedekahnya yang pertama dan kedua tidak diterima-. Ia pun memberikan sedekah dan ternyata jatuh di tangan orang kaya, padahal orang kaya itu tidak layak diberi sedekah, namun ia seharusnya diberi hadiah, hibah dan semacamnya. Orang-orang pun memperbincangkan, "Semalam orang kaya malah diberi sedekah." Ia berkata, "Segala puji bagi Allah atas (rezeki yang Dia berikan) pada pencuri, pelacur dan orang kaya." Sebenarnya, ia ingin sedekahnya jatuh di tangan orang fakir yang menahan diri dari mengemis, akan tetapi keputusan Allah telah ditetapkan. Maka dikatakan pada orang itu melalui Nabi umat tersebut, "Ketiga sedekahmu telah diterima." Sebabnya adalah ia ikhlash dan telah meniatkan kebaikan, hanya saja hal itu tidak bisa ia wujudkan. Tentang pencuri (yang diberi sedekah), barangkali (dengan sedekah itu) ia akan menghentikan perbuatan mencurinya seraya mengatakan, "Harta ini telah mencukupiku." Sedang pelacur, barangkali (dengan sedekah itu) ia menghentikan praktek zina, karena bisa jadi ia berzina -kita berlindung pada Allah darinya- untuk mencari harta, dan ia telah memperoleh harta yang membuatnya menahan diri dari berzina. Adapun orang kaya, barangkali (dengan sedekah itu) ia bisa mengambil pelajaran lalu menginfakkan sebagian harta yang Allah berikan padanya.

Rujukan

صحيح البخاري، محمد بن إسماعيل البخاري، تحقيق محمد زهير بن ناصر الناصر، الناشر: دار طوق النجاة، الطبعة : الأولى 1422هـ. صحيح مسلم، المحقق: محمد فؤاد عبد الباقي، الناشر: دار إحياء التراث العربي، بيروت. نزهة المتقين شرح رياض الصالحين، تأليف د/ مصطفى الخن، د/ مصطفى البغا، محيي الدين مستو، علي الشربجي، محمد أمين لطفي، مؤسسة الرسالة، ط:الرابعة عشر1407هـ. دليل الفالحين لطرق رياض الصالحين، لابن علان، نشر دار الكتاب العربي. بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين، تأليف سليم بن عيد الهلالي، دار ابن الجوزي. شرح رياض الصالحين، لابن عثيمين، نشر: دار الوطن للنشر، الرياض، الطبعة: 1426هـ. تطريز رياض الصالحين، لفيصل الحريملي، نشر: دار العاصمة، الرياض، الطبعة: الأولى، 1423هـ - 2002م.

Hadis ini di HadeethEnc.com

Ada tiga orang yang sedang berjalan kemudian hujan turun menimpa mereka. Lantas mereka masuk ke dalam gua di sebuah gunung. Tiba-tiba sebuah batu jatuh menutupi gua mereka.

عن ابن عمر رضي الله عنهما ، عن النبي صلى الله عليه وسلم ، قال: «خرج ثلاثةُ نَفَرٍ يمشون فأصابهم المَطَر، فدَخَلوا في غارٍ في جبَل، فانْحَطَّت عليهم صَخْرةٌ، قال: فقال بعضُهم لبعض: ادعوا اللهَ بأفضلِ عَمَلٍ عَمِلتموه، فقال أحدُهم: اللهمَّ إني كان لي أبَوَانِ شَيْخانِ كبيران، فكنتُ أخرج فَأَرْعى، ثم أَجيء فأحْلِب فأجيء بالحِلاب، فآتي به أبويَّ فيَشْربان، ثم أسِقِيَ الصِّبْيَة وأهلي وامرأتي، فاحتَبَستُ ليلة، فجئتُ فإذا هما نائمان، قال: فكرهتُ أن أُوقِظَهما، والصِّبية يَتَضَاغَوْن عند رِجْلي، فلم يزل ذلك دَأْبي ودَأْبَهما، حتى طلَع الفجر، اللهم إن كنتَ تَعْلَمُ أنِّي فعلتُ ذلك ابْتغاء وجهِك، فافرُجْ عنا فُرْجة نرى منها السماء، قال: فَفُرِج عنهم، وقال الآخر: اللهم إن كنتَ تعلم أني كنتُ أُحبُّ امرأةً مِن بنات عمي كأشَدِّ ما يُحبُّ الرجلُ النساء، فقالت: لا تَنال ذلك منها حتى تعطيها مائة دينار، فسَعيْتُ فيها حتى جَمَعتُها، فلما قَعَدتُ بيْن رِجليْها قالت: اتقِ الله ولا تَفُضَّ الخاتَمَ إلا بحقِّه، فقمتُ وتركتُها، فإن كنتَ تعْلَم أنِّي فعلتُ ذلك ابتغاء وجهِك، فافرُجْ عنا فُرْجَة، قال: ففُرِج عنهم الثُّلُثيْنِ، وقال الآخر: اللهم إن كنتَ تعْلَم أني اسْتَأجَرْتُ أجيرًا بفَرَق من ذُرَة فأعْطيتُه، وأَبَى ذاك أنْ يأخُذَ، فعَمَدتُ إلى ذلك الفَرَق فزرعتُه، حتى اشتريتُ منه بقرًا وراعِيها، ثم جاء فقال: يا عبد الله أعْطِني حَقِّي، فقلتُ: انطلقْ إلى تلك البقر وراعِيها فإنها لك، فقال: أتستهْزِئ بي؟ قال: فقلت: ما أستهزئ بك ولكنها لك، اللهم إن كنتَ تعلم أنِّي فعلتُ ذلك ابتغاء وجهك، فافْرُجْ عنا فكُشِف عنهم».
Dari Ibnu Umar -raḍiyallāhu 'anhumā-, dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, beliau bersabda, "Ada tiga orang yang sedang berjalan kemudian hujan turun menimpa mereka. Lantas mereka masuk ke dalam gua di sebuah gunung. Tiba-tiba sebuah batu jatuh menutupi gua mereka." Beliau melanjutkan, "Kemudian mereka saling mengatakan kepada yang lainnya, "Berdoalah kepada Allah dengan (perantaraan) amal paling utama yang telah kalian lakukan." Seseorang dari mereka berdoa, "Ya Allah! Dahulu aku memiliki kedua orangtua yang sudah renta. Setiap hari aku keluar untuk menggembala. Setelah itu aku pulang dan memerah susu, lalu aku datang dengan membawa susu dan memberikannya kepada kedua orangtuaku sehingga mereka meminumnya. Selanjutnya aku memberikannya kepada anak-anak, keluarga, dan istriku. Pada suatu malam, aku terlambat pulang sehingga ketika aku datang ternyata kedua orangtuaku sudah tidur." Dia berkata, "Aku tidak suka membangunkan keduanya sedangkan anak-anakku meliuk-liuk di bawah kakiku karena kelaparan. Begitulah kondisiku dan kondisi kedua orangtuaku hingga tiba waktu Subuh. Ya Allah! Seandainya Engkau mengetahui apa yang aku kerjakan itu semata-mata karena mencari rida-Mu, maka bukakanlah celah untuk kami agar kami dapat melihat langit darinya". Beliau bersabda, "Maka terbukalah sedikit celah untuk mereka." Orang kedua berkata, "Ya Allah! Sungguh Engkau mengetahui bahwa aku seorang lelaki yang sangat mencintai seorang putri pamanku seperti kebanyakan laki-laki yang sangat mencintai wanita. Wanita itu berkata, "Engkau tidak akan bisa mendapatkannya (cintanya) kecuali engkau dapat memberi uang sebanyak seratus dinar." Maka aku berusaha bekerja dan berhasil mengumpulkan uang tersebut. Ketika aku hendak menyetubuhinya, dia berkata, "Bertakwalah kepada Allah, dan janganlah kamu renggut keperawanan kecuali dengan haq." Maka aku berdiri lalu pergi meninggalkan wanita tersebut. Ya Allah! Seandainya Engkau mengetahui apa yang aku kerjakan itu semata-mata karena mencari rida-Mu, maka bukakanlah celah untuk kami." Beliau bersabda, "Maka terbukalah dua pertiga dari batu yang menutup pintu gua. Kemudian orang yang ketiga berkata, "Ya Allah, Sungguh Engkau mengetahui bahwa aku pernah mempekerjakan seseorang dengan upah satu faraq (16 kati) gandum, lalu aku memberikan upah itu padanya namun dia tidak mau menerimanya. Lalu aku sengaja menanam satu faraq gandum tersebut sehingga dengan hasilnya aku bisa membeli sapi dan seorang pengembalanya. Kemudian di suatu hari orang itu datang kepadaku seraya berkata, "Wahai hamba Allah, berikanlah upahku yang dulu!" Lalu aku katakan, "Lihatlah sapi dan penggembalanya itu, itu semua milikmu." Dia berkata, "Apakah kamu mengolok-olokku!" Dia berkata, "Aku katakan, "Aku tidak mengolok-olok kamu tetapi itu semua benar milikmu." Ya Allah, Seandainya Engkau mengetahui apa yang aku kerjakan itu semata-mata karena mencari rida-Mu, maka bukakanlah celah untuk kami." Akhirnya mereka bisa terbebas dari gua tersebut."
Muttafaq 'alaihDerajatHadis sahih
Penjelasan

Ada tiga orang keluar untuk berjalan lalu hujan menimpa mereka. Lantas mereka masuk ke dalam gua untuk berlindung dari derasnya hujan. Tiba-tiba sebongkah batu jatuh menutupi pintu gua. Sebagian mereka berkata kepada yang lainnya, "Berdoalah kepada Allah dengan amal paling utama yang telah kalian kerjakan. Mudah-mudahan Allah melapangkan jalan bagi kalian dan menggeser batu ini." Salah seorang dari mereka berdoa, "Ya Allah, sesungguhnya aku mempunyai bapak dan ibu yang sudah tua renta. Aku biasa keluar menuju tempat penggembalaan dan menggembalakan untaku. Lalu aku datang ke tempat penggembalaan kemudian memerah untaku. Selanjutnya aku membawa susu tersebut dan memberikannya kepada kedua orang tuaku sehingga mereka meminumnya. Selanjutnya aku memberi minum anak-anakku yang masih kecil, istriku, dan keluargaku yang lain; saudara dan saudariku. Pada suatu malam aku terlambat datang disebabkan ada hal yang menghalangiku. Ternyata bapak dan ibuku sudah tidur. Aku pun memeras susu sebagaimana biasanya lalu aku berdiri di sisi kepala keduanya karena enggan untuk membangunkan mereka. Aku juga enggan untuk memberi minum anak-anakku dan keluargaku sebelum keduanya minum. Sementara itu anak-anakku menangis dan berteriak di kakiku karena sangat lapar. Demikianlah keadaanku dan keadaan keduanya hingga terbit fajar dan keduanya terbangun. Lalu aku memberi minum keduanya kemudian anak-anakku. Ya Allah, jika engkau tahu bahwa aku melakukan itu karena mencari keridaan-Mu, maka geserkanlah batu ini sedikit hingga kami dapat melihat langit." Allah pun melapangkan celah untuk mereka hingga dapat melihat langit. Orang kedua berkata, "Ya Allah, sesungguhnya aku dulu sangat mencintai salah seorang putri pamanku. Lantas aku menggodanya tapi dia menolakku kecuali jika aku memberinya seratus dinar. Aku pun berhasil mendapatkan seratus dinar lalu memberikannya kepadanya. Setelah aku berhasil menguasainya dan akan melakukan hubungan badan, ia berkata kepadaku, "Takutlah kepada Allah dan jangan lakukan hal yang haram, dan janganlah engkau koyak keperawananku kecuali dengan cara halal." Seketika aku pun berdiri dari hadapannya dan meninggalkannya tanpa melakukan apapun kepadanya. Ya Allah, jika engkau mengetahui bahwa aku melakukan itu karena mencari keridaan-Mu, maka geserkanlah batu ini dari kami." Allah pun menggeserkan dua pertiga batu itu dari tempatnya. Orang ketiga berkata, "Ya Allah, sesungguhnya aku dulu mengupah seorang buruh untuk bekerja padaku dengan imbalan aku akan memberinya enam belas kati gandum. Setelah selesai bekerja, aku memberikan upahnya tapi dia menolak untuk mengambilnya. Lantas aku mengambil gandum itu dan menanamnya. Aku terus menanamnya dan menjualnya hingga bisa membeli sapi dan penggembalanya. Setelah beberapa saat, datanglah buruh itu dan berkata, "Wahai hamba Allah, berikanlah hakku kepadaku." Aku jawab, "Pergilah ke tempat sapi dan penggembalanya itu, sesungguhnya ia milikmu dan ambillah semuanya." Buruh itu berkata, "Apakah engkau mengolok-olokku?" Aku jawab, "Sesungguhnya aku tidak mengolok-olokmu. Ia memang milikmu." Ya Allah, jika engkau mengetahui bahwa aku melakukan hal itu karena mencari keridaan-Mu, maka geserkanlah batu ini dari kami." Allah pun melapangkan pintu gua itu lalu mereka keluar darinya.

Rujukan

- صحيح البخاري، نشر: دار طوق النجاة (مصورة عن السلطانية بإضافة ترقيم محمد فؤاد عبد الباقي)، الطبعة: الأولى، 1422ه. - صحيح مسلم، تحقيق: محمد فؤاد عبد الباقي، نشر: دار إحياء التراث العربي – بيروت. - عمدة القاري شرح صحيح البخاري، لمحمود بن أحمد بن موسى الحنفى بدر الدين العينى، الناشر: دار إحياء التراث العربي – بيروت. - النهاية في غريب الحديث والأثر، لابن الأثير، نشر: المكتبة العلمية - بيروت، 1399هـ - 1979م، تحقيق: طاهر أحمد الزاوى - محمود محمد الطناحي. - شرح رياض الصالحين، تأليف: محمد بن صالح العثيمين، الناشر: دار الوطن للنشر، الطبعة: 1426 هـ. - الشرح الممتع على زاد المستقنع, محمد بن صالح بن محمد العثيمين, دار ابن الجوزي, الطبعة: الأولى، 1422 - 1428 هـ. - دليل الفالحين لطرق رياض الصالحين, محمد علي بن محمد البكري, اعتنى بها: خليل مأمون شيحا, الناشر: دار المعرفة, بيروت – لبنان, الطبعة: الرابعة، 1425 هـ - 2004 م.

Hadis ini di HadeethEnc.com

Setiap hadis, derajat, penjelasan, dan faedah di sini ditampilkan persis sebagaimana diterbitkan HadeethEnc.com, menurut ketentuan penerbitan ulangnya. Derajat itu tidak menyebut siapa yang menilainya. Terjemahan dan penjelasan adalah karya para penyusunnya, dan sebagian menyebutkan hukum; para peninjau Sabīl belum memeriksanya. Hadis berbahasa Arablah teksnya. Sumber: HadeethEnc.com