عن عبد الله بن عبَّاس رضي الله عنهما قال: «أُمِرَ الناس أن يكون آخر عَهْدِهِمْ بالبيت، إلا أنه خُفِّفَ عن المرأة الحائض».
Dari Abdullah bin Abbas -raḍiyallāhu 'anhumā- ia berkata, "Manusia diperintahkan menjadikan akhir amalan hajinya adalah di Baitullah (tawaf wadak), hanya saja untuk wanita yang sedang haid diberi keringanan (untuk tidak melakukannya)."
Muttafaq 'alaihDerajatHadis sahih
Penjelasan
Baitullah yang mulia ini berhak diagungkan dan dimuliakan. Baitullah merupakan simbol ibadah kepada Allah, merendahkan diri dan tunduk di hadapan-Nya. Ia memiliki kemuliaan di dalam dada, dan pengagungan, cinta serta kasih sayang di dalam hati (seorang Mukmin). Karenanya, Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memerintahkan orang yang berhaji, sebelum pulang, agar masa terakhirnya di Baitullah (melakukan tawaf). Ini adalah tawaf terakhir, yakni tawaf wadak (perpisahan), kecuali wanita yang sedang haid. Mengingat ia bisa mengotori masjid bila masuk, maka tawaf ini gugur baginya tanpa membayar fidiah (tebusan). Nas ini terkait dengan haji, tidak mencakup umrah.
Rujukan
تيسير العلام شرح عمدة الأحكام، عبد الله بن عبد الرحمن البسام، تحقيق: محمد صبحي حلاق، مكتبة الصحابة، الأمارات، مكتبة التابعين، القاهرة، الطبعة: العاشرة 1426هـ.
تنبيه الأفهام شرح عمدة الأحكام، محمد بن صالح العثيمين، مكتبة الصحابة، الإمارات، الطبعة: الأولى 1426هـ.
الإفهام في شرح عمدة الأحكام لابن باز، تحقيق: سعيد القحطاني، مؤسسة عبد العزيز بن باز الخيرية، الرياض، الطبعة: الأولى 1435هـ.
خلاصة الكلام شرح عمدة الأحكام، فيصل بن عبد العزيز المبارك، الطبعة: الثانية 1412هـ، 1992م.
صحيح البخاري، محمد بن إسماعيل البخاري الجعفي، تحقيق: محمد زهير الناصر، دار طوق النجاة (مصورة عن السلطانية بإضافة ترقيم: محمد فؤاد عبد الباقي)، الطبعة: الأولى 1422هـ.
صحيح مسلم، مسلم بن الحجاج القشيري النيسابوري، تحقيق محمد فؤاد عبد الباقي، دار إحياء التراث العربي، بيروت، الطبعة: 1423هـ.
تأسيس الأحكام، أحمد بن يحيى النجمي، دار المنهاج، القاهرة، الطبعة: الأولى.
عن أبي موسى الأشعري رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «إِذَا مَرِضَ الْعَبْدُ أَوْ سَافَرَ كُتِبَ لَهُ مِثْلُ مَا كَانَ يَعْمَلُ مُقِيمًا صَحِيحًا».
Abu Mūsā Al-Asy'ari -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, "Apabila seorang hamba sakit atau sedang safar maka (amal ibadah yang ia tinggalkan) akan dicatat baginya seperti yang biasa ia lakukan ketika dalam keadaan mukim dan sehat."
HR. BukhariDerajatSahih
Penjelasan
Nabi ﷺ mengabarkan tentang karunia dan rahmat Allah, bahwa ketika seorang muslim memiliki kebiasaan melakukan suatu amal saleh ketika sehat dan mukim, lalu dia mendapatkan uzur, misalkan ia sakit sehingga tidak lagi mampu mengerjakannya atau disibukkan oleh perjalanan, atau uzur lainnya, maka akan dituliskan baginya pahala amalan tersebut secara sempurna sebagaimana ia mengerjakannya saat sehat dan mukim.
Faedah
1- Luasnya karunia Allah kepada hamba-hamba-Nya.
2- Anjuran untuk bersungguh-sungguh dalam ketaatan serta memaksimalkan waktu di saat sehat dan kosong.
Rujukan
صحيح البخاري (4/ 57) (2996).
شرح رياض الصالحين، لابن عثيمين (1/ 36).
بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين، لسليم الهلالي (1/ 211).
بهجة قلوب الأبرار وقرة عيون الأخيار في شرح جوامع الأخبار، لعبد الرحمن السعدي (ص83).
Ubay bin Ka'ab -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan: Ada seorang laki-laki yang aku tidak tahu ada orang lain yang lebih jauh (rumahnya) dari masjid daripada dirinya, namun ia tidak pernah tertinggal satu salat sekalipun. Ada yang berkata -atau aku berkata- kepadanya, "Seandainya kamu membeli keledai yang dapat kamu kendarai pada waktu gelap dan pada waktu panas." Ia menjawab, "Aku tidak senang bila rumahku dekat dengan masjid. Sungguh aku menginginkan agar perjalananku menuju masjid dan ketika pulang ke rumahku, itu selalu dicatat untukku." Rasulullah ﷺ bersabda padanya, "Allah telah mengumpulkan semua itu bagimu."
HR. MuslimDerajatSahih
Penjelasan
Ubay bin Ka'ab -raḍiyallāhu 'anhu- mengabarkan bahwa ada seorang laki-laki Ansar yang memiliki rumah paling jauh dari Masjid Nabi. Namun, ia tidak pernah tertinggal satu salat pun. Bahkan, ia selalu hadir di setiap salat bersama Nabi ﷺ. Lalu ada yang berkata kepadanya, "Sekiranya engkau membeli seekor keledai untuk engkau kendarai di tengah gelapnya malam dan di bawah terik bumi saat siang."
Ia menjawab, "Aku tidak senang bila rumahku berada dekat di sisi masjid karena aku menginginkan agar Allah mencatat untukku perjalananku ke masjid untuk melaksanakan salat serta perjalananku pulang ketika kembali ke keluargaku." Ternyata ucapannya itu sampai kepada Nabi ﷺ, sehingga beliau bersabda, "Allah telah menggabungkan itu semuanya untukmu."
Faedah
1- Kegigihan para sahabat untuk mewujudkan kebaikan dan memperbanyaknya serta mendapatkan pahala.
2- An-Nawawi berkata, "Di dalam hadis ini terdapat dalil penetapan pahala dalam langkah pulang dari menunaikan salat sebagaimana ketika pergi."
3- Anjuran saling menasihati dan berwasiat di antara kaum muslimin untuk melakukan kebaikan dan kebajikan. Siapa yang melihat saudaranya mengalami kesulitan, hendaklah ia memberinya masukan dalam rangka menghilangkannya.
4- Jauhnya jarak rumah dari masjid tidak menjadi uzur untuk meninggalkan salat berjemaah selama ia mendengar azan.
Rujukan
صحيح مسلم (1/ 460) (663).
بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين، لسليم الهلالي (1/ 162).
شرح رياض الصالحين، لابن عثيمين (2/ 199).
عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : «إذا قَام أحَدُكُم من الليل، فَاسْتَعْجَمَ القرآن على لِسَانه، فلم يَدْرِ ما يقول، فَلْيَضْطَجِع».
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Apabila salah seorang di antara kalian bangun pada waktu malam (salat malam), kemudian lisannya berat membaca Al-Qur`ān, dan ia tidak sadar atas apa yang ia katakan, hendaklah ia berbaring (tidur)."
Diriwayatkan oleh MuslimDerajatHadis sahih
Penjelasan
Makna hadis: Bila seorang hamba sedang melaksanakan salat malam kemudian ia susah membaca Al-Qur`ān karena diserang kantuk sehingga tidak sadar atas apa yang diucapkan, hendaknya ia berbaring (merebah tidur) sampai hilang kantuk darinya agar tidak merubah kalamullah dan menggantinya; karena bisa saja ia melakukan sesuatu yang terlarang, seperti membalikkan maknanya, merubah kata-katanya dan mungkin saja ia mendoakan keburukan atas dirinya. Dalam sahih Bukhari dari Anas -raḍiyallāhu 'anhu- secara marfū', "Jika salah seorang dari kalian mengantuk dalam salat, hendaknya ia tidur sampai menyadari apa yang dibaca."
Rujukan
- رياض الصالحين من كلام سيد المرسلين؛ للإمام أبي زكريا النووي، تحقيق د. ماهر الفحل، دار ابن كثير - دمشق، الطبعة الأولى، 1428ه.
- بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين؛ تأليف سليم الهلالي، دار ابن الجوزي- الطبعة الأولى 1418ه.
- نزهة المتقين شرح رياض الصالحين؛ تأليف د. مصطفى الخِن وغيره، مؤسسة الرسالة-بيروت، الطبعة الرابعة عشر، 1407هـ.
- صحيح مسلم؛ للإمام مسلم بن الحجاج، حققه ورقمه محمد فؤاد عبد الباقي، دار عالم الكتب-الرياض، الطبعة الأولى، 1417هـ.
- كنوز رياض الصالحين، لحمد بن ناصر العمار، دار كنوز إشبيليا- الطبعة الأولى 1430ه.
- إِكمَالُ المُعْلِمِ بفَوَائِدِ مُسْلِم، لعياض بن موسى اليحصبي السبتي أبو الفضل - المحقق: الدكتور يحْيَى إِسْمَاعِيل - دار الوفاء للطباعة والنشر والتوزيع، مصر- الطبعة: الأولى، 1419 هـ - 1998 م.
عن جابر رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : «ما من مسلم يَغرس غَرسا إلا كان ما أُكل منه له صدقة، وما سُرق منه له صدقة، ولا يَرْزَؤُهُ أحد إلا كان له صدقة».
وفي رواية: «فلا يَغرس المسلم غَرسا فيأكلَ منه إنسان ولا دَابَة ولا طير إلا كان له صدقة إلى يوم القيامة»، وفي رواية: «لا يَغرس مسلم غرسا، ولا يزرع زرعًا، فيأكل منه إنسان ولا دَابَة ولا شيء، إلا كانت له صدقة».
Dari Jābir -raḍiyallāhu 'anhu- ia berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Tidaklah seorang muslim menanam pohon, melainkan apa yang dimakan dari tanaman itu menjadi sedekah baginya, dan apa yang dicuri dari tanaman tersebut menjadi sedekah baginya dan tidaklah kepunyaan seseorang dikurangi (diambil) orang lain melainkan menjadi sedekah baginya." Dalam riwayat lain disebutkan, "Tidaklah seorang muslim menanam pohon lalu manusia memakannya, atau binatang, atau burung, maka hal itu menjadi sedekah baginya pada hari kiamat." Dalam riwayat lain disebutkan, "Tidaklah seorang muslim menanam pohon atau menanam tanaman lalu manusia memakannya, atau binatang, atau sesuatu, maka hal itu menjadi sedekah baginya."
Diriwayatkan oleh Muslim - Muttafaq 'alaihDerajatHadis sahih
Penjelasan
Makna hadis ini adalah bahwasanya orang muslim manapun yang menanam pohon atau menanam tanaman lalu salah satu makhluk hidup memakan tanaman itu, maka dia mendapatkan pahalanya meskipun dia sudah mati. Amalnya terus mengalir untuknya selama tanaman dan tumbuhan itu tetap ada. Hadis dalam bab ini berisi anjuran untuk bercocok tanam dan bertani, juga bercocok tanam mengandung kebaikan yang banyak, karena di dalamnya ada kemaslahatan untuk agama dan dunia. Jika sebagian tanaman itu dimakan, maka menjadi sedekah baginya. Yang mengherankan, jika sebagian tanaman itu diambil oleh pencuri, seperti jika ada seseorang datang ke kebun kurma lalu mencuri buah kurma, maka pemilik kurma itu mendapatkan pahala. Padahal, seandainya dia mengetahui pencuri itu, niscaya dia mengadukannya ke pengadilan. Meskipun demikian, Allah mencatat sedekah dengan pencurian ini sampai hari kiamat. Demikian juga apabila binatang melata atau hama memakan tanaman itu, maka menjadi sedekah bagi pemiliknya. Hadis ini khusus untuk orang muslim, karena dialah yang mendapatkan manfaat pahala sedekah di dunia dan akhirat.
Rujukan
- صحيح البخاري، للإمام محمد بن إسماعيل البخاري، تحقيق محمد الناصر، دار طوق النجاة، الطبعة الأولى، 1422هـ.
- صحيح مسلم، للإمام مسلم بن الحجاج، تحقيق محمد فؤاد عبد الباقي، دار إحياء التراث العربي.
- بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين، تأليف سليم الهلالي، دار ابن الجوزي- الطبعة الأولى1418هـ.
- نزهة المتقين شرح رياض الصالحين، تأليف د. مصطفى الخِن وغيره، مؤسسة الرسالة-بيروت، الطبعة الرابعة عشرة، 1407هـ.
- كنوز رياض الصالحين، لحمد بن ناصر العمار، دار كنوز إشبيليا- الطبعة الأولى1430هـ.
- دليل الفالحين لطرق رياض الصالحين، لمحمد علي بن محمد الشافعي اعتنى بها: خليل مأمون شيحا، دار المعرفة للطباعة والنشر والتوزيع، بيروت – لبنان-الطبعة: الرابعة، 1425 هـ - 2004 م.
- شرح رياض الصالحين، للشيخ محمد بن صالح العثيمين، مدار الوطن، الرياض، 1426هـ.
- الأدب النبوي، محمد عبد العزيز الخَوْلي، دار المعرفة -بيروت- الطبعة: الرابعة، 1423 هـ.
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ bersabda, "Setiap persendian manusia wajib mengeluarkan satu sedekah setiap hari ketika matahari terbit. Mendamaikan dua orang yang sedang berselisih secara adil adalah sedekah, menolong seseorang pada kendaraannya dengan menaikkannya ke kendaraan atau membantu mengangkat barangnya ke atas kendaraannya itu adalah sedekah, perkataan yang baik adalah sedekah, setiap langkah berjalan untuk melaksanakan salat adalah sedekah, dan menyingkirkan gangguan dari jalan adalah sedekah."
Muttafaq 'alaihDerajatSahih
Penjelasan
Nabi ﷺ menerangkan bahwa setiap muslim dibebani sedekah sunah setiap hari sejumlah persendian tulangnya sebagai wujud syukur kepada Allah atas keafiatannya serta anugerah-Nya yang menjadikan tulang-tulangnya memiliki persendian sehingga memungkinkan dirinya untuk melipat dan meluruskannya. Beliau juga menjelaskan bahwa sedekah tersebut dapat ditunaikan dalam bentuk seluruh amal kebajikan dan tidak terbatas dalam wujud memberikan harta. Di antaranya: 1- Mengadili dan mendamaikan dua orang yang saling berselisih adalah sedekah. 2- Membantu orang yang lemah pada kendaraannya dengan menaikkannya atau mengangkatkan barangnya ke atasnya adalah sedekah. 3- Perkataan yang baik berupa zikir, doa, salam dan lainnya adalah sedekah. 4- Setiap langkah kaki yang berjalan untuk melaksanakan salat adalah sedekah. 5- Menyingkirkan sesuatu yang mengganggu dari jalan adalah sedekah.
Faedah
1- Susunan tulang manusia dan kenormalannya termasuk nikmat paling besar yang Allah berikan kepadanya sehingga setiap tulang butuh dibayarkan sedekah secara khusus agar rasa syukur terhadap nikmat tersebut sempurna.
2- Anjuran memperbarui syukur setiap hari agar nikmat-nikmat tersebut berlanjut.
3- Anjuran menjaga salat sunah dan sedekah setiap hari.
4- Keutamaan mendamaikan antara manusia.
5- Motivasi agar seseorang menolong saudaranya karena bantuannya kepadanya adalah sedekah.
6- Motivasi agar menghadiri salat berjemaah, berjalan kaki untuk menghadirinya, dan memakmurkan masjid dengan hal itu.
7- Kewajiban menjaga jalan kaum muslimin dengan menjauhkan semua yang dapat menyakiti atau mencelakakan mereka.
Rujukan
صحيح البخاري (4/ 56) (2989).
صحيح مسلم (1/ 498) (720).
-التحفة الربانية في شرح الأربعين حديثًا النووية، مطبعة دار نشر الثقافة، الإسكندرية، الطبعة: الأولى، 1380 هـ.
-شرح الأربعين النووية، للشيخ ابن عثيمين، دار الثريا للنشر.
-فتح القوي المتين في شرح الأربعين وتتمة الخمسين، دار ابن القيم، الدمام المملكة العربية السعودية، الطبعة: الأولى، 1424هـ/2003م.
-الفوائد المستنبطة من الأربعين النووية، للشيخ عبد الرحمن البراك، دار التوحيد للنشر، الرياض.
عن عائشة رضي الله عنها مرفوعاً: «إذا نَعَسَ أحدكم وهو يصلي فَلْيَرْقُدْ حتى يذهب عنه النوم، فإن أحدكم إذا صلى وهو نَاعِسٌ لا يدري لعله يذهب يستغفر فَيَسُبُّ نَفْسَهُ».
Dari Aisyah -raḍiyallāhu 'anha-, secara marfū, "Jika ada di antara kalian mengantuk saat salat, hendaknya ia tidur hingga kantuk itu hilang. Sesungguhnya jika salah seorang di antara kalian salat dalam keadaan mengantuk, maka ia tidak tahu mungkin saja ia hendak meminta ampunan, ternyata justru mencela dirinya sendiri."
Muttafaq 'alaihDerajatHadis sahih
Penjelasan
Tema hadis adalah makruhnya memaksakan diri untuk beribadah. Jika orang yang salat merasa terserang kantuk saat salat, hendaknya ia menghentikan salatnya atau menyempurnakannya lalu tidur dan beristirahat hingga tidak mendoakan keburukan terhadap dirinya saat lelah.
Rujukan
صحيح البخاري, تأليف: محمد بن إسماعيل البخاري, تحقيق: محمد زهير بن ناصر الناصر, دار طوق النجاة ترقيم محمد فؤاد عبدالباقي, ط 1422.
صحيح مسلم ،تأليف: مسلم بن الحجاج النيسابوري, تحقيق: محمد فؤاد عبدالباقي, دار إحياء التراث العربي.
مقاييس اللغة, تأليف: أحمد بن فارس الرازي, المحقق: عبدالسلام محمد هارون, الناشر: دار الفكر, عام 1399
بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين, تأليف: سليم بن عيد الهلالي, دار ابن الجوزي،الطبعة الأولى1418.
نزهة المتقين شرح رياض الصالحين, تأليف: مصطفى الخن ومصطفى البغا ومحي الدين مستو وعلي الشربجي ومحمد لطفي, مؤسسة الرسالة, ط 14 عام 1407 - 1987.
دليل الفالحين لطرق رياض الصالحين؛ لمحمد بن علان الشافعي، تحقيق خليل مأمون شيحا-دار المعرفة-بيروت-الطبعة الرابعة1425ه.
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda, "Sesungguhnya agama ini mudah. Tidaklah seseorang berlebih-lebihan dalam urusan agama melainkan dia akan kalah. Sebab itu, hendaklah kalian melakukan yang seharusnya atau berusahalah mendekati, serta bergembiralah. Manfaatkanlah waktu pagi, sore, dan sebagian malam hari (untuk melakukan ketaatan)."
HR. BukhariDerajatSahih
Penjelasan
Nabi ﷺ menerangkan bahwa agama Islam dibangun di atas kemudahan dalam semua urusannya. Pemberian kemudahan semakin menguat ketika ada sebab ketidakmampuan dan kebutuhan. Juga karena memaksakan diri dalam amalan-amalan agama dan meninggalkan sikap perlahan-lahan dapat berujung pada kelemahan dan keterhentian amalan tersebut secara keseluruhan atau sebagiannya. Kemudian beliau ﷺ mengarahkan sikap pertengahan dan tidak melampaui batas. Seorang hamba tidak boleh lalai dalam perkara yang diperintahkan kepadanya dan tidak juga memaksakan diri pada perkara yang ia tidak mampu. Jika kemudian ia tidak mampu mengerjakan yang paling sempurna maka ia berusaha mengerjakan yang mendekatinya.
Beliau ﷺ memberikan kabar gembira berupa pahala yang melimpah pada amalan yang berkelanjutan walaupun sedikit bagi orang yang tidak mampu mengupayakan yang paling sempurna. Jika ketidakmampuan itu berasal dari buah perbuatannya maka tidak berkonsekuensi pada pengurangan pahalanya.
Karena dunia adalah negeri perantauan dan perpindahan menuju akhirat, beliau ﷺ memerintahkan agar memanfaatkan ibadah yang berkelanjutan dengan mengerjakannya di tiga waktu yang mendatangkan semangat:
- Pertama: waktu pagi, yaitu amalan di permulaan hari antara salat Subuh dan terbitnya matahari.
- Kedua: waktu sore, yaitu amalan setelah matahari tergelincir.
- Ketiga: malam hari, yaitu amalan pada malam seluruhnya atau sebagiannya. Karena amalan malam hari lebih berat dari amalan siang, beliau memerintahkan beramal pada sebagiannya dalam sabdanya, "sebagian malam hari."
Faedah
1- Kemudahan syariat Islam dan pertengahannya antara sikap berlebihan dan sikap menggampangkan.
2- Seorang hamba harus melaksanakan perintah sesuai kemampuan tanpa bermudah-mudahan atau memaksakannya.
3- Seorang hamba harus memilih waktu-waktu paling produktif dalam beribadah, dan tiga waktu itu adalah waktu ketika badan paling bersemangat untuk mengerjakan ibadah.
4- Ibnu Ḥajar Al-'Asqalāniy berkata, "Seolah-olah Nabi ﷺ sedang berbicara kepada seorang yang melakukan perjalanan menuju sebuah tujuan. Ketiga waktu ini adalah waktu seorang musafir yang paling baik, sehingga beliau mengingatkannya pada waktu-waktu bersemangatnya itu. Alasannya adalah karena seorang musafir itu, jika ia melakukan perjalanan pada siang dan malam seluruhnya, ia akan melemah dan berhenti. Tetapi, apabila ia memilih melakukan perjalanan di waktu-waktu semangat ini, maka ia akan dapat melakukannya secara kontinu tanpa kesusahan."
5- Ibnu Ḥajar berkata, "Dalam hadis ini terdapat petunjuk untuk mengambil rukhsah syariat. Mengambil 'azīmah (perintah utama) pada saat rukhsah adalah bentuk sikap berlebihan, seperti orang yang tidak mengambil tayamum ketika tidak mampu menggunakan air, padahal memakai air menyebabkannya mendapatkan mudarat."
6- Ibnul-Munżir berkata, "Di dalam hadis ini terdapat salah satu bukti kenabian. Kita dan orang-orang sebelum kita telah melihat bahwa akhir kondisi semua orang yang berlebihan dalam agama adalah berhenti beramal. Hal ini tak bermaksud menghalangi dari mengejar yang paling sempurna dalam ibadah karena hal itu adalah perkara yang terpuji, melainkan melarang sikap berlebihan yang dapat berujung pada kebosanan, atau berlebihan dalam melakukan amalan sunah yang berakibat pada meninggalkan yang lebih utama, atau mengerjakan yang wajib di luar waktunya seperti orang yang mengerjakan salat sepanjang malam lalu tertidur hingga tidak melaksanakan salat Subuh secara berjemaah atau sampai terbit matahari sehingga waktu salat fardu habis."
Rujukan
صحيح البخاري (1/ 16) (39).
بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين، لسليم الهلالي (1/ 219).
تطريز رياض الصالحين، لفيصل آل مبارك (ص115).
Setiap hadis, derajat, penjelasan, dan faedah di sini ditampilkan persis sebagaimana diterbitkan HadeethEnc.com, menurut ketentuan penerbitan ulangnya. Derajat itu tidak menyebut siapa yang menilainya. Terjemahan dan penjelasan adalah karya para penyusunnya, dan sebagian menyebutkan hukum; para peninjau Sabīl belum memeriksanya. Hadis berbahasa Arablah teksnya. Sumber: HadeethEnc.com