Langsung ke konten
Hadis dengan penjelasan

Adab Membaca Al-Qur`ān dan Penghafalnya

7 hadis

Nabi ﷺ bersabda kepadaku, "Bacakanlah (Al-Qur`an) untukku

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ رَضيَ اللهُ عنهُ قَالَ: قَالَ لِي النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «اقْرَأْ عَلَيَّ»، قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَأَقْرَأُ عَلَيْكَ، وَعَلَيْكَ أُنْزِلَ؟ قَالَ: «نَعَمْ» فَقَرَأْتُ سُورَةَ النِّسَاءِ حَتَّى أَتَيْتُ إِلَى هَذِهِ الآيَةِ: {فَكَيْفَ إِذَا جِئْنَا مِنْ كُلِّ أُمَّةٍ بِشَهِيدٍ، وَجِئْنَا بِكَ عَلَى هَؤُلاَءِ شَهِيدًا} [النساء: 41]، قَالَ: «حَسْبُكَ الآنَ» فَالْتَفَتُّ إِلَيْهِ، فَإِذَا عَيْنَاهُ تَذْرِفَانِ.
Abdullah bin Mas'ud -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Nabi ﷺ bersabda kepadaku, "Bacakanlah (Al-Qur`an) untukku." Aku berkata, "Wahai Rasulullah, apakah aku membaca kepada Anda, sementara ia diturunkan kepada Anda?" Beliau menjawab, "Iya". Maka aku membacakannya surah An-Nisā` sampai pada ayat berikut: "Dan bagaimanakah (keadaan orang kafir nanti), jika Kami mendatangkan seorang saksi (Rasul) dari setiap umat dan Kami mendatangkan engkau (Muhammad) sebagai saksi atas mereka." [QS. An-Nisā`: 41] Beliau bersabda, "Berhentilah sekarang!" Aku menoleh kepada beliau, ternyata kedua matanya telah bercucuran air mata."
Muttafaq 'alaihDerajatSahih
Penjelasan

Nabi ﷺ meminta Abdullah bun Mas'ud -raḍiyallāhu 'anhu- agar membacakan untuk beliau beberapa ayat Al-Qur`an. Maka ia berkata, "Wahai Rasulullah, bagaimana aku membacanya kepada Anda, sedangkan ia diturunkan kepada Anda?" Beliau ﷺ bersabda, "Aku senang mendengarnya dari orang lain." Lalu ia pun membaca surah An-Nisā` sampai pada firman Allah Ta'ala (artinya): "Dan bagaimanakah (keadaan orang kafir nanti), jika Kami mendatangkan seorang saksi (Rasul) dari setiap umat dan Kami mendatangkan engkau (Muhammad) sebagai saksi atas mereka." Maknanya: Bagaimana keadaanmu serta keadaan umatmu kelak ketika kami datangkan engkau sebagai saksi atas umatmu, bahwa engkau telah menyampaikan kepada mereka risalah Tuhanmu. Lalu Nabi ﷺ bersabda, "Berhentilah membaca sekarang!" Ibnu Mas'ud -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, "Aku menoleh ke beliau, ternyata kedua mata beliau telah bercucuran air mata karena takut terhadap momen tersebut serta rasa sayang kepada umatnya."

Faedah
  1. 1- An-Nawawi berkata, "Anjuran menyimak bacaan (Al-Qur`an), mendengarkannya secara seksama, menangis, dan merenungi ayat-ayatnya, serta anjuran meminta orang lain membaca untuk disimak. Hal itu lebih mengena dalam proses memahami dan tadabur, daripada membaca sendiri."
  2. 2- Menyimak Al-Qur`an mendatangkan pahala tersendiri sebagaimana membacanya.
  3. 3- Keutamaan Abdullah bin Mas'ud -raḍiyallāhu 'anhu-; yaitu Rasul ﷺ ingin mendengar Al-Qur`an dari bacaannya. Hal ini menunjukkan semangat Ibnu Mas'ud -raḍiyallāhu 'anhu- dalam berusaha mempelajari Al-Qur`an, menghafal, dan menguatkannya.
  4. 4- Keutamaan menangis karena takut kepada Allah ﷻ saat menyimak ayat-ayat-Nya dengan tetap tenang, diam, dan tidak berteriak-teriak.
Rujukan

صحيح البخاري (6/ 196) (5050). صحيح مسلم (1/ 551) (800). كنوز رياض الصالحين، لمجموعة من الباحثين (7/ 133). بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين، لسليم الهلالي (1/ 515). نزهة المتقين شرح رياض الصالحين، لمجموعة من الباحثين (1/ 402). شرح رياض الصالحين، لابن عثيمين (3/ 342).

Hadis ini di HadeethEnc.com

Sesungguhnya perumpamaan orang yang menghafal Al-Qur`an seperti pemilik unta yang diikat. Jika dia menjaganya, maka dia dapat menahannya. Tetapi jika dia melepaskannya, unta itu akan pergi

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «إِنَّمَا مَثَلُ صَاحِبِ القُرْآنِ كَمَثَلِ صَاحِبِ الإِبِلِ المُعَقَّلَةِ، إِنْ عَاهَدَ عَلَيْهَا أَمْسَكَهَا، وَإِنْ أَطْلَقَهَا ذَهَبَتْ».
Ibnu Umar -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Sesungguhnya perumpamaan orang yang menghafal Al-Qur`an seperti pemilik unta yang diikat. Jika dia menjaganya, maka dia dapat menahannya. Tetapi jika dia melepaskannya, unta itu akan pergi."
Muttafaq 'alaihDerajatSahih
Penjelasan

Nabi ﷺ mengumpamakan orang yang mempelajari Al-Qur`an dan biasa membacanya -baik dengan melihat mushaf ataupun dengan hafalan- seperti pemilik unta yang diikat menggunakan tali pengikat kaki unta. Jika ia rajin mengeceknya, maka ia akan lanjut menahannya. Tetapi jika ia melepaskan ikatannya, maka ia akan lepas dan pergi. Apabila penghafal Al-Qur`an bangun malam dan membacanya, maka ia akan mengingatnya. Tetapi jika ia tidak membacanya dalam salat malam, maka ia akan melupakannya. Selama penjagaan ada, maka selama itu hafalannya ada.

Faedah
  1. 1- Anjuran menjaga Al-Qur`an dan membacanya, serta waspada jangan sampai dilupakan.
  2. 2- Terus-menerus membaca Al-Qur`an dapat melenturkan lisan dan memudahkannya membaca Al-Qur`an, sebaliknya jika ditinggalkan dapat menjadikan berat dan sulit untuk membacanya.
  3. 3- Al-Qāḍī berkata, "Ṣāḥib Al-Qur`ān artinya: orang yang akrab dengan Al-Qur`an. Al-Muṣāḥabah artinya: bersahabat. Di antaranya dikatakan: fulan ṣāḥib (sahabat) si fulan. Juga: aṣḥābul-jannah, aṣḥābunnār."
  4. 4- Di antara metode dakwah ialah membuat perumpamaan.
  5. 5- Ibnu Ḥajar berkata, "Penyebutan unta secara khusus karena ia adalah hewan jinak yang paling liar, dan ada kesulitan untuk mendapatkannya setelah berhasil lepas."
Rujukan

صحيح البخاري (6/ 193) (5031). صحيح مسلم (1/ 543) (789). شرح صحيح مسلم، للنووي (6/ 77). فيض القدير شرح الجامع الصغير، لعبدالرؤوف المناوي (3/ 3). كنوز رياض الصالحين، لمجموعة من الباحثين (13/ 12).

Hadis ini di HadeethEnc.com

Bacalah Al-Qur`ān selama hati kalian terhimpun kepadanya! Jika kalian berselisih maka tinggalkanlah!

عن جندب بن عبد الله رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: «اقرؤوا القرآنَ ما ائْتَلَفت قلوبُكم، فإذا اختلفْتُم فقوموا عنه».
Dari Jundub bin Abdillah, dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, beliau bersabda, "Bacalah Al-Qur`ān selama hati kalian terhimpun kepadanya! Jika kalian berselisih maka tinggalkanlah!"
Muttafaq 'alaihDerajatHadis sahih
Penjelasan

Makna hadis: Bacalah Al-Qur`ān selagi hati kalian terhimpun padanya. Jika kalian berselisih dalam memahami maknanya maka berpencarlah agar perselisihan itu tidak terus menimbulkan keburukan. Bisa jadi juga maknanya adalah: Berpeganglah kalian kepada ayat-ayatnya yang muḥkam (jelas)! Jika menemukan ayat-ayat mutasyābih yang menyebabkan perselisihan maka berpalinglah dari mendalaminya! Sebagaimana mungkin juga maksudnya adalah perintah membaca Al-Qur`ān selama hati masih memperhatikannya, jika hati sudah bosan dan jemu maka harus ditinggalkan sampai kembalinya waktu semangat dan sifat tekun. Hal ini juga terjadi dalam perintah serupa mengenai salat. Akan tetapi pendapat pertama di atas, lebih mendekati (kebenaran).

Rujukan

- صحيح البخاري، نشر: دار طوق النجاة (مصورة عن السلطانية بإضافة ترقيم محمد فؤاد عبد الباقي)، الطبعة: الأولى، 1422ه. - صحيح مسلم، تحقيق: محمد فؤاد عبد الباقي، نشر: دار إحياء التراث العربي - بيروت. - إرشاد الساري لشرح صحيح البخاري، لأحمد بن محمد بن أبى بكر بالقسطلاني المصري، الناشر: المطبعة الكبرى الأميرية، مصر، الطبعة: السابعة، 1323 هـ. - المنهاج شرح صحيح مسلم بن الحجاج، للنووي، نشر: دار إحياء التراث العربي - بيروت، الطبعة: الثانية، 1392ه. - شرح صحيح البخاري لابن بطال، تحقيق: أبي تميم ياسر بن إبراهيم، نشر: مكتبة الرشد، الرياض-السعودية، الطبعة: الثانية 1423ه، 2003م. - التوشيح شرح الجامع الصحيح, عبد الرحمن بن أبي بكر، جلال الدين السيوطي, المحقق: رضوان جامع رضوان, مكتبة الرشد - الرياض, الطبعة: الأولى، 1419 هـ - 1998 م.

Hadis ini di HadeethEnc.com

Apakah ini yang diperintahkan kepada kalian?! Ataukah untuk tujuan ini kalian dibangkitkan? Yaitu kalian membenturkan ayat-ayat Kitab Allah satu sama lain? Sesungguhnya umat-umat sebelum kalian tersesat dalam hal seperti ini. Kalian tidak memiliki kepentingan sedikit pun di sini. Lihatlah apa yang diperintahkan kepada kalian lalu amalkanlah, serta lihatlah yang dilarang dari kalian lalu tinggalkanlah.

عن عبد الله بن عمرو رضي الله عنهما : أنَّ نَفَرًا كانوا جُلوسًا بباب النبي صلى الله عليه وسلم ، فقال بعضُهم: ألم يَقُلِ اللهُ كذا وكذا؟ وقال بعضُهم: ألم يَقُلِ اللهُ كذا وكذا؟ فسمِعَ ذلك رسولُ الله صلى الله عليه وسلم ، فخرج كأنَّما فُقِئَ في وجهِه حَبُّ الرُّمَّان، فقال: «بهذا أُمِرْتُم؟ أو بهذا بُعِثْتم؟ أنْ تَضْربُوا كتابَ اللهِ بعضَه ببعض؟ إنَّما ضَلَّتِ الأُمَمُ قبلكم في مثل هذا، إنَّكم لستُم ممَّا هاهنا في شيء، انظروا الذي أُمِرتم به، فاعملوا به، والذي نُهِيتُم عنه، فانتهوا».
Abdullah bin 'Amr -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan bahwasanya beberapa orang sedang duduk di depan pintu rumah Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, lalu sebagian mereka berkata, "Bukankah Allah berfirman begini dan begini?" Sebagian yang lain berkata, "Bukankah Allah berfirman begini dan begini?" Percakapan mereka itu didengar oleh Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, lantas beliau keluar seakan-akan biji delima diperas di muka beliau. Beliau bersabda, "Apakah ini yang diperintahkan kepada kalian? Ataukah untuk tujuan ini kalian dibangkitkan?! Yaitu kalian membenturkan ayat-ayat Kitab Allah satu sama lain? Sesungguhnya umat-umat sebelum kalian tersesat dalam hal seperti ini. Kalian tidak memiliki kepentingan sedikit pun di sini. Lihatlah apa yang diperintahkan kepada kalian lalu amalkanlah, serta lihatlah yang dilarang dari kalian lalu tinggalkanlah."
Diriwayatkan oleh Ibnu Mājah - Diriwayatkan oleh AhmadDerajatHadis hasan
Penjelasan

Sekelompok sahabat sedang duduk di depan pintu rumah Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, lalu mereka berselisih terkait satu permasalahan. Di sebagian riwayat disebutkan bahwa mereka berselisih tentang takdir. Maka sebagian mereka memberikan argumen atas perkataannya dengan suatu ayat dari Kitab Allah, sementara sebagian yang lain berdalil dengan ayat lain yang juga dalam Kitab Allah. Kemudian Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mendengar hal itu lalu beliau keluar menemui mereka sambil marah dan wajah beliau merah padam seakan-akan biji delima diperas di wajah beliau. Beliau bersabda kepada mereka, "Perselisihan dan perdebatan seperti ini dalam Al-Qur`ān serta membenturkan sebagian Al-Qur`ān dengan sebagian yang lain; apakah itu tujuan kalian diciptakan? Ataukah itu yang Allah perintahkan kepada kalian?" Beliau bermaksud bahwa tidak ada sedikit pun dari kedua perkara ini yang menjadi tujuan debat mereka, sehingga tidak ada hajat kepadanya. Beliau juga mengabari mereka bahwa sebab tersesatnya umat-umat sebelum mereka adalah pada perkara seperti ini. Kemudian beliau mengarahkan mereka pada sesuatu yang akan mendatangkan kebaikan dan manfaat bagi mereka; beliau bersabda, "Apa yang Allah perintahkan kepada kalian maka lakukanlah, dan apa yang Allah larang dari kalian maka tinggalkanlah. Inilah yang menjadi tujuan kalian diciptakan, dan inilah yang akan mendatangkan manfaat dan kebaikan bagi kalian."

Rujukan

- مسند الإمام أحمد بن حنبل، تحقيق: شعيب الأرنؤوط - عادل مرشد، وآخرون، نشر: مؤسسة الرسالة، الطبعة: الأولى، 1421هـ - 2001م. - سنن ابن ماجه، تحقيق: محمد فؤاد عبد الباقي، نشر: دار إحياء الكتب العربية - فيصل عيسى البابي الحلبي. - السنة، لابن أبي عاصم، ومعه ظلال الجنة، تحقيق: محمد ناصر الدين الألباني، نشر: المكتب الإسلامي – بيروت، الطبعة: الأولى، 1400ه. - مرقاة المفاتيح شرح مشكاة المصابيح، لعلي بن سلطان الملا الهروي القاري، الناشر: دار الفكر، بيروت – لبنان، الطبعة: الأولى، 1422هـ - 2002م. - مشارق الأنوار الوهاجة ومطالع الأسرار البهاجة في شرح سنن الإمام ابن ماجه, محمد بن علي بن آدم بن موسى, دار المغني، الرياض - المملكة العربية السعودية, الطبعة: الأولى، 1427 هـ - 2006 م. - حاشية السندي على سنن ابن ماجه: كفاية الحاجة في شرح سنن ابن ماجه, محمد بن عبد الهادي التتوي، أبو الحسن، نور الدين السندي, دار الجيل - بيروت، بدون طبعة.

Hadis ini di HadeethEnc.com

mereka biasa belajar Al-Qur`an dari Rasulullah ﷺ per sepuluh ayat, mereka tidak akan masuk ke sepuluh ayat lainnya kecuali setelah mereka mengetahui pengetahuan dan pengamalan yang dikandungnya

عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ السُّلَمي رحمه الله قَالَ: حَدَّثَنَا مَنْ كَانَ يُقْرِئُنَا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُمْ كَانُوا يَقْتَرِئُونَ مِنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَشْرَ آيَاتٍ، فَلَا يَأْخُذُونَ فِي الْعَشْرِ الْأُخْرَى حَتَّى يَعْلَمُوا مَا فِي هَذِهِ مِنَ الْعِلْمِ وَالْعَمَلِ، قَالُوا: فَعَلِمْنَا الْعِلْمَ وَالْعَمَلَ.
Abu Abdirraḥmān As-Sulami -raḥimahullāh- meriwayatkan, ia berkata, "Sahabat-sahabat Nabi yang mengajari kami Al-Qur`an menceritakan bahwa mereka biasa belajar Al-Qur`an dari Rasulullah ﷺ per sepuluh ayat, mereka tidak akan masuk ke sepuluh ayat lainnya kecuali setelah mereka mengetahui pengetahuan dan pengamalan yang dikandungnya. Mereka mengatakan, 'Kami belajar pengetahuan dan pengamalan.'"
HR. AhmadDerajatHasan
Penjelasan

Para sahabat -raḍiyallāhu 'anhum- biasa belajar Al-Qur`an dari Rasulullah ﷺ per sepuluh ayat. Mereka tidak akan masuk ke sepuluh ayat lainnya hingga mereka telah mempelajari pengetahuan yang terkandung di dalamnya serta mengamalkannya sehingga mereka belajar pengetahuan dan pengamalan sekaligus.

Faedah
  1. 1- Keutamaan para sahabat -raḍiyallāhu 'anhum- dan kegigihan mereka dalam mempelajari Al-Qur`an.
  2. 2- Mempelajari Al-Qur`an ialah dengan mengetahui dan mengamalkan kandungannya, bukan hanya dengan membaca dan menghafalnya.
  3. 3- Berilmu sebelum berbicara dan beramal.
Rujukan

مسند أحمد (38/ 466) (23482).

Hadis ini di HadeethEnc.com

Dahulu kami bersama Nabi ﷺ dan kala itu kami masih remaja yang kuat. Kami belajar keimanan sebelum belajar Al-Qur`an. Kemudian kami belajar Al-Qur`an, maka semakin bertambah iman kami

عَنْ جُنْدُبِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ رَضيَ اللهُ عنهُ قَالَ: كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَنَحْنُ فِتْيَانٌ حَزَاوِرَةٌ، فَتَعَلَّمْنَا الإِيمَانَ قَبْلَ أَنْ نَتَعَلَّمَ القُرْآنَ، ثُمَّ تَعَلَّمْنَا القُرْآنَ، فَازْدَدْنَا بِهِ إِيمَانًا.
Jundub bin Abdullah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan: "Dahulu kami bersama Nabi ﷺ dan kala itu kami masih remaja yang kuat. Kami belajar keimanan sebelum belajar Al-Qur`an. Kemudian kami belajar Al-Qur`an, maka semakin bertambah iman kami."
HR. Ibnu MajahDerajatSahih
Penjelasan

Jundub bin Abdullah -raḍiyallāhu 'anhu- mengatakan, "Kami dahulu bersama Nabi ﷺ, dan saat itu kami masih remaja hampir balig, memiliki fisik yang kuat. Kami belajar dari Nabi ﷺ keimanan sebelum belajar Al-Qur`an, kemudian kami belajar Al-Qur`an, lalu semakin bertambah keimanan kami."

Faedah
  1. 1- Penjelasan bahwa iman itu bisa bertambah dan berkurang.
  2. 2- Skala prioritas dalam pendidikan anak dan upaya kuat untuk mengisi mereka dengan keimanan.
  3. 3- Al-Qur`an dapat menambah keimanan, menerangi hati, dan melapangkan dada.
Rujukan

سنن ابن ماجه (1/ 42) (61). مشارق الأنوار الوهاجة ومطالع الأسرار البهاجة في شرح سنن الإمام ابن ماجه (2/ 255). مرشد ذوي الحجا والحاجة إلى سنن ابن ماجه والقول المكتفى على سنن المصطفى (1/ 227).

Hadis ini di HadeethEnc.com

Rasulullah ﷺ membacakan kepada kami Al-Qur`an dalam segala kondisi, selama tidak junub

عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُقْرِئُنَا القُرْآنَ عَلَى كُلِّ حَالٍ مَا لَمْ يَكُنْ جُنُبًا.
Ali -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, "Rasulullah ﷺ membacakan kepada kami Al-Qur`an dalam segala kondisi, selama tidak junub."
HR. Abu Daud, Tirmizi, Nasai, Ibnu Majah, dan AhmadDerajatHasan
Penjelasan

Nabi ﷺ mengajarkan Al-Qur`an kepada para sahabatnya serta membacakannya kepada mereka dalam segala keadaan selama beliau tidak berstatus junub lantaran hubungan suami istri.

Faedah
  1. 1- Orang yang junub tidak boleh membaca Al-Qur`an sampai ia mandi besar.
  2. 2- Memberikan pengajaran dengan praktik.
Rujukan

سنن الترمذي (1/ 214) (146). سنن أبي داود (1/ 164) (229). سنن النسائي (1/ 144) (265). سنن ابن ماجه (1/ 375) (594). مسند أحمد (2/ 61) (627). النهاية في غريب الحديث والأثر (917-167).

Hadis ini di HadeethEnc.com

Setiap hadis, derajat, penjelasan, dan faedah di sini ditampilkan persis sebagaimana diterbitkan HadeethEnc.com, menurut ketentuan penerbitan ulangnya. Derajat itu tidak menyebut siapa yang menilainya. Terjemahan dan penjelasan adalah karya para penyusunnya, dan sebagian menyebutkan hukum; para peninjau Sabīl belum memeriksanya. Hadis berbahasa Arablah teksnya. Sumber: HadeethEnc.com