Langsung ke konten
Hadis dengan penjelasan

Petunjuk Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dalam Berzikir

8 hadis

Apabila seseorang masuk ke rumahnya lalu menyebut nama Allah ketika masuk dan ketika makan, setan berkata kepada teman-temannya, 'Tidak ada tempat bermalam dan makan malam bagi kalian.'

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ رضي الله عنهما أَنَّهُ سَمِعَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «إِذَا دَخَلَ الرَّجُلُ بَيْتَهُ، فَذَكَرَ اللهَ عِنْدَ دُخُولِهِ وَعِنْدَ طَعَامِهِ، قَالَ الشَّيْطَانُ: لَا مَبِيتَ لَكُمْ، وَلَا عَشَاءَ، وَإِذَا دَخَلَ، فَلَمْ يَذْكُرِ اللهَ عِنْدَ دُخُولِهِ، قَالَ الشَّيْطَانُ: أَدْرَكْتُمُ الْمَبِيتَ، وَإِذَا لَمْ يَذْكُرِ اللهَ عِنْدَ طَعَامِهِ، قَالَ: أَدْرَكْتُمُ الْمَبِيتَ وَالْعَشَاءَ».
Jābir bin Abdullah -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan bahwa dia telah mendengar Nabi ﷺ bersabda, "Apabila seseorang masuk ke rumahnya lalu menyebut nama Allah ketika masuk dan ketika makan, setan berkata kepada teman-temannya, 'Tidak ada tempat bermalam dan makan malam bagi kalian.' Jika dia masuk tanpa menyebut nama Allah ketika masuk, setan berkata, 'Kalian telah menemukan tempat bermalam.' Jika dia tidak menyebut nama Allah ketika makan, setan berkata, 'Kalian telah menemukan tempat bermalam dan makan malam.'"
HR. MuslimDerajatSahih
Penjelasan

Nabi ﷺ memerintahkan agar menyebut nama Allah ketika masuk rumah dan sebelum makan. Jika seseorang menyebut nama Allah dengan membaca "bismillāh" ketika masuk rumah dan ketika mulai makan, setan berkata kepada pasukannya: Kalian tidak mendapat jatah tidur malam maupun makan malam di rumah ini karena pemiliknya membentengi dirinya dari kalian dengan menyebut nama Allah Ta'ala. Adapun ketika seseorang masuk rumahnya lalu tidak menyebut nama Allah saat masuk maupun saat menyantap makanan, setan memberitahu pasukannya bahwa mereka mendapat jatah ikut bermalam dan makan malam di rumah itu.

Faedah
  1. 1- Anjuran menyebut nama Allah ketika masuk rumah dan ketika makan, karena setan akan ikut menginap di rumah serta ikut makan makanan penghuni rumah itu jika mereka tidak menyebut nama Allah Ta'ala.
  2. 2- Setan memantau anak Adam di setiap pekerjaannya, tindakannya dan semua urusannya. Apabila ia lalai dari berzikir maka setan akan mendapatkan apa yang ia inginkan darinya.
  3. 3- Zikir dapat mengusir setan.
  4. 4- Setiap setan memiliki pengikut dan penolong yang bergembira dengan perkataannya dan mengikuti perintahnya.
Rujukan

صحيح مسلم (3/ 1598) (2018). بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين، لسليم الهلالي (2/ 50). تطريز رياض الصالحين، لفيصل المبارك (ص467). شرح رياض الصالحين، لابن عثيمين (4/ 190). نزهة المتقين شرح رياض الصالحين، لمجموعة من الباحثين (1/ 700).

Hadis ini di HadeethEnc.com

Ya Allah! Hanya kepada-Mu aku berserah diri, kepada-Mu aku beriman, kepada-Mu aku bertawakal, kepada-Mu aku kembali, dan dengan-Mu aku melawan. Ya Allah! Aku berlindung dengan kemuliaan-Mu, tidak ada sembahan yang benar kecuali Engkau, janganlah Engkau menyesatkanku. Engkau Yang Mahahidup yang tidak akan mati, sedangkan jin dan manusia pasti akan mati

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضيَ اللهُ عنهما أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُولُ: «اللهُمَّ لَكَ أَسْلَمْتُ، وَبِكَ آمَنْتُ، وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ، وَإِلَيْكَ أَنَبْتُ، وَبِكَ خَاصَمْتُ، اللهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِعِزَّتِكَ، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ أَنْ تُضِلَّنِي، أَنْتَ الْحَيُّ الَّذِي لَا يَمُوتُ، وَالْجِنُّ وَالْإِنْسُ يَمُوتُونَ».
Ibnu 'Abbās -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan, bahwa Rasulullah ﷺ biasa berdoa, "Ya Allah! Hanya kepada-Mu aku berserah diri, kepada-Mu aku beriman, kepada-Mu aku bertawakal, kepada-Mu aku kembali, dan dengan-Mu aku melawan. Ya Allah! Aku berlindung dengan kemuliaan-Mu, tidak ada sembahan yang benar kecuali Engkau, janganlah Engkau menyesatkanku. Engkau Yang Mahahidup yang tidak akan mati, sedangkan jin dan manusia pasti akan mati."
Muttafaq 'alaih. Ini adalah redaksi Muslim, sedangkan Bukhari meriwayatkannya secara ringkasDerajatSahih
Penjelasan

Di antara doa Nabi ﷺ adalah beliau biasa membaca: Allāhumma aslamtu (Ya Allah, aku berserah diri kepada-Mu), yaitu aku tunduk kepada-Mu .. wabika āmantu (kepada-Mu aku beriman), yaitu membenarkan dan mengakui .. wa 'alaika tawakkaltu (kepada-Mu aku bertawakal), yaitu aku menyerahkan urusan dan bertumpu .. wa ilaika anabtu (kepada-Mu aku kembali), yaitu aku berpulang dan datang .. wa bika khāṣamtu (dengan-Mu aku melawan), yaitu aku beradu hujah dengan musuh-musuh-Mu ... Allāhumma innī a'ūżu (ya Allah, aku berlindung), yaitu aku menyelamatkan diri .. bi'iżżatika (dengan kemuliaan-Mu), yaitu dengan kekokohan dan kehebatan-Mu .. lā ilāha illā anta (tidak ada tuhan yang benar kecuali Engkau), yaitu tidak ada sembahan yang benar selain-Mu .. an-tuḍillanī (janganlah Engkau menyesatkanku) dari petunjuk dan taufik pada rida-Mu .. Antal-ḥayyullażī lā yamūt (Engkaulah Yang Mahahidup yang tidak akan mati), yaitu yang tidak akan punah .. wal-jinnu wal-insu yamūtūn (sedangkan jin dan manusia pasti akan mati).

Faedah
  1. 1- Disyariatkan untuk menghaturkan pujian sebelum menyebut permintaan dalam berdoa.
  2. 2- Kewajiban tawakal kepada Allah Ta'ala semata dan meminta penjagaan kepada-Nya karena Dia yang memiliki sifat-sifat kesempurnaan. Dia semata yang menjadi tumpuan, sedangkan makhluk seluruhnya lemah dan berujung pada kematian sehingga mereka tidak patut dijadikan sandaran.
  3. 3- Meneladan Nabi ﷺ dalam berdoa dengan menggunakan kalimat-kalimat jāmi' dan māni' (komplet) ini, yang mengungkapkan kebenaran iman dan puncak keyakinan.
  4. 4- As-Sindiy berkata, "Ucapan beliau: antal-ḥayyu (Engkau Mahahidup), bermakna: maka Engkau yang patut menjadi tempat berlindung, tidak ada selain-Mu."
Rujukan

صحيح البخاري (9/ 117) (7383). صحيح مسلم (4/ 2086) (2717). تطريز رياض الصالحين، لفيصل آل مبارك (ص72). فتح رب البرية بتلخيص الحموية، لابن عثيمين (ص79). نزهة المتقين شرح رياض الصالحين، لمجموعة من الباحثين (1/ 109). مرعاة المفاتيح شرح مشكاة المصابيح، عبيد الله المباركفوري (8/ 223).

Hadis ini di HadeethEnc.com

Perbanyaklah mengucapkan, 'Yā żal jalāli wal ikrām (Wahai pemilik keagungan dan kemuliaan)

عن أنس رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رسُولُ الله صلى الله عليه وسلم : «ألِظُّوا بـ (يَاذا الجَلاَلِ والإكْرامِ)».
Dari Anas -raḍiyallāhu 'anhu-, dia berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Perbanyaklah mengucapkan 'Yā żal jalāli wal ikrām (Wahai pemilik keagungan dan kemuliaan)!"
Diriwayatkan oleh Tirmiżi - Diriwayatkan oleh Nasā`i - Diriwayatkan oleh AhmadDerajatHadis sahih
Penjelasan

Dalam hadits ini terdapat perintah untuk memperbanyak dan sering berdoa dengan doa ini. Maksudnya adalah pakailah selalu doa ini dalam doa-doa kalian. Di dalamnya terkandung salah satu nama Allah yang dikatakan sebagai nama yang paling agung karena mengandung semua sifat rububiyah dan uluhiyah.

Rujukan

- رياض الصالحين من كلام سيد المرسلين، للإمام أبي زكريا النووي، تحقيق د. ماهر الفحل، دار ابن كثير، دمشق، الطبعة الأولى، 1428ه. - نزهة المتقين شرح رياض الصالحين، تأليف د. مصطفى الخِن وغيره، مؤسسة الرسالة، بيروت، الطبعة الرابعة عشر، 1407هـ. - كنوز رياض الصالحين، لحمد بن ناصر العمار، دار كنوز إشبيليا - الطبعة الأولى، 1430ه. سنن الترمذي - محمد بن عيسى الترمذي، تحقيق وتعليق: أحمد محمد شاكر ومحمد فؤاد عبد الباقي وإبراهيم عطوة عوض - شركة مكتبة ومطبعة مصطفى البابي الحلبي - مصر، الطبعة: الثانية، 1395هـ - 1975م.

Hadis ini di HadeethEnc.com

Demi Allah, sesungguhnya aku beristighfar kepada Allah dan bertobat kepada-Nya dalam sehari lebih dari tujuh puluh kali.

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: «وَاللهِ إني لأَسْتَغْفِرُ اللهَ وأَتُوبُ إليهِ في اليومِ أَكْثَرَ من سَبْعِينَ مَرَّةً».
Dari Abu Hurairah Abdurrahman bin Ṣakhr ad-Dausi -raḍiyallāhu 'anhu-, dia berkata, Aku mendengar Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa ālihi wa sallam- bersabda, "Demi Allah, sesungguhnya aku beristighfar kepada Allah dan bertobat kepada-Nya dalam sehari lebih dari tujuh puluh kali."
Diriwayatkan oleh BukhariDerajatHadis sahih
Penjelasan

Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa ālihi wa sallam- yang sudah Allah ampuni dosa-dosanya yang terlah berlalu dan yang akan datang bersumpah bahwa beliau memohon ampun dan bertobat kepada Allah dalam sehari lebih dari tujuh puluh kali. Istigfar Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa ālihi wa sallam- tidak mesti karena beliau melakukan dosa, akan tetapi itu merupakan kesempurnaan ibadah dan ketergantungan beliau dengan zikir kepad Allah, dan beliau merasakan keagungan hak Allah, serta kekurangan beliau meskipun sudah mensyukuri nikmat-Nya. Ini juga sekaligus sebagai syariat untuk umat setelah beliau, dan berbagai hikmah lainnya.

Rujukan

-نزهة المتقين شرح رياض الصالحين، نشر: مؤسسة الرسالة، الطبعة: الرابعة عشر، 1407هـ - 1987م. -شرح رياض الصالحين، لابن عثيمين، نشر: دار الوطن للنشر، الرياض، الطبعة: 1426هـ. -بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين، للهلالي، نشر: دار ابن الجوزي، الطبعة الأولى1418هـ. -صحيح البخاري، نشر: دار طوق النجاة (مصورة عن السلطانية بإضافة ترقيم ترقيم محمد فؤاد عبد الباقي)، الطبعة: الأولى، 1422هـ.

Hadis ini di HadeethEnc.com

Wahai sekalian manusia! Bertobatlah kepada Allah. Sesungguhnya aku bertobat kepada-Nya dalam sehari sebanyak seratus kali

عن الْأَغَرِّ رضي الله عنه، وَكَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوبُوا إِلَى اللهِ، فَإِنِّي أَتُوبُ فِي الْيَوْمِ إِلَيْهِ مِائَةَ مَرَّةٍ».
Al-Agarr -raḍiyallāhu 'anhu-, salah seorang sahabat Nabi ﷺ, meriwayatkan, Rasulullah ﷺ bersabda, "Wahai sekalian manusia! Bertobatlah kepada Allah. Sesungguhnya aku bertobat kepada-Nya dalam sehari sebanyak seratus kali."
HR. MuslimDerajatSahih
Penjelasan

Nabi ﷺ meminta sekalian manusia agar memperbanyak tobat dan istigfar. Beliau menyampaikan tentang diri beliau yang bertobat dan memohon ampunan kepada Allah dalam sehari lebih dari seratus kali, padahal semua dosa beliau yang lalu dan yang akan datang telah diampuni. Hal itu menunjukkan kesempurnaan perendahan dan penghambaan diri beliau kepada Allah ﷻ.

Faedah
  1. 1- Setiap orang, setinggi apa pun tingkat dan derajat imannya, butuh kembali kepada Allah -Tabāraka wa Ta'ālā- dan menyempurnakan dirinya dengan tobat karena setiap orang tidak luput dari lalai dalam menunaikan hak Allah -Tabāraka wa Ta'ālā-: "Bertobatlah kalian semuanya kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman." (QS. An-Nūr: 31)
  2. 2- Tobat berlaku umum, baik karena melakukan perbuatan haram dan dosa atau karena lalai dalam mengerjakan kewajiban.
  3. 3- Ikhlas dalam bertobat adalah syarat agar tobat diterima. Jadi, orang yang meninggalkan suatu dosa karena selain Allah sebenarnya tidak bertobat.
  4. 4- An-Nawawiy berkata, "Tobat memiliki tiga syarat: meninggalkan kemaksiatan, menyesal telah melakukannya, dan bertekad dengan kuat dan bulat untuk tidak kembali melakukan kemaksiatan yang sama selamanya. Apabila maksiat tersebut berkaitan dengan manusia, maka tobat memiliki syarat lain yang keempat, yaitu mengembalikan hak yang ia rampas kepada pemiliknya atau mendapatkan pemaafan darinya."
  5. 5- Mengingatkan bahwa istigfar Nabi ﷺ tidak berarti lantaran dosa yang beliau lakukan, akan tetapi karena kesempurnaan peribadatan beliau, keterikatan beliau dengan zikir kepada Allah Ta'ala, dan penghayatan beliau tentang besarnya hak Allah Ta'ala sekaligus karena pasti ada kekurangan hamba walau seperti apa pun ia berusaha mensyukuri nikmat-Nya. Di samping itu, hal itu juga dalam rangka penetapan syariat bagi umat setelah beliau dan berbagai hikmah lainnya.
Rujukan

صحيح مسلم (4/ 2075) (2702). نزهة المتقين شرح رياض الصالحين، لمجموعة من الباحثين (1/ 33). شرح رياض الصالحين، لابن عثيمين (1/ 97). بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين، لسليم الهلالي (1/ 52).

Hadis ini di HadeethEnc.com

Rasulullah ﷺ biasa mengucapkan dalam sujud beliau, "Allāhumma-gfir lī żanbī kullahu; diqqahu wa jillahu, wa awwalahu wa ākhirahu, wa 'alāniyatahu wa sirrahu (Ya Allah! Ampunilah dosaku semuanya yang kecil maupun yang besar, yang pertama maupun yang terakhir, yang tampak maupun yang tersembunyi)

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه: أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُولُ فِي سُجُودِهِ: «اللهُمَّ اغْفِرْ لِي ذَنْبِي كُلَّهُ دِقَّهُ، وَجِلَّهُ، وَأَوَّلَهُ وَآخِرَهُ وَعَلَانِيَتَهُ وَسِرَّهُ».
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ biasa mengucapkan dalam sujud beliau, "Allāhumma-gfir lī żanbī kullahu; diqqahu wa jillahu, wa awwalahu wa ākhirahu, wa 'alāniyatahu wa sirrahu (Ya Allah! Ampunilah dosaku semuanya yang kecil maupun yang besar, yang pertama maupun yang terakhir, yang tampak maupun yang tersembunyi)."
HR. MuslimDerajatSahih
Penjelasan

Nabi ﷺ biasa berdoa di dalam sujudnya dengan membaca: Allāhumma-gfir lī żanbī (Ya Allah, ampunilah dosaku); yaitu dengan menutupinya dan Engkau melindungiku dari dampaknya dengan memaafkan dan melewatkannya .. kullahu (semuanya) .. diqqahu (yang kecil); yakni dosa yang kecil dan yang sedikit .. wa jillahu (maupun yang besar); yakni dosa yang besar dan yang banyak .. wa awwalahu (yang pertama); yakni dosa yang pertama .. wa ākhirahu (maupun yang terakhir), demikian juga dosa antara keduanya .. wa 'alāniyatahu wa sirrahu (yang tampak maupun yang tersembunyi); yang tidak mengetahuinya kecuali Engkau, aku menyucikan-Mu.

Faedah
  1. 1- Ibnul-Qayyim berkata, "Meminta pengampunan dosa yang kecil dan yang besar, yang sedikit dan yang banyak, yang pertama dan yang terakhir, yang tersembunyi dan yang tampak. Penyebutan secara umum dan universal ini bertujuan agar pemberian tobat berlaku pada dosa yang telah dilakukan hamba dan yang belum dilakukannya."
  2. 2- Ada yang mengatakan bahwa penyebutan dosa kecil terlebih dahulu sebelum yang besar ialah karena orang yang meminta akan meminta secara berjenjang dari yang rendah ke yang tinggi. Juga, karena dosa besar biasanya tumbuh dari terus-menerus melakukan dosa kecil dan sikap tidak menghiraukannya; sehingga ia seolah menjadi sarana menuju dosa besar, dan sarana itu patut untuk didahulukan, baik dalam penetapannya maupun penghilangannya.
  3. 3- Berdoa kepada Allah Ta'ala dan meminta ampunan dari semua dosa, yang kecil maupun yang besar.
  4. 4- An-Nawawiy berkata, "Pelajaran agar menguatkan doa dan memperbanyak lafalnya sekalipun sebagian lafal telah mewakili yang lain."
Rujukan

صحيح مسلم (1/ 350) (483). بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين، لسليم الهلالي (2/ 506). تطريز رياض الصالحين، لفيصل آل مبارك (ص780). شرح رياض الصالحين، لابن عثيمين (5/ 509). كنوز رياض الصالحين، لمجموعة من الباحثين (17/ 111). نزهة المتقين شرح رياض الصالحين، لمجموعة من الباحثين (2/ 979).

Hadis ini di HadeethEnc.com

Ya Allah! Ampunilah dosaku, dosa yang telah aku lakukan dan dosa amalan yang aku lalaikan, dosa yang aku rahasiakan dan yang aku tampakkan.

عن علي بن أبي طالب رضي الله عنه قال: كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا قام إلى الصلاة يكون من آخر ما يقول بين التشهد والتسليم: «اللهم اغفر لي ما قَدَّمتُ وما أخَّرْتُ، وما أسررتُ وما أعلنتُ، وما أسْرَفتُ، وما أنت أعلم به مني، أنت المُقَدِّم، وأنت المؤخر، لا إله إلا أنت».
Dari Ali bin Abi Ṭālib -raḍiyallāhu 'anhu-, ia menuturkan, "Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- apabila menunaikan salat, maka ucapan terakhir yang beliau ucapkan di antara tasyahhud dan salam adalah, "Allāhumma igfirlī mā qaddamtu wa mā akhkhartu, wa mā asrartu wa mā a'lantu, wa mā asraftu, wa mā anta a'lamu bihi minnī, antal-muqaddimu, wa antal-mu`akhkhiru, lā ilāha illā anta (Ya Allah, ampunilah dosaku, dosa yang telah aku lakukan dan dosa amalan yang aku lalaikan, dosa yang aku rahasiakan dan yang aku tampakkan, dosa yang aku lakukan dengan berlebihan dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya dariku, Engkau yang mendahulukan dan Engkau yang mengakhirkan, tiada Ilah yang berhak disembah selain Engkau)."
Diriwayatkan oleh MuslimDerajatHadis sahih
Penjelasan

Apabila Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menunaikan salat, maka ucapan terakhir yang beliau ucapkan di antara tasyahhud dan salam adalah "Ya Allah, ampunilah dosaku, dosa yang telah aku lakukan" berupa amalan keburukan, "dan dosa amalan yang aku lalaikan" dari berbagai amalan, yakni semua yang terluputkan pengamalannya olehku, "dosa yang aku rahasiakan" yakni, yang aku sembunyikan, "dan apa yang aku tampakkan, dosa yang aku lakukan dengan berlebihan" yakni melampaui batas. Ini merupakan ungkapan kesungguhan dalam memohon ampunan yaitu dengan menyebutkan berbagai macam bentuk kemaksiatan. "Dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya dariku" yakni, dosa-dosaku yang aku tidak mengetahui jumlah maupun hukumnya. "Engkau yang mendahulukan" yakni, mendahulukan sebagian hamba menuju jalan-Mu dengan menunjuki mereka jalan ketaatan, "dan Engkau yang mengakhirkan" yakni, mengakhirkan sebagian hamba dengan tidak diberi pertolongan. Atau maksudnya, Engkau mendahulukan siapa yang Engkau kehendaki menuju derajat kesempurnaan, dan Engkau mengakhirkan siapa yang Engkau kehendaki dari perkara-perkara yang mulia agar mereka berada pada perkara-perkara yang sia-sia. "Tiada Ilah yang berhak disembah selain Engkau" yakni, tidak ada sesembahan yang disembah dengan hak selain Engkau.

Rujukan

بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين، تأليف: سليم الهلالي، دار ابن الجوزي. رياض الصالحين من كلام سيد المرسلين، للإمام أبي زكريا النووي، تحقيق د. ماهر الفحل، دار ابن كثير- دمشق، الطبعة الأولى، 1428هـ. صحيح مسلم، للإمام مسلم بن الحجاج، حققه ورقمه محمد فؤاد عبدالباقي، دار عالم الكتب، الرياض، الطبعة الأولى، 1417هـ. مرقاة المفاتيح شرح مشكاة المصابيح، تأليف ملا علي القاري، تحقيق صدقي العطار، دار الفكر، بيروت، الطبعة الأولى، 1412هـ. نزهة المتقين شرح رياض الصالحين، تأليف د. مصطفى الخِن وغيره، مؤسسة الرسالة، بيروت، الطبعة الرابعة عشر، 1407هـ.

Hadis ini di HadeethEnc.com

Ucapkanlah, Lā ilāha illallāh waḥdahu lā syarīkalah, allāhu akbar kabīra, wal-ḥamdu lillāhi kaṡīra, subḥānallāhi Rabbil-'ālamīn, lā ḥaula wa lā quwwata illā billāhi al-'azīzil-ḥakīm

عَنْ سَعْدٍ رضي الله عنها قَالَ: جَاءَ أَعْرَابِيٌّ إِلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: عَلِّمْنِي كَلَامًا أَقُولُهُ، قَالَ: «قُلْ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، اللهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا، سُبْحَانَ اللهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ» قَالَ: فَهَؤُلَاءِ لِرَبِّي، فَمَا لِي؟ قَالَ: «قُلْ: اللهُمَّ اغْفِرْ لِي وَارْحَمْنِي وَاهْدِنِي وَارْزُقْنِي».
Sa'ad -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, ia berkata, Seorang Arab badui datang kepada Rasulullah ﷺ lalu berkata, "Ajarkanlah kepadaku satu perkataan yang akan (selalu) aku ucapkan." Beliau bersabda, "Ucapkanlah, Lā ilāha illallāh waḥdahu lā syarīkalah, allāhu akbar kabīra, wal-ḥamdu lillāhi kaṡīra, subḥānallāhi Rabbil-'ālamīn, lā ḥaula wa lā quwwata illā billāhi al-'azīzil-ḥakīm (Tidak ada sembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Allah Mahabesar dengan segala kebesaran-Nya, segala puji yang banyak milik Allah, Mahasuci Allah Tuhan alam semesta, tidak ada daya serta kekuatan melainkan dari Allah Yang Maha Perkasa lagi Mahabijaksana)." Ia berkata, "Itu semua untuk Tuhanku. Lantas apa untukku?" Beliau bersabda, "Ucapkanlah, 'Allāhummagfirlī warḥamnī wahdinī warzuqnī (Ya Allah! Ampunilah aku, rahmatilah aku, berilah aku petunjuk, dan berilah aku rezeki)'."
HR. MuslimDerajatSahih
Penjelasan

Seorang penduduk badui meminta kepada Rasulullah ﷺ agar diajari sebuah zikir yang akan selalu ia baca, maka beliau ﷺ bersabda: Bacalah, "Lā ilāha illallāh waḥdahu lā syarīkalah." Nabi memulai dengan kesaksian tauhid, artinya: Tidak ada sembahan yang berhak disembah kecuali Allah. "Allāhu akbar kabīrā." Maksudnya: Allah yang paling besar dan paling agung dari segala sesuatu. "Wal-ḥamdu lillāh kaṡīrā." Maksudnya: Aku memuji Allah dengan pujian yang banyak atas terkait semua sifat, perbuatan, dan nikmat-Nya yang tidak terhitung. "Subḥānallāh rabbil-'ālamīn." Maksudnya: Dia Mahasuci dari kekurangan. "Lā ḥaula walā quwwata illā billāh al-'azīzil-ḥakīm." Maksudnya: Tidak ada perubahan dari satu keadaan ke keadaan lainnya kecuali dengan pertolongan Allah, bantuan, dan taufik-Nya. Orang tersebut berkata, "Kalimat-kalimat itu adalah untuk Tuhanku, untuk berzikir, dan mengagungkan-Nya, lantas doa apa untuk diriku sendiri?" Maka beliau ﷺ bersabda: Bacalah, "Ya Allah, ampunilah aku" dengan menghapus kesalahan dan menutupinya. "Rahmatilah aku" dengan memberikan kebaikan dan kemaslahatan agama dan dunia untukku. "Tunjukilah aku" kepada keadaan yang paling baik dan ke jalan yang lurus. "Berilah aku rezeki" berupa harta yang halal, kesehatan, dan segala bentuk kebaikan dan keselamatan.

Faedah
  1. 1- Anjuran berzikir kepada Allah dengan tahlil, takbir, tahmid, dan tasbih.
  2. 2- Anjuran berzikir kepada Allah dan memuji-Nya sebelum berdoa.
  3. 3- Anjuran berdoa dengan doa terbaik yang bersumber dari Al-Qur`an dan Sunnah yang menggabungkan kebaikan dunia dan akhirat, dan tetap boleh berdoa dengan semua yang ia mau.
  4. 4- Sebaiknya seorang hamba bersungguh-sungguh mempelajari apa yang berguna bagi dunia dan akhiratnya.
  5. 5- Motivasi untuk meminta ampunan, rahmat, dan rezeki, di mana ia merupakan muara kebaikan.
  6. 6- Kasih sayang Nabi ﷺ kepada umatnya dengan mengajarkan apa yang berguna bagi mereka.
  7. 7- Permohonan rahmat disebut setelah ampunan agar bersih secara sempurna, karena ampunan maknanya menutupi dosa dan menghapusnya serta menjauhkan dari api neraka, sedangkan rahmat ialah memberi kebaikan dan masuk surga, dan itulah kesuksesan yang besar.
Rujukan

صحيح مسلم (4/ 2072) (2696). بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين، لسليم الهلالي (2/ 498). نزهة المتقين شرح رياض الصالحين، لمجموعة من الباحثين (2/ 972). مرقاة المفاتيح شرح مشكاة المصابيح، لعلي القاري (4/ 1606).

Hadis ini di HadeethEnc.com

Setiap hadis, derajat, penjelasan, dan faedah di sini ditampilkan persis sebagaimana diterbitkan HadeethEnc.com, menurut ketentuan penerbitan ulangnya. Derajat itu tidak menyebut siapa yang menilainya. Terjemahan dan penjelasan adalah karya para penyusunnya, dan sebagian menyebutkan hukum; para peninjau Sabīl belum memeriksanya. Hadis berbahasa Arablah teksnya. Sumber: HadeethEnc.com