عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «السَّاعِي عَلَى الأَرْمَلَةِ وَالمِسْكِينِ، كَالْمُجَاهِدِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، أَوِ القَائِمِ اللَّيْلَ الصَّائِمِ النَّهَارَ».
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Nabi ﷺ bersabda, "Orang yang berusaha untuk memberi nafkah kepada janda dan orang miskin seperti orang yang berjihad fi sabilillah, atau seperti orang yang salat sepanjang malam dan puasa sepanjang siang."
Muttafaq 'alaihDerajatSahih
Penjelasan
Nabi ﷺ mengabarkan bahwa orang yang mengupayakan kepentingan perempuan yang ditinggal mati suaminya sementara tidak ada orang yang mengurusi urusannya dan juga orang miskin yang membutuhkan dengan menafkahi mereka karena mengharapkan pahala di sisi Allah Ta'ala, maka dalam perolehan pahala dia sama dengan orang yang berjihad di jalan Allah atau yang melaksanakan salat tahajud tanpa lelah dan yang berpuasa tiada henti.
Faedah
- 1- Anjuran saling tolong-menolong dan membantu kebutuhan orang-orang lemah.
- 2- Ibadah mencakup semua amal saleh, termasuk membantu janda dan orang miskin.
- 3- Ibnu Hubairah berkata, "Maksud hadis ini adalah bahwa Allah Ta'ala mengumpulkan untuknya pahala orang yang berpuasa, salat malam, dan berjihad sekaligus. Hal itu karena dia menggantikan posisi suami janda tersebut... dan membantu orang miskin yang tidak mampu mengurusi dirinya dengan memberi kelebihan makanannya dan bersedekah dengan kekuatannya, sehingga manfaatnya setara dengan puasa, qiamulail dan jihad."
Rujukan
صحيح البخاري (7/ 62) (5353).
صحيح مسلم (4/ 2286) (2982).
بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين، لسليم بن عيد الهلالي (1/ 351).
تطريز رياض الصالحين، لفيصل بن عبد العزيز المبارك (ص198).
رياض الصالحين (ص107) (265).
شرح رياض الصالحين، لابن عثيمين (3/ 99).
نزهة المتقين شرح رياض الصالحين، لمجموعة من الباحثين (275).
Hadis ini di HadeethEnc.comعَنْ ثَوْبَانَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَفْضَلُ دِينَارٍ يُنْفِقُهُ الرَّجُلُ، دِينَارٌ يُنْفِقُهُ عَلَى عِيَالِهِ، وَدِينَارٌ يُنْفِقُهُ الرَّجُلُ عَلَى دَابَّتِهِ فِي سَبِيلِ اللهِ، وَدِينَارٌ يُنْفِقُهُ عَلَى أَصْحَابِهِ فِي سَبِيلِ اللهِ» قَالَ أَبُو قِلَابَةَ: وَبَدَأَ بِالْعِيَالِ، ثُمَّ قَالَ أَبُو قِلَابَةَ: وَأَيُّ رَجُلٍ أَعْظَمُ أَجْرًا مِنْ رَجُلٍ يُنْفِقُ عَلَى عِيَالٍ صِغَارٍ، يُعِفُّهُمْ أَوْ يَنْفَعُهُمُ اللهُ بِهِ وَيُغْنِيهِمْ.
Ṡaubān -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ bersabda, "Sebaik-baik dinar (harta) yang dinafkahkan seseorang ialah dinar yang dinafkahkan untuk keluarganya, dinar yang dinafkahkan untuk kendaraannya di jalan Allah, dan dinar yang dinafkahkan untuk sahabat-sahabatnya yang berperang di jalan Allah." Abu Qilābah berkata, "Beliau memulainya dengan keluarga." Kemudian Abu Qilābah berkata, "Siapakah yang lebih besar pahalanya dari seorang laki-laki yang menafkahi anak-anaknya yang masih kecil; dengannya Allah menjaga mereka atau memberikan mereka manfaat dan memberikan kecukupan bagi mereka?!"
HR. MuslimDerajatSahih
Penjelasan
Rasulullah ﷺ menerangkan beberapa jenis nafkah dan mengurutkannya berdasarkan nafkah yang paling wajib. Beliau memulai dari yang paling penting. Beliau mengabarkan bahwa harta yang paling banyak pahalanya ialah yang dinafkahkan oleh seorang muslim kepada orang yang wajib ia nafkahi, seperti istri dan anak. Kemudian nafkah pada kendaraan yang disiapkan untuk perang di jalan Allah. Kemudian nafkah pada teman dan rekan-rekan saat mereka berjihad di jalan Allah.
Faedah
- 1- Mengurutkan keutamaan nafkah sebagaimana yang disebutkan, lalu memperhatikan hal tersebut ketika terdapat lebih dari satu objek nafkah yang tidak bisa dipenuhi semuanya.
- 2- Menerangkan keutamaan nafkah pada keluarga atas nafkah lainnya.
- 3- Infak pada jihad di jalan Allah termasuk nafkah yang paling agung, seperti menyiapkan peralatan dan pasukan untuk berjihad.
- 4- Dikatakan juga, yang dimaksud dengan jalan Allah ialah seluruh ketaatan seperti haji atau lainnya.
Rujukan
صحيح مسلم (2/ 691) (994).
كنوز رياض الصالحين، لمجموعة من الباحثين (5/ 315).
شرح رياض الصالحين، لابن عثيمين (3/ 156).
نزهة المتقين شرح رياض الصالحين، لمجموعة من الباحثين (1/ 291).
بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين، لسليم الهلالي (1/ 374).
Hadis ini di HadeethEnc.comعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضيَ اللهُ عنهُ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «إِذَا تَوَضَّأَ الْعَبْدُ الْمُسْلِمُ -أَوِ الْمُؤْمِنُ- فَغَسَلَ وَجْهَهُ خَرَجَ مِنْ وَجْهِهِ كُلُّ خَطِيئَةٍ نَظَرَ إِلَيْهَا بِعَيْنَيْهِ مَعَ الْمَاءِ -أَوْ مَعَ آخِرِ قَطْرِ الْمَاءِ-، فَإِذَا غَسَلَ يَدَيْهِ خَرَجَ مِنْ يَدَيْهِ كُلُّ خَطِيئَةٍ كَانَ بَطَشَتْهَا يَدَاهُ مَعَ الْمَاءِ -أَوْ مَعَ آخِرِ قَطْرِ الْمَاءِ-، فَإِذَا غَسَلَ رِجْلَيْهِ خَرَجَتْ كُلُّ خَطِيئَةٍ مَشَتْهَا رِجْلَاهُ مَعَ الْمَاءِ -أَوْ مَعَ آخِرِ قَطْرِ الْمَاءِ- حَتَّى يَخْرُجَ نَقِيًّا مِنَ الذُّنُوبِ».
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Apabila seorang muslim -atau mukmin- berwudu, lalu membasuh wajahnya, maka akan keluar dari wajahnya setiap dosa akibat pandangan kedua matanya bersamaan dengan air itu -atau bersama tetesan air yang terakhir-. Lalu jika dia membasuh kedua tangannya, akan keluarlah setiap dosa akibat perbuatan yang dilakukan kedua tangannya bersamaan dengan air itu -atau bersama tetesan air yang terakhir-. Lalu jika ia membasuh kedua kaki, akan keluarlah setiap dosa akibat langkah kedua kakinya bersamaan dengan air itu -atau bersama tetesan air yang terakhir-. Sehingga ia selesai (dari wudu) dalam keadaan bersih dari dosa.”
HR. MuslimDerajatSahih
Penjelasan
Nabi ﷺ menerangkan bahwa ketika seorang muslim atau seorang mukmin berwudu lalu membasuh wajahnya saat wudu, maka setiap dosa kecil yang dia lihat dengan matanya akan keluar dari wajahnya bersama air yang jatuh setelah basuhan atau bersama tetesan air yang terakhir. Ketika dia membasuh kedua tangannya, maka setiap dosa kecil yang diperbuat oleh kedua tangannya akan keluar dari tangannya bersama air itu atau bersama tetesan air yang terakhir. Ketika dia membasuh kedua kakinya, maka setiap dosa kecil yang dilangkahkan oleh kedua kakinya akan keluar dari kakinya bersama air itu atau bersama tetesan air terakhir, hingga dia keluar dalam kondisi suci dari dosa-dosa kecil bersama selesainya wudu.
Faedah
- 1- Keutamaan menjaga wudu karena dapat menggugurkan dosa.
- 2- Di antara petunjuk Nabi ﷺ ialah memotivasi manusia melakukan ketaatan dan ibadah dengan menyebutkan pahala dan ganjarannya
- 3- Setiap anggota tubuh manusia akan terjerumus dalam sebagian kemaksiatan. Oleh karena itu, dosa akan mengikuti setiap organ yang melakukannya dan akan keluar dari setiap organ yang bertobat darinya.
- 4- Wudu berisikan pembersihan secara fisik, yaitu saat anggota wudu dibasuh. Sedangkan pembersihan yang bersifat maknawi adalah pembersihan dari dosa yang dilakukan oleh anggota tersebut.
Rujukan
صحيح مسلم (1/ 215) (244).
كنوز رياض الصالحين، لمجموعة من الباحثين (3/ 108).
شرح رياض الصالحين، لابن عثيمين (2/ 181).
بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين، لسليم الهلالي (1/ 208).
نزهة المتقين شرح رياض الصالحين، لمجموعة من الباحثين (1/ 157).
Hadis ini di HadeethEnc.comعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَا تَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا، وَلَا تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا، أَوَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى شَيْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ؟ أَفْشُوا السَّلَامَ بَيْنَكُمْ».
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ bersabda, "Kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman, dan kalian tidak akan beriman sampai kalian saling mencintai. Maukah kalian aku tunjukkan sesuatu jika kalian melakukannya maka kalian akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian!"
HR. MuslimDerajatSahih
Penjelasan
Nabi ﷺ menerangkan bahwa tidak akan masuk surga kecuali orang-orang yang beriman, dan tidak akan sempurna keimanan serta tidak akan baik keadaan masyarakat muslim hingga mereka saling mencintai satu sama lain. Kemudian Nabi ﷺ mengarahkan pada perkara paling utama yang akan membumikan rasa cinta, yaitu menebarkan salam di antara kaum muslimin, yang telah dijadikan oleh Allah sebagai ucapan salam kepada hamba-hamba-Nya.
Faedah
- 1- Masuk surga tidak akan terwujud kecuali dengan keimanan.
- 2- DI antara bentuk kesempurnaan iman ialah seorang muslim mencintai bagi saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya.
- 3- Anjuran menebarkan salam kepada kaum muslimin karena di dalamnya terdapat penebaran cinta dan rasa aman di antara umat manusia.
- 4- Ucapan salam tidak diberikan kecuali pada seorang muslim, berdasarkan ucapan Nabi ﷺ, "Di antara kalian."
- 5- Memberi salam akan menghilangkan sikap saling boikot dan permusuhan.
- 6- Urgensi cinta di antara kaum muslimin karena ia merupakan bagian dari kesempurnaan iman.
- 7- Disebutkan dalam hadis lain bahwa lafaz salam yang sempurna ialah, "As-salāmu 'alaikum waraḥmatullāhi wabarakātuh." Boleh juga dicukupkan dengan "As-salāmu 'alaikum".
Rujukan
صحيح مسلم (1/ 74) (54).
بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين، لسليم الهلالي (1/ 129).
تطريز رياض الصالحين، لفيصل المبارك (ص515).
شرح رياض الصالحين، لابن عثيمين (4/ 394).
نزهة المتقين شرح رياض الصالحين، لمجموعة من الباحثين (1/ 661).
Hadis ini di HadeethEnc.comعن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : «من قتل وَزَغَةً فِي أَوَّلِ ضَرْبَةٍ فله كذا وكذا حسنة، ومن قتلها في الضَّرْبَةِ الثانية فله كذا وكذا حسنة دون الأولى، وإن قتلها في الضربة الثالثة فله كذا وكذا حسنة». وفي رواية: «من قتل وَزَغًا في أول ضربة كتب له مائة حسنة، وفي الثانية دون ذلك، وفي الثالثة دون ذلك».
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Siapa yang membunuh tokek dengan satu pukulan, maka baginya sekian kebaikan. Siapa yang membunuhnya dengan dua kali pukulan, maka baginya sekian kebaikan lebih sedikit dari yang pertama. Jika membunuhnya dengan tiga pukulan, maka baginya sekian kebaikan." Dalam riwayat lain disebutkan, "Siapa yang membunuh tokek dengan satu pukulan, maka dituliskan baginya seratus kebaikan. Membunuhnya dengan dua pukulan, maka baginya lebih sedikit dari yang pertama. Jika membunuhnya dengan tiga pukulan, maka baginya lebih sedikit dari yang kedua."
Diriwayatkan oleh MuslimDerajatHadis sahih
Penjelasan
Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menyuruh dan menganjurkan kita untuk membunuh cicak (tokek) dan beliau memberitahu bahwa orang yang membunuhnya dengan satu pukulan, maka baginya ditulis seratus kebaikan. Siapa membunuhnya dengan dua kali pukulan, maka baginya kebaikan yang lebih sedikit dari yang pertama. Siapa membunuhnya dengan tiga pukulan, maka baginya kebaikan yang lebih sedikit dari itu. Hikmah membunuhnya adalah karena dia yang meniup api yang membakar Ibrahim -‘alaihissalām-. Disamping itu dia juga berbahaya dan beracun.
Rujukan
- رياض الصالحين من كلام سيد المرسلين؛ للإمام أبي زكريا النووي، تحقيق د. ماهر الفحل، دار ابن كثير، دمشق، الطبعة الأولى، 1428ه.
- بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين؛ تأليف سليم الهلالي، دار ابن الجوزي، الطبعة الأولى 1418ه
- نزهة المتقين شرح رياض الصالحين؛ تأليف د. مصطفى الخِن وغيره، مؤسسة الرسالة، بيروت، الطبعة الرابعة عشر، 1407هـ.
- صحيح مسلم، للإمام مسلم بن الحجاج، تحقيق محمد فؤاد عبد الباقي، دار إحياء التراث العربي.
- كنوز رياض الصالحين، لحمد بن ناصر العمار، دار كنوز إشبيليا، الطبعة الأولى1430ه
- شرح رياض الصالحين؛ للشيخ محمد بن صالح العثيمين، مدار الوطن، الرياض، 1426هـ.
Hadis ini di HadeethEnc.comعن أبي سعيد الخُدْرِي رضي الله عنه قال: جاءت امرأة إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم فقالت: يا رسول الله، ذهب الرجال بِحَدِيثِكَ، فاجْعَل لنَا من نَفْسِك يومًا نَأتِيكَ فيه تُعَلِّمُنَا مما عَلَّمَكَ الله، قال: «اجْتَمِعْنَ يَوَم كَذَا وكَذَا» فَاجْتَمَعْنَ، فأتَاهُنَّ النبي صلى الله عليه وسلم فَعَلَّمَهُنَّ مما عَلَّمَهُ الله، ثم قال: «ما مِنْكُنَّ من امرأة تُقَدِّمُ ثَلاَثَة من الولد إلا كانوا حِجَابًا من النَّارِ» فقالت امرأة: واثنين؟ فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم : «واثنين».
Dari Abu Sa'īd Al-Khudri -raḍiyallāhu 'anhu- menuturkan, "Seorang wanita datang pada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, lalu berkata, "Wahai Rasulullah, para lelaki pergi membawa hadis Anda. Maka tetapkan untuk kami satu hari di mana kami mendatangi Anda agar Anda mengajarkan pada kami apa yang Allah ajarkan pada Anda." Beliau bersabda, "Berkumpullah kalian di hari ini dan itu." Lalu mereka berkumpul. Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mendatangi mereka lalu mengajarkan pada mereka apa yang Allah ajarkan pada beliau. Kemudian beliau bersabda, "Tidaklah seorang wanita dari kalian yang didahului wafat oleh tiga orang anaknya kecuali mereka menjadi tirai baginya dari neraka." Seorang wanita berkata, "Dan dua orang?" Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Dan juga dua orang."
Muttafaq 'alaihDerajatHadis sahih
Penjelasan
Seorang wanita berkata pada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- "Kaum lelaki menyibukkan Anda dari memberikan perhatian pada kami di sepanjang waktu, sehingga kami tidak mendapati waktu untuk menemui Anda dan menanyakan urusan agama kami pada Anda, karena mereka terus menyertai Anda di sepanjang waktu. Maka berilah kami, kaum wanita, satu hari khusus di mana kami menemui Anda agar Anda mengajarkan perkara-perkara agama pada kami. Lalu Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengkhususkan satu hari untuk mereka berkumpul. Maka pada hari yang telah ditetapkan Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- tersebut, para wanita berkumpul. Beliau mendatangi mereka lalu mengajarkan pada mereka ilmu yang Allah ajarkan pada beliau dan mereka butuhkan. Kemudian beliau memberi mereka kabar gembira bahwa tak seorang wanita pun dari mereka yang didahului (wafat) tiga anaknya, laki-laki maupun perempuan, ke negeri akhirat, sedang ia menghadapinya dengan sabar dan mengharap pahala, kecuali musibah yang ia terima akibat kematian mereka ini menjadi pelindungnya dari neraka, meskipun ia layak memasukinya karena dosa-dosanya. Lalu seorang wanita berkata, "Jika dua orang anak yang mati, apakah ia mendapatkan pahala seperti orang yang tiga putranya meninggal dunia?" Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menjawab, "Demikian pula jika dua anaknya meninggal, maka pahalanya seperti pahala orang yang tiga anaknya meninggal dunia."
Rujukan
نزهة المتقين، تأليف: جمعٌ من المشايخ، الناشر: مؤسسة الرسالة، الطبعة الأولى: 1397 هـ الطبعة الرابعة عشر 1407هـ.
بهجة الناظرين، تأليف: سليم بن عيد الهلالي، الناشر: دار ابن الجوزي ، سنة النشر: 1418 هـ- 1997م.
صحيح مسلم، تأليف: مسلم بن الحجاج النيسابوري، تحقيق: محمد فؤاد عبد الباقي الناشر: دار إحياء التراث العربي – بيروت.
رياض الصالحين، تأليف: محيي الدين يحيى بن شرف النووي، تحقيق: د. ماهر بن ياسين الفحل ، الطبعة: الأولى، 1428هـ.
صحيح البخاري، تأليف: محمد بن إسماعيل البخاري، تحقيق: محمد زهير الناصر، الناشر: دار طوق النجاة الطبعة: الأولى، 1422هـ.
دليل الفالحين، تأليف: محمد بن علان، الناشر: دار الكتاب العربي، نسخة الكترونية، لا يوجد بها بيانات نشر.
شرح رياض الصالحين، تأليف: محمد بن صالح العثيمين، الناشر: دار الوطن للنشر، الطبعة: 1426هـ.
مرقاة المفاتيح شرح مشكاة المصابيح، تأليف: علي بن سلطان القاري، الناشر: دار الفكر، الطبعة: الأولى، 1422هـ.
Hadis ini di HadeethEnc.comعن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : «لا يَمُوتُ لأحَدٍ من المسلمين ثلاثة من الوَلَد فتَمسُّه النَّار إلا تَحِلَّة القَسَم».
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, "Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Tidaklah tiga orang anak dari seorang kaum muslimin meninggal dunia, lalu ia (orang tuanya) tersentuh api neraka melainkan sebatas menjalankan sumpah (Allah)."
Muttafaq 'alaihDerajatHadis sahih
Penjelasan
Siapa yang tiga anaknya. laki-laki saja, atau perempuan saja, atau laki-laki dan perempuan sekaligus, meninggal dunia, maka Allah mengharamkan tubuhnya dari neraka dengan syarat ia sabar, mengharap pahala Allah, dan rida terhadap qada dan qadar Allah -Ta'ālā-, melainkan sekedar untuk menjalankan sumpah Allah, yaitu firman Allah -'Azza wa Jalla-, "Dan tidak ada seorang pun darimu, melainkan mendatangi neraka itu."
Rujukan
- صحيح البخاري، للإمام محمد بن إسماعيل البخاري، تحقيق محمد الناصر، دار طوق النجاة.
- صحيح مسلم، للإمام مسلم بن الحجاج، تحقيق محمد فؤاد عبد الباقي، دار إحياء التراث العربي.
- بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين؛ تأليف سليم الهلالي، دار ابن الجوزي- الطبعة الأولى1418ه
- نزهة المتقين شرح رياض الصالحين؛ تأليف د. مصطفى الخِن وغيره، مؤسسة الرسالة-بيروت، الطبعة الرابعة عشر، 1407هـ.
- سنن أبي داود، لأبي داود السجستاني، تحقيق محمد محيي الدين، المكتبة العصرية.
- كنوز رياض الصالحين، لحمد بن ناصر العمار، دار كنوز إشبيليا- الطبعة الأولى1430ه
- دليل الفالحين لطرق رياض الصالحين، لمحمد علي بن محمد بن علان بن إبراهيم البكري الصديقي الشافعي اعتنى بها: خليل مأمون شيحا، دار المعرفة.
- شرح رياض الصالحين؛ للشيخ محمد بن صالح العثيمين، مدار الوطن، الرياض، 1426هـ.
Hadis ini di HadeethEnc.comعَنْ خُرَيْمِ بْنِ فَاتِكٍ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «الْأَعْمَالُ سِتَّةٌ، وَالنَّاسُ أَرْبَعَةٌ، فَمُوجِبَتَانِ، وَمِثْلٌ بِمِثْلٍ، وَحَسَنَةٌ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا، وَحَسَنَةٌ بِسَبْعِ مِائَةٍ، فَأَمَّا الْمُوجِبَتَانِ: فَمَنْ مَاتَ لَا يُشْرِكُ بِاللهِ شَيْئًا دَخَلَ الْجَنَّةَ، وَمَنْ مَاتَ يُشْرِكُ بِاللهِ شَيْئًا دَخَلَ النَّارَ، وَأَمَّا مِثْلٌ بِمِثْلٍ: فَمَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ حَتَّى يَشْعُرَهَا قَلْبُهُ، وَيَعْلَمَهَا اللهُ مِنْهُ كُتِبَتْ لَهُ حَسَنَةً، وَمَنْ عَمِلَ سَيِّئَةً، كُتِبَتْ عَلَيْهِ سَيِّئَةً، وَمَنْ عَمِلَ حَسَنَةً فَبِعَشْرِ أَمْثَالِهَا، وَمَنْ أَنْفَقَ نَفَقَةً فِي سَبِيلِ اللهِ فَحَسَنَةٌ بِسَبْعِ مِائَةٍ، وَأَمَّا النَّاسُ، فَمُوَسَّعٌ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا مَقْتُورٌ عَلَيْهِ فِي الْآخِرَةِ، وَمَقْتُورٌ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا مُوَسَّعٌ عَلَيْهِ فِي الْآخِرَةِ، وَمَقْتُورٌ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، وَمُوَسَّعٌ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ».
Khuraim bin Fātik -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ bersabda, "Amalan itu ada enam macam, sedangkan manusia ada empat macam. Enam amalan tersebut yaitu: dua amal yang memastikan, amalan yang dibalas semisal, satu kebaikan dibalas sepuluh kali lipat, dan satu kebaikan dibalas tujuh ratus kali lipat. Adapun dua amalan yang memastikan yaitu: siapa yang meninggal dalam keadaan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apa pun maka akan masuk surga, dan siapa yang meninggal dalam keadaan menyekutukan Allah dengan sesuatu apa pun maka akan masuk neraka. Sedangkan amalan yang dibalas semisal yaitu siapa yang meniatkan suatu kebaikan hingga dirasakan oleh hatinya dan Allah mengetahuinya, maka akan dituliskan baginya satu kebaikan, dan siapa yang melakukan suatu keburukan maka akan dituliskan baginya satu keburukan. Kemudian siapa yang melakukan satu kebaikan maka akan dilipatgandakan sepuluh kali lipatnya, dan siapa yang berinfak satu kali di jalan Allah, baginya satu kebaikan akan dilipatgandakan tujuh ratus kali lipat. Adapun empat manusia itu, yaitu: orang yang diberikan kelapangan di dunia tetapi diberikan kesempitan di akhirat, orang yang diberikan kesempitan di dunia tetapi diberikan kelapangan di akhirat, orang yang diberikan kesempitan di dunia dan akhirat, dan orang yang diberikan kelapangan di dunia dan akhirat."
HR. AhmadDerajatHasan
Penjelasan
Nabi ﷺ menyampaikan bahwa amalan itu ada enam macam, sedangkan manusia ada empat macam. Keenam amalan itu adalah:
Pertama: Siapa yang meninggal dalam keadaan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apa pun, maka dia pasti mendapatkan surga.
Kedua: Siapa yang meninggal dalam keadaan menyekutukan Allah dengan sesuatu apa pun, maka dia pasti mendapatkan neraka dan kekal di dalamnya.
Itulah dua amalan yang memastikan.
Ketiga: Kebaikan yang diniatkan. Siapa yang berniat melakukan suatu kebaikan dan dia tulus di dalam niatnya itu hingga dirasakan oleh hatinya dan Allah mengetahui niat itu padanya, kemudian ia dihalangi oleh suatu perkara sehingga tidak mampu melaksanakan kebaikan itu, maka tetap akan dituliskan baginya satu kebaikan sempurna.
Keempat: Keburukan yang dikerjakan. Siapa yang melakukan satu keburukan maka akan dituliskan baginya satu keburukan.
Keduanya adalah amalan yang dibalas dengan sepadan, tidak dilipatgandakan.
Kelima: Satu kebaikan dibalas sepuluh kali lipat, yaitu orang yang meniatkan suatu kebaikan dan mengerjakannya, maka ditulis baginya sepuluh kebaikan.
Keenam: Satu kebaikan dibalas tujuh ratus kali lipat, yaitu orang yang berinfak satu kali infak di jalan Allah, maka akan ditulis baginya tujuh ratus kebaikan. Ini termasuk karunia dan kebaikan Allah ﷻ kepada hamba-hamba-Nya.
Adapun empat kelompok manusia, yaitu:
Pertama: Orang yang diberikan kelapangan rezeki di dunia dan mendapatkan semua yang diinginkannya, tetapi diberikan kesempitan di akhirat dan tempat kembalinya ke neraka, yaitu orang kafir yang kaya.
Kedua: Orang yang diberikan kesempitan rezeki di dunia, tetapi diberikan kelapangan di akhirat dan tempat kembalinya ke surga, yaitu orang mukmin yang fakir.
Ketiga: Orang yang diberikan kesempitan di dunia dan akhirat, yaitu orang kafir yang fakir.
Keempat: Orang yang diberikan kelapangan di dunia dan akhirat, yaitu orang mukmin yang kaya.
Faedah
- 1- Besarnya karunia Allah Ta'ala kepada para hamba-Nya dan kebaikan yang dilipatgandakan.
- 2- Keadilan dan kebaikan Allah, karena Allah memperlakukan kita ketika mengerjakan keburukan secara adil dengan memberikan balasan keburukan yang setimpal.
- 3- Besarnya dosa menyekutukan Allah, yang dapat menghalangi seseorang masuk surga.
- 4- Keutamaan infak di jalan Allah.
- 5- Pahala infak di jalan Allah dilipatgandakan mulai dari tujuh ratus kali lipat; karena ia telah ikut andil dalam meninggikan kalimat Allah.
- 6- Penjelasan mengenai tipe-tipe manusia dan keragaman mereka.
- 7- Kelapangan di dunia akan diberikan kepada orang mukmin dan selain mukmin, tetapi kelapangan di akhirat tidak akan diberikan kecuali bagi orang mukmin.
Rujukan
مسند أحمد (31/ 196) (18900)، (31/ 384)، الفتح الرباني لترتيب مسند أحمد بن حنبل الشيباني (19/198).
Hadis ini di HadeethEnc.comSetiap hadis, derajat, penjelasan, dan faedah di sini ditampilkan persis sebagaimana diterbitkan HadeethEnc.com, menurut ketentuan penerbitan ulangnya. Derajat itu tidak menyebut siapa yang menilainya. Terjemahan dan penjelasan adalah karya para penyusunnya, dan sebagian menyebutkan hukum; para peninjau Sabīl belum memeriksanya. Hadis berbahasa Arablah teksnya. Sumber: HadeethEnc.com